Kolaborasi Perpustakaan Nasional Indonesia dan Sinematek Indonesia dalam Melestarikan Film Nasional: Menyelamatkan Harta Karun Budaya yang Terpinggirkan

Pendahuluan

Film sebagai salah satu produk budaya di Indonesia usianya relatif belum terlalu tua jika dibandingkan dengan tonil, ketoprak, sastra, wayang atau pelbagai kesenian rakyat yang lain. Sedangkan televisi sebagai produk budaya, yang lahir setelah film justru sangat berkembang pesat. bahkan menjadi kebutuhan primer masyarakat modern. Dari sisi pelestarian produk budaya film dan juga televisi, keduanya juga mengalami kesenjangan perlakuan. Dengan sistem teknologi digital, upaya dokumentasi produk budaya televisi dapai dilakukan dengan relative mudah. Sedangkan untuk perfilman nasional, dengan segala pasang surut perkembangan , tidak mempunyai satu sistem penyimpanan dan pelestarian yang baik. Padahal film, sebagaimana produk kesenian lain, merupakan produk budaya sebuah bangsa yang merupakan pencerminan karakter dan identitas bangsa bersangkutan.
 
Budayawan Armin Pane (1953) dalam sebuah artikelnya, mengutip pendapat Sigfreid Kracauer menyatakan bahwa. media film merupakan pencerminan paling nyata masalah mentalitas, budaya dan perkembangan suatu masyarakat, melebihi media seni yang lain. Setidaknya ada dua hal yang menguatkan alasan tersebut. Pertama film merupakan kerja koleklif yang melibatkan banyak unsur sampai sebuah film ditonton khalayaknya. Yang kedua, film diproduksi untuk ditonton oleh khalayak sebanyak mungkin. Oleh karena itu film diproduksi tidak bisa lepas dari konteks masyarakat yang melingkupinya.
 
Sebagai produk budaya sebuah masyarakat bangsa dan negara, dalam satu kurun waktu yang panjang dan akan terus berlangsung sampai masa depan. pendokumentasian film merupakan hal penting. Meski film nasional baru mulai sejak tahun 1927, dan tentu peristiwa tersebut merupakan lonjakan teknologi mekanis di bidang kesenian Indonesia, tctapi upaya pelestariannya merupakan sesuatu yang tidak menjadi prioritas. Adanya Sinematek  di Indonesia masih belum mampu menyimpan khasanah budaya film nasional. Upaya pelestarian film Indonesia sudah saatnya menjadi perhatian semua pihak pemangku kepentingan industri film.
 
Beberapa persoalan yang melingkupi upaya pelestarian film nasional perlu diurai secara jernih dan mengedepankan solusi. Pcmerintah, Masyarakat Perfilman Indonesia. Komunitas-Komunitas Perfilman. dunia kampus dan masyarakat umum. dalam masing-masing besaran proporsinya berkepentingan mengupayakan sistem pelestarian film nasional yang menunjang kebudayaan bangsa. Kesadaran pelestarian produk budaya Bangsa Indonesia masih sangat memprihatinkan. Nyaris semua elemen di masyarakat. dengan pemerintah sebagai aktor paling dominan. lebih melihat semua hal dalam perspektif fisik dan jangka pendek. Karenanya tidak begitu mengejutkan jika pelestarian film nasional menjadi terbengkalai.
Pentingnya Pelestarian Film Indonesia

Harus diakui bersama. di Indonesia masalah pelestarian budaya dan kegiatan pendukungnya masih sangat lemah. Banyak contoh menguatkan pernyataan tersebut. Kasus paling aktual adalah diklaimnya beberapa produk kebudayaan asli Indonesia oleh pemerintah Malaysia. Setelah pencak silat, batik, angklung bahkan reog dicoba untuk diakui sebagai produk Malaysia, besar kemungkinan produk budaya lain segera menyusul diklaim pihak lain.
 
Upaya perawatan dan penyimpanan sebagai bagian utama pelestarian kondisinya juga sangat memprihatinkan. Bukan saja film, bidang lain juga tidak mendapatkan perlakuan sebagaimana mestinya. Museum-museum yang dikelola pemerintah kondisinya dapat dikatakan seperti pepatah "hidup segan mati tidak mau? .  Contoh nyata dan aktual lainnya adalah pencurian patung-patung di Museum Radyapustaka Surakarta diganti dengan patung-patung palsu . Dalam bidang susastra. naskah-naskah Melayu Kuno yang banyak dimiliki oleh penduduk dan keluarga mantan kerajaan-kerajaan di daerah Riau. Sumatera Barat. Sumatera Selatan. Bangka Belitung dan sekitarnya ramai-ramai menjadi incaran kolektor dari Malaysia dan Singapura  Perpustakaan Umum Daerah maupun Perpustakaan Nasional koleksinya masih belum dapat mengkoleksi semua terbitan nasional sebagaimana diamanatkan oleh UU Nomor 4 Tahun 1990 tentang Serah Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam dan diperkuat dengan Peraturan Pcmerintah No. 70 Tahun 1991. Upaya membangun Koleksi Indonesiana masih jauh dari harapan.
 
Upaya pelestarian peninggalan budaya belum menjadi kebutuhan bangsa Indonesia. Menjadi ironis bila literatur tentang Indonesia justru terbanyak di Universitas l.aiden di Belanda. Universitas Cornell di New York AS. Belum ada kebanggaan di masyarakat maupun pemerintah tcrhadap peninggalan nenek moyangnya. Bcrbeda dengan di Irak dimana rakyat dan pemerintahnya sangat menghargai warisan leluhur. Artefak-artefak. naskah kuno menjadi kcbanggaan bangsa masih terpelihara dengan baik. Schingga untuk meruntuhkan mental dan semangat rakyat Irak, peninggalan yang tidak ternilai itu menjadi sasaran gempuran pihak AS. Sebagai bangsa tentu kita semua iri akan kondisi seperti di atas. Slogan bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya masih sebatas sebuah slogan. Terlebih upaya pelestarian peninggalan budaya bukan aktivitas yang menarik perhatian masyarakat dan mendatangkan banyak keuntungan finansial.
 
Mengapa perfilman nasional perlu dilestarikan? Sebuah pertanyaan yang sangat menggelitik karena beberapa alasan. Pertama, untuk saat ini produksi film nasional masih dalam tahap pemulihan kembali setelah "pingsan produksi/mati suri" 5-10 tahun ke belakang. Ke depan apakah perfilman akan dapat bangkit di saat kompetisi dengan media hiburan lain kian sengit dan infrastruklur pendukung kebangkitan nyaris tidak ada. Yang kedua. apakah film-film nasional yang didominasi seksploitasi, kekerasan, mistis dan miskin logika perlu dilestarikan? Ketiga. liputan tentang film dan tentunya bintangnya. sebagian besar bukan membicarakan prestasi dan keunggulan. tetapi justru sisi ncgatif. Kasus narkoba. kawin cerai dan pergaulan bebas para artis menjadi menu utama infotainment.
 
Sekilas awam akan menjawab tidak perlu adanya pelestarian film. Mudarat akan lebih besar daripada manfaatnya. Tetapi bila dikaji secara jernih. jujur dan mampu mengambil pelajaran masa lain, upaya pelestarian film Indonesia mutlak perlu adanya. Menurut kesejarahan, apapun produk budaya masyarakat merupakan pencerminan dari budaya suatu masyarakat pada masanya. Sejauhmana budaya masyarakat dapat tercermin dari produk film perlu dilakukan penelitian yang mendalam. Penelitian yang dilakukan oleh Sigfried Kracauer tentang film-film Jerman sebelum kemunculan Hitler menunjukkan betapa siapnya masyarakat Jerman saat itu akan datangnya sistem totaliter yang dikemudian hari berujuwd system diktatorial Adolf Hitler melalui Nazi .
 
Di Indonesia upaya-upaya menjadikan film sebagai media ekspresi intelektual masih belum terwujud. Scjarah awal perfilman Indonesia, yang di pelopori para pedagang Cina dengan membangun gedung bioskop dengan pangsa penonton utamanya penduduk keturunan. lebih menitikberatkan sisi ekonomi belaka. Untuk itu diproduksi film-film yang memungkinkan digandrungi khalayak penonton. Segi artistik dan media ekspresi sebuah film masih dalam jumlah terbatas oleh pelaku-pelaku yang terbatas pula jumlahnya.
 
Dari film pula dapat dilihat bagaimana peran serta seniman dalam mensikapi permasalahan di masyarakat. Usmar Ismail. Bapak Perfilman Indonesia, membuat film Darah dan Doa (tahun 1950) dan Enam Jam di Jogja (juga tahun 1950) merupakan tafsir dan ekspresi terhadap perjuangan revolusi mengusir kaum pendudukan Belanda. Terlebih film Enam Jam di Jogja hanya berjarak sekitar IX bulan dari peristiwa yang terjadi 1 Maret 1949. Tcntu penafsiran terhadap suatu peritiwa lebih jernih, bila dibandingkan dengan film Janur Kuning atau Serangan Fajar yang dibuat jauh dari peristiwa aslinya dan sudah ada kepentingan politis penguasa.
 
Pada tahun 1974-1978 dimana boom minyak terjadi di Indonesia dan Pemerintahan Orde Baru dominan. muncul kelompok yang disebut Orang Kaya Baru (OKB). Pada saat itu di masyarakat timbul disorientasi yang berakibat pula longgarnya sistem dan kepatuhan hukum. Film bernafaskan seksploitasi dan kriminalitas oleh gang-gang remaja bcrmunculan. Untuk saat ini genre film horor tengah merasuk pelaku film. Tema horor dengan berbagai variasi mahluk gaibnya (ada hantu. pocong. wewe gombel, kuntilanak dan yang lain) banyak diproduksi. Fenomena ini merupakan pengulangan tren film tenia sejenis pada awal tahun 70-an. Bila diamati secara lebih mendalam setiap judul dan perkembangan industri perfilman. maka akan sangat menarik dan ditemukan pelbagai kepingan-kepingan kehidupan berbangsa. Antara film dan kondisi masyarakat terjadi hubungan kasualitas.
 
Penelitian mengenai budaya. kondisi sosial ekonomi suatu negara pada satu masa melalui film hanya dapat dilakukan bila pclestariannya telah dilaksanakan dengan baik. Pelestarian film merupakan upaya memahami perkembangan budaya. sosiologis. politik dan semua aspek kehidupan sebuah masyarakat atau bangsa. Sebagaimana salah satu prinsip dalam kepustakawanan bahwa semua buku pasti ada manfaatnya. demikian halnya dengan film juga mempunyai sisi yang dapat dipetik hikmahnya.
 
Memahami Peran Sinematek Indonesia

Bagi masyarakat awam Sinematek Indonesia merupakan kosakata asing, apalagi untuk mengenai dan memahami fungsi sekaligus peranannya. Sinematek merupakan wahana dimana pengarsipan dan pendokumentasian pcrfilman yang bukan saja scbatas menyimpan copy film dalam berbagai format saja, tetapi di dalamnya juga tcrdapat dokumentasi unsur film yang lain misalnya skenario, kliping berita. kritik film, majalah, poster. foto terkait proses produksi, sampai dengan proses pasca produksi. Sinematek juga berurusan dengan pasca produksi sebuah film dan lingkungan yang mempengaruhinya, anlara lain data bioskop, jumlah penonton. bahkan data mengenai sumber daya sebuah produksi film.
 
Di Indonesia lembaga tersebut dijalankan oleh Sinematek Indonesia Pusat Perfilman H. Usmar Ismail yang lebih dikenal dengan Sinematek Indonesia (SI) atau Sinematek. Gagasan berdirinya sudah ada dalam benak budayawan cum tokoh film nasional Asrul Sani sejak tahun 1970. Tetapi kelahiran resminya baru pada tanggal 20 Oktobcr 1975 berdasarkan SK Gubernur DKI. yang bukan saja sebagai penyimpan copy film, tetapi juga pusat studi dan aktifitas pcrfilman nasional. Agar kiprahnya lebih eksis Sinematek bergabung dalam Federation Internationale des Archives du Film (F1AF) yang merupakan lembaga internasional di bidang arsip dan dokumentasi film.
 
Dalam kiprahnya saat ini Sinematek telah berupaya mendinamiskan kegiatannya. Selain melakukan penyimpanan sekitar 3000 copy film. Sinematek juga sering melakukan kegiatan pemutaran. diskusi pameran poster   film, dan semua kegiatan yang bersifai apresiatif dan ilmiah bidang perfilman. Untuk mendukung kegiatannya, Sinematek dilengkapi juga dengan sekitar 10.000 judul buku tentang film. Sinmatek sejak awal diarahkan sebagai arsip terlengkap dibidang perfilman. Kegiatan-kegiatan sering dilakukan agar keberadaan Sinematek lebih dikenal oleh masyarakat.
 
Dari pentingnya peran Sinematek dan sekian banyak aktivitas yang telah dilakukan, tentu saja banyak kendala yang melingkupinya. Permasalahan yang klasik adalah pendanaan baik unluk operasional kegiatan maupun gaji pegawai. Dari pendanaan tersebut menurun pada masalah kegiatan yang tidak bisa maksimal, serta sumber daya manusia yang minim, baik kuantitas maupun kualitasnya. Permasalahan lain adalah sarana dan prasarana yang kurang mendukung. Mcskipun secara fisik terjadi perubahan yang cukup signifikan setelah menempati gedung baru dengan lima laniai di kawasan Kuningan. tetapi sarana dan prasarana yang lain masih sangat memprihatinkan. Perawatan film dan penambahan koleksinya memerlukan biaya yang cukup besar. Permasalahan yang ketiga adalah rendahnya keterlibatan praktisi perfilman di Sinematek. Bila ada perhatian dari kalangan perfilman tentu Sinematek akan jauh lebih baik, sebagaimana pada awal berdirinya tokoh-tokoh scperti Asrul Sani dan Misbach Yusa Biran sangat besar kontribusinya.
 
Kolaborasi dengan Perpustakaan

Sejatinya apa yang menjadi aktivitas utama Sinematek Indonesia juga merupakan tugas dan fungsi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI). Secara tegas dan nyata salah satu tugas utama PNRI sebagai pelestari kebudayaan bangsa. PNRI pula secara nyata ditunjuk sebagai badan yang berwenang mengumpulkan semua terbitan dan karya cetak yang diamanatkan UU No. 4 Tahun 1990 tentang Serah-Simpan Karya Cetak dan Karya Rekam Bab I Kctentuan Umum Pasal I ayat (5) yang berbunyi:
 
Perpustakaan Nasional adalah perpustakaan yang berkedudukan di ibu kota negara yang mempunyai tugas menghimpun, menyimpan. melestarikan dan mendayagunakan semua karya cetak dan karya rekam yang dihasilkan di wilayah Republik Indonesia.
 
Artinya antara PNRI dan Sinematek Indonesia salah satu fungsi utamanya adalah melestarikan produk cetak dan rekam di Indonesia agar dapat digunakan Secara maksimal. Karya cetak dan rekam yang dimaksud tidak semata-mata kertas atau pita kaset belaka, tetapi media rekam dan cetak yang mengikuti perkembangan jaman. (Lihat Pasal 1 ayat (2) UU No. 4 Tahun 1990).
Pada Sinematek Indonesia fokus pelestariannya pada produk sinema (film), sedangkan PNRI mempunyai jangkauan yang lebih luas bukan semata dokumentasi film, tetapi utamanya karya cetak berupa buku dan koleksi audio visual. Dari kesamaan tugas ini akan sangat efektif dan efisien bila dilakukan sebuah kolaborasi antara PNRI dan Sinematek Indonesia untuk kemaslahatan bersama. Masing-masing pihak tetap pada tugas utamanya, memberikan yang terbaik kemampuannya dan saling mengisi kekurangan. Dengan kolaborasi tidak ada satu pihak menguasai atau dominan atas pihak yang lain, karena sifat kerjasama yang dilakukan adalah kesetaraan manfaat bersama untuk kepentingan nasional efektif dan efisien.
 
Untuk sampai pada satu kolaborasi tentunya banyak tahapan yang harus dilalui. Tahapan pertama adalah memetakan potensi-potensi apa yang menjadi keunggulan kompetitif masing-masing, potensi-potensi apa yang bisa dikembangkan bersama dengan analisis Strength (kckuatan). Weakness (kelemahan). Oportunities (kesempatan) dan Threat (ancaman) atau SWOT analysis atau metode yang lain. PNRI dan Sinematek Indonesia duduk bersama dan mendiskusikan dengan secermat mungkin semua aspeknya. Jika saat ini Sinematek sudah ada ruang pertunjukan, ruang diskusi dan ruang penyimpanan copy film, maka keunggulan tersebut tetap dipertahankan. Sangat dimungkinkan pula bila PNRI meminjam copy film dari Sinematek karena PNRI mempunyai fasilitas yang hampir sama. Bila PNRI sudah mempunyai sistem perawatan koleksi yang bagus. akan baik hasilnya bila perawatan koleksi Sinematek dilakukan oleh PNRI. Perawatan dapat berupa koleksi buku atau bahkan copy-copy film.
 
Program digitalisasi koleksi juga telah dilakukan cukup lama oleh PNRI, proses yang sama juga dapat dilakukan untuk koleksi film di Sinematek yang masih berupa pita. Digitalisasi secara teknis akan menghemat tempat penyimpanan memudahkan penggandaan dan ketahanan koleksi dapat jauh lebih lama. Digitalisasi akan lebih efisien bila dilakukan secara terpusat karena akan mengurangi biaya pembelian peralatan dan infrastruktur, juga tcrkait dengan sumber daya manusia yang menjalankan. Da lam banyak kasus. ada satu instansi yang kelebihan beban kerja maupun kapasitas produksi. tetapi di instansi yang lain potensi maksimal tidak bisa digunakan karena jumlah input yang terbatas.
 
Pcngembangan sumber daya manusia (SDM) merupakan prioritas ulama kerjasama. Maju mundurnya PNRI maupun Sinematek berganlung dengan kualitas SDM yang dimiliki. Permasalahan yang muneul pada PNRI maupun Sinematek adalah perhatian yang minim dari pemerintah. Peraturan kepegawaian masih belum mengakui dengan baik profesi pelestari kebudayaan ini. Sehingga gaji atau pendapatan yang diberikan jauh dari tingkat kesejahteraan minimal pegawai. Dengan kolaborasi justru akan mcnghimpun kekualan yang diharapkan mempunyai posisi tawar yang lebih baik. Pemerintah harus disadarkan bahwa pelestarian aset budaya masa lalu tidak kalah penting dengan profesi lain yang mendapal perhatian lebih misalnya dosen dan guru, aparat di bidang keuangan, peradilan dan kepolisian.
 
Terlebih bagi pegawai Sinematek yang jenjang karier dan fasilitas yang lain belum berinduk dengan pasti. Sinematek dapat bergabung atau menjadi satu asosiasi dalam bidang dokumentasi. perawatan peninggalan budaya. misalnya antara arsiparis, pustakawan, pegawai sinematek dan yang scjenis. Rumpun kerja yang sama akan jauh efektif bila mempunyai wadah yang satu dan jumlah SDM yang ideal. Keberhasilan profesi guru dan dosen dalam menerbitkan UU Guru dan Dosen secara signifikan dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Beberapa hal tersebut harus menjadi inspirasi bagi pustakawan dan profesi serumpun. Untuk itu diperlukan kemampuan meyakinkan pemerintah agar menghargai profesi ini. Semakin banyak anggota asosiasi akan memperkuat posisi tawar kepada pemerintah.
 
Kesimpulan dan Rekomendasi
Upaya pelestarian film khususnya dan peninggalan kebudayaan merupakan hal penting dan harus menjadikan kesadaran semua pihak terutama pemerintah. Saat ini upaya pelestarian masih sangat dipinggirkan. Pemerintah belum menyadari pentingnya pelestarian bagi sejarah perkembangan bangsa. Upaya Sinematek untuk melestarikan film nasional harus didukung oleh semua pihak.
 
Film merupakan aset budaya nasional yang darinya tercermin kondisi sosial. budaya, peradaban salu bangsa pada suatu masa. Sebagai karya rekam. film juga termasuk salah satu unsur yang harus diserahkan kepada PNRI sebagai perintah dari UU No. 4 Tahun 1999 tentang Serah-Simpan Karya Cetak dan Rekam. Untuk itu perlu adanya kolaborasi antara PNRI dan Sinematek Indonesia mengupayakan satu sistem pelestarian yang mampu membawa kebanggaan bangsa dan bermanfaat besar bagi masyarakat. Kolaborasi yang diharapkan haruslah bersifat setara, saling menguntungkan. efektif dan efisien. Kolaborasi yang ada haruslah tidak menghilangkan eksistensi satu dengan yang lain, justru hakekat kolaborasi adalah sinergi positif antar dua lembaga untuk kemaslahatan bersama.
 
Perlu adanya wilayah-wilayah yang jelas dengan disusun bersama langkah-langkah kolaborasi yang diharapkan. Salah salu keuntungan yang diperoleh adalah efisiensi dan efektifitas. Kecuali itu kolaborasi akan menguatkan posisi tawar kepada pemerintah agar perhatian terhadap pelestarian budaya nasional semakin besar. Untuk itu langkah awal yang harus dilakukan dengan merumuskan dan memetakan permasalahan dan mencari peluang yang ada. Peluang untuk melakukan kolaborasi sangat besar bergantung kepada kemauan pihak-pihak terkait.
 
Bahan Bacaan Lanjutan

Budi Irawanto (penyunting). 2004, Pemetaan perfilman Indonesia tahap kedua : Menguak peta perfilman Indonesia. Jakarta : Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI
 
JB Kristanto (2004). Nonton Film Indonesia, Jakarta : Penerbil Buku Kompas
Salim Said (1992) Pantulan Layar Putih, Jakarta : Pustaka Sinar Harapan
UU No. 4 Tahun 1990 Tentang Serah-Simpan Karya Celak dan Karya Rekam
 
Artikel
Merelakan Harta Negeri Disimpan di Negara Orang (Kompas 19 Juni 2004)
Pengelolaan Naskah Nusantara Belum Optimal (Kompas 20 Desember 2004)