Berbagi Informasi di Kalangan Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia dalam Pengembangan Ilmu

1. Latar Belakang
Berbagi informasi adalah saling menyediakan informasi untuk orang lain, secara proaktif maupun melalui permintaan. Kegiatan ini memungkinkan pengembangan ilmu di dunia akademik. Pengajar di perguruan tinggi melakukan proses komunikasi dalam menyebarkan informasi tersebut melalui media tertentu seperti forum diskusi di ruang pengajar atau secara interpersonal. Proses tersebut memungkinkan munculnya respon dari komunikan atau penerima informasi, sehingga diskusi dapat berlangsung.
Namun yang terjadi saat ini menunjukkan bahwa berbagi informasi belum menjadi kegiatan utama di kalangan para pengajar. Padahal visi Universitas Indonesia (UI) adalah menjadi research university. Para pengajar cenderung mengajar, meneliti, membaca dan menulis secara individual. Lebih jauh lagi, tulisan-tulisan pengajar, seperti laporan penelitian, penulisan artikel, buku dan sebagainya, jarang sekali yang diciptakan oleh multi-penulis, kebanyakan ditulis oleh penulis tunggal. Kasali (2005) mengatakan pentingnya suatu forum untuk berbagi informasi di kalangan pengajar di UI sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas dalam menulis.  Tanpa ada dialog di antara para pengajar untuk berdiskusi tentang disiplin ilmu mereka, maka dapat diramalkan bahwa pengembangan ilmu menjadi lebih lambat atau bahkan menjadi statis, demikian pula dengan dunia praktis.
Tujuan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (selanjutnya disingkat FIB UI), sesuai dengan misi UI dan tridharma pendidikan, adalah berupaya untuk mengembangkan pendidikan dan penelitian ilmu-ilmu budaya dalam rangka mengukuhkan jati diri bangsa; menghasilkan sumber daya manusia yang handal dan terpercaya dalam hal pengabdian pada masyarakat di bidang ilmu-ilmu budaya; dan meningkatkan integrasi pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di bidang ilmu-ilmu budaya melalui kerja sama. Informasi yang diperlukan pada program S1 hingga S3 berkaitan dengan bidang ilmu pengetahuan budaya, seperti bahasa dan kebudayaan, pengetahuan tentang aspek budaya Indonesia dan asing, linguistik, kesusasteraan, sejarah, arkeologi, filsafat, dan ilmu perpustakaan, serta informasi dalam bidang pariwisata, perkantoran, penyuntingan, dan periklanan. Pengelompokkan ilmu di FIB-UI terdiri dari enam departemen, yaitu departemen Linguistik, Susastra, Filsafat, Arkeologi, Sejarah, dan Ilmu Perpustakaan. Dari pengamatan awal, pengajar di beberapa departemen di FIB UI cenderung untuk tidak mengkomunikasikan perkembangan bidang ilmu mereka padahal ini penting untuk proses regenerasi dosen di FIB. Seorang guru besar atau pengajar senior yang akan pensiun hendaknya menyiapkan asisten setidaknya lima tahun sebelum dia pensiun agar terjadi proses transfer ilmu pengetahuan kepada pengajar-pengajar yang ada di program studi yang ditinggalkannya.
Berdasarkan kenyataan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kegiatan berbagi informasi di antara para pengajar di FIB UI dalam kaitannya dengan pengembangan ilmu. Jenis penelitian ini adalah kuantitatif, dengan metode pengumpulan data menggunakan metode survei, serta kajian literatur dan dokumen untuk dijadikan landasan dan memperkuat temuan yang dihasilkan. Metode pangambilan sampel yang digunakan adalah sampel strata proporsional. Penelitian ini digolongkan dalam kajian pemakai. Hasil penelitian ini diharapkan akan membantu peningkatan kegiatan berbagi informasi; menciptakan hubungan yang lebih efisien; dan motivasi di antara pengajar; serta mengembangkan tenaga pengajar di FIB untuk menumbuhkan ilmu pengetahuan di Indonesia sesuai dengan visi UI sebagai research university. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat mendorong perkembangan ilmu perpustakaan dan informasi dalam aspek berbagi informasi.
 
2. Berbagi informasi dan jaringan komunikasi
Berbagi informasi merupakan bagian dari proses komunikasi. Secara umum, komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Brent D. Ruben (1998) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses saat individu, dalam hubungannya dengan kelompok, organisasi, dan masyarakat, menciptakan, mengirimkan, dan menggunakan informasi untuk mengkoordinasi lingkungannya dan orang lain.  Awal tahun 1960-an David K. Berlo membuat formula unsur komunikasi yang sederhana yang terdiri atas unsur pengirim, pesan, media, dan penerima, sementara pakar lainnya menambahkan lagi unsur efek dan umpan balik sebagai pelengkap dalam komunikasi yang sempurna. Setelah komunikan menerima pesan, yang berisi tentang ilmu pengetahuan, hiburan, informasi, nasihat atau propaganda, komunikan mendapatkan pengaruh atau efek, yaitu perbedaan antara apa yang dipikirkan, dirasakan dan dilakukan oleh penerima sebelum dan sesudah menerima pesan.
Dalam organisasi, individu-individu saling berinteraksi dan bertukar pesan, yang dilakukan melalui jaringan komunikasi. Dalam hal ini, jaringan diartikan sebagai hubungan sehari-hari dari anggota organisasi, bersifat formal maupun informal.  Jaringan komunikasi dibedakan berdasarkan jumlah anggota dan strukturnya. Hubungan struktur sosial dalam organisasi ditentukan pola hubungan interaksi individu dengan arus informasi dalam jaringan komunikasi. Jaringan terbentuk dari hubungan atau koneksi orang-orang dalam organisasi serta kelompok tertentu (klik); adanya keterbukaan satu kelompok dengan kelompok lainnya; serta orang-orang yang memegang peranan utama dalam suatu organisasi. Ada tiga peran dalam jaringan komunikasi yaitu :
1) Bridge adalah anggota kelompok atau klik dalam satu organisasi yang menghubungkan anggota satu kelompok dengan kelompok lainnya. Mereka saling membantu memberi informasi dan mengkoordinasi di antara anggota kelompok.
2) Liaison adalah sama peranannya dengan bridge tetapi individu tersebut bukan anggota satu kelompok tetapi ia merupakan penghubung di antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Ia juga membantu dalam berbagi informasi yang relevan di antara kelompok-kelompok dalam organisasi.
3) Isolate adalah anggota organisasi yang mempunyai kontak minimal dengan orang lain dalam organisasi. Ia menyembunyikan diri dalam organisasi atau diasingkan oleh teman-temannya. Berikut adalah bagan suatu jaringan komunikasi.


Jaringan komunikasi berfungsi untuk mengokoordinasi aktivitas individu, mengarahkan dan memberikan fasilitas. Fungsi pengarah aktivitas secara keseluruhan dalam organisasi adalah untuk memudahkan organisasi dalam mencapai tujuan. Fungsi pemberi fasilitas pertukaran informasi dalam organisasi memungkinkan alur pertukaran informasi menjadi lebih mudah. Dalam lingkungan akademik, hal ini bermanfaat untuk pengembangan disiplin ilmu karena informasi terbaru mengenai suatu disiplin ilmu dapat disebarluaskan kepada segenap civitas akademik melalui jaringan komunikasi.
Keberhasilan komunikasi, pertama-tama, tergantung dari komunikator; yaitu kepercayaan pada komunikator serta keterampilan komunikator dalam berkomunikasi. Ketua Jurusan atau Dekan adalah contoh komunikator yang pasti diterima oleh komunikan yang merupakan pengajar atau civitas akademika lainnya. Komunikator memerlukan daya tarik sumber dan kredibilitas sumber kepercayaan komunikan kepada komunikator. 
Kedua, keberhasilan komunikasi tergantung pada pesan yang disampaikan, yaitu daya tarik pesan, kesesuaian pesan dengan kebutuhan, dan peranan pesan. Komunikan cenderung memilih pesan yang disampaikan, dan mengabaikan pesan yang mereka anggap tidak menarik. Faktor lain yang turut berpengaruh adalah kesesuaian isi pesan dengan kebutuhan komunikan. Bahkan, meskipun pesan yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan komunikan, namun bila isi pesan tidak memberikan peran dalam memenuhi kebutuhannya, komunikan memilih untuk mengabaikannya. Keberhasilan komunikasi juga tergantung dari kemampuan komunikan menafsirkan pesan dan adanya kesadaran dalam diri komunikan bahwa pesan yang diterimanya bisa memenuhi kebutuhannya.
Ketiga, keberhasilan komunikasi tergantung pada konteks, setting atau lingkungan tertentu. Pertama, faktor lingkungan fisik, seperti jarak yang begitu jauh, apalagi tanpa fasilitas komunikasi; seringkali menghambat komunikasi; demikian pula dengan faktor lingkungan sosial budaya, antara lain seperti bahasa, kepercayaan, adat istiadat, dan status sosial. Faktor dimensi psikologis, yaitu pertimbangan kejiwaan yang digunakan dalam berkomunikasi, misalnya menghindari kritik yang menyinggung perasaan orang lain; dan faktor dimensi waktu, misalnya situasi yang tepat untuk melakukan komunikasi, merupakan hambatan yang lazim ditemui dalam komunikasi. Komunikasi juga tergantung pada metode dan media penyampaian, media cetak atau media elektronik, yang disesuaikan dengan berbagai jenis indera penerima pesan. Di lingkungan akademik, sistem penyampaiannya dapat berupa seminar, diskusi, tulisan atau artikel yang kemudian dipublikasikan.
Ardichvili (2002) menyebutkan hambatan dalam berbagi informasi di antaranya adalah adanya keinginan untuk menimbun informasi karena ilmu pengetahuan adalah aset pribadi dan memiliki nilai saing yang menguntungkan. Berdasarkan wawancara dengan seorang narasumber di Gedung II FIB-UI, ada beberapa pengajar yang enggan membagi informasi yang dimilikinya karena informasi tersebut merupakan aset pribadinya, baik untuk melakukan penelitian atau mengajar mata kuliah, sehingga ia dapat meningkatkan angka kredit, golongan dan jabatannya, yang berpengaruh pada penghasilannya. Hambatan lainnya adalah adanya kekhawatiran jika informasi tidak relevan dengan topik diskusi yang sedang berjalan. Kekhawatiran ini timbul karena kurangnya perhatian atau rendahnya ketertarikan individu lain terhadap topik tersebut. Hambatan lain yang datang dari luar individu adalah kurangnya dukungan dari pihak manajemen dan iklim/pola komunikasi organisasi tersebut.

3. Berbagi informasi di lingkungan akademik
Proses yang asasi dalam komunikasi adalah penggunaan bersama, artinya suatu hal yang dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama-sama (to share). Proses saling berbagi atau menggunakan informasi secara bersama dan pertalian antara para peserta dalam proses informasi disebut komunikasi.  Berbagi informasi didefinisikan sebagai kolaborasi antara dua individu atau lebih dengan maksud menukar informasi untuk mencapai tujuan masing-masing, yang meliputi menyediakan informasi, menetapkan bahwa informasi telah diterima dan telah dipahami dengan baik.
Komunitas akademik adalah struktur strata sosial yang dibangun dalam atmosfer kompetisi dalam berprestasi dan kebutuhan untuk diakui. Berbagi informasi adalah hal yang fundamental bagi kalangan intelektual dan dasar untuk kompetensi mereka karena melalui kegiatan tersebut mereka mendapatkan pengakuan atas karya-karyanya dalam pengembangan ilmu. Sumber informasi yang digunakan oleh kalangan intelektual adalah sumber formal dan informal. Sumber formal yaitu jurnal, buku, artikel ilmiah, dan lain-lain, sumber informal yaitu interaksi antara seorang intelektual dengan intelektual lainnya. Sumber informal memberikan akses lebih mudah dan cepat ke informasi mengenai penelitian yang sedang berjalan. Interaksi langsung dalam pertukaran informasi dianggap sebagai salah satu cara penting, sehingga kalangan intelektual umumnya memiliki jaringan sosial sendiri. 
Penelitian yang dilakukan oleh Clara Chu (1999) mengenai kebiasaan informasi kalangan intelektual di bidang sastra (humaniora) mengatakan bahwa mereka melalui enam tahap kegiatan, yaitu menghasilkan ide, persiapan, perincian, analisis dan menulis, penyebaran, serta penulisan dan penyebaran lanjutan. Setiap tahap disertai dengan aktivitas penelusuran informasi, membaca, menambah materi dalam tahap persiapan, serta menyimpulkan dan mendiskusikan ide dalam tahap perincian. Ia juga mengatakan bahwa komunikasi informal di antara kalangan intelektual di bidang sastra sama pentingnya dengan bidang lainnya.  Borgman (1990) mendefinisikan dan menggambarkan komunikasi intelektual sebagai pemanfaatan dan penyebaran informasi melalui saluran formal dan informal. Graham membagi komunikasi intelektual menjadi tiga tingkatan yaitu komunikasi dalam jaringan informal, seperti diskusi; penyebaran ilmu melalui konferensi atau seminar; dan terakhir adalah publikasi formal melalui artikel dalam jurnal terkemuka.

4. Temuan
Penyebaran kuesioner dilakukan pada tanggal 27 April¿4 Mei 2007 terhadap 35 responden di FIB UI. Dari 35 kuesioner yang disebarkan secara acak proporsional,


setelah dilakukan penyuntingan ternyata 3 kuesioner tidak kembali dan 1 kuesioner tidak lengkap, sehingga hanya 31 kuesioner yang layak untuk diolah.

a. Pengembangan ilmu di FIB UI
Berdasarkan hasil wawancara dengan seorang narasumber di gedung II FIB yang merupakan gedung pusat administrasi FIB, didapatkan informasi bahwa FIB UI mendukung terjadinya kegiatan berbagi informasi di kalangan pengajar. Selama ini fakultas sudah memfasilitasi kegiatan tersebut, seperti mengajak pengajar untuk menjadi pemakalah atau peserta seminar baik di dalam maupun di luar negeri, membiayai pengajar yang ingin menempuh pendidikan yang lebih tinggi, mengadakan lomba penelitian setiap tahun, menghimbau pengajar untuk menulis dan mengadakan penelitian mandiri untuk meningkatkan kualitas diri, namun fakultas belum memfasilitasi adanya diskusi formal di setiap departemen maupun program studi, fakultas menyerahkan kebijakan dalam hal pengembangan ilmu tersebut pada masing-masing departemen maupun program studi.
Dalam hal komunikasi, fakultas sudah menyediakan milis bagi para pengajar untuk berbagi informasi terbaru mengenai disiplin ilmu. Milis ini juga dimanfaatkan pengajar untuk berkeluh-kesah mengenai keadaan fakultas. Jika dikembangkan dan diberi perhatian, milis ini dapat dijadikan sarana untuk pengembangan kualitas pengajar FIB. Untuk seminar, fakultas belum membuat kebijakan bagi pengajar yang mengikuti seminar untuk menyebarluaskan hasil seminar yang diterimanya ke rekan pengajar baik melalui tatap muka/diskusi formal maupun informal dan belum ada kebijakan untuk menyerahkan hasil seminar kepada pihak fakultas untuk selanjutnya disebarkan melalui milis fakultas. Untuk mendukung misi UI yaitu world class university, fakultas baru dalam tahap menghimbau para pengajar untuk meningkatkan kualitas bahasa Inggrisnya, dengan menyediakan kursus bahasa Inggris secara gratis.

b. Pengajar di FIB UI
Populasi dalam penelitian ini adalah kalangan pengajar FIB UI yang keseluruhannya berjumlah 258 orang. Departemen yang memiliki anggota terbanyak adalah departemen Susastra yang mencapai 78 pengajar, disusul oleh departemen Linguistik 77 pengajar, dan departemen Sejarah 51 pengajar.
Pengajar yang merupakan anggota suatu departemen tersebar di 14 program studi. Pengajar yang tergabung di departemen Linguistik dan Susatra merupakan departemen yang bersifat heterogen, sebab terdiri dari para pengajar yang berasal dari program studi Inggris, Indonesia, Jawa, Rusia, Cina, Arab, Jepang, Perancis, Belanda, dan Jerman. Departemen Filsafat, Arkeologi, Ilmu Perpustakaan, dan Sejarah lebih bersifat homogen. Umumnya pengajar di departemen Filsafat juga mengajar di program studi Filsafat, begitu pula dengan pengajar di departemen Arkeologi, Ilmu Perpustakaan, dan Sejarah. Meskipun demikian, beberapa pengajar di departemen Sejarah ada yang mengajar di program Studi Cina, Rusia, atau Jepang. Hal ini mengakibatkan disiplin ilmu mengalami perkembangan, misalnya di program studi Rusia tidak hanya diajarkan mengenai kebudayaan Rusia atau Bahasa Rusia, tetapi juga mengenai sejarah Rusia. Sehingga di dalam ruangan program studi Rusia dapat terjadi diskusi diantara pengajar dari berbagai departemen mengenai Rusia yang ditinjau dari segi budaya, bahasa, dan sejarahnya. Hal ini dapat meningkatkan wawasan pengajar.
Latar belakang pengajar FIB bervariasi antara S1 hingga S3. Hampir seluruh responden (81% atau 25 orang) memiliki latar belakang S2. Hanya sebagian kecil responden yang memiliki latar belakang S1 (6% atau 2 orang), dan S3 (13% atau 4 orang). Lama mengajar mempengaruhi kedekatan atau interaksi personal dengan rekan pengajar lain. Hal ini mempengaruhi proses berbagi informasi karena umumnya individu yang ingin mendapatkan suatu informasi mencari ke lingkungan terdekatnya terlebih dahulu. Penelitian Johnson (2004) mengenai perilaku informasi individu, menyebutkan bahwa sumber informasi yang utama adalah orang yang dekat dengannya.  Hasil serupa juga ditemukan dalam penelitian Fisher, dkk (2005). Selain itu, lama mengajar yang bisa mempengaruhi perkembangan wawasan pengajar karena berbagai pengalaman, ia dapat membaginya dengan rekan pengajar yang lebih muda. Dari diagram 1 diketahui bahwa hampir setengah responden (42% atau 13 orang) telah mengajar selama 11 ¿ 15 tahun.


Jumlah persentase dosen yang dekat dengan responden dapat dijadikan acuan dalam melihat jaringan informal responden dan bagaimana interaksinya di lingkungan akademik. Hal ini dipengaruhi oleh salah satunya adalah lama ia mengajar. Berdasarkan diagram 2 diketahui bahwa hampir setengah responden (36%) menyatakan sebanyak 26¿49% pengajar yang dekat dengan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa interaksi responden dengan lingkungan sekitarnya cukup baik sehingga memudahkan terjadinya kegiatan berbagi informasi di lingkungan fakultas.

Responden telah mengajar selama 11-15 tahun dan memiliki latar belakang pendidikan S2. Seperti pada teori keberhasilan komunikasi, latar belakang pendidikan ini berpengaruh pada pemahaman responden terhadap pesan/informasi yang disampaikan oleh rekannya. Selain itu hal ini juga berpengaruh pada alasan pemilihan rekan dalam berbagi informasi yang didasarkan pada kompetensi rekan. Selama 11-15 tahun mengajar, responden hanya mengenal sebanyak 26-49% dari jumlah pengajar keseluruhan yaitu 258 orang. Persentase tersebut menandakan rendahnya jaringan komunikasi baik formal maupun informal diantara pengajar, sehingga berpengaruh pada kegiatan berbagi informasi karena jaringan komunikasi merupakan suatu sarana dalam kegiatan tersebut.

c. Berbagi informasi di kalangan kengajar dalam pengembangan ilmu

1) Frekuensi berbagi informasi
Berbagi informasi untuk pengembangan ilmu dapat tercapai bila dilakukan secara kontinu dan meminimalisir hambatan yang muncul. Dari diagram 3 diketahui bahwa hampir seluruh responden (77% atau 24 orang) menyatakan mereka sering berbagi informasi dengan sesama pengajar di lingkungan FIB. Jawaban ini menandakan berbagi informasi di tingkat fakultas sudah berjalan meski belum maksimal karena masih ada sebagian kecil responden yang menjawab jarang berbagi informasi dengan sesama pengajar di lingkungan FIB (23% atau 7 orang).

2) Berbagi informasi dengan rekan pengajar
Dari diagram 4 diketahui bahwa sebagian besar responden (68% atau 21 orang) menyatakan mereka tidak hanya berbagi informasi dengan sesama pengajar di dalam program studi. Jawaban ini menandakan bahwa lingkup mereka dalam berbagi informasi tidak hanya dengan rekan di satu program studi, melainkan juga dengan rekan di program studi lain maupun departemen lain. Hal ini memungkinkan disiplin ilmu mengalami perkembangan.


Dari diagram 5 diketahui bahwa sebagian besar responden (62% atau 19 orang) menyatakan kegiatan bertukar informasi di departemen adalah hal yang tidak sering dilakukan, kegiatan ini dilakukan hanya bila ada materi yang perlu didiskusikan, jawaban ini menandakan berbagi informasi belum menjadi budaya di tingkat departemen, meski di tingkat fakultas kegiatan ini sudah cukup sering dilakukan, dan hampir setengah responden (35% atau 11 orang) menyatakan kegiatan bertukar informasi merupakan hal yang rutin dilakukan di departemen mereka.

3) Jenis informasi yang dibagi
Berdasarkan teori mengenai keberhasilan komunikasi, informasi yang dibagi harus memiliki daya tarik dan mengandung peran dalam memenuhi kebutuhan informasi komunikan. Dari diagram 6 diketahui bahwa sebagian besar responden (58% atau 18 orang) menyatakan jenis informasi yang mereka bagi adalah mengenai perkembangan disiplin ilmu. Jawaban ini menandakan tingkat kepedulian mereka terhadap perkembangan disiplin ilmu mereka cukup tinggi.

4) Motivasi berbagi informasi
Motivasi berbagi informasi bervariasi menurut kebutuhan masing-masing pihak, baik untuk memenuhi kebutuhan individu maupun kelompok. Talja menyebutkan bahwa berbagi informasi bukan perilaku individu, melainkan usaha bersama yang terjadi di dalam jaringan sosial, seperti komunitas akademik.  Dari diagram 7 diketahui bahwa hampir setengah responden (43% atau 13 orang) menyatakan motivasi mereka melakukan kegiatan berbagi informasi adalah untuk pengembangan pengetahuan pribadi, meskipun hampir setengah responden yang lain (35% atau 11 orang) menyatakan untuk pengembangan kurikulum departemen.

5) Media dalam berbagi informasi
Media yang digunakan dalam berbagi informasi bervariasi menurut ketertarikan pihak yang terlibat dalam proses ini, dapat melalui tatap muka, tulisan, atau melalui sarana internet dan telepon. Di kalangan intelektual seperti lingkungan akademik umumnya komunikasi dilakukan melalui tulisan yang kemudian disebarkan melalui jurnal ilmiah sehingga dapat dimanfaatkan oleh akademisi-akademisi di masa depan.  Dari diagram 8 diketahui bahwa hampir setengah responden (36% atau 22 orang) melakukan tatap muka dalam berbagi informasi, dan hampir setengah responden yang lain (28% atau 17 orang) melalui tulisan yang kemudian disebarkan (artikel) sebagai media berbagi informasi.

6) Rekan dalam berbagi informasi
Dari diagram 9 diketahui bahwa sebagian besar responden (71% atau 22 orang) paling sering berbagi informasi dengan rekan pengajar di satu program studi, dan hanya sebagian kecil responden (23% atau 7 orang) paling sering berbagi informasi dengan rekan pengajar di satu departemen. Hal tersebut dikarenakan oleh faktor geografis yang memungkinkan frekuensi mereka bertemu dengan rekan satu program studi lebih tinggi. Untuk departemen dengan jumlah anggota yang sedikit dan anggotanya bersifat homogen seperti Arkeologi, Filsafat dan Ilmu Perpustakaan mereka memang memiliki intensitas pertemuan yang cukup tinggi. 


Dari diagram 10 diketahui bahwa sebagian besar responden (52% atau 16 orang) beralasan karena rekan tersebut kompeten di bidangnya, dan hampir setengah responden (45% atau 14 orang) menyatakan alasannya karena akrab dengan responden. Hasil ini serupa dengan penelitian yang diadakan oleh Fisher, mengenai kebiasaan informasi yang mengatakan bahwa hampir sebagian besar responden memilih lingkungan terdekatnya, seperti keluarga dan teman akrab sebagai sumber informasinya.  Hal ini disebabkan oleh tingkat kepercayaan yang lebih tinggi bahwa lingkungan terdekatnya akan memberikan informasi yang tepat dibanding dengan lingkungan luar, selain itu lingkungan terdekat lebih mudah diakses dan ditemui. Hasil ini juga ditemukan dalam penelitian Johnson (2004).

7) Pola komunikasi
Pola komunikasi formal memberikan pengaruh pada interaksi formal yang berlangsung di dalam organisasi. Berbagi informasi tidak hanya terjadi dalam situasi formal, namun juga dapat terjadi dalam situasi informal. Dalam situasi formal seperti diskusi formal yang dilakukan secara rutin.
Dari diagram 11 diketahui bahwa hampir seluruh responden (90% atau 28 orang) menyatakan departemen mereka memiliki pola komunikasi formal yang mendukung terjadinya kegiatan berbagi informasi. Hal ini menandakan pola komunikasi formal bukan merupakan hambatan dalam berbagi informasi di departemen meskipun berjalan maksimal karena berbagi informasi di departemen hanya dilaksanakan bila ada materi yang perlu didiskusikan.

Pola komunikasi informal memberikan pengaruh pada interaksi informal yang berlangsung di dalam organisasi. Berbagi informasi dalam situasi informal seperti diskusi yang dilakukan secara santai dan tidak rutin pada saat jam makan siang atau tidak ada jam mengajar. Dari diagram 12 diketahui bahwa hampir seluruh responden (90% atau 28 orang) menyatakan departemen mereka memiliki pola komunikasi informal yang mendukung terjadinya kegiatan berbagi informasi. Hal ini juga menandakan bahwa pola komunikasi informal bukan merupakan hambatan dalam berbagi informasi di kalangan anggota departemen. Berdasarkan diagram 11 dan 12 diketahui bahwa pola komunikasi formal maupun informal di tiap departemen mendukung terjadinya kegiatan berbagi informasi. Sehingga pola komunikasi bukan merupakan hambatan bagi para pengajar untuk berbagi informasi.

8) Hambatan dalam berbagi informasi
Dari diagram 13 diketahui bahwa hampir seluruh responden (81% atau 25 orang) menyatakan hambatan dalam berbagi informasi adalah rekan pengajar yang kurang antusias. Jawaban ini menandakan rendahnya antusiasme pengajar terhadap kegiatan berbagi informasi secara umum, terutama bila rekannya tidak memiliki kompetensi yang sama baik itu dalam hal disiplin ilmu maupun latar belakang pendidikannya.

9) Jaringan Komunikasi
Dari diagram 14 diketahui bahwa sebagian besar responden (52% atau 16 orang) menyatakan mereka tidak memiliki jaringan komunikasi tersebut. Hal ini mempengaruhi kegiatan berbagi informasi karena jaringan komunikasi merupakan salah satu media terjadinya kegiatan tersebut.
Dari diagram 15 diketahui bahwa hampir setengah responden (40% atau 12 orang) menyatakan anggota jaringan komunikasi mereka adalah rekan pengajar satu departemen, hal ini menandakan responden cukup memahami bahwa departemen adalah tempat terjadinya pengembangan ilmu karena departemen dibuat berdasarkan pengelompokkan disiplin ilmu.

9.1) Posisi responden dalam jaringan
Dari diagram 16 diketahui bahwa sebagian besar responden (60% atau 9 orang) menyatakan posisi mereka dalam jaringan komunikasi adalah sebagai anggota dan merupakan penghubung antar jaringan, saling memberi informasi dengan jaringan yang lain dan mengkoordinasi jaringan tersebut (A = bridge). Posisi ini menandakan pengajar FIB menduduki posisi penting dalam jaringan komunikasi tempatnya tergabung, sebab koordinasi dipegang oleh posisi ini.

9.2) Tujuan jaringan komunikasi
Dari diagram 17 diketahui bahwa sebagian besar responden (73% atau 11 orang) menyatakan tujuannya adalah untuk pengembangan disiplin ilmu, dan sebagian kecil responden (20% atau 3 orang) menyatakan tujuan dibentuknya jaringan komunikasi untuk memotivasi pengajar lain dalam pengembangan ilmu. Hal ini menandakan tingkat kepedulian responden terhadap perkembangan ilmu cukup tinggi.

10) Aktivitas untuk Menambah Ilmu Pengetahuan
Dalam proses ini, masing-masing pihak saling memberikan kontribusi positif mengenai topik yang sedang dibahas, sehingga dapat memperluas wawasan masing-masing dan disiplin ilmu semakin berkembang. Untuk itu, masing-masing pihak harus memiliki wawasan agar tidak menjadi pihak yang pasif dalam proses berbagi informasi. Dari diagram 18 diketahui bahwa sebagian besar responden (64% atau 20 orang) memilih membaca buku untuk menambah ilmu pengetahuan mereka. Hal ini diperkuat oleh Case (2002: 240) mengatakan bahwa ilmuwan humaniora lebih suka membaca buku untuk menambah wawasan.

11) Aktivitas Setelah Mengikuti Seminar
Umumnya seminar diikuti oleh pihak-pihak dengan latar belakang disiplin ilmu yang sama. Pengajar yang mengikuti seminar diharapkan dapat membagi informasi yang diterimanya dalam seminar ke rekan-rekan pengajar lain sehingga dapat menambah wawasan pengajar lain. Dari diagram 19 diketahui bahwa lebih dari separo responden (65% atau 20 orang) memilih mendiskusikan hasil seminar kepada rekan pengajar yang lain. Hal ini menandakan kesadaran responden untuk berbagi informasi mengenai hasil seminar yang diterimanya cukup tinggi.

12) Respon rekan mengenai informasi yang Anda bagi
Kesibukan dalam mengajar atau aktivitas lain dan rendahnya tingkat kepedulian pengajar terhadap perkembangan disiplin ilmu adalah salah satu sebab rendahnya antusiasme pengajar dalam berbagi informasi. Dari diagram 20 diketahui bahwa hampir seluruh responden (87% atau 27 orang) memberikan respon antusiasme terhadap informasi mengenai hasil seminar yang dibagi oleh rekannya.

Berdasarkan analisis di atas, kegiatan berbagi informasi di kalangan pengajar dalam pengembangan ilmu dapat digambarkan sebagai berikut:
– Responden sering berbagi informasi mengenai perkembangan disiplin ilmu dengan sesama pengajar di tingkat program studi. Hal ini dapat terjadi karena intensitas pertemuan dengan rekan di satu program studi lebih tinggi dibanding dengan rekan di satu departemen atau dengan rekan di departemen lain. Untuk di tingkat departemen, berbagi informasi hanya dilakukan bila ada materi yang perlu didiskusikan. Sehingga dapat dikatakan bahwa berbagi informasi belum menjadi budaya di lingkungan departemen di FIB UI, meskipun tingkat kepedulian mereka terhadap perkembangan disiplin ilmu sudah cukup besar.
– Motivasi pengajar dalam melakukan kegiatan berbagi informasi adalah untuk pengembangan pengetahuan pribadi, bukan untuk peningkatan kualitas organisasi, dalam hal ini adalah departemen.
– Dalam memilih rekan untuk berbagi informasi pun responden cukup selektif, mereka memilih rekan yang menurutnya berkompeten di bidang ilmunya, sehingga mereka kurang antusias dalam berbagi informasi bila ada rekan yang menurut mereka kurang berkompeten. Ini adalah salah satu hambatan dalam kegiatan berbagi informasi.
– Jaringan komunikasi baik formal maupun informal adalah salah satu sarana yang dapat dimanfaatkan untuk berbagi informasi. Namun responden sebagian besar tidak memiliki jaringan ini. Responden membentuk jaringan ini untuk pengembangan disiplin ilmu dalam lingkup masing-masing departemen karena anggotanya terdiri atas rekan-rekan di satu departemen.
– Berbagi informasi melibatkan proaktif dari dua atau lebih pihak. Masing-masing pihak saling menyediakan informasi yang mereka miliki. Untuk itu mereka harus selalu menambah wawasan. Responden lebih memilih membaca buku untuk menambah wawasan mereka, sedangkan dalam berbagi informasi mereka lebih suka secara tatap muka.
– Secara umum, respon rekan dalam berbagi informasi kurang antusias, namun mereka memberikan respon positif bila ada rekan yang berbagi informasi mengenai hasil seminar yang telah diikutinya. Begitu pula dengan kesadaran pengajar yang baru pulang dari seminar untuk membagi informasi yang diterimanya di seminar sudah cukup tinggi.

5. Kesimpulan
Karena pengajar FIB lebih sering berbagi informasi mengenai perkembangan disiplin ilmu dengan sesama pengajar di program studi, bukannya di departemen, dapat dikatakan bahwa berbagi informasi belum menjadi budaya di lingkungan departemen di FIB UI. Selain adanya kepentingan pribadi, kondisi tersebut disebabkan oleh kurangnya rasa percaya terhadap rekan yang dianggap kurang kompeten di bidang ilmunya dan ketidaksesuaian latar belakang pendidikan rekannya. Jaringan komunikasi baik formal maupun informal diantara pengajar yang masih terbilang rendah, menunjukkan kurangnya nilai kebersamaan dan saling percaya.
Untuk mengatasi permasalah di atas, berikut ini adalah saran-saran yang diajukan. Pertama, sebaiknya setiap departemen menjadikan kegiatan berbagi informasi menjadi kegiatan rutin, karena departemen adalah wadah pengembangan ilmu. Kedua, pihak fakultas dan pengajar itu sendiri menumbuhkan nilai kebersamaan dan rasa saling percaya demi perkembangan ilmu yang ada. Ketiga, fakultas sebaiknya lebih memfasilitasi kegiatan berbagi informasi, seperti mengadakan forum diskusi lintas departemen secara berkala atau pembuatan newsletter dalam bidang ilmu. Fakultas juga lebih memotivasi dengan memberikan penghargaan yang memadai kepada pengajar untuk menuliskan hasil penelitian atau informasi baru dalam bentuk tulisan, sehingga dapat memotivasi pengajar lain untuk melakukan hal serupa.