12 Desember 2017

Peran Perpustakaan Digital Dalam Mereduksi Hoaks

Salemba, Jakarta-Teknologi sudah berkembang sedemikian pesat.  Nyaris di semua sektor kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari teknologi. Bahkan, ada teknologi yang sudah dilengkapi dengan kemampuan menganalisis data. Kemampuan pintar ini yang disebut dengan intellectual intelligence, seperti yang terdapat pada perangkat smart phone dan sebagainya. Ketergantungan manusia dengan teknologi menurut sebuah riset dikatakan kalau manusia hanya sanggup hidup tanpa handphone selama tujuh menit.

Menurut survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016, dari 256,2 juta jiwa penduduk Indonesia, sebanyak 51,8% adalah pengguna internet. Kira-kira 132,7 juta orang sehari-hari akrab dengan dunia maya. Sedangkan, pemakaian internet terbesar adalah untuk mengakses media sosial, seperti Facebook (115 juta pengguna), Youtube (50 juta pengguna), dan Instagram (45 juta pengguna). Artinya, begitu banyak orang yang terpapar berbagai informasi yang bersumber dari internet. Persoalannya adalah belakangan ini paparan informasi tidak benar alias hoax berkembang pesat. Masyarakat dibuat resah, tidak aman, panik, dan bingung sehingga timbul pergesekan sosial, konflik, bahkan peperangan gara-gara informasi yang tidak sesuai fakta.

Di sinilah dibutuhkan peran perpustakaan dalam mereduksi informasi hoaks. Jangan sampai perpustakaan hanya menjadi ‘toko buku’. Inovasi perlu dilakukan terus menerus. “Kalau tidak berubah, nasib perpustakaan akan ter-destruction,” ujar Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Henri Subiakto, Senin, (11/12/2017). Masyarakat bisa memanfaatkan informasi yang lebih teruji kebenarannya, seperti jurnal, artikel ilmiah, dan sebagainya yang tersimpan di perpustakaan. Jangan menganggap cara ini kuno dan ribet, karena faktanya perpustakaan juga kini sudah banyak berubah, lanjut Henri.

Seringkali, mesin pencari informasi seperti Google hanya memberikan informasi sebatas ‘kulitnya’ saja. Tidak lebih dalam terhadap suatu subjek informasi. Sedangkan, di perpustakaan masyarakat bisa lebih banyak mendapatkan konten positif, valid, dan bahkan menjadi rujukan dari berbagai media massa ataupun pengambil keputusan. Apalagi, di era generasi milenial saat ini, mau tidak mau perpustakaan wajib cepat tanggap terhadap kebutuhan layanan yang sesuai dengan karakteristiknya. Perpustakaan bisa berkontribusi sebagai  motor penggerak dalam mereduksi penyebaran hoaks melalui gerakan literasi digital.

Khusus di Perpustakaan Nasional, peran yang dimainkan bisa lebih jauh dan meluas. Melalui media tercetak, digital dan hasil alih media, Perpustakaan Nasional berusaha menyajikan informasi yang lengkap dan akurat berdasarkan sumber-sumber primer. Di samping itu, Perpusnas  juga berusaha menjembatani sumber-sumber informasi lain dan spesifik dalam bentuk jejaring perpustakaan melalui Indonesia OneSearch (IOS). “Saat ini telah terhimpun lebih dari 800 perpustakaan yang tergabung di dalamnya dengan ribuan repositori,” kata Kepala Bidang Kerjasama dan Otomasi Perpustakaan Nasional Wiratna Tritawirasta.

 

Reportase : Hartoyo Darmawan

Berita Lainnya