18 Mei 2017

Mewujudkan Revolusi Mental Melalui Pemikiran Bung Hatta

Salemba, Jakarta – Sebagai salah satu pendiri bangsa, Mohammad Hatta, memiliki pemikiran visioner yang tidak pernah lekang oleh waktu. Integritas tinggi, etos kerja, serta semangat gotong royong. Itulah tiga nilai kehidupan proklamator Indonesia, Bung Hatta, yang patut jadi teladan dan diwariskan untuk seluruh bangsa Indonesia. Nilai-nilai tersebut membuat tokoh asal Bukittinggi ini menjadi sosok yang nyaris luput dari kecatatan kelam. Apalagi, Bung Hatta dikenal sangat konsisten antara ucapan dan tindakan sehingga sosoknya dikenal tidak mudah didikte.

Putri Bung Hatta, Meutia Hatta menyatakan, ayahnya adalah sosok yang sederhana dalam pekerjaan namun kaya dalam pemikiran. Menurutnya, prinsip hidup inilah yang membentuk karakter kepemimpinan Hatta. Tokoh asal Bukittinggi tersebut semakin kaya dalam pengetahuan karena kesenangannya membaca buku. “Kepemimpinan Bung Hatta adalah bertanggungjawab kepada rakyat. Jadi jangan ingin dihormati oleh rakyat, tapi harus menghormati rakyat terlebih dahulu,” jelasnya seminar bedah buku “Pemikiran-Pemikiran Bung Hatta: Sebuah Rujukan untuk Revolusi Mental” di Aula Perpustakaan Nasional, Salemba, Jakarta Pusat, pada Kamis (18/5/2017).

Dalam kesempatan yang sama, dosen Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, Silfia Hanani, menjelaskan sikap dan pemikiran Hatta tersebut sangat relevan untuk dirujuk dalam gerakan Revolusi Mental yang digalakkan pemerintah. Menurut anggota Komunitas Pengkaji Pemikiran Hatta ini, sosok Hatta merupakan sosok yang memiliki etos kerja baik dan berkarakter kuat. “Menggali pemikiran Hatta sama seperti menimba air jernih di mata air yang tidak pernah kering dan keruh, mengalir sepanjang zaman dengan bening dan mencerahkan,” jelasnya.

Peraih gelar Ph.D dari Universiti Kebangsaan Malaysia ini menilai Bung Hatta sebagai negarawan yang menjunjung gotong royong untuk kemajuan bersama. “Seluruh elemen bangsa harus berkerjasama untuk mewujudkan Indonesia sejahtera,” tuturnya.

Hal ini bisa diwujudkan melalui pemanfaatan perpustakaan. “Pertama, harus membaca. Karena itu, gunakan fasilitas negara sebaik-baiknya. Apa itu? Perpustakaan. Maka, manfaatkanlah perpustakaan. Kedua, Bung Hatta ingin generasi kita menjadi generasi yang menulis agar kita tidak mudah didikte. Dan dua hal ini bermuara pada buku,” urainya.

Bedah buku “Pemikiran-Pemikiran Bung Hatta: Sebuah Rujukan untuk Revolusi Mental” diselenggarakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, yang merupakan bagian dari Perpustakaan Nasional. Perpustakaan Proklamator Bung Hatta berlokasi di Bukittinggi, Sumatera Barat, dan resmi berdiri pada 2012. Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpustakaan Nasional Indonesia, Ofy Sofiana, menjelaskan perpustakaan ini menghimpun koleksi khusus yang terkait dengan Bung Hatta, berupa foto, buku, dan karya pemikiran Bung Hatta. Namun, perpustakaan ini melayani masyarakat umum.

Untuk mendekatkan perpustakaan ke masyarakat, Perpustakaan Proklamator Bung Hatta memiliki layanan mobil perpustakaan keliling. Sehingga seluruh layanan koleksi perpustakaan bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

 

Reporter: Hanna Meinita/Fotografer: Arwan Subakti

Berita Lainnya