Konservasi Manuskrip Lontar

1. Pendahuluan
Salah satu warisan kebudayaan nenek moyang kita yang bernilai cukup penting adalah naskah kuno (manuskrip). Di seluruh Indonesia diketahui banyak terdapat naskah kuno yang ditulis dalam berbagai aksara dan bahasa. Sebagian besar naskah masih tersimpan atau dimiliki masyarakat awam. Sebagian lagi terdapat di lembaga-lembaga pusat dan daerah, serta lembaga-lembaga adat.

Lontar adalah salah satu bentuk naskah kuno (manuskrip) yang ada di nusantara. Lontar banyak ditemukan di pulau Bali, tetapi beberapa ditemukan di Jawa, Sulawesi (disebut lontara), dan di Lombok. Lontar dipakai sebagai alat tulis menulis pada saat itu sebelum orang mengenal kertas. Selain lontar adapula bahan yang serupa lontar yang dipakai untuk tempat menulis, seperti di Jawa memakai daun nipah (serupa lontar), dluwang (dari kulit kayu), dan  perkamen ( dari kulit kambing), di Sulawesi memakai bambu (ditulis melingkar) dan rotan, sedangkan di Batak selain lontar ada juga tribak (dari kulit kayu).

Kata lontar berasal dari ‘ron’ dan ‘tal’. Dikenal sebagai pohon palma (Borasus flabelliformis) dinamai ‘tal’ yang berasal dari “tala’ nama sansekerta untuk pohon palm talipot. Ini tercemin dalam kata lontar yang berakar dari  kata ‘ron’(daun) dan ‘tal’(pohon).
   
Pohon palma (Borassus flabelliformis) tumbuh liar dan berlembang biak dengan biji. Perkembangannya agak lambat dibandingkan dengan pohon kelapa, umurnya bisa sampai ratusan tahun. Daunnya berbentuk kipas dengan tangkai pelepah yang panjang. Sebelum lontar digunakan untuk menulis terlebih dahulu  dibuat bentuk lempiran yang dilakukan melalui proses, yaitu membuat bentuk dan pengawetannya.
      
Lontar merupakan dokumentasi budaya masa lampau, merupakan benda yang sangat bernilai. Isi yang terkandung dalam manuskrip lontar  begitu bermanfaat seperti tentang mantra, keagamaan, pengetahuan tentang astronomi dan astrologi (wariga), pengobatan tradisional (usada), prosa, kekawih, kidung, sejarah, cerita-cerita, dan lain-lain.

Seiring dengan perkembangan zaman,  banyak lontar-lontar yang tidak lagi terpelihara. Lontar-lontar tersebut mengalami kerusakan karena dimakan rayap, binatang pengerat (tikus) terbakar, dan lain-lain, sebelum sempat diidentifikasikan dan diketahui isinya.

Upaya penyelamatan lontar telah banyak dilakukan oleh para kolektor lontar dengan cara membersihkan dan melakukan penyalinan kembali isi lontar. Hendaknya dipikirkan juga adalah bagaimana perawatan dan perbaikan,  mengingat begitu pentingnya peninggalan tersebut terhadap pengembangan kebudayaan nasional, sehingga diperlukan suatu penanganan khusus terhadap manuskrip lontar agar terhindar dari kepunahan, karena usia manuskrip yang cukup tua dan tidak akan bertahan lama apabila tidak dipelihara dengan baik.

1.1. Pengertian Konservasi
Konservasi mempunyai pengertian yang luas. Ada beberapa tingkatan dalam kegiatan konservasi, yaitu, Prevention of deterioration preservation, consolidation, restoration and reproduction yang masing-masing dijelaskan sebagai berikut :
1. Prevention of deterioration, yaitu tindakan preventif untuk melindungi benda budaya dengan mengendalikan kondisi lingkungan dan kerusakan lainnya, termasuk cara penanganannya;

2. Preservation, yaitu penanganan yang berhubungan pada benda budaya. Kerusakan karena udara lembab, faktor kimia, serangga dan mikro organisme harus dihentikan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut;

3. Consolidation, yaitu memperkuat bahan yang rapuh dengan memberikan perekat (Adhesive) atau bahan penguat lainnya;

4. Restoration, yaitu memperbaiki koleksi yang telah rusak dengan mengganti bagian yang hilang agar bentuknya mendekati keadaan semula;

5. Reproduction, yaitu membuat kopi dari bahan asli, termasuk membuat bentuk mikro dan foto repro serta transformasi ke dalam bentuk digital.

1.2. Jenis Kerusakan Lontar
Lontar merupakan produk organik yang alami, sehingga sangat rentan terhadap berbagai kerusakan. Dalam beberapa hal lontar bersifat seperti panel kayu dimana faktor iklim (seperti perbedaan temperatur dan kelembaban), cahaya dan serangga sangat berpengaruh terhadap kerusakan  lontar. Selain itu penanganan dan kondisi penyimpanan yang tidak sesuai juga akan berpengaruh terhadap kerusakan lontar.
     
Beberapa jenis kerusakan lontar yang banyak ditemui pada jenis-jenis manuskrip lontar yang sudah tua diantaranya adalah :
1. Noda-noda : terjadi karena penyimpanan yang salah, kontak dengan air serta akumulasi dari debu dan kotoran.

2. Perubahan  warna pada lontar : ditandai dengan timbulnya warna coklat atau bintik-bintik kehitaman. Perubahan warna itu disebabkan karena proses oksidasi pada daun lontar serta karena adanya akumulasi kotoran/debu.

3. Lubang-lubang : terjadi  karena serangan serangga dan jamur.
Lontar merupakan salah satu bahan  organik  yang cukup kuat. Lapisan luar dan epidermisnya terdiri dari sel-sel yang kuat membentuk kutikula yang melindungi daun lontar tersebut. Daun lontar juga stabilitasnya tinggi sehingga tidak terlalu berpengaruh pada perubahan temperatur dan kelembaban. Meskipun demikian karena lontar merupakan bahan organik akan sangat disukai oleh makhluk hidup ( jamur, serangga, tikus, dan lain-lain) dan merupakan makanan mereka. Kerusakan yang terjadi lontar menjadi berlubang-lubang, tulisan tidak terbaca, bahkan beberapa diantaranya ada beberapa bagian yang hilang.

4. Retak dan rapuh
Lontar yang sudah berumur  apabila tidak dipelihara  akan mengalami kerusakan dan yang paling menonjol pada manuskrip lontar ini adalah retak pada permukaan daun, karena hilang kelenturannya sehingga mengalami kerapuhan. Apabila dibiarkan lontar akan mengalami patah menjadi beberapa bagian. Kerapuhan ini juga terjadi karena  minyak yang ada pada daun tersebut mulai pudar dan berpengaruh terhadap kelenturan lontar.

1.3. Faktor-Faktor  Penyebab kerusakan  dan penanggulangannya
Faktor lingkungan yang sangat berperan dalam merusak manuskrip lontar. Adapun faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kerusakan lontar adalah  adalah:

1. Temperatur dan kelembaban udara
Kondisi temperatur dan kelembaban pada tempat penyimpanan lontar sangat berpengaruh terhadap kerusakan lontar. Pada kondisi temperatur yang tinggi akan memudahkan tumbuhnya jamur, bahkan serangga pun akan datang. Sebaliknya temperatur yang rendah menyebabkan suasana lingkungan menjadi kering  sehingga lontar menjadi patah dan hancur. Efek yang menyebabkan perubahan itu adalah karena lontar sebagai  bahan organik memiliki serat yang bersifat higroskopis sehingga akan membengkak pada peningkatan kelembaban atmosfir dan menyusut pada kelembaban atmosfir yang rendah.

Idealnya temperatur dan kelembaban udara untuk museum maupun perpustakaan berkisar antara 45% – 60% dengan temperatur berkisar 680F -760F (200C – 240C). Kelembaban dibawah 30% sangat berbahaya karena suasana sangat kering dan dapat menyebabkan lontar menjadi rapuh sebaliknya kelembaban yang tinggi sekitar 75% menyebabkan tumbuhnya jamur.

Penggunaan AC (Air conditioning) sangat baik untum perpustakaan maupun museum. AC sebaiknya dipasang dipasang pada ruangan penyimpanan lontar. Pada keadaan lembab, kelembaban relatif dipilih sekitar 55% atau lebih tetapi hendaknya diusahakan selalu dibawah 65%.

Pada keadaan kering, terutama untuk negara yang beriklim panas, hendaknya temperatur dipasang pada batas 240C. Sedangkan untuk yang beriklim dingin temperatur dapat dipasang sekitar 200C. Untuk pemakaian AC hendaknya dioperasionalkan selama 24 jam setiap harinya. Air Conditioning sangat baik untuk mengontrol kelembaban tetapi sangat mahal dan memerlukan biaya yang besar.

Apabila tidak mungkin dipasang AC pada seluruh ruangan dapat dipilih ruangan yang penting saja. Agar temperatur dan kelembaban relatif normal  pada kotak-kotak  penyimpanan lontar   di pasang humidifier kecil , serta silica gell .

2. Cahaya
Cahaya dapat berasal dari matahari maupun cahaya lampu, dan kedua-duanya sangat merusak. Kerusakan dapat terjadi apabila cahaya dipancarkan langsung mengenai manuskrip. Menurut Agrawal  pencahayaan kurang dari 500 nanometer dapat merusak senyawa organik pada tekstil, kertas, kulit, lontar dan sejenisnya.  Pencahayaan berkisar 300 – 500 nanometer dapat mengakibatkan degradasi foto kimia.

Cahaya matahari hendaknya tidak langsung mengenai manuskrip karena sinar ultra violet yang dipancarkannya dapat sangat merusak. Untuk meminimalkan kerusakan karena  proses pencahayaan sebaiknya manuskrip disimpan dalam kotak –kotak kayu atau boks yang terbuat dari karton yang bebas asam.

3. Biota (serangga, jamur dan hewan pengerat)
Kerusakan manuskrip lontar juga dapat disebabkan karena pengaruh yang disebabkan oleh faktor biota seperti mikro organisme, serangga dan jamur yang dikenal sebagai bio-deterioration.

Kertas, kulit, kayu lontar merupakan organik material sehingga sangat disukai dan merupakan makanan makhluk hidup (jamur, serangga, dan bakteri). Makhluk hidup tersebut akan tumbuh subur pada kondisi yang berdebu, lembab, gelap serta temperatur dan kelembaban yang tinggi.

Jamur adalah salah satu penyebab kerusakan pada lontar. Jamur  tumbuh subur pada temperatur hangat (sekitar 250C atau lebih) dengan kelembaban sekitar 70%, ruangan gelap serta sedikit sirkulasi udara. Jamur yang tumbuh pada daun lontar adalah jenis spesies : Trichoderma, fusarium, penicillium, aspergillus niger, Aspergillus Flavus. Tapi  jamur yang ada pada lontar tidak menyebabkan kerusakan yang serius kecuali apabila dibiarkan serta ditambah dengan kondisi fisik yang memang buruk .

Serangga juga merupakan musuh yang sangat berbahaya terhadap manuskrip, karena dapat melubangi buku bahkan menghancurkannya dengan cepat.  Serangga akan tumbuh subur pada lingkungan sedikit sirkulasi udara, lembab, dan  gelap. Pemeliharaan kondisi tempat penyimpanan supaya selalu optimal diperlukan untuk mengontrol penyebaran serangga. Untuk memastikan  agar sirkulasi udara selalu baik hendaknya jendela berfungsi dengan baik, dapat juga digunakan kipas angin agar sirkulasi udara selalu stabil.

Untuk menghindari keadaan lembab ada sebaiknya jarak antara rak dengan dinding diatur sedemikian rupa (setidaknya 15 cm dari dinding). Lakukan pemeriksaan pada dinding-dinding karena dinding yang retak, celah dan sendi longgar pada lantai memungkinkan  serangga dapat  bersembunyi di tempat-tempat tersebut. Secara Periodik lakukan fumigasi, atau gunakan serbuk insektisida pada  dinding–dinding dalam ruangan yang  gelap, dan di bawah rak untuk mencegah serangga. Dapat juga diletakkan paradochloro benzene atau naftalen yang berfungsi sebagai sebagai penolak serangga dan insektisida. Untuk membunuh serangga dapat dilakukan dengan memasukkan manuskrip ke dalam tempat plastik, ditutup rapat kemudian taruh naftalen dibagian bawahnya dan biarkan selama 10 hari. Lalu kemudian manuskrip tersebut di bersihkan satu demi satu untuk menghilangkan residu yang melekat.

4. Pollutan
Gas-gas diudara mengandung nitrogen, oksigen dan sejumlah kecil pollutan yang dapat mengakibatkan kerusakan yang besar pada bahan perpustakaan. Pollutan ini  bisa dalam bentuk gas maupun padat. Pollutan dalam bentuk gas adalah sulfur dioksida, nitrogen oksida dan hidrogen sulfida. Serta hasil pembakaran batu bara, dan bensin dan bahan bakar minyak yang digunakan  pada kendaraan dan pabrik . Zat-zat ini berbahaya karena dapat menyebabkan kehancuran koleksi  karena asam dan proses oksidasi.
 
Menurut Gunaratna Pollutan pada lontar bisa mengakibatkan lembaran lontar  bagian tepi-tepinya menjadi berwarna coklat bahkan berubah menjadi hitam, karena terjadi proses oksidasi pada lontar .

Untuk menghilangkan gas-gas pollutan yang ada di udara dan ruang tempat penyimpanan koleksi dapat dilakukan dengan karbon aktif filter dengan cara disemprot di udara dan sebaiknya dilakukan pada tempat yang dipasang AC. Untuk menghindari gas-gas pollutan dapat juga dilakukan dengan cara membungkus manuskrip dengan kertas tissue atau kain bersih sebelum disimpan.

1.4. Konservasi Lontar

Konservasi lontar dilakukan sebagai upaya menyelamatkan manuskrip dari kehancuran. Beberapa kegiatan konservasi yang dilakukan untuk menyelamatkan fisik lontar dari kerusakan dan kehancuran adalah sebagai berikut:

1.4.1. Pemeliharaan Lontar
1) Membersihkan noda/kotoran    
Lontar hendaknya selalu dibersihkan agar terhindar dari debu dan kotor. Pembersihan pada lontar dapat dilakukan dengan menggunakan air dengan bantuan kapas. Lontar juga dapat dibersihkan dengan menggunakan larurtan  ethly alkohol. Bahan kimia ini cukup baik dan  tidak akan merusak tulisan dan aman untuk lontar .

Noda tanah pada lontar dapat dihilangkan dengan  dengan proses dry cleaning yaitu   dengan menggunakan sikat halus dan penghapus. Minyak yang sudah mengering pada lontar sebaiknya dihilangkan  dengan cara  merendam dalam deterjen dan air hangat. Perbaikan kerusakan tidak dapat dilakukan sampai minyak dihapus karena pada saat perbaikan menggunakan perekat dan perekat tidak akan menempel pada permukaan lontar yang berminyak.

2) Membungkus lontar
Untuk melindungi lontar terhadap debu dan pengaruh lingkungan lainnya setelah dibersihkan lontar sebaiknya dibungkus dapat menggunakan kertas bebas asam atau  kain. Biasanya kain yang digunakan berupa kain katun atau menggunakan bahan silk karena secara tradisional dapat berfungsi menghindari dari serangan serangga bookworm.

3) Penyimpanan Lontar
Salah satu cara yang paling penting untuk mencegah kerusakan manuskrip lontar  adalah dengan melakukan  penyimpanan yang benar. Lontar  dapat disimpan dalam kotak-kotak kayu atau kotak yang dibuat dari karton bebas asam dan disimpan didalam kabinet yang khusus. Di dalam kabinet tersebut sebaiknya diletakkan naftalen untuk melindungi dari serangga serta silica gell untuk menjaga agar kelembaban tempat penyimpanan selalu kering. Manuskrip lontar yang sudah tua sebaiknya disimpan disimpan dalam kotak terpisah.  Agar lontar tidak berubah bentuk dilakukan  dengan cara mengikat dengan tali pada bagian tengah lalu dijepit menggunakan kayu dengan ukuran yang lebih tebal dari lontar .

1.4.2. Perbaikan Lontar

1) Tulisan pudar
Lontar yang tulisannya pudar dapat dilakukan penghitaman kembali dengan menggunakan kemiri bakar yang telah ditumbuk halus  sehingga akan keluar minyak dari kemiri tersebut.

2) Lontar kaku/kering.
Pelemasan terhadap lontar dilakukan untuk mengembalikan bentuk lontar sesuai aslinya. Untuk memberikan fleksibilitas pada lontar dapat juga dilakukan dengan meminyaki menggunakan minyak kayu aras, minyak serai, kayu putih cengkeh dan minyak wijen. Tetapi dapat juga digunakan gliserin yang dicampur alkohol dengan perbandingan 1:1. Untuk menjaga kelenturan dapat dilakukan  dengan penguapan selanjutnya di press dengan cara menjepit diantara dua buah kayu.

3) Lontar patah/retak.
Perbaikan lontar yang retak/patah  dilakukan dengan cara menyambung kembali menggunakan tissue Jepang (Japanese tissue) dengan perekat yang digunakan adalah polivinyl asetat (PVA) dan Carboxyl Metil celloluse (CMC). Lontar yang patah juga dapat di enkapsulasi menggunakan plastik polyester (mylar) dengan bantuan double tape sebagai perekat.

2. Penutup
Upaya penyelamatan manuskrip khususnya manuskrip lontar merupakan hal yang sangat penting. Mengingat peninggalan tersebut merupakan benda yang sangat bernilai karena isinya begitu bermanfaat dan sangat berperan terhadap pengembangan kebudayaan nasional. Oleh sebab itu perlunya kesadaran dari masyarakat (pemilik naskah), lembaga pemerintah seperti perpustakaan dan museum akan upaya konservasi manuskrip lontar agar manuskrip lontar selamat dari kepunahan, karena usia manuskrip yang cukup tua dan tidak akan bertahan lama apabila tidak dilakukan upaya konservasinya.

Kurangnya pemahaman dari masyarakat akan pentingnya melestarikan khasanah budaya bangsa, menjadi masalah karena ketidaktahuan masyarakat bagaimana mengkonservasi lontar, sarana dan prasarana yang minim  dana serta yang minim bagi kegiatan konservasi lontar.

Salah satu upaya yang dilakukan adalah perlunya dilakukan penyuluhan tentang langkah-langkah perawatan dan perbaikan manuskrip lontar secara sederhana kepada masyarakat luas terutama instansi pemerintah (museum dan perpustakaan)  agar naskah lontar yang dimilikinya terhindar dari kerusakan dan kehancuran.

DAFTAR PUSTAKA

Agrawal, O.P. 1993. Preservation of Art Objects and Library Materials. India : Naitional Book Trust.

Catra, Gde Dewa I. 2008. Prosesi Pembuatan Lempiran Rontal.Bali: Karang Asem.

Dean, F. John. 1997. Conservation and Stabilization of Palm Leaf and parabaik manuscripts.Melalui ? www.library.cornell.edu/preservation/manual/mg8a.html-? [6/07/11]

Feilden Bernard M., “The Pronciples of Conservation, The Conservation of Historic Buildings  Monuments, (National Academic Press, Washington DC, 1982).h.28

Gunaratna, Mahendra. 2006. Deterioration, Conservation and storage Procedures of Palm-Leaf Manuscripts. Melalui,? budsas.110mb.com/palm/index.htm? [ 5/08/11]

Harvey, Ros.1993. Preservation in Libraries: Principles, Strategy And Practices for Librarians. London.:Bowker Saur.

Nair, SM. 1981.Biodeterioration of Palm Leaf, Paper Manuscripst and Miniatures. Dalam Prakash, Satya. “Cultural Countours of india”, hlm 78-82.Vijai Shanka Srivastava.

Razak, Muhammadin. et al. 1995. Petunjuk Teknis pelestarian Bahan Pustaka. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.