Implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi Menjadikan Perpustakaan Nasional RI Lebih Berdaya di Aras Nasional dan Internasional

A. Pendahuluan
Teknologi informasi atau lebih dikenal dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memasuki hampir seluruh ranah kehidupan manusia. Kehadirannya berdampak luas terhadap berbagai aspek kehidupan manusia. Representasi dari teknologi itu yang mewujud dalam bentuk komputer dan internet sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan dan menjadi pencapaian spektakuler dalam sejarah umat manusia. Kehadiran teknologi tersebut, terutama sebagai sarana komunikasi (berinteraksi) dan untuk penyebaran dan akses informasi telah mewarnai kehidupan umat manusia saat ini. Bahkan, kedigdayaan, teknologi itu telah menghilangkan  time and space tyranny (tirani waktu dan ruang) yang menjadi hambatan selama ini. Ketiadaan tirani itu mengakibatkan batas-batas teritorial dan geo politik suatu negara atau wilayah menjadi kabur atau hilang (borderless). Sehingga, umat manusia pun hidup di global village (kampung global).
TIK dalam perspektif penyelenggaraan organisasi atau institusi telah melahirkan reformasi dan transformasi pelaksanaan tugas-tugas atau pekerjaan. Tugas-tugas kantor sebagai contoh, tidak mesti dilakukan atau diselesaikan di kantor saja. Teknologi telah memungkinkan penyelesaian pekerjaaan kantor kapan dan di mana pun kita berada  (teleworking), tanpa mengurangi sedikit pun esensi dan substansinya. Bahkan, hasil pekerjaan kita dapat juga digunakan oleh sejawat kita, tanpa harus berada di tempat yang sama. Kegiatan lain seperti rapat atau konferensi dapat terlaksana tanpa mengharuskan setiap pesertanya berada pada tempat dan waktu yang sama dalam bentuk teleconference. Selanjutnya, akses dan dissemination (penyebarluasan) informasi pun dilakukan dengan cepat, mudah, akurat, dan ekonomis karena difasilitasi oleh TIK. Dengan demikian, kontribusi TIK sangat besar terhadap peningkatan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas individu dan organisasi.
Dalam konteks penyelenggaraan perpustakaan, TIK melahirkan banyak perubahan mendasar.  Perpustakaan bahkan menjadi institusi yang paling banyak menerima pengaruh dan dampak kemajuan pesat TIK. Kemajuan TIK menyebabkan produksi informasi meningkat tajam, sehingga terjadi banjir informasi (information explotion). Banjir informasi salah satunya disebabkan oleh kemampuan teknologi (komputer dan internet)  mengolah, menyimpan, mentransfer, dan menyebarluaskan informasi lebih cepat, akurat, dan ekonomis.
Perkembangan demikian berdampak pada pergeseran tugas-tugas konvensional pustakawan menjadi tugas-tugas yang berkesusuaian dengan karakteristik TIK. Perubahan-perubahan seperti itu telah mengubah wajah dan rupa penyelenggaraan perpustakaan secara drastis pada era informasi ini. Selain itu, kehadiran TIK telah memicu dan memacu lahirnya ekspektasi-ekspektasi baru pemakai perpustakaan guna memenuhi kebutuhan informasinya. 
Dampak dan pengaruh TIK yang demikian akhirnya menggiring perpustakaan ke dalam posisi yang tidak "nyaman". Penyelenggara perpustakaan harus berpikir dan bekerja ekstra keras dalam merespons dan menyahuti kebutuhan perpustakaan terhadap TIK. Konsekuensinya, diperlukan tambahan anggaran dari yang ada selama ini. Anggaran itu diperuntukkan untuk membangun infrastruktur teknologi, pengadaan peralatan dan fasilitas pendukungnya, dana program pendidikan/pelatihan staf (pustakawan), program user empowerment (pemberdayaan pemakai), dan dana pemeliharan dan perbaikan, serta dana pendukung keberlanjutan sistem yang telah terbangun. Dengan kata lain, dukungan finansial jelas sangat determinan untuk  menjamin agar perpustakaan dapat tetap sintas (survive) menjalankan tugas utamanya secara optimal sebagai institusi pelayan informasi.
Perubahan-perubahan yang digambarkan di atas, pada hakikatnya telah mengubah paradigma penyelenggaraan perpustakaan. Paradigma lama yang menempatkan perpustakaan sebagai "intermediate" atau "broker". Hal itu berarti bahwa perpustakaan menjadi "jembatan" bagi pemakai untuk menggunakan sumber-sumber informasi (SSI) perpustakaan. Paradigma tersebut hanya memandang perpustakaan sebagai "gateway" yang secara tersirat perpustakaan dicitrakan sebagai institusi  "pasif". Namun, perkembangan dan pemanfaatan TIK di perpustakaan pada tahap selanjutnya, telah menggeser pandangan itu. Perpustakaan, dengan demikian, diposisikan pada tataran yang lebih "aktif". Yakni, sebagai "centre" atau pusat yang menciptakan hubungan (interaksi) antara pemakai  dan SSI, baik SSI yang ada di dalam maupun di luar perpustakaan.
Berdasarkan fakta-fakta itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) sebagai salah satu tolok ukur (benchmark) atau cermin kemajuan perpustakaan di Indonesia sudah saatnya penyelenggaraannya lebih berbasis TIK. Sebab, pemanfaatan TIK secara integral dan komprehensif  di PNRI akan memiliki multiplier effects terhadap peningkatan kualitas layanan PNRI, tidak hanya di aras (level) nasional, tetapi juga  di aras internasional. Dengan demikian, pemanfaatan TIK di PNRI merupakan pilihan strategis dan fundamental dalam rangka menjadikan PNRI lebih berdaya di aras nasional dan internasional.

B. TIK dan Pencapaian Visi Misi PNRI
Implementasi TIK secara integral dan komprehensif tidak hanya bermanfaat untuk peningkatan kualitas layanan, tetapi hal itu akan memuluskan terwujudnya visi dan misi PNRI. Akselerasi perwujudan visi "Pemberdayaan potensi perpustakaan dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan bangsa" merupakan cita-cita mulia dan sesuai dengan  tujuan negara Republik Indonesia, yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian, visi PNRI itu dielaborasikan ke dalam 4 pernyataan misi, yakni:
1. Membina, mengembangkan, mendayagunakan semua jenis perpustakaan
2. Membina, mengembangkan dan meningkatkan minat dan kebiasaan membaca masyarakat
3. Melestarikan bahan pustaka (karya cetak dan karya rekam) sebagai hasil budaya bangsa
4. Menyelenggarakan layanan  perpustakaan
Untuk mewujudkan visi dan misi PNRI di atas, kehadiran TIK tidak dapat dinafikan. Bahkan, TIK di perpustakaan memberikan jaminan terhadap pencapaian efisiensi dan efektivitas layanan.  Hal ini tidak berlebihan. Pengalaman sejumlah negara yang sukses menyelenggarakaan perpustakaan nasionalnya dengan basis teknologi menunjukkan hasil yang baik. Kisah sukses dan pengalaman mereka merupakan pelajaran berharga dan sumber inspirasi untuk melakukan hal yang sama (adopsi) di PNRI dan juga perpustakaan-perpustakaan lainnya. Hal itu sangat berguna untuk menyusun sejumlah agenda fundamental dan strategis untuk pengembangan dan pemanfaatan TIK di PNRI pada tahap berikutnya.
Sebagai perpustakaan pembina, PNRI memiliki tugas dan tanggung jawab memajukan berbagai jenis perpustakaan di Indonesia. Pembinaan itu merupakan salah satu bentuk layanan "wajib" PNRI. Besarnya jumlah perpustakaan yang menjadi binaan merupakan tantangan tersendiri bagi PNRI. Dan, pada saat bersamaan PNRI dihadapkan pada sebuah realita di mana kondisi perpustakaan-perpustakaan Indonesia yang "memprihatinkan", terutama perpustakaan sekolah, umum, dan sebagian perguruan tinggi swasta.  Tidak dinegasikan, kalau kondisi tersebut sesungguhnya berakar dan bersumber pada sejumlah masalah klasik kepustakawanan Indonesia, antara lain minimnya dukungan lembaga induk, ketidakmemadaian anggaran, minimnya jumlah pengelola perpustakaan yang kompeten dan profesional.
Idealnya,  PNRI harus memiliki bergaining position kuat sehingga dapat memberikan "tekanan" terhadap pihak-pihak penentu kebijakan guna memajukan dunia perpustakaan Indonesia.  Sehingga, realita di atas tidak lagi kita jumpai. Lahirnya Undang-Undang No. 43 Tahun 2007 merupakan angin segar bagi dunia perpustakaan Indonesia. Undang-Undang tersebut harus segera ditindaklanjuti dengan lahirnya Peraturuan Pemerintah (PP). Di sini PNRI kembali mendapatkan pekerjaan "penting" untuk memfasilitasi  dan mendorong kelahiran PP dari Undang-Undang tersebut. 
Pembinaan PNRI terhadap perpustakaan-perpustakaan Indonesia dapat dilakukan secara simultan dengan memanfaatkan TIK. Sebab, bila pola pembinaan masih bersifat konvensional, maka dipastikan membutuhkan waktu lebih lama dan anggaran lebih besar. Sementara, zaman mengharuskan kita melakukan akselarasi pengembangan perpustakaan-perpustakaan Indonesia agar tidak semakin tertinggal.
Selama ini, buku-buku pedoman atau dokumen terkait tentang penyelenggaraan perpustakaan banyak dihasilkan PNRI yang merupakan media untuk pembinaan perpustakaan. Kalau content dokumen seperti itu tersedia dalam bentuk digital dan aksesibel di situs web (web site) PNRI, manfaatnya akan lebih besar bagi perpustakaan-perpustakaan Indonesia. Penyebarluasan informasi dari content seperti itu akan lebih efektif dan ekonomis karena jangkauannya yang tak terbatas. Namun, hal yang harus diperhatikan secara serius adalah desain situs web PNRI harus tampil lebih menarik, interaktif, dan user-friendly (akrab pengguna) sehingga pemanfaatannya lebih tinggi. 
Pun, kalau content dokumen pengembangan perpustakaan dan informasi terkait lainnya dapat tersaji di situs web PNRI, maka kegiatan penyebaran literatur sekunder yang setiap tahun dilaksanakan di beberapa Badan Perpustakaan Provinsi sudah saatnya dihentikan. Karena,  di samping kegiatan itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit, juga jangkauannya yang terbatas. Sementara, literatur sekunder yang disebarkan adalah Katalog Induk Nasional (KIN) dan Bibliografi Nasional Indonesia (BIN) versi tercetak dan digital (CD ROM) yang juga bisa disajikan di situs web PNRI.
Kita patut merasa "malu", karena perpustakaan nasional kita belum menyajikan informasi sejenis KIN dan BIN sebagaimana yang tersedia di situs web National Library of Australia. Padahal, informasi seperti itu adalah produk kita dan seharusnya menjadi aset yang berharga. Di situs web itu pula tersebut tersedia informasi tentang berbagai literatur penting terbitan Indonesia yang bisa jadi "sulit" kita temukan di PNRI.
Untuk menjamin tersedianya layanan berkelanjutan bagi perpustakaan binaan PNRI, maka informasi tentang standar penyelenggaraan perpustakaan sebaiknya disajikan bentuk Frequently Ask Questions (FAQ) di situs web PNRI. Selama ini, FAQ di situs web PNRI baru berisi hal-hal yang bersifat umum, terutama tentang PNRI itu sendiri. Penyempurnaan layanan seperti ini, dapat dilakukan dengan menciptakan wadah yang lebih interaktif berupa fasilitas chatting, khusus untuk hal-hal yang berkenaan dengan pengembangan perpustakaan atau hal-hal terkait lainnya.
Kreativitas dan inovasi dari PNRI dalam memanfaatkan teknologi seperti tersebut di atas, akan meningkatkan kualitas layanan kepada seluruh perpustakaan di Indonesia. Di samping itu, ketersediaan akses tentang pengembangan perpustakaan akan bermanfaat besar bagi  perpustakaan-perpustakaan Indonesia agar tetap berada pada jalur pengembangan yang tepat sasaran di tengah zaman yang sarat perubahan. Bila terwujud, maka jagat perpustakaan Indonesia pun dapat memberikan kontribusi lebih besar terhadap pencerdasan kehidupan bangsa dan pada saat bersamaan kepustakawanan Indonesia mendapatkan pencitraan positif.
Keberhasilan PNRI mewujudkan implementasi TIK yang representatif dan standar tidak hanya bermanfaat bagi internal PNRI, tetapi juga akan  menjadi sebuah wujud nyata terbangunnya reputasi dan pencitraan positif PNRI masa depan. Sekaligus, hal itu merupakan jawaban atas keraguan sejumlah pihak akan arti dan peran yang sesungguhnya PNRI sebagai perpustakaan pembina di Indonesia. Kesuksesan PNRI menerapakan TIK juga akan menumbuhkan kepercayaan perpustakaan Indonesia untuk lebih percaya dan kemudian mengadopsi praktik-praktik terbaik PNRI. Dalam perspektif ini, PNRI harus menjadi "tauladan" atau "kiblat" bagi pengembangan perpustakaan Indonesia, terutama dalam aspek TIK.
Ketiadaan "perpustakaan tauladan" menyebabkan pengembangan sejumlah perpustakaan Indonesia terkesan berjalan sendiri-sendiri, terutama pengembangan TIK-nya. Padahal, bila PNRI mewadahi perpustakaan-perpustakaan itu akan banyak manfaatnya, yakni antara lain berupa dihasilkannya skema komprehensif tentang rencana pengembangan TIK, program atau software untuk otomasi perpustaakaan yang dapat digunakan secara "gratis" bagi seluruh perpustakaan Indonesia. Kita pun dapat mengefisiensikan dana  pengembangan software karena dilakukan secara bersama.
Pangkalan data (database) perpustakaan Indonesia menjadi lebih mudah dipertukarkan di antara perpustakaan-perpustakaan di  Indonesia. Sehingga, akan terbangun sebuah pangkalan data nasional yang memfasilitasi akses terhadap seluruh karya cetak dan karya rekam yang tersebar di tanah air. Selain itu, perpustakaan yang tidak memadai  anggarannya akan terbantu. Perpustakaan-perpustakaan itu dapat menggunakan software gratis itu sebagai hasil pengembangan bersama di bawah bendera PNRI. Selanjutnya, hal-hal tersebut akan memudahkan terbentuknya sebuah sistem jaringan perpustakaan Indonesia yang integral dan komprehensif sebagai wujud nyata dari kerja sama dan kemitraan perpustakaan-perpustakaan Indonesia. Sistem jaringan perpustakaan yang terbentuk merupakan dasar untuk membangun kerja sama lebih luas, termasuk dengan perpustakaan dan pusat-pusat informasi yang ada berbagai negara.
Kolektivitas pengembangan TIK di perpustakaan sangat diperlukan sebagaimana selama ini dipraktikkan oleh negara-negara maju. Proyek pengembangan biasanya dalam  bentuk suatu konsorsium atau task force (gugus tugas). Hal itu dilakukan bukan hanya karena alasan efisiensi anggaran. Tetapi, untuk menjaminkan bahwa produk yang dihasilkan lebih intergral dan  komprehensif guna menjawab berbagai kebutuhan perpustakaan. Dengan demikian, posisi sentral yang dialamatkan ke PNRI untuk mengambil peran lebih besar (berada di lini depan) menjadi sebuah keniscayaan. Bukan karena hanya didasarkan pada kewenangan yang dimilikinya, tetapi PNRI memiliki kemampuan lebih guna membangun sebuah "gugus tugas nasional" yang melakukan studi kelayakan dan mengkalkulasi faktor-faktor keberhasilan dan ketidakberhasilan suatu implementasi TIK di perpustakaan. Sehingga, skema dan produk yang dihasilkan gugus tugas tersebut lebih laik dan standar.

C. Perpustakaan Digital PNRI: sebuah Keniscayaan
Meskipun keberadaan TIK bukan satu-satunya indikator keberhasilan penyelenggaraan perpustakaan. Tetapi, kehadirannya telah berkontribusi besar terhadap kesuksesan perpustakaan memberikan layanan lebih cepat, akurat, dan ekonomis. Terdapat begitu banyak kisah sukses yang beredar luas tentang keberhasilan penyelenggaraan perpustakaan yang berbasis TIK. Tidak sampai di situ. TIK sebagai tren global merupakan salah satu syarat utama untuk tetap sintas dalam tatanan  "pergaulan" di jagat perpustakaan internasional.
Sekarang, kita menyaksikan pamandangan umum di mana informasi di sekitar kita telah terdigitalisasi dalam jumlah besar atau masif. Keadaan tersebut didukung oleh kemajuan pesat TIK, ketersediaan infrastruktur jaringan, dan perkembangan hardware dan software yang cepat, serta user-friendly-nya teknologi itu. Hal ini juga didukung oleh keberadaan internet yang berkembang pesat dan menyatu dalam "jagat/ruang" maya yang biasa disebut dengan cyberspace. Kemajuan-kemajuan pesat itu makin meninggikan kecendurungan masyarakat untuk terus menghadirkan teknologi dalam setiap aspek kehidupan. Akhirnya, kondisi ini berkontribusi terhadap lahirnya masyarakat baru – masyarakat informasi (information society) atau masyarakat berpengetahuan (knowledge society).
Dalam perspektif perpustakaan, kemajuan TIK yang melahirknan pergeseran paradigma penyelenggaran perpustakaan, sebagaimana digambarkan di bagian pendahuluan tulisan ini. Paradigma penyelenggaran perpustakaan modern dapat juga dibahasakan dengan "ownership vs access" (kepemilikian versus akses). Konsep baru itu dapat digambarkan secara sederhana dengan melihat balik keadaan sebelumnya. Beberapa dekade lalu, indikator utama suatu perpustakaan yang "bagus" adalah yang memiliki koleksi (ownership) banyak dan lengkap yang berada di gedung perpustakaan yang besar nan luas. Kebesaran atau "kedigdayaan" suatu perpustakaan dalam konteks ini, teramat sangat ditentukan oleh aspek-aspek fisik, seperti jumlah  koleksi dan luas/besarnya gedung. Namun sekarang, perpustakaan yang dikategorikan "bagus" tidak cukup hanya diukur dari faktor-faktor fisik seperti itu, melainkan pada kemampuan perpustakaan  menyediakan akses seluas-luasnya terhadap berbagai jenis dan format sumber-sumber informasi (SSI), baik yang ada di dalam maupun di luar perpustakaan.
Ketersediaan akses luas terhadap SSI telah menciptakan fenomena baru, yakni disintermediasi. Disintermediasi sebagai kondisi yang menyebabkan hilangnya peran perantara atau broker yang selama ini diperankan dengan baik oleh perpustakaan. Sehingga, jalur distribusi informasi kepada pemakai menjadi lebih pendek. Pemakai perpustakaan, dengan demikian, dapat menggunakan SSI tanpa harus bersentuhan dengan perpustakaan (berkunjung), tetapi akses SSI dapat langsung kepada penghasil informasi (penerbit atau penyedia koleksi elektronik/digital).
Fakta-fakta itu membawa pesan penting agar PNRI mengakselarasi kelahiran perpustakaan digital (digital library) yang lebih representatif guna meningkatkan kualitas dan jangkuan layanan PNRI. Dari aspek koleksi hal ini sangat dimungkinkan. Karena, PNRI memiliki begitu banyak koleksi "unik dan langka" yang harus disebarluaskan kepada publik, di aras domestik dan internasional.
Koleksi-koleksi PNRI tersebut, dari aspek fisik dan usia sudah  tidak memungkinkan dipajang dan digunakan secara lebih "bebas" oleh pemakai perpustakaan. Kalaupun dipajang, maka dipastikan bahwa penggunanya akan terbatas pada orang-orang yang berkunjung di PNRI saja. Karena itu, PNRI dapat merespons lahirnya perpustakaan digital sebagai kebutuhan dan pada saat bersamaan, ia juga harus menyiapkan layanan sambung jaring (online). Sebab, bila tidak merespons tren seperti itu,  bisa jadi PNRI akan ditinggalkan pemakainya karena telah tersedia sumber informasi yang lebih lengkap, yakni internet. Sebab, pelan tapi pasti perpustakaan digital dan layanan online menjadi  faktor penting untuk mendukung peningkatan kualitas layanan PNRI.
Layanan sambung jaring PNRI dibangun dengan bertitik tolak pada prinsip yang didasarkan pada ketersediaan layanan perpustakaan tanpa terkendala oleh ruang dan waktu. Layanan seperti ini dinyatakan dalam formula 24/7. PNRI akan menyediakan layanan non-stop, 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan. Dengan demikian, layanan perpustakaan dapat dimanfaatkan kapan dan di mana saja, tanpa mengharuskan pengguna berkunjung (secara fisik) ke PNRI sebagaimana terjadi selama ini. Salah satu bentuk layanan sambung jaring yakni electronic reference.
Keuntungan lain dari ketersediaan layanan elektronik seperti di atas adalah koleksi dilayankan dapat digunakan secara simultan oleh banyak pemakai perpustakaan dari tempat yang berbeda. Digitalisasi koleksi dan layanan sambung jaring tersebut merupakan salah satu solusi cerdas untuk mengoptimalkan  layanan dan pemanfaatan seluruh sumber daya koleksi PNRI. Hanya saja, sentuhan kreativitas sangat diperlukan untuk menyajikan koleksi digital dan layanan yang menyertainya menjadi lebih intraktif dan berdaya tarik tinggi,  misalnya, dalam bentuk multimedia.
Penyajian koleksi digital yang baik harus pula didukung dengan eksistensi situs web PNRI yang standar. Situs web PNRI sekarang ini harus lebih disempurnakan, sehingga dapat menghilangkan kesan bahwa situs itu hanya berisi warta dari kejadian atau peristiwa yang berhubungan dengan PNRI saja. Idealnya, situs web PNRI merupakan sebuah media yang integral dan komprehensif yang menjadi wadah akses efektif terhadap SSI di PNRI. Artinya, di situs web itu tersedia juga OPAC dan search tool lain yang user-friendly, sehingga pemakai dapat mem-browsing keseluruhan koleksi perpustakaan digital PNRI. Untuk itu, PNRI dari sekarang harus mengagendakan sebuah rencana pengembangan perpustakaan digital yang sistematis dan berkelanjutan agar ekspektasi pemakai dapat direspons dengan lebih baik.
Agenda pemanfaatan TIK, baik untuk mendukung terwujudnya perpustakaan digital dan juga terbangunnya sistem TIK di PNRI yang integral dan komprehensif akan berdampak luas, termasuk sebagai modal dasar guna membangun kerja sama dan kemitraan dengan perpustakaan dan institusi terkait lainnya.
Salah satu bentuk kerja sama yang harus dijejaki PNRI adalah dengan Direktorat Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan Nasional. Sebab, institusi tersebut akan melanggan database ProQuest yang diperuntukkan bukan hanya bagi civitas akademika perguruan tinggi, tetapi juga bagi masyakakat umum. Kehadiran ProQuest yang antara lain  berisi electronic journal akan besar manfaatnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia.
Ketersediaan database seperti itu akan memperkaya SSI PNRI dan dengan sendirinya akan berkontribusi terhadap terbangunnya citra positif PNRI. Di sisi lain, hal itu dapat meningkatkan jumlah pemakainya. Dengan demikian, PNRI akan semakin penting peranannya dalam sistem nasional perpustakaan Indonesia karena mampu menciptakan kondisi atau memfasilitasi publik untuk berinteraksi, berkolaborasi, belajar, dan berbagi informasi satu sama lain, baik langsung maupun tidak langsung.

D. Pustakawan PNRI
Pada bagian sebelumnya dipaparkan sejumlah manfaat implementasi TIK di PNRI yang dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas layanan. Faktor utama yang turut menentukan berhasil tidaknya implementasi teknologi itu adalah pustakawan. Sebagai "lokomotif utama" penyelenggaraan perpustakaan, pustakawan mesti berkolaborasi dengan SDM yang memiliki kompetensi di bidang teknologi informasi, baik di internal PNRI maupun di luarnya. Kolaborasi ini penting guna membangun sistem perpustakaan yang integral dan komprehensif dalam rangka mewujudkan layanan perpustakaan berkualitas.
Sejumlah karakteristik lingkungan baru (era digital) sebagai akibat dari perkembangan TIK, menghadapkan pustakawan pada sejumlah kenyataan yang tak terhindarkan. Kenyataan itu dapat berupa, antara lain: akses lebih besar terhadap berbagai jenis informasi, kecepatan akses informasi, kompleksitas temuan informasi, analisis dan hubungan informasi, teknologi yang berubah secara konstan dan terus menerus, ketersediaan anggaran memadai terhadap perkembangan teknologi dan hal-hal terkait lainnya. Di sini, pustakawan bertanggung jawab guna menjamin bahwa arus informasi dapat berjalan secara efektif dan efesien – dari sumber informasi sampai kepada pengguna informasi (pemakai perpustakaan).
Keadaan tersebut di atas mengharuskan pustakawan membekali diri dengan kompetensi dan profesionalisme tinggi. Kompetensi dan profesionalisme pustakawan harus ditingkatkan dari waktu ke waktu agar tugas dan predikat baru yang dialamatkan kepada pustakawan dapat terlaksana dengan baik. Misalnya, pustakawan pada era digital ini harus seorang yang bervisi, mampu melihat jauh kepada masa depan. Pustakawan pun harus lebih proaktif mempersiapkan tindakan-tindakan antisipatif dan preventif terhadap berbagai perkembangan terbaru yang sedang dan yang mungkin terjadi. Karena itu,  pustakawan harus menjadi pembelajar seumur hidup (lifelong learner) agar lebih sensitif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.
Pembelajaran seumur hidup harusnya melekat pada keseharian pustakawan. Pembelajaran merupakan titik awal suatu proses yang tiada berakhir dan hal kegiatan itu menunjukkan adanya kedinamisan. Dan, pustakawanan itu adalah profesi yang  dinamis. Kedinamisan menumbuhkan pembaruan secara terus menerus, sehingga pengetahuan, ketrampilan, dan sikap pustakawan tetap relevan dan sesuai dengan kebutuhan zaman. Fleksibilitas tinggi dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan yang terus berubah, multidisiplin atau generalis, dan memiliki komitmen tinggi terhadap profesi pustakawan merupakan syarat lain yang harus dimiliki pustakawan era digital.
Jelas, bahwa keberadaan TIK di PNRI, tidak hanya mengubah peran pustakawan di sana menjadi lebih kompleks, tetapi juga memunculkan pekerjaan-pekerjaan baru yang berhubungan dengan aspek organisasi, penyebaran informasi, dan pekerjaan-pekerjaan lain yang berhubungan dengan akses terhadap sumber-sumber informasi. Sehingga, sekarang dan masa datang, pustakawan di PNRI kurang tepat jika hanya diposisikan sebagai penyedia informasi (information provider) atau penjaga ilmu pengetahuan (the keeper of knowledge) semata. Tetapi, mereka adalah penyedia akses informasi (information access provider). Peran pustakawan sebagai information provider itulah yang mengisyaratkan perlunya implementasi TIK lebih luas di PNRI.
Tidak hanya sampai di situ, pustakawan masa kini (era digital) juga menyandang sejumlah tugas dan peran baru sebagai syarat untuk tetap eksis dan sanggup merespons kebutuhan para pengguna perpustakaan yang lebih berorientasi pada TIK. Tugas dan peran baru pustakawan tersebut tersaji dalam Tabel 1 berikut ini.

Tugas dan peran baru pustakawan yang semakin kompleks pada era digital ini harus dibarengi dengan peningkatan kemampuan pustakawan untuk berperan tidak hanya sebagai pustakawan semata, tetapi mereka harus berperan sebagai peneliti, perencana, pembimbing, manajer informasi, assessor, problem solver. Dengan kata lain, pustakawan masa kini harus menjadi sosok yang "serba bisa". Keserbabisaan pustakawan dapat ditunjukkan dengan pengetahuan dan kemampuannya tentang masalah-masalah lain yang tidak terkait secara langsung dengan tugasnya sebagai pustakawan, misalnya masalah keuangan, standar-standar, peraturan-peraturan, ketentuan-ketentuan hukum, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan penyelenggaraan perpustakaan.

Untuk mendukung terlaksananya tugas dan peran baru pustakawan tersebut secara optimal, pustakawan harus bertidak sebagai manajer yang mampu membangun kerja sama, kolaborasi, dan kemitraan yang efektif dengan para kolega seprofesi, pemakai, dan para pemangku kepentingan (stakeholders) perpustakaan.

Pengetahuan pustakawan PNRI tentang perkembangan hardware dan software terkini merupakan hal lain yang harus dimiliki pustakawan di dalam digital environment. Pun, menjadi penting bagi pustakawan PNRI untuk memiliki berbagai ketrampilan (technology skills)  yang berhubungan TIK. Dengan begitu, pustakawan dapat berkontribusi maksimal terhadap peningkatan kualitas layanan PNRI. Ketrampilan yang harus dimiliki pustakawan era sekarang (OCLC, 2006), yakni:
1. Word Processing Skills
2. Spreadsheet Skills
3. Database Skills
4. Electronic Presentation Skills
5. Web Navigation Skills
6. Websites Design Skills
7. E-mail Management Skills
8. Digital Camera Skills
9. Computer Network Knowledge Applicable to your local system
10.File Management & Windows Explorer Skills
11.Downloading Software From the Web (Knowledge including e-books)
12.Installing Computer Software onto a Computer System
13.WebCT or Blackboard Teaching Skills
14.Video Conferencing Skills
15.Computer-Related Storage Devices (disks, CDs, USB drivers, zip disks, DVDs)
16.Scanner Knowledge
17.Knowledge of PDAs
18.Deep Web Knowledge
19.Education Copyright Knowledge
20.Computer Security Knowledge
Penguasaan terhadap sejumlah technology skills plus soft skills bagi pustakawan PNRI merupakan kebutuhan mutlak yang tidak hanya diperlukan untuk meningkatan kualitas layanan, tetapi juga untuk menjamin pencapaian visi dan misi PNRI secara efektif dan efisien.

E. Penutup
Teknologi informasi dan komunikasi (TIK) bukan lagi sebagai sebuah fenomena, tetapi telah menjadi sebuah keniscayaan. Teknologi ini telah memasuki hampir seluruh aspek kehidupan manusia, tak terkecuali perpustakaan.  Bahkan, perpustakaan merupakan institusi yang paling banyak menerima pengaruh dari perkembangan pesat teknologi tersebut. Akibatnya, penyelenggaraan perpustakaan mengalami banyak perubahan dan mengarah pada pemanfaatan TIK secara menyeluruh.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) sebagai perpustakaan yang menjadi tolok ukur perkembangan jagat perpustakaan nasional harus leading dalam penyelenggaraan perpustakaan, terutama dalam mengimplementasikan TIK. Keberhasilan PNRI menerapkan TIK menjadi sebuah "proyek percontohan" bagi perpustakaan-perpustakaan Indonesia yang merupakan binaan PNRI.

Dalam skop lebih kecil, kehadiran TIK di PNRI akan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kualitas layanannya. Tidak hanya sampai di situ, TIK diyakini akan menjadi faktor menentukan guna mewujudkan PNRI menjadi salah satu perpustakaan nasional yang terkemuka dan diperhitungkan di kawasan regional dan internasional.

Kedigdayaan teknologi yang diimplementasikan di PNRI tidak akan berarti apa-apa kalau tidak didukung oleh ketersedian pustakawan yang memiliki kompetensi dan profesionalisme tinggi. Karena itu, PNRI harus menyiapkan berbagai program pengembangan staf (staff development) yang berkelanjutan yang dapat berupa program pendidikan dan pelatihan sehingga kompetensi  dan profesionalisme pustakawan meningkat. Semoga.