KOMPAS (Komunitas Pembaca Setia) : Peran Masyarakat Sebagai Agent of Change dalam Pengembangan Perpustakaan

PENDAHULUAN

Membaca adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi masyarakat untuk menjadi bangsa yang maju. Dengan membaca, masyarakat dapat mengetahui, memahami, dan mengerti berbagai hal. Masyarakat yang gemar membaca umumnya memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi. Tak heran jika minat baca sebuah bangsa menjadi indikator maju atau tidaknya suatu bangsa. Bangsa yang maju dapat dilihat dari kebiasaan dan minat baca masyarakatnya.
Dalam hal ini, perpustakaan berfungsi sebagai media yang memfasilitasi masyarakat untuk membaca. Menurut Lasa Hs, perpustakaan sebagaimana yang ada dan berkembang sekarang telah dipergunakan sebagai salah satu pusat informasi, sumber ilmu pengetahuan, penelitian, rekreasi, pelestarian khazanah budaya bangsa, serta memberikan berbagai layanan jasa lainnya. Berdasarkan definisi di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa peran perpustakaan sangat vital dalam membangun peradaban sebuah bangsa.
 
Perpustakaan dapat dikatakan sebagai media yang mencerahkan masyarakat untuk memulai sebuah perubahan. Dengan menumbuhkan kebiasaan membaca, perpustakaan memotivasi dan mendorong masyarakat untuk melakukan inovasi, perubahan pola hidup, sikap, dan pola pikir. Masyarakat mendapat inspirasi, pengetahuan, dan dipersiapkan menjadi agent of change bagi sebuah bangsa. Tak heran slogan ?orang pintar banyak membaca? sangat tepat untuk menggambarkan masyarakat maju yang gemar membaca.
 
Mengingat betapa pentingnya fungsi perpustakaan bagi kemajuan suatu bangsa, pemerintah saat ini sudah melakukan berbagai upaya. Salah satunya adalah dengan mewajibkan adanya perpustakaan di lembaga pendidikan. Perpustakaan sendiri berfungsi sebagai media untuk membaca, rekreasi, menyelesaikan tugas, dan tentunya menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Dengan meletakkan perpustakaan di sekolah atau universitas juga berarti mendidik kebiasaan membaca sejak dini dan mempersiapkan kader-kader muda menjadi generasi yang maju, sekaligus berintelektualitas tinggi.
 
PERMASALAHAN

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia menjadi problematika kompleks yang dialami bangsa kita. Menurut data dari Human Development Report tahun 2007/2008 yang dikeluarkan oleh UNDP menunjukkan angka Human Development Indeks (HDI) Indonesia adalah 0,728 atau berada di urutan 107 dari 177 negara, lebih rendah dua tingkat dari Vietnam yang berada di posisi 105 (blog-indonesia.com). Fakta ini tentu sangat memprihatinkan. Masyarakat Indonesia dinilai tidak menyukai kegiatan membaca. Hal ini tentu dapat menghambat proses kemajuan bangsa dalam menghadapi tuntutan zaman.
Pada umumnya, masyarakat juga bersikap antipati terhadap perpustakaan. Image perpustakaan yang terus menerus dikaitkan dengan tempat yang kotor, berdebu, seram, sepi, dan menghabiskan banyak waktu menjadi bumerang dalam upaya pengembangan perpustakaan sebagai wahana pendidikan sepanjang hayat. Masyarakat pun akhirnya menghindari perpustakaan, kecuali jika benar-benar membutuhkan referensi yang memadai. Padahal, perpustakaan sudah seharusnya menjadi tempat sentralisasi dan transfer ilmu yang baik bagi masyarakat.
 
Pelayanan dan fasilitas perpustakaan yang terbatas sebagai sumber informasi menjadi alasan rendahnya minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. Kurangnya SDM dan pustakawan yang handal dalam mengelola perpustakaan juga membuat perpustakaan menjadi kurang menjawab tuntutan zaman karena koleksi buku yang ada tidak diperbaharui secara berkala. Melihat persoalan ini, partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan perpustakaan sangat diharapkan. Pembentukan KOMPAS yang terdiri dari singkatan Komunitas Pembaca Setia yang menjaring para pecinta buku (book lover) diharapkan dapat memberi solusi dalam menjadikan perpustakaan sebagai gudang ilmu yang menarik, interaktif, dan dapat diandalkan oleh masyarakat.
 
TUJUAN

Melalui pembentukan KOMPAS diharapkan masyarakat dapat termotivasi untuk ikut serta dan terlibat dalam upaya pengembangan perpustakaan dengan pendekatan moral kultural. KOMPAS juga diharapkan dapat menumbuhkan minat baca masyarakat Indonesia dan mengembangkan perpustakaan agar mampu menyediakan informasi yang dibutuhkan masyarakat saat ini.
Dengan keterlibatan KOMPAS dalam pengelolaan perpustakaan juga berarti mewujudkan perpustakaan berbasiskan masyarakat. Masyarakat tidak lagi berfungsi sebagai objek layanan perpustakaan, tetapi juga bisa menjadi aktor dalam menentukan arah perkembangan perpustakaan di masa mendatang. KOMPAS dapat menjaring banyak anggota secara cepat, tepat, dan dapat karena bersifat memasyarakat. Perpustakaan pun dapat diberi slogan ?dari, oleh, dan untuk masyarakat? dengan adanya KOMPAS.
 
LANDASAN TEORI

KOMPAS adalah sebuah komunitas unik yang terdiri dari para penggemar buku. Komunitas ini dapat dibentuk Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) sebagai tempat atau sarana untuk berbagi informasi, ide, dan pengetahuan seputar buku. Komunitas ini juga berperan aktif dalam mengadakan sosialisasi gerakan gemar membaca buku, pengembangan perpustakaan ke daerah, serta kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh PNRI.
Dalam hal ini, PNRI dapat menjaring masyarakat yang suka membaca dan berkunjung ke perpustakaan menjadi satu. Kumpulan masyarakat pecinta buku ini dapat difasilitasi dengan ruang pertemuan khusus. Layaknya sebuah organisasi, KOMPAS dapat dikembangkan ke berbagai kota dengan koordinasi yang baik antara PNRI dengan perpustakaan yang ada di setiap daerah. KOMPAS di setiap kota juga dapat diberi kebebasan untuk melakukan kegiatan pengembangan perpustakaan, baik berupa seminar, perlombaan, maupun pendirian gedung perpustakaan baru. Tentu pembentukkan KOMPAS sendiri secara tidak langsung merealisasikan Undang-Undang RI Nomor 43 Pasal 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan yang mengamanatkan perlunya peran serta masyarakat dalam pembangunan bidang perpustakaan. KOMPAS akan berperan aktif dalam pembentukan, penyelenggaraan, pengelolaan, pengembangan, dan pengawasan perpustakaan. KOMPAS akan mendorong masyarakat untuk menjadi agent of change dalam pengembangan perpustakaan.
 
PEMBAHASAN

Berdasarkan pemahaman di atas, dapat disimpulkan KOMPAS adalah upaya solutif dalam menumbuhkan minat baca masyarakat, sekaligus mengembangkan perpustakaan menjadi sarana yang digemari masyarakat. KOMPAS dapat melakukan inovasi dan kreasi yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam KOMPAS dapat memberi sugesti dan sumbangsih yang besar bagi perkembangan perpustakaan agar sesuai dengan yang diharapkan.
Penulis melihat KOMPAS dapat menjadi senjata ampuh bagi PNRI dalam upaya pengembangan perpustakaan. Menjaring masyarakat yang gemar membaca tentu memberi penyegaran bagi perpustakaan yang ada di Indonesia saat ini. Mereka tentu dapat memberikan saran yang konstruktif tentang koleksi buku apa saja yang kira-kira dapat memenuhi kebutuhan masyarakat secara luas. Berbeda dengan pustakawan yang ruang geraknya terbatas di perpustakaan dan hanya bertugas mendata buku yang masuk. KOMPAS dapat mengeksplorasi toko buku dan menemukan buku-buku berkualitas yang layak masuk perpustakaan.
KOMPAS juga dapat melengkapi perpustakaan dengan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan masyarakat. Sebut saja, internet. KOMPAS dapat mengajukan proposal pada PNRI untuk pengadaan Wi-Fi di perpustakaan. Bisa juga dengan membeli seperangkat komputer, mesin fotokopi, meja dan kursi baca yang nyaman, serta berbagai perangkat lainnya untuk menunjang aktivitas pengguna perpustakaan. Dengan meningkatkan kualitas dari fasilitas perpustakaan, diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan.
Berbagai inovasi dan kebijakan baru pun dapat diajukan KOMPAS pada PNRI. Sebut saja, ruang diskusi. Selama ini, perpustakaan di Indonesia hanya menyediakan ruang baca saja. Tak heran jika suasana perpustakaan menjadi sunyi dan terkesan angker bagi sebagian orang. Hal ini menimbulkan kebosanan dan rasa jenuh pada masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. Dengan adanya ruang diskusi, diharapkan perpustakaan tidak lagi menjadi tempat yang kaku. Tentunya penyediaan ruang diskusi terpisah dengan ruang baca agar tidak mengganggu pengguna perpustakaan lainnya.
Tentu KOMPAS tidak akan berdiri tanpa adanya dukungan dari PNRI. PNRI dapat memfasilitasi KOMPAS dengan menyewakan atau menyediakan bangunan khusus untuk pertemuan mereka. Berikan KOMPAS ruang sebebas-bebasnya untuk berkarya dan membantu visi PNRI dalam mengembangkan perpustakaan. Dalam hal ini, pemerintah dapat mendanai kegiatan yang dilakukan KOMPAS secara rutin dan berkesinambungan. Penulis yakin ide-ide yang berasal dari KOMPAS akan benar-benar mengembangkan perpustakaan hingga lekat di hati masyarakat.
Status keanggotaan KOMPAS juga harus merangkul seluruh kalangan masyarakat agar dapat terlibat aktif di dalamnya, mulai dari pelajar, mahasiswa, guru, karyawan, pengusaha, ibu rumah tangga, dan berbagai profesi lainnya. Dengan membuka kesempatan menjadi anggota selebar-lebarnya diharapkan adanya pertukaran informasi dan ide yang dapat membantu pengembangan perpustakaan di setiap sektor. Umumnya masyarakat yang memiliki profesi berlainan dapat memberi gambaran tentang buku apa saja yang mereka butuhkan dari perpustakaan.
Sebut saja, pelajar, mereka dapat memberi informasi tentang buku apa saja yang digemari kalangan pelajar. Buku-buku apa saja yang dibutuhkan dan belum mereka dapatkan di sekolah. Masukan-masukan ini juga berlaku pada semua profesi. Mereka dapat memberitahu kebutuhan buku dan fasilitas di setiap perpustakaan. Dengan kekayaan informasi yang didapatkan dari anggota KOMPAS, PNRI tentunya sangat terbantu dan terarah dalam menyediakan buku-buku dan fasilitas guna memenuhi kebutuhan masyarakat.
KOMPAS juga dapat diberdayakan untuk melakukan sosialisasi perpustakaan secara moral kultural. Masyarakat yang terjaring dalam komunitas ini dapat mendorong teman-teman mereka dan menjelaskan manfaat perpustakaan bagi hidup mereka. Pendekatan semacam ini umumnya berhasil karena KOMPAS juga adalah bagian dari masyarakat dan mereka tahu apa saja celah yang tepat untuk memotivasi rekan mereka dalam mengembangkan perpustakaan. Perbedaan budaya yang dianut setiap masyarakat tentu akan menyulitkan PNRI jika bergerak sendiri tanpa bantuan KOMPAS.
KOMPAS juga dapat mengadakan pameran buku secara berkala. Dengan konsep open house, KOMPAS dapat mengundang berbagai kalangan masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. KOMPAS dapat menyajikan koleksi buku terbaru yang seyogianya dapat menarik minat masyarakat untuk membaca. Dalam pameran ini, dapat dipromosikan kartu member anggota perpustakaan secara gratis. KOMPAS dapat menawarkan masyarakat untuk memiliki dan menggunakan kartu tersebut secara maksimal di perpustakaan.
Kartu member perusahaan ini juga dapat berfungsi multiguna. KOMPAS dapat menjalin kerja sama dengan badan usaha tertentu. Kartu anggota perpustakaan yang dimiliki masyarakat dapat digunakan untuk mendapat potongan harga di toko-toko tertentu. Tentunya konsep ini dilakukan dengan sistem poin. Intensitas kunjungan perpustakaan akan menambah poin masyarakat untuk ditukarkan dengan potongan harga. Diharapkan minat masyarakat akan membaca semakin terasah dengan adanya program ini.
KOMPAS juga dapat menjaring penerbit buku untuk terlibat dalam upaya mengembangkan perpustakaan menjadi media baca yang diminati masyarakat. Salah satunya adalah dengan memberi workshop atau seminar penulisan secara berkala di perpustakaan. Penulis melihat selama ini seminar, talk show, dan workshop sebagian besar hanya diadakan di pusat keramaian, seperti mal. Mengadakan seminar di perpustakaan tentu menjadi sebuah inovasi baru yang diharapkan dapat menjaring minat masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. Dalam hal ini, KOMPAS juga dapat meminta pakar-pakar, penulis ternama, dan tokoh masyarakat terkemuka lainnya sebagai pembicara dalam acara seminar di perpustakaan.
Pengadaan toko buku di perpustakaan juga dapat menjadi sarana pelengkap bagi pengguna perpustakaan. KOMPAS dapat menjaring toko buku ternama untuk hadir dan menyediakan koleksi buku yang dibutuhkan masyarakat. Hal ini juga memberi keuntungan bagi kedua belah pihak. Bagi toko buku, pengguna perpustakaan tentu sasaran pasar yang baik dalam penjualan buku. Bagi perpustakaan, toko buku dapat turut melengkapi koleksi perpustakaan agar semakin variatif dan up to date.
Perpustakaan juga dapat dikemas secara menarik oleh KOMPAS. Penulis melihat perpustakaan selama ini tidak pernah didirikan di sebuah pusat perbelanjaan. Mendirikan perpustakaan di mal tentu sebuah inovasi yang diharapkan dapat menjaring lebih banyak masyarakat untuk gemar membaca. KOMPAS dapat melakukan kerja sama dengan pihak mal untuk mendirikan perpustakaan secara gratis. Tentu dalam hal ini, pemerintah dapat membantu proses lobi yang dibutuhkan agar izin pendirian perpustakaan dapat berjalan dengan lancar.
Perpustakaan yang ada di mal tentu dapat menjadi tempat singgah yang baik. Sembari menunggu anggota keluarga yang sedang berbelanja, masyarakat dapat memanfaatkan fasilitas ini untuk membaca buku. Tentu perpustakaan yang dihadirkan di mal juga dapat menjadi sarana hiburan yang baik bagi masyarakat. Dalam hal ini, KOMPAS secara tidak langsung mengkampanyekan gerakan gemar membaca kepada masyarakat luas. Letaknya yang strategis juga memudahkan masyarakat untuk mengakses perpustakaan.
KOMPAS juga dapat mengembangkan perpustakaan keliling dengan menggunakan kendaraan. Dalam hal ini, KOMPAS dapat mengajukan permohonan pada pemerintah untuk menyediakan kendaraan yang pas dalam mendukung program ini. Perpustakaan keliling ini bersifat dinamis dan ditujukan bagi masyarakat pedalaman yang minim buku. Mereka dapat membaca dan menambah wawasan dengan adanya perpustakaan keliling. Perpustakaan keliling ini sendiri bersifat sementara sampai didirikannya perpustakaan tetap di daerah tersebut. Perpustakaan juga harus bisa menjawab tuntutan era globalisasi yang sedang dihadapi negara kita. Salah satunya adalah dengan mengembangkan perpustakaan online. Dalam hal ini, peran KOMPAS sangat penting terutama dalam menjaring anggota masyarakat yang memiliki keahlian di bidang teknologi informasi. KOMPAS dapat menyusun dan melakukan pengisian konten web dengan buku-buku yang ada di perpustakaan.
Perpustakaan online sendiri dihadirkan guna mengembangkan perpustakaan secara optimal. Manfaat dari perpustakaan sendiri juga dapat dirasakan oleh masyarakat secara luas. Dengan akses internet, masyarakat dapat menemukan buku yang dibutuhkan secara cepat dan mudah. Tentunya masyarakat juga dimanjakan dengan fitur-fitur menarik yang ada di web. Sebut saja teka-teki, games, dan aplikasi yang berhubungan erat dengan perpustakaan. Tentunya dibutuhkan anggota KOMPAS yang handal dalam hal ini. KOMPAS dapat secara aktif menemukan orang yang berkompeten dalam mengelola fasilitas ini.
KOMPAS juga dapat mengadakan bedah buku secara rutin. Penulis melihat animo masyarakat akan kegiatan ini sangat tinggi. Kegiatan bedah buku ini sendiri dapat dilaksanakan di perpustakaan. Sosialisasi kegiatan ini dapat dilakukan melalui situs jejaring sosial oleh anggota KOMPAS. KOMPAS secara berkala menginformasikan adanya kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di perpustakaan. Dengan pengadaan kegiatan ini, diharapkan masyarakat terdorong untuk semakin sering dan terbiasa mengunjungi perpustakaan. Tentu kunjungan perpustakaan yang sering juga memberi efek psikologis tersendiri bagi masyarakat agar terbiasa datang dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan.
Sekolah juga dapat menjadi sarana yang baik dalam mengembangkan perpustakaan. KOMPAS dapat mengajukan perpustakaan sebagai objek kunjungan widyawisata sekolah layaknya museum. Dalam hal ini, PNRI dapat menjadi lokasi yang tepat untuk menambah wawasan dan ilmu pengetahuan pelajar dengan koleksinya yang lengkap, mulai dari buku, video, audio, manuskrip, dan dokumen penting bersejarah lainnya.
KOMPAS juga dapat memberdayakan sekolah untuk aktif mengunjungi perpustakaan. Hal tersebut bisa dilakukan dalam bentuk pemberian PR, peminjaman buku, maupun tugas penyusunan karya tulis yang mengharuskan pelajar untuk berkunjung ke perpustakaan. Hal ini dilakukan untuk mengembangkan perpustakaan lokal yang selama ini jarang dikunjungi oleh masyarakat. Pelajar juga dapat menyumbangkan buku pelajaran yang tidak terpakai untuk ditampung menjadi koleksi buku di perpustakaan.
Melakukan studi kepustakaan ke luar negeri juga dapat dilakukan KOMPAS dalam menambah koleksi buku yang dibutuhkan perpustakaan. Dalam hal ini, pemerintah dapat membiayai pembelian buku yang dilakukan anggota KOMPAS. Anggota KOMPAS tentu dapat memilih jenis buku yang sesuai dan diharapkan dapat diterima oleh seluruh kalangan masyarakat. Studi kepustakaan ini juga berfungsi untuk melihat sejauh mana perkembangan buku yang ada di luar negeri dan dijadikan perbandingan terhadap perkembangan buku yang ada di Indonesia.
Penulis melihat KOMPAS dapat melakukan ekspansi perpustakaan secara tepat. Ekspansi ini dilakukan dengan melibatkan pemerintah, anggota PNRI, dan anggota KOMPAS untuk meninjau apakah lokasi perpustakaan yang akan didirikan strategis atau tidaknya. KOMPAS dapat mengusulkan pendirian perpustakaan di fasilitas publik dan tempat umum, seperti kantor pos, stasiun kereta api, terminal bus, dan bandara. Penulis yakin perpustakaan yang ada di tempat umum seperti ini akan menarik minat masyarakat untuk singgah di perpustakaan. Mereka dapat membaca dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan sembari menunggu waktu keberangkatan mereka. Secara tidak langsung, upaya ini juga menunjukkan kesungguhan PNRI dalam menyebarkan gerakan gemar membaca pada masyarakat.
Anggota KOMPAS juga dapat mengajukan permohonan pada pemerintah untuk membiayai pengadaan perpustakaan di tempat mereka bergiat. Sebut saja, kantor, perusahaan, dan tempat ibadah. Perpustakaan ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana rekreasi dan menambah wawasan selama jam istirahat dan sepulang kerja. Buku yang ada di perpustakaan ini juga disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang ada di tempat tersebut. KOMPAS dapat meminta masyarakat untuk menyumbangkan buku dalam melengkapi koleksi perpustakaan. Anggota KOMPAS juga dapat mengadakan program ?koin untuk buku? guna mendanai kebutuhan perpustakaan yang ada di tempat tersebut.
Secara keseluruhan, KOMPAS berperan aktif dalam upaya pengembangan perpustakaan. KOMPAS menjaring masyarakat untuk terlibat dan ikut serta dalam melestarikan, menjaga, dan mengembangkan perpustakaan. Tak heran jika KOMPAS dapat disebut sebagai agent of change dalam upaya pengembangan perpustakaan.
KOMPAS membuat peran masyarakat begitu nyata dalam mengembangkan perpustakaan. Begitu banyak hal yang dapat dieksplorasi dan dikembangkan dari perpustakaan ketika PNRI bisa memberdayakan KOMPAS dengan sebaik-baiknya. Melihat potensi yang dimiliki KOMPAS, penulis rasa KOMPAS dapat mulai diimplementasikan PNRI guna mendukung pengembangan perpustakaan secara efektif.
 
KESIMPULAN

KOMPAS dapat menjadi solusi yang tepat dalam upaya pengembangan perpustakaan di Indonesia. Image perpustakaan yang selama ini melekat di mata masyarakat pun dapat terdegradasi dan terpulihkan dengan adanya upaya yang konkrit dari KOMPAS. KOMPAS akan menjadi ujung tombak PNRI karena mereka dapat membaca dan melihat apa saja yang masyarakat butuhkan dari perpustakaan. Potensi KOMPAS dapat menjadikan perpustakaan sebagai tempat favorit bagi semua lapisan masyarakat. KOMPAS memberdayakan masyarakat untuk ambil bagian dalam upaya pengembangan perpustakaan.
 
SARAN
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) harus mulai melakukan sosialisasi dalam membentuk KOMPAS dari kalangan pecinta buku. Hal tersebut dapat dilakukan dengan penyebaran formulir pendaftaran keanggotaan dan melakukan pertemuan setelah kuota anggota terpenuhi. PNRI juga harus menyediakan benefit atau kemudahan bagi anggota KOMPAS dengan memberi diskon atau voucher pembelian buku guna meningkatkan minat masyarakat lainnya untuk bergabung dengan KOMPAS. 
 
Pemerintah dan PNRI juga harus bekerja bahu membahu dalam upaya pengembangan perpustakaan. Diharapkan pemerintah dapat menyediakan dana yang memadai untuk melakukan ekspansi perpustakaan. PNRI juga harus menyiapkan agenda rutinnya yang akan diimplementasikan KOMPAS untuk mendorong minat masyarakat dalam mengunjungi perpustakaan.
 
DAFTAR PUSTAKA
 
Rogers, Everett. 2004. Difusi Inovasi, Penyebaran Ide-ide Baru ke Masyarakat. New York: The Free Press
 
 
Suratminah. 1992. Perpustakaan, Kepustakaan, dan Pustakawan. Yogyakarta: Kanisius
 
Syihabuddin. 2003. Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: IAIN Yogyakarta
 
Depdikbud . 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
 
Harjasujana, Ahmad Slamet. 2004. Materi Keterampilan Membaca. Jakarta : Depdiknas Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek Peningkatan Perpustakaan Sekolah dan Pelajaran Sastra.
 
Kusmijati dan R.S. Hendra Dinama. 1997. Pedoman Mengelola Perpustakaan Secara Praktis untuk Perpustakaan Sekolah dan Perpustakaan Umum.Surabaya : CV. Dwi Pratama.
 
Suherman. 2009. Perpustakaan sebagai Jantung Sekolah. Bandung : MOS.