15 Maret 2017

Membaca dari Generasi ke Generasi

Jakarta – Kepala Perpustakaan Nasional RI Muh. Syarif Bando menjadi narasumber Forum Kafe BCA V dengan tema “Belajar Lebih Baik: Membaca dari Generasi ke Generasi” yang diselenggarakan di Menara BCA Jakarta pada Rabu (15/3). Turut hadir sebagai narasumber lainnya yaitu Dekan Fakultas Psikologi UI Tjut Rifameutia Umar Ali, Dosen Sosiologi UI Lucia Ratih Kusumadewi, Host Kick Andy Metro TV Andi F. Noya, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Dadang Sunendar dan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja serta moderator Yuswohady. Peserta yang hadir pada acara tersebut terdiri dari Manajemen BCA, Penerima Beasiswa, PPA & PPTI, Blogger dan Media.

Mengambil tema “Membaca dari Generasi ke Generasi”, Kafe BCA V membahas peran sentral perpustakaan dengan koleksi buku yang senantiasa diperbaharui sebagai salah satu kunci menuju generasi muda Indonesia yang gemar membaca. Kepala Perpusnas RI Muh. Syarif Bando menyampaikan bahwa budaya baca masyarakat Indonesia sangat tinggi hanya saja jumlah bahan bacaan yang tersedia masih sangat rendah. “Salah satu hambatan dalam penyediaan bahan bacaan secara nasional adalah adanya kesenjangan wilayah yang tinggi. Secara umum perpustakaan di wilayah Indonesia barat seperti Jawa dan sekitarnya sudah baik, tapi tidak demikian dengan wilayah timur seperti Papua”, kata Syarif.

Tjut Rifameutia dari sisi psikologi menjelaskan bahwa minat baca tidak muncul seketika, tetapi diawali dengan melihat orang sekitarnya membaca. “Apakah membaca itu menyenangkan atau memberikan keuntungan bagi orang yang membaca”, jelasnya. Keluarga harus sejak dini menanamkan minat baca terutama pada usia emas anak-anak yaitu umur 1-6 tahun. Orang tua harus memberi contoh suka membaca, kemudian dilanjutkan sekolah juga lingkungan masyarakat sehingga bisa melahirkan generasi gemar membaca.

Dadang Sunendar dari Kemendikbud memberitahukan sejak dua tahun terakhir Kemendikbud memiliki program “Gerakan Nasional Literasi” yang merupakan gerakan literasi yang dilakukan keluarga, sekolah dan masyarakat. Pada tahun 2015 dikeluarkan Permendikbud No. 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti, yang didalamnya salah satunya kewajiban peserta didik atau siswa untuk membaca sebelum pelajaran dimulai selama 15 menit. Persoalan yang terjadi saat ini yaitu kurangnya panduan buku apa yang harus dibaca. Salah satu tugas dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud adalah menyediakan buku-buku pengayaan untuk mendampingi buku teks wajib yang ada di sekolah.

Sementara dari sudut pandang sosiologis Lucia Ratih Kusumadewi menerangkan bahwa masyarakat nusantara ini mempunyai karakteristik yang khas yang secara garis besar dimiliki oleh sebagian besar masyarakat asia yaitu komunal dan memiliki budaya lisan. Lucia berpendapat bahwa ada yang perlu diubah dari sistem pembelajaran yang ada saat ini. Pendidikan yang ada saat ini hanya satu arah yang diasosiasikan pendidik adalah satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, seharusnya dua arah sehingga terjadi timbal balik antara pendidik dan siswa didik. “Semua pihak perlu diedukasi pentingnya membaca sehingga minat membaca masyarakat Indonesia juga meningkat”, jelas Lucia.

Andy F. Noya menceritakan bahwa buku memiliki kekuatan besar dan sangat berharga pada awal pendidikan yaitu sekolah dasar. Orang tua Andy yang saat itu kondisi ekonominya kurang memadai, menyisihkan penghasilan untuk dibelikan koran untuk Andy baca. Kegemaran membaca Andy dapat merubah persepsi orang terhadap dirinya karena wawasan dan pengetahuan yang didapat diaplikasikan dan berguna dalam kehidupannya sehingga bisa seperti saat ini. Andy F. Noya juga pernah menjadi Duta Baca Indonesia oleh Perpustakaan Nasional RI.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dalam kesempatan tersebut menjelaskan BCA berkomitmen untuk menumbuhkan kembali semangat membaca di berbagai pelosok Indonesia, BCA memperkenalkan dan mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam gerakan berbagi “Buku untuk Indonesia”.

Acara ditutup dengan pemberian piagam ke narasumber dan peluncuran gerakan “Buku untuk Indonesia” yang nantinya paket donasi dari masyarakat akan dikonversi menjadi buku dan disalurkan ke beberapa daerah di Indonesia.

 

Reportase: Arwan Subakti

Berita Lainnya