Memaknai Hakikat Minat Baca untuk Tujuan Praktis

Pengantar

Minat baca telah menjadi pembicaraan hangat di kalangan pemerhati pendidikan, pemerhati perpustakaan, pustakawan, penerbit, dan masyarakat pada umumnya.  Selama dua dekade terakhir banyak tulisan diterbitkan di majalah, di surat kabar, maupun di situs Internet;  banyak talk show disiarkan radio maupun televisi; dan puluhan seminar atau sejenisnya telah dilangsungkan oleh mereka yang prihatin akan rendahnya minat baca masyarakat Indonesia. Cara dan gaya penyuguhan mereka berbeda, tetapi tujuannya sama: mempromosikan budaya baca kepada masyarakat karena percaya budaya baca dapat menaikkan harkat dan martabat umat. Juga sejumlah penelitian telah dilakukan mengenai minat baca. Sayangnya, semua itu  tampak tidak efektif. Minat baca kita masih tetap terpuruk. Lebih sayang lagi,  belum terlihat adanya kesamaan pemahaman tentang minat baca itu sendiri. Setelah membaca tulisan di surat kabar, majalah, makalah seminar dan laporan penelitian, kita bisa menyimpulkan bahwa para penulisnya tidak membedakan antara minat baca, dari kebiasaan baca,  dan budaya baca. Dari berbagai Setelah mendengarkan sejumlah talk show  kita bisa  dapat menyimpulkan bahwa pada umumnya pembicaranya mencampuradukkan pengertian saling mempertukarkan istilah minat baca, kebiasaan membaca, dan budaya baca.   Tulisan ini berupaya memaknai “minat baca”  dan menarik garis pemisah antara minat baca, kebiasaan membaca, dan budaya membaca. Meski tidak dapat ditarik garis pemisah yang tegas setegas garis tepi pada buku tulis, pemisahan itu janganlah ditepis. Garis pemisah antara ketiga istilah itu perlu ditarik walau terpaksa samar, karena dengan begitulah masalah minat baca bisa dengan jelas dipapar, dan langkah-langkah untuk mengatasinyapun bisa digelar.

Memaknai “minat baca” perlu dilakukan setidaknya untuk keperluan praktis: sebagai landasan dalam melancarkan upaya-upaya promosi kebiasaan membaca. Sebagai working definition.

Minat dan Motif

Mengelaborasi pengertian yang tercantum dalam  Kamus Besar Bahasa Indonesia, “minat” berarti  kecenderungan hati  yang tinggi terhadap sesuatu; gairah yang tinggi terhadap sesuatu; keinginan yang tinggi terhadap sesuatu. Sesuatu itu bisa benda, bisa juga interaksi dengan benda tersebut.  Minat menjadi merupakan penggerak untuk melakukan sesuatu.  Minat, adalah kata benda abstrak. Minat tak bisa digantang, tak bisa ditimbang, tak bisa didepa, tak bisa dipandang. Minat adalah aspek psikis manusia.  Minat ada pada setiap manusia.

Minat erat hubungannya dengan motif. Seorang pemuda yang mempunyai minat terhadap seorang gadis, akan memberi perhatian lebih kepada si gadis dan kemudian melakukan upaya-upaya yang tepat untuk berinteraksi dengan si gadis. Besar-kecil minat si pemuda dapat digantang dari upaya-upayanya itu.

Minat si pemuda terhadap si gadis bisa disebut besar jika untuk berinteraksi langsung dengan gadis yang dia minati,  dia akan menemuinya  meski harus menyeberang laut tanpa kapal, mendaki gunung tanpa bekal. Minat yang kuat memberi energi besar. Energi sendiri itu bersumber dari adanya keinginan untuk mendapatkan rasa senang, rasa nyaman, rasa bahagia, rasa puas, rasa indah. Dengan kalimat lain, minat adalah keinginan  untuk mendapatkan pengalaman yang mengasyikkan.

Dalam hal ini, pengalaman mengasikkan yang ingin dicapai itu disebut motif. Andai pengalaman mengasyikkan itu  tidak potensial diperoleh si pemuda dari si gadis, maka  si pemuda tidak akan berminat pada si gadis. Ia pun tidak akan tergerak untuk bermanuver mendekati si gadis. Tiada minat tanpa motif.   Seperti dimuat dalam [http://edukasi.kompasiana.com/2009/12/16/ apakah-minat-itu/] mengutip Crow and Crow: …minat erat hubungannya dengan daya gerak yang mendorong seseorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda atau bisa juga sebagai pengalaman efektif yang dipengaruhi oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain minat dapat menjadi sebab kegiatan dan sebab partisipasi dalam kegiatan itu…juga bahwa minat erat hubungannya dengan dorongan (drive), motif, dan reaksi emosional.

Manusia berminat pada sesuatu setelah mengetahui, atau mendengar,  atau melihat, atau merasakan bahwa sesuatu itu mendatangkan pengalaman menyenangkan baginya, atau setidaknya berpotensi mendatangkan pengalaman menyenangkan baginya. Maka dapat dikatakan, jika seseorang menaruh minat pada sesuatu benda, maka sesungguhnya aku berkata kepadamu, ia menaruh minat pada pengalaman menyenangkan yang bisa ia dapatkan dari benda itu.

Sebagai ilustrasi, Pak Hasan memutuskan membeli sepeda gunung  karena mengetahui bahwa ia akan mendapat kesenangan saat mengendarai sepeda itu setiap akhir pekan, meski tidak ke gunung. Pak Hasan pada dasarnya sudah berminat pada sepeda pada umumnya. Ia memutuskan membeli bukan sepeda pixi, bukan sepeda balap, dan juga  bukan sepeda BMX, melainkan sepeda gunung karena teman-temannya mempunyai sepeda gunung dan bersepeda dengan mereka akan mendatangkan kesenangan. Memperoleh kesenangan dengan bersepeda bersama teman-teman merupakan motif  bagi Pak Hasan sehingga berminat terhadap sepeda.    Ilustrasi lain, remaja Wawan ingin meminjam buku “Laskar Pelangi” milik temannya karena berminat membacanya. Ia tahu akan mendapat pengalaman atau sensasi emosional yang mengesankan jika  membaca buku itu. Dia belum pernah melihat buku “Laskar Pelangi.”  Dia tak tahu bagaimana wajah sampul depan buku tersebut. Dia tak tahu berapa tebal buku tersebut.

Yang dia tahu hanyalah sekilas tentang isi buku tersebut berdasarkan apa yang dia baca di media massa digabung dengan apa yang dia dengar dari teman-teman. Ia memutuskan meminjam untuk membaca buku “Laskar Pelangi” karena tahu akan mendapatkan pengalaman mengasyikkan darinya lebih dari, misalnya, pengalaman mengasyikkan yang diperoleh jika menonton sinetron.   Keputusan Wawan untuk meminjam dan membaca buku “Laskar Pelangi”  didasari oleh pengalaman masa lalunya dengan mempertimbangkan pengalaman terkininya. Pengalaman masa lalunya mengatakan bahwa membaca buku tentang kejadian nyata yang difiksikan dengan gaya penulisan yang menarik selalu memberinya kesenangan. Sedangkan pengalaman masa kininya (informasi yang dia baca atau dengar) menyimpulkan bahwa buku “Laskar Pelangi,”  adalah kisah nyata yang difiksikan  dan ditulis dalam gaya bahasa yang menarik.

Keputusan untuk membaca buku “Laskar Pelangi” itu diambil oleh Wawan berdasarkan dorongan dari dalam dirinya sendiri (faktor internal)  yang membangkitkan minatnya utuk membacanya. Murni dorangan internal. Tiada seorang pun yang bisa memaksanya untuk membaca buku tersebut. Tak seorangpun yang bisa menjatuhkan sanksi kepadanya jika tidak membaca buku tersebut. Tak ada kerugian finansial maupun emosional yang akan dideritanya jika tidak membaca buku tersebut.

Dia membacanya secara suka rela, didorong oleh motif untuk memperoleh reaksi emosional yang mengasyikkan ketika membacanya. Wawan melakukan voluntary reading, yaitu membaca suka-rela, membaca atas kemauan sendiri, bukan compulsory reading, yaitu bahwa seseorang membaca bukan karena ia ingin membaca sesuatu murni atas kemauan sendiri, melainkan karena ada faktor luar yang memaksanya membaca.

Seorang siswa yang tidak berminat pada pelajaran sejarah harus membaca buku pelajaran sejarah karena ia ingin nilai bagus dalam ujian. Atau kalimat sebaliknya, dia tak ingin mendapat nilai buruk karena tidak membacanya.  Dengan kalimat lain, kecil minatnya membaca buku sejarah namun besar keinginannya untuk mendapatkan nilai bagus dalam mata pelajaran sejarah. Maka  ia pun membaca buku pelajaran sejarah.

Nilai bagus dalam mata pelajaran sejarah yang ingin dia peroleh itu adalah motif baginya untuk membaca. Motif ini yang menggerakkan siswa tersebut untuk membaca buku pelajaran sejarah. Motif menjadi alasan dan menjadi penggerak bagi seorang untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Motif tidak sama dengan minat, tetapi keduanya  berhubungan erat. Motif melahirkan minat.  Minat ada kalau motif ada.

Minat baca

Mengingat “minat” per definisi adalah dorongan hati yang tinggi untuk melakukan sesuatu, maka “minat baca” adalah dorongan hati yang tinggi untuk membaca. Keinginan membaca bukan karena ada faktor eksternal sebagai pemaksa untuk membaca, melainkan karena ada faktor internal sebagai pendorong untuk membaca. Faktor internal itu ialah keinginan untuk mendapat pengalaman yang mengasyikkan dari kegiatan membaca.

Pengalaman mengasyikkan itu boleh terdiri atas satu, atau gabungan dari beberapa macam perasaan: senang sampai tertawa, sedih atau terharu bahagia sampai berlinang air mata, takut sampai meringkuk, tegang sampai berdebar-debar, dan lain-lain. Pengalaman mengasyikkan ini menjadi sasaran utama yang ingin dicapai  melalui membaca. Menjadi tujuan dari membaca.

Merupakan motif untuk membaca. Sedangkan pengetahuan yang didapat dari kegiatan tersebut adalah hasil sampingan. Maka tepat dikatakan bahwa “minat baca” adalah  keinginan membaca atas dorongan dari dalam diri sendiri. “Minat baca”  membatasi maknanya sendiri pada “voluntary reading.” Suka-rela. Membaca demi membaca.   Minat baca (reading interest) tidak sama dengan kebiasaan membaca (reading habits) dan berbeda pula dari budaya baca (reading culture). Secara sederhana, minat baca adalah potensi untuk membaca secara suka-rela. Kebiasaan membaca adalah kegiatan beinteraksi dengan bahan bacaan secara teratur atau berulang. Minat baca akan menjadi kebiasaan membaca jika  tersedia bahan bacaan yang sesuai untuk dibaca dan ada cukup waktu untuk membaca. Pada kebiasaan membaca,  motifnya bukan lagi hanya untuk mendapat pengalaman emosional yang mengasyikkan tetapi juga untuk mendapat informasi atau pengetahuan baru.

Motif yang terakhir ini dipicu oleh faktor eksternal yang sifatnya memaksa. Misalnya, memaksa orang untuk membaca supaya sukses dalam pendidikannya. Kebiasaan membaca  motifnya bisa dua. Satu, pengalaman mengasyikkan dari membaca itu sendiri, reading for reading. Dua, pengetahuan dan pembelajaran untuk memenuhi tuntutan pendidikan, tuntutan pekerjaan, tuntutan hidup. Salah satu dari yang terakhir ini bisa lebih dominan dari yang lain.

Jika motif dominannya adalah untuk  pemenuhan tuntutan pendidikan, maka kebiasaan membaca akan berkurang drastis kuantitasnya sesaat setelah tamat sekolah atau ujian skripsi. Jika  motif dominannya adalah pemenuhan kesenangan, tuntutan pekerjaan dan tuntutan hidup, maka kebiasaan membaca akan berlanjut seumur hidup dan membudaya. Faktor luar tidak lagi bersifat memaksa (compulsory) melainkan bersifat menghimbau (pseudo-compulsary) seperti misalnya professional reading.

Pendefinisian “minat baca” dan pembedaannya dari  “kebiasaan membaca” dan “budaya baca” seperti di atas perlu dilakukan untuk dijadikan pegangan dalam upaya mempelajari minat baca itu sendiri. Beberapa hasil penelitian yang saya pelajari tentang minat baca membuktikan bahwa  para peneliti tidak membedakan ketiga istilah tadi dan sering saling mempertukarkannya.

Akibatnya, ada hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa minat baca anak-anak di daerah yang mereka teliti rendah hanya karena rata-rata responden hanya membaca 15 menit per hari. Padahal sesungguhnya yang mereka ukur adalah kebiasaan membaca responden, bukan minat baca mereka.

Minat baca adalah potensi untuk membaca. Potensi untuk membaca itu  akan menjadi kebiasaan membaca jika ada cukup waktu untuk membaca dan ada bahan bacaan untuk dibaca. Sering atau tidak seringnya seseorang membaca  memang dapat menjadi indikator tinggi-rendah minat baca.

Tapi indikator tersebut hanya bisa disebut sahih jika memasukkan faktor aksesibilitas responden terhadap bahan bacaan.  Sebab orang yang tinggi minat bacanya belum tentu sering membaca. Sebaliknya, orang yang membaca jarang, belum tentu dikarenakan minat bacanya rendah. 

Penutup

Minat baca, kebiasaan membaca, dan budaya baca adalah tiga fase yang berbeda namun sinambung secara difusif dalam kronologi hidup manusia.  Minat baca ibarat bibit yang jika ditanam pada lahan yang tepat akan tumbuh menjadi kebiasaan membaca dan pada waktunya akan berbuahkan budaya baca. Sebagai bibit, minat baca harus ditanam dan dipelihara agar tumbuh menjadi minat baca.

Kondisi yang dibutuhkan untuk menanam minat baca dan menumbuhkan minat baca yang kemudian menjadi budaya baca. Maka strategi yang dibutuhkan untuk masing-masing fase berbeda pula.

Upaya untuk menumbuhkan minat baca pada seorang anak sebenarnya adalah upaya untuk membuat dia tahu, membuat dia mengerti, bahwa pengalaman-pengalaman mengasyikkan dapat diperoleh dari membaca.

Dengan kalimat lain, mengupayakan agar dia punya motif untuk mendapatkan pengalaman mengasyikkan, dan pengalaman mengasyikkan itu, antara lain, dapat diperoleh dari membaca. Upaya tersebut bisa bermacam-macam cara. Cara yang terbukti efektif untuk menumbuhkan minat baca pada anak-anak pra-sekolah yang belum bisa membaca ialah dengan membacakan buku cerita atau dongeng kepada mereka.

Pengalaman berupa berbagai rasa yang mereka dapatkan setiap mendengarkan cerita yang dibacakan itu akan menumbuhkan minat baca dalam diri mereka. Hal ini juga mengajarkan mereka bahwa buku (dan bahan bacaan lain) adalah media yang dapat mendatangkan pengalaman mengasyikkan jika dibaca.

Kelak jika mereka sudah pandai membaca, mereka akan gemar membaca, kerap membaca untuk menikmati sensasi dari membaca.

Anak-anak dari orang tua yang biasa membacakan buku cerita kala senggang di rumah akan menjadi anak-anak yang gemar membaca di kemudian hari. Demikian juga anak-anak dari ayah-ibu yang sering membaca di rumah. Melihat orang tua mereka sering membaca, minat baca anak-anak akan tumbuh.

Mereka akan menjadi anak-anak yang sering membaca jika cukup kesempatan dan tersedia bahan bacaan yang sesuai.   Upaya-upaya untuk menumbuhkan minat baca seyogianyalah dibangun berlandaskan hakekat minat baca itu sendiri.