Menilai Kondisi Bahan Pustaka Perpustakaan Melalui Pemetaan Konservasi

I. Pendahuluan

Indonesia adalah Negara yang dikenal dengan berbagai macam kebudayaan baik oral maupun tertulisnya. Indonesia memiliki sejarah yang panjang tentang kebudayaan yang dimilki sejak jaman kerajaan untuk memperluas wilayahnya hingga perjuang melawan penjajahan. Bukti perjalanan panjang tersebut sampai saat ini masih banyak ditemukan dan tertulis pada manuskrip maupun cetakan yang tersimpan di lembaga-lembaga ilmu pengetahuan maupun pribadi yang bertugas melestarikan hasil karya dan budaya tentang Indonesia. Perpustakaan, Museum dan Lembaga arsip merupakan lembaga yang memiliki tugas dan wewenang untuk mengumpulkan, menyimpan dan melestarikan koleksi-koleksi tersebut. Melestarikan bahan sejarah tergantung pada beberapa faktor yang saling terkait meliputi: lingkungan yang stabil, penanganan yang aman, penyimpanan, pameran dan menstabilkan koleksi secara fisik agar dapat digunakan. Konservasi terlibat secara khusus untuk melakukan perawatan secara komprehensif. Kemudian sebelum koleksi yang dipilih untuk dilakukan perawatan di laboratorium, maka diperlukan beberapa identifikasi variabel kondisi. Sebuah survei kondisi koleksi menyediakan rencana kegiatan masa depan, pengujian dan perawatan koleksi pada laboratorium. Kondisi prioritas terhadap koleksi yang membutuhkan konservasi secara logis ditetapkan oleh konservator dan berhubungan langsung dengan informasi pemeriksaan yang telah didapat.

Program survei kondisi koleksi merupakan faktor penting dalam strategi pelestarian dan restorasi ruang koleksi. Informasi yang diterima dari hasil survei kondisi adalah memberi gambaran secara global tentang kondisi saat ini dan penanganannya sebagai langkah penting menuju konservasi yang diperlukan di laboratorium kedepan.

Koleksi yang disurvei meliputi semua jenis koleksi yang terdapat pada perpustakaan dan didasarkan dari material fisik pembuat koleksi tersebut, meliputi : pertama, koleksi kertas dengan tulisan yang terdiri dari monograf, surat kabar, manuskrip, majalah dan grey literature, kedua, media non kertas yang terdiri dari microfilm, microfis, kaset beta, kaset, DVD, CD, dan LD,  ketiga, kondisi ruang koleksi yang terdiri dari pencahayaan, suhu dan kelembapan.

– Kerusakan pada Kertas

Terdapat beberapa factor yang menyebabkan kerusakaan pada koleksi perpustakaan yang terdiri dari dua factor yaitu factor internal dan eksternal. Pengertian factor internal adalah jenis kerusakan yang disebabkan oleh  komposisi yang terkandung di dalam dokumennya dan hal ini lebih disebabkan oleh kepentian produsen pembuat media tersebut sebagai contoh pada komposisi surat kabar kertas yang dihasilkan kebanyakan mempunyai kandungan lignin yang tinggi dibanding kertas untuk buku atau monograf. Dikarenakan jumlah komposisi formula penyusun utama pulp kertas dan bahan aditif berbeda-beda, maka karakter kimia dan fisik yang dimiliki produk jadinya juga berbeda. Factor eksternal adalah kondisi lingkungan dimana koleksi disimpan. Ada beberapa factor yang mempengaruhi factor ini seperti kelembapan, suhu, cahaya, polusi, penanganan atau stressing, pemanfaatannya, konservasi dan lain-lain.

Kertas terbuat dari sebagian besar kandungan selulosa dengan rantai molekul glukosa yang berulang dihasilkan dari dinding sel tanaman. Salah satu ukuran kekuatan kertas yaitu dengan melihat seberapa panjang rantai selulosa yang membentuk serat kertas. Serat yang lebih panjang akan lebih kuat, fleksibel dan tahan lama dibandingkan dengan serat yang lebih pendek. Sebelum pertengahan abad ke-19, kertas Eropa terbuat dari katun dan kain linen dan dengan proses pengawetan sehingga menghasilkan serat yang lebih panjang dan tahan lama. Kertas kain cenderung stabil terutama jika disimpan dengan benar dalam kondisi tidak terlalu hangat dan tidak lembab. Kemudian pada pertengahan abad ke-19, kain diganti dengan kayu sebagai bahan baku untuk pembuatan kertas. Kayu diolah menjadi kertas dengan pulp mekanis atau kimia, yang memproduksi kertas dengan serat lebih pendek. Pulp mekanis menghasilkan kertas dengan panjang serat terpendek dan tidak menghilangkan lignin dari kayu, sehingga dapat mempromosikan hidrolisis asam. Sebagai contoh adalah kertas koran yang merupakan kertas hasil mechnical pulp. Pulp kimia dapat menghilangkan lignin dan tidak memotong rantai selulosa dibandingkan  pulp mekanik, sehingga menghasilkan kertas relatif lebih kuat.

Perkembangan selanjutnya sebelum tahun 1980-an ketas yang ditemukan pada tahun tersebut ditemukan cenderung menjadi asam dikarenakan adanya penambahan alum – rosin sizing yang berfungsi  untuk mengurangi daya serap dan meminimalkan penyebaran tinta ketika ditulis. Ketika alum – rosin bertemu dengan kelembaban maka akan menghasilkan asam sulfat. Kandungan air yang ada juga dapat mempengaruhi tingkat hidrolisis asam dan kerusakan pada kertas. Pada awal tahun 1980-an pabrik kertas mulai menambahkan buffer basa ke kertas pulp kayu yang ditujukan untuk pemakaian lebih lama. Buffer alkaline dapat memperlambat atau mencegah hidrolisis dengan menetralkan asam yang ada pada rantai selulosa.

Melihat perkembangan jaman saat ini sagat tidak mungkin menghindari terjadinya keasaman pada kertas. Tingkat keasaman atau pH dapat dipercepat dengan hadirnya lingkungan yang buruk seperti pulusi dan kualitas udara yang rendah. Ketika rantai serat selulosa panjang sudah terputus maka akan terjadi pemutusan berkelanjutan yang menyebabkan rantai semakin pendek dan reaksi hidrolisis ini akan memprosuksi asam semakin banyak, lebih lanjut dan terus terdegradasi. Polusi menghasilkan sulfur oksida dan nitrogen oksida  yang akan diserap oleh kertas sehingga membuat warna menjadi coklat dan rapuh. Gejala ini dapat diperhatikan bahwa dalam satu eksemplar buku, maka bagian pinggir selalu akan lebih kecoklatan dan rapuh dibandingkan bagian tengahnya dikarenakan tingkat adsobsinya yang tinggi pada bagian pinggir.

– Kerusakan akibar factor biologi

Factor biologi juga dapat menyebabkan kerusakan pada kertas. Lingkungan yang terpapar langsung dengan kelembapan dan kondensasi tinggi selalu akan ditemui pertumbuhan biologis  seperti jamur dan fungi, serangga buku dan tikus. Agen biologi menyerang kertas dan bahan organik lainnya ketika suhu dan kelembaban yang tidak terkendali. Spora jamur akan tertidur di udara sampai mereka menemukan kondisi yang cocok untuk pertumbuhan mereka. Ketika jamur atau fungi menggunakan kertas sebagai materi organiknya maka pertumbuhan akan semakin cepat ditandai dengan perubahan warna dengan bintik-bintik pada kertas hingga hifa yang terlihat pada permukaan kertas. Serangan jamur yang besar akan membuat kertas menjadi kehijauan, coklat hingga kehitaman. Satu hal yang menarik ketika jamur sudah tumbuh menyebar pada kertas biasanya akan ditemui pula serangga kutu buku yang menggantungkan hidupnya dari jamur tersebut.

Tikus dan serangga merupakan musuh yang paling buruk pada kertas dan material organic lainnya penyususun buku seperti gelatin, tinta, kanji, kulit, gum dan kain. Ada beberapa serangga yang biasa menyerang kertas seperti silverfish, kutu buku, rayap, ulat buku dan kecoa. Bahan dan bekas yang diserang oleh tikus dan serangga-serangga buku juga memiliki bentuk yang berbeda beda. Prinsip dasar dari daur hidup factor biologi tersebut bahwa terjadinya kehidupan organism ketika terdapat makanan yang tersedia dalam bentuk unsure organik dan tempat tinggal atau lingkungan yang sesuai untuk pertumbuhan, baik cahaya, suhu dan cahaya.

– Cahaya

Terlepas dari penyebab diatas  cahaya dianggap sebagai penyebab kerusakan yang bersifat secara langsung merata dan kumulatif, sebagai contoh ketika koleksi rusak oleh 200 lux cahaya selama 50 jam sama halnya dengan paparan cahaya 250 lux selama 40  jam. Kerusakan yang terjadi oleh cahaya berupa kerusakan pada kertas dan pigmen, zat warna, termasuk tinta. Pigmen dan zat warna akan memudar bila terkena cahaya dan ini sangat nyata terlihat dengan gradasi dan pelebaran warnanya. Sayangnya, warna memudar selektif , beberapa menghilang sementara lainnya tetap tidak berubah. Sinar ultraviolet di bawah sinar matahari dan lampu neon dapat menyebabkan oksidasi selulosa.

– Kelembaban dan Suhu

Suhu dan kelembaban relatif mempunyai hubungan yang saling bergantung dan terbalik. Hampir seluruh bahan yang ada pada koleksi mempunyai sifat higroskopis atau dapat dengan mudah menyerap dan mengeluarkan kelembapan. Kertas, perkamen, papirus, kulit dan perekat yang digunakan dalam penjilidan buku berasal dari bahan organik dan memilki serat sehingga membuat rongga mikro untuk memasukkan dan menyimpan molekul air. Perubahan kelembaban dan suhu yang sangat cepat dan fluktuatif dapat membuat perubahan karakter bahan koleksinya seperti fleksibelitas, kekuatan tarik, ukuran pori dan kerapuhan. Bahaya terbesar yang dapat timbul dari kelembaban relatif terlalu tinggi adalah kecenderungan tumbuhnya jamur dikarenakan bahan organic yang ada pada koleksi sebagai nutrientnya. Kerapuhan tidak hanya disebabkan oleh kandungan air di dalam koleksi yang minim tetapi juga dapat terjadi pada koleksi yang sangat lembab. Kelembaban yang tinggi menyebabkan terjadinya hidrolisis asam yang cepat dan memutus rantai karbon pada bahan organik.  Beberapa bukti menunjukkan perubahan reguler suhu dan kelembaban relatif  dapat menyebabkan melemahnya kertas dan bahan lainnya.

Pemanfaatan koleksi ke tangan pemustaka atau pengguna juga menjadi penyebab ekternal kerusakan yang terjadi pada koleksi. Semakin banyak pemakai yang memanfaatkan koleksi maka dapat dipastikan bahwa koleksi akan semakin rusak. Oleh karena itu diperlukan perawatan dan perbaikan koleksi tersebut agar dapat bertahan lama sebagai warisan budaya dan pemikiran. Kegiatan preservasi baik untuk koleksi dan ruang koleksi akan tergambar sebagai suatu perencanaan masa depan melalui informasi yang diberikan dari survey kondisi koleksi dan lingkungannya.

II. Metodelogi

Survei dilakukan dengan enam fase : Tahap pertama, dokumentasi dan pengumpulan data seluruh unit koleksi beserta ruangannya, tahap kedua, penentuan koleksi yang akan dilakukan survey per eksemplarnya dengan metode random sampling. Tahap ketiga, training terhadap surveyor yang melibatkan konservator dan pustakawan, tahap keempat, pelaksanaan survey. Tahap kelima, pengumpulan data dan entry informasi ke dalam database komputer. Tahap terakhir adalah olah data dan penilaian terhadap hasil survei.

II. 1. Tahap Pertama (Dokumentasi Koleksi)

Dokumentasi tentang jenis-jenis kolekai yang terselving pada runga koleksi dilakukan bertujuan untuk mengetahui populasi dan mengungkap kejadian apa yang menjadi variable terjadinya kerusakan pada koleksi seperti yang telah disebutkan diatas. Diperlukan pula interview terhadap staff penjaga koleksi guna mengumpulkan informasi yang bersifat anomaly atau kejadian non-regular. Melihat secara langsung jenis koleksi dan lingkungan penyimpanan koleksi juga dibutuhkan untuk mempersiapkan bahan-bahan yang diperlukan untuk surveyor.

II. 2. Tahap Kedua (Penentuan Jumlah Koleksi)

Penentuan jumlah koleksi yang akan diambil sebagai sample merupakan hasil dokumentasi dan pengumpulan data jumlah total koleksi yang ada, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan tentang persentase sampling yang akan ditentukan seperti :

1. Melihat kemiripan koleksi pada setiap rak penyimpanannya, apabila dalam satu rak memiliki kemiripan yang sama maka hanya diperlukan sedikit saja samplingnya.

2. Sample diambil secara acak dan proporsional pada setiap koleksi dan setiap ruang koleksi

3. Teliti apakah penempatan koleksi berdasarkan tahun, subjek atau jenis koleksi kemudian hitung jumlah selving, ambil sampel dengan nomer urut terpilih dan lakukan kelipatan pada satu spot saja kemudian kalkulasikan untuk populasi yang sama.

II. 3. Tahap Ketiga (Pelatihan)

Training dilakukan bertujuan -menyamakan persepsi tentang bagaimana mengisi form survey agar cara dan penilaian objek survey sama. Adab dalam melakukan survey sangat penting dengan maksud agar koleksi tidak mengalami kerusakan yang semakin parah. Berikut penjelasan istilah dan deskripsi yang terdapat pada setiap kolom form survey :

a. nomor panggil

identitas yang terdapat koleski berupa nomer registrasi, nomer ini tidak memilki identitas yang sama.

b. judul singkat

judul yang dituliskan hanya singkat saja, sehingga kombinasi judul dengan nomer panggil menghasilkan identitas yang tidak sama pada setiap koleksi

c. tahun terbit

dengan melihat sampul atau membuka halaman pertama maka akan diketahui tahun pembuatan atau produksi koleksi bukan tahun terbitnya. Apabila tidak diketahui tahunnya maka tetap dilakukan survey tanpa tahun.

d. posisi rak

terdapat dua jenis penentuan posisi rak yaitu pada posisi pinggir (dekat jendela) dan di bagian tengah dalam suatu ruangan.

e. posisi buku di rak

objek koleksi yang disurvei terdiri dari tiga posisi yaitu di bawah, di tengah dan di atas dengan rak yang sama dimaksudkan untuk meratakan penyebaran.

f. sampul rusak

koleksi perpustakaan sebagian besar selalu mempunyai cover yang terjilid dengan kateren. Apabila koleksi berada pada lembaran lepas maka portapel atau kotak pelindungnya yang di survey.

g. noda kertas
terdapat lima jenis noda yang timbul selama koleksi tersebut disimpan, yaitu :

1. korosi tinta, terjadi karena logam yang terkandung pada pewarna atau tinta mengalami oksidasi, sehingga menyebabkan degradasi pada kertas.

 

2. bintik coklat (foxing), spot yang terlihat kemerahan, coklat hingga hitam pada kertas yang terpisah satu sama lain seperti kismis yang muncul dipermukaan roti. Terdapat dua penyebab bintik ini yaitu jamur dan besi yang teroksidasi, tidak menyatu dengan tulisan tetapi pada kertas.

3. noda coklat (tanned), noda yang timbul pada bagian pinggir dari sebuah kumpulan kertas, sedangkan pada bagian tengahnya terkadang masih terlihat putih. Perubahan warna ini terjadi secara merata halus dan tidak berbintik. Terjadinya tanned disebabkan oleh proses reaksi fotokimia atau oksidasi kertas terluar yang bersentuhan langsung dengan lingkungan.

4. jamur, ciri kertas berjamur diawali dengan noda kecoklatan hingga hitam yang menyebar pada kertas dan biasanya kertas akan bergelombang. Jamur biasa ditemukan pada bagian awal atau halaman depan dari suatu buku. Ada beberapa serangan jamur yang hanya terjadi pada bagian tertentu saja dengan kelembaban yang tinggi.

5. pulau, noda ini disebabkan kelembapan ruang koleksi yang tinggi sehingga menyebabkan garis dengan warna yang lebih kontras dibandingkan warna disekitarnya.

h. kertas rusak, kerusakan kertas yang ada pada kreteria ini disebabkan oleh factor luar yang berupa kertas sobek, terdapat bagian yang hilang, coretan dan solatape.

i. serangga, terdapat dua kreteria yang terjadi yaitu kerusakan dengan lubang yang besar dan lubang yang kecil. Dengan melihat karakter lubang yang terjadi maka akan diketahui pula jenis serangga perpustakaan yang ada.

j. kerapuhan, cara menganalisanya dilakukan dengan menekuk sebagian kecil pinggir pada area kertas yang tidak mengandung nilai informasi, ketika satu kali tekukan maka kertas telah patah maka ceklistlah pada kolom 1x, begitu pula dengan 2x dan 3x.

k. keasaman, test dilakukan dengan membuat titik atau garis pada kertas menggunakan pH tester pen. Ketika warna setelah penorehan biru maka kertas alkali sedangan jika berwarna kuning maka kertas asam.

Setiap kolom penilaian memiliki arti masing-masing dan berhubungan satu sama lain sehingga tidak memungkinkan terjadi perbedaan besar, sebagi contok ketika koleksi dengan noda kertas coklat tinggi maka tingkat keasamannya pasti tinggi. Adapun form survey penilaian ini dapat dimodifikasi berdasarkan tujuan atau hipotesis penelitian yang diinginkan. Sangat perlu juga dilakukan pengukuran kelembapan dan suhu yang terjadi selama koleksi berada pada rungannya yaitu dengan menaruh data logger yang tersetting tiap waktu tertentu selama proses pekerjaan survey dilakukan. Setelah dirangkum maka dibuat form pengisian survey kondisi untuk jenis koleksi monograf kertas, sebagai berikut :

II. 4. Tahap keempat (Pelaksanaan Survey)
Pelaksanaan survey dilakukan oleh surveyor dengan jumlah koleksi yang telah ditentukan dan tidak boleh melebihi atau mengurangi jumlahnya. Adapun caranya dengan membagi atau partisi tiap ruang koleksi yang memiliki jumlah rak dan ambal tertentu sehingga melalui perhitungan :

dapat diperoleh dalam satu ambal seorang surveyor harus mengambil berapa koleksi atau buku. Melalui perhitungan ini maka semua koleksi dapat tersurvei dari ujung rak hingga keujung rak yang lain. Perhatikan pula untuk selalu menandai buku yang disurvei agar ketika mengembalikan koleksi ke tempatnya maka tidak akan merubah shelvingnya.

II. 5. Tahap kelima (Pengumpulan Form Survey)
Pengumpulan lembar survey dan entry data ke dalam program database. Format database dibuat dengan MS Excel memiliki variable tetap berupa tahun terbit dengan variable kerusakan dengan sub kolom kerusakan yang nilainya berbeda-beda. Cara memasukkan nilainya dengan melihat tahun terbitnya dahulu kemudian pada raw pertahun dimasukkan jumlah total koleksi yang tersurvei kemudian hitung total jumlah posisi dan kerusakan yang tercentang. Hasilnya dimasukkan kedalam kolom yang sama pada databasenya. Ketika satu lembar form survey telah selesai maka pengisian selanjutnya pada form kedua dengan cara yang sama dan nilai pada tiap kolom akan berubah dan bertambah sesuai penambahan pada form kedua. Pengisian selanjutnya dilakukan pada form-form berikutnya. Berikut gambaran database tabulasi survey koleksi :

II. 6. Tahap keenam (Olah Data)
Tahap terakhir dari survey kerusakan koleksi perpustakaan ini adalah pengolahan data, analisa dan pembahasan terhadap hasil tabulasi. Data yang telah dimasukkan pada tahap sebelumnya kemudian dijumlah menurun untuk setiap kolom posisi dan kolom kerusakan. Secara terpisah kedua kolom tersebut dibuat grafik batang. Sebagai contoh pembahasan ditampilkan hasil survey tahun 2013, koleksi layanan buku langka, lantai 5 C, Perpustakaan Nasional RI.
a. data jumlah koleksi dengan posisi koleksi (shelving)

 

Dari total 29.727 eksemplar buku langka yang disurvei maka 77.8 % berada pada penempatan buku di rak bagian tengah sedangkan 22.2 % berada di dekat jendela. Untuk penempatan posisi buku di rak maka 35.4 % berada pada bagian atas, 34.6 % pada bagian tengah dan  33 % pada bagian bawah shelving. Dengan melihat posisi buku dari persentasenya mennadakan bahwa para pustakawan menempatkan buku pada posisi yang benar dengan tidak menaruh dekat jendela karena paparan matahari langsung terhadap koleksi kertas dapat menyebabkan reaksi photokimia dan oksidasi selulosa pada kertas dan tinta yang akhirnya menyebabkan perubahan warna dan meninkatkan kerapuhan. Kemudian untuk posisi buku di rak terlihat bahwa persentase buku di rak bawah lebih sedikit menandakan terdapat sedikit kekosongan penempatan buku di rak bagian bawah, hal ini dikarenakan penyusunan koleksi biasanya dimulai dari bagian atas menuju tengah dan terakhir bawah sehingga buku di rak bagian bawah akan kosong apabila bagian atas dan tengahnya belum terisi. Kerusakan buku akibat penempatan posisi di rak sangat bergantung pada suhu, cahaya dan kelelmbapan yang ada diruangan.

b. data jumlah koleksi dengan kerusakan

Dengan melihat table dan grafik bar, kerusakan utuh pada koleksi monograf terbagi menjadi :

1. kerusakan sampul atau cover monograf

Pada koleksi monograf diatas kerusakan pada jilidan lebih tinggi dibandingkan covernya. Jilidan yang rusak berupa jahitan putus sehingga kateren tidak lagi menjadi satu dengan kateren yang lain atau lem yang mengalami pengeringan sehingga lapuk. Rusaknya jilidan dan cover yang besar menandakan intensitas pemakaian koleksi tersebut oleh pemustaka sehingga sering teradi buka-tutup cover yang melemahkan system jilidannya atau dapat juga ketatnya susunan buku sehingga menyebabkan stressing ketika diletakkan di raknya.

2. kerusakan kertas dan tulisan secara fisik (eksternal)

Pada kolom kertas rusak terdapat 4 jenis kerusakan yang terjadi karena prilaku vandalisme baik pemustaka maupun pustakawannya. Pemustaka biasa melakukan coretan pada halaman tertentu sebagai tanda penting (points) dan halaman tersebut sangat penting mereka akan mengambil dengan menyobek kertasnya. Prilaku pustakawan yang tidak paham tentang menjaga kertas yang sobek juga terjadi dari grafik diatas dengan melakukan penyambungan menggunakan solatape plastic dimana lem yang digunakan bersifat asam. Kerusakan terbesar pada kertas terbesar terjadi dengan adanya coretan baik tinta pulpen maupun grafit pensil dan hal ini paling sering ditemui untuk setiap koleksi perpustakaan.

Factor kerusakan eksternal juga terjadi oleh serangan serangga dengan melihat lubangnya, terlihat bahwa terdapat intensitas yang tinggi pada lubang kecil dibandingkan lubang besar, yang diartikan terdapatnya serangan ulat buku, beetle  dan silverfish pada koleksi monograf. Oleh karena itu diperlukan tindakan represif terhadap serangan serangga tersebut.

3. kerusakan kertas dan tulisan secara kimia (internal)

Jenis kerusakan ini sangat bervariasi dan kumulatif artinya seiring berjalannya waktu akan menuju kerusakan yang parah dan tidak dapat diperbaiki. Tanda kerusakan buku pada noda satu persatu akan menimbulkan keasaman pada kertas hingga akhirnya terjadi kerapuhan. Bintik coklat atau foxing menduduki peringkat pertama diikutu dengan adanya jamur, seperti teori yang telah dijelaskan diatas bahwa penyebab adalah kondisi kelembapan dan suhu penyimpanan yang kurang baik untuk koleksi. Parameter tersebut akan diketahui dengan melihat hasil data logger sebagai berikut

Dari grafik suhu dan kelembapan yang diukur selama 1 bulan terlihat terjadinya tingkat fluktuasi yang sangat tinggi dan mirip dengan perbedaan suhu (?T) 5 0C dan perbedaan kelembapan (?RH) 26 %. Dari perbedaan yang besar dari parameter tersebut sehingga sangat memungkinkan ketika kerusakan noda terjadi pada koleksi. Akumulasi seluruh item kerusakan pada kertas selalu mempunyai hubungan yang equivalen dengan tingkat keasaman, hal ini dapat dibuktikan dengan menguji statistic chi square satu kolom dengan kolom yang lain.

Setiap kolom yang satu dengan kolom yang lain pada form tersebut selalu saling berkaitan, melengkapi dan saling menguatkan sebagi contoh ketika koleksi ditempatkan pada posisi rak dekat dengan jendela maka paparan cahaya matahari akan mengenai langsung koleksi sehingga nilai koleksi dengan noda coklat di tepi pasti akan tinggi, kemudian ketika tingkat keasamannya tinggi maka pasti tingkat kerapuhan dan korosi tinta juga pasti tinggi, jumlah jamur yang ada pada koleksi juga pasti meningkat ketika kelembapan dan suhu semakin fluktuatif dan lain-lain.

Adapun cara mengkatagorikan kedalam 4 besar kerusakan dapat dilakukan penilaian dari setiap raw atau pernomer panggil koleksi dengan rincian sebagai berikut :

Pada katagori koleksi baik hanya diperlukan tindakan preventif dan perawatan kondisi koleksi dan ruangnnya, sedangkan pada katagori sedang dan buruk diperlukan tindakan konservasi untuk mencegah terjadinya katagori sangat buruk. Suatu koleksi dengan katagori koleksi sangat buruk pada dasarnya merupakan kejadian yang dikatakan terlanjur rusak atau diperlukan tindakan konservasi atau alih media secara intensif. Dengan memberi penilaian dari setian koleksi per nomer panggil dan menghitung dari seluruh jumlah koleksi yang di sampling maka akan diperoleh jumlah persentase  koleksi dengan katagori tertentu.

III. Kesimpulan

Survey kerusakan bahan pustaka perpustakaan merupakan tolak ukur yang dapat digunakan untuk melihat semua kondisi yang terjadi pada manajemen pengelolaan dan penyimpanan bahan pustaka pada waktu tertentu. Hasil mapping atau survey ini dapat dijadikan pula rencana manajemen perpustakaan yang menyangkut tindakan preventif dengan mengkondisikan koleksi pada standar lingkungan yang baik dan tindakan represif melalui kegiatan konservasi dan alih media digital bahan pustaka.

Daftar Pustaka

– Cochran, William Gemmel, 1909, Sampling Techniques, John Willey and Sons, US.

– Muramoto, Satoko, 2008, Condition Survey on Japanese Book, National Diet Library, Japan.

– Jakie, Rachel, Alison, dkk., 2013, Survey of Special Collections and Archives in the United Kingdom and Ireland, OCLC Research, United Kingdom.

– Panitch, J. M., 2001, Special Collections In ARL Libraries, ARL Research Collections Committee, The University of North Carolina, United States.

 

 

 

 

 

Denga melihat table dan grafik bar, kerusakan utuh pada koleksi monograf terbagi menjadi :

1.    kerusakan sampul atau cover monograf

Pada koleksi monograf diatas kerusakan pada jilidan lebih tinggi dibandingkan covernya. Jilidan yang rusak berupa jahitan putus sehingga kateren tidak lagi menjadi satu dengan kateren yang lain atau lem yang mengalami pengeringan sehingga lapuk. Rusaknya jilidan dan cover yang besar menandakan intensitas pemakaian koleksi tersebut oleh pemustaka sehingga sering teradi buka-tutup cover yang melemahkan system jilidannya atau dapat juga ketatnya susunan buku sehingga menyebabkan stressing ketika diletakkan di raknya.

 

2.    kerusakan kertas dan tulisan secara fisik (eksternal)

Pada kolom kertas rusak terdapat 4 jenis kerusakan yang terjadi karena prilaku vandalisme baik pemustaka maupun pustakawannya. Pemustaka biasa melakukan coretan pada halaman tertentu sebagai tanda penting (points) dan halaman tersebut sangat penting mereka akan mengambil dengan menyobek kertasnya. Prilaku pustakawan yang tidak paham tentang menjaga kertas yang sobek juga terjadi dari grafik diatas dengan melakukan penyambungan menggunakan solatape plastic dimana lem yang digunakan bersifat asam. Kerusakan terbesar pada kertas terbesar terjadi dengan adanya coretan baik tinta pulpen maupun grafit pensil dan hal ini paling sering ditemui untuk setiap koleksi perpustakaan.

Factor kerusakan eksternal juga terjadi oleh serangan serangga dengan melihat lubangnya, terlihat bahwa terdapat intensitas yang tinggi pada lubang kecil dibandingkan lubang besar, yang diartikan terdapatnya serangan ulat buku, beetle  dan silverfish pada koleksi monograf. Oleh karena itu diperlukan tindakan represif terhadap serangan serangga tersebut.

 

3.    kerusakan kertas dan tulisan secara kimia (internal)

Jenis kerusakan ini sangat bervariasi dan kumulatif artinya seiring berjalannya waktu akan menuju kerusakan yang parah dan tidak dapat diperbaiki. Tanda kerusakan buku pada noda satu persatu akan menimbulkan keasaman pada kertas hingga akhirnya terjadi kerapuhan. Bintik coklat atau foxing menduduki peringkat pertama diikutu dengan adanya jamur, seperti teori yang telah dijelaskan diatas bahwa penyebab adalah kondisi kelembapan dan suhu penyimpanan yang kurang baik untuk koleksi. Parameter tersebut akan diketahui dengan melihat hasil data logger sebagai berikut