Gerakan Open Access Dalam Mendukung Komunikasi Keilmuan

Latar Belakang

Sebelum muncul internet, seseorang yang akan mencari sumber informasi harus akses manual dan menggunakan buku text maupun jurnal tercetak. Seiring munculnya internet, maka perilaku pencari informasi bergeser menggunakan search engine dan dengan mudah mengakses informasi secara real time melalui ebooks maupun ejournals.

Bagaimanapun dalam menyebarkan pengetahuan pasti membutuhkan media komunikasi ilmiah yang tepat sebagai ‘garda depan’. Media komunikasi yang tepat bisa dilakukan dengan komunikasi ilmiah secara tertulis, salah satunya melalui ‘Open Access (OA)’. Saat ini permasalahan yang muncul adalah di beberapa perpustakaan terpaksa menghentikan langganan jurnal dan majalah. Penyebabnya beraneka, misalnya: adanya kenaikan harga jurnal sehingga biaya langganannya menjadi mahal, sementara anggaran perpustakaannya terbatas. Belum lagi dilema terutama untuk instansi negeri yaitu kebijakan pengadaan jurnal yang realisasinya sulit karena terbentur prosedur pengadaan barang dan jasa.

Tidak heran daftar usulan koleksi diusulkan awal tahun tapi realisasi operasionalnya tahun berikutnya, belum lagi permasalahan SPJ yang bikin mumet harus ini itu dan seabrek aturan yang gonta ganti. Kalau pengadaan buku mungkin masih bisa ditolerir, namun jika pengadaan terbitan berkala seperti jurnal dalam prakteknya memang tidak semudah seperti pengadaan buku, apalagi terkait dengan yang namanya SPK. Nah barangkali dengan OA menjadi solusi cemerlang bagi perpustakaan yang terbentur kebijakan demikian.

Hal ini seperti yang disampaikan Tedd dan Large (2005: 33) bahwa dengan telah adanya kekhawatiran pada universitas dan dunia penelitian yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir tentang meningkatnya biaya jurnal ilmiah dan kurangnya dukungan dana dari perpustakaan untuk memperoleh akses ke bahan literatur yang sesuai, maka solusinya adalah pengembangan sumber OA.
Aspek lainnya yang melatarbelakangi munculnya OA, dikarenakan keberadaan internet dan pembuatan artikel jurnal secara digital telah memungkinkan perluasan dan kemudahan akses. Selain itu, perkembangan iptek di suatu negara membutuhkan data dan informasi yang akurat dan terbaru untuk memotret kondisi yang terjadi. Sementara ilmu pengetahuan selalu dihasilkan dan dikonsumsi oleh para ilmuwan dan akademisi secara berkelanjutan. Dengan demikian, untuk keperluan dalam perumusan kebijakan dalam berbagai bidang kehidupan, maka perumus membutuhkan data dan informasi yang relevan. Nah, salah satunya melalui penyebaran ilmu pengetahuan melalui OA.

Berbagi Pengalaman
Sekedar sharing saja, beberapa waktu yang lalu, saya mendapat keluhan dari salah satu Dosen yang kebetulan membimbing mahasiswa skripsi. Berikut kutipan percakapannya:
Dosen : Waduh, mahasiswa sekarang kok kalau nulis skripsi hanya copy paste comot sana comot sini ya…? Ini apa karena dampak OA kali ya Bu…?
Saya : Wah bisa juga Pak, tapi tidak semuanya demikian. Lho bukannya dengan OA malah menjadi mudah untuk mendeteksi apakah karya mahasiswa tersebut asli atau plagiat Pak…?
Dosen : Iya sih…tapi semakin mudah akses mereka juga semakin mudah copas Bu.
Saya : Owh begitu ya Pak…terus tahunya dari mana Pak kalau mahasiswa tersebut hanya copas?
Dosen : Saat sidang Bu…kebetulan Dosen penguji lainnya cermat banget…ada banyak kalimat yang ndak jelas sumbernya ngutip dari mana, apalagi di daftar pustaka juga tidak dicantumkan.
Saya : Lho berarti hanya kayak ‘jahit baju’ dong Pak…he…he…ambil sana sini…cropping…lalu dihubung-hubungkan…lalu jadilah ‘skripsi’…
Dosen : (mengernyitkan dahi) Ya begitulah…kebetulan saya pas sibuk Bu kemarin, jadi terus terang saya tidak sempat membaca keseluruhan isi skripsinya. Sudah gitu Bu, mahasiswanya memang ‘ngeyelan’ sih…jadi ya sudah takbiarkan saja biar jalan terus. Wah tapi bahaya ya Bu jika lulusan kita kualitas penelitiannya kayak gitu.
Saya : (sambil menarik nafas)…Ehm..ya iya begitulah Pak…?!?!

Dari percakapan tersebut, muncul pertanyaan besar dalam hati saya, “Siapa yang salah?” Sepertinya tidak etis jika waktu itu saya katakan kalau dosen pembimbingnya yang salah atau mahasiswanya yang salah. Hanya saja dari percakapan tersebut ada hikmah yang bisa dipetik di era OA saat ini:
1. Dosen pembimbing sangat berperan vital dalam proses pembimbingan, sehingga harus lebih intens dalam membimbing terutama mengarahkan secara optimal bagaimana cara menulis karya ilmiah yang benar. Jadi membimbing mahasiswanya harus menjadi ‘panggilan jiwa’ bagi setiap dosen.
2. Perpustakaan harus menyaring (filtering) dengan sistem, misalnya: beli software pelacak plagiarisme, membuat sistem bahwa konten hanya bisa dilihat/dibaca (read only) tapi tidak bisa dikopi dan disimpan.
3. Pustakawan harus bertransformasi dengan mereposisi perannya sebagai ‘gawang’ keluar masuknya sumber informasi di perpustakaan. Misalnya: mengecek karya ilmiah yang masuk sebelum diunggah, sehingga jika ternyata persentase plagiat terbukti ada maka tidak jadi diunggah secara online.
4. Perlunya kesadaran moral yang tinggi dari mahasiswa yang ditumbuhkan dari hati nurani, sehingga mereka akan menulis karya ilmiah secara benar sesuai kaidah ilmiah akademik.

Gerakan OA
OA secara umum dapat diartikan dengan ‘akses terbuka’. Maksudnya informasi tersebut dapat diakses secara bebas dan mudah oleh siapa saja secara penuh. Hal ini tentunya didukung oleh adanya keberadaan teknologi digital dan akses ke sumber informasi dalam bentuk digital. Oleh karena dalam OA ada sebuah penyedia yang meletakkan berbagai berkas, dan setiap berkas itu disediakan untuk siapa saja yang dapat mengakses, maka OA menjadi upaya memastikan penghapusan hambatan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan informasi ilmiah secara digital.

Dalam suatu acara ilmiah, andai semua makalah seminar atau temu ilmiah lainnya selalu diunggah ke website perpustakaan penyelenggara, maka bisa dipastikan akan jauh bermanfaat nilai gunanya. Lalu apa relevansi pentingnya akses yang dapat dilakukan secara terbuka?. Hemat penulis hal ini akan mempercepat transfer ilmu pengetahuan dalam komunikasi keilmuan dan pengembangan iptek. Tidak hanya peserta temu ilmiah saja yang mendapatkan materi, namun siapa saja juga bisa akses secara gratis.

Bopp dan Smith (2011: 213) mengemukakan bahwa gerakan akses terbuka membantu untuk melindungi hak-hak pengguna dari karya tulis yang telah dibuat untuk suatu kebaikan yang lebih besar. Dalam dunia akademik dan penelitian, banyak konten yang diterbitkan merupakan bagian dari judul serial dan tergolong dengan biaya mahal, karena penerbit mengharuskan penulis menandatangani atas hak cipta mereka.

Padahal idealnya dikatakan OA apabila model pendanaan dalam proses OA tidak menarik bayaran dari penulis maupun lembaga untuk mengakses informasi. Beberapa definisi OA, antara lain:
1. Ketersediaan artikel di internet agar semua orang dapat membaca, mengambil, menyalin, menyebarkan, mencetak, dan menelusurnya atau membuat kaitan dengan artikel-artikel tersebut secara sepenuhnya, menjelajahinya untuk membuat indeks, menyalurkannya sebagai masukan ke perangkat lunak, atau menggunakannya untuk berbagai keperluan yang tidak melanggar hukum, tanpa harus menghadapi hambatan finansial, legal, atau teknis, selain hambatan yang tidak dapat dilepaskan dari kemampuan mengakses internet itu sendiri (Budapest Open Access Initiative-BOAI, 2002).
2. OA is an alternative to the traditional subscription-based publishing model made possible by new digital technologies and networked communications. OA refers to works that are created with no expectation of direct monetary return made available at no cost to the reader on the public internet for purposes of education and research (ARL, 2004).
3. OA literature is digital, online, free of charge, and free of most copyright and licensing restrictions (Suber, 2004).
4. OA is a system of providing users access to the full text quality, peer reviewed research articles which uses a funding model that does not charge users of their institutions for access (Tedd & Large, 2005).
5. OA is a system of organizing a collection where users can find what they want for themselves (Dictionary of Information & Library Management, 2006).
6. OA menjadi suatu fenomena yang berkaitan dengan keberadaan teknologi digital dan akses ke artikel jurnal ilmiah dalam bentuk digital (Pendit, 2008).

Secara umum, OA bisa didefinisikan sebagai ketersediaan bebas dari publikasi jurnal ilmiah melalui internet. Munculnya gerakan OA menjadi salah satu model komunikasi ilmiah yang lebih meningkatkan aksesibilitas hasil penelitian. OA akan menciptakan kondisi untuk sistem informasi global yang efektif melalui budaya akses terbuka dan berbagi.

Pada dasarnya konsep OA bisa dikatakan sebagai alat untuk diseminasi informasi. Ciri khasnya, antara lain:
1. Available online and immediate with permanent online access. Tersedia secara terpasang dalam bentuk literatur digital, langsung dapat segera diakses, serta akses online permanen dengan teks lengkap dari artikel hasil penelitian.
2. Applies to royalty-free literature. Bebas royalti sastra sehingga penulis gratis tidak dibayar (free of charge), membayar biaya ongkos per satu kali akses (pay per view) bagi yang tidak berlangganan, serta bebas dari hambatan harga langganan.
3. Authors receive no direct financial compensation. Penulis tidak menerima kompensasi finansial secara langsung.
4. Free of permission barriers. Bebas dari hambatan. Misalnya: bebas akses tanpa hambatan biaya (free access without fee), bebas dari semua ikatan yang menyangkut hambatan hak cipta (free of most copyright), serta tidak memerlukan batas perijinan (licensing restrictions).

Untuk mewujudkan gerakan OA (open access movement) membutuhkan pola pikir yang integral. Sebenarnya lahirnya OA sudah lama, hanya saja istilah OA belum membumi dan belum dipraktekkan secara menyeluruh. Namun, akhir-akhir ini sepertinya gerakan open akses mulai popular lagi di Indonesia. Sungguh luar biasa dan kita semua pembaca Visi Pustaka perlu memberikan apresiasi yang mendalam karena atas prakarsa dari Goethe Institute, maka di awal tahun 2013 telah terlaksana road show seminar nasional dengan tema “Open Access : The Future of Repositories and Scholarly Publishing” di berbagai perguruan tinggi. Misalnya: Perpustakaan UK Petra Surabaya (28 Januari 2013), Perpustakaan USU Medan (30 Januari 2013), dan Perpustakaan UI Jakarta (1 Februari 2013).

Salah satu dari narasumber dalam ketiga seminar tersebut ‘Urs Schoepflin’ yang waktu itu menjabat sebagai Direktur Riset Perpustakaan Max Planck Institute for the History of Science (Berlin, Jerman) menegaskan bahwa munculnya OA awalnya merupakan sebuah gerakan untuk menghabisi monopoli penerbit jurnal ilmiah komersial. Selain itu, Schoepflin juga mengatakan bahwa saat ini berbagai perguruan tinggi terkenal dunia telah menerapkan ‘Open Access Mandates’ yang mewajibkan kalau semua penelitian yang dibiayai oleh pajak (dana masyarakat) untuk diterbitkan hanya di penerbit OA saja.
OA tidak bisa dilepaskan dari adanya berbagai gerakan deklarasi internasional OA, antara lain: Budapest Open Access Initiative (Februari 2002), Bethesda Statement on Open Access Publishing (April 2003), Berlin Declaration (Oktober 2003), dan Declaration on Open Access to Research from Public Funding (2004).
Mengenai pertumbuhan Mandatory Policies pada OA seperti terlihat pada Gambar 1 berikut:

 

Gerakan OA menjadi gerakan internasional untuk membuka persediaan informasi kepada masyarakat luas. Awal munculnya sebuah gerakan OA ditengarai dengan semakin berkembangnya penerbit OA. Jadi gerakan OA membuka peluang bagi siapa saja untuk berpartisipasi aktif. Aplikasinya yaitu tidak hanya menggunakan informasi saja, namun juga dalam hal membuat informasi ilmiah dan menyebarkannya.

Terlebih untuk pengembangan iptek sangat diperlukan unggah secara online. Hal ini untuk membuka secara luas hasil penelitian ilmiah yang telah dilakukan. Menjadi hal yang wajib terutama bagi penelitian yang dananya dibiayai oleh dana publik, maka hasil penelitiannya harus dipertanggungjawabkan secara terbuka dan harus diunggah secara fulltext. Harapannya hasil penelitian yang dilakukan dapat diketahui oleh masyarakat luas atau bisa diakses ke oleh siapapun secara online.

Fenomena yang seharusnya menjadi bahan renungan bagi perpustakaan di Indonesia, bahwa sebenarnya sudah ada komunitas universitas besar dan terkenal di dunia yang telah memberikan respon bagus dengan menerapkan “Open Access Mandates”. Caranya dengan mewajibkan penulis yang berafiliasi untuk menerbitkan karya mereka hanya di penerbit OA dan bukan pada penerbit komersial.

Fenomena Publikasi Ilmiah
Era OA rupanya membuat seseorang yang akan menulis sebuah karya tulis harus ekstra hati-hati. Maksudnya membutuhkan pengetahuan tentang bagaimana mengutip yang benar dan menggunakan gaya bahasa sendiri dalam menulis. Budaya copy dan paste harus dihindari sedini mungkin.

Adanya kebijakan publikasi ilmiah bagi civitas akademik menyebabkan sebuah muara pada suatu karya ilmiah yang harus terbuka (open). Artinya bahwa ilmu pengetahuan pada sebuah karya ilmiah tersebut tidak hanya diketahui oleh yang menulis saja, namun juga dibagi kepada orang lain melalui akses secara terbuka. Dosen sebagai ‘role model’ mahasiswanya harus mempunyai motivasi yang tinggi untuk publikasi ilmiah yang prakteknya bisa dengan mengunggah karya ilmiahnya sebagai media transfer pengetahuan secara online.

Dalam kenyataannya masih terjadi kontroversial mengenai OA walaupun sebenarnya dengan OA akan mempercepat pengakuan dan diseminasi hasil penelitian yang sangat potensial dalam mendukung literatur penelitian. Adanya OA tentunya akan membuat sebuah karya ilmiah menjadi lebih transparan terpublikasikan secara online dan akan mempercepat komunikasi penelitian sebagai kunci pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sekalipun sudah masuk dalam era OA dan sudah adanya software pelacak plagiarisme, tetapi sampai saat ini tetap saja ada kasus plagiarisme, baik ringan maupun berat. Celakanya kenapa yang melakukan justru kaum intelek di perguruan tinggi? Bukankah hal ini mencoreng nama baik perguruan tinggi dengan rapor merah?
Renungan juga bagi kita semua, apakah pelaku sengaja, pelaku coba-coba, atau memang ketidaktahuan pelaku. Lalu apakah OA meminimalkan plagiarisme atau bahkan justru menyuburkan? Tulisan sangat menarik mengenai OA kaitannya dengan plagiarisme pernah disampaikan juga dalam Visi Pustaka oleh Nugraha (2009).

Relevansi OA dengan publikasi ilmiah nampak pada hak cipta. Jadi civitas akademik harus mengedepankan integritas karya ilmiah yang ditulisnya dengan mengutip secara benar. Unsur ketidakberesan sebuah karya ilmiah sangat beragam. Indikasi yang jelas karena adanya pelanggaran etika dan pro¬fesionalisme. Berbagai temuan yang ada, misalnya: memunculkan nama penulis palsu, penulis jamaah tapi diakui karya pribadi, adanya artikel sisipan, label akreditasi jurnal yang palsu, nama penga¬rang tambahan, penelitian lama tapi dipoles ba¬ru, data atau dokumen fiktif, dan lain sebagainya.

Mungkin kita semua pernah terhenyak mendengar isu pertengahan tahun 2012 yaitu tentang Nono Lee, Agnes Monica dan Inul Daratista yang namanya nampang di Journal African Journal of Agricultural Research (AJAR) Vol. 7 Ed. 28 bulan July 2012 dalam tulisan artikel ilmiah dengan judul ‘Mapping Indonesian paddy fields using multiple temporal satellite imagery’. Kasus yang mencuat saat itu ternyata bikin heboh civitas akademik seantero tanah air. Kok bisa ya kecolongan? Ya inilah teknologi, bagaikan sebuah pedang bermata dua, satu sisi mendukung dan satu sisi lainnya (misalnya hacker) justru bisa menghancurkan.

Kaitannya dengan adanya OA, satu sisi menyuburkan plagiarisme, karena siapapun dapat dengan mudah mengakses, men-download, mengkopi, dan sejenisnya. Namun di sisi lain juga mempunyai nilai positif terutama dalam mendeteksi karya tulis yang asli atau tiruan.

Temuan Ditjen Dikti dengan munculnya jurnal abal-abal atau bodong di perguruan tinggi sungguh sangat menodai akademisi. Istilahnya seperti: Jurnal internasional palsu, Jurnal palsu, maupun Jurnal nasional tidak terakreditasi dan meragukan. Agar ada efek jera bagi pelaku, maka saya sangat setuju dengan tindakan Dikti yang sangat tegas terhadap siapapun yang melakukan pemalsuan. Setidaknya sanksi penundaan kenaikan jabatan/pangkat, kemudian black list bagi pelaku dan penerbit jurnal palsu harus dilakukan.

Masih banyak isu lainnya yang berkaitan dengan kebijakan pemerintah dalam hal kewajiban publikasi ilmiah ini. Nah saya rasa perlu penegasan bahwa dengan adanya OA sebenarnya akan memudahkan pengontrolan oleh siapapun, karena semakin banyak diakses dan dibaca jadi semakin mudah kelihatan jika terjadi ‘ketidakberesan’.

Apalagi jika didukung dengan software anti plagiarisme (seperti Turnitin), seharusnya dapat memberikan isyarat preventif kepada siapa saja yang akan berbuat tidak sesuai kaidah pengutipan ilmiah. Melalui website turnitin.com kita dapat mengecek tingkat plagiasi suatu karya tulis dengan bahasa apapun. Hasil yang nampak dari tulisan yang diunggah ke situs turnitin adalah memunculkan sorotan blok dengan berbagai warna (highlight). Dengan demikian, akan jelas diketahui bagian yang tersorot biasanya menunjukkan bagian tulisan yang persis sama dengan tulisan lainnya, sehingga nampak berapa % tingkat kesamaannya. Cara umum termudah membedakan mana yang asli dan mana yang tiruan tinggal melihat waktu karya tulis yang diterbitkan. Dugaan sementara bisa jadi tulisan yang baru terbit adalah yang plagiat, sedangkan yang waktunya sudah lebih dulu terbit adalah yang ditiru.

Nilai Lebih OA
Munculnya OA menjadi kunci pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengapa demikian? Melalui OA membuat transfer pengetahuan menjadi cepat dan mudah. Surat terbuka yang disampaikan kepada Kongres AS yang juga ditandatangani oleh pemenang Hadiah Nobel menyebutkan bahwa:
“Open access truly expands shared knowledge across scientific field. It is the best path for accelerating multi-disciplinary breakthroughs in research”. Maksudnya bahwa akses terbuka benar-benar memperluas pengetahuan bersama di bidang ilmiah. Hal ini akan menjadi jalan terbaik untuk mempercepat terobosan multi-disiplin dalam suatu penelitian.

Dalam Suber (2003) disebutkan bahwa literatur OA mempunyai 2 (dua) sifat. Pertama, adalah gratis untuk semua orang. Sifat ini menjadi solusi menghadapi krisis harga. Kedua, pemegang hak cipta telah menyetujui terlebih dahulu untuk membaca secara terbatas, men-download, menyalin, berbagi, menyimpan, mencetak, mencari, menghubungkan, dan menemukan halaman baru. Nah sifat kedua ini menjadi solusi untuk krisis perijinan.

Oleh karena OA memungkinkan siapa saja bebas langsung akses melalui internet tanpa membayar, maka sangat memudahkan pemustaka membaca, men-download dengan artikel penuh, menyalin, mendistribusikan, maupun mencetak. Aspek yang jelas bahwa sumber informasi terbuka di mana saja dan siapapun bisa akses tanpa memandang unsur afiliasi dari pihak perpustakaan mana yang melanggan.
Banyak sekali keuntungan adanya gerakan OA. Hal ini bisa dikelompokkan dalam kategori berikut:

1. Penulis (authors). Memberikan dampak yang lebih besar. Misalnya: membantu mencegah plagiat (helps guard against plagiarism), visibilitas (visibility), hak cipta penulis, pemberian penghargaan kepada penulis dalam bentuk pengutipan, komunikasi ilmiah meningkat, paparan internasional, maupun pengakuan ilmiah.

2. Peneliti (researchers). Menyediakan pusat arsip pekerjaan peneliti, memudahkan penemuan dan penelusuran irformasi ilmiah, memudahkan penyebaran informasi hasil penelitian, meningkatkan dampak dari penelitiannya, memungkinkan peneliti dapat mengetahui topik penelitian yang pernah dilakukan, dapat mengetahui tingkat pencapaian penelitian, maupun mengetahui tema penelitian yang masih belum tersentuh.

3. Lembaga (institutions). Terjangkaunya biaya penerbitan dan operasional penggunaan, membantu lembaga pendanaan dengan menyediakan akses publik ke hasil penelitian yang didanai publik, meningkatkan visibilitas dan prestise kepada badan pendanaan dan komunitas riset global, sebagai alat bantu dalam latihan penilaian penelitian.

4. Pembaca (readers) atau Pemustaka (users). Untuk penelitian dan pembelajaran sangat penting untuk penemuan (discoverability) sehingga tidak hanya akses ke konten saja. Suatu contoh: pemustaka akses melalui Wikipedia dan tahu informasi yang tersedia tidak selalu akurat, lalu bisa link ke peer-review atau yang lainnya. Nah diskusi OA memainkan peran disini karena biasanya pembaca hanya cenderung bersandar kepada informasi yang tersedia secara bebas. Intinya dapat memberikan pembaca atau pemustaka akses bebas hambatan bagi literatur yang mereka butuhkan dengan aksesibilitas secara penuh (full text searchability), tidak membayar (no cost), keterjangkauan (affordability), dan mengoptimalkan nilai kegunaan (usage).

5. Masyarakat umum (public society). Memungkinkan akses ke temuan penelitian (access to research findings) secara lebih bebas dan mudah.

6. Perpustakaan (library). Menekan biaya langganan yang tinggi sehingga perpustakaan tidak perlu melanggan, aksesibilitas lebih mudah, dapat mengakomodir kebutuhan pemustaka yang sangat heterogen, menjadi solusi adanya aturan perijinan untuk akses.

7. Pustakawan (librarian). Berpeluang dalam kajian Bibliometric, misalnya: sitasi (citations).

8. Pengajaran dan pembelajaran (teaching and learning). Membantu seluruh siswa dan mahasiswa untuk akses materi yang sama dengan lebih mudah. OA memungkinkan mereka untuk mendapatkan informasi secara cepat, dan terkadang malah lebih dahulu daripada guru atau dosennya. Adanya media social networking akan memainkan peran penting dalam berinteraksi dengan konten OA.

Kesadaran masyarakat untuk akses online telah mendapatkan porsi perhatian dari pemerintah. Suatu contoh, masyarakat kota Banyuwangi patut berbangga, karena menjadi kota digital society pertama di Indonesia. Hal ini seperti diberitakan dalam Tempo (edisi 25-31 Maret 2013) bahwa pada tanggal 9 Maret 2013 telah diluncurkan peresmian “Banyuwangi Digital Society (B-Diso)” oleh Menteri Komunikasi dan Informatika RI (Tifatul Sembiring) dan Direktur Utama PT Telkom (Arief Yahya). Hal ini tentunya menjadi salah satu langkah konkret untuk menyiapkan masyarakat di masa depan yang dituntut mampu terhubung secara online dengan cepat secara global. Kesadaran masyarakat akses online, memungkinkan transfer pengetahuan secara luas dan menyeluruh sehingga manfaat OA akan cepat dirasakan khususnya bagi masyarakat pencari informasi.

Fungsi adanya OA antara lain:
1. Memudahkan dalam pengembangan iptek.
2. Sebagai media transfer pengetahuan dalam komunikasi ilmiah.
3. Memperluas jaringan pengetahuan dalam meningkatkan reputasi yang menulis.
4. Meningkatkan kredibilitas peneliti yang hasil penelitiannya memungkinkan bisa dikutip peneliti lain dengan akses yang mudah.
5. Meminimalkan tindakan penjiplakan/plagiat.
6. Mengupayakan agar biaya tidak lagi menjadi penghalang dalam penyebaran informasi ilmiah.
7. Menjadi solusi bagi siapa saja yang membutuhkan sumber informasi terbaru dalam berbagi bidang disiplin ilmu.

Bicara OA sangat luas cakupannya, bisa meliputi Open Access Journals (OAJs), Open Access Textbooks (OATs), OA Directories (OADs), OA hasil penelitian, maupun OA sumber informasi lainnya. Alasan yang mendasari timbulnya OA beraneka ragam, suatu contoh: asal muasal munculnya OAJs dilatarbelakangi karena mahalnya harga langganan jurnal ilmiah, sehingga perpustakaan tidak bisa melanggan karena keterbatasan anggaran yang ada.

Dalam Scavira (2004) disebutkan bahwa OAJs ditopang oleh: penerbitan OA, pengarsipan, dan adanya dukungan/advokasi. Cara apapun dalam proses unggah (upload) membutuhkan penanganan serius. Dalam pengelolaan OAJ’s juga pasti membutuhkan biaya yang signifikan untuk operasionalnya. Caranya bisa ditempuh melalui:

1. Arsip jurnal akses terbuka dalam repositori institusi sehingga tidak perlu melakukan peer review, tetapi hanya membuat isinya tersedia secara bebas dan online.

2. Jurnal akses terbuka dengan melakukan peer review dan kemudian membuat isinya disetujui untuk diakses bebas serta tersedia secara online. Hal ini biasanya dana yang dibutuhkan menyangkut peer review, persiapan naskah, dan ruang server.

Contoh penerbit OA E-Journals (OAJs):

Bagaimana dengan OA pada jurnal di Ilmu Perpustakaan dan Informasi (Library and Information Science-LIS)? Sampai saat ini sebenarnya sudah ada upaya untuk memulai jurnal OA di Ilmu Perpustakaan dan Informasi meskipun belum signifikan capaiannya. Jurnal OA di LIS mencakup kumpulan halaman rumah jurnal akses terbuka yang dikumpulkan dari berbagai sumber dan tersedia sebagai publikasi gratis, misalnya: Directory of Open Access Journals (DOAJ), BUBL Journals, Science Electronic Library Online (SciLO), Public Library of Science (PloS), maupun The Scholarly Publishing and Academic Resources Coalition (SPARC).

Dikatakan OAJs karena menggunakan model pendanaan yang tidak membebankan pembaca atau lembaga mereka untuk akses. Jadi sebuah jurnal akan digolongkan sebagai akses terbuka jika semua artikel di jurnal tersebut dapat diakses secara bebas oleh siapapun secara gratis (freely accessible).
Justru akan menjadi suatu hal yang menarik karena justru OAJs akan membayar biaya penerbitannya dengan cara:

1. Pengajuan biaya untuk penulisnya atau pada lembaga penulis tersebut (article processing fee/submission charge to authors or author institutions).
2. Iklan atau sponsor perusahaan (advertising or corporate sponsorship).
3. Subsidi dan hibah (subsidies and grants).

Jadi melalui OA akan membebaskan hambatan akses informasi, misalnya yang biasanya muncul karena biaya baik itu biaya berlangganan, biaya lisensi, atau biaya setiap akses pada artikel lengkap menjadi tidak ada.

Komunikasi ilmiah melalui OA jurnal telah menjadi fenomena global. Ada 2 (dua) cara dalam pengarsipan OA, yaitu:

1. OA Publishing dikenal dengan jalan emas (gold road OA). Yaitu peneliti menyerahkan ke OA publisher. Caranya dengan menerbitkan Jurnal OA, yaitu jurnal menyediakan OA untuk artikel para penulis, baik dengan cara membayar penulis atau menerbitkan artikel keluar dengan tetap membayar penulis. Selain itu, juga memberikan kesempatan lembaga untuk mengakses artikel yang masuk, serta membuat cara mudah dengan edisi online yang bisa diakses oleh siapapun. Dengan demikian, publikasi yang ada dalam OA dapat diakses oleh siapapun tanpa membayar sejalan dengan persyaratan yang ada dalam OA. Contoh: Ariadne, D-Lib Magazine, First Monday, JMLA, EBLIP, BioMed Central, PLoS ONE.

2. OA Self-Archiving dikenal dengan jalan hijau (green road OA). Maksudnya peneliti mendepositkan karya ilmiahnya ke Institutional Repositories (IR), Disciplinary Repositories (DR), website, blog, maupun university web page. Jadi penulis menyediakan OA artikel ilmiah mereka untuk dipublikasikan dalam eprints yang bebas diakses oleh siapapun. Hal ini berarti bahwa publikasi yang ada dalam OA dapat diakses secara gratis. Contoh: e-LIS, PubMed Central, PMC Canada.

Institutional Repositories (IR) dan Disciplinary Repositories (DR) sama-sama merupakan pangkalan data dalam repositori, hanya perbedaannya terletak pada:

 

Nilai lebih dari gerakan OA membebaskan para penulis dari keterikatan dengan penerbit, yaitu tetap memegang hak cipta (retain it), merelakan hak untuk dipakai bersama (share it), dan memindahkan ke pihak lain (transfer it).

Selanjutnya mengenai persentase ketersediaan gold OA dan green OA berdasarkan bidang ilmu seperti pada Gambar 3. berikut:

 

Memangkas Jurnal Komersial
Bagaimana kalau penerbit jurnal ilmiah ternyata memonopoli penelitian dan artikel ilmiah untuk kepentingan komersial?. Sungguh fenomena yang memprihatinkan saya rasa. Bisa dibayangkan peneliti yang mempublikasikan hasil penelitiannya malah tidak diberi royalti, namun justru hasil penelitian itu malah dijual kepada peneliti atau universitas dengan tarif yang justru mahal.

Dengan demikian, bisa ditebak pasti akan terjadi monopoli dan hegemoni dari para penerbit komersial tersebut. Entah penerbit komersial tersebut semaunya sendiri dalam menentukan harga berlangganan jurnal maupun merasa ‘sok jagoan’ karena tidak ada saingan atau pihak lain yang dapat mengontrol perkembangannya.

Dalam menghadapi aturan dalam jurnal komersial, maka dipastikan akan menuai kontra. Kaitannya dengan anggaran, maka dana yang harus dikeluarkan oleh perpustakaan perguruan tinggi dalam menyediakan akses jurnal ilmiah hasil penelitian terbaru juga dipastikan menjadi tinggi. Disisi lain, peneliti butuh menyebarkan hasil penelitiannya. Terus bagaimana respon peneliti?. Apakah kemungkinan ada protes?. Aksi protes bisa jadi akan memunculkan gerakan dari para peneliti untuk memboikot sejumlah penerbit jurnal komersial tersebut. Bahkan peneliti juga akan menolak menerbitkan hasil penelitiannya di penerbit komersial atau malah ada yang tidak bersedia menjadi editor (reviewer) dari penerbit komersial.

OA menjadi berkah bagi masyarakat luas tentunya. Kalau sebelumnya kita harus membayar kepada penerbit, maka dengan adanya OA tidak lagi memikirkan biaya akses. Seperti diberitakan dalam Republika (28 Januari 2013), bahwa dengan adanya OA maka akan menjunggalkan jurnal komersial. Target ke depan, OA semakin merambah sehingga masyarakat siapa saja dapat mengakses informasi dengan mudah.

Bagaimana dikatakan penerbit jurnal ilmiah yang komersial? Pemahaman saya dikatakan komersial karena penerbit jurnal ilmiah tersebut meminta kepada para penulis artikel baik itu karya ilmiah maupun karya ilmiah hasil penelitian untuk membayar mahal agar dapat memasukkan karya tulisnya ke dalam jurnal ilmiah yang dikelola oleh penerbit jurnal ilmiah komersial tersebut.

Peluang Pustakawan
Peluang pustakawan di era OA semakin besar, karena akan banyak PR yang harus dikerjakan dalam mewujudkan kiprahnya secara lebih nyata. Pustakawan sebagai pengolah sumber informasi ilmiah harus jeli dan diharapkan senantiasa menjunjung nilai kejujuran, integritas, serta intelektual di dalam menjalankan profesinya. Terkait dengan gerakan OA, maka sikap pustakawan diharapkan juga pro OA.
Mercer (2011) dalam Pendit (2013), menjelaskan langkah strategis yang bisa dilakukan oleh para pustakawan, yaitu:
1. Memahami segala aspek teknis tentang publikasi ilmiah dan berupaya ikut serta dalam proses penelitian dan penulisan ilmiah.
2. Terjun langsung dalam kegiatan yang menyangkut komunikasi ilmiah, misalnya: perencanaan penelitian, penerbitan jurnal, penggalangan komunikasi antar ilmuwan.
3. Memahami penggunaan sarana pemantauan yang dapat dimanfaatkan oleh peneliti dan penulis untuk mengukur keuntungan yang diperoleh jika menggunakan sarana OA.
4. Terlibat aktif dalam pengembangan dan perubahan sistem publikasi ilmiah yang pro terhadap OA.
5. Memastikan dukungan kebijakan dari perpustakaan sebagai tempat bernaung para pustakawan yang akan menggerakkan OA.

Adanya OA pasti akan mengubah situasi untuk perpustakaan dan pemustakanya, sehingga pustakawan harus tertantang. Dalam Harris (2012: 11) disebutkan mengenai keterampilan dan kemampuan yang pustakawan butuhkan dalam OA, yaitu: komunikasi (communication), menjalin hubungan (relationships), peralatan (tools), metadata dan skala web (metadata and the web-scale), bekerja sama dan berbagi (working together and sharing), dan berbagai tantangan lainnya yang mendukung OA.

Dalam era OA pustakawan berpeluang melakukan berbagai kajian, misalnya mengevaluasi impact factor E-Content dalam OAJs dari berbagai disiplin ilmu. Kajian bisa dilakukan dengan melihat aspek: ketersediaan, kepengarangan, lingkup dan cakupan, ketuntasan tulisan, format halaman, hyperlinks, kekinian, kebijakan update, fasilitas pencarian, maupun aspek lainnya. Berikut beberapa contoh alamat web dengan fungsinya:

 

Saya berpandangan kalau OA idealnya menjadi jalan terbaik menghadapi fenomena perkembangan TIK yang semakin global. Terutama bagi pustakawan justru menjadi peluang. Peluang untuk maju dan lebih profesional dalam mengelola sumber informasi elektronik di perpustakaan.

Suatu contoh: pustakawan proaktif mengadakan kegiatan pendidikan pemustaka dengan topik plagiarisme. Nah, di sini pustakawan bisa menyampaikan tentang definisi plagiarisme, pencegahan dengan mengutip sesuai kaidah yang benar, payung hukum yang ada, bahaya plagiarisme, contoh-contoh kasus plagiarisme, sanksi pelaku plagiat, dan lain sebagainya. Jadi kegiatan pendidikan pemustakanya bisa dikemas dalam berbagai tingkatan. Aplikasinya seperti:
1. Orientasi perpustakaan: Pengenalan Plagiarisme.
2. Instruksi perpustakaan: Cara Penelusuran Informasi Menggunakan Alat Bantu.
3. Bibliografi Instruksi: Membuat Sitasi Karya Ilmiah.
4. Literasi Informasi: Penulisan Artikel Ilmiah Hasil Penelitian. Hal ini dapat dikembangkan materinya yang lebih advanced, seperti bagaimana supaya karya civitas akademik yang dimuat di jurnal nasional bisa tembus menjadi masuk di jurnal internasional, kemudian cara supaya jurnal tersebut bisa terindeks di Scopus, ISI Thomson, DOAJ, Digital Object Identifier (DOI) dan lain sebagainya.

Pustakawan sebagai pengolah informasi perlu mengetahui dan mengikuti perkembangan terbaru terkait isu OA tersebut. Pustakawan harus lebih proaktif untuk mempromosikan pendidikan dan pemahaman yang lebih baik tentang isu-isu komunikasi ilmiah dalam gerakan OA dengan tujuan agar akses dan penyebaran informasi menjadi lebih baik. Perkembangan gerakan OA hendaknya menjadi angin segar bagi pustakawan untuk lebih profesional dalam mengelola informasi.

Daftar Pustaka
Association of Research Libraries (ARL). 2004. Framing The Issue: Open Access. Dalam www.arl.org/storage/documents/…/frame-issue-open-access-may04.pdf [diakses tanggal 27 Januari 2013].

Bopp, Richard E. dan Linda C.Smith. 2011. Reference and Information Servies: an Introduction. Fourth Edition. USA: ABC-CLIO, LLC.

Guédon, Jean-Claude. 2004. “The ‘Green’ and ‘Gold’ Roads to Open Access: The Case for Mixing and Matching.” Serials Review, Vol.30, Issue 4, p.315–328. Dalam http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0098791304001431 [diakses tanggal 23 Maret 2013].

Harliansyah, Faizuddin. 2011. Memanfaatkan Open Access Resources Dalam Penelitian. Tersedia dalam http://www.slideshare.net/kangfaiz/memanfaatkan-open-access-resources-dalam-penelitian-9612915 [diakses tanggal 30 Maret 2013].

Harris, Siân. 2012. Moving Towards an Open Access Future: The Role of Academic Libraries. Association with the British Library, August 2012. Dalam www.sagepublications.com [diakses tanggal 13 Maret 2013].

http://www.carl-abrc.ca/en/scholarly-communications/open-access.html [diakses tanggal 20 Maret 2013].

Johnston, Wayne. 2009. “Open Access Journals: The Global Movement and Local Publishing”. Dalam E-Journals Access and Management. Wayne Jones (editor). New Yor: Routledge.

Jones, Sophia. 2009. Open Access and Digital Repositories: The Role of The DRIVER Project. Tersedia dalam http://www.slideshare.net/narodnitechnickaknihovna/open-access-and-digital-repositories-the-role-of-the-driver-project-sophia-jones-2349383 [diakses tanggal 23 Maret 2013].

Koufogiannakis, Denise dan Leah Vanderjagt. 2012. Open Access:

Current State of The Movement, Challenges, and Opportunities. University of Alberta Libraries. Tersedia dalam www.chla-absc.ca/…/NAHLAOAPresMay2012.ppt pdf [diakses tanggal 27 Januari 2013].

Kroski, Ellyssa. 2008. Open Access and Libraries. Tersedia dalam http://www.slideshare.net/ellyssa/open-access-and-libraries-presentation [diakses tanggal 6 April 2013].

McKiernan, Gerry. 2012. OATs: Open Access Textbooks. Iowa State University Library. Tersedia dalam www.public.iastate.edu/~gerrymck/OATs.ppt [diakses tanggal 24 Februari 2013].

Mukherjee, Bhaskar. 2007. “Evaluating E-Contents Beyond Impact Factor-A Pilot Study Selected Open Access Journals In Library And Information Science”. The Journal of Electronic Publishing (JEP). Vol.10, Issue 2, Spring 2007. Dalam http://quod.lib.umich.edu/j/jep/3336451.0010.208?rgn=main;view=fulltext [diakses tanggal 17 Februari 2013].

Nugraha, Aditya. 2009. “Open Access: Menyuburkan Plagiarisme ?”. Visi Pustaka, Volume 11 Nomor 2 Agustus 2009, h.19-22.

Open Access Jungkalkan Monopoli Jurnal Ilmiah. Republika. co.id, Surabaya, tanggal 28 Januari 2013.

Open Access, Ideologi Melawan Kapitalisme Ilmu Pengetahuan. Dalam http://duniaperpustakaan.com/open-access-ideologi-melawan-kapitalisme-ilmu-pengetahuan/# [diakses tanggal 13 Maret 2013].

‘Open Access’, Ideologi Melawan Kapitalisme Ilmu (1),(2), dan (3). Republika, 05 Februari 2013. Dalam http://www.republika.co.id/berita/trendtek/internet/13/02/05/ [diakses tanggal 13 Maret 2013].

Pendit, Putu Laxman. 2007. “Serba Open di Jagat Informasi: Memahami OA, OAI, dan OAIS dan Hubungannya Dengan Kemelekan Informasi.” Seminar dan Pelatihan Kemelekan Informasi Keberlangsungannya Dari Sekolah ke Perguruan Tinggi, tanggal 10-12 Desember 2007, Perpustakaan UPH.

_________________. 2008. Perpustakaan Digital dari A sampai Z. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri (Cita Kami).

_________________. 2013 “Open Access dan Kepustakawanan Indonesia.” Seminar Nasional Open Access: The Future of Repositories and Scholarly Publishing, tanggal 28 Januari 2013, Perpustakaan UK Petra.

Sander, Hannie. 2007. Double Trouble/Double Pay: Open Access as Alternative to Expensive Access to Information. Seminar New Trends in the LIS Environment. UNISA Research, tanggal 3 Mei 2007, University of Johannesburg.

Satpathy, Kishor Ch. dan Sangita Sahu. Open Access Journals in Library and Information Science: an Overview. Indian Institute of Management. Tersedia dalam www.naclin.org/sangita%20sahu.ppt pdf [diakses tanggal 24 Februari 2013].

Schoepflin, Urs. 2013. “Open Access-Development and Challenges for Scholarly Work and Publishing.” Seminar Nasional Open Access: The Future of Repositories and Scholarly Publishing, tanggal 28 Januari 2013, Perpustakaan UK Petra.

Stevenson, Janet & P. H. Collin. 2006. Dictionary Information & Library Management. Second Edition. London: A & C Black.

Suber, Peter. 2003. “Removing The Barriers to Research: An Introduction to Open Acces for Librarians.” College & Research Libraries News, 64 (February) p.92-94, 113.

__________. 2004. Open Access Overview. Dalam http://legacy.earlham.edu/~peters/fos/overview.htm [diakses tanggal 24 Februari 2013].

Tedd, Lucy A. dan Andrew Large. 2005. Digital Libraries: Principles and Practice in a Global Environment. Germany: K.G. Saur.

Why Open Access? Dalam http://www.arl.org/sparc/openaccess/why-oa.shtml [diakses tanggal 17 Februari 2013].

Yu, Holly dan Scott Breivold. 2008. Electronic Resource Management in Libraries: Research and Practice. New York: Information Science Reference.