Layanan Bimbingan dan Konseling Berbasis Biblioterapi: Sebuah Upaya Pengembangan Perpustakaan Sekolah

Pendahuluan

Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dimaksudkan terutama untuk memberikan bantuan kepada siswa untuk mengenal dan memahami diri dan lingkungan, mengarahkan diri, membuat alternatif pilihan dan mengambil keputusan dalam pemecahan masalahnya secara lebih tepat dalam rangka menuntaskan tugas-tugas perkembangan serta mewujudkan dirinya secara optimal.

Perkembangan optimal dapat terjadi melalui interaksi yang sehat antara siswa yang sedang berkembang dengan lingkungannya. Oleh karena itu layanan bimbingan dan konseling tidak hanya berurusan dengan perilaku salah suai atau bermasalah, juga tidak sekedar mencegah perilaku bermasalah, melainkan mengembangkan aspek-aspek kepribadian secara menyeluruh. Dalam kondisi seperti ini maka bimbingan dan konseling di sekolah berorientasi kepada bimbingan dan konseling perkembangan.

Konsep bimbingan dan konseling perkembangan mengandung implikasi bahwa target layanannya menjadi tidak sebatas siswa dalam tatanan kelembagaan, melainkan akan tertuju kepada semua siswa dalam berbagai tatanan kehidupan dan budaya dengan beragam kebutuhannya terhadap informasi. Alasannya ialah bahwa perkembangan yang sehat atau optimal dalam pengembangan perilaku efektif harus terjadi pada setiap diri siswa dalam berbagai tatanan lingkungan.

Dengan demikian bimbingan dan konseling menjadi terarah kepada upaya membantu siswa untuk lebih menyadari dirinya dan cara-cara ia merespon lingkungannya, mengembangkan kebermaknaan pribadi dalam perilakunya dan mengembangkan serta mengklarifikasi perangkat tujuan dan nilai-nilai perilaku pada masa yang akan datang.

Untuk itulah butuh banyak strategi dalam pengembangan pribadi siswa, diantaranya penggunaan bahan pustaka sebagai salah satu cara dalam membantu siswa menemukan pengalaman hidup yang berbeda. Dalam dunia bimbingan konseling, dikenal suatu proses terapi yang dinamakan biblioterapi, yakni terapi membaca dimana siswa diminta untuk membaca sebuah buku yang didalamnya terkandung nilai dan informasi penting untuk pengembangan dirinya. Rujukan buku-buku yang digunakan dalam biblioterapi diharapkan mampu melestarikan penggunaan perpustakaan sebagai salah satu sumber pemenuhan informasi dan jalan dalam pengembangan peran perpustakaan sekolah itu sendiri.

Peran dan Manfaat Perpustakaan Sekolah

Perpustakaan sebagai lembaga penyedia ilmu pengetahuan dan informasi mempunyai peranan yang signifikan terhadap lembaga induk serta masyarakat penggunanya. Pengertian perpustakaan dewasa ini telah mengarahkan kepada tiga hal yang mendasar sekaligus, yaitu hakikat perpustakaan sebagai salah satu sarana pelestarian bahan pustaka; fungsi perpustakaan sebagai sumber informasi ilmu pengetahuan, teknologi dan kebudayaan; serta tujuan perpustakaan sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional.

Demikian halnya di dalam lingkungan pendidikan seperti sekolah. Perpustakaan sekolah merupakan perpustakaan yang diselenggarakan pada sebuah sekolah, dikelola, sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan, dengan tujuan utama mendukung terlaksananya dan tercapainya tujuan sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya.  Perpustakaan sekolah merupakan pusat sumber ilmu pengetahuan dan informasi yang berada di sekolah, baik tingkat dasar sampai dengan tingkat menengah. Sekolah merupakan tempat penyelenggaraan proses belajar mengajar, menanamkan dan, mengembangkan berbagai nilai, ilmu pengetahuan, dan teknologi, keterampilan, seni, serta, wawasan dalam rangka mencapai tujuan pendidikan nasional.

Untuk itulah perpustakaan sekolah memiliki beragam  fungsi dan manfaat. Fungsi perpustakaan sekolah secara rinci menurut Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0103/O/1981, tanggal 11 Maret 1981, dapat dijelaskan sebagai :
1. Pusat kegiatan belajar-mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan seperti tercantum dalam kurikulum sekolah
2. Pusat Penelitian sederhana yang memungkinkan para siswa mengembangkan kreativitas dan imajinasinya.
3. Pusat membaca buku-buku yang bersifat rekreatif dan mengisi waktu luang (buku-buku hiburan)

Merujuk pada fungsi tersebut dapat dikatakan juga bahwa perpustakaan merupakan “jantungnya” pelaksanaan pendidikan pada lembaga itu. Sedangkan fungsi utamanya yaitu sebagai pusat sumber belajar, pusat sumber informasi dan pusat bacaan rekreasi dan pengisi waktu senggang. Untuk selanjutnya perpustakaan dapat diperankan  sebagai tempat membina minat dan bakat siswa, menuju proses belajar sepanjang hayat (Long Life Education).

Selain memiliki tiga fungsi pokok, seperti di atas, perpustakaan juga memberikan manfaat yang besar dalam mencerdaskan kehidupan siswa. Secara terinci Bafadal (Neneng Komariah, 2009) menyebutkan manfaat perpustakaan sekolah baik yang diselenggarakan di sekolah dasar maupun di sekolah menengah adalah sebagai berikut:

1. Perpustakaan sekolah dapat menimbulkan kecintaan siswa-siswa terhadap membaca.
2. Perpustakaan sekolah dapat memperkaya pengalaman belajar siswa-siswa.
3. Perpustakaan sekolah dapat menanamkan kebiasaan belajar mandiri yang akhirnya siswa-siswa mampu belajar mandiri.
4. Perpustakaan sekolah dapat mempercepat proses penguasaan teknik membaca.
5. Perpustakaan sekolah dapat membantu perkembangan kecakapan berbahasa.
6. Perpustakaan sekolah dapat melatih siswa-siswa ke arah tanggung jawab.
7. Perpustakaan sekolah dapat memperlancar siswa-siswa dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolah.
8. Perpustakaan sekolah dapat membantu guru-guru menemukan sumber-sumber pengajaran.
9. Perpustakaan sekolah dapat membantu siswa-siswa, guru-guru, dan anggota staf sekolah dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Beragam fungsi dan manfaat yang diperoleh dari perpustakan, membuat peran perpustakaan sekolah menjadi sangat penting. Perpustakaan sekolah harus dapat memainkan peran, khususnya dalam membantu siswa untuk mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Untuk tujuan tersebut, perpustakaan sekolah perlu merealisasikan misi dan kebijakannya dalam memajukan masyarakat sekolah dengan mempersiapkan tenaga pustakawan yang memadai, koleksi yang berkualitas serta serangkaian aktifitas layanan yang mendukung suasana pembelajaran yang menarik.

Oleh karena itu, perpustakaan sekolah bukan hanya sekedar tempat penyimpanan bahan pustaka tetapi terdapat upaya untuk mendayagunakan agar koleksi-koleksi yang ada dimanfaatkan oleh pemakainya secara maksimal.

Perpustakaan Sekolah, Layanan Bimbingan Konseling, dan  Biblioterapi

Dari berbagai manfaat yang disebutkan di atas, dapat diketahui betapa pentingnya keberadaan suatu perpustakaan sekolah di suatu lingkungan sekolah, sehingga perpustakaan sekolah harus diberdayakan agar dapat memberikan manfaat yang optimal.

Salah satu  fungsi pokok perpustakaan sekolah adalah sebagai sarana bagi para siswa untuk belajar menjadi manusia yang memiliki literasi informasi, yaitu siswa yang mampu mengidentifikasi kebutuhan informasinya, belajar mencari dan menemukan sumber-sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhannya, sampai menemukan informasi yang dibutuhkannya, lalu memanfaatkan informasi tersebut, dan akhirnya mampu mengevaluasi sejauhmana kebutuhan informasinya sudah dapat terpenuhi.

Manfaat lain dari siswa yang sudah memiliki literasi informasi inilah yang akan unggul dalam persaingan di jaman globalisasi dimana kehidupan masyarakat sudah berbasis informasi. Perpustakaan sekolah memiliki peluang yang lebih besar dalam menciptakan literasi informasi di kalangan para siswa, karena di lingkungan sekolah terdapat peran para guru  yang akan menjadi pembimbing bagi para siswa, disamping adanya peran dari staf perpustakaan (guru pustakawan) yang akan membantu para siswa.

Hal yang dapat diupayakan untuk  memenuhi kebutuhan sumber informasi siswa yakni dengan melengkapi koleksi perpustakaan seperti penambahan buku-buku bacaan. Buku merupakan media untuk mendapatkan wawasan, pengetahuan, informasi, dan hiburan. Selain itu, buku dapat menjadi media terapi atau penyembuhan bagi siswa penderita gangguan mental, seperti gangguan kecemasan, trauma, dan stres.

Pemanfaatan buku sebagai media terapi disebut biblioterapi. Jachna (2005:1) mengatakan biblioterapi adalah dukungan psikoterapi melalui bahan bacaan untuk membantu seseorang yang mengalami permasalahan personal. Metode terapi ini sangat dianjurkan, terutama bagi para siswa yang sulit mengungkapkan permasalahannya secara verbal.

Biblioterapi telah dikenal sejak zaman Yunani Kuno. Di atas gedung Perpustakaan Thebes terdapat patung yang melukiskan orang yang tengah bosan dan dibawahnya ada manuskrip berbunyi tempat penyembuhan jiwa (the healing place of the soul). Ide pemanfaatan bahan bacaan sebagai media terapi pada zaman itu dicetuskan oleh Plato.

Asal kata Biblioterapi dari kata biblion dan therapeia. Biblion berarti buku atau bahan bacaan, sementara therapeia artinya penyembuhan. Jadi, biblioterapi dapat dimaknai sebagai upaya penyembuhan lewat buku. Bahan bacaan berfungsi untuk mengalihkan orientasi dan memberikan pandangan-pandangan yang positif sehingga menggugah kesadaran penderita untuk bangkit menata hidupnya.

Secara medis, pemikiran Plato diteruskan oleh Rush dan Galt pada 1815-1853. Lewat percobaan-percobaan medis, keduanya berkesimpulan bahwa bahan bacaan dapat dipadukan dengan proses bimbingan konseling, terutama untuk menciptakan hubungan yang hangat, mengeksplorasi gaya hidup, dan menyarankan wawasan mendalam. Tujuan dari proses konseling itu sendiri yakni untuk membantu individu agar menjadi pribadi yang lebih fungsional, mencapai integritas diri, identitas diri, dan aktualisasi diri.

Versi lain dari tujuan konseling adalah agar potensi individu optimal, mampu memecahkan masalah, dan mampu menyesuaikan diri terhadap lingkungan.  Untuk mencapai tujuan konseling dengan efektif seorang konselor (guru BK) harus mampu:  1) menangkap isu sentral atau pesan utama siswa, 2) utamakan tujuan siswa menjadi tujuan konseling.

Secara umum dikatakan bahwa tujuan konseling haruslah mencapai: 1) Effectif daily living, artinya setelah selesai proses konseling siswa harus dapat menjalani kehidupan sehari-harinya secara efektif dan berdayaguna untuk diri, keluarga, masyarakat,  bangsa dan Tuhannya 2) Relationship with Other, artinya siswa mampu menjalin hubungan yang harmonis dengan orang lain dalam keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya. Dengan demikian penggunaan bahan pustaka/ buku dalam proses konseling dimaksudkan agar siswa mampu mengembangkan dirinya secara optimal.

Biblioterapi sering digunakan sebagai metode pencarian jati diri melalui dunia yang ada dalam halaman-halaman buku yang dibaca. Siswa akan terlibat dalam karakter tokoh utama yang sedang dibaca. Di sanalah tujuan dari biblioterapi, yaitu mendampingi siswa yang tengah mengalami gejolak emosional yang berkecamuk karena permasalahan yang dihadapinya dengan menyediakan bahan-bahan bacaan dengan topik yang tepat.

Kisah dalam buku akan membantu mereka untuk menyelami hidupnya sehingga mampu memutuskan jalan keluar yang paling mungkin bisa diambil. Dengan terbiasa membaca buku, siswa akan terasah otak dan pola pikirnya. Membaca harus dijadikan aktifitas siswa sehari-hari. Buku harus dicintai dan bila perlu dijadikan sebagai kebutuhan pokok siswa dalam membantu tercapainya tujuan pendidikan di sekolah.

Intervensi Biblioterapi Pada Pengembangan Diri Siswa

Dengan membaca, siswa dapat mengenali dirinya. Informasi dan pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan membaca menjadi masukan untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Saat membaca, siswa menginterpretasi jalan pikiran penulis, menerjemahkan simbol dan huruf ke dalam kata dan kalimat yang memiliki makna tertentu, seperti rasa haru dan simpati. Perasaan ini dapat mendorong siswa untuk berperilaku lebih positif.

Menurut Novitawati (2001) intervensi biblioterapi dapat dikelompokkan dalam empat (4) tingkatan, yaitu intelektual, sosial, perilaku, dan emosional. Pertama, pada tingkat intelektual siswa memperoleh pengetahuan tentang perilaku yang dapat memecahkan masalah, membantu pengertian diri, serta mendapatkan wawasan intelektual. Selanjutnya, siswa dapat menyadari ada banyak pilihan dalam menangai masalah. Kedua, di tingkat sosial, siswa dapat mengasah kepekaan sosialnya.

Ia dapat melampaui bingkai referensinya sendiri melalui imajinasi orang lain. Teknik ini dapat menguatkan pola-pola sosial, budaya, menyerap nilai kemanusiaan dan saling memiliki. Ketiga, tingkat perilaku siswa akan mendapatkan kepercayaan diri untuk membicarakan masalah-masalah yang sulit didiskusikan akibat perasaan takut, malu, dan bersalah.

Lewat membaca, siswa didorong untuk diskusi tanpa rasa malu akibat rahasia pribadinya terbongkar. Keempat, pada tingkat emosional, siswa dapat terbawa perasaannya dan mengembangkan kesadaran menyangkut wawasan emosional. Teknik ini dapat menyediakan solusi-solusi terbaik dari rujukan masalah sejenis yang telah dialami orang lain sehingga merangsang kemauan yang kuat pada siswa untuk memecahkan masalahnya dan mencapai pengembangan diri yang optimal.

Perpustakaan Sekolah Sebagai Penyedia Bahan Pustaka Pada Proses Biblioterapi

Manfaat perpustakaan sekolah dan keefektifan teknik biblioterapi dalam layanan konseling sudah tidak dapat diragukan lagi. Keduanya dapat dipadukan dalam upaya pengoptimalan pengembangan diri siswa. Dalam prosesnya, perpustakaan sekolah dapat dijadikan sebagai penyedia bahan pustaka pada proses biblioterapi. Bahan pustaka dapat berupa buku fiksi maupun non fiksi, autobiografi, biografi maupun catatan sejarah.

Dalam hal ini, guru Bimbingan Konseling disekolah dapat memberikan rujukan pada siswa untuk memilih buku yang telah disesuaikan dengan jenis permasalahan yang dihadapi siswa. Siswa dapat secara langsung meminjam buku yang direkomendasikan guru BK di perpustakaan sekolah.

Untuk memudahkan alur peminjaman buku terapi, guru BK dapat bekerjasama dengan pustakawan sekolah tentang buku-buku yang dapat direkomendasikan. Hal yang dapat dilakukan sebagai upaya pengembangan perpustakaan sekolah sebagai penyedia buku rujukan Biblioterapi, diantaranya:

1. Penyediaan keragaman koleksi buku di perpustakaan sekolah.

Idealnya, setiap perpustakaan sekolah mampu menyediakan minimal 2.500 judul buku. Judul sebesar itu tidak termasuk koleksi lama yang telah dipunyai, akan tetapi koleksi uptodate yang sangat dibutuhkan siswa di sekolah. Buku-buku fiksi maupun nonfiksi yang didalamnya memuat informasi pembangkit motivasi, cerita pengalaman hidup dapat diperbanyak jumlahnya.

Dengan bacaan uptodate yang terus berganti, siswa menjadi kaya akan wawasan, ilmu pengetahuan, informasi, tidak gaptek serta menjadi siswa pintar yang mempunyai segudang prestasi. Sekolah juga dapat menggunakan pedoman yang dibuat oleh IFLA/UNESCO dalam menyediakan koleksi yang bermutu dan variatif, yaitu rumusan yang menyatakan bahwa setiap siswa mendapatkan jatah 10 judul buku. Hal ini dapat disiasati misalnya saja dengan mendirikan kelompok baca yang terdiri dari 10 siswa. Tiap-tiap siswa membawa 1 buku, sehingga total per kelompok baca berjumlah 10 judul buku yang berbeda.

Untuk setiap kelompok baca dijadwalkan bisa menyelesaikan seluruh bacaannya dalam waktu 1 minggu. Setelah itu, bisa menceritakan kembali bacaan yang dibacanya, meringkas, atau pun membuat laporannya. Baru kemudian diadakan tukar-menukar bacaan diantara semua kelompok baca yang terbentuk di sekolah.

Apabila jadual tukar-menukar tersebut sudah terpenuhi, maka dilakukan periode baru, sehingga buku yang beredar di masing-masing kelompok baca akan mengalami peremajaan/pergantian koleksi yang baru. Sehingga siswa akan menjadi terbiasa dengan membaca, memahami setiap bacaan, kaya akan wawasan dan ilmu pengetahuan, yang menjadi prasyarat agar siswa dapat menarik pengalaman dari setiap buku yang dibacanya.

Untuk menambah koleksi yang bermutu dan variatif, perpustakaan sekolah juga bisa menempuh langkah sebagai berikut. Setiap siswa yang lulus sekolah, diwajibkan untuk menyumbangkan 1 buku untuk dijadikan koleksi perpustakaan. Akan tetapi langkah ini perlu disosialisasikan kepada seluruh siswa, guru, manajemen sekolah, bahkan wali siswa, agar tidak terjadi salah pengertian di kemudian hari.

Dengan koleksi yang bermutu dan variatif, diharapkan akan menumbuhkan kegemaran membaca serta dapat meningkatkan kemampuan analisis pemecahan masalah siswa.

2. Perpustakaan sekolah perlu dikelola oleh pustakawan dengan tanggungjawab dan dedikasi yang tinggi terhadap layanan.

Pustakawan sekolah harus mempunyai jiwa sabar, serta dituntut untuk memahami apa arti pendidikan sesungguhnya. Perilaku pustakawan sekolah yang bengis, kurang ramah, serta sifat-sifat negatif lain perlu dikikis habis. Sehingga siswa dapat lebih dekat dengan pustakawannya, yang merupakan penasihat siswa dalam belajar, serta mencari informasi dan ilmu pengetahuan serta memecahkan masalahnya. Inovasi dalam memberikan layanan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan harus terus dikembangkan. Sikap acuh tak acuh terhadap siswa, terutama siswa yang membutuhkan bimbingan di perpustakaan harus dibuang jauh-jauh. Komunikasi positif terhadap siswa harus terus dibangun.

3. Kolaborasi antara guru Bimbingan Konseling dan pustakawan sekolah

Kerjasama mutlak dibutuhkan dalam proses biblioterapi. Guru BK dan pustakawan sekolah dapat menciptakan katalog ataupun resensi dari sejumlah buku yang dianggap dapat memberikan alternatif dari pemecahan masalah yang sedang dialami siswa.

Selain itu proses pemecahan masalah melalui konseling berbasis biblioterapi tidak hanya dapat dilakukan per siswa saja, namun dapat dilakukan berkelompok. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat berdiskusi atau membentuk kelompok diskusi berkaitan dengan buku yang digunakan sebagi media terapi. Guru BK dapat mengelompokkan siswa berdasarkan kesamaan permasalahan yang dihadapi, kemudian memberikan tema atau resensi buku berdasarkan saran dari pustakawan sekolah. Dengan demikian siswa selain dapat memecahkan masalah yang dihadapi juga dapat membentuk kelompok diskusi di perpustakaan sekolah.

Penutup

Perpustakaan sekolah mengambil peranan penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan menunjang pembangunan nasional. Salah satu peranan yang dapat terus  dikembangkan adalah peran perpustakaan sekolah sebagai penyedia bahan pustaka berkualitas dan bervariasi.

Tersedianya koleksi bahan pustaka yang variatif dapat membantu proses pengentasan permasalahan siswa dan pencapaian pengembangan diri siswa melalui layanan konseling berbasis biblioterapi.

Tujuan utama proses biblioterapi adalah siswa mampu mengambil informasi, nilai, dan solusi tepat dari permasalahan yang dihadapi melalui buku yang dibaca. Dengan terlaksananya layanan biblioterapi, secara tidak langsung siswa diarahkan untuk meningkatkan minat baca mereka terhadap koleksi bahan pustaka yang disediakan oleh perpustakaan sekolah. Selain itu proses biblioterapi memungkinkan siswa untuk menciptakan banyak kelompok diskusi berdasarkan bahan pustaka yang dirujuk sebagai buku terapi.

Dengan demikian perpustakaan sekolah bukan sekedar gudang penyimpanan buku, namun telah berperan aktif dalam menciptakan iklim pengembangan karakter siswa melalui proses pengentasan masalah yang dilakukan oleh siswa sendiri.

Daftar Pustaka

Arif Surachman. Pengelolaan Perpustakaan Sekolah. Sumber: http://www. arifs.staff.ugm.ac.id/mypaper/manpersek.pdf  Diakses tanggal 21 Agustus 2010

Neneng Komariah. Peranan Perpustakaan Sekolah Dalam Proses Belajar Mengajar. Sumber: http:// http://www.sos.mo.gov/library/Ista_03-08.pdf   Diakses tanggal 21 Agustus 2010

Prayitno, Erman Amti. Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling. Rineka Cipta. Jakarta. 2009

Rohanda. Fungsi dan Peranan Perpustakaan Sekolah. Sumber: http://www.ipi.or.id/Rohanda.doc. Diakses tanggal 25 Agustus 2010

Silvia Hanani. Membangun Minat Baca. Sumber: http://www.puslitjaknov.org/data/file/2008/makalah_poster_session_pdf/SilfiaHanani_MembangunMinatBaca.pdf Diakses tanggal 21 Agustus 2010

Yosy Suparyo. Biblioterapi.Sumber: http://www. pelosokdesa.wordpress.com. diakses tanggal 25 Agustus 2010

Yunus S.P. Perpustakaan Bukan Tempat Penyimpanan Buku?. http://www.lurik.its.ac.id/…/PERPUSTAKAAN%20%20SEKOLAH%20BUKAN%20TEMPAT%2… –pdf. Diakses tanggal 25 Agustus 2010

Yusuf, Pawit M. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah. Kencana Prenada Media, Jakarta.2007