Berkat (berita-berita singkat)

PERPUSTAKAAN TERBERISIK DI DUNIA
Liputan Pertemuan JIBIS & HUMANIORA di Kantor Majalah TEMPO

JAKARTA – Konon kebenaran terkadang perlu diteriakkan. Demikianlah setidak-tidaknya kredo para kuli tinta alias wartawan. Namun, apa jadinya jika persoalan teriak-meneriakkan ini terjadi pula di perpustakaan sebuah perusahaan penerbitan? Petugas perpustakaan pun harus berteriak dalam memberikan pelayanan. Maka, tidaklah terlalu salah bila Pemred MBM TEMPO Fikri Jufri berseloroh bahwa dari berbagai kunjungannya ke perpustakaan di berbagai belahan dunia, Perpustakaan TEMPO patut digelari "Perpustakaan Terberisik di Dunia", demikian sepenggal kisah yang dituturkan Sri Mulungsih dalam pertemuan Jaringan Informasi Bidang Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora (JIBIS – Humaniora) yang berlangsung di Kantor Majalah TEMPO, Gedung Jaya Lt. 10, Jl. M.H. Thamrin No. 12, Jakarta, Rabu pagi, 11 April 2001.

Pertemuan yang dihadiri kurang lebih 22 orang dari berbagai perpustakaan anggota JIBIS-Humaniora di wilayah Jakarta ini diawali dengan pembukaan oleh Kepala Pusat Jasa Perpustakaan dan Informasi Sungkowo Rahardjo, diteruskan dengan sambutan dari Deputi Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Paul Permadi. Acara berlanjut dengan pemaparan visi dan misi Perpustakaan TEMPO oleh Sri Mulungsih, Kepala Bagian Dokumentasi dan Informasi TEMPO. Sebelum diskusi dengan peserta pertemuan JIBIS-Humaniora, Totot Susanto mewakili PDAT TEMPO menyajikan satu sesi menarik tentang ihwal TEMPO Interaktif yang sejarahnya dimulai ketika majalah TEMPO dibrangus regim Orba. TEMPO Interaktif ini semulai dimaksudkan sebagai penerbitan TEMPO secara underground. Feature-feature yang ada dalam TEMPO Interaktif sangat beragam dan interaktif. Sebut saja misal TEMPO Digital Search, semacam katalog online sekaligus mesin pencari untuk berbagai artikel dan terbitan yang ada di PDAT (Pusat Data dan Analisa TEMPO). Selain itu terdapat pula TEMPO News Room, tempat aktivitas reportase dilakukan dari mulai posting berita, editing, hingga desain tata letak, sehingga reporter darimana pun berada dapat mengamati alur kerja sekaligus memantau proses hasil kerjanya.

Totot Susanto dalam diskusi mengemukakan bahwa PDAT terbuka untuk magang dan praktek kerja pengelolaan jaringan, design web dan pengelolaan pangkalan data. Bahkan saat ini ada peserta magang dari umum dan mahasiswa. Dalam diskusi disarankan dikembangkan website link antar anggota jaringan, di samping link JIBIS-Humaniora yang telah ada di website Perpusnas. Pada pertemuan berikut, Perpustakaan Umum DKI Jakarta menyediakan diri menjadi tuan rumah, yang direncanakan akan digelar bulan Juli 2001 mendatang.(JS)

MASYARAKAT  PERPUSTAKAAN BAHAS KURIKULUM D3 PRPUSTAKAAN

JAKARTA – Persoalan kurikulum Diploma 3 Ilmu Perpustakaan nampaknya mengusik kesadaran Masyarakat Perpustakaan Cyber (I_C_S). Pada Sabtu, 28 April 2001 mulai pukul 10.00–14.30 bertempat di The British Council, S. Widjojo Center Lt. 11, Jl. Jend. Sudirman Kav. 71, Jakarta, persoalan yang menyangkut kebutuhan pasar diharapkan Asisten Pustakawan (lulusan D3) tidak dibebani aspek manajerial terlalu banyak, kecuali yang bersangkutan telah memiliki pengalaman minimal 4 tahun dan mampu memimpin. Namun hal-hal penting yang masih perlu diperhatikan ialah menyangkut etika profesi, dinamis dan proaktif, selain kemampuan berbahasa Indonesia dan asing, manajemen Operasional, kemampuan menggunakan komputer dan peripheral lainnya, scanner, dan akses Internet.
 
Dalam hubungan ini Pustakawan diharapkan mempunyai spesialisi di bidang disiplin ilmu tertentu; kedokteran, keagamaan, hukum, dan lain-lain. Misalnya IPB terokus ke agriculture librarian. Dalam kesempatan pertemuan yang dihadiri kurang lebih 75 orang pustakawan dari berbagai jenis perpustakaan ini mengemuka pula persoalan yang menyangkut pengetahuan akan sumber-sumber informasi, Searching tools: CDROM, multimedia, membaca data, MS OFFICE dan utility, komunikasi dengan atasan dan bawahan, pengguna Konsep LAN, Pelestarian, pembuatan dan perawatan Pangkalan data, pembuatan dan perawatan situs.

Adapun metode yang diusulkan untuk makin memberdayakan pustakawan utamanya lulusan D3 yang saat ini ada ialah Base learning, Studi kasus, Magang selama kurang lebih 4 bulan, kemudian hasilnya dievaluasi. Ditandaskan magang sebaiknya tidak hanya menilai attitude (kerajinan datang, dan lainya tetapi lebih ke arah intelektual capabilities dari si pemagang. Institusi penerima magang diharapkan mau sharing ilmu / pengalaman sehingga pemagang bisa menimba pengalaman lebih banyak. Selain itu pemagang juga harus banyak belajar dan proaktif mencari tahu kondisi tempat magang dan kalau bisa memberikan usulan pemecahan masalah yang barangkali ditemui.
Tempat magang diusulkan untuk diakreditasi dulu oleh jurusan pendidikan pustakawan. Syarat tempat magang dari JIP UI antara lain; minimal ada 3 kegiatan perpustakaan, minimal dibimbing oleh pustakawan S2. Dalam hubungan dengan kerangka kurikulum D3 diusulkan dicakup persoalan attitude, proactive, fighting spirit, promosi, pelayanan pengguna jasa, katalogisasi, Komunikasi, bahasa asing, manajemen operasional, TI, konsep pangkalan data, Internet, scanning, web statik, jaringan Komputer Lokal (LAN), kemauan untuk terus belajar, rajin membaca dan menulis. Di samping itu kurikulum perlu disesuaikan dengan daerah di mana tempat pendidikan pustakawan diselenggarakan dengan kondisi fasilitas dan kekayaan kebudayaan lokal (local content). Karena tidak semua perpustakaan di daerah (bukan di kota besar) membutuhkan Teknologi Informasi secara intensif. Bayangkan bila lulusan D3 diterjunkan pada perpustakaan daerah terpencil atau pustakawan sekolah, yang belum dilengkapi dengan fasilitas komputer. Padahal jumlah sekolah umum di daerah adalah sangat besar jumlahnya (ratusan ribu lokasi). Hadir pada acara tersebut, diantaranya Hernandono, Sulistyo Basuki, para pengajar JIP D3 FSUI, alumni, para kepala perpustakaan instansi & lembaga pendidikan serta perwakilan mahasiswa D3 Perpustakaan.(JS/FAN)

WORKSHOP ON CARE PREVENTIVE CONSERVATION OF PALM LEAF & PAPER MANUSCRIPT  DI PERPUSNAS

JAKARTA – Kepala Perpustakaan Nasional RI, Hernandono, Kamis 15 Maret 2001 membuka Workshop on Care Preventive Conservation of Palm-Leaf and Paper Manuscript di Aula Perpusnas, Jl. Merdeka Selatan 11, Jakarta, sebagai hasil kerja sama antara Perpusnas dengan INTACH (Indian National Trust for Art & Culture Heritage) Indian Council Conservation Institutes, Lucknow India. Acara yang dihadiri oleh para pejabat struktural dan pustakawan itu diawali dengan laporan dari Ketua Panitia Workshop, Gardjito dan dilanjutkan dengan sambutan dari O.P. Agrawal, Director General INTACH Indian Council of Conservation Institutes. Dalam sambutannya ia menyatakan bahwa Indonesia dan India mempunyai kesamaan akar budaya, dan kegiatan ini dimaksudkan a.l. untuk saling bertukar informasi dan pengetahuan dalam bidang perawatan bahan pustaka dan pencegahannya. Pada acara tersebut O.P. Agrawal memberikan 2 buah buku karyanya yang berjudul Conservation of Book Manuscript & Paper Document dan Preservation of Art Object kepada Kepala Perpusnas yang diharapkan bisa berguna bagi Perpusnas sebagai kenang-kenangan.

Sementara itu dalam sambutannya, Hernandono mengharapkan agar para peserta yang bekerja sebagai kurator, pustakawan, arsiparis dan pelindung karya seni-budaya kelak bisa menerapkan ilmu yang telah diperolehnya di tempat kerjanya masing-masing. Selain memberi sambutan, Hernandono secara simbolis menyematkan tanda pengenal kepada 2 wakil peserta sebagai tanda dimulainya pelaksanaan pelatihan.

Workshop yang akan berlangsung dari tanggal 15-21 Maret 2001 diikuti sebanyak 22 peserta dari lembaga pemerintah dan non-pemerintah, serta seorang dari Malaysia. Kegiatan ini lebih memfokuskan pada praktek langsung dalam menangani perawatan, pelestarian dan perlindungan bahan pustaka, khususnya manuskrip dan koleksi langka dengan bahan-bahan alami (non kimia). Di samping Dr. O.P. Agrawal sendiri, pelatihan ini menghadirkan 3 pakar konservasi lain yang sama-sama bertindak sebagai instruktur, yaitu Mrs. Usha Agrawal, Director Museum Development Cell, INTACH; Mrs. Mamta Misra, Chief Conservator, INTACH, ICI Lucknow; dan Mr. Anupam Sah, Center Coordinator ICIOACCH, Bhubaneshwar.

Turut dipamerkan adalah hasil karya Dr. O.P. Agrawal berupa buku-buku terbitan INTACH Indian Council of Conservation Institutes, Lucknow, India, dan News Letter yang berkaitan dengan teknik perawatan & pelestarian buku/manuskrip, di antaranya yang berjudul Conservation of Manuscripts & Document; Microbial Deteriation of Wood: a Review; Removal of Plants & Trees from Historical Buildings. (JS/FAN)  

WAKIL PRESIDEN BUKA PAMERAN LUKISAN JOHANNES RACH DI PERPUSNAS

JAKARTA – Didampingi Mendiknas, Yahya Muhaimin dan Gubernur DKI, Sutiyoso, Wakil Presiden RI Megawati Soekarnoputri pukul 10.35 membuka pameran lukisan karya Johannes Rach yang dibuat abad 18 di auditorium, Perpustakaan Nasional RI Senin 14 Mei 2001. Kedatangan Megawati disambut oleh Kepala Perpustakaan Nasional RI, Hernandono, pejabat teras di lingkungan Perpustakaan Nasional RI, sejumlah duta besar negara sahabat, beberapa Kepala LPND dan tamu penting lainnya.
Dalam sambutannya Megawati menyatakan tentang pentingnya perpustakaan sebagai pelestari manifestasi jati diri bangsa yang berbentuk koleksi bahan pustaka. Di samping itu dalam sambutannya Ia juga memberikan motivasi kepada segenap pimpinan dan karyawan Perpustakaan Nasional RI untuk senantiasa bekerja dengan baik. Usai memberikan sambutan beliau berkenan melakukan pengguntingan untaian melati tanda dibukanya secara resmi pameran. Sebelumnya Kepala Perpustakaan Nasional RI dalam sambutannya mengatakan bahwa pameran lukisan ini merupakan hasil kerjasama dengan Rijksmuseum Amsterdam, Belanda. Kerjasama itu mencakup kegiatan preservasi dan konservasi koleksi lukisan Johannes Rach yang berjumlah 200 buah, di antaranya 176 buah ada di Perpustakaan Nasional RI. Pentingnya preservasi koleksi semacam di perpustakaan diungkapkan oleh Prof. Dr. Sigmond, Direktur Koleksi Rijksmuseum Amsterdam, bukan saja merupakan salah satu aspek kegiatan perpustakaan, melainkan menjadi satu keunggulan kompetitif dan layak untuk dipresentasikan di forum global.
Tampak hadir pada pembukaan pameran ini selain para duta besar, Kepala LPND juga mantan pejabat penting. Di antaranya Prof.Dr. Edy Sedyawati, Yaumil Agoes Achir, Mastini Hardjaprakoso, dan para pecinta seni. Acara yang diliput wartawan media cetak dan elektronik ini, kendati berlangsung singkat, selesai menggunting untaian melati dan membubuhkan tanda tangan pada prasasti yang berbunyi "Kemajuan suatu negara ditentukan juga oleh kemampuan menghargai nilai-nilai karya cipta bangsa di masa lampau, dilestarikan dan dikaji manfaatnya untuk masa kini serta dijadikan acuan dalam mewujudkan cita-cita bangsa di masa datang", Wakil Presiden menyempatkan diri melakukan kunjungan kerja ke sejumlah unit kerja di Perpustakaan Nasional RI.
Usai rehat acara dilanjutkan dengan simposium sehari. Tampil sebagai panelis pertama, Prof. DR. J.P. Sigmond, Direktur Koleksi Rijksmuseum Amsterdam dengan topik "Mutual Heritage of Indonesia and Netherlands: The Project Johannes Rach 1720–1783". Panelis kedua ialah Gardjito, M.Sc. pakar preservasi dari Perpustakaan Nasional RI dengan topik Battling Fungus. The Conservation and Protection of paper Heritage. A.J. Heuken S.J. sejarawan dan ahli tentang "Jakarta Tempo Doeleoe", tampil pada sesi ketiga dengan makalah menyoroti soal "From Shipyard to Very Old Cafe (VOC) Galangan. Dr. Uka Tjandrasasmita pada sesi selanjutnya berbicara mengenai "Rach’s Pictures of Batu Tulis, Bogor as Source for the History of Padjajaran. Bast Kist, kurator senior pada Rijksmuseum membahas ihwal "Studio Johannes Rach: an Early Art Factory". Simposium diakhiri oleh tampilan Drs. Max de Bruijn dengan topik "Vomiting Sailors. Daily life in Batavia as Depicted by Johannes Rach".
Paul Permadi, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi dalam sambutan penutupan menandaskan bahwa pameran lukisan Rach tidak berakhir di Perpustakaan Nasional, melainkan akan berkeliling dunia. Negara tujuan pertama ialah Belanda, Denmark dan kemungkinan beberapa negara lain. Untuk itu pada kesempatan terakhir ia mengucapkan terimakasih atas dukungan Pemerintah Belanda, University of Leiden, KITLV dan Royal Library of the Netherlands.

SEMINAR DAN PAMERAN 100 TAHUN BUNGKARNO : PERPUSTAKAAN SEBAGAI ACUAN PELURUSAN SEJARAH

JAKARTA – Peringatan 100 Tahun Bung Karno adalah peringatan sebuah tonggak sejarah terpenting bangsa Indonesia. Persada Nusantara telah melahirkan seorang putera terpilih, "Putera Sang Fajar", bernama Soekarno. Sejarah mencatat Soekarno telah memimpin bangsanya menuju pintu gerbang kemerdekaan, ibarat Nabi Musa a.s. membawa bangsanya lepas dari kezaliman Firaun Mesir, menuju pintu gerbang tanah yang dijanjikan. Demikian ungkap Paul Permadi mewakili Kepala Perpustakaan Nasional RI memberikan sambutan pembukaan Pameran dan Seminar Sehari Peringatan 100 Tahun Bung Karno, di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Jalan Salemba Raya No. 28A, Jakarta Pusat, Senin, 11 Juni 2001. Pameran dan Seminar yang dibuka secara resmi oleh Prof. A. Dahlan Ranuwihardjo ini merupakan sebuah upaya kecil untuk menelaah lebih jauh kontribusi serta pengaruh pemikiran Bung Karno dalam sejarah sosial-politik Indonesia, mengkaji wacana pemikiran-pemikiran Bung Karno serta dampaknya di dunia internasional, regional dan nasional serta memberikan pengembaran yang lebih memadai dan berimbang tentang sososk Bung Karno. Hal tersebut sekaligus sebagai upaya menghantam balik rekayasa dan politisasi sejarah yang dilakukan oleh rezim Orde Baru pada masa lalu, demikian ungkapnya.


 Tampil sebagai pembicara dalam seminar sehari tersebut Pejuang dan tokoh nasional Dr. Roeslan Abdulgani sebagai pembicara kunci, para pinisepuh serta pejuang bangsa lainnya seperti Dra. SK Trimurti, Ny. Supeni, Drs. Frans Seda, Pamoe Rahadjo dan Dra. Toeti Kakiailatu, M.A. Acara pada hari itu diawali dengan laporan oleh Ketua Panitia Sungkowo Rahardjo, dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Perpustakaan Nasional RI, yang karena berhalangan hadir diwakili Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Paul Permadi.
Dr. Roeslan Abdulgani yang tampil sebagai pembicara kunci dalam seminar tersebut, mengatakan tentang pentingnya pelurusan sejarah dengan menggali segala dokumen yang pernah dianggap hilang oleh pemerintah terdahulu, disamping perlunya membaca beberapa karya Bung Karno yang menjadi dasar dan landasan pembinaan nasion Indonesia, diantaranya tentang lahirnya Pancasila pada 1 Juni. Kebesaran Bung Karno terpantul pada karya-karya dan pekerjaan besarnya dalam mempersatukan dan membangun mental bangsa, meskipun diakui Soekarno pun tidak luput dari kesalahan-kesalahan sebagai manusia biasa.
Tiga pembicara yang tampil pada sesi I seminar itu adalah Ny. Supeni membahas kebijakan-kebijakan Soekarno berkaitan dengan sistem kabinet parlementer dan badan pekerjanya serta pemberian wewenang kepada Hatta, disamping tentang partai-partai yang berkembang pada saat itu. lain halnya dengan S.K. Tri Murti, menurutnya kriteria pejuang pada masa kemerdekaan terpilah dua, yaitu yang Cooperative dan Non-cooperative artinya ada pejuang yang mendukung kemerdekaan melawan penjajah dan pejuang yang membelot atau kerjasama dengan Belanda. Frans Seda yang tampil pada sesi berikutnya menyoroti Putera Sang Fajar yang lahir 100 tahun. Ia membagi 5 paroh waktu guna mengenal sosok Soekarno lebih seksama. Ialah Bung Karno sebagai pemimpin, pejuang dan seorang intelektual dengan daya pikir yang tajam, Soekarno dan Politik , Ekonomi, Ideologi serta sebagai warisan bangsa.
Soekarno dan Perempuan: 1001 tafsiran begitulah judul yang disampaikan Dra. Toeti Kakiailatu, M.A. menyoroti tentang kesepian yang dialami Soekarno pada masa-masa perjuangan, pembuangannya ke beberapa daerah oleh Belanda dan masa kejayaan hingga kejatuhannya. Hal ini tidak lepas dengan jiwa seni yang dimiliki oleh Soekarno, Ia menyukai keindahan dan salah satu keindahan itu ada pada diri wanita, demikian ungkap Toeti. Pamu Rahardjo yang membahas perjuangan Soekarno masa kemerdekaan, dan kedekatannya dengan belaiu selama menjadi supir dan ajudan. Hingga rasa penyesalannya dibangunnya monumen proklamasi yang justeru menggusur rumah bersejarah Bung Karno dimana teks proklamasi pertama kali dibacakan.
Paul Permadi menutup sesi seminar dengan dalam makalah mengangkat tentang ide dan kepentingan didirikannya Perpustakaan Bung Karno yang menuju pada "President Library". Perpustakan Kepresidenan digolongkan pada perpustakaan khusus di suatu negara dengan sistem khusus yang pengelolaannya berhubungan dengan koleksi presiden dan mantan presiden disertai museumnya seperti pada Perpustakaan Kepresidenan Amerika yang didirikan berdasarkan tujuan dan pemikiran, landasan hukum serta jenis koleksi yang ada. Perpustakaan Kepresidenan ini merupakan ide awal untuk merangkum semua data, fakta dan kesaksian sejarah tentang presiden pertama Indonesia. Dengan demikian seperti harapan Dr Roeslan Abdulgani, perpustakaanlah satu-satunya institusi yang dapat bicara jujur dan berimbang tentang seorang tokoh, dan ia dapat menjadi suatu rujukan resmi bagi pelurusan penulisan sejarah.
Seminar Sehari dan Pameran yang berlangsung 11-13 Juni 2001 diliput berbagai media cetak dan elektronik selain dihadiri pejabat di lingkungan Perpusnas juga dihadiri Haryati Soebadio (Mantan Mensos) Mien Sugandhi (Mantan Menteri UPW) dan para pejuang. Mendukung kegiatan Seminar Sehari dan Pameran Peringatan 100 Tahun Bung Karno di Perpustakaan Nasional RI, Australia Indonesia Institute, Jakarta.

PEMBANGUNAN GEDUNG PERPUSTAKAAN BUNG KARNO

BLITAR – Seluruh perhatian bangsa Indonesia tertumpah ke sebuah kota kecil di Jawa Timur, persisnya di Blitar, pada hari Rabu 20 Juni 2001. Hari itu adalah saat haulnya Bung Karno yang ke-100, presiden pertama RI, yang acaranya dipusatkan di alun-alun kota di seberang kantor Walikota Blitar. Selain di lokasi ini, acara terkait juga diselenggarakan di makam Bung Karno dan Istana Dalem Gebang (rumah milik ayah mendiang, RM Sosrodihardjo) di Jl. Sultan Agung yang kini dikenal sebagai Museum Bung Karno. Masyarakat tumpah ruah, tidak saja warga Blitar, tapi dari seantero Nusantara, tua muda, laki perempuan, kaya miskin, termasuk orang nomor 1 dan 2 negara ini, Gus Dur dan Megawati. Termasuk juga rombongan Perpusnas sebesar 16 orang yang berkonvoi dengan 3 mobil dari Jakarta. Semua datang dengan misi yang sama, yaitu untuk sesaat duduk takjim dan berzikir, mendoakan arwah beliau.
Kalau masing-masing peziarah kembali ke tempat asalnya seusai melakukan hajat besar ini, rombongan Perpusnas masih harus melaksanakan satu kegiatan lagi yang tidak kalah penting sebagai upaya kerjasama dengan Pemerintah Daerah Tingkat II Blitar. Acara itu adalah Penandatangan Prasasti Rencana Pembangunan Gedung Perpustakaan Bung Karno yang diresmikan di kompleks Kantor Kecamatan Kepanjen pada hari Kamis pagi, 21 Juni 2001. Didahului dengan sambutan oleh Walikota Blitar Djarot Saiful Hidayat dan Guruh Sukarnoputra, acara dilanjutkan dengan penandatanganan Prasasti Pembangunan oleh Guruh dan Dewi Ratnasari Sukarno (janda BK) mewakili keluarga besar Bung Karno, dan pemotongan tumpeng. Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Layanan Informasi Paul Permadi, selaku pimpinan rombongan Perpusnas, menjelaskan mengenai rencana interior gedung perpustakaan tersebut. Dalam kerjasama ini, sesuai dengan substansinya Perpusnas membantu dalam aspek bimbingan dan konsultasi perpustakaan, pengembangan SDM dan koleksi, termasuk unsur teknologi informasi. Biaya fisik keseluruhan diperkirakan akan mencapai lebih kurang Rp 3 milyar (harga Juni 2001). Beberapa sponsor sudah menyatakan kesanggupannya menyediakan Rp 2 milyar, sehingga pihak walikota tinggal menutup sisanya saja.

Pembangunan gedung Perpustakaan Bung Karno direncanakan berlokasi di sebelah selatan makam Bung Karno yang merupakan satu kesatuan dengan pengembangan Kawasan Wisata Makam Bung Karno. Sarana yang sudah ada dan telah berfungsi adalah makam itu sendiri, areal parkir, kios penjualan cindera mata, MCK, dan bangunan pendukung lainnya. Dalam rencana pengembangannya, selain gedung perpustakaan adalah gapura, ruang pamer produk unggulan lokal, sarana jalan, dan peremajaan kampung di sekitar wilayah makam; dan sebagai prioritas ditetapkan pembangunan perpustakaan, pembangunan jalan dan penataan parkir yang diharapkan selesai dalam waktu satu tahun setelah ditandatanganinya prasasti. Gedung perpustakaan direncanakan beratap joglo dengan ukuran 45 x 39 m2 dan tinggi 17 m, luas lantai 4230 m2 terdiri dari 3 lantai, berdiri di atas tanah seluas 4000 m2 dan dapat dikembangkan menjadi 10,000 m2.