Analisis Penerimaan Sistem Informasi Integrated Library System (INLIS): Studi Kasus di Perpustakaan Nasional RI

1. Pendahuluan
Era informasi merupakan zaman keemasan bagi siapa saja yang menguasai informasi, informasi menjadi suatu primadona serta kebutuhan untuk semua kalangan. bukan hanya sekedar butuh tetapi tiap elemen baik itu pribadi, komunitas, masyarakat, swasta maupun pemerintah sangat berperan dan berlomba-lomba tidak hanya menjadi penerima informasi tetapi berusaha menjadi pemberi informasi, sehingga akan terbentuknya budaya sharing informasi pada setiap elemen masyarakat.

Mengingat kebutuhan masyarakat akan informasi semakin cepat, maka disini perlu adanya suatu lembaga yang tanggap terhadap pengelolaan, penyimpanan serta penyebaran informasi, lembaga tersebut sering kita kenal dengan nama perpustakaan. Dalam menjalankan tugas serta fungsinya perpustakaan dituntut cepat untuk memberikan layanan informasi kepada para pemustaka. Oleh karena itu perlu adanya penggunaan serta pemanfaat Teknologi Informasi (TI) di segala aspek kegiatan di perpustakaan, atau dengan kata lain otomasi perpustakaan. Hadirnya TI dalam pekerjaan mungkin dilakukan tanpa atau dengan sedikit campur tangan manusia. Kehadiran TI pun sangat membantu dalam banyak hal, baik itu untuk membantu dalam operasionalisasi perpustakaan, seperti : proses keanggotaan, Akusisi bahan pustaka, katalogisasi bahan pustaka, layanan sirkulasi (peminjaman bahan perpustakaan) serta memudahkan para pustakawan dalam mengorganisir dan memberikan layanan bahan pustaka yang dimilikinya dan sebagai sarana penerlusuran bagi para pemustaka dalam mencari bahan pustaka yang mereka cari (proses temu kembali informasi).

Sejalan dengan perkembangan teknologi informasi, peran teknologi dalam perpustakaan tidak hanya sebagai penunjang dalam pelaksanaan tugas subtantif saja namun juga harus mampu sebagai penunjang tugas administratif. Berdasarkan pemikiran tersebut, pada tahun 2005, Perpustakaan Nasional RIbekerjasama dengan pihak ketiga untuk mengembangkan sebuah Sistem Informasi Perpustakaan Terpadu. Sistem ini merupakan sistem informasi berbasis WEB yang dapat diakses dari manapun, sehingga mempermudah proses penelusuran informasi oleh penggunanya. Sistem Informasi perpustakaan dikembangkan secara bertahap mulai pada tahun 2005 dan hingga saat ini baru 4 modul yang berjalan dari 5 modul direncanakan.

Untuk pertama kalinya implementasi INLIS di Perpustakaan Nasional RI dimulai pada tahun 2010 sampai sekarang. Dimana alasan utama dalam penerapan sistem informasi perpustakaan ini diharapkan dapat meningkatkan kepuasan bagi pengguna dengan memberikan layanan prima. Beranjak di tahun ke-2 (dua) setelah implementasi sistem informasi perpustakaan, mulai timbulnya beberapa gejala yang menujukkan pada tingkat pemakai, seperti :

a. Keluhan dari pegawai tentang Performance System yang belum stabil.
b. Akses sambungan jaringan komputer terputus, sehingga tidak dapat melakukan operasional pada sistem tersebut.
c. Keluhan dari beberapa pimpinan bahwa sistem informasi perpustakaan belum sesuai dengan kebutuhan proses bisnis mereka.
d. Terdapat banyak pendapat mengenai perbandingan kehandalan antara sistem lama dengan sistem baru yang diimplementasikan.

Gejala – gejala tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap penerimaan sistem perpustakaan Di masa mendatang, terutama akan adanya penerimaan sistem secara terpaksa. Untuk lebih jelasnya dalam mengindentifikasi permasalahan dalam penerimaan sistem informasi INLIS akan di petakan pada analisis fishbone dibawah ini.

 

Pada pemetaan masalah implementasi sistem informasi INLIS, terlihat jelas beberapa masalah yang nampak dipermukaan, dan akar permasalahan mengenai implementasi sistem informasi INLIS. Akan tetapi pada penilitian ini penulis membatasi akar masalah yang akan dikaji lebih lanjut. Disini lebih memfokuskan terhadap maslah penerimaan sistem, khususnya untuk pegawai Perpustakaan Nasional yang langsung berinteraksi dengan sistem tersebut. Dengan begitu pertanyaan penelitian yang diajukan adalah : Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penerimaan terhadap Sistem Informasi Perpustakaan?

2. Pengembangan Theoritical Framework

2.1. Model Penerimaan Teknologi
Penerimaan pengguna terhadap implementasi sistem teknologi informasi dapat didefinisikan sebagai keinginan yang nampak didalam kelompok pengguna untuk menerapkan sistem teknologi informasi tersebut dalam pekerjaannya. Semakin menerima sistem teknologi informasi yang baru, semakin besar kemauan pemakai untuk merubah praktek yang sudah ada dalam penggunaan waktu serta usaha untuk memulai secara nyata pada sistem teknologi informasi yang baru, Succi and Walter, 1999 dalam Pikkarainen et.al, [1] 2003. Akan tetapi apabila pemakai tidak mau menerima sistem teknologi informasi yang baru, maka perubahan sistem tersebut menyebabkan tidak memberikan keuntungan yang banyak bagi organisasi / perusahaan (Davis, 1989; Venkatesh and David 1996 dalam Pikkarainen et.al., 2004).

2.1.1.Technology Acceptance Model (TAM)
Menurut Davis (1989) tingkat penerimaan teknologi informasi (Information technology Acceptance) ditentukan oleh enam faktor, yaitu variabel dari luar (external variable), persepsi pengguna terhadap kemudahan dalam menggunakan teknologi (Perceived Ease of Use), persepsi pengguna terhadap daya guna teknologi (Perceived Usefulness), sikap pengguna terhadap teknologi (Attitude Toward Using), kecenderungan perilaku (Behavioral Intention) dan pemakaian actual (Actual Usage). TAM memiliki dua sisi yaitu : sisi pertama yang biasa disebut beliefs yang terdiri dari : perceived usefulness dan Perceived ease of use. Sisi kedua terdiri dari: attitude, behavior intention to use serta usage behavior, Straub, Limayen, Evaristo,1995 dalam Petra, 2005 [2].

 

2.1.2.Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT)
Pada tahun 2003, Venkatesh et.al., mengusulkan teori yang dikenal dengan teori gabungan penerimaan dan penggunaan teknologi (Unified theory of acceptance and use of technology atau UTAUT). Dari hasil penelitian tersebut terdapat 4 (empat) variabel yang memiliki pengaruh secara langsung terhadap penerimaan pemakai dan perilaku pemakaian, yaitu : Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social Influence dan Facilitating Conditions. Keempat variabel tersebut dimoderasi oleh variabel lain yaitu : gender, usia, pengalaman, menggunaan secara sukarela atau tidak. Model UTAUT yang dikembangkan oleh Venkatesh, 2003, [3] dapat dilihat pada gambar 2.8.

 

2.1.3. Model keberhasilan SI
De Lone & McLean (1992) mengusulkan sebuah model untuk mengukur variabel bebas yang bersifat kompleks dalam suatu penelitian. Dalam penelitian, DeLone & McLean mengusulkan suatu model yang interaktif untuk memperlihatkan konsep dan operasi dari implementasi sistem informasi yang berhasil. Model ini telah banyak diintegrasikan dalam berbagai penelitian, DeLone & McLean, 2003 [4]. Model tersebut memiliki 6 (enam) dimensi atau variabel, yakni kualitas informasi (Information quality), kualitas sistem (Quality system), kualitas layanan (Quality service), penggunaan (use), kepuasan pengguna (user satisfaction) dan pemanfaatan (net benefit). Semua model ini bersifat saling berhubungan yang disebut dengan kausal model.

 

Berdasarkan gambar di atas,  dapat dijelaskan bahwa faktor kualitas informasi,  kualitas sistem,  kualitas layanan secara independen dan bersama-sama dapat mempengaruhi penggunaan (Intention to use) dan kepuasan pemakai (User satisfaction). Besarnya elemen penggunan (Intention to use) dapat mempengaruhi besarnya nilai kepuasan pemakai (User satisfaction), serta intention to use dan user satisfaction dapat mempengaruhi tingkat pemanfaatan pada sistem tersebut.

Model lain dikembangkan oleh Doll dan Torkzadeh (1998) yaitu End User Computing Satisfaction (EUCS). Model EUCS digunakan mengukur kepuasan pemakai terhadap sistem informasi. Sistem informasi suatu organisasi dapat diandalkan apabila memiliki kualitas yang baik dan mampu memberikan kepuasan pada pemakainya. Dengan adanya kepuasan pemakai tersebut maka akan timbul penerimaan (acceptance) pada sistem informasi yang dipergunakan dalam organisasi tersebut. Kepuasan pemakai (user satisfaction) merupakan salah satu indikator dari keberhasilan pengembangan sistem informasi. Doll dan Torkzadeh mengembangkan instrumen EUCS yang meliputi 5 komponen yaitu terdiri dari: Isi (content), Akurasi (accuracy), Bentuk (format), Kemudahan (ease) dan Ketepatan Waktu (timeliness).

Wixom dan todd, 2005 [5] menjelaskan bahwa kepuasan pengguna perlu dianggap sebagai object based attitude yang mana akan berperan sebagai variabel eksternal yang mempengaruhi intention dan behavior dengan mediasi behavioral beliefs dan behavioral attitude. Hasil penelitian ini terbagi dalam kategori informasi dan sistem dengan determinant artifak yang lebih kompleks. Pengetahuan ini penting untuk diketahui oleh sistem desainer untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaan sistem.

 

2.1.4. Task Technology Fit (TTF)
Model Task Technology Fit (TTF) merupakan suatu model yang menitik beratkan pada tingkat kesesuaian dari kapabilitas teknologi untuk memenuhi kebutuhan tugas dalam pekerjaan, yaitu kemampuan teknologi informasi untuk memberikan dukungan terhadap pekerjaan (Godhue & Thompson 1995). Berdasarkan teori TTF, sistem informasi akan dianggap memberikan peningkatan kinerja dari penggunanya apabila sistem tersebut memiliki kesesuaian (fit) yang baik dengan tugas-tugas pekerjaan dari penggunanya, Godhue & Thompson 1995, [6]. Model ini memiliki 4 (empat) konstruk kunci diantaranya : Task Characteristic, Technology Characteristic, yang bersama-sama mempengaruhi konstruk Task Technology Fit (TTF), serta konstruk (TTF) dapat mempengaruhi variable outcome yaitu Performance atau utilization. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.5.

 

2.1.5. Symbolic Adoption
User acceptance model yang dikemukakan oleh Nah et.al., (2004) merupakan mental penerimaan pengguna dalam mengadopsi sistem informasi, model tersebut merupakan turunan dari Model TRA (Theoritical of reasoned action) dan model TAM (Technology Acceptance Model). Berdasarkan ketiga teori tersebut, dasar dari keinginan pengguna untuk menggunakan sistem informasi (behavioral intention) dipengaruhi oleh Perceived ease of use dan Perceived usefulness. Namun pada model TAM, pengguna diberikan kebebasan untuk memilih dalam penggunaan teknologi, dengan kata lain lebih bersifat voluntary use. Akan tetapi apabila pengguna hanya dihadapkan pada satu pilihan, maka kondisi dari penggunaan sistem tersebut lebih bersifat keharusan (mandatory use), kebebasan pilihan tidak menjadi relevan, Nah et.al, 2004 [7]. Symbolic adoption adalah dorongan atau kecenderungan seseorang secara mental menerima ide/gagasan dalam mengadopsi dan mengimplementasikan inovasi TI (Klonglan dan Coward, 1970 dalam Nah et.al., 2004). Model ini dapat dilihat pada gambar 2.6.

 

2.2. Tinjauan Penelitian Sebelumnya
Seymour et.al., 2007 [8] melakukan penelitian penerimaan sistem ERP, dengan tujuan ingin mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pengguna akhir dari sistem ERP (Enterprise Resources Planning). Model yang digunakan pada penelitian ini adalah model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) yang sudah dimodifikasi. Berdasarkan hasil penelitiannya diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu, performance expectancy, effort expectancy, project communication, training dan shared belief diketahui sebagai antecedent terhadap symbolic adotion dan umur momoderasi hubungan antara effort expectancy terhadap symbolic adoption, trainning terhadap symbolic adoption, shared belief terhadap symbolic adoption dan project communication terhadap symbolic adoption. Penelitian yang dilakukan oleh Seymour (2007) relevan untuk organisasi yang akan menerapkan sistem ERP atau sistem yang bersifat mandatory.

 

Pada tahun  2010  Koh,et.al. [9] melakukan penelitian dengan mengusulkan model pendekatan integratif, yang mana pada model tersebut adanya penggabungan dari beberapa penelitian sebelumnya, yaitu : konstruk kualitas informasi (information quality), kepuasan atas informasi yang diperoleh (information satisfaction), dan attitude dari model Wixom dan Todd (2005), selain itu Koh,et.al. 2010 menggabungkan beberapa konstruk yaitu : performance expectancy dari Venkatesh et. Al (2004), Use bahavior, overall satisfaction dan net benefits yang diadopsi dari model DeLone dan  McLeon (2003). Pada penelitian yang dilakukan Koh, et.al. (2010) lebih berkonsentrasi pada stream informasi, yang kemudian mengganti konstruk usefulness dengan performance expectancy.

 

Penelitian berikutnya yang dilakukan oleh  Zhou et.al., 2010 [10], yaitu mengkaji model penggunan mobile banking dengan menggabungkan model Task technology fit (TTF) dengan model penerimaan unified theory of acceptance and usage of technology (UTAUT). Kemudian tahun 2010 Pai dan Tu melakukan penelitian mengenai penerimaan dan penggunaan terhadap CRM (Customer Relation Service) di Taiwan. Pada penelitian ini Pai dan Tu (2010) menggunakan model UTAUT dan TTF, yang mana peneliti ingin mengkaji faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi behavioral intention pengguna CRM.

 

Pada penelitian ini mengusulkan beberapa konstruk yang dapat mempengaruhi perilaku serta niat pengguna, yang diantaranya : performance expectancy, effort expectancy dan Social influence. Begitupun juga model TTF memiliki pengaruh terhadap behavioral intention. Sedangkan konstruk task technology fit (TTF) dipengaruhi oleh konstruk Task Characteristic (TAC) dan Technology characteristic (TEC), serta konstruk user behavior dipengaruhi oleh behavioral intention dan facilitating condition. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pai dan Tu (2010) membuktikan bahwa penerimaan dan penggunaan CRM dapat dijelaskan dari penggabungan antara model UTAUT dengan TTF.

2.3. Penentuan Model Penelitian
Pada penelitian ini, penulis mengintegrasikan beberapa model penerimaan sistem informasi yang pernah dilakukan pada penelitian sebelumnya. Pada dasarnya model penerimaan sistem informasi ini merupakan pengembangan dari model penerimaan TAM (Technology Acceptance Model), yang mana kemudian dilakukan pengembangan oleh venkatesh (2003) menjadi suatu model UTAUT (Unified Theory of Acceptance and Use of Technology). Selain model UTAUT, peneliti menggunakan salah satu konstruk dari model keberhasilan sistem informasi (De Lone dan McLean, 2003), yaitu Information quality dan information Satisfaction. Berdasarkan hasil penelitian (koh et. alt, 2010) pada model integratif multi level abstraksi, bahwa information quality mempengaruhi information satisfaction, serta information satisfaction dapat mempengaruhi performance expectancy. Selain itu pula peneliti menggabungkan model Task Technology Fit (Zhou et. al., 2010) dan symbolic adoption (Nah et. al, 2004) sebagai dependent variable dengan faktor-faktor pendorong internal pribadi dan faktor eksternal (kondisi lingkungan). Pembentukan model penelitian dapat dilihat pada tabel 2.1.

 

Berdasarkan tabel pembentukan faktor-faktor penerimaan sistem informasi, maka penulis melakukan modivikasi dengan mengambil beberapa konstruk yang akan dijadikan pada model penelitian ini. Adapun variabel-variabel laten yang digunakan pada model penerimaan sistem informasi perpustakaan INLIS terdiri dari :

1. Information Quality, Information Satisfaction (Wixom and Todd,2005)
2. Performance Expectancy, Effort Expectancy, Social Influence serta Falitating Conditions (Venkatesh, 2003; 3),
3. Task technology Fit, task Characteristic,Technology Characteristic (Zhou et. al., 2010);
4. Serta yang Symbolic adoption (Koh et. al., 2010).

Untuk lebih jelasnya Model penerimaan sistem informasi INLIS (Integrated Library System) dapat dilihat pada gambar 2.9.

 

3. Metodologi Penelitian
Pada penelitian ini pengumpulana data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, di mana suatu kuesioner ini merupakan suatu metode pengumpulan data dengan memberikan atau menyebarkan daftar pertanyaan kepada responden. Asumsi kunci dalam menggunakan kuesioner ini adalah bahwa objek penelitian merupakan orang-orang yang paling tahu tentang dirinya dan pernyataan dari objek penelitian yang diberikan adalah benar dan bisa dipercaya.

Kuesioner yang dirancang terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi mengenai data responden, diantaranya : jenis kelamin, usia, masa kerja, serta unit kerja dimana pegawai itu berada. Pada bagian kedua berisi pernyataan yang berhubungan dengan konstruk penelitian, di mana konstruk-konstruk tersebut merupakan konstruk dari model penerimaan sistem informasi perpustakaan.

Adapun untuk teknik pengukuran pada kuesioner ini menggunaka skala likert antara 1-5. Nilai terendah dampai nilai tertinggi dari skala Likert berarti (1) sangat tidak setuju, (2) tidak setuju, (3) netral, (4) setuju dan (5) sangat tidak setuju.

Teknik pengolahan data yang digunakan dalam melakukan analisis serta pembahasan dari data yang sudah dikumpulkan adalah Structural Equation Modeling (SEM) dan Path Analysis, dengan dibantu software pengolah data AMOS. Hair et. al. (1998) dalam Ghozali (2008) mengajukan tahapan permodelan dalam analisis persamaan struktural menjadi 7 (tujuh) langkah yaitu : (1) Pengembangan model secara teoritis; (2) menyusun diagram jalur; (3) mengubah diagram jalur menjadi persamaan struktural, (4) memilih matrik input untuk analisis data; (5) menilai identifikasi model, (6) mengevaluasi estimasi model, (7) interpretasi dan modifikasi model.

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Penelitian ini menggunakan responden sebanyak 120 orang. Tetapi hal itu sudah memenuhi standar jumlah sampel minimal. Menurut Gozhali, 2008 [11] jumlah sampel minimal yang dapat diolah dengan menggunakan Teknik analisis Structural Equation Model (SEM) adalah sebanyak 100 sampai 150 sampel. Asumsi dasar yang harus dipenuhi dalam analisis SEM adalah jumlah sampel yang memenuhi kaidah analisis. Berdasarkan teknik maximum likelihood estimation (ML) membutuhkan sampel berkisar 100 – 200 sampel. Teknik Generelized Least Square Estimation (GLS) dapat digunakan sampel berkisar 200 – 500. Selain itu pula kedua teknik tersebut mengharuskan data dalam kondisi berdistribusi normal untuk menghindari bias dalam menganalisa data. Apabila terdapat data outlier harus dibuang karena dapat menimbulkan bias dalam interpretasi dan mempengaruhi data lainnya. Data dapat dikatakan normal apabila c.r multivariate (critical ratio) memiliki syarat -2.58 < c.r. < 2.58 (dalam Ghozali, 2008). Berdasarkan hasil pengujian normalitas data, didapatkan item pertanyaan yang menyebab sebaran data tidak normal secara univariate, yaitu TTF4 dan TTF 3 (-3.629 dan -3.487) yang mempunyai nilai jauh dari batas normal (-2.58 < c.r. < 2.58). untuk data responden yang termasuk outlier yaitu responden nomor 9, karena memiliki nilai mahalanobis melebih 87.967, yaitu 93.001, ehingga data nomor 9 harus dihapus dan tidak diikut sertakan pada pengujian selanjutnya.

4.1. Pengolahan Data dengan Model Structural
Teknik pengolahan data yang digunakan pada penelitian ini menggunan Structural Equal Models (SEM) serta metode Path analysis.

Model persamaan struktural didasarkan pada hubungan kausalitas, dimana perubahan suatu variabel di asumsikan akan berakibat pada perubahan variabel lainnya. Kuatnya hubungan kausalitas antara variabel variabel yang telah diasumsikan oleh peneliti bukan terletak pada pemilihan metode analisis, melainkan pada justifikasi secara teoritis untuk mendukung analisis. Setelah dilakukan penyusunan model path diagram, penulis melakukan pengubahan diagram jalur ke dalam persamaan struktural dan model pengukuran.  Menurut Imam Gozali (2008) analisis konfimantori atau sering disebut Confimantory Factor Analysis (CFA) didesain untuk menguji multidimensional dari suatu konstruk teoritis, yang mana tujuannya yaitu untuk menguji  uni dimensionalitas dari dimensi-dimensi pembentuk masing-masing variabel laten. Variabel-variabel laten atau konstruk eksogen ini terdiri dari 51 observed variable sebagai pembentuknya. Berdasarkan uji konfimantory seluruh model struktural, ada beberapa indikator yang tidak memenuhi syarat dari cut  off value uji validitas, yaitu 0.50 (Hair et al, 1998 dalam Ghozali 2008). Data hasil pengujian konfimantori dapat dilihat pada tabel 4.1.

 

 

Tahapan berikutnya dilakukan uji realibilitas, hal ini berguna untuk menetapkan apakah instrument pertanyaan pada kuesioner dapat digunakan lebih dari satu kali, paling tidak oleh responden yang sama akan menghasilkan data yang konsisten. Dengan kata lain, realibility instrument mencirikan tingkat konsistensi (Ghozali, 2009). Terdapat dua cara yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat realibilitas, yaitu composite (construct reability) adalah minimal 0.70 sedangkan cut-off value untuk variance extracted minimal 0.50 (Ghozali, 2008).

Berdasarkan data hasil pengujian contruct reliability dan variance extract , dinyatakan seluruh variabel dalam model penerimaan ini reliable, karena mempunyai nilai yang sudah memenuhi syarat cut off value uji reliabilitas.

Uji kelayakan model terdapat 2 (dua) tahapan, yaitu pengujian measurement dan structural model. Apabila ingin memperoleh seberapa fit model dengan data penelitian, yakni dengan cara malakukan evaluasi terhadap cut of value Goodnes of fit (GOF).

Berikut resume berdasarkan hasil pengujian GOF dapat dilihat pada tabel 4.2.

 

Apabila dilihat dari hasil pengujian GOF index, tidak ada satupun hasil yang mengindikasikan fit model, karena nilainya jauh dibawah cut off value dari Goodness of fit. Berdasarkan hasil pengujian kelayakan model, maka direkomendasikan jalur hubungan antara task technology fit dengan Symbolic Adoption dieliminasi, karena mempunyai nilai jalur yang tidak signifikan.
Setelah dilakukan beberapa kali proses eliminisi, tetapi tetap belum mengindikasikan model tersebut fit model, maka tahapan berikutnya dilakukan proses modifikasi model, dengan cara menghubungkan beberapa variabel error yang disarankan pada tabel modifivication indices.berikut hasil modifikasi tampilan model struktural.

 

Dari hasil pengujian GOF seluruh kriteria nilainya masih dibawah cut off value GOF, maka hasil modifikasi model tersebut belum bisa dikatakan fit dengan data yang ada, sehingga sampai pada tahapan ini belum bisa dilakukan uji hipotesis, karena apabila model nya tidak dinyatakan fit akan membuat bias dalam mekakukan pengujian hipotesis. Oleh karena itu metode penelitian alternative dengan menggunakan Path analysis atau analisis jalur hubungan.

4.2. Analisis jalur (Path analysis)

Analisis jalur merupakan pengembangan dari regresi model yang digunakan untuk menguji kesesuaian (fit) dari matrik korelasi, dua atau lebih model yang dibandingkan oleh peneliti (Ghozali, 2008). Berikut ini merupakan model penerimaan sistem informasi INLIS yang disintesis berdasarkan telaah teori. sebagai berikut :

 

Hasil kesesuaian melalui model ini dapat diperoleh nilai loading factor  antar variabel. Berdasarkan gambar di atas, dapat dilihat nilai loading faktor yang menghubungkan variabel TTF dengan variabel symbolic adoption memiliki nilai 0.001 dan variable TAC yang mempengaruhi TTF memiliku inilai -0.01 yang berarti dibawah batas nilai 0.05, sehingga jalur koefisien tersebut tidak signifikan dan harus dihilangkan. Berikut output hasil pengujian path analysis

 

Setelah diperoleh data hasil uji path analysis, maka tahapan selanjutnya dengan melakukan uji hipotesis. Adapun caranya dengan menganalisis nilai regresi yang ditampilkan berdasarkan hasil output dari AMOS21. Pengujian hipotesis ini dengan menganalisis nilai critical ratio (C.R) serta nilai probability (p) dari data yang sudah diolah. Batasan statistik yang disyaratkan, yaitu >1.96 untuk untuk nilai CR dan dibawah 0.005 untuk nilai probabilitas nya. Apabila hasil olah data menunjukan nilai yang memenuhi syarat tersebut, maka hipotesis penelitian dapat diterima.

Berdasarkan pengujian hipoteisis, membuktikan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi mental penerimaan pegawai (symbolic adoption) adalah kualitas informasi (Information quality) yang dapat mempengaruhi tingkat kepuasan pegawai terhadap perolehan informasi (Information satisfaction). Serta dengan puasnya pegawai atas informasi yang dipatkan, maka dapat mempengaruhi secara signifikan terhadap harapan atas performa sistem (Performance expectancy). Sedangkan yang mempengaruhi secara langsung mental penerimaan (symbolic adoption) adalah Performance expectancy dan effort expectancy. Untuk faktor technology characteristic dapat mempengaruhi task technology fit (TTF), akan tetapi TTF ini tidak memiliki pengaruh terhadap mental penerimaan (symbolic adoption). Untuk faktor yang tidak memiliki pengaruh secara signifikan terhadap mental penerimaan (symbolic adoption) adalah social influence, facilitating condition, task technology fit serta task characteristic.

4.3. Implikasi Penelitian
Penelitian ini akan berguna jika hasil analisisnya dapat digunakan sebagai usulan pengembangan sistem, adapun implikasi peneltiannya sebagai berikut :

A. Aspek Manajerial

1. Pihak pengambil keputusan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan evaluasi dalam penerapan sistem informasi perpustakaan INLIS yang berkesinambungan.

2. Kualitas informasi (Information quality) merupakan salah satu faktor yang sangat memperngaruhi penerimaan pegawai dalam menggunakan INLIS, sehingga dalam pengembangan sistem kedepanya perlu diperhatikan tingkat keakuratan, kelengkapan, kemudahan untuk memahami informasi yang ditampilkan dari sistem tersebut, serta tingkat relevansi dan adanya penjaminan tingkat keamanan informasi yang tersimpan pada sistem INLIS. Dengan meningkatnya kualitas informasi yang dihasilkan pada sistem INLIS, maka akan menimbulkan tingkat kepuasan pegawai atas perolahan informasi pada sistem tersebut.

3. Harapan-harapan akan performa dari sistem INLIS (Performance expectancy) serta harapan upaya dalam penggunaan sistem (Effort ecpectancy , akan senantiasa dapat memberikan masukan bagi pihak yang melakukan pengembangan sistem, sehingga dalam pengembangannya variabel penentu Performance expectancy dan effort ecpectancy dapat dijadikan tolok ukur dalam evaluasi sistem.

4. Pihak pengambil keputusan dapat menggunakan hasil penelitian ini sebagai bahan pertimbangan dalam merencanakan pengembangan sumber daya yang berkompeten dalam menunjang operasional sistem, sehingga hal ini dapat memberikan dampak positif baik bagi organisasi, ataupun bagi para pegawai. Sumber daya yang dimaksud adalah, berupa fasilitas penunjang operasional serta berupa keahlian dan pengetahuan para pegawai dalam penggunaan sistem.

B. Aspek Sistem

1. Dampak terhadap sistem akan terlihat pada tingkat ketersediaan sistem. Pengguna mengharapkan supaya sistem informasi INLIS dapat dengan mudah diakses, yang berarti operasional sistem INLIS perlu memperhatikan kelangsungan layanannya, meminimalisasi adanya gangguan terhadap aplikasi sistem, serta pemeliharaan infrastruktur teknologi informasi.

2. Untuk pengembangan sistem kedepanya, faktor kemudahan serta kenyaman dalam menggunakan system INLIS sangat lah penting diperhatikan, hal ini disebabkan, pengguna lebih tertarik untuk menggunakan sistem yang mudah (user friendly) serta nyaman.

C. Aspek People (orang)

1. Berdasarkan hasil penelitian ini, pengguna menerima sistem ini karena dari kualitas informasi yang dihasilkan pada sistem tersebut, sehingga pengelola dapat meningkatkan atas kualitas data yang diperoleh dari sistem INLIS, seperti keakuratan informasi, kelengkapan atas perolehan informasi, format informasi yang mudah dimengerti, adanya relevansi, serta tingkat keamanan yang terjamin atas informasi yang disimpan pada sistem informasi INLIS, sehingga dengan begitu akan menimbulkan kepuasan tersendiri bagi para pegawai dalam menggunakan system INLIS.

2. Performance expectancy atau ekspektasi atas perfoma sistem informasi INLIS merupakan salah satu fakor yang mendorong para pegawai untuk menggunakan sistem tersebut, dengan harapan adanya sistem tersebut dapat meningkatkan kinerja para pegawai, baik dalam penyelesaian pekerjaan, meningkatkan produktivitas kerja, memberikan kesempatan promosi kerja.

3. Hasil penelitian ini juga bisa memberitahukan bahwa pegawai perpustakaan nasional sangat menginginkan sistem informasi yang mudah digunakan (User friendly) dan nyaman dalam penggunaannya.

D. Aspek Penelitian Lanjutan

1. Ketepatan dalam pemilihan operasional variabel penelitian tidak hanya didasarkan pada adopsi dari teori-toeri yang ada, namun perlu adanya penyesuaian dengan kondisi penelitian yang akan dikaji akan menjadikan operasional variabel lebih tepat dalam melakukan pengukuran.

2. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan mengembangkan model ini dengan menambahkan variabel lain yang belum digunakan, seperti kondisi yang memfasilitasi, variabel moderating , berupa jenis kelamin, umur, dan pengalaman.

5. Penutup
Berdasarkan analisa data yang sudah dilakukan, maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa faktor – faktor yang mempengaruhi pegawai dalam menerima sistem informasi INLIS adalah kualitas informasi (information quality) yang dihasilkan dari sistem INLIS, tingkat kepuasan pegawai atas perolehan informasi (information satisfaction), harapan pegawai atas perfoma sistem yang dapat meningkatkan kinerja mereka (performance expectancy), harapan upaya / usaha dalam penggunaan sistem informasi (effort expectancy), serta karakteristik dari teknologi yang akan digunakan, meskipun tidak secara langsung mempengaruhi mental penerimaan dari para pegawai dalam mengadopsi penggunaan sistem informasi INLIS.

Berdasarkan hasil pengolahan data, hasil penelitian ini menunjukan bahwa hubungan kausal yang terjadi antara faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut : terdapat hubungan antara kualitas informasi (Information quality) dengan kepuasan akan informasi (Information satisfaction), semakin berkualitas informasi yang dihasilkan oleh sistem informasi INLIS, maka akan semakin meningkat pula kepuasan para pegawai dalam memperoleh informasi yang dihasilkan dari sistem INLIS. Semakin pengguna merasa puas akan informasi yang dihasilkan maka pengguna akan semakin percaya diri dalam menggunakan informasi tersebut. Hal ini dipandang akan semakin memenuhi harapan performa (Performance expectancy) pengguna sistem.

Begitu pula semakin sistem itu dapat memberikan manfaat bagi pegawai yang menggunakannya, maka akan memberikan keyakinan terhadap mental penerimaan pegawai (symbolic adoption).
Harapan atas penggunaan (Effort expectancy) sistem informasi INLIS dapat memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap mental penerimaan pegawai (symbolic adoption) dalam penggunaan sistem informasi INLIS, hal ini menunjukkan semakin mudah dan nyaman sistem yang akan diterapkan, maka semakin terdorong pula para pegawai untuk menerima adopsi (symbolic adoption) dari sistem informasi tersebut. Karakteristik teknologi (technology characteristic) memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kecocokan teknologi (task technology fit). Kondisi ini menunjukan bahwa karakteristik yang dimiliki oleh teknologi atau sistem informasi yang menyebabkan pegawai dapat menggunakan sistem tersebut. Pada konteks penelitian ini pegawai menginginkan adanya sistem yang mudah diakses, real time serta terjamin tingkat keamanannya.

Pada kasus Information quality, tidak secara langsung memberikan pengaruh pada symbolic adoption, melainkan berpengaruh secara langsung terhadap information satisfaction, yang kemudian information satisfaction mempengaruhi performance expectancy. Dimana performance expectancy merupakan faktor yang dapat mempengaruhi mental penerimaan pegawai (symbolic adoption).

Rekomendasi yang diusulkan

• Aspek – aspek pada kualitas informasi (Information quality) dapat dijadikan acuan bagi pihak pengembang dalam melakukan peningkatan kualitas informasi yang dihasilkan oleh sistem INLIS, dalam hal ini yang perlu segera dilakukan mengenai keamanan (security) informasi yang tersimpan pada sistem INLIS.

• Sedangkan untuk meningkatkan kepuasan atas perolehan informasi para pengguna sistem perlu peningkatan dari segala aspek kualitas informasi yang merupakan output dari sistem INLIS. Pihak pengembang sistem perlu memberikan respon atas masukan-masukan yang diberikan dari para pegawai.

• Item-item yang terdapat pada performance expectancy dapat dijadikan strategi dalam meningkatkan penerimaan pegawai terhadap sistem INLIS, sehingga untuk kedepannya sistem dapat lebih bermanfaat bagi para pegawai serta para pemustaka yang menggunakan sistem tersebut.

• Selain berdasarkan faktor performance expectancy, item-item yang terdapat effort expectancy juga bisa dijadikan strategi pengembangan sistem kedepannya, sehingga sistem yang diharapkan oleh pegawai, yakni sistem yang user friendly, serta nyaman, bisa menjadikan daya tarik tersendiri bagi para pegawai untuk menggunakannya.

• Pada penelitian selanjutnya, untuk pemilihan operasional variabel, tidak hanya diambil dari teori yang ada, namun harus disesuaikan dengan konteks penelitian yang akan dikaji, sehingga operasional variabel penelitian akan lebih tepat dan terukur.

• Perlu adanya penelitian serupa, dengan menggunakan model ini, tapi ditujukan untuk voluntary usage , dalam hal ini pemustaka sebagai pengguna sistem INLIS.

Daftar Pustaka
[1] Pikkarainen, et al. (2004). Consumer acceptance of online banking: an extension of the technology acceptance model Internet Research Volume 14 – Number 3 pp. 224-235

[2] Petra S.M. Wijaya. (2005). Pengujian Model Penerimaan Teknologi Internet Pada Mahasiswa. Jurnal Riset Akuntansi dan Keuangan, Vol. l, No. l. Februari.

[3] Venkatesh, V., et.al. (2003). User Acceptance of information Technology : Toward a Unified views, MIS Quarterly, 27, 3, 425 -478.

[4] DeLone, W.H. and McLean, E.R. (2003). The DeLone and McLean model of information systems success : a ten-year update. Journal of Management Information Systems, 19,4, 9-30.

[5] Wixom, B. & Todd, p. (2005). A Theoretical Integration of user satisfaction and technology acceptance. Information Systems research, Vol. 16, no. 1, pp. 85-103

[6] Goodhue, D.I.., & Thompson, R.L. (1995). Task Technology Fit and Individual Performance. MIS Quarterly, 19(2), 213-236.

[7] Nah, F.F. tan, X. & Teh, S.H. (2004). An empirical investigation on end-users acceptance of enterprise systems. Information Resource Management Journal. 17(3), 32-53.

[8] Seymour L., Wadzanai Makanya, Simon Berrange (2007, April). End-Users Acceptance of enterprise Resource planning Systems : An Investigation of Antecedents. Proceedings of the 6th Annual ISO nEworld Conference. Las Vegas.

[9] Koh, C., Prybutok, V. Ryan,S.D. and Wu, Y. (2010). A model for mandatory use of software technologies : an integrative approach by applying multiple levels of abstraction of informing Science. Informing Scieence : the International Journal of an Emerging Transdiscipline, Vol. 13, 2010, pp 177-202.

[10] Zhou, T., Lu, Y. B. and Wang, B. (2010). Integrating TTF and UTAUT to explain mobile banking user adoption. Computers in Human Behavior, 26(4), 760-767.

[11] Ghozali, Imam. (2008). Model Persamaan Struktural Konsep dan Aplikasi Dengan Program AMOS 16.0. Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.