Kolaborasi Kepakaran Peneliti Pada Jurnal Ilmiah LIPI Bidang Informatika dan Kebumian

Pendahuluan
Hakikat setiap penelitian adalah menemukan jawaban atas berbagai masalah yang dihadapi. Dalam prosesnya, setiap penelitian, apapun jenis dan lingkup bidangnya bisa dilaksanakan hanya oleh satu orang (individu) ataupun beberapa/banyak orang (kolaborasi).

Melakukan penelitian secara individu maupun berkolaborasi biasanya tergantung pada kompleksitas masalah yang harus dipecahkan dalam suatu penelitian, bila semakin kompleks masalahnya maka akan dilakukan secara berkolaborasi karena diperlukan keilmuan dari bidang lainnya. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Prihantono (2002) untuk menanggulangi permasalahan yang semakin kompleks perlu melakukan kerja sama dengan didasarkan berbagai latar belakang keahlian. Melalui kerja sama permasalahan dalam penelitian dapat dipecahkan dan sekaligus dapat menciptakan hasil penelitian yang baik. Kerja sama dalam kegiatan penelitian disebut juga kolaborasi peneliti. Dalam hal ini masing-masing peneliti memberikan sumbangan sumber daya dan usaha baik intelektual maupun fisik.

Kolaborasi dalam suatu penelitian dianggap sebagai ujung tombak dunia ilmu pengetahuan, sehingga mendapat perhatian besar dari komunitas ilmuwan dan institusi kebijakan ilmu pengetahuan (Surtikanti, 2004). Observasi yang dilakukan beberapa peneliti menunjukkan bahwa makin banyaknya makalah ilmiah dengan kepengarangan ganda merupakan bukti meningkatnya kolaborasi di antara kelompok peneliti (Katz dan Martin, 1997).

Kolaborasi dalam penelitian dapat mengatasi hambatan dan kendala yang tidak dapat ditangani sendiri. Hambatan dan kendala yang mendorong terjadinya kolaborasi yakni keterbatasannya pengetahuan dan keterampilan seseorang atau ketersediaannya sumber daya fisik yang mendukung penelitian (Anom, 2012). Hal ini sesuai dengan pernyataan Sulistyo Basuki (1990), bahwa adakalanya suatu karya tulis ilmiah tidak dapat ditangani sendiri sehingga memerlukan bantuan orang lain untuk bersama-sama melakukannya.

Pada karya ilmiah, hambatan yang mungkin sering kali terjadi dialami pada penelitian bidang teknik maupun IPA, maka dari itu lazim ditemui penelitian bidang teknik maupun IPA dilakukan secara berkolaborasi. Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Cuningham dalam Purnomowati (2008) bahwa proporsi tinggi pada karya pengarang bersama adalah ciri ilmu pengetahuan alam dan fisika karena kerumitan dan mahalnya instrumen.

Pernyataan ini diperkuat oleh Sulistyo-Basuki yang menyebutkan bahwa tingkat kolaborasi bervariasi antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain, serta dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan riset, demografi, dan disiplin ilmu. Tingkat kolaborasi bidang teknologi umumnya lebih tinggi dibandingkan bidang humaniora.

LIPI sebagai lembaga riset tertua di Indonesia memiliki kewajiban untuk memberikan bukti riil atas riset yang telah dilakukan oleh peneliti kepada pemerintah dan masyarakat. Maka dari itu LIPI melalui media publikasinya memberikan gambaran tentang kemajuan riset dan teknologi dari berbagai bidang keilmuan diantaranya bidang teknik dan kebumian. Diantara bidang teknik dan kebumian media publikasi LIPI untuk mengkomunikasikan hasil penelitiannya adalah majalah ilmiah bidang informatika dan kebumian yaitu jurnal Inkom dan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan

Jurnal Inkom yang dikelola oleh pusat penelitian informatika bertujuan untuk mengkaji masalah yang berhubungan dengan informatika, sistem kendali, dan komputer.. Sedangkan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan dikelola dan diterbitkan oleh pusat penelitian geoteknologi-LIPI bertujuan untuk menyajikan topik makalah-makalah yang berkaitan dengan bidang geologi, geofisika, pertambangan dan bidang ilmu kebumian lainnya. Para peneliti menulis secara individu maupun berkolaborasi pada artikel di kedua jurnal tersebut.

Perumusan Masalah
Mengacu pada latarbelakang di atas maka penelitian ini akan membahas tentang kolaborasi peneliti pada kedua jurnal ilmiah LIPI bidang informatika dan kebumian, yaitu pada Jurnal Inkom dan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan, yang terbit pada tahun 2011. Jurnal Inkom dan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan dipilih karena alasan tingkat kolaborasi yang diperkirakan lebih tinggi dibandingkan umumnya, alasan lain karena kedua jurnal ini termasuk bidang teknik dan kebumian. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kolaborasi peneliti pada jurnal ilmiah LIPI bidang informatika dan kebumian tahun 2011. Tujuan penelitian pun diperinci sebagai berikut:

1) Mengetahui tingkat kolaborasi peneliti pada Jurnal Inkom dan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan tahun 2011.
2) Uji hipotesis dan menganalisa kepakaran para peneliti pada Jurnal Inkom dan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan tahun 2011.

Hipotesis
Berdasarkan tujuan penelitian diatas maka null hipotesis (H0) dan alternatif hipotesis (H1) untuk penelitian ini adalah :
H0 = Meskipun tingkat kolaborasi peneliti pada jurnal ilmiah LIPI tahun 2011 bidang informatika dan kebumian tinggi tapi kolaborasi kepakaran peneliti masih dalam satu disiplin ilmu yang sama.
H1 = Tingkat kolaborasi peneliti pada jurnal ilmiah LIPI tahun 2011 bidang informatika dan kebumian yang tinggi karena dibutuhkan kepakaran peneliti multidisiplin atau lebih dari satu disiplin ilmu.

Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis, hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu perpustakaan dan informasi, dan agar menjadi rujukan bagi penelitian selanjutnya di bidang bibliometrik.

2. Secara Praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi tentang kolaborasi peneliti pada jurnal lembaga riset dalam pemanfaatannya bagi pengelola jurnal LIPI dan masyarakat untuk mendukung upaya diseminasi informasi.

Metode Penelitian
Metode penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan bibliometrik menggunakan rumus Subramanyam untuk menghitung tingkat kolaborasi dan menggambarkan tentang kepakaran dari objek penelitian. Metode ini dipilih untuk mengetahui kolaborasi peneliti pada Jurnal Inkom dan Jurnal Riset geologi & pertambangan LIPI tahun 2011 diukur secara serta dikombinasikan dengan analisis deskriptif mengenai kolaborasi kepakaran multidisiplin dan satu disiplin ilmu. Populasi dari penelitian ini adalah artikel-artikel pada kedua jurnal yang terbit pada tahun 2011. Sedangkan objek dari penelitian ini adalah jumlah peneliti yang menulis artikel secara berkolaborasi maupun individu pada Jurnal Inkom dan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan tahun 2011.

Adapun teknik pengumpulan data dilakukan secara menganalisis dokumen dengan cara pemeriksaan dan pencatatan sistematis terhadap objek penelitian. Dimulai dengan mencatat nama penulis secara individu maupun yang berkolaborasi bersama ko-penulis, kemudian mencatat kepakaran setiap peneliti pada artikel kedua jurnal tahun 2011 tersebut melalui website sistem informasi direktori kepakaran milik PDII LIPI di alamat web.pdii.lipi.go.id/sidik; google.co.id; http://www.litbang.deptan.
go.id/peneliti milik litbang Kementan RI. Data yang telah terhimpun kemudian dianalisis menggunakan metode Subramanyam (Subramanyam, 1983) dengan rumus:

di mana:
C = Tingkat kolaborasi peneliti suatu disiplin ilmu, dengan nilai berada pada interval 0 sampai dengan 1, atau [0, 1]
Nm = Total hasil penelitian dari peneliti suatu disiplin ilmu pada tahun tertentu yang dilakukan secara berkolaborasi.
Ns = Total hasil penelitian dari peneliti suatu disiplin ilmu pada tahun tertentu yang dilakukan secara individual.

• Apabila nilai C = 0 maka dapat dikatakan bahwa hasil penelitian pada bidang tersebut seluruhnya dilakukan secara individual (peneliti tunggal).
• Apabila nilai C lebih besar dari nol dan kurang dari setengah (0 < C < 0,5) maka dapat dikatakan bahwa hasil penelitian yang dilakukan secara individual lebih besar dibandingkan dengan yang dilakukan secara berkolaborasi.
• Apabila nilai C = 0,5 maka penelitian yang dilakukan secara individual sama banyaknya dengan yang dilakukan secara berkolaborasi.
• Apabila nilai C lebih besar dari 0,5 dan kurang dari 1(0,5 < C < 1) dapat dikatakan bahwa hasil penelitian yang dilakukan secara individual lebih sedikit dibandingkan yang dilakukan secara berkolaborasi.
• Apabila nilai C = 1 maka penelitian pada bidang tersebut seluruhnya dilakukan secara berkolaborasi.

Tinjauan Pustaka
1. Kolaborasi Peneliti
Menurut Sulistyo Basuki dalam Anom, (2012) Kajian kolaborasi digunakan untuk mengetahui produktivitas penulis dan menghitung tingkat kolaborasi. Pendekatan lainnya digunakan untuk membandingkan tingkat kolaborasi antar lembaga dan antar disiplin ilmu dalam suatu negara serta kondisi yang melatarbelakangi penulis dalam melakukan kolaborasi. Istilah kolaborasi merupakan terjemahan dari kata collaboration yang artinya kerjasama antara lebih dari satu orang, atau lebih dari satu lembaga dalam suatu kegiatan, baik kegiatan penelitian maupun pendidikan.

Katz dan Martin memberikan batasan bahwa seorang peneliti dapat dikatakan atau disebut berkolaborasi (kolaborator) apabila orang tersebut bekerja sama dalam suatu penelitian dan ikut memberikan kontribusi penting berkali-kali; namanya muncul dalam proposal penelitian asli; bertanggung jawab pada satu atau lebih elemen utama penelitian, pelaksanaan eksperimen, analisis dan interpretasi data, penulisan laporan hasil penelitian; bertanggung jawab pada tahap-tahap penting penelitian (pencetus ide, hipotesis asli, atau interpretasi teori); dan sebagai pemilik proposal proyek asli atau penyandang dana, meskipun kontribusi utamanya hanya pada manajemen penelitian (misalnya ketua tim) bukan pada penelitiannya (Sormin, 2009).

Menurut Subramanyam dalam Rufaidah, (2008) tingkat kolaborasi peneliti pada masing-masing disiplin ilmu berbeda-beda. Frekuensi peneliti dalam melakukan kerjasama dengan peneliti lain menentukan tingkat kolaborasi peneliti tersebut. Pernyataan ini diperkuat oleh Sulistyo-Basuki yang menyebutkan bahwa tingkat kolaborasi bervariasi antara satu disiplin ilmu dengan disiplin ilmu yang lain, serta dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti lingkungan riset, demografi, dan disiplin ilmu. Tingkat kolaborasi bidang teknologi umumnya lebih tinggi dibandingkan bidang humaniora.

Banyak keuntungan yang diperoleh dengan berkolaborasi, bahwa keuntungannya adalah terciptanya kesempatan untuk berbagi pengetahuan, keahlian dan teknik tertentu dalam sebuah ilmu (Katz dan Martin, 1997). Dengan berkolaborasi akan terjadi sistem pembagian kerja dan penggunaan sumber daya yang efektif yang dimiliki oleh masing-masing peneliti. Adapun keuntungan kolaborasi bagi peneliti yaitu:
1. Transfer pengetahuan dan keahlian.
2. Pertukaran ide dari berbagai ilmu yang akan menambah wawasan dan perspektif baru seseorang yang dapat memotivasi kreativitas.
3. Membuka kesempatan persahabatan intelektual.
4. Peningkatan produktivitas.

Disini terlihat manfaat dari penelitian secara berkolaborasi, terlebih pada bidang teknologi. Selain dapat berbagi keilmuan, berkolaborasi juga dapat meningkatkan kerjasama antar individu maupun lembaga. Dalam penelitian ini peneliti melakukan penelitian secara berkolaborasi antar rekan dalam lembaga, dan berkolaborasi afiliasi dengan lembaga lain. LIPI merupakan salah satu lembaga yang berafiliasi dengan banyak lembaga riset lainnya dan perguruan tinggi, contohnya BPPT dan ITB.

Pada karya ilmiah berkolaborasi ada beberapa jenis kolaborasi seeprti yang dikemukakan oleh Subramanyam dalam Prihantono (2002), bahwa ada enam jenis kolaborasi yaitu:

1. Kolaborasi dosen dan mahasiswa, kolaborasi semacam ini sering dijumpai di perguruan tinggi. Pada kolaborasi semacam ini seorang dosen dapat memberikan arahan, gagasan petunjuk ataupun biaya penelitian dan mahasiswa yang melakukannya.
2. Kolaborasi sesama rekan, kolaborasi jenis ini biasa dilakukan di lembaga penelitian. Dalam hal ini penelitian dilakukan oleh sekelompok peneliti, masing-masing anggota memberikan sumbangan sesuai dengan kemampuan dan keahlian yang dimiliki dalam berbagai aspek penelitian.
3. Kolaborasi penyelia (supervisor dan asisten). Kolaborasi jenis ini biasa dilakukan antara peneliti senior dengan peneliti yunior. Kasus yang paling umum pada kolaborasi ini biasanya dilakukan oleh peneliti di laboratorium. Pada peneliti di laboratorium biasanya seorang peneliti dibantu oleh laboran teknisi.
4. Kolaborasi peneliti dan konsultan, kolaborasi jenis ini banyak dilakukan pada proyek penelitian berskala besar. Tim peneliti pada proyek ini menggunakan jasa dari lembaga atau perusahaan lain sebagai konsultan khusus dalam rangka pengumpulan, pengolahan dan analisis data.
5. Kolaborasi antar lembaga, kolaborasi ini dilakukan oleh peneliti dan teknisi dari berbagai lembaga penelitian yang bekerja sama dalam proyek bersama, dengan menggunakan peralatan khusus yang dimiliki lembaga lain.
6. Kolaborasi internasional, kolaborasi jenis ini melibatkan beberapa negara atau antar peneliti/ilmuwan dari beberapa negara yang berkaitan dalam suatu penelitian.

2. Kepakaran Peneliti
Kepakaran peneliti menurut surat keputusan kepala LIPI Nomor 03/E/2005 tentang Pedoman Pemilihan/Penentuan Bidang Penelitian dan atau Kepakaran Peneliti adalah keahlian dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang digunakan untuk menunjuk suatu kegiatan yang benar-benar dikerjakan oleh peneliti.

Hasil dan Pembahasan
1. Tingkat Kolaborasi Peneliti Pada Jurnal Inkom dan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan Tahun 2011
Karya tulis ilmiah peneliti yang dipublikasikan pada Jurnal Inkom pada vol.5 no.1 dan 2 berjumlah 17 artikel. Sedangkan pada Jurnal Riset Geologi & Pertambangan pada tahun 2011 dari dua nomor yakni vol. 21 no.1 dan 2 berjumlah 12 artikel.

Jumlah artikel kolaborasi pada Jurnal Inkom tahun 2011 yang ditulis oleh 2 orang peneliti berjumlah 10 artikel, kemudian yang ditulis oleh 3 orang peneliti berjumlah 3 artikel, sisanya 6 artikel ditulis secara individu. Pada Jurnal Riset Geologi & Pertambangan tahun 2011 yang ditulis oleh 2 orang peneliti berjumlah 2 artikel, kemudian yang ditulis oleh 3 orang peneliti berjumlah 3 artikel, yang ditulis oleh 4 orang peneliti berjumlah 1 artikel, dan yang ditulis oleh 6 orang peneliti berjumlah 1 artikel, begitu juga dengan yang ditulis 8 orang peneliti hanya satu artikel saja.

Dari data di atas diperoleh jumlah karya kolaborasi (Nm) pada Jurnal Inkom tahun 2011 adalah 13 artikel kolaborasi sedangkan pada Jurnal Riset Geologi & Pertambangan tahun 2011 adalah 8 artikel kolaborasi. Jumlah karya individu (Ns) pada Jurnal Inkom berjumlah 4 artikel dan pada Jurnal Riset Geologi & Pertambangan adalah 4 artikel.

Adapun tingkat kolaborasi (C) karya ilmiah pada Jurnal Inkom dimana Nm = 13 dan NS = 4 adalah:

 

Sedangkan tingkat kolaborasi (C) yang diperoleh dari Jurnal Riset Geologi & Pertambangan dimana Nm= 8 dan Ns= 4 adalah:

 

Tingkat kolaborasi peneliti pada Jurnal Inkom dan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan berada di antara 0,5 < C < 1. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian bidang informatika dan kebumian lebih banyak dilakukan secara berkolaborasi daripada secara individu.

Adanya tingkat kolaborasi yang tinggi dikarenakan oleh kompleksitas penelitian yang menyebabkan dibutuhkan kolaborasi kepakaran peneliti dari bidang dan sub bidang lainnya, ini sesuai dengan pernyataan Sulistyo Basuki (1990) Tingkat kolaborasi bidang teknologi umumnya lebih tinggi dibandingkan bidang humaniora.

2. Uji Hipotesis dan Analisa Kepakaran
Pada Jurnal Inkom dan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan, kolaborasi kepakaran peneliti cukup tinggi. Yang menarik disini adalah para peneliti wanita yang cukup tertarik pada kepakaran teknik seperti bidang sistem informasi, kecerdasan buatan maupun geofisika.

Meskipun Jurnal Inkom tahun 2011 memiliki tingkat kolaborasi peneliti sebesar 76,47 % lebih tinggi dibandingkan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan tahun 2011 sebesar 66,66 % hal ini belum membuktikan pada bidang informatika dibutuhkan kolaborasi peneliti multidisiplin lebih tinggi daripada bidang kebumian.

Faktor-faktor kolaborasi yang terjadi pada jurnal imiah biasanya terjadi karena dibutuhkan peneliti dari latarbelakang ilmu multidisiplin atau dibutuhkan kepakaran peneliti bidang yang berbeda untuk mengatasi masalah penelitian yang lebih kompleks.

Peneliti mengintrepretasikan bahwa pada jurnal Inkom tahun 2011 kolaborasi peneliti dengan kepakaran multidisiplin lebih banyak daripada kolaborasi kepakaran dalam satu bidang ilmu yang sama yaitu dengan 7 artikel kolaborasi kepakaran multidisiplin, meskipun tingkat kolaborasi Jurnal Inkom 2011 yang tinggi disumbang juga oleh kolaborasi kepakaran dalam bidang ilmu yang sama dengan 6 artikel kolaborasi. Kepakaran peneliti subbidang ilmu perangkat lunak campuran mendominasi dalam Jurnal Inkom tahun 2011 dengan 13 pakar, lebih lengkap lihat pada tabel 5 dan 6.

Artikel kolaborasi pada jurnal Riset Geologi & Pertambangan tahun 2011 seluruhnya didominasi oleh kepakaran multidisiplin dengan 8 artikel kolaborasi. Sisanya artikel individu. Peneliti dengan bidang kepakaran subbidang geologi dan geofisika mendominasi pada karya ilmiah peneliti di Jurnal Riset Geologi & Pertambangan tahun 2011 dengan 9 pakar, lebih lengkapnya lihat pada tabel 7 dan 8.

Peneliti pun mendapatkan hasil analisa tentang kepakaran dari artikel kolaborasi maupun individu dari kedua jurnal ilmiah LIPI ini bahwa penelitian kolaborasi didominasi dengan kolaborasi kepakaran multidisiplin atau lebih dari satu bidang daripada kolaborasi kepakaran dalam satu bidang saja. Sehingga alternatif hipotesis (H1) bahwa Tingkat kolaborasi peneliti pada jurnal ilmiah LIPI tahun 2011 bidang informatika dan kebumian tinggi karena dibutuhkan kepakaran peneliti multidisiplin atau lebih dari satu disiplin ilmu, dapat diterima.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa tingkat kolaborasi dari kedua jurnal ilmiah LIPI bidang informatika dan kebumian tahun 2011 masing-masing yaitu jurnal Inkom C = 0,7647 (76,47%) dan Jurnal Riset Geologi & Pertambangan C = 0,6666 (66,66%) yang berarti 0,5 < C < 1 dengan demikian dapat dikatakan bahwa penelitian bidang informatika dan kebumian pada kedua jurnal tersebut lebih banyak dilakukan secara berkolaborasi daripada secara individu dan penelitian kolaborasi didominasi dengan kolaborasi kepakaran multidisiplin atau lebih dari satu bidang daripada kolaborasi kepakaran dalam satu bidang saja.

Maka penelitian ini membuktikan bahwa penelitian kolaborasi dilakukan atas dasar berbagi pengetahuan untuk mengatasi masalah penelitian yang lebih besar, lebih penting dan global serta menambah wawasan. Hal ini sesuai dengan manfaat kolaborasi penelitian menurut Katz dan Martin yang salah satunya adalah pertukaran ide dari berbagai ilmu yang akan menambah wawasan dan perspektif baru seseorang, efeknya akan lebih tinggi jika terjadi diantara orang-orang dari berbagai latar ilmu yang berbeda.

Daftar Pustaka
Anom, S. 2012. Kolaborasi Peneliti Bidang Sains: Sebuah Kajian Bibliometrik Pada Makara Seri Sains dan jurnal Matematika dan Sains. Depok: Universitas Indonesia.

Basuki, Sulistyo. 1990. Kolaborasi Pengarang Sebuah Kajian Bibliometrik. Majalah Ikatan Pustakawan Indonesia, 12, 12-18.

Katz, J.S. and B.R. Martin. 1997. What is research collaboration? Research Policy 26: 1-18.

Prihantono, I.G. 2002. Graf Komunikasi. Kumpulan kursus bibliometrika. Universitas Indonesia, Jakarta.

Purnomowati, Sri. 2008. Pola Kepengarangan dan Pola Sitiran Tiga Judul Majalah Indonesia Bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Berita Iptek, 42, 125-140.

Rufaidah, Vivit Wardah. 2008. Kolaborasi dan graf komunikasi artikel ilmiah peneliti Bidang pertanian: Studi kasus pada jurnal penelitian dan pengembangan pertanian Serta indonesian journal of agricultural science.Mei29,2013. http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/pp171082.pdf

Sormin, Remi. 2009. Kajian Korelasi Antara Kolaborasi Peneliti dan Produktifitas Peneliti Lingkup Badan Litbang Pertanian. Mei 29, 2013.
http://pustaka.litbang.deptan.go.id/publikasi/pp181091.pdf

Sumbramanyam, K. 1983. Bibliometrics Studies of Research Collaboration: a Review. Journal of Information Science, 6(1): 34

Surtikanti, R. 2004. Kajian Kolaborasi Interdisipliner Peneliti di Indonesia: Studi kasus pada program riset unggulan terpadu I-VII. Tesis. Jakarta: Universitas Indonesia.