Mengangkat Sisi-sisi Positif Budaya Lisan Melalui Pengembangan Perpustakaan Komunitas

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus, dan juga sesuatu yang tidak dapat dilihat tetapi lebih mendalam yaitu pemberian pengetahuan, pertimbangan dan kebijaksanaan. Salah satu dasar utama pendidikan adalah untuk mengajar kebudayaan melewati generasi (Wikipedia, 2008).
 
Pendidikan biasanya berawal pada saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia akan bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran. Banyak dari kalangan masyarakat mengatakan bahwa pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Pendidikan merupakan hal yang penting dan sangat berpengaruh bagi kehidupan. Melalui pendidikan, kecerdasan dan keterampilan manusia lebih teruji dan terasah dalam menjalani dinamika kehidupan yang kompleks ini. Misalnya, kehidupan ekonomi seseorang tidak akan menjadi buruk jika seseorang tersebut mempunyai pendidikan dan keahlian untuk memperbaiki kehidupan ekonominya, begitu pula dengan kehidupan sosial, agama dan lain-lain.
 
Pendidikan merupakan indikator kualitas sumber daya manusia. Semakin baik tingkat pendidikannya, maka semakin baik pula kualitas sumber daya manusia itu. Pendidikan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja, tergantung dari orang yang memaknai suatu peristiwa. Begitu pentingnya pendidikan, sehingga pemerintah menjadikan pendidikan sebagai hak dasar setiap manusia yang tercantum dalam Undang Undang Dasar (UUD) 1945.
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi kualitas pendidikan di Indonesia, yaitu:
1. Faktor internal, meliputi jajaran dunia pendidikan baik itu Departemen Pendidikan Nasional, Dinas Pendidikan daerah, dan juga sekolah yang berada di garis depan. Dalam hal ini, interfensi dari pihak-pihak yang terkait sangatlah dibutuhkan agar pendidikan senantiasa selalu terjaga dengan baik.
2. Faktor eksternal, adalah masyarakat pada umumnya. Dimana, masyarakat merupakan ikon pendidikan dan merupakan tujuan dari adanya pendidikan yaitu sebagai objek dari pendidikan. Yang menarik untuk dikaji lebih lanjut adalah pendidikan yang berawal dari faktor eksternal yakni masyarakat pada umumnya. Masyarakat harus ikut berkontribusi dalam memajukan pendidikan di Indonesia, salah satunya melalui pembangunan perpustakaan komunitas.
 
Perpustakaan komunitas adalah kelompok peminatan, atau kelompok-kelompok orang yang memiliki kepentingan tertentu dengan menggunakan perpustakaan sebagai alatnya. Jelasnya, sekelompok orang yang mempunyai minat yang sama dalam bidang perbukuan atau pengembangan informasi, kemudian diolah dengan menggunakan sistem tertentu (misalnya, sistem digital, intranet, internet ataupun manual) yang selanjutnya disebarluaskan ke masyarakat umum dengan mengambil keuntungan dari para penggunanya.
 
Pengertian komunitas mengacu pada sekumpulan orang yang saling berbagi perhatian, masalah atau kegemaran terhadap suatu topik dan memperdalam pengetahuan serta keahlian mereka dengan saling berinteraksi secara terus menerus (Wenger, 2002:4). Keberadaan suatu komunitas itu, ditentukan oleh aktifitas anggota, pada umumnya komunitas mempunyai maksud dan tujuan yang sama, lalu dibuatlah program yang menunjang maksud dan tujuan tersebut. Seperti halnya perpustakaan komunitas. Kebanyakan perpustakaan berbasis komunitas tersebut dirintis oleh anak muda yang mempunyai kegemaran yang sama dan peduli terhadap masyarakat sekitar. Banyak dari para pendirinya mengusung tema yang kreatif dan unik sehingga kelangsungan hidup perpustakaan tersebut dapat dipertanggung jawabkan. Perpustakaan komunitas biasanya berbeda dengan perpustakaan formal yang terdapat di perguruan tinggi ataupun sekolah-sekolah. Hal ini dapat dilihat dari tata ruangan, pengguna, hingga koleksi. Hal ini berkaitan erat dengan kegiatan pemasaran. Tata ruangan dalam perpustakaan komunitas lebih cenderung santai dan di design sendiri sesuai tema yang diusung, berbeda dengan perpustakaan formal yang lebih terlihat kaku. Pengguna perpustakaan komunitas pun beragam, tidak hanya dari kalangan mahasiswa saja, tetapi anak sekolah pun banyak yang menjadi anggota. Koleksi yang ada juga beragam, mulai dari buku-buku unik, buku-buku yang banyak digemari pengguna dan buku-buku yang langka. Namun, sebagus apapun pembangunan perpustakaan komunitas, jika tidak dapat membantu pengembangan pendidikan, hal tersebut bisa dikatakan sia-sia. Apalagi mengingat masyarakat Indonesia masih menggunakan budaya lisan dalam kehidupannya. Sebuah budaya yang masih dianggap negatif bagi sebagian orang.
 
?Orang Indonesia lebih senang ngobrol daripada membaca!? Begitu sering slogan seperti itu didengar seperti keluhan di masyarakat, mengomentari ketiadaan kebiasaan membaca. Jika sedang punya waktu senggang, orang Indonesia konon lebih suka bercakap-cakap. Jika ada televisi dan radio, orang Indonesia lebih suka menonton dan mendengar bersama sanak saudara atau rekan sepermainan, daripada mengambil buku dan membaca sendirian. Dalam banyak acara resmi, para pejabat atau pengamat sering sekali mengatakan bahwa ?masyarakat kita masih masyarakat lisan?, lalu mereka menjadikan kondisi itu sebagai lawan dari ?masyarakat membaca? (reading society). Seringkali pula dikatakan bahwa perbukuan dan aktivitas membaca selama ini terhalang oleh kesenangan orang Indonesia mengobrol dan menonton televisi. Namun, dalam konteks ini penulis melihat adanya sisi-sisi positif yang bisa dibangun dari praktek budaya lisan tersebut.
 
Kebiasaan memakai bahasa lisan atau kelisanan (orality) adalah istilah yang digunakan untuk komunikasi berbasis percakapan atau obrolan. Selama ini kita secara umum membenturkan kelisanan dengan keberaksaraan (literacy), sebuah istilah lain untuk menggambarkan pola komunikasi berbasis tulisan. Secara lebih ekstrim bahkan ada pandangan yang menganggap bahwa kebiasaan kita menggunakan cara-cara lisan mencerminkan masa lampau, sementara penggunaan aksara atau tulisan adalah tanda-tanda kemajuan. Masyarakat yang belum mengenal tulisan seringkali dinamakan masyarakat primitif, sementara masyarakat yang sudah mengenal tulisan disebut masyarakat moderen. Secara umum seringkali orang mengatakan bahwa masyarakat tradisional harus dimodernisasi dengan cara menggantikan tradisi lisannya menjadi budaya tulisan. Tradisi lisan juga sering disalahkan sebagai penyebab dari ketiadaan kebiasaan membaca di sebuah masyarakat.
 
Kelisanan juga sering dikaitkan dengan "masyarakat primitif?, dan diasosiasikan dengan masyarakat yang kecil, homogen, tidak mengandalkan tulisan melainkan mengandalkan hubungan personal dan tatap muka. Masyarakat seperti ini sering pula disebut masyarakat mistis yang kurang mengandalkan logika (pre-logical), karena anggota masyarakatnya diduga tidak mengandalkan cara berpikir abstrak, melainkan lebih sering bersikap irasional. Masyarakat ?moderen? adalah sebaliknya, sering dipuji sebagai masyarakat yang beradab berdasarkan indikasi ketersebaran penggunaan tulisan secara meluas di semua aspek kehidupannya, menggunakan berbagai teknologi teks, dan diasumsikan sebagai masyarakat yang bergerak maju dengan bantuan ilmu dan teknologi. Namun sebenarnya pandangan seperti iitu sudah dipatahkan oleh para peneliti antropologi modern yang menemukan bahwa apa yang disebut ?primitive societies? itu ternyata tidak primitif dalam cara berpikir mereka, cara berbicara atau dalam cara berkomunikasi pada umumnya. Mereka seringkali juga punya cara berpikir yang sama rumitnya dengan masyarakat modern, sebagai bukti bahwa mereka juga sangat mengandalkan pola pikir rasional. Apa yang disebut mistik dan perdukunan itu ternyata berlandaskan pola pikir yang mirip juga dengan pola pikir yang menghasilkan ilmu pengetahuan. Bahasa mereka juga sangat kompleks, mengalahkan kompleksitas "bahasa moderen".
 
Jika menggunakan bahasa lisan, setiap kata yang berkaitan dengan kata lainnya harus diucapkan berkali-kali supaya terus terlihat kaitannya. Sebab itu, jika kita bercerita dalam bahasa lisan, maka akan ada pengulangan-pengulangan bagian dari cerita itu, setiap kali ketika bagian itu harus dikaitkan dengan bagian lain. Sementara kalau menggunakan bahasa tulisan, sebuah cerita dapat dipecah-pecah dalam berbagai bagian, dan setiap bagian dapat disusun dalam urut-urutan yang logis. Pembaca selalu dapat kembali ke bagian tertentu, karena setiap bagian sudah terekam. Teknik menulis dan mencetak memungkinkan umat manusia menyampaikan cerita atau laporan secara panjang-lebar dan sistematis, misalnya dengan membagi cerita atau laporan itu dalam bab, pasal, ayat, dan seterusnya.
 
Bahasa lisan sangat bergantung kepada hubungan langsung antara pengucap dan pendengar, sebab itu bahasa lisan membentuk hubungan antar manusia yang dekat (secara fisik) dan cenderung berkaitan dengan hal-hal yang langsung ada di sekitar pengucap dan pendengar. Ini menimbulkan suasana komunikasi yang serba ?kini? dan ?di sini?. Sebaliknya, bahasa tulisan memungkinkan orang yang menulis dan yang membaca terpisah oleh jarak fisik. Dari kondisi ini, bahasa tulisan menciptakan kebiasaan berpikir yang ?jauh? dan ?ke depan?.
 
Dalam masyarakat yang mengandalkan tradisi lisan, sering terjadi ?permainan kata-kata? (wordplay) yang bersifat spontan, kebiasaan berbalas pantun, kontes menyanyi (atau menembang, mekidung, mebasan), ledek meledek, dan berbagai bentuk penggunaan kata-kata ?halus? untuk menunjukkan status. Dalam tradisi tulis-menulis, kebiasaan ini ?ditekan? karena bahasa tertulis dipaksa memenuhi standar-standar yang menghalangi spontanitas. Masyarakat moderen membatasi permainan kata-kata ini hanya untk kegiatan-kegiatan tertentu saja, misalnya untuk media massa. Dapat dikatakan, masyarakat yang mengandalkan bahasa tertulis, biasanya juga masyarakat yang menekan spontanitas.
 
Dalam masyarakat bertradisi lisan, pengalaman hidup dan pengetahuan bersifat lebih empatis dan partisipatoris, karena si pengucap dan si pendengar harus ?mengalami bersama? apa-apa yang dibicarakan. Dalam tradisi tulisan, pengambilan jarak dimungkinkan dan pengalaman hidup tidak harus dijalani bersama-sama. Dalam tradisi lisan, tidak ada kepengarangan, karena kata ?pengarang? hanya relevan jika apa yang dikarang dapat diklaim oleh seseorang. Dalam tradisi lisan, pengalaman dan pengetahuan adalah milik bersama. Di Bali, sampai dengan tahun 1970-an, para pelukis tidak mau menandatangani lukisan mereka. Para pematung dan penari enggan mengaku sebagai ?pencipta?. Tradisi lisan lebih berhasil merajut kedekatan komunitas.
 
Tradisi lisan memang berkaitan dengan kebudayaan yang konservatif, namun tidak berarti bahwa tidak ada perubahan di masyarakat itu. Kebudayaan lisan mengalami perubahan walau perlahan. Ciri khas dari sebuah masyarakat lisan adalah kemampuan mereka dalam menyesuaikan diri dengan keadaan sekitar sambil terus menjaga keseimbangan di masyarakatnya. Jika ada norma atau tradisi yang dianggap sudah tidak diperlukan, maka masyarakat lisan ?sengaja melupakan? norma atau nilai itu, sebab masyarakat memang tidak mengandalkan rekaman di luar kepala. Bandingkan dengan masyarakat beraksara yang tetap dapat ?menyimpan? norma dan nilai lama dalam bentuk tulisan. Walaupun norma dan nilai itu sudah dianggap usang, namun masyarakat tetap dapat membacanya kembali untuk keperluan analisis.
 
Masyarakat tulisan, dengan begitu, akan memiliki rekaman permanen dari tradisinya, sehingga sebenarnya masyarakat inilah yang seringkali sulit mengubah sebuah tradisi dengan begitu saja. Kebudayaan tulisan juga mendorong semangat untuk terus menerus memeriksa masa lampau untuk keperluan analisis. Dengan demikian, kebudayaan tulisan sekaligus mengembangkan kesadaran tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Akibatnya, jika bicara tentang perubahan tradisi, ketegangan di masyarakat berbasis tulisan cenderung tinggi.
 
Dari uraian di atas, dapat dilihat betapa kelisanan dan keberaksaraan sangat susah dipertahankan. Di masa kini, lebih sulit lagi menemukan kepastian yang permanen tentang masyarakat yang benar-benar lisan dan masyarakat yang benar-benar beraksara. Masyarakat-masyarakat yang sudah sampai pada tahap berteknologi tinggi (atau moderen) tetap memiliki berbagai ?kantong? atau sub-kultur yang mempertahankan pola pikir berbasis kelisanan. Media massa moderen, seperti televisi, toh akhirnya juga dipakai untuk perdebatan lisan antar kandidat presiden. Musik elektronik moderen sekarang kembali ke tradisi lisan dalam bentuk rap. Di jenis musik rap ini kita melihat kembali ketrampilan menggunakan kata-kata yang tajam, tersusun, berulang-ulang, dan juga puitis. Di mailing-list Internet, berkembang chatting dan flaming, menggunakan gaya lisan dan kata-kata spontan-kreatif seperti halnya di kalangan masyarakat lisan.
 
Sejak 45 tahun lalu, 8 September 1964, UNESCO menetapkan 8 September sebagai Hari Literasi Internasional (International Literacy Day). Penetapan tersebut dilakukan untuk mengingatkan dunia tentang pentingnya budaya literasi (baca-tulis). Namun, tak banyak masyarakat yang tahu peringatan itu, sebagaimana banyak yang tak mengerti bahwa Bulan Mei telah ditetapkan sebagai Bulan Buku Nasional oleh Presiden Soeharto pada 1995 dan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional. Jarang ada yang menyambut momen-momen tersebut. Peringatan itu tenggelam, kalah pamor oleh, misalnya, tontonan infotainment di televisi, bergosip dengan tetangga, dan lain-lain.
 
Budaya tulis itu bukan sekedar menulis, atau membaca dan menulis. Budaya tulis itu menciptakan kontinuitas antara tulisan dan kehidupan. Kalau tulisan bisa menjadi kehidupan, maka baru bisa disebut sebagai budaya tulisan. Misalnya, seperti tulisan tersebut menjadi sumber bacaan yang bisa dimanfaatkan oleh orang banyak, yakni majalah, surat kabar dan buku. Jumlah buku yang dihasilkan oleh penduduk sebuah bangsa setiap tahunnya dapat menjadi barometer tingkat kemajuan sebuah negara. Tingkat kesadaran sebuah penduduk dalam sebuah bangsa akan pentingnya membaca dan menulis merupakan faktor terpenting akan banyaknya penulis yang menghasilkan karya setiap tahunnya.
 
Sering bepergian ke sebuah daerah dan berpapasan dengan orang asing terutama dari Eropa dengan bawaan dalam tas mereka berisi banyak sastra atau novel tebal dan menjadi santapan wajib bagi mereka saat menunggu keberangkatan atau saat berada dalam perjalanan. Mereka tidak menghabiskan waktunya untuk tidur, mengobrol satu dengan yang lainnya melainkan dihabiskan dengan berinteraksi dengan buku sebagai bahan bacaan. Sungguh sebuah kebiasaan yang patut ditiru dan dijadikan sebagai acuan dalam hidup. Kemungkinan penerapan budaya baca sudah ditanamkan oleh orang tua mereka secara dini dan tentunya lingkungan merupakan faktor terpenting dalam membentuk karakter seseorang. Budaya tulis-menulis merupakan hal positif dibanding dengan budaya lisan yang cenderung tidak bermakna terutama dalam suasana santai. Memang budaya lisan merupakan hal penting dalam kehidupan ini, lewat budaya lisan kita dapat berinteraksi secara langsung dan bersifat dua arah dengan orang lain dan dapat dilakukan oleh setiap orang. Budaya lisan dimiliki oleh setiap orang dan telah berlangsung sejak kecil yang telah diberi kemampuan oleh Allah S.W.T untuk berkomunikasi secara lisan.
 
Bagaimana dengan budaya tulis-menulis?. Budaya tulis-menulis merupakan hal yang ekslusif karena tidak semua orang dapat melakukannya. Berbeda dengan budaya lisan, interaksi lewat bahasa tulis juga dapat bersifat dua arah namun juga dapat bersifat satu arah saja. Penulis yang ingin berinteraksi dengan pembaca dapat mencantumkan email melalui buku yang mereka tulis namun tidak bisa secara langsung dan spontan.  Tulis-menulis pasti akan diiringi oleh kebiasaan baca adalah sebuah rumus matematis yang selalu berbanding lurus. Dalam arti kata bahwa orang yang senang menulis pasti termasuk orang yang senang membaca.  Bukan hanya tulisan-tulisan ilmiah yang tentu saja membutuhkan banyak referensi untuk menghasilkan sebuah tulisan yang berbobot, terkadang buku atau tulisan non fiksi seperti sastra juga membutuhkan referensi tambahan terutama jika tulisan tersebut menyangkut sejarah. Kecintaan pada buku akan terlihat oleh seseorang yang terbiasa dengan budaya tulis-menulis namun kebiasaan ini dapat terwujud dengan perjuangan dan kerja keras.
 
Jika cerminan di atas telah melekat pada diri individu maka individu tersebut telah termasuk orang-orang dalam golongan masyarakat intelektual yang lebih mengedepankan budaya tulis daripada budaya lisan yang cenderung ngawur atau tidak tertata dalam bahasa yang terstruktur.
 
Haruslah disadari bahwa budaya surat-menyurat yang dulu dilakukan lewat kartu pos terutama menjelang hari raya idul fitri merupakan hal positif. Tapi karena kemajuan dunia teknologi informasi saat ini, budaya berkirim surat telah ditinggalkan dan kemudian beralih ke budaya berkirim pesan singkat melalui perangkat telepon genggam. Memang harus diakui bahwa Short Message Service (SMS) mengedepankan kepraktisan dan kecepatan pengiriman pesan sehingga tidak perlu menunggu beberapa hari atau mingguan agar pesan dapat diterima oleh orang yang ingin dikirimkan pesan tersebut. Namun harus diingat sangat jarang atau bahkan dapat dihitung jari orang yang mengirimkan pesan melalui SMS menggunakan bahasa baku yang sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Padahal penggunaan bahasa baku hanya dapat diterapkan jika dilatih setiap saat. Kehadiran media blog online sebenarnya dapat dijadikan sebagai ajang latihan untuk terus-menerus melatih penggunaan EYD untuk bertutur kata dalam bentuk bahasa tulisan.
 
Sebut saja budayawan Emha Ainun Nadjib, sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Seno Gumira Ajidarma adalah sederetan penulis terkenal dalam bidang keahlian masing-masing yang dikenal oleh orang melalui tulisan yang dihasilkan. Kelompok inilah yang dapat diklasifikan sebagai kelompok kecil atau masyarakat intelektual yang mengedapankan budaya tulis yang tidak mungkin dapat dilakukan oleh semua orang.
 
Tidak bisa dipungkiri, tradisi budaya lokal Indonesia adalah budaya lisan (orality), bukan budaya tulis. Hal ini bisa dilihat tanpa perlu dibuktikan secara empiris, lihat saja misalnya di banyak tempat pertemuan, di sekolah, di tempat ?tongkrongan? sekalipun orang-orang banyak menghabiskan waktu dengan mengobrol, bergosip, dan melakukan komunikasi lisan lainnya, bukan membaca. Seiring berkembangnya teknologi, sering ditemukan kasus, misalnya, orang yang dalam keadaan menunggu temannya, lebih banyak menghabiskan waktu dengan chatting lewat HP daripada browsing artikel di internet. Apalagi, alat jejaring sosial sudah semakin banyak, misalnya facebook, twitter, yahoo messengger, dan lain-lain. Hal itu membuat penyimpanan informasi, gagasan, dan pengetahuan hanya terjadi di dalam ?ingatan?. Isi ingatan itulah yang ditransmisikan ke pihak lain yang belum mendapatkannya. Terkadang, kisah-kisah hikmah atau sumber informasi hanya dipegang oleh seorang yang mempunyai posisi khusus dalam masyarakat kita, yang berfungsi sebagai sumber kebenaran.
 
Ignas Kleden dalam Buku dalam Indonesia Baru yang dieditori Alfons Taryadi menyebut budaya itu sebagai kelisanan primer (primary orality), di mana masyarakat kala itu belum mengenal baca-tulis. Namun, karena ingatan bersifat terbatas, tidak semua informasi yang dibutuhkan bisa ditransmisikan lisan secara sempurna. Budaya cetak baru memasuki Indonesia sekitar abad ke-20, saat tradisi lisan masyarakat kita masih berakar kuat. Jika dihitung usianya, kebiasaan baca-tulis yang antara lain, ditandai oleh masuknya budaya cetak masih sangat muda. Budaya cetak telah mendorong kemampuan masyarakat untuk bersinggungan lebih luas dengan apa yang ada di luar kediriannya dan kedirian kolektifnya. Tentu saja itu akan sangat membantu untuk mendapatkan informasi dari luar yang bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki tatanan kehidupan. Itu sekaligus membuktikan betapa baca-tulis merupakan kendaraan menuju perbaikan peradaban.
 
Sayangnya, meski sudah disadari sedemikian pentingnya budaya baca-tulis, toh tingkat kesadaran baca-tulis masyarakat kita masih rendah. Data BPS (2006) menunjukkan, orang Indonesia yang membaca untuk mendapatkan informasi baru 23,5 persen dari total penduduk. Sedangkan yang menonton televisi sebanyak 85,9 persen dan mendengarkan radio 40,3 persen. Data itu menunjukkan bahwa masyarakat kita lebih suka mendapatkan informasi dari media elektronik, terutama televisi. Kesimpulannya, masyarakat lebih suka mendapat informasi yang ?dibacakan?, sehingga penonton hanya berlaku sebagai ?pembaca pasif? yang dengan tenang mengunyah dengan renyah segala persepsi yang dikemukakan di televisi.
 
Fenomena itu disebut Ignas Kleden sebagai kelisanan sekunder (secondary orality). Budaya kelisanan sekunder tersebut menggambarkan bahwa kemampuan baca-tulis tidak terlalu dibutuhkan karena sumber informasi lebih bersifat audiovisual. Keadaan tersebut menegaskan bahwa budaya baca-tulis belum pernah benar-benar mendarah daging di Indonesia. Budaya lisan primer yang belum terkikis oleh hadirnya budaya baca-tulis kini telah tergantikan oleh gempuran budaya lisan baru lewat media elektronik, khususnya televisi. Budaya lisan baru itu mempunyai daya pikat lebih dan ?mudah? dilakukan, sehingga lebih disukai masyarakat Indonesia. Semua bahasa di dunia mempunyai empat aspek yaitu membaca, menyimak, berbicara dan menulis. Kemudian berdasarkan ekspresi, bahasa dapat diklasifikasikan kedalam dua bentuk yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan. Orang yang suka ngobrol dapat dikatakan sebagai orang yang berbudaya lisan dan yang senang menulis dan membaca maka mereka dapat dikataan sebagai orang yang senang dengan budaya tulisan. Budaya lisan adalah budaya orang kebanyakan dan ini adalah budaya berbahasa orang grassroot level/orang awam atau orang kebanyakan. Budaya ini kerap terjadi di warung kopi, di mall, sampai kepada ekspresi berbahasa yang dilakukan oleh kaum pria dan wanita yang asyik berbagi gossip.
 
Indonesia sebagai bangsa yang kaya ragam budaya dinilai masih belum mampu mempergunakan kekuatan budaya, terutama tradisi lisan, untuk dimanfaatkan sebagai pendukung dalam membangun negeri ini. Budaya lisan sangat bagus untuk selalu dikembangkan dan dipertahankan, apalagi jika mempunyai manfaat untuk saling berbagi. Dalam tradisi lisan yang dipertukarkan adalah informasi, tanpa disadari informasi yang terlontar dalam suasana santai mempunyai manfaat tertentu. Informasi adalah data yang memiliki nilai guna. Informasi menjadi bermakna (atau terstruktur) ketika ia dibutuhkan dalam komunikasi antara pencetus (manusia) dan pengguna (manusia).
Melihat fenomena tersebut, maka sebaiknya diadakan strategi pengelolaan budaya lisan agar dapat menambah pengetahuan melalui wahana perpustakaan komunitas. Kongkretnya bisa dengan mengadakan kegiatan diksusi santai dengan tema-tema ringan yang menarik yang bertujuan untuk mengembangkan budaya lisan ke arah yang lebih positif. Pengertian umum diskusi adalah membicarakan suatu masalah oleh para peserta diskusi dengan tujuan untuk menemukan pemecahan yang paling baik berdasarkan berbagai masukan.
 
Diskusi sebagai suatu bentuk pendidikan adalah suatu cara pembelajaran di mana peserta (anggota komunitas) mendiskusikan (membicarakan, mencari jawaban bersama) dengan cara saling memberikan pendapatnya, kemudian disaring untuk ditemukan kesimpulan. Diskusi merupakan proses komunikasi dua arah dua orang atau lebih guna mendapat pengetahuan baru. Pengetahuan seseorang yang didapatkannya di luar diskusi disampaikan kepada peserta diskusi lain sehingga peserta diskusi akan mendapatkan pengetahuan baru. Namun pengetahuan baru tersebut tidak dapat langsung dibenarkan. Ia harus diuji terlebih dahulu baik dari segi bentuk maupun dari segi isi. Sehingga pengetahuan yang disampaikan dapat dipastikan kebenarannya. Setiap manusia dianugrahi/diberi alat yang sama untuk befikir, sehingga untuk menguji kebenaran suatu yang sedang didiskusikan tentulah manusia bisa melakukannya dengan hal yang sama pula.
 
Kegiatan diskusi dalam perpustakaan komunitas, dirasakan sangat penting adanya, mengingat bahwa manfaat dari kegiatan diskusi tersebut untuk pendidikan jangka panjang. Peserta diskusi di perpustakaan komunitas adalah anggota perpustakaan itu sendiri, yang mempunyai minat yang tinggi terhadap pengembangan pendidikan di Indonesia. Kita bisa mengajak masyarakat sekitar perpustakaan untuk mengikuti kegiatan diskusi tersebut. Adapun pola dikusi yang dilaksanakan adalah brainstorming atau curah pendapat, yakni suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan, pendapat, informasi, pengetahuan, pengalaman, dari semua peserta. Berbeda dengan diskusi, dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung, dilengkapi, dikurangi, atau tidak disepakati)  oleh peserta lain, pada penggunaan metode curah pendapat pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. Tujuan curah pendapat adalah  untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat, informasi,  pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi, peta pengalaman, atau peta gagasan (mind map) untuk menjadi pembelajaran bersama.
 
Dari uraian diatas jelaslah, bahwa masyarakat Indonesia yang mempunyai budaya lisan yang masih dianggap negatif bagi sebagian orang, ternyata jika dikelola dengan baik budaya lisan tersebut menjadi sangat berguna bagi pengembangan pendidikan untuk jangka panjang, karena dalam pengelolaan budaya lisan yang melibatkan perpustakaan komunitas sebagai wahananya, kegiatan tersebut melibatkan masyarakat sekitar untuk ikut berkontribusi terhadap pengembangan pendidikan.
Daftar Pustaka

Direktorat Jendral Pendidikan Nonformal dan Informal. 2009. Maklum, Budaya Kita Masih Budaya Lisan. Http://pnfi.kemdiknas.go.id/news
 
Depdiknas. 2001. Percepatan Pendidikan di Irian Jaya. Irian Jaya: www.depdiknas.com (diakses pada tanggal 5 Agustus 2010)
 
Nurhadi, Muljani A. 1983. Sejarah Perpustakaan dan Perkembangannya Di Indonesia. Yogyakarta: Andi Offset
 
Pendit, Putu Laxman. 2009. Hentikan Propaganda Lisan Versus Tulisan. http://www.perpus.upstegal.ac.id
Perpustakaan IPB Bogor; 2000; Layanan perpustakaan Dalam Mendukung Mutu Pendidikan; Bogor.
 
Santoso, Budi. 2008. Taman Bacaan Adalah Ibarat Perpustakaan Dalam Pertumbuhan. Sumedang: www.kangbudhi?s.wordpress.com (diakses pada tanggal 5 Agustus 2010)
 
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar Ilmu Perpustakaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
 
Susiani, Maya. 2009. Menyemai Budaya Literasi. http://duniaperpustakaan.blogspot.com
 
Yusup, Pawit M. 1991. Mengenal Dunia Perpustakaan dan Informasi. Bandung: Binacipta.