IndoMARC dan Notasi bahasa-bahasa di Indonesia

1. Pendahuluan
MARC singkatan dari Machine Raeadable Catalogue sduah ada sejak awal 1960an, dimulai tatkala Library of Congress menjajagi kemungkinan menggunakan teknik otomasi pada katalognya. Setelah berusahaa beberapa tahun termasuk kerjasama dengan The British , muncullah MARC yang menjadi standar internasional untuk catuman katalog. MARC kemudian ditiru oleh negara lain sesuai dengan kebutuhan masing-masing dengan nama masing-masing seperti AUSMARC untuk Australia, ThaiMARC untuk Thailand UK MARC untuk Inggris. Indonesia kemudian mengembangkan MARC yang disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia dengan nama IndoMARC.

2. Komponen MARC
MARC terdiri dari 2 bagian. Bagian pertama terdiri dari (1) label cantuman yang mencakup perintah dan informasi pengolahan seperti panjang cantuman, format (monograf, materi  geografis, rekaman suara dll). (2) direktori yang merupakan data pada ruas pengendalian dan data dalam sebuah cantuman dan (3) ruas kendali, merupaman ruas panjang tetap, diisi oleh pengatalog dan terdiri dari data tentang tanggal pengisian, negara penerbtian, bahasa dll.  Bagian kedua merupakan direktori cantuman yang membagi data menjadi ruas dan subruas. Ruas ditandai  oleh tengara  yang mewakili cantuman biblkografis sertat titik akses.  Adapun  struktur bagian kedua terdiri dari bagian sebagai berikut:
001 – 009 Ruas kendali
010 – 099 Keterangan kendali, nomor  dan kode
100 – 199 Entri utama
200 – 246 Judul dan ruas yang terkait
250 – 299 Edisi, impresum dsb
300 – 399 Deskripsi fisik
400 – 499 Pernyataan seri
500 – 599 Catatan
600 – 599 Akses subjek
700 – 799 Catatan, untuk entri tambahan
800 – 840 Entri tambahan seri
850 –  Informasi kepemilikan
900 – 948 Referensi
949 – 999 Dicadangkan untuk implikasi lokal
Ruas 41 adalah kode bahasa sedangkan ruas 82 adalah nomor panggil Dewey Decimal Classification.  Pengisian kedua  ruas itu yanng menjadi pokok bahasan karangan ini.

3.Kode dan notasi  bahasa
3.1. Kode bahasa
Kode bahasa diisi dengan singkatan 3 huruf dari bahasa teks dokumen yang dikatalog. Bila pembaca menggunakan pendekatan literary warrant artinya  dokumen yang terbit dalam bahasa-bahasa daerah dari Indonesia sangat terbatas. Bibliografi Nasional Indonesia(BNI)  sebagai wadah yang mencatat semua terbitan Indonesia berdasarkan Undang-Undang Wajib Serah Simpan Karya Cetak dan Rekam tidak menunjukkan wajah sesungguhnya dari terbitan Indonesia. Kurang lengkapnya cakupan BNI karena Undang-Undang Wajib Serah Simpan sering disebut UU Deposit – tidak dilaksanakan dengan semestinya sehingga penerbit dapat mengelak tanggung jawab mengirimkan contoh terbitannya ke Perpustakaan Nasional Republik Indonesia  (PNRI), faktor intern di lingkungan PNRI yang membatasi ckupan BNI akibat anggaran yang sudah dipatok, kurang  agresifnya pihak PNRI mengejar terbitan daerah (bandingkan misalnya pihak  Library of Congress Jakarta Office atau Australian National Library Jakarta Office yang mengirim semacam "hunting team" untuk berburu terbitan di daerah), belum adanya kompensasi bagi penerbit untuk terbitan yang harganya  mahal (misalnya ensiklopedia, buku tebrita khusus) seperti di Afrika Selatan dan New Zealand yang memberikan  bantuan keuangan sebesar 50% dari harga buku khusus sebelum diserahkan ke  perpustakaan nasional masing-masing.

Dengan kondisi demikian maka tidak banyak kode bahasa-bahasa daerah yang perlu dimasukkan ke IndoMARC berdasarkan dokumen yang dimiliki PNRI. Di segi lain, terbitan Library of Congress seperti USMARC Code List for Languages menunjukkan berbagai kode bahasa-bahasa derah sebagai berikut:

Data tersebut disusun Library of Congress  dengan menggunakan prinsip literary warrant sehingga disimpulkan bahwa Library of Congress  memiliki buku dalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia dan sebahagian buku itu tidak tercatat oleh PNRI.

Dari segi pengisian ruas 008 IndoMARC timbul masalah lain ialah kemungkinan adanya buku dalam bahasa-bahasa daerah Indonesia  yang mungkin terbit atau sudah terbit tanpa dicatat dalam bibliografi. Pemberian kode tiga huruf dapat diingkat dengan meneglompokkan bahasa-bahasa dalam kelompok yang lebih ebsar. Dalam hal ini peta bahasa yang dimuat dalam Ethnologue(http://www.ethnologue.com/show) banyak membantu.

Karena MARC juga digunakan di negara lain, maka mungkin timbul kode yang sama untuk bahasa yang berbeda. Untuk mencegah hal tersebut maka pengelola IndoMARC dituntut lebih giat memeriksa terbitan MARC di negara lain terutama negara yang memiliki banyak bahasa seperti negara-negara Amerika Selatan (bahasa-bahasa Indian) dan sebelah selatan Sahara.

3.2. Notasi DDC
DDC edisi 22 (2003) pada  Tabel 6 tidak menunjukkan notasi yang cukup untuk meliputi bahasa-bahasa daerah di Indonesia.

Tabel 6 Langueages dari DDC edisi 22 tidak cukup komprehensif untuk bahasa-bahasa di Indonesia. Dalam hal demikian kita harus melihat peta bahasa yang mencakup bahasa-bahasa di Indonesia serta  jumlah petutur bahasa yang bersangkutan sekali lagi kita dapat menggunakan Ethnologue(http://www.ethnologue.com/show serta data dari Badan Pusat Statistik. Untuk membuat notasi bahasa-bahasa di Indonesia, kita harus menentukan ambang batas bahasa yang dapat diberi nota. Secara acak penulis menggunakan  angka 1,5 juta petutur bahasa yang akan diberi notasi. Angka 1,5 juta bersifat acak, dapat dinaikkan atau diturunkan. Kalau dinaikkan maka  akan semakin sedikit bahasa-bahasa di Indonesia yang memperoleh notasi DDC, sebaliknya bila diturunkan menjadi 1 juta akan semakin banyak bahasa yang memperoleh notasi.

Dengan menggunakan angka acak 1,5 juta, dengan memperhatikan peta bahasa Austronesia yang mencakup wilayah Indonesia, maka usulan notasi bahasa-bahasa di Indonesia  adalah sebagai berikut:

.992 22 Bahasa-bahasa Malayo-Polynesia dari Indonesia,  Malaysia, Singapura, Brunei, Timor Timur,   bahasa-bahasa Chamic Subdivisi standar ditambahkan untuk bahasa-bahasa Malayo-Polynesia   dari Indonesia,  Malaysia, Singapura, Brunei, Timor Timur, bahasa-bahasa Chamic bersama-sama;  untuk bahasa Malayo-Polynesia dari Indonesia,  Malaysia, Singapura, Brunei, Timor Timur  bersama-sama; untuk bahasa-bahasa Malayo-Polynesia dari Indonesia sendiriTermasuk bahasa- bahasa Malayo-Polynesia tengah Masukkan di sini bahasa-bahasa Melayu lokal
-992 23 Bahasa-bahasa Malayo-Polynesia Jawa dan Bali
-992 232 Sunda
-992 234 Madura
-992 238 Bali
-992 24 Bahasa-bahasa Malayo-Polynesia di Sumatera
-992 242 Aceh
-992 244 Minangkabau
-992 246 Bahasa-bahasa Batak
-992 246 2 Batak Toba
-992 246 6 Batak Dairi
-992 248 Lampung
-992 25 Bahasa-bahasa Malalyo-Polynesia di Kalimantan, Sarawak, Sabah, Brunei
-992 256 Banjar
-992 26 Bahasa-bahasa Malayo-Polynesia di Sulawesi
-992 262 Bugis
-992 264 Makasar
-995 Bahasa-bahasa Malayo-Polynesia timur     

Termasuk bahasa-bahasa Halmahera Selatan, New Guinea barat
Masukkan di sini karya komprehensif mengenai bahasa-bahasa Oceania, bahasa-bahasa Austronesia dari Melanesia dan Mikronesia

Dengan notasi di atas diharapkan notasi untuk bahasa-bahasa di Indonesia dapat ditampung termasuk bahasa dengan petutur kurang dari 1 juta.

4. Penutup
IndoMARC sebagai format berstruktur  memungkinkan cantuman bibliografis standar dimanipulasikan oleh komputer dalam cara baku guna memudahkan pertukaran data cantuman antara perpustakaan. Dalam pengisian lembar IndoMARC terdapat ruas 040 Kode bahasa dan 082 nomor panggil DDC. Karena IndoMARC berorientasi pada dokumen yang diterbitkan di Indonesia yang memiliki sekitar 628 bahasa, walaupun tidak semuanya memiliki dokumen tentang hasa tersebut serta tidak semuanya memperoleh kode dan notasi, maka perlu dikembangkan kode dan notasi bahasa yang mampu menampung kebutuhan bahasa-bahasa daerah. Untuk itu diusulkan pemberian kode bahasa serta perluasan Tabel 6 dari DDC edisi 23 yang mencakup seluruh bahasa di Indonesia.