Kajian Terhadap Referensi Orasi Ilmiah Profesor Riset Bidang Zoologi

PENDAHULUAN

Pusat Penelitian Biologi-LIPI merupakan salah satu Pusat Penelitian di bawah koordinasi Kedeputian Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati, LIPI. Semula Pusat Penelitian Biologi dikenal dengan nama Lembaga Biologi Nasional (LBN). LBN yang dibentuk pada tahun 1962, pada awalnya merupakan bagian dari Lembaga Pusat Penyelidikan Alam (LPPA) yang berada di bawah naungan Majelis Ilmu Pengetahuan Indonesai (MIPI). Seiring dengan perubahan waktu dan kondisi di Indonesia, MIPI berubah menjadi LIPI, kemudian pada tahun 1986, LBN berubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan Biologi, dan sejak tahun 2000 diubah menjadi Pusat Penelitian Biologi.

Selain tugas dan pokoknya, berdasarkan SK Kepala LIPI No. 1973/2002, Pusat Penelitian Biologi-LIPI ditunjuk sebagai pelaksana harian otoritas keilmuan (Scientific Authority) dalam rangka konservasi tumbuhan dan satwa liar serta dalam rangka pelaksanaaan CITES (Convention on International Trade in Endangerd Species of Wild Fauna and Flora) di Indonesia. Tugasnya adalah melaksanakan tugas-tugas harian yang berkaitan dengan kewenangan LIPI sebagai Otoritas Keilmuan berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 dan 8 Tahun 1999.

Perpustakaan Pusat Penelitian Biologi-LIPI mempunyai tujuan mendukung tercapainya visi dan misi Pusat Penelitian Biologi-LIPI. Salah satu dari visi dan misi tersebut adalah Perpustakaan Pusat Penelitian Biologi-LIPI diharapkan menjadi perpustakaan terbesar dalam bidang biologi, menajdi rujukan literatur terbesar di Indonesia serta memberikan pelayanan informasi bidang biologi yang maksimal, cepat, dan memuaskan. Pengguna perpustakaan terutama adalah para peneliti di Pusat Penelitian Biologi-LIPI tentu menginginkan koleksi yang mendukung kegiatan penelitiannya.

Gelar Profesor Riset merupakan pengakuan, kepercayaan dan penghormatan yang diberikan atas keberhasilan seorang PNS dalam mengemban tugasnya di bidang litbang. Profesor Riset merupakan jenjang tertinggi pada jabatan peneliti di antara jenjang jabatan yang ada, untuk dapat mencapai jabatan tersebut diperlukan perjuangan dan usaha yang tidak mudah. Oleh karena itu pencapaian jenjang jabatan Profesor Riset merupakan prestasi kerja yang membanggakan.

Guna mempertanggungjawabkan kompetensi jabatan yang dicapai itu, perlu ada kesempatan khusus yang dapat digunakan para Profesor Riset untuk menyampaikan pandangan dan pemikiran mereka terhadap pengembangan bidang ilmunya. Kesempatan itu terjadi pada saat saat yang bersangkutan dikukuhkan sebagai Profesor Riset.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai instansi pembina jabatan peneliti memfasilitasi penyelenggaraan acara pengukuhan Profesor Riset. Pengukuhan pada dasarnya merupakan bentuk pengakuan dan kepercayaan terhadap keberhasilan seseorang dalam mengemban tugas peneliti sekaligus merupakan suatu penghormatan bagi PNS yang diangkat menjadi Profesor Riset.

Maka sebelum pengukuhan dilaksanakan mereka perlu memaparkan orasi ilmiah. Sampai dengan tahun 2013, bidang Zoologi Pusat Penelitian Biologi-LIPI telah melahirkan 6 orang Profesor Riset.

PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang di atas, maka menurut pengamatan penulis yang menjadi permasalahan dalam kajian ini adalah belum adanya kajian terhadap referensi dalam naskah orasi ilmiah Profesor Riset bidang Zoologi. Sehingga belum diketahui sejauhmana para Profesot Riset memanfaatkan sumber-sumber informasi ilmiah di dalam mendukung pembuatan orasi ilmiah yang mereka hasilkan.

Penelitian ini meliputi setiap naskah orasi ilmiah dari 6 profesor riset bidang zoologi. Dari setiap naskah orasi dikaji data referensi yang bersumber dari daftar pustaka, kemudian dijadikan tabel yang meliputi jenis dokumen yang dijadikan referensi, jenis bahasa yang digunakan, dan ketersediaan referensi tersebut di perpustakaan.

TINJAUAN PUSTAKA
Profesor Riset

Berdasarkan Peraturan Kepala LIPI Nomor 07/E/2009 tentang Tata Cara Pengukuhan Peneliti Utama untuk Mendapatkan Gelar Profesor Riset, di dalam Bab I, Pasal 1,
Ayat 2 :
“Kandidat Profesor Riset adalah Peneliti Utama yang telah memenuhi persyaratan dan akan melakukan orasi pengukuhan Profesor Riset”
Ayat 4 :
“Orasi Ilmiah adalah pidato resmi atau komunikasi formal yang disampaikan kepada hadirin sebagai pengejawantahan karya dan karsa ilmuwan dalam mengabdikan iptek sesuai dengan kepakarannya untuk kemajuan umat manusia serta pembangunan nusa dan bangsa, dan/atau pernyataan diri atas bidang kepakaran yang merupakan refleksi tersurat dari bidang penelitian yang ditekuninya selama ini.
Ayat 5 :
“Naskah orasi ilmiah adalah karya tulis ilmiah (KTI) Kandidat Profesor Riset disampaikan dalam bahasa yang komunikatif, sehingga dapat dipahami oleh pendengar atau orang yang tidak sebidang dengan kepakaran atau keilmuannya.”
Pasal 2 Gelar Profesor Riset merupakan pengakuan, kepercayaan dan penghormatan yang diberikan atas keberhasilan seorang PNS dalam mengemban tugasnya di bidang litbang.
BAB II, Pasal 3 Gelar Profesor Riset sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 diberikan kepada Peneliti Utama yang sudah menyampaikan orasi ilmiah dalam suatu prosesi upacara pengukuhan.

Analisis Sitiran
Pada kajian bibliometrika banyak digunakan analisis sitiran sebagai cara untuk menentukan berbagai kepentingan atau kebijakan seperti : evaluasi program riset; pemetaan ilmu pengetahuan; visualisasi suatu disiplin ilmu; indikator iptek; faktor dampak dari suatu majalah (journal impact factor); kualitas suatu majalah; pengembangan koleksi majalah, dll. Penelitian pertama kali dilakukan Gros and Gros pada tahun 1927 yaitu menganalisis sitiran terhadap majalah bidang kimia untuk pengembangan koleksi di bidangnya.
Selanjutnya diikuti penelitian-penelitian lainnya yaitu Eugene Garfield yang selalu menganalisis setiap bidang untuk mengevaluasi majalah/jurnal maupun penulis yang paling banyak disitir oleh jurnal atau penulis lain. Garfield juga mengatakan bahwa analisis sitiran banyak digunakan dalam kajian bibliometrika karena menurutnya tepat. Jelas mewakili subjek yang diperlukan, tidak memerlukan interpretasi,valid dan reliable.

METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan kajian biliometrik yaitu penerapan metode statistika untuk mengkaji publikasi kumpulan naskah orasi ilmiah pengukuhan Profesor Riset bidang Zoologi. Kajian bibliometrik dalam penelitian ini tergolong pada bibliometrik evaluatif yaitu menghitung penggunaan literatur dan hitungan sitiran (Sulistyo-Basuki,2001)

a. Indikator Penelitian
Indikator yang ingin diketahui adalah :
1. Referensi yang berupa buku teks, jurnal, internet, prosiding atau referensi lainnya yang disitir dalam kumpulan naskah orasi ilmiah pengukuhan Profesor Riset bidang Zoologi
2. Referensi tersebut berdasarkan bahasa yang digunakan
3. Ketersediaan referensi tersebut di perpustakaan

b. Pengumpulan Data
Data dikumpulkan dengan cara menginventarisasi orasi ilmiah Profesir Riset bidang zoologi, kemudian daftar pustaka naskah dianalisis sesuai dengan indikator yang ingin diketahui.

c. Pengolahan dan Analisis Data
Analisis data yang dilakukan meliputi: frekuensi jenis dokumen referensi dan tahun terbit; jenis bahasa dari referensi yang digunakan dan ketersediaan jurnal tersebut di perpustakaan. Selanjutnya hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan pengolahan dan analisis data setiap judul naskah orasi diperoleh hasil sbb :

1. Judul : Perikehidupan Kumbang sebagai Landasan Pengungkapan Potensi dan Pengembangan Ekologi,
Oleh : Woro Anggraitoningsih Noerdjito
Waktu Pengukuhan : Desember 2006

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 1., jenis dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah jurnal (40,91%).

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis bahasa yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 2., jenis bahasa dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah bahasa asing (68,18%).

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 3., dokumen yang dijadikan referensi untuk membuat orasi yang tersedia di perpustakaan hanya 11 buah (25,00%).

2. Judul : Collembola : Secercah Harapan untuk Nusantara
Oleh : Yayuk Rahayuningsih
Waktu Pengukuhan : Juni 2007

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 1., jenis dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah jurnal (69,23%).

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis bahasa yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 2., jenis bahasa dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah bahasa asing (78,85%).

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 3., dokumen yang dijadikan referensi untuk membuat orasi yang tersedia di perpustakaan hanya 14 buah (26,92%).

3. Judul : Analisis Morfometri untuk Kajian Taksonomi, Ekologi, dan Zoogeografi Tikus dan Kelelawar Indonesia
Oleh : Ibnu Maryanto
Waktu Pengukuhan : Desember 2009

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 1., jenis dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah jurnal (56,41%).

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis bahasa yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 2., jenis bahasa dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah bahasa asing (74,36%).

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 3., dokumen yang dijadikan referensi untuk membuat orasi yang tersedia di perpustakaan adalah 24 buah (61,54%).

4. Judul : Keanekaragaman dan Sebaran Kopepoda di Perairan Indonesia
Oleh : Mulyadi
Waktu Pengukuhan : Mei 2010

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 1., jenis dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah jurnal (80,00%).

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis bahasa yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 2., jenis bahasa dokumen yang dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah bahasa asing (100 %).

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 3., dokumen yang dijadikan referensi untuk membuat orasi dan tersedia di perpustakaan hanya 9 buah (36,00%).

5. Judul : Pengelolaan dan Satwa Liar untuk Pemanfaatan dan Konservasi
Oleh : Gono Semiadi
Waktu Pengukuhan : Mei 2010

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 1., jenis dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah jurnal dan lain-lain 13 (44,83%) . Lain-lain disini meliputi : Prosiding, lokakarya, disertasi, laporan akhir, laporan peneliitan, dan tesis.

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis bahasa yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 2., jenis bahasa dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah bahasa Indonesia (55,17%).

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 3., dokumen yang dijadikan referensi untuk membuat orasi dan tersedia di perpustakaan hanya 5 buah (17,24%).

6. Judul : Taksonomi dan Sistematika Tawon Parasitoid Eulophinae (Insecta: Hymenoptera): Dasar Pengembangan Agen Hayati untuk Pengendalian Hama Pertanian
Oleh : Rosichon Ubaidillah
Waktu Pengukuhan : Desember 2011

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 1., jenis dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah jurnal (71,43%).

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis bahasa yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 2., jenis bahasa dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah bahasa asing (91,84%).

Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 3., dokumen yang dijadikan referensi untuk membuat orasi dan tersedia di perpustakaan hanya 11 buah (22,45%).

KESIMPULAN
1. Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis dokumen yang digunakan maka dapat terlihat pada Tabel 1. semua orasi ilmiah, jenis dokumen yang paling banyak dijadikan sumber untuk membuat orasi ilmiah adalah jurnal. Jurnal menjadi referensi yang paling utama, dikarenakan selalu up to date nya informasi yang terdapat di jurnal yang merupakan hasil penelitian terkini. Buku sebagai referensi kedua yang paling banyak disitir karena memang buku merupakan sumber informasi primer bagi setiap kegiatan penelitian, apalagi dalam bidang taksonomi buku-buku yang relatif sudah lama tahun terbitnya, akan tetap dijadikan sumber acuan.
2. Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis bahasa yang digunakan pada dokumen yang digunakan sebagai referensi orasi ilmiah maka dapat terlihat, 5 orasi ilmiah pada Tabel 2. nya menunjukkan jenis referensi berbahasa asing (terutama bahasa inggris) lebih dari 50% sebagai referensi orasi ilmiah, hanya 1 orasi ilmiah (Gono Semiadi) mengunakan referensi berbahasa Indonesia sedikit lebih banyak dari referensi yang berbahasa asing (bahasa Indonesia : bahasa Asing = 16 : 13),
3. Berdasarkan perhitungan frekuensi dan persentase jenis bahasa yang digunakan pada dokumen yang digunakan sebagai referensi orasi ilmiah maka dapat terlihat, 5 orasi ilmiah pada Tabel 2. nya menunjukkan lebih dari 50 % referensi untuk orasi ilmiahnya tidak tersedia di perpustakaan, dan hanya satu orasi ilmiah (Ibnu Maryanto) yang persentase referensinya tersedia di perpustakaan lebih sedikit dari ketidaktersediaannya (tersedia : tidak tersedia = 24 : 15) .
4. Kesimpulan utama yang dapat ditarik adalah bahwa koleksi yang terdapat di perpustakaan Pusat Penelitian Biologi-LIPI belum maksimal dalam mendukung kegiatan penelitian, hal ini terbukti dari analisis yang telah dilakukan, karenanya perlu upaya yang sinergis antar semua pihak terkait untuk mewujudkan koleksi perpustakaan sebagai referensi mengenai biodiversitas yang dimiliki Indonesia.
5. Perlu adanya kesadaran dari peneliti untuk melaksanakan serah simpan karya tulisnya ke perpustakaan

DAFTAR PUSTAKA

Booklet Perpustakaan Pusat Penelitian Biologi-LIPI.

Gono, Semiadi. 2010. Pengelolaan Satwa Liar untuk Pemanfaatan dan Konservasi. Jakarta : LIPI Press

Ibnu, Maryanto. 2009. Analisis Morfometri untuk Kajian Taksonomi, Ekologi, dan Zoogeografi Tikus dan Kelelawar Indonesia. Jakarta : LIPI Press

Mulyadi. 2010. Keragaman dan Sebaran Kopepoda di Perairan Indonesia. Jakarta : LIPI Press
Peraturan Kepala LIPI No. 07/E/2009 tentang Tata Cara Pengukuhan Peneliti Utama untuk Mendapatkan Gelar Profesor Riset.

Pusat Penelitian Biologi-LIPI. 2013. Cibinong : Pusat Penelitian Biologi-LIPI.

Rochani, Nani Rahayu dan Tupan. 2012. Analisis Keterpakaian Referensi : Studi Kasus Kumpulan Orasi Ilmiah Pengukuhan Pustakawan Utama 1995-2007. Visi Pustaka. 14 (2) : 15-23

Rosichon, Ubaidillah. 2011. Taksonomi dan Sistematika Tawon Parasitoid Eulophinae (Insecta: Hymenoptera) : Dasar Pengembangan Agen Hayati untuk Pengendalian Hama Pertanian. Jakarta : LIPI Press

Woro, Anggraitoningsih Noerdjito. 2006. Perikehidupan Kumbang sebagai Landasan Pengungkapan Potensi dan Pengembangan Ekologi. Jakarta : LIPI Press

Yayuk, Rahayuningsih Soehardjono. 2007. Collembola : Secercah Harapan untuk Nusantara. Jakarta : LIPI Press