Analisis Webometrics pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia

Pendahuluan
Di era globalisasi ini, peran teknologi informasi sangat dibutuhkan dalam segala segi kehidupan, salah satu dampak yang signifikan adalah pada dunia pendidikan. Perkembangan teknologi komunikasi khususnya internet, telah mendorong lembaga pendidikan untuk menyediakan berbagai fasilitas serta kemudahan akan akses informasi secara global melalui dunia web. Keberadaan situs web sebuah lembaga pendidikan pada tingkat perguruan tinggi khususnya, sudah sewajarnya dimiliki demi mendukung efesiensi dan efektifitas segala kegiatan akademik seperti; promosi perguruan tinggi, pengelolaan akademik hingga akses informasi melalui perpustakaan digital dan repositori.

Oleh karena itu, pemanfaatan web bagi perguruan tinggi saat ini telah digunakan sebagai pendukung proses  pengajaran, pembelajaran serta penelitian. Pengelolaan web yang baik dengan melakukan evaluasi tentunya dibutuhkan untuk menjamin kelangsungan sistem serta pemanfaatannya. Evaluasi penggunaan teknologi web dapat diukur salah satunya dengan pendekatan indikator webometrics, terkait  dengan peningkatan efesisensi melalui optimasi konten web, analisis dan disain ulang (Jalal & et al., 2009).

Analisis webometrics digunakan tidak hanya sebagai alat evaluasi namun juga digunakan untuk melakukan peringkat website. Noruzi (2006) menjelaskan webometrics menyediakan alat kuantitatif untuk memperingkat, mengevaluasi, mengkategorikan, dan membandingkan halaman web pada top-level domain dan sub domain.

Dalam penelitian ini dua parameter webometrics yang akan digunakan yaitu, parameter Web impact Factor (WIF) dan parameter dari Webometric Ranking Of World University (WRWU) yang merupakan inisiatif Cybermetrics Lab, kelompok riset Centro de Información Documentación (CINDOC) di Spanyol.  Indikator parameter dari WRWU merupakan pengembangan dari WIF. Indikator utama dari kedua parameter ini mengadopsi pengukuran yang di analogikan  Journal Impact Factor (JIF) (Ingwersen, 1998) kedua indikator tersebut adalah; (1) jumlah terbitan institusi di website (jumlah halaman web) (2) jumlah visibility  dari halaman web yang di ukur dengan sitasi (link yang diterima) (Avemaria,2010) Pengukuran WIF dirancang sebagai sebuah alat untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi tingkat dari dampak website sebuah perguruan tinggi; perhitungan ini dimaksud untuk memperingkat kehadiran perguruan tinggi di web (Maryam & Shekofteh, 2009)

Tujuan penelitian ini tidak hanya melakukan pemeringkatan berdasarkan parameter yang ada, namun juga mengukur korelasi peringkat antara perguruan tinggi dengan perpustakannya baik berdasarkan parameter WRWU maupun WIF.

Hasil dari analisis webometrics terhadap website perguruan tinggi negeri dan website perpustakaannya, diharapkan bermanfaat bagi pembuat kebijakan perguruan tinggi serta pengelola perpustakaan untuk mengetahui sejauhmana  peran perpustakaan digital mereka dalam mendukung indikator webometrics dengan demikian informasi tersebut dapat dijadikan landasan untuk mendisain ulang dan pengembangan perpustakaan digital kedepannya.

Landasan Teori
Webometrics
Webometrics berkaitan dengan aspek-aspek pengukuran web: situs web, halaman web, bagian dari halaman web, kata-kata dalam halaman web, hyperlink, serta hasil pencarian  dari mesin pencari web (Thelwall, 2009). Perkembangan ini di ikuti oleh fenomena web sebagai media komunikasi dan dokumen yang terekam dalam format web.

Analisis Webometrics merupakan salah satu alat penting yang digunakan untuk mengukur secara kuantitatif dari aktivitas suatu web( Shekofteh, 2010). Kajian Webometrics sering juga disebut analisis kuantitatif dari fenomena web.

Kajian Webometrics mengadopsi metode yang digunakan oleh ilmu perpustakaan dan informasi terutama pendekatan bibliometrika. Bjorneborn dan Ingwersen (2004) menyatakan bahwa “ Ilmu perpustakaan dan informasi seta bidang yang berkaitan dengan ilmu sosial, ilmu pengetahuan dan penelitian teknologi telah mengembangkan berbagai teori dan metodologi termasuk Webometrics tentang aspek kuantitatif bagaimana berbagai jenis informasi yang dihasilkan, diorganisasikan, disebarluaskan dan penggunaan dari pemakai yang berbeda konteks.”

Pernyataan ini menunjukan kajian Webometrics merupakan kajian yang mengunakan metode dari berbagai disiplin termasuk metode bibliometrika yang digunakan dalam kajian ilmu perpustakaan dan informasi.

Lebih lanjut Bjorneborn dan Ingwersen menjelaskan hubungan antara kajian ilmu perpustakaan dan informasi dari Informetrics, Bibilometrics, scientometrics, Cybermetrics hingga Webometrics pada Gambar 1, sekaligus mengambarkan ketumpang tindihan dari bidang kajian tersebut.

Tague-Sutcliffe (1992) mendefinisikan informetrics sebagai sebuah kajian aspek kuantitatif dari informasi dalam berbagai bentuk tidak hanya terekam atau tercetak namun termasuk dalam berbagai group sosial, dan tidak terbatas pada ilmu pengetahuan. Selanjutnya Bibliometrics didefinisikan sebagai kajian aspek kuantitatif dari informasi terekam mulai dari penciptaan, penyebaran dan penggunaannya.

Scientometrics sebagai sebuah kajian aspek kuantitatif dari ilmu sebagai sebuah disiplin atau aktivitas ekonomi.  Webometrics merupakan bagian dari kajian informetrika, dengan memanfaatkan metode bibliometrics. Cybermetrics merupakan kajian yang lebih luas di bandingkan dengan Webometrics. Penjelasan ini sesuai dengan Bar-Iian (2008) yang menyatakan bahwa webometrics didefinisikan sebagai sub-bagian dari informetrics.

Bjorneborn (2004) memuat sebuah kerangka defenisi dengan menyatakan bahwa Webometrics merupakan sebuah kajian aspek kuantitatif dari konstruksi dan penggunaan sumber daya informasi, struktur dan teknologi Web yang digambarkan dalam pendekatan bibliometrika dan informetrika.

Bjorneborn mencoba memisahkan kedua konsep tersebut dengan memberikan defenisi Cybermetrics sebagai sebuah kajian aspek kuantitatif dari konstruksi dan penggunaan sumber daya informasi, struktur dan keseluruhan teknologi internet yang digambarkan dalam pendekatan bibliometrik dan informetrik.

Lingkup kajian Webometrics
Web merupakan objek dalam kajian Webometrics, dengan demikian gabungan dari kontruksi serta sisi penggunaan dari web menjadi bahan kajian. Ada empat cakupan penelitian dalam Webometrics yang dikemukakan oleh Bjorneborn dan Ingwersen (2004) yaitu ;
(1) Analisis konten halaman web, (2)Analisis struktur link web, (3) Analisis penggunaan web ( memasukan log file dari pemakai, pencarian dan prilaku penelusuran, (4) Analisis teknologi Web (termasuk kemampuan mesin pencari). Thelwall (2007) mengindektifikasi beberapa analisis dengan pendekatan Webometrics yaitu; analisis link, analisis sitasi web, evaluasi search engine dan kajian deskriptif murni dari sebuah web termasu juga penambahan analisis dari aplikasi web 2.0.

Web Impact Factor
WIF adalah Impact factor dari versi web. WIF pertama sekali di perkenalkan oleh Ingwersen tahun 1998.  Pada dasarnya perhitungan sama dengan prinsip yang diadopsi dari Journal Impact Factor (JIF). WIF mengukur dengan menjabarkan jumlah halaman web dalam suatu situs web yang menerima link dari situs Web lain, dibagi atas jumlah publikasi halaman Web dalam suatu situs Web yang terakses crawler.

WIF merupakan bagian dari metodologi Webometrics , yang merupakan pengukuran relatif sejauhmana situs di link oleh situs lain dan dianalogikan dengan mengitung kutipan pada dokumen tercetak (Jeyshankar:2009). Terdapat tiga jenis dari penghitungan WIF yaitu; WIF-simple, WIF-revised and WIF-overall.  Seri dari pengukuran WIF dengan istilah lain yang dikemukakan oleh Ingwersen dalam Rowlansd (1999) :

1. Self-link web impact factor: pengukuran antara intensitas link dengan halaman web yang ada di dalam sebuah situs atau domain.

2. External web impact factor: pengukuran dari intensitas link yang berasal situs atau domain lain.

3. Overall web impact factor: mengukur intensitas seluruh link dari sebuah situs atau domain.

Evaluasi website dengan mengunakan WIF selflink lebih mencerminkan stuktur logis yang digunakan untuk mengatur halaman web di server lokal (Ingwersen:1998), dengan kata lain persentase selflink mengambarkan navigasi serta kemudahan akses ke halaman-halaman web yang tersedia. Analisis WIF selflink kurang bermakna dibandingkan dengan WIF inlink (external), karena mayoritas selflink dalam sebuah situs web dapat dibuat untuk keperluan navigasi daripada mendukung isi dari halaman yang dituju. (Thelwal:2000).

Parameter WRWU (Webometrics Ranking of World Universities)
WRWU menyimpulkan bahwa kegiatan universitas yang multi-dimensi dan ini tercermin dalam kehadiran web. Karena itu, cara terbaik untuk membangun peringkat adalah menggabungkan sekelompok indikator yang mengukur aspek-aspek yang berbeda.

Almind & Ingwersen (1997) mengusulkan salah satu indikator Web pertama yakni  Web Impact Factor (WIF), berdasarkan analisa link yang menggabungkan jumlah inlinks eksternal dan jumlah halaman situs web, rasio 1:1 antara Visibilitas dan Size. Rasio ini digunakan untuk peringkat, tetapi menambahkan dua indikator baru untuk komponen ukuran: Jumlah dokumen, diukur dari jumlah Rich File yang dimiliki oleh sebuah web domain, dan jumlah publikasi yang dikumpulkan oleh database Google Scholar.(www.webometrics.info/metodology)

METODOLOGI
Penelitian ini dilakukan mengunakan pendekatan kuantitatif untuk mengetahui peringkat website perpustakaan dan universitasnya melalui metode webometrics , parameter pengukuran yang digunakan adalah parameter Web Impact Factor dan WRWU. Subjek  penelitian ini adalah web domain Perguruan Tinggi Negeri serta sub-domain perpustakaannya, sedangkan objek penelitian ini adalah Perguruan Tinggi Negri di Indonesia dan  Perpustakaan Perguruan Tinggi negri di Indonesia.

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh perpustakaan perguruan tinggi negeri di Indonesia. Jumlah seluruh perguruan tinggi negeri di Indonesia adalah sebanyak 134 perguruan tinggi. Data jumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia di peroleh dari situs Kementrian Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi (http://www.dikti.go.id) dan Perguruan Tinggi Di bawah Direktorat Pendidikan Tinggi Islam (http://www.ditpertais.net). 

Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan menentukan kriteria sampel, adapun kriterianya adalah sebagai berikut :
1. Perguruan tinggi yang memiliki website dan website perpustakaannya dalam kondisi aktif dan tidak dalam keadaan proses perbaikan.

2. Domain (web perguruan tinggi) dan sub-domain (web perpustakaannya) yang sehirarki (satu server). Sebagai contoh web domain Univesitas Indonesia adalah  “ui.ac.id”, sedangkan perpustakaannya adalah “digilib.ui.ac.id”.

3. Domain untuk perpustakaan dimungkinkan terdapat lebih sari satu. Dalam penelitian ini domain yang dibangun untuk repository Universitas di asumsikan sebagai bagian dari kegiatan perpustakaan.

Pengecekan kriteria tersebut diatas, dicari melalui mesin pencari. Setelah dilakukan penelusuran, maka ditemukan sebanyak 49 domain (perguruan tinggi) beserta sub domain (perpustakaan) dalam kondisi aktif kedua-duanya.

Metode pengumpulan data melalui sarana mesin pencari web (search engine), data yang dikumpul sesuai dengan kebutuhan dari setiap indikator dari pengukuran parameter WRWU mapun Web impact factor .Pengumpulan data dilakukan pada tanggal 11 Mai 2011. Langkah-langkah untuk mendapatkan data dari setiap indikator webometrics dengan search engine adalah melalui beberapa penggunaan syntax.

Formula  untuk menentukan peringkat webometrics dari kedua parameter adalah sebagai berikut:

1. Web Impact Factor (WIF)
Pemeringkatan dengan metode web impact factor terdiri atas tiga jenis, yaitu WIFsimple , WIFselflink dan WIFrevised, sedangkan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah WIF-revised dengan formula sebagai berikut:

Dalam penelitian ini pemeringkatan dengan parameter Web Impact Factor mengunakan jenis revised. Setelah di diperoleh nilai dari setiap domain, maka dilakukan pemeringkatan dengan mengurutkan dari nilai tertinggi untuk peringkat pertama

2. Webometrics Ranking of World University (WRWU)
Setiap nilai dari indikator yang digunakan dalam pemeringkatan harus dinormalisai dulu sebelum dimasukan ke perhitungan selanjutnya. Adapun untuk menormalisasi adalah dengan persamaan (Aguillo, 2008):

a. Penghitungan Size (S)
Setelah jumlah halaman dari suatu situs  dinormalisasi, maka  niali size dapat dihitung melalui

b. Penghitungan Visibility (V)
Setelah jumlah link ( kecuali dari domainnya) dari suatu situs dicari, maka untuk mendapat nilai visibility nilainya harus dinormalisasi melalui

c. Penghitungan Rich files ( R )
Setelah jumlah dari masing-masing jenis file (Pdf, Ps,Doc, dan Ppt) dinormalisasi, maka untuk mendapat nilai Rich files dapat dihitung melalui

d. Scholar (Sc)
Setelah jumlah dari publikasi ilmiah yang telah diindeks diketahui, maka untuk mendapat nilai Scholar harus dinormalisasi melalui

e. Pembobotan
Setelah didapat nilai normalisasi dari masing- masing indikator, selanjutnya nilai tersebut dihitung bobotnya dengan ketentuan sebagai berikut:

HASIL DAN PEMBAHASAN

Peringkat Perguruan Tinggi Berdasarkan Parameter WRWU.

Setelah memperoleh nilai dari setiap masing-masing indikator, maka dilakukan pembobotan setiap indikator, dimana untuk indikator Size diberi bobot 20%, Rich Files 15%, Scholar 15% dan untuk indikator visibilitas diberi bobot 50%. Berdasarkan perhitungan tersebut diperoleh hasil yang diperlihatkan pada Gambar 2 berikut.

Peringkat WRWU tertinggi diraih oleh Universitas Gadjah Mada dengan nilai 0,74114, kemudian untuk peringkat kedua diraih oleh Institut Pertanian Bogor (0,72472) dan peringkat ketiga oleh Institut Teknologi Bandung (0,70191). Ketiga perguruan tinggi ini memiliki kekuatan dan kelemahan di beberapa indikator. Universitas Gadjah Mada memiliki kekuatan indikator pada nilai visibilitasnya, Institut Pertanian Bogor lebih dominan pada indikator rich files, sedangkan Institut Teknologi Bandung memiliki kekuatan di indikator gabungan antara visibilitas dan rich files.

Peringkat Perpustakaan Perguruan Tinggi Berdasarkan Parameter WRWU
Peran perpustakaan sangat besar dalam mendukung proses pembelajaran di perguruan tinggi jika perpustakaan tersebut dapat memberikan akses yang mudah dan cepat kepada penggunanya, peran tersebut dapat dievaluasi untuk menjadi pedoman dalam meningkatkan layanan perpustakaan. Metode peringkat WRWU dapat dijadikan alternatif untuk mengevaluasi sebuah perpustakaan digital dan repository dengan melihat aktifitas web serta visibilitasnya. Hasil yang diperoleh dari perhitungan dapat dilihat pada Gambar 3.

Peringkat pertama untuk perpustakaan perguruan tinggi di raih oleh Perpustakaan Universitas Diponegoro dengan perolehan nilai 0,59518. Peringkat kedua oleh Perpustakaan Sumatera Utara dengan nilai 0,55814 dan peringkat ketiga oleh Perpustakaan Institut Pertanian Bogor dengan nilai 0,52976. Jika di analisis perbandingan kekuatan indikator dari tiga perpustakaan tersebut adalah Perpustakaan Universitas Diponegoro memiliki kekuatan indikator yang merata di setiap indikator, namun lebih dominan pada indikator size.

Pada perpustakaan Universitas Sumatera Utara memiliki indikator visibilitas  yang sangat baik dari ketiga perpustakaan termasuk indikator rich files. Sedangkan Perpustakaan Institut Pertanian Bogor unggul pada indikator rich file walaupun tidak sebaik Perpustakaan Universitas Sumatera Utara. Ada yang menarik dari peringkat berdasarkan indikator visibilitas yaitu Perpustakaan Universitas Indonesia dengan jumlah link eksternal sebanyak 8.604 link.

Jika berdasarkan peringkat indikator rich file terbesar, maka Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh November menempati posisi tertinggi.

Peran Domain Perpustakaan Terhadap Perguruan Tinggi

Peran subdomain perpustakaan dalam mendukung nilai WRWU perguruan tingginya. Terlihat bahwa perpustakaan yang paling berperan adalah Perpustakaan Universitas Diponegoro dan Perpustakaan Universitas Sumatera Utara. Berbanding terbalik dengan perpustakaan yang memiliki peringkat perguruan tinggi yang lebih baik, seperti Perpustakaan Universitas Gadjah Mada, Perpustakaan Institut Teknologi Bandung dan Perpustakaan Universitas Negeri malang dan Perpustakaan Universitas Indonesia.

Perguruan tinggi secara peringkat lebih baik namun tidak untuk perpustakaannya, menunjukan bahwa masih banyak potensi, kekayaan sumber informasi di server perguruan tinggi yang masih belum dikelola secara baik oleh perpustakaannya. Hal ini juga mengindikasikan bahwa banyak kekayaan informasi masih tersebar di domain jurusan atau web staf perguruan tinggi.

Tentunya akan lebih baik dikelola secara komprehensif oleh perpustakaan, sehingga dapat memberikan pelayanan yang menyeluruh dan menjadi gerbang utama dalam mengakses informasi. Perpustakaan digital yang baik adalah perpustakaan yang dapat memberikan layanan “one-stop shopping” yakni mencari seluruh kebutuhan informasi pada portal perpustakaan untuk koleksi digital.

Peringkat Perguruan Tinggi Berdasarkan Web Impact Factor Revised (WIF-Revised)

Setelah diperoleh jumlah halaman serta jumlah inlink dari situs, maka untuk mengetahui nilai WIF-revised , di kalkulasikan dengan membagi jumlah inlink yang dimiliki situs dengan jumlah halaman yang dimiliki situs tersebut. Untuk pemeringkatan diurutkan berdasarkan nilai terbesar untuk peringkat pertama. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Peringkat Perguruan Tinggi berdasarkan parameter WIF-Revised

Nilai serta peringkat perguruan tinggi Indonesia berdasarkan penilaian WIF-Revised . Universitas Negeri Yoogyakarta menempati peringjat pertama dengan nilai WIF-Revised sebesar 3,811.

Untuk peringkat kedua diraih Universitas Negeri Jakarta dengan nilai 3,731. Peringkat ketiga oleh Universitas Trunojoyo dengan nilai 2,329.

Perguruan tinggi yang memiliki nilai WIF-Revised tinggi disebabkan karena jumlah link yang diterima dari situs lain lebih banyak dibandingkan dengan jumlah halaman yang dimiliki, hal ini juga mengambarkan bahwa efesisensi halaman-halaman web yang publikasikan. Peguruan tinggi yang memiliki nilai WIF-revised rendah perlu memertimbangkan setiap informasi yang di publikasi melalui web harus betul-betul dapat menarik pengguna serta memiliki sumber informasi yang berguna.

Peringkat Perpustakaan Perguruan Tinggi Berdasarkan Web Impact Factor Revised (WIF-Revised)

Perhitungan WIF dapat digunakan sebagai salah satu alat untuk mengevaluasi perpustakaan digital, dengan begitu dapat diketahui sejauhmana dampak dari situs perpustakaan digital tersebut dan aktivitas perpustakaan di web. Peringkat perpustakaan perguruan tinggi Negeri Indonesia berdasarkan WIF-revised dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Peringkat Perpustakaan Perguruan Tinggi berdasarkan parameter WIF-Revised

Peringkat perpustakaan berdasarkan parameter WIF-Revised, untuk peringkat pertama di raih oleh Perpustakaan Universitas Bengkulu dengan nilai WIF sebesar 21,5. Peringkat kedua adalah Perpustakaan Universitas Lampung dengan nilai 12, dan untuk peringkat ketiga adalah Perpustakaan Universitas Andalas dengan nilai 1,66. Ada beberapa alasan seseorang untuk memberikan link ke sebuah situs yaitu; bahasa, akses ke berita, sumber informasi yang perting, program, informasi yang berbasis kepada kebutuhan pengguna, struktur dan informasi yang ada pada situs, ketersediaan pada akses full-text, ketersediaan katalog serta katalog induk dan yang sumber yang menarik untuk di link.

Ada juga alasan kurangnya link antar situs web, seperti keterbatasan bahasa, geografis, dan masalah politik, hubungan resmi antara pemerintah, sosial, budaya, etnis, masalah rasial, masalah teknologi web, perubahan alamat situs web, perubahan di konten web dan kualitasnya, kurangnya informasi ilmiah yang valid, dan kurangnya tepat distribusi informasi dalam bentuk elektronik (Osareh, 2007)

Hubungan Antara Peringkat Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia dengan Peringkat Perpustakaannya mengunakan parameter WRWU

Berdasarkan peringkat yang diperoleh, yaitu peringkat perguruan tinggi dan peringkat perpustakaannya dengan mengunakan parameter WRWU, maka dapat dihitung hubungan antara kedua peringkat tersebut ditunjukan oleh koefesien korelasi sebesar 0,802, dimana nilai ini dapat di interpretasikan tingkat hubungannya pada kategori sangat kuat dan positif.

Hal ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi peringkat perguruan tinggi pada parameter WRWU, maka semakin tinggi pula peringkat perpustakaannya pada parameter yang sama. Dengan kata lain bahwa domain web perpustakaan perguruan tinggi negeri di Indonesia berperan besar dalam mendukung peringkat perguruan tingginya.

Hubungan Antara Peringkat Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia dengan Peringkat Perpustakaannya mengunakan parameter WIF-Revised

Nilai koefesien korelasi yang diperoleh sebesar 0,177 dimana nilai ini dapat di interpretasikan kepada tingkat hubungan yang sangat rendah atau negatif. Hal ini mengindikasikan bahwa ada perbedaan yang sangat besar antara peringkat perguruan tinggi dengan peringkat perpustakannya melalui metode WIF-Revised.

Perbedaan peringkat antara perguruan tinggi dengan perpustakaannya bisa disebabkan oleh karena metode peringkat WIF-revised berdasarkan penilaian terhadap tingkat link yang dimiliki situs dan mengukur sejauhmana efesiensi daripublikasi web tersebut. Sebuah situs yang memiliki halaman yang sedikit akan memperoleh tinggi jika link yang diterimanya melebihi jumlah halaman. Dengan begitu jelas bahwa metode WIF tidak memperdulikan kontribusi jumlah yang banyak dari sebuah situs.

Hubungan Antara Peringkat WRWU dengan Peringkat WIF-Revised pada Perpustakaan Perguruan Tinggi

Analisis korelasi ini bertujuan untuk mengetahui sejauhmana asosiasi atau perbedaan dari kedua metode tersebut berdasarkan persamaan peringkat antara peringkat WRWU dengan WIF-Revised pada Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia.

Setelah dilakukan perhitungan dengan mengunakan rumus korelasi Pearson Product Moment dengan angka kasar, maka nilai koefesien korelasi yang diperoleh sebesar 0,493 dimana nilai ini dapat di interpretasikan kepada tingkat hubungan yang sedang atau positif.

Hal ini dapat dijelaskan bahwa ada asosiasi yang cukup atau kedekatan antara dua metode peringkat webometrics, khusunya pada kasus situs Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia. Dengan kata lain, tidak ada perbedaan yang jauh antara metode World Ranking of World Universities dan Web impact factor Revised.

KESIMPULAN
Analisa peringkat webometrics pada Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia beserta perpustakannya, yang kemudian menghasilkan beberapa kesimpulan bahwa peringkat tiga tertinggi webometrics Perguruan Tinggi negeri di Indonesia dengan metode pemeringkatan dari World Ranking of World Universities adalah: (1) Universitas Gadjah Mada , (2) Institut Pertanian Bogor dan (3) Institut Teknologi Bandung.

Untuk peringkat perpustakaannya adalah : (1)Perpustakaan Universitas Diponegoro, (2) Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (3) Perpustakaan Institut Pertanian Bogor.

Peringkat tiga tertinggi webometrics Perguruan Tinggi negeri di Indonesia dengan metode pemeringkatan Web Impact Factor  adalah: (1) Universitas Negeri Surabaya, (2) Universitas Negeri Jakarta (3) Universitas Trunojoyo.

Untuk peringkat perpustakaannya adalah: (1) Perpustakaan Universitas Bengkulu, (2) Perpustakaan Universitas Lampung, (3) Perpustakaan Universitas Andalas.

Hasil dari analisis korelasi adalah terdapat hubungan yang kuat antara peringkat Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia dengan peringkat perpustakaannya, menggunakan metode pemeringkatan WRWU. Artinya peringkat perpustakaan mengikuti peringkat perguruan tingginya dalam peringkat  WRWU, semakin tinggi peringkat perguruan tinggi maka semakin tinggi pula peringkat perpustakannya. Hal ini juga menunjukan bahwa perpustakaan memiliki peran terhadap peringkat Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia.

Namun terdapat hubungan yang sangat rendah antara peringkat Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia dengan perpustakaannya, menggunakan metode pemeringkatan WIF. Selanjutnya terdapat hubungan yang sedang atau cukup antara peringkat WRWU dengan WIF pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia.

Hal ini menjelaskan ada asosiasi atau persamaan antara dua metode pemeringkatan, dengan kata lain tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua metode peringkat tersebut untuk kasus Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia.

Upaya yang perlu dilakukan untuk mendukung setiap nilai indikator dari penilaian webometrics pada perguruan tinggi adalah mendukung penuh akses terbuka terhadap konten digital yang mereka miliki. Untuk mendukung dan menjamin seluruh Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia bersedia mempublikasikan berbagai karya ilmiah berupa laporan penelitian, tugas akhir mahasiswa materi kuliah dan lain-lainnya melalui internet, maka dibutuhkan kebijakan dari pemerintah khususnya dari kementrian pendidikan untuk mewajibkan kepada seluruh perguruan tinggi membuka akses terhadap koleksi lokal mereka di internet, sebagai upaya pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan budaya Indonesia.

Selain itu perpustakaan harus mengembangkan situs yang berguna, menarik bagi pengguna dan memastikan bahwa situs selalu berfungsi dan selalu dilakukan pemutakhiran.

Perpustakaan harus menyediakan ruang untuk akses informasi ke simpanan kelembagaan perguruan tinggi yang menaunginya dengan menggunkan perangkat lunak repository seperti E-print, Dspace ataupun dikembangkan sendiri, dan perlu ada fitur OAI-PMH (The Open Archives Initiative’s Protocol for Metdata Harvesting). OAI-PMH tidak hanya digunakan untuk keperluan mempermudah pencarian informasi lintas pangkalan data, namun juga memfasilitasi interoperability antar berbagai keragaman dalam penggunaan sistem dan metadata, dan memanfaatkan standar web yaitu XML, HTTP dan Dublin Core.

Daftar Pustaka

Aguillo, Isidro F. (2008) . Web Academic and Research Performance of Universities The Middle East Scenario.Universities between International Ranking and Accreditation. King Saud University: Riyadh. 22 Oktober 2010.
Tersedia di: http://s3.amazonaws.com/ppdownload/lb2008webometrics2norslishandout12209724892891889.ppt?Signature=u6XD7g5ZTK45f3Q60%2FENXihvdQ4%3D&Expires=1293471591&AWSAccessKeyId=AKIAJLJT267DEGKZDHEQ

Asadi M., Shekofteh M. (2009) The relationship between the research activity of Iranian medical universities and their web impact factor. The Electronic Library. 27 (6) 1026-1043.

Avemaria, Samuel C. Webometric Ranking and Nigerian Private Universities: A Case Study of Bells University of Technology. Tersedia di: : http://eprints.rclis.org/bitstream/10760/9128/1/F0927C9D.pdf (19/01/2010)

Bjorneborn, Lennart dan Ingwersen, Peter (2004). Toward a Basic Framework for webometrics. Journal of the American Society for Information Science and Technology . 55 (14), 1216-1227.

Björneborn, L. (2004). Small-world link structures across an academicWebspace: A library and information science approach. Disertasi Doktor, Royal School of Library and Information Science,Copenhagen,Denmark. Hal. 14.

Ingwersen, Peter. (1998). The calculation of web impact factors. Journal of Documentation, 54 (2) 236–243.

Jalal, S. K., Biswas, S. C. & Mukhopadhyay, P. (2009), Webometric analysis of Central Universities in India: A study., in ‘ICITST’,1-9. Tersedia di: https://drtc.isibang.ac.in/bitstream/handle/…/camera_ready_ICITST-09.pdf(20/12/2009)

Jeyshankar.R dan B. Ramesh Babu.(2009). Website of universities in Tamil Nadu: a webometric study. Annals of library and information Studies. 56 (2), 69-79.

Noruzi, Alireza. (2006) The web impact factor: a critical review. The Electronic Library, 24 (4) 490-500.

Osareh, F. (2007), Web links analysis in Library & Information Science International and National Association and Institute web sites, Library and the Information Sciences: The Quarterly Journal of Organization for Libraries, Museums and Documents Center of Astan-e Quds-e Razav, 10 (2) 52.

Tague-Sutcliffe. J. (1992). An introduction to informetrics. Information Processing & Management. 28( 1). 1-3.

Thelwall, Mike (2007) Bibliometrics to Webometrics. Journal of Information Science.34 (4).2-3.

Rowlands, Ian. (1999) The internet: its impact and evaluation. Proceedings of an international forum held at Cumberland Lodge, Windsor Park, 16-18th . London ASLIB/INTI. Hal 126.

Thelwal, Mike (2000). : Web impact factors and search engine coverage. Journal of Documentation,56 (2) 185-189.

Webometrics Ranking of World University .Metodology.  Tersedia di : www.webometrics.info/metodology (8 Mai 2011)