Analisis Keterpakaian Referensi : Studi Kasus Kumpulan Orasi Ilmiah Pengukuhan Pustakawan Utama 1995-2007

PENDAHULUAN

Dalam rangka memberikan lahan perolehan angka kredit yang lebih luas serta mengantisipasi keluarnya Keputusan Presiden tentang Rumpun Jabatan Pegawai Negeri Sipil, pada tanggal 24 Pebruari 1998 terbit Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 33 Tahun 1998 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya sebagai revisi dari Kep. MENPAN Nomor 18 Tahun 1988. Keputusan MENPAN ini diikuti dengan Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 07 Tahun 1998 dan Nomor 59 Tahun 1998 sebagai petunjuk pelaksanaannya.

Seiring dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah Daerah dan Keputusan Presiden Nomor 87 Tahun 1999 tentang Rumpun Jabatan, maka sebagai konsekuensi logisnya Kep. MENPAN Nomor 33 Tahun 1998 tersebut perlu direvisi dan pada tanggal 3 Desember 2002 terbit Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 132/KEP/M.PAN/12/2002 tentang Jabatan Fungsional Pustakawan dan Angka Kreditnya. Keputusan Menpan ini diikuti dengan terbitnya Keputusan Bersama Kepala Perpustakaan Nasional RI dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 23 Tahun 2003 dan Nomor 21 Tahun 2003.

Jenjang jabatan fungsional pustakawan berdasarkan Keputusan Menpan No. 132/KEP/M.PAN/12/2002 terdiri atas jalur terampil dan ahli. Perbedaan kedua jalur ini didasarkan atas latar belakang pendidikan pustakawan.

Jalur terampil bagi pejabat fungsional pustakawan yang berlatar belakang pendidikan D2/D3 Pusdokinfo atau D2/D3 Nonpusdokinfo ditambah diklat yang disetarakan. Adapun jalur ahli adalah bagi para pustakawan yang memiliki latar belakang minimal S1 Pusdokinfo atau S1 Nonpusdokinfo ditambah dengan diklat bagi pustakawan ahli.

Pustakawan utama merupakan jenjang jabatan tertinggi di antara jenjang jabatan yang ada. Sesuai jenjang jabatannya, para pustakawan utama seharusnya memiliki kompetensi profesional di atas jenjang jabatan di bawahnya. Mereka selayaknya dapat memberi teladan, kontribusi pemikiran, dan analisis terhadap masalah perpustakaan dan kepustakawanan dalam rangka pengembangan yang lebih baik. Untuk dapat mencapai jabatan tersebut diperlukan perjuangan dan usaha yang tidak mudah. Oleh karena itu pencapaian jenjang jabatan Pustakawan Utama merupakan prestasi kerja yang membanggakan.

Guna mempertanggungjawabkan kompetensi jabatan yang dicapai itu, perlu ada kesempatan khusus yang dapat digunakan para Pustakawan Utama untuk menyampaikan pandangan dan pemikiran mereka terhadap pengembangan kepustakawanan. Kesempatan itu terjadi pada saat yang bersangkutan dikukuhkan sebagai Pustakawan Utama.

Perpustakaan Nasional RI sebagai Instansi Pembina Jabatan Pustakawan memfasilitasi penyelenggaraan acara Pengukuhan Pustakawan Utama. Pengukuhan pada dasarnya merupakan bentuk pengakuan dan kepercayaan terhadap keberhasilan seseorang dalam mengemban tugas pustakawan sekaligus merupakan suatu penghormatan bagi PNS yang diangkat menjadi Pustakawan Utama.

Maka sebelum pengukuhan dilaksanakan mereka perlu memaparkan orasi ilmiah. Sampai dengan tahun 2007 telah dilakukan Orasi Ilmiah dalam rangka Pengukuhan Pustakawan Utama sebanyak 13 orang Pustakawan Utama.

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka menurut pengamatan penulis yang menjadi permasalahan dalam kajian ini adalah  belum adanya analisis referensi yang disitir dalam naskah orasi ilmiah Pustakawan Utama. Sehingga belum diketahui sampai seberapa jauh para Pustakawan Utama memanfaatkan sumber-sumber informasi ilmiah di dalam mendukung pembuatan Orasi Ilmiah yang mereka hasilkan.

Penelitian ini meliputi  seluruh judul orasi ilmiah yang tercantum pada kumpulan Naskah Orasi Ilmiah Pengukuhan Pustakawan Utama 1995 – 2007.  Dari setiap naskah orasi dibuat pertanyaan penelitian yang meliputi jenis dokumen apakah yang sering disitir, dari mana asal sumber dokumen yang disitir dan berapa paro hidup literatur yang digunakan.

Tinjauan Pustaka
Berikut ini diuraikan tinjauan pustaka yang mendukung penelitian ini.
1. Jabatan Fungsional Pustakawan
Jenjang jabatan fungsional pustakawan berdasarkan Keputusan Menpan No. 132/KEP/M.PAN/12/2002 terdiri atas jalur terampil dan ahli. Perbedaan kedua jalur ini didasarkan atas latar belakang pendidikan pustakawan. Jalur terampil bagi pejabat fungsional pustakawan yang berlatar belakang pendidikan D2/D3 Pusdokinfo atau D2/D3 Nonpusdokinfo ditambah diklat yang disetarakan. Sedangkan jalur ahli adalah bagi para pustakawan yang memiliki latar belakang minimal S1 Pusdokinfo atau S1 Nonpusdokinfo ditambah dengan diklat bagi pustakawan ahli.
Jalur terampil meliputi:
1)  Pustakawan Pelaksana : Golongan ruang II/b, II/c dan II/d ; 
2)  Pustakawan Pelaksana Lanjutan : Golongan ruang III/a dan III/b;
3)  Pustakawan Penyelia : Golongan ruang III/c dan III/d

Jalur Ahli meliputi:
1) Pustakawan Pertama : Golongan ruang III/a dan III/b;
2) Pustakawan Muda : Golongan ruang III/c dan III/d ;
3) Pustakawan Madya : Golongan ruang IV/a, IV/b dan IV/c ;
4) Pustakawan Utama : Golongan ruang IV/d dan IV/e

2. Analisis Sitiran
Pada kajian bibliometrika banyak digunakan analisis sitiran sebagai cara untuk menentukan berbagai kepentingan atau kebijakan seperti: evaluasi program riset; pemetaan ilmu pengetahuan; visualisasi suatu disiplin ilmu, indikator iptek; faktor dampak dari suatu majalah (Journal Impact Factor); kualitas suatu majalah; pengembangan koleksi majalah,dll. Penelitian pertama kali dilakukan Gros and Gros pada tahun 1927 yaitu menganalisis sitiran terhadap majalah bidang kimia untuk pengembangan koleksi dibidangnya.

Selanjutnya diikuti penelitian – penelitian lainnya yaitu Eugene Garfield yang selalu menganalisis setiap bidang untuk mengevaluasi majalah/jurnal maupun penulis yang paling banyak disitir oleh jurnal atau penulis lain. Garfield juga mengatakan bahwa analisis sitiran banyak digunakan  dalam kajian bibliometrika karena menurutnya tepat. Jelas mewakili subjek yang diperlukan, tidak memerlukan interpretasi, valid dan reliable.

3. Keusangan Literatur
Lane dan Sandison dalam Sulistyo-Basuki (1988:90) menyatakan bahwa keusangan literatur adalah penurunan atas waktu dalam kesasihan atau pemanfaatan informasi. Konsep keusangan informasi bermanfaat bagi teoritisi dan praktisi. Bagi teoritisi masalah keusangan menyangkut pengembangan, pemanfaatan dan kematian atau peleburan informasi tersebut. Bagi praktisi masaalah keusangan menyangkut bahan pustaka yang perlu diasingkan dari jajaran koleksi untuk dimasukan ke gudang.

Kedua faktor tersebut menyebabkan terjadinya fluktuasi terhadap minat suatu bidang ilmu pengetahuan. Bidang pengetahuan umumnya direkam dalam dokumen. Kajian terhadap perubahan dan manfaat dari kesasihan pengetahuan biasanya dituangkan dalam bentuk kajian yang terjadi terhadap dokumen yang merekam perubahan tersebut, walaupun hubungan antara pengguna dokumen dan kesasihan informasi masih samar-samar.

Penurunan penggunaan dokumen mungkin terjadi walaupun informasi yang direkam dalam dokumen tersebut masih sahih dan potensial berguna. Karenanya tidak mungkin mengatakan bahwa jenis pengetahuan tertentu menjadi usang hanya berdasarkan penurunan penggunaan dokumen. Kajian terhadap dokumen karenanya hanya merupakan sebagian indikator tentang keusangan pengetahuan.

Untuk menghitung paro hidup yaitu mengurutkan semua referensi yang digunakan oleh semua dokumen pada maasing-masing bidang mulai dari tahun yang tertua sampai dengan tahun yang terbaru atau sebaliknya. Kemudian dicari median yang membagi daftar referensi yang sudah berurut tersebut menjadi dua bagian masing-masing 50%.

Median ini menunjukkan paro hidup literatur pada bidang yang bersangkutan. Antara disiplin ilmu yang satu dengan ilmu yang lain berbeda waktu paruhnya. Menurut Hartinah (2002) berdasarkan hasil penelitian di luar negeri : Paro hidup untuk ilmu fisika adalah 4,6 tahun ; fisiologi  7,2 tahun; kimia 8,1 tahun; botani 10 tahun; matematika 10,5 tahun; geologi 11, 8 tahun; kedokteran 6,8 tahun; hokum 12,9 tahun; dan untuk bidang sosial kurang dari 2 tahun.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan kajian bibliometrik yaitu penerapan metode statistika untuk mengkaji Publikasi Kumpulan Naskah Orasi Ilmiah Pengukuhan Pustakawan Utama 1995-2007. Kajian bibliometrik dalam penelitian ini tergolong pada bibliometrik evaluatif yaitu menghitung penggunaan literatur dan hitungan sitiran (Sulistyo-Basuki, 2001).
a. Indikator Penelitian
Indikator yang ingin diketahui adalah:
1. Referensi yang berupa buku teks, jurnal, makalah atau referensi lainnya yang disitir dalam Kumpulan Naskah Orasi Ilmiah Pengukuhan Pustakawan Utama 1995-2007.
2. Sumber informasi Indonesia dan Asing yang paling banyak disitir.
3. Keterpakaian jurnal.
4. Umur literatur (paro hidup) sitiran dari setiap naskah dalam Kumpulan Naskah Orasi Ilmiah Pengukuhan Pustakawan Utama 1995-2007.

b. Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan cara menginventarisasi judul-judul orasi  dari buku hasil Kumpulan Naskah Orasi Ilmiah Pengukuhan Pustakawan Utama 1995-2007.  Kemudian bibliografi naskah dianalis sesuai dengan indikator yang ingin diketahui.

c. Pengolahan dan Analisis Data
Analisis data yang dilakukan meliputi; frekuensi  jenis dokumen referensi dan tahun terbit; frekuensi keterpakaian jurnal dan umur literatur ( paro hidup) yang digunakan. Selanjutnya hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan pengolahan dan analisis data setiap judul naskah orasi diperoleh hasil sebagai berikut.
1. Perpustakaan Sebagai Lembaga Pendidikan dan Sarana Mencerdaskan Masyarakat dan Bangsa
Rincian jumlah sitiran referensi orasi dari judul di atas adalah  adalah 5 sitiran  publikasi Indonesia dan 4 sitiran publikasi asing dengan rincian buku 7 sitiran (78%) dan peraturan  2  sitiran (22%). Adapun  rincian lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 1. berikut.

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase tahun terbit sitiran yang digunakan diperoleh paro hidup literatur 6 tahun. Rincian perhitungan lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.

2. Pembinaan Sumber Daya Manusia di Perpustakaan
Dari judul ini diperoleh   buku 3 sitiran (30%) makalah 4 sitiran (40%) dan majalah/jurnal 3 sitiran (30%) yang berasal dari 5 sitiran publikasi Indonesia dan 5 sitiran publikasi asing. Rincian lengkapanya dapat dilihat pada Tabel 3 berikut.

Berdasarkan   perhitungan frekuensi dan persentase  usia sitiran diperoleh paroh hidup literatur 4 tahun. Rincian jumlah frekuensi usia sitiran dapat dilihat pada Tabel 4 berikut.

3. Penyelenggaraan dan Pembangunan Nasional  Perpustakaan dan Peran Pustakawan
Rincian jumlah sitiran pada judul  orasi ini adalah adalah buku 7 sitiran (38,89%) peraturan 7 sitiran (38,89%0 dan majalah/jurnal sebanyak 4 sitiran (22,22%) yang berasal dari 8 sitiran publikasi Indonesia dan 10 sitiran publikasi asing. Rincian jumlah sitiran dan asal sumber dokumen dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.

Berdasarkan frekuensi usia terbit sitiran diperoleh paro hidup literatur 5 tahun. Rincian frekuensi dan persentase usia sitiran dapat dilihat pada Tabel 6 berikut.

4. Meningkatkan Minat Baca Masyarakat Melalui Suatu Kelembagaan Nasional :   
Wacana ke  arah Pembentukan Suatu Lembaga Nasional Pembudayaan Masyarakat MembacaJumlah Sitiran

Rincian jumlah sitiran pada  orasi ilmiah ini adalah berupa  buku sebanyak 7 sitiran yang berasal dari publikasi Indonesia. Rincian jumlah sitiran dapat dilihat pada Tabel 7 berikut.

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase usia sitiran diperoleh paroh hidup literature 3 tahun. Rincian lengkap dapat dilihat pada Tabel 8 berikut.

5. Meretas Kebuntuan Kepustakawanan Indonesia Dilihat dari Sisi Sumber  Daya  Perpustakaan

Rincian jumlah sitiran pada publikasi orasi ilmiah ini  adalah berupa  buku sebanyak 6  sitiran (50%), makalah 4 sitiran (40%), dan majalah/jurnal 2 sitiran (16,67% ) yang berasal dari 11 sitiran publikasi Indonesia dan 1 sitiran publikasi asing.

Berdasarkan frekuensi dan persentase usia tahun terbit sitiran diperoleh paroh hidup 0 tahun. Rician lengkap frekuensi dan persentasae usia tahun terbit sitiran diperoleh paroh hidup  literature 0 tahun.

6. Peningkatan Kelembagaan Pengembangan Budaya Baca di Perpustakaan Merupakan Strategi yang Efektif untuk Menciptakan Kebiasaan Membaca Masyarakat dan Bangsa

Rincian jumlah sitiran pada publikasi orasi ilmiah ini yang adalah berupa  buku sebanyak 22  sitiran (68,75%), makalah 4 sitiran (12,50%), dan majalah/jurnal 1 sitiran (3,13%) dan peraturan 5 judul (15,62%) yang terdiri dari 31 publikasi Indonesia dan 1 sitiran publikasi asing. Rincian lengkap dapat dilihat pada Tabel 11.

Berdasarkan jumlah frekuensi dan perentase sitiran diperoleh paroh hidup literature 8 tahun. Rincian lengkap frekuensi dan persentase usia literature dapat dilihat pada Tabel 12.

7. Perpustakaan Sekolah Lahan Tidur Pustakawan.

Rincian jumlah sitiran pada publikasi orasi ilmiah ini adalah berupa  buku sebanyak 9  sitiran (56,25%), makalah 4 sitiran (25%), dan majalah/jurnal 3 sitiran (10,75%). Rincian lengkap dapat dilihat pada Tabel 13.

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase tahun sitiran diperoleh paroh hidup 5 tahun. Rincian lengkap frekuensi dan persentase sitiran dapat dilihat pada Tabel 14. berikut.

8. Konsep Peningkatan Daya Saing pada Pelayanan Jasa Informasi  Perpustakaan.

Jumlah referensi  yang digunakan dalam orasi ilmiah  ini adalah sebanyak 18 sitiran. Rincian jumlah sitiran, jenis dokumen dan asal sumber dokumen dapat dilihat pada Tabel  15 berikut. 

Berdasarkan frekuensi dan persentase sitiran diperoleh paroh hidup 14 tahun. Rincian lengkap dapat dilihat pada Tabel 16 berikut.

9. Quo Vadis Perpustakaan Nasional Republik Indonesia
Rincian jumlah sitiran pada publikasi orasi ilmiah ini adalah sebanyak 15 sitiran. Rincian jumlah sitiran, jenis dokumen dan asal sumber dokumen dapat dilihat pada Tabel  17 berikut. 

Berdasarkan frekuensi dan persentase usia sitiran diperoleh paroh hidup 7 tahun. Rincian lengkap frekuensi dan persentase usia sitiran dapat dilihat pada Tabel 18. berikut.

10. Perpustakaan Pusat Penelitian dan Pengembangan, antara keinginan dan Kenyataan
Rincian jumlah sitiran pada publikasi orasi ilmiah ini adalah sebanyak 21 sitiran. Rincian jumlah sitiran, jenis dokumen dan asal sumber dokumen dapat dilihat pada Tabel  19 berikut. 

Berdasarkan frekuensi dan persentase usia sitiran diperoleh paroh hidup 10 tahun. Rincian lengkap frekuensi dan persentase usia sitiran dapat dilihat pada Tabel 20. berikut.

11. Peran Perpustakaan Pesantren dalam Pendidikan

Rincian jumlah sitiran pada publikasi orasi ilmiah  ini adalah sebanyak 20 sitiran. Rincian jumlah sitiran, jenis dokumen dan asal sumber dokumen dapat dilihat pada Tabel  21 berikut. 

Berdasarkan frekuensi dan persentase usia sitiran diperoleh paroh hidup 31 tahun. Rincian lengkap frekuensi dan persentase usia sitiran dapat dilihat pada Tabel 22. berikut.

12. Profesi Pustakawan : Tantangan dan Harapan.

Rincian jumlah sitiran pada publikasi orasi ilmiah ini adalah sebanyak 33 sitiran. Rincian jumlah sitiran, jenis dokumen dan asal sumber dokumen dapat dilihat pada Tabel  23 berikut. 

Berdasarkan frekuensi dan persentase usia sitiran diperoleh paroh hidup 2 tahun. Rincian lengkap frekuensi dan persentase usia sitiran dapat dilihat pada Tabel 24. berikut.

13. Hubungan Timbal Balik Antara Institusi, Pembelajaran Sepanjang Hayat dengan Perkembangan Karier Pustakawan
Rincian jumlah sitiran pada publikasi orasi ilmiah ini adalah sebanyak 29 sitiran. Rincian jumlah sitiran, jenis dokumen dan asal sumber dokumen dapat dilihat pada Tabel  25 berikut. 

Berdasrkan frekuensi dan persentase usia sitiran diperoleh paroh hidup 12 tahun. Rincian lengkap frekuensi dan persentase usia sitiran dapat dilihat pada Tabel 26. berikut.

PENUTUP
Berdasarkan hasil dan pembahasan maka disimpulkan sebagai berikut.
1. Orasi ilmiah yang paling lengkap menggunakan litertaur adalah orasi judul orasi Peningkatan kelembagaan pengembangan budaya baca di perpustakaan merupakan strategi yang efektif untuk menciptakan kebiasaan  membaca masyarakat dan bangsa yang terdiri dari buku 22 sitiran, makalah/seminar 4 sitiran, peraturan 5 sitiran dan jurnal 1 sitran .
2. Orasi ilmiah yang menggunakan yang literatur paling baru adalah orasi  dengan judul   Meretas kebuntuan kepustakawanan Indonesia dilihat dari sisi sumber  daya    perpustakaan  dengan usia literatur 0 tahun.
3. Orasi ilmiah yang menggunakan literatur paling lama adalah orasi dengan judul Peran Perpustakaan Pesantren dalam Pendidikan dengan usia literatur 31 tahun.
4. Jumlah sitiran terbanyak adalah orasi dengan judul Tantangan dan Harapan dengan jumlah sitiran 33  .
5. Orasi ilmiah yang banyak menggunakan literatur asing adalah orasi dengan judul Hubungan Timbal balik Antara Institusi, Pembelajaran Sepanjang Hayat dengan Perkembangan Karier Pustakawan dengan jumlah sitiran asing  sebanyak 15 sitiran.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2011. Bibliometrics. www.gslis.utexas.edu Akses 11 April 2011
Sulistyo-Basuki. 2001. Kajian Jaringan Ilmiah di Indonesia dengan menggunakan analisis subjek dan sitiran. Laporan Final Hibah bersaing VII/3 Perguruan Tinggi Tahun Anggaran 2000/2001. 37 hml
Sulistyo – Basuki 2002. Bibliometrics, scientometrics dan informetrics. Kumpulan kursus bibliometrika. Universitas Indonesia.
Garfield, Eugene; Malin, Morton; Small, Henry . 1978. Citation Data as Science Indicators Reprinted in Esssays of Science: The Advent of Science Indicator, Eds. Yehuda Elkana, Joshua Leideberg, Robert K.Merton, Arnold.
Hartinah. 2002. Keusangan dan Paro hidup Literatur. Dalam Kumpulan Makalah Kursus Bibliometrika, Depok, 20-23 Mei 2002. Depok: UI
Perpustakaan Nasional RI. 2008. Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2008.
Sri Purnomowati. 2004. Ciri-ciri Kepengarangan dan penggunaan Literatur dalam Majalah Indonesia Bidang Ilmu-ilmu Sosial. Baca 28(1) 2004 : 15-29
Soedarsono, B  dan Kismiyati, Titiek. 2008.  Pengukuhan Pustakawan Utama 1995-2007. Kumpulan Naskah Orasi Ilmiah. Jakarta : Perpustakaan Nasional RI.
Yudha Prawira, Donni. 2005. Analisis Sitiran Terhadap Disertasi Program Doktor (S3) Ilmu Hukum Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Medan : Skripsi Fakultas Sastra Departemen Studi Perpustakaan dan Informasi Universitas Sumatera Utara.