Fakta Tentang Jamur dan Debu Buku di Perpustakaan : Bahaya yang mengancam koleksi dan kesehatan pustakawan

Pendahuluan
Saat ini profesi pustakawan sudah mulai menampakkan geliatnya, apabila dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu menjabat profesi pustakawan masih malu-malu karena imej hanya sebagai penjaga gudang buku sehingga perpustakaan hanya merupakan suatu unit kerja bagi orang – orang yang dipinggirkan . Seiring berkembangnya jaman profesi pustakawan   mulai banyak dilirik oleh para pencari kerja dan para pekerja yang sebelumnya menduduki jabatan structural. Mereka  ramai-ramai beralih profesi menjadi pustakawan, bahkan sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta dan lembaga pendidikan dan pelatihan banyak yang menyelenggarakan pendidikan perpustakaan. Salah satunya  dengan adanya reformasi birokrasi  yang menjadi alasan profesi pustakawan menjadi menarik minat para pegawai yang sebelumnya berstatus sebagai pegawai struktural. Tak ayak masalah sertifikasi pustakawan juga menarik minat  pustakawan  agar  mendapatkan pengakuan atas kompetensinya. Tetapi dibalik semua itu ada sedikit yang terlupakan bahwa bekerja diperpustakaan atau menjadi pustakawan  harus siap bertempur dengan  tumpukan buku dan diantara tumpukan buku-buku tersebut bertengger  apa yang disebut dengan jamur dan debu buku.

Tanpa disadari pustakawan setiap hari menghirup udara yang mengandung  partikel -partikel debu  disamping harus bersentuhan pula dengan jamur apabila buku sudah agak tua usianya, karena memang itulah faktanya, pekerjaan pustakawan  akan selalu terkait dengan bahan perpustakaan atau buku. Tumpukan buku-buku yang sedang diproses , dishelving dalam rak-rak buku termasuk didalamnya adalah harus membaca buku yang ada dihadapannya itulah gambaran kinerja seorang pustakawan dan lingkungan tempat kerjanya dan inilah resiko kesehatan yang harus ditanggung oleh setiap pustakawan yang bekerja dengan kondisi buku-buku berdebu,dianataranya seringkali  mengalami gangguan  kesehatan  seperti , ashma dan sebagainya. Dari pengalaman penulis memang sebagai pustakawan atau petugas perpustakaan setiap hari dan setiap saat akan selalu bersentuhan dengan debu dan jamur buku, apalagi kalau koleksi yang ada disekitar kita tidak pernah atau jarang sekali ditangani penyedotan atau pembersihan debu dan jamur.

Sebenarnya mereka sadar akan bahaya debu dan jamur yang mereka hirup dan sentuh, tetapi tuntutan profesi lebih mengemuka nampaknya. Dari penelitian yang pernah dilakukan oleh seorang doktor dibidang teknik kimia dan bekerja sebagai ilmuwan pada Quark Advanced Adhessive Miami Amerika, Hassan Bolourchi (2003) telah meneliti kondisi kesehatan para pustakawan yang bekerja diperpustakaan – perpustakaan umum. Ternyata dari hasil penelitian tersebut terdapat kondisi kesehatan para pustakawan yang tidak normal  yakni mereka mengidap penyakit  kanker  paru, serangan jantung , kerusakan kulit wajah, dan gangguan saluran pernafasan.  Sebagian memang  ada yang terkait dengan kebiasaan merokok sebagian lain tidak terkait dengan kebiasaan tersebut. ( Sobari dalam “DEBU BUKU DIPERPUSTAKAAN : TELAAH  KESEHATAN KERJA PUSTAKAWAN’’ majalah BACA vol.28, no.1, Juni 2004:50-58)

Faktor  Perusak Koleksi  Perpustakaan
Pada dasarnya kerusakan koleksi  disebabkan oleh 3 faktor, yakni faktor biologis, fisik, dan kimiawi. Disamping itu terdapat faktor-faktor lain seperti banjir, kebakaran dan kerusakan lainnya akibat perbuatan manusia itu sendiri, baik yang disengaja maupun tidak.Kerusakan yang disebabkan oleh faktor biologi banyak menimpa di daerah tropis. Yang termasuk kerusakan koleksi dalam  kategori biologis antara lain jamur dan serangga.

Sudah menjadi aturan baku bahwa koleksi bahan perpustakaan atau buku disimpan dalan jajaran rak-rak penyimpanan koleksi. Sebagai pihak pengelola atau pustakawan sangat penting memperhatikan kondisi buku yang disimpan dalam rak- rak tersebut  karena bahan perpustakaan yang disimpan dibawah perlakuan yang minim beresiko tinggi. Fungsi yang penting tetapi sering diabaikan dalam penataan koleksi untuk menjamin kelestarian informasi yang dikandung di dalam koleksi  adalah pemeliharaan dan perawatan fisik. Penting untuk diperhatikan bahwa  bahan perpustakaan  yang disimpan pada tempat yang panas dan kering akan menjadi rapuh, sedangkan jika disimpan pada tempat yang lembab, kertas cenderung menjadi kuning kecoklatan dan ditumbuhi jamur

a. Jamur buku
Masalah jamur ini perlu mendapat perhatian yang besar. Bakteri penyebab tumbuhnya jamur  ini begitu kecilnya, sehingga sangatlah sulit untuk dapat dilihat dengan mata biasa. Jamur ini dapat membusukkan selulos dan kertas. Biasanya kertas berubah menjadi kuning, coklat atau bintik-bintik hitam. Disamping membusukkan selulosa, jamur juga merusakkan perekat serta
melengketkan antara satu kertas dengan kertas lainnya. Jamur tumbuh terutama disebabkan oleh faktor lingkungan, seperti kelembaban, temperatur dan cahaya. Faktor kelembaban dan temperaturlah sebetulnya yang paling berpengaruh. Faktor lain yang memungkinkan untuk tumbuhnya jamur adalah ruang penyimpanan yang terlalu gelap dan kelembaban di atas 0% RH (relative humidity ). Disamping itu, jamur juga menyebabkan timbulnya “foxing” yaitu bintik-bintik coklat pada kertas. Ini banyak terjadi pada kertas-kertas tua. Bintik-bintik tersebut sebagai akibat dari reaksi kimia antara campuran besi yang terkandung di dalam kertas dan asam organik yang dikeluarkan oleh jamur.

Beberapa jenis jamur memiliki pola perusakan yang berbeda. Ada yang menyerang kulit buku, ada juga yang menyerang cover atau sampul  buku. Spora dalam debu dapat diperhatikan pada daerah dimana debu terbentuk secara rutin, seperti kusen jendela, tangga, dan ventilasi udara. Ada spesies jamur yang toleran dengan cahaya dan menyerang punggung buku, namun ada juga yang hanya tumbuh pada kertas di bagian yang tidak terkena cahaya. Perhatikan juga penyebaran udara dari jamur. tumpukan buku pada rak buku. Jangan biarkan tumpukan buku pada rak buku anda gelap, lembab dan hangat, karena kondisi itu sangat cocok untuk pertumbuhan jamur. Perhatikan pula jika rak buku anda berdekatan dengan dinding luar dimana dibalik dinding tersebut sering terekspos hujan dan angin karena kelembabannya akan sangat tinggi. Reaksi jamur terhadap cahaya. Mayoritas spesies jamur yang menyerang buku tampak tidak menyukai cahaya. Bahkan beberapa jamur yang tumbuh di punggung buku cenderung pertumbuhannya melambat jika terkena cahaya dalam jumlah tertentu.

b. Cahaya
Selain akibat serangga dan debu, kerusakan fisik koleksi bahan perpustakaan bisa disebabkan oleh faktor cahaya, panas dan air. Ketiganya merupakan penyebab  perubahan photochemical, hydrolytic atau oxidatic di dalam kertas. Penyebab utama dari kehancuran kertas  oleh faktor cahaya adalah sinar ultraviolet. Ultraviolet dapat merusakkan selulos kertas dan bahan-bahan lain arsip, tekstil, lukisan, dan sebagainya. Disamping akibat ultraviolet, juga akibat dari “radiant energy” (kekuatan radian). Kekuatan radian adalah kekuatan dari gerak gelombang sinar yang mengenai suatu objek. Beberapa atau sebagian dari kekuatan radian ini diserap oleh objek yang bersangkutan. Bila mengenai kertas, molekul-molekul pada kertas akan mengembang atau mengurai dan akan mengalami reaksi kimia. Banyak kertas luntur warnanya dan  menjadi lemah atau getas jika terkena sinar. Semua sinar, baik sinar matahari maupun yang buatan mengandung unsur sinar ultraviolet. Kondisi fisik kertas akan terpengaruh oleh derajat panas dan kadar kelembaban didalam ruang penyimpanan. Derajad panas yang tinggi akan menyebabkan kertas menjadi kering, getas dan mudah rapuh. Sedangkan uap air menyebabkan kertas-kertas menjadi lembab atau basah dan mendorong untuk tumbuhnya jamur.

c. Serangga
Disamping jamur pada buku   perusak lainnya adalah serangga.Serangga berbahaya bagi koleksi bahan perpustakaan dari  kertas  dan merupakan masalah yang pelik di   negara tropis. Serangga sering diketemukan di berbagai tempat di dalam gedung yang gelap. Mereka biasanya membuat sarang di antara lembar-lembar arsip,buku, rak, almari, laci dan sebagainya. Lem atau perekat dari tepung kanji merupakan makanan yang mereka gemari. Sehingga tidak mengherankan jika jilid dan buku/arsip mendapat prioritas utama untuk dimakan/dirusak. Selain itu mereka juga merusak kertas, foto, label dan sebagainya. Beberapa jenis serangga yang menyerang kertas antara lain rayap, ngengat (silferfish), kutu buku (bookworm), dan psocids (semacam kutu buku).

d. Zat Kimia.
Zat-zat kimia yang terdapat dalam udara ruang penyimpanan koleksi sendiri menyebabkan kerusakan kertas misalnya gas asidik, pencemaran atmosfir, debu dan tinta. Gas asidik dan pencemaran udaralah yang sangat cepat merusak kertas. Gas asidik secara perlahan-lahan akan menyerang selulosa, dengan akibat kertas menjadi luntur dan getas. Kerusakan akan menjadi lebih hebat lagi jika panas dan uap air yang terkandung di dalam atmosfir melampaui batas yang sebenarnya. Pencemaran atmosfir adalah salah satu sebab utama merosotnya derajat kimia yang terkandung di dalam kertas. Pencemaran karena adanya nitorogen, sulfur acid penyebab kerusakan terbesar dari pada kertas. Berkas-berkas zat besi dan tembaga yang ada pada kertas atau kulit merupakan katalistor yang sempurna dalam mengubah sulfur dioksid menjadi asam belerang. Asam belerang inilah yang mempunyai daya perusak yang sangat besar terhadap kertas. Pencemaran udara ini banyak terjadi di daerah-daerah industri.
Faktor kerusakan kertas yang lain inilah yang disebabkan oleh asam. Adanya asam ini biasanya sejak kertas itu sendiri dibuat. Dengan kata lain bahwa kerusakan kertas disebabkan karena kertas itu sendiri. Kertas yang baik adalah kertas yang bebas asam atau yang ber HP 7. Ukuran HP ini adalah dari satu sampai dengan 14. Kurang dari 7 berarti mengandung asam dan lebih dari 7 berarti alkalin. Alat-alat yang sering dipergunakan untuk mengukur HP ini adalah PH meter. Arsip-arsip sebelum abad ke-19 biasanya menggunakan kertas dengan rata-rata PH 6,9 sedang setelah abad ke-19 dengan rata-rata PH 5,4. Semakin rendah PH nya berarti semakin banyak asamnya dan dengan sendirinya kertas tersebut akan lebih cepat rusak.

Debu buku di Perpustakaan
Kalau kita menyimpan koleksi dalam waktu yang lama dan tidak pernah dibersihkan akan muncul lapisan debu tipis , biasanya berwarna hitam dan sebagian masuk kedalam permukaan buku. Dari mana asal mula debu yang menempel pada koleksi perpustakaan kita ? tentunya ini menjadi satu pertanyaan yang harus ditelusur jawabannya. Dalam kaidah kimia permukaan , molekur polar akan memperlihatkan kekuatan daya tarik terhadap partikel bermolekul polar disekitarnya dan akan terjadi saling tarik menarik apabila tegangan permukaan antar molekul mempuanyai polaritas yang sama. Partikel debu merupakan molekul polar.Permukaan kertas, gelas terbuat dari molekul polar, sementara bahan plastik relative kurang bersifat polar. Itulah yang mengakibatkan mengapa debu buku akan berakumulasi dipermukaan buku bukannya di permukaan plastik sampul. Permukaan kertas pada buku akan bertindak sebagai magnet bagi debu-debu halus (fine dust) disekitarnya dan akan menempel terus selama tidak dibersihkan ( Bolourchi,dalam Sobari,2003).Disamping itu mengapa kertas dibuat dengan bentuk  lembaran , fungsinya adalah agar mencegah terserapnya air, sehingga kertas akan tahan dan tidak terpengaruh oleh kondisi lembab lingkungannya. Berhubung lembaran kertas sudah dipotong selebar buku maka kemampuan menolak air menjadi hilang dan bagian samping  buku yang berdebu menjadi tempat yang sangat baik bagi pertumbuhan organisme dan serangga-serangga kecil seperti tungau (mite) dan kutu buku (lice).
   
Resiko Penyakit  akibat Debu di Perpustakaan
Secara umum partikel yang ada diudara bisa mengakibatkan gangguan pada koleksi perpustakaan maupun kesehatan manusia yang berada disekitarnya. Partikel-partikel tersebut dapat merusak lingkungan, tanaman dan hewan dan sangat merugikan kesehatan manusia karena dapat menimbulkan berbagai penyakit dari saluran pernafasan yaitu Pneumoconiosis ( penyakit saluran pernafasan) maupun penyakit kulit. Pada saat kita menarik nafas ,udara yang mengandung partikel debu  akan terhirup kedalam paru-paru . Ukuran partikel (debu) yang masuk kedalam paru-paru akan menentukan letak penempelan  atau pengendapan partikel tersebut. Partikel yang berukuran 5 mikron akan tertahan pada saluran nafas bagian atas, sedangkan partikel berukuran 3 sampai 5 mikron bertahan pada saluran pernafasan bagian tengah. Partikel berukuran lebih kecil, 1 sampai 3 mikron , akan masuk kedalam kantung udara paru-paru, menempel pada alveoli, sementara partikel ukuran lebih kecil lagi akan keluar saat nafas dihembuskan.

Yang perlu diperhatikan juga adalah kualitas udara ruangan sebuah gedung secara relative dipengaruhi oleh lokasi sesuai dengan tingkat pencemaran udara disekitarnya. Pencemaran yang terjadi dalam sebuah ruangan atau gedung (indoor) tidak mudah disebarkan atau diencerkan, sehingga pencemarannya lebih besar dari pada di udara bebas (outdoor). Kondisi seperti ini sangat berbahaya apabila secara umum manusia menghabiskan waktunya 93% dalam ruangan, selebihnya 5% dihabiskan dalam perjalanan dan hanya 2% dihabiskan diudara bebas (Nriagu,1992 dalam Sobari )

Pandangan kita tentang debu yang selama ini dianggap sepele oleh sebagian besar masyarakat mungkin akan berubah bila tahu betapa seriusnya bahaya yang diakibatkan oleh partikel debu. Ketika Pustakawan mengambil buku yang berdebu di rak niscaya akan terjadi pergolakan udara yang akan menerbangkan partikel debu halus ( <10 mikron) yang menempel pada permukaan buku, selanjutnya pustakawan yang membawa buku tersebut  akan mnyebarkan partikel debu kelingkungan yang lebih luas, sehingga konsentrasi debu didalam ruangan akan meningkat. Bila dikaitkan dengan kegiatan sehari-hari pustakawan  yang bekerja diperpustakaan  dengan begitu banyaknya koleksi yang bertumpuk-tumpuk dan harus dibuka berkali-kali sudah tentu punya resiko lebih tinggi yang dapat disejajarkan dengan seorang perokok aktif. Sementara pegawai atau pemustaka yang hanya membawa buku  dapat menyebarkan partikel  debu keruangan dapat disejajarkan dengan perokok pasif. Resiko yang akan timbul dari kondisi terpapar debu perpustakaan dapat bermacam-macam, mulai dari kanker paru, serangan jantung,asthma, alergi gangguan kulit depresi dll.Bagaimana mekanisme gangguan debu tersebut ketika masuk terhirup oleh tubuh manusia? partikel debu, pada bagian permukaannya dapat bereaksi dengan materi gas racun sehingga menyebabkan perpindahan materi toksik tersebut. Sebagai contoh , sulfur oksida dapat larut dalam udara pada kelembaban tertentu, dan kemudian terserap pada permukaan debu. Partikel debu akan menimbulkan gangguan pada tubuh manusia melalui sasarannya, yaitu lewat mata dan kulit sehingga menimbulkan iritasi dan alergi. Debu dengan diameter lebih dari 10 µ diserap melalui lapisan lendir di mulut,tenggorokan dan hidung  inilah yang menyebabkan alergi dan iritasi hidung dan tenggorokan. Sementara Debu yang terkontaminasi materi toksik dapat masuk kesaluran pencernaan, akhirnya terserap kealiran darah ( Jones,1972 dalam Sobari)

Binatang tungau membaur dalam  debu merupakan binatang sejenis kutu yang ukurannya sangat kecil, yakni 250-300 mikro sehingga baru terlihat di bawah mikroskop dengan pembesaran minimal 20x.Binatang super mini ini tak dapat dilihat dengan mata biasa, melainkan harus menggunakan mikroskop. Ukurannya sangat kecil, namun dapat menyebabkan banyak penyakit. Reaksi alergi akibat si tungau itu dapat mengenai mata hingga kulit. Bila dilihat dari sisi fisiknya, bentuk binatang ini lonjong dengan jumlah kaki 8 buah. Binatang mikrospis itu diembel-embeli kata “debu” di belakang namanya karena hidupnya dari debu.

Debu sebenarnya tumpukan dari bermacam-macam partikel yang salah satunya adalah sel kulit mati. Sesuai dengan nama latinnya, Dermatophagiodes (dermato = kulit manusia, phagoid = makanan), sumber makanan TDR adalah serpihan kulit manusia. Hal tersebut terkait langsung dengan habitat tempat TDR berkembang biak. “Setiap hari kulit manusia mengelupas, terutama saat berbaring. Maka tak heran bila TDR paling banyak ditemukan di tempat tidur atau karpet. Selain yang lembab dan tentunya berdebu, seperti tumpukan buku tua, benda berbulu, selimut, sofa, dan sebagainya.

Dermatophagoides  banyak jenisnya, yang paling banyak adalah Dermatophagoid pterronyssinus. “Selain itu, di Negara tropis seperti di Indonesia juga dapat ditemui jenis lain, misalnya Dermatophagoides farinei dan Blomia tropical,” kata Dr. Zakiudin Munasir, SpA(K), staf Divisi Alergi Imunologi FKUI. Di tubuh TDR, terutama kotoran, mengandung protein tertentu yang dapat menimbulkan reaksi alergi. Karena ukurannya yang sangat kecil, maka TDR sangat ringan sehingga mudah sekali diterbangkan oleh angin dan terhirup masuk ke dalam saluran nafas. Bila sudah begitu, orang yang memang memiliki bakat alergi dapat timbul reaksi mual dari bersin-bersin dan pilek, batuk dan mengi (asma), mata gatal-gatal dan kulit biduran (atau eksim).

Kasus terjadinya bahaya debu terjadi pada seorang mahasiswi dimana dia tidak bisa buka buku dan terpaksa di DO karena setiap kali akan membaca dan membuka buku dari rak perpustakaan tiba-tiba mengalami sesak nafas karena reaksi alergi yang parah. Penyakit alerginya ini membawa dampak yang begitu besar dalam kehidupannya sehingga dia tidak bisa lagi mendapatkan ilmu dari bangku kuliahnya.( Detik.com, health news. Dec 12. 2013 ).diakses pada tgl 25 januari 2014 . Pengawasan dan pemeriksaan kesehatan secara berkala bagi pekerja akan sangat membantu pencegahan dan penanggulangan penyakit-penyakit akibat kerja berbaur dengan debu. Data kesehatan pekerja sebelum masuk kerja, selama bekerja dan sesudah bekerja perlu dicatat untuk pemantulan riwayat penyakit pekerja kalau sewaktu – waktu diperlukan, disamping itu asupan makanan bergizi dan multivitamin agar tubuh tidak mudah terserang penyakit perlu diperhatikan.

Penyakit yang diakibatkan oleh Jamur
Jamur merupakan salah satu mikroorganisme penyebab penyakit pada manusia, gangguan kesehatan yang bisa diakibatkan oleh  infestasi jamur bersama – sama disebut sebagai Mikosis Superfisial.  Penyakit ini disebabkan oleh jamur yang tumbuh hanya pada kulit dan rambut,.  . Mikosis superfisial merupakan mikosis yang menyerang kulit, kuku, dan rambut terutama disebabkan oleh 3 genera jamur, yaitu Trichophyton, Microsporum, dan Epidermophyton. Sedangkan mikosis sistemik merupakan mikosis yang menyerang alat-alat dalam, seperti jaringan sub-cutan, paru-paru, ginjal, jantung, mukosa mulut, usus, dan vagina.

 

Jamur adalah nama yang diberikan kepada sekelompok besar eukariota termasuk organisme mikroskopis seperti ragi dan kapang ke kompleks, jamur multiseluler. Ada ribuan spesies yang berbeda dengan karakteristik yang berbeda yang berada di kelas ini. Mereka terdiri dari dinding sel yang kaku dan juga memiliki membran inti terikat. Organisme ini gagal untuk photosensitize karena mereka tidak memiliki klorofil. Karena karakteristik unik dari jamur, mereka telah dikategorikan ke dalam kelompok yang terpisah, berbeda dari tumbuhan dan hewan. Meskipun banyak jenis jamur yang bermanfaat bagi kita dalam beberapa cara atau yang lain, ada spesies tertentu yang dapat menyebabkan beberapa penyakit pada manusia

Selain merusak bahan perpustakaan, pertumbuhan jamur pada bahan perpustakaan dapat mendatangkan dampak negatif bagi para  pustakawan maupun pemustaka. Meskipun tidak semua jamur beracun bagi manusia, tetapi beberapa jenis jamur seperti aspergillus dapat mengakibatkan penyakit aspergillosis yang cukup berbahaya.

Penyakit yang disebabkan oleh infestasi jamur bersama-sama disebut sebagai mikosis. Penyakit ini kemudian diklasifikasikan ke dalam kelompok yang berbeda tergantung pada sifat dari jaringan yang terlibat dan cara masuk ke dalam host. Kelompok-kelompok tersebut  adalah sebagai berikut:

1). Mikosis Superfisial
Ini adalah penyakit yang disebabkan oleh jamur yang tumbuh hanya pada permukaan kulit dan rambut, yaitu infeksi hanya terbatas pada lapisan terluar kulit, kuku dan rambut. Ini adalah yang paling merusak dari semua infeksi jamur, karena mereka gagal untuk menembus tubuh dari penderita dan hanya mempengaruhi sel-sel di permukaan. Beberapa contoh mikosis superfisial dan agen jamur menyebabkan mereka adalah sebagai berikut:
Hitampiedra–Piedraiahortae
Putihpiedraatautineablanca–Trichosporonsp.
Pityriasisversicolorataupanu–Malasseziafurfur
Tinea nigra – Hortaea wernecki

2). Mikosis subkutan
Ini adalah infeksi yang mempengaruhi dermis dan jaringan bawah kulit lainnya dari Gambar: penyakit yang disebabkan oleh Jamur (sumber:.http;//smakita.com)penderita. Infeksi ini umumnya terjadi ketika patogen menembus dermis selama atau setelah trauma kulit. Lesi kemudian menyebar secara lokal tanpa penetrasi lebih dalam. Namun, beberapa jamur dapat menyebabkan mikosis dalam, terutama pada pasien dengan kelainan yang mendasari parah. Sebuah contoh umum adalah mikosis subkutan Sporotrichosis, disebabkan oleh Sporothrix schenckii. Chromomycosis, phaeohyphomycosis, chromoblastomycosis, lobomycosis, rhinosporidiosis dan mycetomas merupakan contoh lain dari mikosis subkutan.

3. MikosisCutaneous
Mycoses Cutaneous adalah infeksi yang memperpanjang lebih dalam lapisan epidermis serta rambut invasif dan penyakit kuku. Jamur yang bertanggung jawab untuk menyebabkan infeksi ini dikenal sebagai dermatofit. Infeksi ini dapat menyebabkan banyak rasa sakit dan ketidaknyamanan sebagai organisme ini menembus jauh ke dalam kulit. Kurap atau tinea, adalah contoh umum dari mikosis kulit. Beberapa contoh lain dari mikosis kulit yang menyebabkan jamur termasuk Microsporum, Epidermophyton dan trikofiton.

4. Mikosis sistemik
Mikosis sistemik diyakini yang paling berbahaya dari semua infeksi jamur. Hal ini terutama karena mereka menyerang organ internal dengan langsung masuk melalui paru-paru, saluran pencernaan atau infus. Ini dapat disebabkan oleh dua kelompok jamur, jamur patogen primer atau jamur oportunistik. Contoh penyakit jamur milik kelompok pertama meliputi blastomycosis, histoplasmosis, paracoccidioidomycosis dan coccidiomycosis. Jamur oportunistik umumnya mempengaruhi orang-orang dengan sistem kekebalan yang lemah atau dengan beberapa cacat metabolisme yang serius. Penyakit yang termasuk dalam kategori ini adalah kriptokokosis, kandidiasis, dan aspergillosis.
Pilihan pengobatan antijamur dapat menyingkirkan infeksi jamur. Kebersihan yang layak dan kebiasaan makanan akan mencegah timbulnya penyakit dan menjaga tubuh menjadi sehat.

Penanganan Jamur dan Debu di Perpustakaan
Apa yang harus kita lakukan guna menghindari penyakit-penyakit yang diakibatkan oleh debu dan jamur yang ada pada buku perpustakaan kita adalah dengan cara secara rutin mengontrol keberadaan koleksi perpustakaan agar senantiasa terawat dengan baik dan bersih dari kotoran debu dan jamur yang menempel pada buku . Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :

1. Pastikan tempat buku tidak lembab dan memiliki sirkulasi udara yang memadai. Untuk mendapatkan udara yang cukup, tempat buku harus memiliki jendela atau lubang keluar- masuk udara secara cukup.

2. Usahakan letak buku tidak berdekatan dengan lantai. Artinya tempat buku jangan di bagian paling bawah lemari. Pilihlah  tempat yang memungkinkan  buku enak dilihat dan mudah dijangkau. Pilihan bisa di bagian tengah atau atas.

3. Posisi buku pada waktu shelving sebaiknya berdiri dan berjajar ke samping tegak lurus dan tidak terlalu rapat . Posisi  ini  memungkinkan udara   masuk ke sela-sela buku lewat celah  lembaran. Jika posisi buku bertumpuk dikhawatirkan udara tidak bisa masuk dan mempercepat  kerusakan dan kelembaban.

4. Taburlah kamper di sela-sela buku atau di pojok-pojok lemari. Fungsi kamper untuk mengusir ngengat dan mengurangi bau tak sedap.

5. Untuk koeleksi perpustakaan  pribadi , lakukan rotasi posisi buku setiap dua pekan sekali. Jika memungkinkan keluarkanlah  buku-buku dari lemari dan letakan selama sehari di luar lemari. Bisa di atas meja atau di ruang terbuka yang tidak lembab.

6. Tak ada salahnya memberi lampu khusus dalam lemari buku hingga buku mendapat cahaya yang cukup. Sinar lampu menghambat ngengat masuk ke sela-sela buku.

7. Cara paling aman buku yang sudah rapuh adalah membungkus dalam sebuah kotak bebas asam dan ditaburi kamper  atau dibungkus dengan bahan kain.

8. Khusus buku langka berusia di atas 100 tahun yang lengket antar satu halaman dengan halaman lain tidak perlu dipaksa memisahkannya. Ada cara tersendiri. Rendamlah kertas yang lengket itu ke dalam air selama setengah jam. Lalu angkat dan angin- anginkan di tempat sejuk. Jangan sekali-kali menjemur di bawah terik matahari agar kertas tidak bergelombang setelah kering. Tetapi sebaiknya melakukan hal-hal teknik seperti tersebut diatas adalah harus dilakukan oleh yang ahli ( Konservator )

Melakukan  Perawatan Koleksi
Salah satu usaha pencegahan koleksi dari datangnya penyakit yang diakibatkan oleh debu dan jamur adalah dengan melakukan perawatan secara rutin dan berkala pada koleksi perpustakaan kita. Salah satu bentuk penanganan konservasinya adalah dengan melaksanakan fumigasi dimana didalamnya terdapat aktifitas pembasmian  serangga yang sebelumnya dilakukan penyedotan debu dengan vacuum cleaner. Kegiatan Fumigasi idealnya dilakukan ± setahun sekali secara rutin. Kegiatan fumigasi ini bertujuan mematikan telur-telur dan larva serangga yang menyerang koleksi buku-buku karena buku mengandung selullosa. Jenis serangga yang biasa memakan buku adalah silverfish dan kutu buku dan jenis kerusakan yang timbul adalah timbul lubang-lubang pada kertas buku.
Melakukan perawatan bahan perpustakaan adalah salah satu bagian yang sangat penting  dari kegiatan preservasi  dimana perawatan bukan hanya dilakukan pada  bahan perpustakaan  kuno tetapi juga bahan perpustakaan yang dihasilkan pada masa sekarang. Karena seiering dengan berputarnya waktu koleksi akan berubah kondisinya karena berbagai faktor yang ada disekitarnya.

Sebagai tindakan langkah awal dalam menilai jumlah dokumen yang memerlukan pelestarian khususnya perawatan dengan dilengkapi bukti-bukti yang nyata adalah dengan melakukan survey kondisi berdasarkan metode acak untuk mempelajari keadaan kertas, perlu tidaknya jilidan diperbaiki, mencatat tanggal terbit bahan pustaka dan data lain yang diperlukan. Hal ini perlu  dilakukan guna merencanakan jenis-jenis pekerjaan yang akan dilakukan berkaitan dengan sumber daya yang diperlukan. Dilema yang dihadapi oleh perpustakaan yang melaksanakan kegiatan preservasi adalah menciptakan informasi yang mudah diakses, sementara masih harus menjamin kelangsungan hidup koleksi bahan  pustakanya.

Ciri-ciri koleksi yang udah terinfeksi oleh jamur bisa ditandai dengan adanya noda kecoklatan atau bintik-bintik yang disebut dengan toxin.  Kerusakan kecil, dimana buku ternoda tapi masih dapat dimanfaatkan dapat dijilid kembali, jika cover buku sudah rusak tapi bagian dalam buku masih dapat dimanfaatkan. Tetapi buang sajalah jika buku sudah rusak parah dan membelinya lagi lebih murah dibanding biaya perbaikan buku tersebut. Jika sudah teridentifikasi, langkah selanjutnya adalah penanganan jamur, yaitu : Buka sirkulasi udara selebar lebarnya (jendela, pintu) dan pasang kipas angin untuk mengeluarkan udara dari dalam ruangan keluar, tujuannya untuk membuang spora sebelum mereka berkesempatan untuk menetap dan memulai pertumbuhan baru. Hal ini tampaknya sangat efektif  dalam mengendalikan penyebaran spora jamur meski belum diuji secara ilmiah.

Coba untuk membuat pola sebaran wabah dan mendapatkan perkiraan buku yang terinfeksi. Kehadiran jamur dapat dideteksi dengan bau, semakin keras baunya, semakin besar persentase buku yang terinfeksi. Buku-buku yang terinfeksi di berdirikan dan terkena cahaya serta sirkulasi udara.  Idealnya, buku buku terinfeksi itu taruh pada meja dan dijemur di bawah matahari. Jika tidak, buku bisa di taruh pada ruangan yang berventilasi dan jumlah cahaya yang banyak. Waktu maksimum penjemuran dibawah matahari adalah tidak boleh lebih dari 6 jam karena cahaya yang berlebihan dapat merusak kertas. Kertas koran misalnya, hanya dapat terpapar sinar matahari selama satu jam sebelum sinar tersebut merusak kertas korannya. Vacuum seluruh ruangan untuk menghilangkan debu, jangan lupa bagian bagian belakang rak buku dan sela sela lantai dan furniture. Diperkirakan 30- 50 % spora jamur tertangkap dengan cara ini.

Suci hamakan area tersebut dengan menggunakan lap basah dan disenfektan yang kuat (seperti Lysol atau cairan penghilang jamur untuk kamar mandi). Vacuum dengan sikat lembut dapat menggantikan sikat tangan namun harus hati hati agar tidak memindahkan spora dari satu buku ke buku lainnya. Selembar kain tipis dapat digunakan untuk membungkus ujungnya untuk mengurangi kontaminasi spora. Tata kembali buku yang masih akan digunakan, dan buang yang sudah tidak digunakan dan diatur letaknya bagi buku yang perlu perlakuan khusus. Buat perencanaan kedepan terkait tindakan pencegahan dan pembersihan rutin. Setiap buku harus diangin anginkan dan di vacuum begitu juga dengan raknya minimal setahun sekali. Jika dimungkinkan, ada kipas angin jika AC tidak ada atau jendela harus dibuka setiap hari.
Pembasmian Serangga dan Jamur dengan Fumigasi

Salah satu usaha yang dapat dilakukan dalam memberantas jamur dan menghilangkan debu pada bahan perpustakaan adalah dengan melakukan kegiatan fumigasi secara berkala dan ini bisa dilakukan  paling tidak satu kali dalam setahun. Fumigasi adalah metode pemakaian fumigant yang dilepaskan menuju atmosfir dalam bentuk gas untuk mengkontrol atau membunuh organism yang tidak diinginkan. Fumigant itu sendiri adalah bahan kimia pada kondisi tertentu berubah menjadi gas dan pada konsentrasi yang diinginkan dapat membuat organism mati. Ada beberapa bahan kimia yang dapat digunakan sebagai fumigant, sebagai contoh :
1. methyl bromide
2. magnesium phosphide and aluminium phosphide
3. sulfuryl fluoride

Tujuan dari kegiatan fumigasi tersebut adalah untuk mematikan telur dan larva-larva serangga pemakan buku. Ada bermacam jenis serangga yang menyerang buku diantaranya adalah silverfish, kutu buku, dan jenis lainnya. UU dibeberapa negara melarang penggunaan bahan kimia yang biasa dipakai untuk fumigasi. Wood Lee: “bahwa semua biosida memiliki tingkatan racun mamalia”.

Dalam melakukan fumigasi harus dilakukan oleh para ahlinya, jangan sekali-sekali melakukan sendiri tanpa ada dasar ilmu yang jelas.

Tahapan yang perlu dilakukan dalam melaksanakan Fumigasi adalah:
1. Mengukur dan mempersiapkan plastik yang akan digunakan untuk menutup  rak buku.
2. Menyusun buku  dan memberi pembatas antar lembar buku dengan menggunakan kertas agar letak buku tidak terlalu rapat sehingga fumigant yang digunakan bisa meresap keseluruh permukaan buku.
3. Beberapa buku diletakkan dalam dalam jajaran rak buku
4. Menutup rapat rak buku dengan plastik serta menggunakan perekat lakban hitam.
5. Melakukan pengetesan ada atau tidak kebocoran pada plastik dengan menggunakan kapur barus. Kapur barus dimasukkan dalam rak dan tutup rak dengan menggunakan plastik.  Indikasi yang digunakan adalah jika tidak tercium  bau kapur barus di ruangan maka dapat dipastikan plastik tidak bocor.
6. Memasukkan wadah berupa cawan petri pada setiap rak buku dan wadah karton pada setiap kantong untuk tempat meletakkan fumigant.
7. Masukkan fumigant pada setiap rak dan setiap kantong.
8. Ikat kantong dengan tali dan tutup rapat rak dengan menggunakan plastik serta perekat lakban hitam.
9. Fumigasi dilakukan selama ± 3 hari s.d 1 minggu sampai gas  menguap.
10. Setelah seminggu buka kantong dan rak buku.  Diamkan selama ± sehari  agar  gas   fumigant     benar-benar menghilang dari dalam rak maupun kantong, semprot dengan pengharum ruangan  agar bau bekas fumigant  tidak terlalu menyengat.

Penutup
Bila kita membaca informasi yang ada pada literatur-literatur yang menyajikan berbagai permasalahan berkaitan dengan berbagai faktor resiko yang diakibatkan oleh mekanisme terakumulasinya debu pada permukaan sisi buku, serta bagaiamana debu-debu tersebut ditransfer kedalam tubuh manusia , maka dapatlah diambil kesimpulan bahwa begitu sangat bahayanya para pustakawan yang bekerja dengan buku-buku yang berdebu . Mereka akan terkena resiko penyakit yang diakibatkan oleh debu seperti kanker paru, serangan jantung, asthma,alergi depresi, gangguan ssyaraf  dan gangguan kulit . untuk itu penting bagi para pustakawan untuk senantiasa menjaga dan melindungi dirinya sendiri dengan alat pengaman seperti masker hidung , baju lab, atau menjaga kebersihan lingkungan. Tetapi yang lebih utama adalah adanya perlindungan yang berupa peraturan perundangan yang bertanggung jawab terhadap kesehatan para pustakawan dan pegawai perpustakaan pada umumnya terhadap resiko kesehatan  yang serius dilingkungan tempat dimana pustakawan tersebut bekerja. Selama ini sepertinya belum ada yang mengatur tentang masalah hak dan kewajiban pustkawan dalam mendapatkan tunjangan kesehatan yang diakibatkan oleh adanya penyakit yang disebabkan oleh debu, jamur ataupun obat pembasmi serangga dan zat-zat kimia beracun yang tanpa sadar telah dihirup setiap waktu oleh para pegawai bagian preservasi dan  pustakawan pada umumnya. Semoga profesi pustakawan maupun konservator yang sudah berharap banyak  dengan adanya tunjangan yang cukup signifikan tidak diiringi dengan semakin banyaknya penderita sakit akibat debu, jamur dan racun kimia diperpustakaan kita.

Bahan Bacaan
Arulalmy. 2009.  Bahaya Tungau Debu Rumah  www. http;// Majalah Perkawinan dan Keluarga) Diakses pada tgl 27 januari 2014

Fungsi yang penting tetapi sering diabaikan dalam penataan arsip http;///www.indoarsip.co.id/diakses 2014-03-07

Gadis ini kehilangan kesempatan ( Detik.com, health news. Dec 12. 2013 ).diakses pada tgl 25 /01/2014.

Kegiatan Fumigasi Buku Perpustakaan Museum Nasional (http;www.museumnasional.or.id/index.php/85-berita-dan artikel/127. Diakses pada tanggal 20  januari 2014

5 Macam Penyakit Akibat Pencemaran Partikel Debu di Udara. 2012. http;.// www. smalcrab.com/kesehatan / diakses 26/02/2014

Mawar  Pratiwi . Penyakit yang Disebabkan oleh Jamur  http;//en.wordpress.com/ diakases pada  2014-03-01

Pedoman Teknis Preventif Konservasi: Pengendalian  Serangga dan Jenis  Biota Lainnya.2013.Oleh Made Ayu Wirayati, Ellis Sekar Ayu, Aris Riyadi, Jakarta: Perpustakaan  Nasional RI

Preservasi & Konservasi Koleksi perpustakaan Dan  Arsip/Tamara A. Salim-Susetyo,S.S., M.A. (berdasarkan buku Ross Harvey, 1993) diakses pada 09/03/2014

Sobari .2004“DEBU BUKU DIPERPUSTAKAAN: TELAAH KESEHATAN KERJA PUSTAKAWAN’’dalam majalah BACA vol.28, no.1,Juni 2004:50-58) diakses 22 /02/2014

Yanti Kristy . 2013. Penyakit –penyakit –disebabkan oleh jamur, (http;//smakita.com /2013/06/Diakses pada  01/03/2014)