Analisis dan Desain E-Learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan Menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1)

PENDAHULUAN

Penerapan teknologi informasi di bidang pendidikan dan pelatihan sangat dibutuhkan dalam rangka meningkatkan dan memeratakan mutu pendidikan, terutama di Indonesia yang wilayahnya tersebar di berbagai daerah yang sangat berjauhan. Sehubungan dengan hal tersebut, kebutuhan akan suatu konsep dan mekanisme belajar mengajar (pendidikan) berbasis teknologi informasi menjadi tidak terelakkan lagi. 

Konsep yang kemudian terkenal dengan sebutan e-learning ini membawa pengaruh terjadinya proses transformasi pendidikan konvensional kedalam bentuk digital, baik secara isi maupun sistemnya. Saat ini konsep e-learning sudah banyak diterima oleh masyarakat dunia, terbukti dengan maraknya implementasi e-learning di lembaga pendidikan (sekolah, training centre, dan universitas) maupun industri dan perusahaan (Effendy & Zhuang, 2005).   

Setiap tahunnya jumlah lulusan peserta Pendidikan dan Pelatihan Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang dibiayai oleh APBN tidak lebih dari 30 orang, sedangkan jika melihat jumlah tenaga teknis pengelola perpustakaan yang masih perlu mengikuti Diklat tersebut adalah sejumlah 16.965 orang. Melihat kenyataan tersebut maka Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI merintis pengembangan e-learning diklat tenaga perpustakaan yang akan dimulai dengan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan.

Pengembangan e-learning di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI sudah dirintis sejak tahun 2007, namun sampai sekarang belum juga dapat digunakan karena menghadapi beberapa kendala.  Pada tahun 2010, pengembangan e-learning di Pusdiklat sudah sampai pada tahap pembuatan Learning Management System (LMS) yang nantinya akan diletakkan di situs Pusdiklat namun LMS ini belum teruji apakah sudah benar-benar memenuhi kriteria penyelenggaraan e-learning untuk Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. Terkait dengan kendala belum adanya Learning Management System yang sudah teruji dan sesuai standar untuk penyelenggaraan  e-learning bagi diklat tersebut, maka penelitian ini melakukan analisis dan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan.

Penelitian terdahulu yang terkait dengan e-learning antara lain dilakukan oleh Fadjriya (2001) dalam tesisnya tentang perancangan sistem untuk pembuatan e-training dengan menggunakan standar LTSA.  Penelitian lain, dilakukan oleh Utami, et.al pada Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006 (SNATI, 2006) tentang merancang dan membangun aplikasi distance learning berdasarkan standar sistem arsitektur LTSA. 

Perihal yang membedakan kedua penelitian tersebut dengan penelitian ini yaitu apabila kedua penelitian tersebut melakukan perancangan sistem menggunakan standar LTSA, maka pada penelitian ini tidak sampai pada tahap perancangan sistem melainkan hanya sampai pada tahap pembuatan desain e-learning.  Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah melakukan analisis dan desain e-learning bagi penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan menggunakan Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28). Analisis dan desain dilakukan dengan menggunakan suatu standar yang diakui secara internasional. 

Learning Technology System Architecture (LTSA) merupakan suatu standar untuk sistem teknologi pembelajaran yang menyediakan suatu kerangka kerja untuk mengetahui sistem yang ada dan yang akan dibangun. LTSA adalah sebuah arsitektur yang berbasis kepada komponen-komponen abstrak. Implementasi sistem teknologi pembelajaran dapat dipetakan dari/ke LTSA (IEEE, 2002). Dokumen LTSA yang digunakan sebagai standar pada penelitian ini adalah IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28.

METODOLOGI PENELITIAN
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan mulai Februari hingga Juni 2011 bertempat di Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Perpustakaan Nasional RI, Jalan Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat.

Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara melihat kondisi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang ada saat ini untuk kemudian dibandingkan dengan hasil analisis layer 1 s.d. 4 dari 5 layer yang ada pada dokumen standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1).  Dengan cara ini akan dapat dilihat sejauh mana komponen-komponen yang ada pada standar tersebut sudah terpenuhi oleh e-learning diklat tersebut.

Selanjutnya hasil analisis layer-layer pada dokumen LTSA akan digunakan untuk membuat desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai standar.

Prosedur Penelitian
 
Tahapan penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut: 
A. Studi Pustaka
Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan pemahaman mengenai Standar Learning Technology System Architecture.

B. Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan cara:
a. Melakukan pengamatan langsung atau observasi terhadap:
1) Penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan secara klasikal di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI.
2) Kondisi saat ini mengenai kesiapan penyelenggaraan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan. 
b. Wawancara dengan pihak-pihak yang berkaitan dengan penelitian. 

C. Analisis e-learning berdasar standar LTSA dibandingkan dengan kondisi terkini penyelenggaraan Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan.
Pada tahap ini dilakukan analisis terhadap layer 1, 2, 3, dan 4 dari LTSA, sedangkan layer 5 tidak dianalisis karena penelitian tidak sampai pada tahap perancangan sistem.  Analisis dilakukan dengan melihat kondisi yang ada saat ini. Selanjutnya,  dilakukan perbandingan antara kondisi terkini e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dengan hasil analisis e-learning berdasar standar LTSA (Komponen-komponen Sistem LTSA).  Komponen Sistem LTSA ditunjukkan pada Gambar 2. Gambar 1 menunjukkan 5 layer LTSA.

Lima Layer LTSA, terdiri atas (IEEE, 2002): 1) Layer 1: Learner and Environment Interaction. Layer ini berfokus kepada akuisisi learner, transfer, pertukaran, formulasi dan penemuan pengetahuan dan atau informasi melalui interaksi dengan lingkungan. 2) Layer 2: Learner-Related Design Features. Layer ini berfokus kepada pengaruh yang dimiliki learner pada perancangan sistem teknologi pembelajaran. 3) Layer 3: System Components. Layer ini mendeskripsikan arsitektur berbasis komponen yang diidentifikasi pada layer 2. 4) Layer 4: Stakeholder Perspective and Priorities. Layer ini mendeskripsikan sistem teknologi pembelajaran dari berbagai perspektif dengan mengacu pada layer 3. Setiap stakeholder memiliki perspektif yang berbeda terhadap sistem pembelajaran.

Analisis terhadap perspektif dapat menghasilkan: a.Verifikasi dan validasi komponen LTSA pada sistem, b. Penentuan komponen LTSA yang tidak perlu dan perlu ditekankan pada sistem, dan c. Indikasi berbagai prioritas perancangan level tinggi dan level rendah. 5) Layer 5: Operational Components and Interoperability (codings, APIs, protocols). Layer ini mendeskripsikan komponen dan antar muka yang bersifat generic dari arsitektur pembelajaran berbasis teknologi informasi seperti yang diidentifikasi pada layer 4.

Lapisan ini menerapkan perbaikan lapisan diatasnya sebagai kumpulan dari komponen sistem.  LTSA mengidentifikasi empat proses: learner entity,  evaluation, coach dan delivery; dua tempat penyimpanan: learner records dan learning resources, dan tiga belas informasi mengalir diantara komponen ini: behavior, assessment, learner information (tiga kali), query, catalog info, locator (dua kali), learning content, multimedia, interaction context, dan learning parameters.

D. Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan
Setelah mendapatkan hasil dari analisis terhadap layer demi layer dari LTSA, dilakukan pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dengan mengacu pada hasil analisis tersebut.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan analisis pada komponen-komponen sistem LTSA (layer 3) maka dilakukan pemetaan terhadap kondisi terkini e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan.  Pemetaan tersebut mendapatkan hasil bahwa dari 16 komponen yang ada dalam standar LTSA hanya 5 komponen yang terpenuhi oleh e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan.  Kelima komponen tersebut yaitu Leaner Entity, Coach, Evaluation, Multimedia, dan Learning Content.  Tabel 1 menunjukkan pemetaan komponen sistem LTSA terhadap e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan.

Tabel 1 Pemetaan Komponen LTSA Terhadap E-Learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan

Berdasarkan kondisi yang ada saat ini dalam pengembangan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI, maka komponen yang telah ada adalah calon peserta, SDM Pengelola, instruktur, konten e-learning, Learning Management System, dan website Pusdiklat.  Dari komponen yang telah ada ini dapat dianalisis perspektif dan prioritas stakeholder di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI.  Komponen-komponen yang telah ada tersebut dapat dipetakan ke beberapa komponen sistem LTSA (layer 3) yaitu: a) calon peserta diklat dipetakan ke Entity Learner; b) SDM pengelola dipetakan ke Evaluation; c) instruktur dipetakan ke Coach; d) konten e-learning dipetakan ke Learning Content dan Multimedia

E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan telah memiliki Learning Management System yang diletakkan di website Pusdiklat, sehingga komponen-komponen yang telah ada ini dapat dipetakan kepada salah satu contoh ilustrasi implementasi komponen-komponen sistem yang ada dalam standar LTSA yaitu web browserWeb browser merupakan salah satu contoh integrasi yang sangat erat (tight component integration) terhadap seluruh komponen-komponen sistem yang ada pada standar LTSA sehingga dapat dijadikan acuan untuk membuat desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai dengan standar LTSA.  Gambar 2 menyajikan contoh integrasi yang erat terhadap komponen sistem LTSA.

Gambar 3 menyajikan ilustrasi pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA.  Komponen “Human” dalam web browser dipetakan kepada Learner Entity dalam komponen sistem LTSA.  “Human Interface” dipetakan kepada Behavior dan MultimediaPresentation Tool (browser) dipetakan kepada Evaluation, Assessment, Coach, Locator, dan Delivery. “Courseware database” dipetakan kepada Learning Resources.  “Student Records” (database) dipetakan kepada Learner Records.  Tabel 2 memperlihatkan pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA.

Berikut adalah pemetaan sekaligus desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dengan mengacu pada pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA:

1) Human
Human atau manusia di dalam komponen sistem LTSA diwakili oleh Learner Entity atau entitas siswa.  Dalam desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ini maka entitas siswa dipetakan ke peserta pelatihan (siswa).  Ketika siswa mendaftar untuk mengikuti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan maka ia berada dalam suatu lingkungan pelatihan dan akan berinteraksi dengan administrator, instruktur, materi pelatihan, dan siswa lainnya.   

2) Human Interface atau Antarmuka Pengguna
Interaksi yang terjadi antara siswa dengan sistem e-learning memerlukan human interface (antarmuka pengguna).  Dalam hal ini yang menjadi interface adalah sistem operasi Windows, yang memungkinkan siswa mengakses materi pelatihan yang berbentuk multimedia dan memungkinkan sistem mencatat perilaku siswa (behavior) selama berinteraksi dengan sistem. 

Behavior atau perilaku siswa dalam standar LTSA adalah aliran data dari proses Entitas siswa menuju proses Evaluasi yang membawa informasi mengenai aktivitas dan perilaku siswa yang akan dinilai oleh proses Evaluasi.  Jadi ketika siswa sudah berhasil mengakses materi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan melalui aliran data multimedia yang menyajikan presentasi berupa video, audio, teks, dan grafik dari proses delivery ke entitas siswa, maka perilakunya diamati termasuk berapa kali mengakses materi pelatihan, mengikuti ujian dan kuis, melakukan diskusi dengan instruktur dan siswa lain, serta respon siswa berupa suara, tulisan dan penggunaan keyboard dan mouse

Di dalam sistem teknologi pembelajaran seperti e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ini, implementasi aliran data multimedia sangat erat kaitannya dengan implementasi aliran data behavior untuk memperbaiki respon siswa terhadap sistem teknologi pembelajaran.

3) Presentation Tool (browser)
Presentation Tool menyajikan lingkungan pelatihan e-learning yang berupa web browser yang dapat diakses oleh siswa.  Presentation Tool (browser) terdiri atas beberapa komponen sistem LTSA:

a. Evaluation
Evaluation atau proses Evaluasi adalah proses yang menghasilkan ukuran/penilaian atas entitas siswa.  Desain evaluasi untuk e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan memperhatikan ketentuan antara lain sebagai berikut:
? Evaluasi dilakukan secara online yang terdiri dari pre-test, formative-test dan post-test.
? Setiap tes evaluasi untuk sebuah materi terdiri atas beberapa set soal untuk menghindari siswa mengerjakan set soal sama lebih dari 1 kali.
? Jawaban siswa akan disimpan didalam penyimpanan data Data Siswa.

b. Assessment
Assessment adalah aliran data dari proses Evaluasi ke proses instruktur yang menyajikan informasi mengenai kondisi terkini perilaku siswa seperti waktu yang dibutuhkan untuk menjawab soal, jumlah jawaban yang benar, materi apa yang telah diambil, nilai total dsb.  Informasi ini akan dikirimkan oleh admin kepada instruktur.  Instruktur akan mengolah informasi tersebut dan melakukan analisa seperti apakah perlu dilakukan perubahan parameter belajar, materi atau rujukan tambahan yang perlu diberikan kepada siswa untuk memperbaiki kinerja siswa selanjutnya, dan sebagainya.  Informasi ini selain dikirimkan oleh admin, instruktur dapat melihatnya sendiri di penyimpanan data Data Siswa (Learner Records).

c. Coach
Instruktur berperan seperti halnya guru di dalam kelas konvensional yaitu bertanggung jawab atas pembuatan maupun perubahan materi pelatihan, pembuatan soal, melakukan analisa terhadap prestasi siswa dan menyediakan waktu untuk membimbing siswa memahami materi pelatihan dengan cara menjawab pertanyaan siswa, menjadi fasilitator dalam forum diskusi, memberi informasi tentang bahan rujukan tambahan dan sebagainya.

Dalam kaitannya dengan e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, instruktur harus berlatar belakang salah satu ilmu yang diajarkan dalam kurikulum e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan dan menguasai bidang yang akan diajarnya serta mempunyai kemampuan teknis dalam pembuatan materi pelatihan dan menggunakan perangkat teknologi informasi yang dapat menunjang tugasnya. 

d. Locator
Instruktur mengirimkan aliran data Locator ke proses Delivery untuk mendapat petunjuk mengenai kode materi pelatihan.  Selain Locator yang berupa aliran data, ada Locator yang berupa aliran kontrol, yaitu yang dikirimkan oleh proses Delivery ke Learning Resources.  Hasilnya adalah identifikasi materi belajar untuk ditelusur di dalam Learning Resources.

e. Delivery
Delivery adalah suatu abstraksi proses yang mengubah informasi yang diperoleh melalui materi pelatihan menjadi suatu presentasi, yang dapat dikirimkan ke entitas siswa melalui aliran data multimedia.  Materi yang dikirimkan bisa berbentuk teks, grafik, power point, audio maupun video, yang kesemuanya harus menggunakan format penyampaian berbasis web.

Proses delivery dapat dikombinasikan dengan proses evaluasi melalui aliran data interaction context untuk mendapatkan kesamaan yang erat agar mendapatkan pengalaman belajar yang responsif dan interaktif.

Metode implementasi proses delivery dapat sangat bervariasi, contohnya presentasi dan pertanyaan, konferensi melalui video, dengan tutor manusia, dan mengubah suatu ontologi menjadi suatu presentasi, dan sebagainya. 

4). Courseware database (web servers) atau Database Pelatihan
Courseware database atau database pelatihan dipetakan ke Learning Resources atau database Sumber Belajar.  Learning Resources adalah suatu tempat penyimpanan data Sumber Belajar.  Didalamnya tersimpan materi pelatihan, link ke jurnal elektronik, presentasi, tutorial, tutor, peralatan, eksperimen, laboratorium dan materi belajar lainnya.  Learning Resources tersimpan dalam database server.

5) Student Records (database) atau Data Siswa
Student Records (database) dipetakan ke Learner Records atau Database Siswa dalam komponen sistem LTSA.  Seluruh data siswa akan tersimpan dalam Database Siswa ini seperti profil, kinerja, preferences, dan sebagainya. Database Siswa akan disimpan di dalam database server.  
 
KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan
1) E-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Perpustakaan Nasional RI belum sesuai dengan standar LTSA.  Dari 16 komponen sistem LTSA (layer 3) hanya 5 komponen saja yang terpenuhi oleh e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan, yaitu Entitas Siswa (Leaner Entity), Instruktur (Coach), Evaluasi (Evaluation), Multimedia, dan Materi Belajar (Learning Content) sedangkan komponen yang belum ada adalah: Pengiriman (Delivery), Data Siswa (Learner Record), Sumber Belajar (Learning Resources), Perilaku (Behavior), Penilaian (Assessment), Informasi Siswa (Learner Information), kueri (Query), Info Katalog (Catalog Info), Locator, Konteks Interaksi (Interaction Context) dan Parameter Belajar (Learning Parameters).

2) Analisis terhadap layer 1 – 4 standar LTSA dibandingkan dengan kondisi e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan di Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI mendapatkan hasil bahwa web browser merupakan contoh yang sesuai untuk mengembangkan e-learning ini karena pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA menghasilkan integrasi yang sangat erat.

3) Pembuatan desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan mengacu kepada pemetaan web browser terhadap komponen sistem LTSA.

4) Desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan ini dapat dijadikan rekomendasi dalam pengembangan e-learning diklat tersebut dan menjadi pedoman bagi pengembangan e-learning diklat perpustakaan lainnya.

Saran
1) Desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai dengan standar LTSA hendaknya dapat dijadikan acuan untuk mengembangkan e-learning diklat tersebut di Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Perpustakaan Nasional RI.

2) Jika Pusdiklat Perpustakaan Nasional RI ingin e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan sesuai dengan standar LTSA yang memiliki interoperabilitas yang tinggi, maka desain e-learning Diklat Teknis Pengelolaan Perpustakaan yang sesuai dengan standar LTSA harus direalisasikan. 

3) Proses pendeskripsian komponen operasional dan interoperability sistem hendaknya mengacu pada layer 5 standar LTSA dan dapat menjadi bahan penelitian selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
Effendy, Empy dan Hartono Zhuang. 2005. E-learning: Konsep dan Aplikasinya. Yogyakarta: ANDI.

Fadjriya, Andry.  2001. Perancangan E-Training Berbasis Web Menggunakan Standard  “Learning Technology System Architecture” Studi Kasus: PT. Harrisma Service Centre [tesis].  Jakarta: Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia.

IEEE. 2002. IEEE P1484.1/D11, 2002-11-28 Draft Standard for LearningTechnology — Learning Technology Systems Architecture (LTSA).  http://isotc.iso.org/livelink/livelink [diakses pada 13 April 2010]

[Perpusnas] Perpustakaan Nasional RI.  2002.  Kajian Kebutuhan dan Pengembangan Pendidikan dan Pelatihan Kepustakawanan.  Jakarta: Perpusnas.

Utami, et.al. 2006. Web Aplikasi Educourse (Distance Learning) Mengadopsi Standar Learning Technology System Architecture (IEEE P1484.1/D11). Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Informasi 2006 (SNATI 2006)