Kerusakan Pada Laporan Penelitian Koleksi Pusat Informasi Wanita Dalam Pembangunan PDII 1985 – 1989

I. PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Pusat Informasi Wanita Dalam Pembangunan (PIWP) menempati salah satu sudut lantai 4 yang berada di dalam Perpustakaan Pusat Dolumentasi dan Informasi Ilmiah Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Keberadaan koleksi tentang wanita dianggap sebagai salah satu strategi yang amat penting bagi pemerintah Republik Indonesia. Perhatian pemerintah tersebut diujudkan dengan dibentuknya Kementerian Urusan Peranan Wanita pada tahun 1978 dan tentu saja disertai dengan diangkatnya Menteri Muda Urusan Peranan Wanita.

Sebagai bentuk dukungan kepada program pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas kaum wanita Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan, maka Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah yang pada tahun 1980 bernama Pusat Dokumentasi dan Informasi Nasional ikut ambil bagian di dalamnya. Tugas tersebut tepatnya diamanahkan ke PDIN pada 23 April 1980, dengan membentuk Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan (PIWP). (Brosur; Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan, 2000).

Keberadaan koleksi PIWP yang menyimpan informasi khusus tentang wanita dan anak yang tercatat di dalamnya sangatlah perlu untuk diperhatikan. Semua koleksi baik yang berupa buku, jurnal, laporan penelitian tesis serta koleksi lainnya tidak hanya diperlukan pada masa kini namun juga tetap diperlukan sampai masa datang. Mengingat informasi yang terkandung di dalam koleksi perpustakaan PIWP sangat penting maka koleksi PIWP perlu dijaga dan dilestarikan agar tetap dapat diakses sepanjang masa.

Indonesia merupakan Negara beriklim tropis dengan tingkat kelembaban tinggi sehingga sangat memungkinkan terjadinya kerusakan terhadap berbagai koleksi bahan pustaka yang disimpan di perpustakaan. Namun sampai saat ini nampaknya usaha pelestarian koleksi bahan pustaka belum dilakukan sebagaimana mestinya sehingga apabila terjadi kerusakan pada bahan pustaka tersebut belum dilakukan penanganan selayaknya.

1.2 Permasalahan
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan di atas, terutama berkenaan dengan adanya indikasi kerusakan pada bahan pustaka koleksi PIWP, maka yang diangkat sebagai permasalahan dalam kajian ini adalah belum adanya evaluasi terhadap kerusakan yang terjadi pada koleksi bahan pustaka khususnya laporan penelitian yang dikelola oleh Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan selama kurun waktu 5 tahun yaitu 1985 – 1989. Oleh karena itu perlu dilakukan evaluasi terhadap jenis kerusakan pada koleksi tersebut dan seberapa besar prosentase dari masing-masing jenis kerusakan terhadap total koleksi.

1.3 Tujuan dan manfaat penelitian:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) jumlah laporan penelitian yang berada di rak perpustakaan PIWP periode 1985 – 1989; 2) jumlah laporan yang rusak dan jenis kerusakan meliputi noda air/makanan, sampul rusak, sobek, halaman lepas, jamur, pudar, serangga, rapuh. Dengan demikian akan dapat diperoleh gambaran tentang komposisi kerusakan dalam berbagai jenis sehingga hasil penelitiannya dapat digunakan sebagai masukan kepada pimpinan PIWP PDII agar segera melakukan penanganan kerusakan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak terjadi kerusakan secara berkelanjutan.

II.TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pusat Informasi Wanita dan Pembangunan
Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan didirikan oleh karena pemerintah Republik Indonesia sangat perhatian terhadap kehidupan dan keberadaan kaum perempuan warganya. Pada 1978 diangkatlah seorang Menteri Muda urusan Peranan Wanita yang selanjutnya ditingkatkan menjadi Menteri Negara Urusan Peranan Wanita pada tahun 1983.

Mengingat pendidikan dan hal – hal yang berkaitan dengannya sangat diperlukan di masyarakat yang saat itu sedang bergiat untuk membangun, maka tentu diperlukan kemudahan untuk memperoleh literatur dan informasi mengenai berbagai subyek. Mengingat subyek tentang wanita dan anak pada dasarnya juga berhubungan dengan berbagai subyek lainnya maka apabila dilakukan pembinaan terhadap suatu pusat khusus untuk mengelola informasi wanita dalam pembangunan dianggap kurang efisien. Oleh karena itu pada tahun 1979 diputuskan segala sesuatu yang berkenaan dengan subyek wanita dan anak disatukan dengan koleksi dari Pusat Dokumentasi dan Informasi Nasional.

Berdasarkan naskah perjanjian kerja sama antara kantor Menteri Muda Urusan Peranan Wanita dan Pusat Dokumentasi Ilmiah Nasional (PDIN) pada tanggal 23 April 1980 maka diputuskan sebagai berikut.

Mengingat Kegiatan PIWP merupakan bagian dari kegiatan Pusat Dokumentasi dan Informasi Nasional (PDIN), yang sekarang telah berubah menjadi Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah maka seluruh kegiatan PIWP dilaksanakan oleh bidang-bidang yang ada di dalam PDII, seperti pengadaan dan pengolahan bahan pustaka untuk PIWP dilaksanakan oleh Bidang Dokumentasi, layanan informasi dilaksanakan oleh Bidang Informasi. Dengan pertimbangan tersebut PIWP tidak ada dalam struktur organisasi Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII). Kelancaran pelaksanaan kegiatan yang ada di PIWP merupakan tanggung jawab koordinator PIWP. Koordinator bertanggung jawab langsung pada Kepala Pusat PDII dan menjalankan tugas pokok dan fungsi dari Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan adalah sebagai berikut. ( Saary, Rina. S, 2010).

1. Mengumpulkan, memroses dan menyimpan segala informasi tentang wanita dan anak dalam bentuk buku, majalah, tesis, laporan penelitian dan bentuk terbitan lainnya.
2. Mengembangkan jaringan informai dan mengadakan pertukaran informasi mengenai wanita dan anak dengan instansi pemerintah dan badan-badan non pemerintah di dalam dan luar negeri.
3. Membuat terbitan – terbitan berkala untuk keperluan di Indonesia sehingga dapat memudahkan pertukaran informasi mengenai proyek – proyek yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah dan badan – badan non – pemerintah.

Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan memiliki visi sebagai berikut. Menjadi institusi terdepan di Indonesia dalam bidang dokumentasi dan informai wanita dan anak dalam rangka pemberdayaan wanita menuju kesetaraan gender dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Adapun misinya adalah sebagai berikut.

1. Mengembangkan dan meningkatkan kemampuan penyediaan, pengemasan dan pemanfaatan informasi tentang wanita dan anak.
2. Mengembangkan jaringan kerja sama dengan sumber informasi dan pemakai jasa informasi wanita dan anak di dalam dan di luar negeri.
3. Memberikan jasa informasi yang berkualitas, tepat guna dan tepat waktu tentang kedudukan dan peranan wanita dan anak.

Berdasarkan kondisi lapangan dapat diketahui sampai saat ini jasa yang diberikan kepada masyarakat umum adalah sebagai berikut.

1. Jasa layanan perpustakaan; melalui jasa ini pengunjung dapat membaca secara langsung koleksi yang dimiliki oleh PIWP dari pukul 8.30 – 15.00 WIB, selama 5 hari kerja yaitu dari Senin samapi dengan Sabtu. Koleksi yang disediakan berupa buku, disertasi, tesis, laporan penelitian, majalah, dan kliping Koran .
2. Jasa penelusuran literatur; merupakan jasa informasi dalam bentuk menemukan kembali dokumen dan berbagai literatur yang diperlukan pengguna tentang topik atau subyek tertentu. Hasil penelusuran diberikan dalam bentuk daftar berbagai literatur tersebut yang dapat dikirimkan secara elektronik maupun secara pos biasa.
3. Jasa penggandaan dokumen; diberikan kepada pengguna yang memerlukan dokumen dalam bentuk salinan fotokopi. Hal ini dipersyaratkan hanya untuk keperluan studi maupun pendididikan yang dibuktikan dengan pengisian formulir pernyataan bahwa dokumen yang digandakan betul-betul hanya digunakan untuk keperluan studi maupun penelitian.

Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan juga melakukan kegiatan berupa penerbitan berbagai bentuk buku maupun litertur sekunder antara lain: 1) Indonesian Women: Selected Abstract, 1, 2, 1989; 2) Indonesian Women: Abstracts part 1, 2, 1989; 3) Rangkuman Laporan Penelitian tentang Anak Indonesia, suppl. 1; 3) Wanita Indonesia : Rangkuman Informasi Laporan Penelitian, 1989; 4) Wanita Indonesia dalam Pembangunan : Analisis Singkat Karya Tulis, 1989; 5)Wanita Indonesia : Bibliografi beranotasi, 1990; 6) Alat Riset Literatur Studi Wanita, 1991; 7) Buku Panduan Air dan Sanitasi, 1991; 8) Buku Pedoman Teknologi Pangan, 1993, dll ( Brosur Pusat Informasi Wanita dalam Pembagunan; 2000)

Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan diantaranya adalah sebagai berikut.

1. Pada tanggal 5 Desember 2005 PIWP bekerjasama dengan Asian and Pacific Women’s Information Network Center of Korea (APWINC) telah mengadakan Seminar “APEC Forum on Women-Owned Business and the Digital Economy : Moving Forward (e-Business : Opportunities for Women)”, di Jakarta.
2. Pada tahun 2006 -2008 PIWP bekerja sama dengan Asian Pacific Women’s Information Network Center of Korea (APWINC) telah memberikan pelatihan e-business untuk perempuan pengelola UKM di Indonesia .
3. Pada tahun 2007 APEC Digital Economy Forum For Women In Indoneisa diselenggarakan pada tanggal 19 November 2007 di Jakarta yang merupakan kerjasama PIWP dengan Asian and Pacific Women’s Information Network Center of Korea (APWINC).
4. Pada tahun 2010 PIWP bekerja sama dengan Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Pemerintah Kabupaten Tangerang telah menyelenggarakan pelatihan e-business untuk pembina dan pengelola UMKM di kabupaten Tangerang pada tanggal 20 – 22 Juli 2010.

2.2. Koleksi laporan penelitian PIWP

Laporan penelitian merupakan salah satu literatur kelabu yang merupakan terjemahan dari grey literature yang diartikan sebagai bentuk dokumentasi karya ilmiah yang tidak dipublikasikan secara massal oleh suatu badan penerbit akan tetapi merupakan suatu literatur yang ekslusif mengingat keberadaannya biasanya sangat spesifik dan merupakan produk dari lembaga atau institusi terutama yang bergerak di bidang penelitian dan pendidikan. Akan tetapi tidak menutup kemungkinan literatur kelabu juga dihasilkan dari lembaga lain di luar lembaga tersebut dan menghasilkan produk antara lain berupa laporan teknis, laporan penelitian, tesis, disertasi dan yang sejenisnya.

Perguruan tinggi mengartikan literatur kelabu sebagai karya ilmiah yang dihasilkan oleh lembaga pendidikanan. Di bawah lembaga pendidikan ada jurusan/departemen/laboratorium dst. Di jurusan ada komponen staf pengajar/dosen dan mahasiswa. Dua komponen ini yang menghasilkan karya ilmiah baik berupa tesis, disertasi dan laporan penelitian. (Visi Pustaka, Vol. 6, No: 1, juni 2004).

Literatur kelabu merupakan literatur yang sangat penting bagi pemerintah karena dari hasil literatur tersebut dapat diketahui kemajuan suatu bangsa dalam berbagai bidang seperti budaya, ilmu pengetahuan, sosial dan sebagainya. Mengingat pentingnya hal tersebut maka pemerintah melalui Surat Keputusan Kementerian Riset dan Teknologi Nomor 44/M/Kp/VII/2000 tanggal 31 Juli mengatakan bahwa bagi instansi pemerintah yang memiliki literatur kelabu agar menyerahkannya sejumlah 3 rangkap dengan ketentuan 1 rangkap untuk kantor Menristek dan 2 rangkap untuk PDII LIPI. (PDII LIPI; 2005).

Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan diharapkan dapat membantu para ilmuwan mupun peneliti yang berfokus kepada aktifitas perempuan dengan memberikan berbagai layanan informasi yang berkaitan dengan hal tersebut. Oleh karena itu PIWP juga menyediakan berbagai laporan penelitian dari beberapa instansi negeri maupun swasta serta terutama adalah perguruan tinggi yang dipercayakan pengelolaannya kepadanya.

Seperti diketahui laporan penelitian juga adalah salah satu bentuk literatur kelabu yang penting dan merupakan bentuk literatur primer. Sumber informasi primer adalah sumber informasi dengan data yang akurat. Kualitas laporan penelitian diperkirakan dapat dipertanggungjawabkan mengingat untuk bisa menghasilkan suatu laporan penelitian biasanya dikerjakan oleh lebih dari orang peneliti dan tidak jarang yang telah lulus S2 maupun S3.

Penggunaan laporan penelitian wanita dan anak dapat diketahui bahwa selama 2012 telah dibaca sebanyak 1.475 judul laporan penelitian sehingga apabila dihitung secara rata-rata setiap bulan telah dibaca sebanyak 123 judul dan jika dalam 1 bulan terdapat 22 hari kerja maka setiap hari telah dibaca 5 judul laporan penelitian.

Hal ini menunjukkan bahwa keberadaan laporan penelitian bidang wanita dan anak masih diperlukan oleh masyarakat pengguna dalam hal ini para mahasiswa mengingat selama 2012 sebanyak 1.024 mahasiswa merupakan pengunjung terbanyak PIWP. ( Budiartini, Eti ; 2012; Laporan Bulanan PIWP )

2.3. Kerusakan koleksi laporan penelitian
2.3.1. Kertas merupakan unsur utama laporan penelitian
Sampai saat ini laporan penelitian yang menjadi koleksi PIWP PDII adalah dalam bentuk hard copy berbahan baku kertas dan berujud menyerupai buku. Menurut Shep 1991 dalam Muljono, Pudji 1994 diketahui bahwa bagian – bagian buku adalah : sampul depan, bagian dalam sampul depan, lembar pelindung bagian depan, sisi dasar atau bawah buku, sisi depan, sisi atas, sampul belakang, punggung buku dan engsel buku.

Berbagai upaya dan usaha untuk melestarikan dan merawat bahan pustaka di Indonesia masih belum mendapatkan perhatian yang serius. Kondisi seperti ini seharusnya tidak terjadi mengingat Indonesia merupakan negara beriklim tropis dengan cuaca yang panas namun memilki tingkat kelembaban tinggi sehingga dapat mempermudah terjadinya kerusakan terutama yang disebabkan oleh jamur atau cendawan. Di samping kerusakan yang diakibatkan oleh jamur jenis kerusakan dapat juga dibedakan sebagai berikut.

Kertas merupakan lembaran tipis dan rata yang dihasilkan dengan kompresi serat yang berasal dari pulp bahan alami misalnya selulosa dan hemiselulosa. Kertas merupakan media untuk menulis, mencetak atau melukis namun banyak juga ditemukan kegunaan lain seperti untuk pembersih (kertas tissue) muka, bahkan untuk pembersih kebutuhan manusia di toilet. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Kertas diakses 17 Juni 2013)

Dengan ditemukannya kertas maka terjadi revolusi besar-besaran dalam dunia tulis-menulis dan memberikan sumbangan besar bagi kemajuan dunia. Menurut sejarah sebelum digunakan kertas maka bangsa-bangsa pada jaman dahulu menggunakan tablet dari tanah lempung yang dibakar keadaan ini dapat ditemukan pada peradaban bangsa Sumeria, dijumpainya prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang dan daun lontar seperti banyak dijumpai pada naskah-naskah kuno Nusantara. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Kertas diakses 17 Juni 2013)

Tercatat dalam sejarah bahwa Mesir kuno menggunakan papyrus sebagai media tulis menulis pada masa pemerintahan Firaun yang kemudian menyebar ke seluruh Timur Tengah hingga Romawi dan menyebar ke seluruh Eropa. Begitu samapi di Eropa maka istilah papyrus berganti menjai paper dalam bahasa Inggris, papier dalam bahasa Belanda, Jerman dan Perancis. Adapun dalam bahasa Spanyol berubah menjadi papel yaitu kertas.

Berikutnya sejarah Cina menerangkan bahwa kertas dapat dibuat dari serat bambu hal ini terjadi pada masa dinasti Tsai Lun sekitar tahun 101 Masehi, dan teknologi pembuatan kertas dari bamboo tersebut disebarluaskan ke Jepang dan Korea. Meskipun teknik pembuatan kertas merupakan hal yang sangat rahasia namun akhirnya orang-orang Arab pada masa dinasti Abbasiyah pada sekitar 751 M mulai mampu membuat kertas berkat diajarkan oleh tawanan – tawanan perang akibat kalah perangnya dinasti Tang dalam pertempuran Talas. Dengan demikian bangsa Arab pada jaman Abasiyah muncul sebagai pusat induatri kertas seperti di Bagdad maupun di Samarkand. ( http://id.wikipedia.org/wiki/Kertas diakses 17 Juni 2013)

Pada awal pembuatan kertas serat yang banyak digunakan adalah hem, linen rag, dan tali. Bahan tersebut dicampur dengan air dan dimasukkan ke dalam mortar selanjutnya digiling dan ditumbuk, sehingga diperoleh serat yang terpisah di dalam air yang membentuk larutan suspense. Ke dalam suspensi tersebut dimasukkan alat penyaring dan pada saat diangkat akan meninggalkan jalinan serat di atas penyaring. Selanjutnya kertas disamak dengan perekat dari binatang atau kanji agar kertas menjadi kuat serta memperlicin permukaan dengan maksud agar tinta tidak mengembang pada saat dituliskan pada kertas. (Muljono, Pudji; 1994)

Di akhir abad ke 17 dideteksi kebutuhan kertas meningkat sehingga perlu dicari sumber serat baru diantaranya digunakannya kapas sebagai sumber serat pada sekitar 1793, pada 1800 serat merang mulai digunakan dan pada sekitar 1840 mulai dikenal penggunan kayu sebagai sumber serat. Pada 1861 hampir semua jenis kertas dibuat dari bahan yang tidak mengandung lignin. Lignin adalah senyawa kimia yang terdapat di dalam kayu berguna sebagai pengikat dalam kertas akan tetapi dapat mengakibatkan kertas berwarna coklat dan kekuatan kertas dapat berkurang akibat peristiwa oksidasi yang menghasilkan asam. (Muljono, Pudji; 1994)

Berikutnya pada tahun 1850 dikenal pembuatan bubur kertas (pulp) menggunakan soda api (caustic soda) dan oleh karenanya disebut dengan proses soda. Selanjutnya dikembangkan juga proses sulfit pada tahun 1857 yaitu pembuatan pulp menggunakan kalsium bisulfit. Pulp yang dihasilkan dari proses sulfit ini berkualitas bagus dan siap diputihkan. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kertas diakses 17 Juni 2013)

Proses yang menggunakan campuran soda api dan natrium sulfat yang ditambahkan pada dalam proses sulfat mulai dikenal pada tahun 1884. Proses ini dapat menghilangkan lignin dari sumber serat sehingga dapat dihasilkan pulp yang berkualitas baik. Pada proses ini dapat ditambahkan khlorin untuk memutihkan kertas selanjutnya pulp dicuci bersih guna menghilangkan zat-zat yang dihasilkan selama proses berlangsung karena zat tersebut dapat mempercepat kerusakan kertas. Akan tetapi mengingat klorin tergolong asam kuat maka kerusakan lingkungan dan keselamatan kerja akibat proses ini perlu dikawatirkan.( Muljono, Pudji; 1994)

2.3.2. Sifat – sifat kertas
Kertas yang digunakan untuk menulis maupun mencetak buku memiliki sifat yang berbeda-beda yang ditentukan oleh kekuatan, permukaan, daya tahan terhadap kerusakan kandungan α-selulosa dan angka tembaga kertas.

Kertas yang diperuntukkan bagi pembuatan buku diharapkan memenuhi persyaratan diantaranya adalah memiliki kekuatan regangangan dan kelenturan yang cukup sehingga tidak mudah robek, mempunyai warna dan kekerutan tertentu untuk menghasilkan buku yang halus dan warna yang diinginkan serta daya tahan terhadap radiasi ultra violet. Kertas mempunyai kemampuan untuk menjadi basah karena mempunyai sifat menyerap air dari udara dan kertas juga cenderung kehilangan kekuatan jika dalam kondisi basah dan oleh karena itu kertas memerlukan bahan pelindung atau sering disebut sebagai coating. Di dalam melakukan pengukuran terhadap kerusakan kertas yang disebabkan oleh cahaya, kelembaban udara, maupun jamur dilakukan dengan cara menghitung pengukuran angka tembaga, kandungan α-selulosa, kekentalan supraamonium, kuat regang, ketahanan terhadap lipatan dll. ( Muljono, Pudji; 1994).

Ciri-ciri kertas berkualitas baik antara lain memiliki α-selulosa tinggi. Kandungan α-selulosa dalam kertas adalah bagian selulosa yang tidak larut dalam 17,5% natrium klorida dan semakin tinggi persentase α-selulosa kualitas kertas semakin baik. Adapun angka tembaga adalah jumlah selulosa yang termodifikasi dari struktur asli atau asalnya. Apabila angka tembaga dalam kertas tinggi maka kertas berada dalam kondisi rusak dan apabila kekentalan supraamonium rendah meunjukkan bahwa rantai ikatan kimia serat selulosa dalam kertas telah putus.
( Muljono, Pudji; 1994).

2.3. Penyebab kerusakan laporan penelitian
a. Faktor fisika
Sinar ultra violet merupakan salah satu faktor fisika yang memungkinkan buku/laporan menjadi rusak. Adapun sebagai sumber sinar ultra violet adalah cahaya matahari maupun sinar lampu. Gelombang cahaya terutama sinar ultra violet dapat mengakibatkan terjadinya dekomposisi bahan organik yang ada di dalam kertas.

Kerusakan yang diakibatkan oleh sinar ultra violet adalah memudarnya buku/kertas, tulisan,warna cetakan serta terjadinya kerapuhan kertas sehingga menjadikan hilangnya kekuatan kertas. Uap air yang terkandung di dalam udara dapat mempercepat terjadinya kerusakan ditandai dengan adanya perubahan warna kertas menjadi kecoklatan sehingga menurunkan kekuatan serat kertas. ( Muljono, Pudji; 1994).

Kandungan air dalam udara atau faktor kelembaban mempunyai hubungan erat dengan temperatur udara, semakin rendah temperatur dan kelembaban udara maka kertas akan semakin dapat mempertahankan kekuatan fisiknya. Apabila terjadi perubahan temperatur yang cukup tinggi akan menyebabkan terjadinya perubahan volume dan ketegangan pada kertas. Jika hal tersebut terjadi secara berulang kali dan terus menerus maka akan menyebabkan terputusnya ikatan kimia serat selulosa sehingga kekuatan kertas berkurang. Sebaliknya apabila kondisi udara lembab maka kertas akan menjadi basah dan menimbulkan bau tidak enak (apek) juga memungkinkan tumbuh kembangnya jamur atau cendawan pada kertas. Disarankan untuk angka kelembaban udara yang ideal di dalam perpustakaan adalah berkisar 45-60 % dan 20 -240C.

Udara yang beredar di dalam perpustakaan juga perlu diperhatikan kebersihannya mengingat di dalam udara juga mnegandung partikel-partikel debu, garam-garam,gas buang, juga asap kendaraan bermotor berpotensi untuk menimbulkan noda pada kertas dan tentu saja berpengaruh buruk pada kesehaan manusia dalam hal ini petugas perpustakaan. ( Muljono, Pudji; 1994).

b. Faktor kimia
Kertas teridiri atas serat-serat selulose dan juga bermacam-macam bahan kimia yang ditambahkan selama proses pembuatan baik yang bersifat basa maupun asam dan diawali dari pembuatan bubur kertas.

Kandungan bahan-bahan kimia terutama yang bersifat asam sangat berpotensi untuk merusak kertas. Mengingat sifat asam yang mudah berpindah tempat maka tinta yang mengandung asam juga berpotensi merusak kertas itu sendiri. Selain dari tinta dimungkinkan juga adanya faktor udara yang mengandung asam misalnya gas sulfur dioksida, nitrogen dioksida dll.

c. Faktor biologi
Kertas yang sebagian besar berasal dari serat selulosa merupakan bahan organik yang dapat diserang jamur, cendawan, binatang pengerat dan juga serangga. Apabila kertas telah diserang oleh faktor-faktor biologi tersebut seringkali susah untuk dapat dilakukan perbaikan terutama terhadap isi dari dokumen yang diserang tersebut sehingga susah untuk dilakukan perbaikan.

Seperti diketahui bahwa cendawan mengeluarkan enzim yang dapat menghidrolisis rantai polimer selulose menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Biasanya hidrolisis akan menghasilkan asam organik yang dapat menyebabkan kertas menjadi rapuh. Biasanya asam organik yang bereaksi dengan partikel besi di dalam kertas sehingga membentuk noda berwarna merah kecoklatan yang disebut foxing dan sulit untuk dihilangkan.

Binatang dari jenis serangga dapat memakan kertas dari laporan penelitian diantaranya adalah kecoa, ikan perak (silverfish), rayap, kutu buku, larva kumbang bubuk (bookworm), ngengat dll. Pada umumnya serangga dapat menyebabkan kerusakan buku dengan mudah dikenali.

Jenis binatang lain yang dapat merusak kertas adalah tikus yang tergolong sebagai binatang pengerat dan cukup sulit diberantas. Biasanya binatang ini hidup di gudang-gudang buku maupun tempat yang cenderung kotor dan kerusakan yang ditimbulkan adalah penyobekan buku. ( Muljono, Pudji; 1994).

d. Faktor manusia
Faktor manusia terutama mereka yang mengelola perpustakaan dan mereka yang menggunakan perpustakaan. Apabila mereka melakukan kesalahan maka bahan pustaka /laporan penelitian dapat menjadi rusak. Bahan pustaka dapat rusak apabila di dalam menggunakannya kurang berhati-hati seperti mencoret – coret, menyobek halaman yang dianggap penting dan lain lain.

Adakalanya sambil membaca pemustaka melipat-lipat ujung kertas dari laporan penelitian sehingga dapat menyebabkan kerusakan buku. Bahkan di dalam melakukan penggandaan laporan penelitian dengan mesin fotokopi juga dapat terjadi kerusakan misalnya sampul buku lepas, jilidan lepas dll.

e. Faktor bencana alam dan musibah
Bencana alam biasanya datang secara tiba-tiba dan sulit diperkirakan kedatangannya. Bencana alam dan musibah berpotensi untuk merusak dalam waktu singkat, sebagai contoh banjir dan kebakaran, gempa bumi, gunung meletus, peperangan dan pencurian.

2.4. Mengatasi kerusakan laporan penelitian
Usaha untuk mencegah kerusakan laporan penelitian lebih menguntungkan dibandingkan dengan memperbaikinya. Akan tetapi kondisi ilkim di Indonesia yang tergolong tropis yaitu cuaca panas dan lembab juga sangat menentukan tingkat kerusakan kertas laporan penelitian. Kendala yang sering dihadapi oleh unit perpustakaan di Indonesia terutama adalah masalah kebijakan yang masih belum sepenuhnya berpihak kepada dunia perpustakaan dan dokumentasi.

Terbatasnya anggaran yang dialokasikan untuk pelestarian bahan pustaka masih terjadi tidak terkecuali untuk pelestarian koleksi laporan penelitian PIWP yang diindikasikan belum adanya langkah – langkah yang berhubungan dengan pengawetan bahan pustaka.

Usaha pelestarian dilakukan dengan bermacam-macam cara antra lain adalah dengan mempertahankan bentuk fisik pustaka dan alih media yaitu fotokopi, fotografi, dan pembuatan mikrofis/microfilm.

Usaha mengatasi kerusakan laporan dilakukan dengan beberapa cara dengan memerhatikan kondisi kerusakan bahan pustaka. Apabila bahan pustaka dalam kondisi berpenyakit yaitu bahan pustaka yang ditandai dengan terserang serangga, berasam, timbul noda hitam/coklat dapat diatasi melalui proses fumigasi, deasidifikasi. Adapun bagi bahan pustaka yang mengalami rusak karena sobek, sampul terlepas, jahitan/jilidan lepas, kertas rapuh memerlukan tindakan restorasi. (Muljono, Pudji; 1994).

Beberapa cara pencegahan kerusakan bahan pustaka antara lain adalah :

1.Faktor biologi :
a. Tikus: diupayakan agar setiap pengunjung dilarang membawa makanan dan minuman ke Ruang Baca .
b. Serangga: 1) Diupayakan ruangan tetap selalu bersih; 2) Susunan buku dalam rak-rak ditata secara rapi, sehingga ada sirkulasi udara udara; 3) Rak harus dibuat dari bahan yang tidak disukai oleh serangga ( kayu jati/logam); 4) Pada rak diberikan bahan yang berbau, dan tidak disukai oleh serangga, seperti kamper, naftalen, dll ; 5) Penyuntikan dengan bahan anti serangga (DTT); 6) Fumigasi : mencegah, mengobati dan mensterilkan bahan pustaka.
c. Jamur : 1) Memeriksa buku secara berkala; 2) Membersihkan rak penyimpanan; 3)
Menurunkan temperatur udara bila cuaca mulai panas; 4) Menyusun laporan tidak terlalu rapat, supaya ada sirkulasi udara.

2. Faktor fisika ( alamiah )
a.Debu: 1) Dilakukan penyedotan debu; 2) Dipasang AC/ filter penyaring udara; 3) Dipasang alat pembersih udara ; 4) Disediakan almari kaca
b.Suhu udara/kelembaban : 1) Mengatur suhu udara ruangan pada 20 – 24 °C; 2) memasang alat dehumidifier, atau silicagel (untuk almari) untuk mengatur tingkat kelembapan.
c.Cahaya matahari : 1) Koleksi dihindarkan dari sinar matahari langsung, dengan memasang filter flexy glass atau polyester film dan listrik/Lampu 2) Koleksi dihindarkan dari sinar ultra violet yang berasal dari lampu neon dengan cara memberikan filter UV atau seng oksida dan titanium oksida.

3. Faktor kimia
a.Dengan memilih bahan pustaka yang baik dengan teliti, perlu dilihat jenis kertas dan tulisan yang ada di dalamnya.
b. Menetralkan asam yang terkandung dalam kertas dengan deasidifikasi atau memberi bahan penahan ( buffer)

4. Faktor lain-lain
a. Manusia: 1) Menumbuhkan kesadaran terhadap pemakai bahan pustaka, tentang pentingnya menjaga keutuhan bahan pustaka; 2) Memberikan sanksi kepada perusak bahan pustaka; 4) Memasang rambu-rambu.
b. Bencana alam :1) Menghindarkan dari bahaya api, banjir, dan listrik; 2) Dilarang merokok di dalam ruangan; 3) Memeriksa kabel listrik secara berkala; 4) Memasang alarm ( smoke detector); 5) Menempatkan bahan-bahan yang mudah terbakar ditempat tersendiri; 6) Mengontrol air setiap ada turun hujan. (Muljono, Pudji; 1994).

III METODOLOGI PENELITIAN
3.1. Metodologi
Penelitian ini merupakan kajian deskriptif yaitu suatu kajian yang menampilkan hasil pengamatan dari sumber data primer dan dengan bantuan statistika. Dilakukan pengkajian kondisi kerusakan koleksi laporan penelitian yang tersusun di rak Pusat Informasi Wanita dan Anak selama kurun waktu 1985 – 1989.

3.2. Pengumpulan Data
Data dikumpulkan selama 01-15 Mei 2013 dengan cara menginventarisasi judul-judul laporan penelitian untuk dicatat secara judul, tahun terbit, jenis kerusakan ( sobek, halaman lepas, noda air/makanan, jamur, serangga, pudar, berdebu dan rapuh)

3.4. Pengolahan dan analisis data
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, selanjutnya dilakukan penghitungan frekuensi untuk masing-masing data jenis kerusakan serta dihitung prosentase dari frekuensi tersebut. Selanjutnya hasil analisis disajikan dalam bentuk tabel kemudian dilakukan penarikan kesimpulan .

IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Koleksi laporan periode 1985 – 1989
Laporan penelitian yang tersusun di dalam rak perpustakaan PIWP dapat dicermati jumlahnya menurut tahun 1985 – 1989. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4

Berdasarkan Tabel 4 dapat diketahui bahwa jumlah koleksi laporan penelitian yang tercatat dari rak seluruhnya adalah 318 judul dengan komposisi pada tahun 1985 sebanyak 62 judul (19,50%), kemudian tahun 1986 sebanyak 62 judul (19,50%), selanjutnya pada tahun 1987 diidentifikasi sebanyak 101 judul (31,77%). Pada tahun 1988 terdapat sebanyak 72 judul (22,65%), kemudian di tahun 1989 dijumpai 21 judul laporan penelitian ( 6,61%).
4.2. Kerusakan laporan penelitian PIWP periode 1985 – 1989
Guna mengetahui gambaran kerusakan laporan penelitian PIWP periode 1985 – 1989 maka dari Tabel 5 berikut dapat diketahui kondisi riil kerusakan yang terjadi.

4.2.1. Halaman lepas
Dari Tabel 5 diketahui bahwa selama periode 1985 – 1989 seluruh populasi laporan adalah 318 judul dan diketemukan halaman lepas sebanyak 29 judul (9,12%). Adapun komposisinya adalah pada tahun 1985 sebanyak 2 judul (0,63%), tahun 1986 sebanyak 10 judul (3,15%), tahun 1987 sebanyak 13 judul (4,09%), tahun 1988 terdapat 1 judul (0,32%) dan tahun 1989 sebanyak 8 judul (2,52%).

 

4.2.2 Kertas sobek
Gambaran kertas sobek berdasarkan Tabel 5 diketahui bahwa pada tahun 1985 terdapat sebanyak 19 judul dari 318 judul populasi atau 5,98%. Kemudian pada tahun 1986 dijumpai sebanyak 18 judul (5,66%) pada tahun 1987 terdapat 13 judul sobek (4,09%) kemudian pada 1988 dan 1989 sobek sebanyak 8 judul (2,52%).Secara keseluruhan jumlah laporan yang sobek sebanyak 66 judul (20,76%).

 

4.2.3 Kerusakan akibat kertas dicorat-coret
Kerusakan kertas akibat dicorat-coret secara total berjumlah 29 judul laporan (9,12%) dengan komposisi tahun 1985 berjumlah 9 judul (2,83%), tahun 1986 sebanyak 7 judul (2,21%), tahun 1987 sebanyak 6 judul (1,89%), berikutnya pada tahun 1988 terdapat 5 judul (1,58%) adapun di tahun 1989 dijumpai sebanyak 2 judul (0,63%).

 

4.2.4. Kerusakan akibat noda air/makanan
Ulah manusia yang kurang hati-hati di dalam mengelola laporan penelitian memungkinkan terjadinya kerusakan akibat terkena noda air/makanan. Mengacu kepada Tabel 5 ditemukan secara keseluruhan kerusakan laporan penelitian akibat noda air/makanan sebanyak 102 judul (32,08%) dengan perincian sebagai berikut. Pada tahun 1985 terdeteksi sebanyak 12 judul (3,78%), kemudian pada tahun 1986 dijumpai sebanyak 20 judul (6,29%), pada tahun 1987 terdapat sebanyak 38 judul (11,95%) selanjutnya noda air/makanan juga dijumpai pada koleksi tahun 1988 yaitu sebanyak 19 judul (5,98%) dan pada tahun 1989 dijumpai 13 judul (4,09%).

 

4.2.5. Kerusakan akibat sampul rusak
Kerusakan pada sampul laporan penelitian ditemukan sebanyak 88 judul (27,68%) dengan perincian setiap tahunnya adalah sebagai berikut. Pada 1985 dijumpai 20 judul (6,29%), berikutnya sebanyak 25 judul (7,87%) pada tahun 1986. Di tahun 1987 terdapat sebanyak 23 judul (7,24%), pada tahun 1988 sebanyak 14 judul (4,41%) dan pada 1989 masih terdapat 6 judul (1,89%) sampul rusak.

 

4.2.6. Kerusakan akibat serangga
Serangga merusak kertas laporan penelitian dengan meninggalkan lobang-lobang kecil berwarna hitam. Dalam kurun waktu 5 tahun kerusakan laporan penelitian akibat serangga berjumlah 110 judul (34,60%) terdiri atas tahun 1985 sebanyak 30 judul (9,44%), tahun 1986 sebanyak 27 judul (8,49%), kemudian pada tahun 1987 sebanyak 20 judul (6,29%) dan pada tahun 1988 berjumlah 28 judul (8,81%) dan 5 judul ( 1,58%) pada tahun 1989.

 

4.2.7. Kerusakan akibat jamur
Kerusakan kertas yang diakibatkan oleh jamur kelihatan dalam bentuk noda coklat sampai kehitam-hitaman. Kerusakan oleh jamur seringkali diakibatkan oleh udara tempat penyimpanan bahan pustaka berada dalam kondisi lembab sehingga memungkinkan tumbuhnya jamur di atasnya. Pemasangan alat pemantau kelembaban dalam ruangan penyimpanan sangat diajurkan dalam menjaga tingkat kelembaban yang optimal. Pada tahun 1985 laporan terkena jamur berjumlah 43 judul (13,53%), kemudian tahun 2986 sebanyak 54 judul (16,99%). Pada tahun 1987 dijumpai 82 judul (25,79%) terkena jamur, pada tahun 1988 sejumlah 64 judul (20,13%) dan di tahun 1989 berjumlah 2 judul (6,29%).

 

4.2.8. Kerusakan akibat debu
Kerusakan akibat debu berdasarkan Tabel 5 adalah sebagai berikut. Pada tahun 1985 sebanyak 53 judul (16,67%), kemudian tahun 1987 adalah 48 judul (15,10%), selanjutnya di tahun 1987 ditemukan sebanyak 63 judul (19,82%), kemudian pada 1988 dijumpai sebanyak 34 judul (10,70%) dan pada tahun 1989 terdapat 9 judul ( 2,83%).

4.2.9. Kerusakan akibat kertas rapuh
Kondisi rapuh dapat memperpendek usia kertas mengingat setiap pengguna harus secara khusus berhati-hati untuk memegang dalam mempergunakan bahan pustaka tersebut. Dari Tabel 5 diketahui kerusakan akibat kertas rapuh adalah, pada tahun 1985, 1986 dan 1987 terdapat masing-masing sebanyak 37 judul (11,64%), kemudian pada tahun 1988 berjumlah 25 judul (7,87%) dan pada 1989 dijumpai sebanyak 1,26%.

 

4.2.10 Kerusakan akibat kertas pudar
Laporan penelitian dengan kertas pudar menurut Tabel 5 dijumpai di sepanjang tahun yang diteliti dengan perincian sebagai berikut. Pada tahun 1985 terdapat sebanyak 59 judul (18,56%), kemudian pada tahun 1986 terdapat sebanyak 61 judul (19,19%), berikutnya pada tahun 1987 dijumpai sebanyak 92 judul (28,93%), pada tahun 1988 dijumpai 53 judul (16,67%) dan pada tahun 1989 berjumlah 20 judul (6,29%).

 

BABV KESIMPULAN
5.1. Berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa:
1) Jumlah laporan penelitian koleksi 1985 – 1989 adalah 318 judul, dengan perincian tahun 1985 dan 1986 masing – masing 62 judul (19,50%), pada tahun 1987 sebanyak 101 judul (31,77%), tahun 1988 dijumpai 72 judul (22,65%) dan 1989 sebanyak 21 judul (6,61%).
2) Terjadi kecenderungan penurunan jumlah koleksi laporan penelitian PIWP.
3) Terdapat 10 jenis kerusakan pada koleksi laporan penelitian PIWP periode 1985 – 1989 yaitu halaman lepas 29 judul (9,12%), kertas sobek 66 judul (20,76%), coretan tinta/pensil, 29 judul (9,12%), noda air/makanan 102 judul (32,08%) sampul rusak 88 judul (27,68%), serangga 110 judul ( 34,60%), jamur 263 judul (82,71%), debu 207 (65,10%), kertas rapuh 140 judul (44,03%), dan kertas pudar 285 judul (89,63%).
4) Dijumpai 3 besar kerusakan pada laporan penelitian berturut – turut adalah; akibat kertas pudar 285 judul (89,63%), jamur 263 (82,71%) dan debu 207 judul (65,10%).

5.2. Saran:
1) PIWP PDII perlu segera melakukan perbaikan terhadap koleksi laporan penelitian
yang rusak sebelum terjadi kerusakan lebih lanjut; hal ini diutamakan untuk
koleksi yang masih sering dimanfaatkan oleh pengguna.
2) Apabila koleksi sudah jarang digunakan maka perlu dilakukan penyiangan

DAFTAR PUSTAKA
Anonim: Digitalisasi local content; Visi Pustaka, Vol. 6, No: 1, juni 2004.

Budiartini, Eti; 2012. Laporan Bulanan Pusat Informasi Wanita Dalam Pembagunan Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI, Jakarta.

Muljono, Pudji; 1994. Studi tentang kerusakan Buku di Perpustakaan Pusat Institut Pertanian Bogor. Tesis Magister. Program Studi Ilmu Perpustakaan Bidang Studi Ilmu Informatika program Pasca Sarjana Univeritas Indonesia.

Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah; 2005; Pedoman Dokumentasi Literatur LIPI; Jakarta.

Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah; 2000; Brosur Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan; Jakarta.

Saary, Rina. S, 2010; Laporan Kegiatan Pusat Informasi Wanita Dalam Pembangunan Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah LIPI; Jakarta.