Layanan Referensi Berbasis Web Yang Aksesibel Bagi Semua Orang

Pendahuluan (Perpustakaan dan Ruang Publik)
Dari perspektif sejarah, perpustakaan didefinisikan sebagai koleksi buku dan material lain untuk keperluan membaca, belajar, dan referensi. Juga didefinisikan sebuah tempat yang menyimpan koleksi untuk keperluan membaca, belajar, atau referensi, dan peminjaman koleksi (Mortimer, 2007). “Tempat menyimpan koleksi” dan sebagai “tempat belajar” sampai sekarang masih dianggap sebagai ciri khas perpustakaan. Meskipun sebenarnya “terkumpulnya koleksi” bukan tujuan utama perpustakaan melainkan sebagai salah satu “efek samping” dari aktifitas perpustakaan mencapai tujuannya.

Perpustakaan juga didefinisikan sebagai suatu lingkungan pembelajaran, dimana setiap orang yang datang terinspirasi untuk belajar dan lebih jauh lagi, tergerak dan termotivasi untuk berbagi pengetahuan yang didapatnya (Wicaksono, 2004). Pustakawan menjadi tokoh sentral dimana ia tidak hanya sekedar bekerja mengkatalog buku, mencarikan informasi atau lokasi koleksi, tetapi lebih dari itu menjadi motivator pembelajaran, menjadi partner dari penggunanya, dan memberikan dari solusi terkait dengan pembelajaran.

Bagi pendukung Jurgen Habermas, perpustakaan – utamanya perpustakaan umum merupakan salah satu ruang publik dan karenanya harus dikelola oleh negara (atau oleh LSM dengan dukungan negara) untuk kepentingan masyarakat luas. Konsep perpustakaan pun terus berubah seiring dengan tantangan zamannya.
Menurut Sumaryanto (2008), dalam kaitannya perpustakaan sebagai ruang publik, beberapa elemen ini patut menjadi perhatian:

1. ruang publik borjuis merupakan arena dimana di dalamnya kaum borjuis berjuang membebaskan diri mereka dari ketergantungan gereja dan negara. Semangat yang senada mestinya juga ada dan menjadi jiwa setiap pengguna perpustakaan, yakni suatu bentuk perjuangan untuk membebaskan diri dari kebodohan, minimnya pengetahuan agar mereka terbebas dari semua dampak negatifnya.

2. ruang publik merupakan lahan pelatihan bagi sebuah refleksi kritis publik, demikian juga halnya perpustakaan. Konkritnya adalah ketika pengguna mengikuti diskusi misalnya diskusi mengenai bedah buku di perpustakaan atau membaca bahan-bahan yang tersedia di koleksi, termasuk juga ketika melakukan diskursus mengenai masalah-masalah yang ada, mereka melaksanakan refleksi juga. Meskipun menurut sejumlah pakar, cara berdiskursus semacam ini sangat bersifat subjektif; sama halnya dengan melakukan sololiqui, penulis berpendapat bahwa sifat subjektif itu dapat dikurangi, ketika pengguna perpustakaan menuliskan hasil dari diskursus tersebut atau berdiskusi secara kritis terhadap apa yang mereka baca itu.

Institusi perpustakaan selalu dikaitkan dengan perubahan, demokrasi, budaya, dan sosial. Perpustakaan umum terbukti sebagai salah satu motor perubahan masyarakat. Perpustakaan umum dianggap sebagai tempat dan lingkungan yang ideal bagi pembelajaran seumur hidup, agen perubahan sosial dan budaya masyarakatnya.

Di beberapa negara maju seperti Inggris, perpustakaan berkembang sebagai sebuah gerakan sosial dengan dana swadaya dari masyarakat, kemudian berkembang menjadi institusi yang lebih formal dan mendapat dukungan dari pemerintah (DeGruyte, 1980). Di Inggris bahkan menjadi bagian reformasi kelas pekerja saat era revolusi industri (Davies, 2008). Kedua, secara historis perpustakaan umum terbukti berperan sebagai agen perubahan budaya dan sosial serta menjadi tempat pembelajaran seumur hidup. Perpustakaan umum menjadi ruang publik yang nyaman dengan menyediakan banyak sumber informasi, serta menjadi tempat belajar dan sumber inspirasi bagi banyak gerakan sosial budaya di masyarakat (DeGruyte, 1980; Davies, 2008; Wani, 2008). Naik turunnya institusi perpustakaan ternyata juga sangat dipengaruhi oleh rezim penguasa saat itu. Di Inggris, tahun 1960-an sampai 1970-an dianggap sebagai era keemasan layanan perpustakaan umum ketika partai buruh berkuasa. Tahun 1980-an dan 1990-an dianggap terjadi stagnasi kemudian menurunnya perhatian pemerintah terhadap perpustakaan umum (dilihat dari pemotongan anggaran dan prioritas pemerintah) ketika partai konservatif berkuasa (Davies, 2008).

Layanan Informasi / Referensi di Perpustakaan
Untuk mencapai tujuannya maka di perpustakaan terdapat banyak aktifitas yang dilakukan. Pengolahan koleksi adalah salah satu contoh aktifitas perpustakaan yang paling klasik. Contoh aktifitas lainnya seperti (Eberhart, 2006):
• Seleksi dan pengadaan koleksi.
• layanan keanggotaan.
• layanan sirkulasi koleksi.
• layanan referensi dan informasi.
• Preservasi.
• Inventarisasi koleksi, dan lain-lain.

Seringkali terdapat layanan unik yang biasanya hanya terdapat pada perpustakaan tertentu, tergantung kebutuhan pengguna lokal setempat. Dari berbagai macam aktifitas tersebut, salah satu aktifitas yang selalu ada disetiap institusi perpustakaan adalah layanan referensi atau layanan informasi. Bisa dikatakan layanan referens merupakan ujung tombak layanan perpustakaan.

Layanan informasi, dalam pengertian umum adalah proses membantu pengguna perpustakaan mengindetifikasi sumber informasi untuk menjawab pertanyaan/ketertarikan/tugas/masalah tertentu. Kadang diacu sebagai layanan referensi. Asosiasi Layanan referensi dan Pengguna (RUSA) dari American Library Association mendefinisikan transaksi referensi sebagai “konsultasi informasi dimana staf perpustakaan merekomendasikan, menginterpretasikan, mengevaluasi, dan/atau menggunakan sumberdaya informasi untuk membantu pengguna memenuhi kebutuhan informasinya. Bentuk transaksi referensi bisa berupa bertemu secara langsung, via telepon, email, atau teknologi referensi virtual. Pustakawan juga bisa membuat laman situs, mengarsipkan pertanyaan, dan memberikan tautan ke berbagai pertanyaan yang pernah dijawab sebelumnya (frequently asked question) untuk mengantisipasi pertanyaan berulang dan membantu orang mendapatkan informasi secara mandiri. Layanan referensi tradisional masih terus dipertahankan di perpustakaan dan berbagai bentuk baru layanan referensi juga terus dikembangkan (Cassell, 2009).

Sulit rasanya membayangkan sebuah perpustakaan tanpa layanan referens. Sama seperti di pusat perbelanjaan, di bandara, di rumah sakit, atau beragam tempat yang dikunjungi banyak orang, biasanya sudah tersedia petunjuk navigasi yang memudahkan orang untuk mencari tujuannya. Tetapi tetap selalu ada konter khusus atau orang yang biasanya dijadikan tempat bertanya jika orang bingung harus kemana. Hal yang sama juga berlaku untuk perpustakaan. Ketika orang datang ke perpustakaan untuk mencari informasi, biasanya dilakukan dengan 3 cara: (1) Browsing, melihat-lihat langsung ke rak atau tempat koleksi; (2) Searching, dengan melakukan pencarian melalui alat temu kembali informasi; dan (3) Asking, bertanya langsung ke pustakawan. Meskipun di perpustakaan sudah tersedia alat temu kembali informasi berupa katalog, panduan subyek, beragam sumberdaya elektronik, sistem navigasi yang baik, tapi selalu saja ada kebutuhan akan layanan referensi.

Makin berkembangnya kompleksitas dan kuantitas informasi yang tersedia di perpustakaan, pengguna semakin membutuhkan bantuan dalam mengindetifikasi, temu kembali, dan mengevaluasi informasi yang spesifik sesuai kebutuhan mereka. Dengan kata lain, mereka butuh bantuan pustakawan. Inilah tugas pustakawan referensi. Kadang disebut layanan referensi, layanan informasi, layanan pengguna, layanan penelitian, help desk, atau nama-nama trendi lainnya, initnya layanan yang dimaksudkan untuk menolong penguna perpustakaan mendapatkan yang diinginkan (Bopp, 2011).

Di beberapa negara, pustakawan sudah mulai merubah pendekatan dalam melakukan pengelolaan perpustakaan agar bisa memberikan layanan referensi yang lebih baik. Penulis dalam satu kesempatan pernah menghadiri perkuliahan dengan dosen seorang profesor bidang ilmu perpustakaan asal Korea Selatan (Jungyeoun Lee). Profesor Lee menceritakan bahwa di beberapa perpustakaan Korsel sudah tidak lagi membagi kerja pustakawan berdasarkan aktifitas perpustakaan tetapi berdasarkan subyek, misalnya: sosial dan ekonomi. Setiap pustakawan yang ditugaskan dalam bidang tersebut, maka ia melakukan semua pekerjaan termasuk seleksi koleksi, pengolahan sampai ke layanan referensi. Mereka beralasan kompleksitas bidang ilmu, banyaknya akses informasi, dan beragamnya media membuat tidak bisa lagi membagi kerja berdasarkan aktifitas perpustakaan, tetapi berorientasi pengguna dalam hal ini subyeknya. Jadi pada dasarnya setiap pustakawan harus siap menjadi pustakawan referensi.

Ada banyak elemen yang menjadi bahan diskusi dan perdebatan dalam membangun layanan referensi yang adaptif dengan perkembangan zaman. Antara lain:
• Yang terkait dengan konsep fundamental layanan referensi: etika, jenis-jenis layanan informasi, membangun alat pencarian (utamanya berbasis web), promosi, evaluasi staf dan layanan, perubahan di eksternal dan internal perpustakaan yang mempengaruhi layanan referensi, teknik wawancara referensi melalui beragam media (seperti telepon, email, chat, instant messenger, sms), assessment dan akuntabilitas, RUSA guidelines (Reference and User Service Association), memahami dan menghargai pendekatan budaya, teknik pencarian dasar, kategorisasi-visualisasi-ujicoba jawaban, dan lain-lain.
• Pengenalan dengan berbagai sumber referensi utama: buku, majalah, surat kabar, perpustakaan dan penerbitan, jaringan bibliografi, ensiklopedia, kamus, indeks dan basisdata fulltext, panduan dan sumber khusus (biasanya bidang kesehatan, bisnis dan hukum), atlas, gazetteer, peta, sistem informasi geografis, panduan perjalanan, biografi, sumber informasi pemerintah (grey literature), dan lain-lain.
• Pengembangan dan manajemen koleksi dan layanan referensi: identifikasi-seleksi-evaluasi koleksi baru, manajemen anggaran, assessment koleksi, kebijakan pengembangan koleksi, dan lain-lain.
• Topik-topik khusus dalam layanan referensi: menggunakan internet sebagai alat referensi, reader’s advisory (bimbingan pembaca), layanan referensi bagi anak-anak dan remaja, literasi informasi, membangun pathfinder/subject guides, dan lain-lain.
• Implementasi Teknologi informasi dalam layanan referensi (akan dibahas pada bagian berikut).

Implementasi TI pada Layanan Referensi
Dari semua aktifitas di perpustakaan, layanan referensi adalah salah satu yang terkena dampak paling dahsyat. Jika dulu orang “terpaksa” menggunakan layanan referensi karena akses ke sumber informasi yang relatif terbatas, sekarang dengan internet tingkat ketergantungan sudah jauh berkurang. Sebagian orang mungkin mengatakan layanan referensi sudah mati. Tetapi mereka lupa bahwa TI memang membawa kemudahan dalam mengakses informasi tetapi juga menimbulkan masalah baru: information overload and complexity.

Teknologi tidak pernah berhasil membuat manusia tersingkir dan teralienasi. Yang bisa dilakukan teknologi adalah membuat teknologi yang lalu menjadi usang dan pada akhirnya mati. Teknologi memang menyederhanakan proses pengolahan koleksi dengan copy-cataloging, tetapi menghadirkan kompleksitas media baru yang menimbulkan “masalah baru”; manajemen metadata dan interoperabilitas. Di dalam layanan referensi, TI membuat informasi tidak hanya mengalir dari orang yang tahu ke orang yang mencari tahu. Tetapi melalui banyak cara dan dengan interaktifitas yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Tantangan lainnya adalah melakukan assessment informasi. sekarang orang dengan mudah menciptakan informasi dan mempublikasikannya ke web. Informasi pun sering dihasilkan dari kerja orang banyak, bukan individu (from crowd to wisdom). Sehingga melakukan validasi informasi menjadi lebih menantang dan wajib dilakukan.

Beberapa contoh implementasi TI yang bisa digunakan untuk layanan referensi (Cassell, 2009):
1. Kolaborasi (dalam membangun konten).
• Wiki Referensi. “Wikiwiki” dalam bahasa Hawai artinyasuper cepat. Wiki dalam dunia internet diasosiasikan sebagai kolaborasi antar pengguna dalam membangun konten secara asinkronus tanpa mensyaratkan harus tahu teknis tentang pemrogaman web. Wikipedia adalah salah satu contoh wiki yang legendaris. Wiki bisa digunakan kebutuhan seperti: (a) membangun layanan ready reference semacam wikipedia tapi didesain untuk kebutuhan pengguna perpustakaan. Contoh: http://burbank.wikidot.com/. (b) membangun subject guides (pathfinder). Subject guide didefinisikan sebagai panduan perpustakaan mengenai subyek tertentu (Prytherch, 2005). Dengan menggunakan Wiki, keterbaruan pathfinder bisa dengan mudah dijaga. Contoh: http://libguides.library.ohiou.edu/home. (c) Diskusi dan Prosiding. Pustakawan referensi bisa menggunakan wiki untuk menjaga catatan suatu pertemuan, prosiding konferensi dan diskusi staf secara interaktif. Contoh: http://wikis.ala.org/annual2008/index.php/Main_Page. (d) Wiki juga bisa digunakan untuk membangun instruksi referensi dan manual. Misalnya digunakan untuk membuat manual penggunaan atau silabus bagi kelas komputer dasar. Contoh: http://trainingwiki.pbworks.com/w/page/22418088/How%20to%20Make%20an%20Online%20Survey. (e) Wiki juga bisa digunakan sebagai alat untuk manajemen pengetahuan untuk proyek tertentu. Wiki bisa digunakan untuk distribusi informasi dan pengetahuan untuk pekerjaan tertentu.

• Blog, microblog, dan podcast. Awal 90-an istilah weblog digunakan untuk mendeskripsikan posting online atau catatan pada sebuah situs. Tidak sampai satu dekade, weblog menjadi populer dan sering disebut dengan blog. Populariatas blog memunculkan istilah baru seperti blogging untuk mendeskripsikan proses posting ke blog, blogger untuk pelaku blog, microblog untuk blog yang benar-benar singkat (seperti twitter, plurk), blogosphere untuk menggambarkan kesatuan jagad blog, blogrolls untuk menggambarkan daftar tautan ke blog lain, vlogs untuk video log, dan masih banyak lainnya. Blog bisa digunakan untuk: (a) blog referensi untuk newsletter kampus, bimbingan pembaca (reader’s advisory), komunitasi internal, buletin berita, dan personal statement. Contoh: http://52books.org/, http://blogs.law.yale.edu/blogs/rarebooks/default.aspx, http://paulcourant.net/. (b) Microblog. Blog yang menginformasikan, update, komentar dan memberitahukan pengguna dalam format yang sangat ringkas. Biasanya dibatasi jumlah karakternya. Microblog yang paling populer adalah Twitter.com. Contoh: https://twitter.com/NLC_Reference, https://twitter.com/librarycongress. (c) Podcast. Sama seperti blog, podcast juga menyediakan akses melalui internet tetapi menggunakan file audio. Pustakawan referensi bisa menggunakan podcast contohnya untuk memberikan tur tentang koleksi, mendistribusikan rekaman seminar, dan lain-lain. Contoh: http://www.hsl.virginia.edu/historical/lec0809.cfm.

• Folksonomi referensi. Salah satu fitur penting dalam perkembangan kerjasama pengembangan konten di internet adalah folksonomi yang bisa dideskripsikan sebagai informasi diberikan kata kunci (tagging) oleh pengguna, tidak lagi spesifik menjadi yang secara tradisional eksklusif pekerjaan pustakawan.

 

Fitur folksonomi pada situs lama flickr.com

 

2. Jejaring Sosial (Social Networking). Jejaring sosial adalah situs yang secara terstruktur memfasilitasi interaksi online antar pengguna dan terbuka untuk berbagi data. Beberapa situs yang populer antara lain: Facebook, MySpace, Bebo, Friendster, Hi5, dan Orkut. Penggunaan jejaring sosial untuk kebutuhan layanan referensi seiring dengan meningkatnya popularitas mereka. Facebook misalnya per Januari 2009 telah terdapat 175 juta pengguna aktif dengan pertumbuhan pengguna 600.000 perbulan. MySpace juga mempunyai angka dibawah facebook yaitu 110 juta pengguna aktif. Untuk pustakawan referensi, situs jejaring sosial bisa menjadi tempat baru menawarkan layanan referensi.

 

3. Kustomisasi. Salah satu tren di internet adalah setiap orang bisa menggabungkan fitur disebuah situs ke dalam situs lain. Fitur ini disebut mashup. Contohnya jika kita ingin dalam situs online catalog terdapat fitur komentar, bisa menggunakan layanan dari disqus.com. Dengan menggunakan layanan ini, kita tidak dipusingkan lagi dengan trafik, beban server, keamanan, space penyimpanan karena itu semua ditangani oleh disqus.com. Situs video youtube.com juga menyediakan hal yang sama. Kita bisa meng-embed tautan video tertentu untuk menampilkan video pada situs kita tanpa harus pusing dengan penyimpanan dan penggunaan bandwidth koneksi internet. Model mashup yang sudah lebih populer dan menjadi salah satu standar yang dikembangkan oleh WWW consortium adalah RSS (Really Simple Syndication). RSS merupakan format sindikasi konten web berbasis XML. Dengan RSS konten web dengan mudah di-fetch dan ditampilkan pada situs yang lain. Karena popularitasnya, berkembang juga alat bantu untuk membaca RSS berbasis desktop dan mobile. Biasanya disebut dengan feed aggregator. Bagi pustakawan referensi, RSS bisa digunakan untuk memberitahukan pengguna tentang koleksi baru, kegiatan di perpustakaan, daftar isi jurnal, dan lain-lain. Hal lain yang bisa dimanfaatkan adalah widget atau yang bisa di-embed ke situs perpustakaan untuk memudahkan orang lain melakukan “sharing” konten tertentu pada beragam media sosial yang ada.

4. Lain-lain. Perkembangan lain yang sedang populer adalah pemanfaatan layanan referensi pada perangkat bergerak (mobile devices) seperti iPods, Blackberry, PDA, smartphone, dan lain-lain. Bila perpustakaan mengembangkan suatu laman, maka sediakan juga versi mobile. Atau yang yang tren disebut dengan responsive web design. Dimana tampilan sebuah situ langsung menyesuaikan dengan perangkat yang mengaksesnya.

Aksesibilitas: web untuk semua orang
Wacana tentang akses berkeadilan untuk semua orang termasuk penyandang cacat relatif masih baru dibanyak negara. Di Amerika Serikat UU yang khusus membahas aksesibilitas bagi penyandang cacat (Americans with Disabilities Act ) baru disetujui tahun 1990 (Hernon, 2006). Di Jepang, pentingnya aksesibilitas web baru dirasakan saat gempa bumi hebat melanda daerah Tohoku dan Kanto pada 11 mei 2011. Saat itu banyak siaran televisi seringkali penonton mengacu ke situs web tertentu untuk keterangan lebih detail dan update terbaru. Banyak penyandang cacat mengalami kesulitan karena perangkat lunak screen reader sering gagal “membaca” informasi visual yang ada di web (Yamada, 2011).

Perpustakaan adalah semua tentang akses; ke konten, ke konektifitas, dan ke pendidikan serta dukungan informasi. Apapun itu, selalu ada akses, karenanya ada aksesibilitas. Aksesibilitas secara sederhana dapat didefinisikan sebagai penggunaan sumberdaya maksimal bagi sebanyak-banyaknya orang. Perpustakaan sebagai ruang publik dan konten dijital mempunyai tanggungjawab mempromosikan akses yang setara kepada semua penggunanya, baik menggunakan atau tidak assistive technology (Booth, 2012).

Anggaplah teknologi telah tersedia dan mudah untuk digunakan. Banyak situs laman dan aplikasi berbasis web untuk perpustakaan yang dikembangkan. Layanan referensi termasuk yang banyak memanfaatkannya adalah TI. Seperti yang sudah diterangkan sebelumnya, TI memudahkan kita untuk meraup jumlah pengguna yang jauh lebih besar, jauh lebih terjangkau dan dengan beragam media penyampaian. Langkah berikutnya adalah memastikan bahwa layanan yang dikembangkan bisa dimanfaatkan oleh semua orang. Tidak hanya orang normal tapi juga orang dengan kebutuhan khusus (disabled people). Bahasan tentang ini disebut aksesibilitas dan ketergunaan (accessibility and usability) (Riley-Huff, 2012).

Inisiatif standar untuk web accessibility (WAI) dikembangkan oleh W3C (http://www.w3.org/WAI/) dan merupakan standar terbuka. WAI bertujuan untuk mengembangkan strategi, panduan, dan menyediakan beragam sumberdaya untuk membangun web yang bisa diakses oleh orang-orang dengan kebutuhan khusus (people with disabilities).

Web accessibility artinya mereka dengan kebutuhan khusus (seperti: tuna netra, tuna rungu, tuna wicara, cacat fisik, gangguan kognitif dan syaraf) juga bisa menggunakan web. Lebih spesifiknya, mereka bisa melihat, mengerti, melakukan navigasi dan berinteraksi dengan web, juga bisa berkontribusi. Tentu berbeda jenis kekurangan yang dimiliki, berbeda pula metode berinteraksi dengan web.

Ada beberapa komponen pengembangan dan interaksi web yang harus dilakukan untuk membangun web yang aksesibel bagi orang berkebutuhan khusus. Diantaranya:
• konten – informasi pada laman atau aplikasi web, termasuk:
• teks, gambar, dan suara
• kode atau markup yang mendefinisikan struktur, presentasi, dan lain-lain.
• Perambah web (browser), media player, dan berbagai “user agents” lainnya.
• assistive technology, seperti – screen readers, keyboard alternatif, scanning software, dll.
• pengetahuan pengguna, pengalaman, dan dalam beberapa kasus, strategi adaptif ketika menggunakan web.
• Para pengembang – desainer, programer, pengarang, dll., termasuk pengembang dengan kebutuhan khusus dan pengguna yang ikut berkontribusi mengembangkan konten.
• authoring tools – perangkat lunak membangun laman web.
• evaluation tools – perangkat evaluasi aksebilitas web, validator HTML/CSS, dan lain-lain.

Antar komponen diatas saling tergantung satu sama lain, dan Why Accessibility?
Char Booth harus bekerja untuk menghasilkan web yang aksesibel. Contoh mengenai implementasi alternative text pada gambar (images):
• spesifikasi teknis mengatur mengenai alternative text dan bagaimana menggunakannya (contoh HTML mendefinisikan atribut alternative text (alt) pada elemen image (img))
• Panduan WAI – WCAG, ATAG, dan UAAG, mendeskripsikan bagaimana implementasi alternative text untuk aksesibilitas pada beberapa komponen.
• Para pengembang mengimplementasikan alternative text yang sesuai.
• Authoring tools membantu, memfasilitasi dan mempromosikan penggunaan alternative text pada sebuah laman web.
• Evaluation tools digunakan untuk membantu pengecekan apakah alternative text sudah digunakan.
• User agents menyediakan antarmuka bagi pengguna dan mesin untuk alternative text .
• Assistive technologies menyediakan antarmuka bagi pengguna menggunakan alternative text dalam berbagai skenario.
• Pengguna tahu bagaimana mengakses alternative text dari user agent dan/atau menggunakan assistive technology yang dibutuhkan.

Beberapa panduan yang disediakan oleh WAI antara lain:
• User Agent Accessibility Guidelines (UAAG) . Panduan bagi para pengembang perambah web (termasuk user agent), media player dan assistive technologies, agar produk yang dikembangkan mengenali dan menggunakan standar konten web dengan dukungan aksebilitas yang telah dikembangkan oleh WAI.
• Web Content Accessibility Guidelines (WCAG). Panduan bagi para pengembang konten web, pengembang perangkat web authoring tool, pengembang Web accessibility evaluation tool, agar konten web bisa aksesibel bagi orang dengan kebutuhan khusus. Termasuk didalamnya mengatur penggunaan teks, gambar, suara, kode/markup, presentasi, dan lain-lain.
• Authoring Tool Accessibility Guidelines (ATAG) . Panduan bagi para pengembang aplikasi authoring tools agar aplikasi yang dikembangkan sesuai dengan standar W3C khususnya standar dari WAI agar aplikasi atau laman web yang dihasilkan (generate) mendukung aksesibilitas bagi orang berkebutuhan khusus.

Inisiatif lain yang mempromosikan web accessibility bagi orang berkebutuhan khusus adalah WebAIM (Web Accessibility in Mind, http://webaim.org) yang didukung oleh Center for Persons (http://www.cpdusu.org/) with Disabilities dan Utah State University. WebAim menyediakan media instruksional, workshop dan alat bantu berbasis web untuk melakukan pengecekan apakah laman atau aplikasi web yang dikembangkan sudah mempunyai aksesibilitas yang baik dan sesuai standar (http://wave.webaim.org/).
Beberapa perpustakaan sudah mencoba menerapkan web accessibility pada laman web-nya. Antara lain:
• University of New Brunswick Libraries (http://www.lib.unb.ca/help/accessibility.php).
• Randolph Township Free Public Library (http://www.randolphnj.org/library/accessibility_statement)

Contoh Implementasi Web yang Peduli dengan Aksebilitas
Cara paling mudah untuk memulai membangun laman atau aplikasi web dengan aksesibilitas tinggi adalah dengan memulai dari konten. Bangun konten dengan bahasa yang baik, mudah dimengerti dan gunakan ragam elemen yang disediakan untuk web accessibility seperti elemen “title” pada tag yang dianggap penting, seperti “<a>” dan “<img />” yang akan memunculkan teks ketika kursor diletakkan diatasnya dan akan dibaca oleh screen reader.

Contoh pemanfaatan elemen “title” pada tag “img” dan “a” di HTML.

Contoh lain lagi, bangunlah template web yang terstruktur dan semantik serta gunakan secara konsisten seperti ilustrasi dibawah ini:

Memang sulit membangun struktur semantik di HTML karena HTML didesain oleh Tim Berners-Lee berorientasi bagaimana dokumen ditampilkan (presentation-oriented), bukan bagaimana mencerminkan semantik konten. Tapi setidaknya kita bisa mencoba memaksimalkan sintaks HTML yang tersedia.

Contoh lain lagi adalah masalah menu di web. Menu model bertingkat cenderung sulit dibaca oleh screen-reader dan orang dengan keterbatasan fisik. Untuk itu Jakob Nielsen, seorang pakar usability merekomendasikan megamenu daripada “nested menu”.

Penutup
Untuk menambah wawasan tentang usability di web, silahkan membaca blog Jakob Nielsen pada laman http://www.nngroup.com/articles/. Silahkan juga “googling” untuk mencari tutorial mulai dari yang sederhana hingga kompleks mengenai “web usability”.

Beberapa pertimbangan lain yang harus diperhatikan dalam membangun laman atau aplikasi web perpustakaan khususnya untuk kebutuhan referensi:
• Gunakan teknologi yang paling dikuasai oleh pengelola perpustakaan.
• Gunakan teknologi dengan standar terbuka (open standard).
• Hindari teknologi yang dikemudian hari membuat anda terkunci (vendor lock-in) dan kesulitan jika ingin beralih ke teknologi lain.
• Hindari teknologi yang sudah atau akan dianggap usang. Contoh: hindari Flash untuk video dan gunakan standar HTML 5 yang baru.
• Gunakan model dokumen HTML yang sesuai standar dengan struktur yang baik, memperhatikan aspek aksesibilitas dan konsisten.

Pemanfaatan teknologi sudah menjadi suatu keniscayaan di lingkungan perpustakaan dan layanan referensi bisa mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkannya. Dengan mengembangkan laman atau aplikasi web dengan aksesibilitas tinggi, maka diharapkan semua orang bisa menggunakan layanan perpustakaan, khususnya layanan referensi.

Bibliografi

Bopp, Richard E. & Linda C. Smith. Reference and Information Services : An Introduction. Santa Barbara : Libraries Unlimited, 2011

Cassell, Kay Ann & Uma Hiremath. Reference and information services in the 21st century : an introduction. London : Facet Publishing, 2009.

Davies, Steve. Taking Stock : the future of our public library service. Cardiff: Cardiff, 2008.

DeGruyte, Lisa, “The History and Development of Rural Public Libraries”, Library Trends, vol 28, 1980; 513-523.

Eberhart, George M. The whole library handbook 4 : current data, professional advice, and curiosa about libraries and library services . Chicago : AMERICAN LIBRARY ASSOCIATION, 2006 .

Hernon, Peter. “Context”, Improving the quality of library services for students with disabilities. Connecticut : Libraries Unlimited, 2006.

Mortimer, Mary. Library speak : a glossary of terms in librarianship and information management . Texas : Total Recall Publications, 2007

Prytherch, Ray. Harrod’s librarians’ glossary and reference book, Hampshire : Ashgate, 2005.

Booth , Char. “Why Accessibility?”, Library Technology Reports (vol. 48, no. 7) , 2012

Riley-Huff, Debra A. “Web Accessibility and Universal Design A Primer on Standards and Best Practices for Libraries ”, Library Technology Reports (vol. 48, no. 7) , 2012

Sumaryanto, Y. Ruang publik Jurgen Habermas dan tinjauan atas perpustakaan umum Indonesia. Tesis. Depok : Universitas Indonesia , 2008.

Wani, Zahid Ashraf. “Development of Public Libraries in India”, Library Philosophy and Practice, March 2008.

WebAIM (Web Accessibility in Mind), http://webaim.org, diakses tanggal 25 mei 2013.

Wicaksono, Hendro. “Kompetensi Perpustakaan Dan Pustakawan Dalam implementasi teknologi Informasi Di Perpustakaan”, Visipustaka, Vol.6 No.2 – Desember 2004

Yamada, Hajime. “Issues Surrounding Standardization and Promotion of Web Accessibility”, Quarterly Review no. 41/October 2011