Colfogging Permethrin Sebagai Alternatif Bahan Kimia Fumigasi Dalam Upaya Pelestarian Bahan Pustaka Kertas

 

I. Pendahuluan
Sebagai pustakawan dan orang yang bekerja di dunia perpustakaan tentu sangat menjengkelkan apabila bahan pustaka kita terutama yang terbuat dari kertas digerogoti serangga ataupun biota lain. Ratusan jenis biota khususnya serangga hidup dengan sumber makanan yang berasal dari buku, karena makanan utamanya adalah kertas dan zat-zat yang ada dalam kertas yaitu serat alami yang berupa selullosa dan semiselullosa. Serangga ini mempertahankan hidupnya pada suhu yang tidak stabil, seperti yang banyak terjadi di perpustakaan.
Hal tersebut mengakibatkan kekuatan bahan pustaka semakin lama semakin menurun. Apabila dibiarkan begitu saja mengakibatkan bahan pustaka berlubang, lapuk, rusak dan tidak bisa digunakan lagi oleh penggunanya. Pada akhirnya akan menambah jumlah anggaran yang tidak sedikit untuk pengadaan buku pengganti. Akan menjadi lebih buruk lagi apabila bahan pustaka tersebut merupakan bahan pustaka yang sudah langka, tidak diterbitkan lagi, atau bahan pustaka terbitan luar dan tidak ada penggantinya.
Semua itu memberi makna betapa pentingnya kegiatan pemeliharaan bahan pustaka. Untuk mencegah dan membasmi wabah akibat biota khususnya serangga diperlukan suatu cara, sehingga penggunaan bahan pustaka lebih awet, dan menghemat biaya. Kegitan ini dikenal dengan nama fumigasi. Pest Tech Control menyatakan bahwa Fumigasi merupakan cara untuk mengendalikan hama dengan menggunakan fumigant, yaitu suatu zat yang pada fase gas bersifat beracun (toxic). Fumigation.co.uk mengungkapkan bahwa: Fumigation is a methods of pest control that completely fills an area with gaseous pesticides to suffocate or poison the pests within.
Bahan fumigasi yang biasa digunakan selama ini adalah bahan kimia aktif methyl bromide dan sulfuryl flouride, juga dikenal sebagai Vikane. Kedua-duanya menjadi ancaman riil bagi manusia pada saat kegiatan dilakukan, walaupun penggunaan menuruti aturan yang telah ditetapkan.  Bahan kimia ini sangat bagus dalam penggunaanya, tetapi juga memiliki tingkat bahaya yang cukup tinggi juga. Hal serupa diungkapkan oleh Gene McAvoy yang menyatakan bahwa methyl bromide adalah sebuah ‘potent neurotoxin’ (racun keras yang menyerang syaraf). Penggunaan dengan dosis rendah menyebabkan rasa mual, ingin muntah, kurang nafsu makan, pusing, depresi dan gangguan penglihatan. Sedangkan penggunaan dalam dosis yang tinggi dapat mengakibatkan muntah, sawan, koma dan kematian. Efek kesehatan menahun meliputi neuoropsychiatric masalah, gangguan reproduksi, dan gangguan kehamilan.   Methyl bromide didaftar sebagai bahan toxin yang menyebabkan gangguan reproduksi pada California’s dalil 65, 19 orang meninggal akibat fumigasi dengan bahan methyl bromide di California sejak 1982.
Oleh karena itu, penulis ingin memberi alternatif lain yaitu permethrin. Permethrin merupakan bahan kimia aktif dari golongan synthetic phyretroid. Bahan ini mengandung bahan aktif kimia minimum dengan tingkat resiko bahaya yang lebih aman, serta pada pelaksanaannya tidak mengganggu aktivitas yang ada di lokasi. Selain itu, permethrin juga tidak berbau, memiliki cara kerja yang unik. Untuk penjelasan lebih lengkapnya akan penulis paparkan pada uraian berikutnya. Tujuan penyusunan tulisan ini adalah memberikan gambaran sekilas tentang bahan kimia permethrin sebagai alterntif bahan kimia fumigasi dalam upaya pelestarian bahan pustaka. Harapannya akan dapat memberikan alternatif lain dengan bahan yang lebih aman bagi petugas dan pengguna perpustakaan serta optimal dalam penerapan fumigasi di perpustakaan.

II. Tinjauan Pustaka
Fumigasi perpustakaan digunakan untuk mencegah, mengobati dan mensterilkan bahan pustaka dari gangguan serangga. Oleh karena itu, secara sekilas penulis juga akan memaparkan tentang serangga yang biasa dibasmi dalam proses fumigasi di perpustakaan.

Serangga
Serangga dapat menyebabkan kerusakan yang sangat besar pada bahan pustaka di perpustakaan. Hal tersebut ditimbulkan karena suhu yang tidak stabil diantaranya kelembaban tinggi, kurangnya peredaran udara. Apabila dibiarkan begitu saja maka perpustakaan dan bahan pustaka yang ada didalamnya akan digunakan serangga sebagai sumber makanan, dan tempat tinggal mereka. Karena ratusan jenis biota khususnya serangga hidup dengan sumber makanan yang berupa kertas dan zat-zat yang ada dalam kertas yaitu serat alami yang berupa sellulosa dan semisellulosa yang merupakan bagian dari buku. Terdapat banyak jenis serangga yang merusak bahan pustaka yang terbuat dari kertas yang ditemukan di dunia. Tetapi dalam tulisan ini penulis hanya menguraikan sedikit. Cornell University Library/Department of Preservation and Collection Maintenance menyatakan bahwa terdapat beberapa jenis serangga yang merusak bahan pustaka di perpustakaan, diantaranya adalah:

 

Kecoa yang menyebabkan kerusakan di perpustakaan ini dibagi dalam empat jenis, semuanya mempunyai bentuk mulut besar dan sangat suka memakan kanji dan perekat sampul buku. Jenis ini memakan habis buku serta kain-kain pada punggung buku. Keempat kecoa itu yaitu: The American cockroach (Periplaneta Americana),  The Australian cockroach (Periplaneta Australsiae), The Oriental cockroach (Blata Orientalis), German cockroach.

– Silverfish

Silverfish adalah hewan pemakan kanji, kertas kain, lem pada jilid dan sampul buku serta material organik lain.  Silverfish lebih suka hidup di tempat gelap dan lebih aktif pada malam hari. Bentuknya ramping, tidak bersayap, warna abu-abu dengan panjang kurang lebih 12 mm.

– Rayap

Rayap merupakan hewan perusak yang paling berbahaya bagi keberadaan bahan pustaka yang terbuat kertas. Penyebabnya karena rayap dapat merusak dan menghabiskan buku dalam waktu yang singkat. Berwarna putih pucat dengan tekstur lunak. Hidup berkoloni dan sangat teratur dan terorganisasi. 

– Binatang pengerat

Tikus termasuk dalam jenis binatang ini. Tikus juga merupakan binatang perusak buku yang sangat berbahaya. Jenis ini berbeda dengan yang lainnya, karena tikus tidak memakan kertas atau buku yang ada di perpustakaan tetapi disobek-sobek dan dikumpulkan utnuk dijadikan sarangnya.  

– Kutu Buku

 

Binatang ini disebut juga dengan bookworm atau kumbang buku atau kumbang herbarium, bentuknya sangat kecil, berwarna abu-abu putih. Ancaman bagi perpustakaan karena jenis ini menjadikan perekat, glue dan kertas yang ditumbuhi jamur sebagai bahan makanannya. 

Fumigasi
Oleh karena itu, untuk mencegah dan membasmi wabah akibat serangga tersebut diperlukan suatu cara sehingga penggunaan bahan pustaka lebih awet, dan pada akhirnya akan menghemat anggaran dan mengurangi proses pelapukan koleksi. Terlepas dari  penyediaan ruangan yang stabil dengan suhu dan kelembaban yang sesuai aturan. Kegitan untuk mencegah dan membasmi serangga dikenal dengan nama fumigasi. Pest Tech Control mengungkapkan bahwa fumigasi merupakan suatu cara untuk mengendalikan hama dengan menggunakan fumigan, yaitu suatu gas yang pada fase gas bersifat beracun (toxic). Fumigation.co.uk mengungkapkan bahwa: Fumigation is a methods of pest control that completely fills an area with gaseous pesticides to suffocate or poison the pests within. Selain itu Muhammad Razak juga mengungkapkan bahwa: ¿Fumigasi merupakan suatu tindakan pengasapan yang bertujuan untuk mencegah, mengobati dan mensterilkan bahan pustaka dari gangguan.¿ (Razak, 1992: 39)
Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa fumigasi perpustakaan adalah suatu tindakan pengasapan yang digunakan untuk tujuan mencegah, mengobati dan mensterilkan bahan pustaka dari gangguan serangga pada suatu perpustakaan tertentu dengan menggunakan fumigan, yaitu suatu zat yang pada fase gas bersifat beracun.
Bahan kimia yang biasanya digunakan dalam kegiatan fumigasi yaitu gas vikane (Sulfuryl Flouride) dan Methyl Bromide. Stuctural Pest Control Board  menyatakan bahwa gas ini tidak berbau, tidak berwarna dan tidak meninggalkan residu. Sebelum kedua bahan digunakan untuk kegiatan fumigasi, ini bahan yang sedikit banyak dikenal  adalah Chloropicrin. Chloropicrin mempunyai bau yang sangat busuk dan menyebabkan gangguan pernafasan serta iritasi mata.
Hal serupa diungkapkan oleh Gene McAvoy yang menyatakan bahwa penggunaan methyl bromide pada dosis rendah menyebabkan rasa mual, muntah, kurang nafsu makan, pusing, depresi dan gangguan penglihatan. Sedangkan dalam dosis yang tinggi dapat menyebabkan muntah, sawan, koma dan kematian. Efek kesehatan menahun meliputi: masalah neoropsychiatric, gangguan reproduksi dan kehamilan. Methyl bromide juga didaftar sebagai bahan toxin yang menyebabkan gangguan reproduksi pada California¿s Dalil 65, dan tercatat 19 orang meninggal akibat fumigasi dengan bahan ini di California sejak tahun 1982.
Pada tahun 2000, California Departement of Pesticide laws mengajukan peraturan baru yang membuat penggunaan methyl bromide luar biasa tidak praktis dan mahal. Akibatnya penggunaan methyl bromide dihentikan sebagai bahan fumigant di Negara California. Selain itu Methyl Bromide juga sangat berpotensi menyebabkan kerusakan lapisan ozon dan pada tahun 2004 dilarang digunakan di Montreal.
Selain itu vikane juga sangat berbahaya dimana menyebabkan gangguan pernafasan dengan edema paru-paru, muak, gangguan perut, dan mati rasa pada bagian ekstrim. Methyl bromide dan vikane sangat bagus digunakan pada ruangan tertutup yang jarang atau bahkan tidak digunakan manusia, contohnya: gudang kapal. Berdasarkan data di atas dapat dilihat bagaimana berbahayanya penggunan bahan kimia methyl bromide dan vikane khususnya di perpustakaan. Oleh karena itu, penulis ingin memberi gambaran lain yaitu permethrin, dengan harapan lebih aman bagi kita. 

Kenapa Permethrin?
Pengertian Permethrin

Permethrin adalah sebuah synthetic pyrethroids merupakan bahan kimia buatan umum, secara luas digunakan sebagai insektisda dan acaricide dan sebagai penolak serangga. Hadi Suwasono mengungkapkan bahwa: Permethrin tergolong dalam insektisida piretroid sintetik dan merupakan racun syaraf yang bekerja bila terjadi kontak baik dengan larva  maupun nyamuk (Suwasono, 2001:131).
Selain itu  Mark S. Fradin  menyatakan bahwa Permethrin adalah sejenis insektisda, kesamaan struktur untuk bahan kimia alami yang dipanggil pyrethrum. Pyrethrum awalnya diperoleh dari penghancuran bunga aster Chrysanthemum yang dikeringkan,  dan insektisida yang telah dikenali sejak abad 18. Permethrin mulai dijual ke pemakai dan dikembangkan menjadi bahan kimia buatan pada tahun 1970-an. Secara umum dikenal dengan nama pyrethroids dan berfungsi sebagai neurotoxin. Permethrin membunuh serangga dengan meningkatkan sistem kegelisahan mereka. Wikipedia menyatakan bahwa Permethrin juga digunakan dalam bidang kesehatan, untuk membasmi parasit, kutu kepala, kudis, dan hama kontrol sebagai semut dan rayap. Permethrin terdiri dari empat stereoisomers (dua enantiomeric sepasang), timbul dari dua stereocentres pada cincin cyclopropane. Pasangan enantiomeric dikenal sebagai transpermethrin yang digambarkan sebagai berikut:

 

Gambar Permethrin

 

Bentuk dan komposisi Kimia Permethrin

 

Bahan kimia permethrin yang digunakan dalam penelitian di Perpustakaan Matematika ITB menggunakan bahan permethrin dengan merk Chemical ICON (merk yang direkomendasikan oleh Pest Tech Control).

Kelebihan Permethrin
Pest Technology Control mengungkapkan bahwa permethrin merupakan bahan kimia yang yang paling baik untuk sterilisasi ruangan dengan tujuan mencegah, membasmi serangga di perpustakaan karena aman untuk manusia serta dalam pelaksanaannya tidak mengganggu aktivitas yang ada di lokasi. Selain itu Mark S. Fradin menyatakan bahwa:
Studies have shown that permethrin is environmentally safe. Permethrin is degraded by sunlight, which limits its persistence in the environment. Its half-life is less than 30 days in soil, and the chemical is readily metabolized by soil microorganisms. Once dried on fabric, permethrin is so tightly bound to the fibers themselves, that "leaching" into the environment is essentially not possible. (Fradin, 2007)

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia  Nomor:  445/Kpts/SR.140/9/2003 tentang pendaftaran dan pemberian izin tetap bahan teknik pestisida menteri pertanian  Pasal 2 menyatakan bahwa bahan teknis pestisida permethrin mengandung kadar bahan aktif minimum dan bentuk bahan teknis. Bahan ini mulai banyak dipergunakan oleh perusahaan-perusahaan pestisida di Indonesia.

III. Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian action research atau penelitian tindakan. Pengertian penelitian tindakan atau action research menurut Kemmis (1983) adalah bahwa penelitian tindakan merupakan upaya mengujicobakan ide-ide ke dalam praktek untuk memperbaiki atau mengubah sesuatu agar memperoleh dampak nyata dari situasi. (Zuriah, 2003:54)
Metode penelitian tindakan ini digunakan penulis dalam penelitian Colfogging Permethrin sebagai alternatif bahan kimia fumigasi dalam upaya pelestarian bahan pustaka kertas. Penulis menggunakan metode penelitian tindakan yang mengadopsi model yang dikembangkan oleh Kurt Lewin. Model ini didasarkan atas konsep pokok bahwa penelitian tindakan terdiri dari tiga komponen pokok yang menunjukan langkah sebagai berikut:
a. Perencanaan atau Planning merupakan fase perencanaan yang dilakukan saat awal kegiatan penelitian.
b. Tindakan atau perlakuan (Acting) merupakan tahap yang menjabarkan rencana ke dalam tindakan dan mengamati jalannya tindakan.
c. Pengamatan atau Evaluating yaitu mencermati apa yang sudah terjadi. Setelah tahap refleksi terselesaikan lalu disusun suatu modifikasi yang diaktualisasikan dalam bentuk rangkaian tindakan, pengamatan lagi dan seterusnya.(Aqib,2007:21)
Teknik pengumpulan data dengan observasi, wawancara, pengamatan langsung di lapangan selama satu setengah  tahun bekerja di Perpustakaan Matematika ITB dan studi dokumentasi.

IV. Pembahasan
Berdasarkan uraian di atas maka penulis ingin memaparkan alternatif lain yaitu permethrin sebagai bahan kimia aktif fumigasi di perpustakaan. Proses colfoging permethrin perpustakan adalah proses pengasapan bahan pustaka di perpustakaan dengan menggunakan bahan aktif minimum yaitu permethrin dengan tujuan untuk mencegah, mengobati dan mensterilkan bahan pustaka dari gangguan serangga yang akhirnya akan menghemat anggaran dan mengurangi proses pelapukan koleksi. Sebelum melakukan kegiatan colfogging permethrin penulis melakukan analisis awal terhadap keadaan yang ada dengan analisis SWOT. Proses colfogging permethrin yang penulis lakukan di Perpustakaan Matematika ITB dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu:

a. Perencanaan/ Planning
Pada fase ini perlu memperhatikan pertanyaan apa yang akan dilakukan dalam kegiatan selanjutnya yaitu: tentang apa, siapa, dimana dan bagaimana kegiatan penelitian dilakukan. Hal itu meliputi kegiatan sebagai berikut:
1) Apa yang akan dilakukan: melakukan kegiatan fumigasi untuk mengatasi masalah gangguan biota khususnya serangga di perpustakaan yang merusak bahan pustaka yang berupa silverfish, kutu buku, kecoa, binatang pengerat seperti tikus dan biota lainnya.
2) Tentang apa: Tentang pemberantasan biota khususnya serangga dengan menggunakan bahan aktif minimum.
3) Siapa : yang terlibat dalam kegiatan ini adalah kita sebagai pustakawan, staf perpustakaan, perusahaan beserta petugas colfogging  permethrin, dan atasan.
4) Dimana : tempat di Perpustakaan Matematika ITB Jln Ganesa 10 Bandung dengan ukuran ruangan 160 m2 tanggal 2 Februari 2007
5) Bagaimana kegiatan dilakukan: Kegiatan Colfogging Permethrin sebagai alternatif bahan kimia fumigasi dalam upaya pelestarian bahan pustaka kertas dilakukan melalui 3 tahapan.

b. Tindakan atau Perlakuan (Acting)
Tahapan tindakan  dilakukan melalui tiga tahapan juga yaitu:

1. Pra Kegiatan atau Persiapan Colfogging Permethrin
Fase awal pada tahapan tindakan atau perlakuan adalah pra kegiatan atau persiapan Colfogging permethrin. Pada fase ini yang kegitan yang dilakukan adalah:
a) Survey, observasi serta wawancara ke beberapa perpustakaan yang pernah melakukan kegiatan fumigasi.
b) Observasi dan wawancara ke perusahaan pestisida
c) Membuat proposal kegiatan colfogging permethrin 
d) Mengajukan proposal kegiatan colfogging permethrin

2. Pelaksanaan Kegiatan Colfogging Permethrin
Setelah proposal kegiatan fumigasi yang kita ajukan disetujui pihak atasan, dana cair dan urusan dengan pihak  penyelenggara fumigasi selesai, persiapan selanjutnya adalah: 
a) Menutup dan menghentikan semua kegiatan di perpustakaan selama 1×24 jam untuk pelaksanaan kegiatan colfogging permethrin yaitu tanggal 2 februari 2007.
b) Tutuplah dengan rapat celah-celah yang memungkinkan sirkulasi udara, misalnya jika ruangan perpustakaan memiliki ventilasi.
c)  Langkah selanjutnya adalah membersihkan dan mengatur bahan pustaka yang akan difumigasi. Tatanan buku diperlonggar, roll opec atau lemari tertutup tempat penyimpanan buku dibuka lebar-lebar sehingga bahan permethrin yang akan diasapi bisa mencapai semua bahan pustaka yang ada di perpustakan dengan merata. Sehingga diharapkan semua serangga dan biota lain yang hidup dan bersembunyi di perpustakaan bisa dibasmi.
d) Selanjutnya adalah mempersiapkan bahan dan alat yang digunakan yaitu:
   1) Campuran permethrin dengan air dengan ukuran 10ml : 1 liter untuk setiap tabungnya. Jadi untuk dua tabung semprot kita memerlukan 20 ml permethrin dan 2  
liter air.
   2) Sarung tangan
   3) Masker gas, usahakan yang lengkap dengan tabung anti gas
   4) Lampu halida atau gas detektor
   5) Kabel penyambung listrik, tujuannya agar alat bisa menjangkau ke bagian yang paling sudut dan biasa tidak bias dijangkau manusia.
   6) Alat penyemprot yang terdiri dari dua macam tabung semprot yaitu satu tabung semprot gas, satu tabung semprot cair yang telah diisi dengan campuran permethrin dan air. 
Setelah bahan, ruangan, dan petugas fumigasi siap langkah selanjutnya adalah pelaksanaan proses colfogging. Hal-hal yang perlu diperhatikan saat pelaksanaan proses colfogging permethrin adalah sebagai berikut: semprot semua ruangan perpustakaan sampai pada sudut-sudut yang tidak bisa dijangkau. Kegiatan ini dilakukan oleh dua orang, tiap orang satu tabung. Selanjutnya adalah menutup dan membiarkan ruangan perpustakaan selama kurang lebih 1x 24 jam. Walaupun pada dasarnya pihak Pest Tech Control merekomendasikan tenggat waktu hanya sekitar 3-4 jam saja. 

3.  Pasca Kegiatan Colfogging Permethrin
Setelah semua kegiatan tersebut dilaksanakan langkah selanjutnya adalah membuka ruangan perpustakaan, menyalakan AC agar terjadi sirkulasi udara sehingga udara dan gas bekas kegiatan permethrin bisa cepat hilang. Sehingga kegiatan perpustakaan bisa dilaksanakan seperti biasa dan kegitan proses colfogging selesai, tahapan selanjutnya adalah pengamatan atau evaluating.

c. Tahap Pengamatan atau Evaluating
Pada tahapan ini dilakukan kegiatan pengamatan atau evaluasi terhadap kegiatan yang telah dilakukan. Tujuannya utnuk mengetahui hasil dari kegiatan yang telah kita laksanakan. Berdasarkan tahapan dan hasil penelitian didapatkan hasil, yaitu:
1) Pada hari pertama sampai hari ketiga setelah kegiatan fumigasi dengan colfogging permethrin dilakukan, hasilnya yaitu: ditemukanya banyak bangkai silverfish, kecoa, kutu buku, nyamuk, rayap. Hal itu bisa dilihat secara nyata karena banyak sekali serangga yang mati dan berserakan di lantai serta diantara buku-buku.
2) Pada hari keempat sampai hari ketujuh hasilnya adalah ditemukannya beberapa bangkai cicak.
3) Pada hari kedelapan sampai keempat belas hasilnya adalah ditemukannya dua bangkai tikus dengan ukuran besar, yang mati akibat kegiatan colfogging permethrin. Hanya saja bangkai tikus ini menimbulkan bau yang sangat tidak sedap. Padahal tikus mempunyai kecenderungan untuk mati dan bersembunyi pada bagian-bagian yang susah dijangkau. Sehingga hal tersebut menyebabkan kesulitan dalam proses pencarian bangkai tikus tersebut.
4) Pada hari kelima belas sampai kedua puluh hanya ditemukan bangkai cicak dan kecoa saja.

V. Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di Perpustakaan Matematika ITB dapat disimpulkan bahwa:
a) Permethrin merupakan bahan kimia aktif dengan kadar minimum yang lebih aman untuk digunakan dalam kegiatan fumigasi di perpustakaan
b) Colfogging permethrin di perpustakaan mempunyai dampak hasil yang cukup optimal. Hal itu bisa dilihat pada hasil tahapan pengamatan atau evaluating.
c) Colfogging permethrin membutuhkan waktu yang cukup singkat, yaitu 1×24 jam. Walaupun pada dasarnya pihak Pest Tech Control merekomendasikan tenggat waktu hanya sekitar 3-4 jam saja.  
d) Akibat kegiatan colfogging permethrin; tikus, cicak yang mati menimbulkan bau yang tidak sedap dan sedikit mengganggu penciuman serta menyusahkan dalam proses pencarian bangkai.

Saran
Sebaiknya setelah melaksanakan proses colfogging permethrin di perpustakaan sebaiknya juga diiringi dengan treatment rodent control selama kurang lebih tiga bulan oleh perusahaan pestisida khusus untuk membasmi tikus atau binatang pengerat lain sehingga tidak menimbulkan bau yang tidak sedap. Kalau kedua hal ini dilakukan maka kegiatan preservasi guna memberantas biota yang hidup dirasa sangat optimal.