Menumbuhkan Motivasi Menulis Bagi Pustakawan

Pendahulauan
Tulisan terdiri dari beberapa macam jenisnya, antara lain: karya tulis ilmiah, karya ilmiah, dan karya tulis populer. Terlepas dari jenis tulisan tersebut, sebenarnya ada hal terpenting yang perlu dicermati oleh pustakawan, yaitu langkah awal dalam menumbuhkan motivasi menulis. Bagi pustakawan yang baru memulai menulis, maka tidak perlu harus menulis karya tulis ilmiah. Namun bisa dimulai dari yang tingkatannya lebih mudah yaitu karya tulis populer. Selanjutnya mengenai topik dan ulasannya bisa dari kegiatan yang rutin kita lakukan sehari-hari di perpustakaan. Misalnya: pengolahan koleksi, perawatan koleksi, maupun pelayanan perpustakaan.

Tulisan sederhana dari topik mengenai pengolahan koleksi bisa difokuskan lagi, misalnya: pengolahan koleksi buku. Ide tulisan bisa diawali dengan proses inventaris buku, kolom apa saja yang perlu ditulis, kegunaannya apa saja, mengapa perlu cap instansi, dan seterusnya. Selanjutnya proses klasifikasi, katalogisasi dan seterusnya bisa langsung ditulis sesuai dengan apa yang biasa kita kerjakan sehari-hari. Bedanya disini adalah kita mencoba untuk mengemukakan dalam bentuk konsep naskah/tulisan. Berawal dari sini, maka semua ketakutan pustakawan mengenai bagaimana untuk memulai menulis sebenarnya bisa diminimalisir.

Kegiatan menulis menjadi hal penting yang harus menjadi perhatian pustakawan, karena dengan menulis dapat mengasah kecerdasan otak kita untuk senantiasa menuangkan ide/gagasan. Selain itu, dengan aktivitas menulis juga akan kelihatan bagaimana kualitas seorang pustakawan tersebut. Justru dengan menulis seorang pustakawan menjadi tertantang untuk mengembangkan diri dan tidak akan lagi minder dengan profesinya. Dimuatnya tulisan-tulisan pustakawan di publikasi berkala khusus perpusdokinfo maupun media surat kabar harian, maka akan mempengaruhi citra (image) positif dari profesi pustakawan. Hal ini juga akan mempengaruhi cara pandang dari masyarakat maupun profesi lainnya terhadap profesi kita.

Jenis Karya Tulis
Salah satu ciri publikasi ilmiah di bidang perpusdokinfo adalah bahwa publikasi tersebut memuat artikel yang ditulis oleh para pustakawan yang ahli/pakar serta berpengalaman di bidang perpusdokinfo. Adapun jenis karya tulis tersebut dibedakan menjadi 3 (tiga), yaitu:

1. Karya tulis ilmiah
Tulisan yang disusun oleh seorang pustakawan atau sekelompok pustakawan yang melakukan penelitian/kajian dan menyajikan hasil penelitian.  Biasanya ditulis dengan format standar yang meliputi abstrak, pendahuluan, bahan dan metode, hasil dan pembahasan, kesimpulan, serta daftar pustaka. Contoh: laporan penelitian, tugas akhir, skripsi, tesis, disertasi, makalah hasil penelitian, kajian hasil penelitian, hasil pengkajian survei, maupun evaluasi di bidang perpusdokinfo.

2. Karya ilmiah
Tulisan atau artikel yang ditulis oleh seorang pustakawan atau lebih yang bukan berasal dari hasil penelitian atau kajian tetapi berasal dari gagasan atau tinjauan literatur yang bersifat ilmiah dan ditulis berdasarkan kaidah ilmiah. Biasanya format tulisan tidak perlu mengikuti standar karya tulis ilmiah. Contoh: proposal kegiatan, makalah seminar, materi/bahan ajar perkuliahan, materi penyuluhan, dan risalah pertemuan ilmiah di bidang perpusdokinfo. 

3. Karya ilmiah populer
Karya ilmiah yang ditulis pustakawan baik di bidang perpusdokinfo maupun bidang lainnya, disajikan dalam bentuk tulisan populer, dan bisa dibaca oleh pembaca atau masyarakat umum. Contoh: artikel-artikel yang dimuat di surat kabar/koran harian.

Motivasi Pustakawan Menulis
Menurut Wilkipedia, motivasi adalah keadaan dalam diri individu yang memunculkan, mengarahkan, dan mempertahankan perilaku. Motivasi berasal dari kata "motif" yang artinya dorongan. Motivasi menulis berarti dorongan untuk menulis.

Kegiatan menulis bagi pustakawan selain merupakan kegemaran, juga dipengaruhi oleh talenta atau bakat tersendiri dari pustakawan tersebut. Ada pustakawan yang memang mempunyai kegemaran menulis, ada yang anti untuk menulis, maupun ada yang mempunyai keinginan besar untuk menulis tetapi tidak bisa memulainya dari mana. Bahkan lebih parah lagi banyak pustakawan yang sangat kompeten, ahli/pakar, dan pintar di bidang perpusdokinfo ditambah menguasai bidang lainnya, akan tetapi tidak mau menulis.

Tidak jarang pustakawan yang sebenarnya mempunyai banyak ide/gagasan, namun karena tidak mempunyai bakat, maka jika mencoba untuk menuangkan dalam bentuk tulisan terkadang menjadi `tidak bunyi’. Seolah-olah ide/gagasan pustakawan tersebut tiba-tiba menjadi buntu jika harus dituangkan dalam bentuk tulisan. 

Bagaimana dengan tulisan pustakawan saat ini? Menurut pengamatan saya, belum semua pustakawan mampu menghasilkan tulisan. Masih banyak pustakawan yang belum mampu membuat karya tulis/karya ilmiah yang baik dan berbobot. Hal ini terbukti dari angka kredit pustakawan yang diajukan jarang diperoleh dari unsur kegiatan pengembangan profesi mengenai membuat karya tulis/karya ilmiah. Pustakawan bukan tidak bisa menulis, namun hanya belum mau menulis. Harus kita akui kalau saat ini kemauan dan kemampuan menulis pustakawan memang masih sangat rendah.

Secara logika seorang pustakawan adalah seorang yang memiliki wawasan dan pengetahuan yang luas karena sepanjang hidupnya bekerja di perpustakaan yang selalu bersinggungan dengan berbagai sumber informasi. Seharusnya hal ini akan memudahkan dan memotivasi diri kita untuk memulai menulis. Melalui referensi buku-buku yang tersedia di perpustakaan tempat kita bekerja kita dapat mencari berbagai literatur. Janganlah kita seperti `ayam yang mati di lumbung padi’. Maksudnya kita berada di perpustakaan yang banyak sumber informasi, tetapi sama sekali kita tidak dapat memanfaatkannya.

Menulis merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi pustakawan, karena dengan menulis secara tidak langsung akan memotivasi pustakawan untuk terus maju dalam meniti karir dalam jabatan fungsional pustakawan. Walaupun kenyataannya juga ada berbagai faktor lainnya yang berpengaruh, antara lain: lingkungan kerja, unsur pimpinan, teman kerja, aturan kantor, sarana prasarana/fasilitas yang disediakan, maupun imbalan jasa baik berupa gaji, tunjangan, honorarium, maupun insentif pustakawan.

Untuk membangkitkan motivasi menulis, maka marilah kita cermati berbagai manfaat yang akan kita dapatkan, antara lain:
1. adanya ide/gagasan baru akan mengasah otak kita untuk selalu kreatif berpikir
2. dapat diperhitungkan angka kreditnya dalam penyusunan DUPAK untuk kenaikan pangkat
3. merupakan suatu apresiasi tersendiri, karena ada kebanggaan pribadi maupun kepuasan batin
4. biasanya ada beberapa publikasi yang apabila karya kita dimuat akan mendapatkan honorarium penulisan
5. dapat memotivasi kita untuk terus mengembangkan diri dalam mengikuti perkembangan informasi yang semakin pesat

Angka Kredit Menulis 
Pustakawan merupakan jabatan fungsional, sehingga setiap pekerjaannya bisa dinilai dan dihargai dengan angka kredit. Selain itu pustakawan juga merupakan profesi, karena membutuhkan adanya keahlian/ketrampilan di bidang perpusdokinfo. Semakin tinggi jabatan fungsional pustakawan, maka tuntutan terhadap pemenuhan angka kredit yang berasal dari unsur karya tulis/karya ilmiah juga akan semakin tinggi pula.

Dalam pelaksanaan tugas kepustakawanan terkadang kita jumpai ada pejabat fungsional pustakawan yang tidak dapat memenuhi angka kredit, karena dalam pengumpulan angka kredit lebih banyak hanya mengandalkan unsur kegiatan di luar unsur dari pengembangan profesi yang bobot kreditnya kecil. Walaupun disamping itu terkadang juga disebabkan karena pustakawan tersebut tidak dapat memenuhi sejumlah angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan jabatan setingkat lebih tinggi.

Apabila kita cermati, pustakawan nampaknya belum semua melakukan kegiatan yang meliputi unsur utama maupun unsur penunjang. Fenomena di lapangan sering kita lihat bahwa kegiatan yang dilaksanakan untuk pengajuan Daftar Usul Penetapan Angka Kredit (DUPAK) masih belum sesuai dengan jenjang jabatan yang dipunyai pustakawan.

Hal ini dapat diketahui bahwa masih banyaknya pustakawan yang hanya bertumpu pada kegiatan teknis perpustakaan saja, yaitu pengorganisasian dan pendayagunaan koleksi bahan pustaka/sumber informasi, maupun pemasyarakatan perpustakaan dokumentasi dan informasi saja. Sementara itu, masih sedikit sekali yang melakukan pengkajian dan pengembangan perpusdokinfo serta pengembangan profesi. Padahal kita tahu bahwa salah satu unsur kegiatan dalam pengembangan profesi mengenai membuat karya tulis/karya ilmiah di bidang perpusdokinfo, besarnya nilai angka kreditnya adalah sangat tinggi dibanding dengan unsur kegiatan yang lain.

Menurut pengamatan saya, saat ini ada beberapa hal yang menyebabkan pustakawan belum menghasilkan karya tulis/karya ilmiahnya, antara lain:

1. kebanyakan pustakawan waktunya habis tersita hanya untuk mengerjakan pekerjaan rutin harian yang sifatnya monoton

2. minat baca pustakawan yang masih rendah, sehingga menyebabkan rendahnya kemampuan menulis

3. kemauan pustakawan untuk mengembangkan diri sangat kurang, dan hanya puas dengan apa yang telah dilakukannya selama ini

4. kurangnya pustakawan mengikuti berbagai pelatihan dan bimbingan teknik penulisan karya tulis/karya ilmiah

5. pustakawan yang merasa `rendah diri’ menganggap profesinya belum diakui masyarakat secara luas, sehingga menyebabkan rasa pesimis jika harus berkompetisi maupun berkolaborasi dengan profesi lain untuk menulis

6. kurangya terbitan publikasi mengenai perpusdokinfo di Indonesia yang menampung aspirasi pustakawan

7. faktor latar belakang pendidikan pustakawan baik secara formal maupun informal

8. kurangnya pustakawan dalam mengikuti perkembangan informasi, sehingga kurang respon terhadap perubahan.

9. kurangnya dukungan dari unsur pimpinan terkait dalam memotivasi pustakawan untuk menulis

10. penguasaan bahasa asing yang masih rendah, sehingga pustakawan merasa tidak mampu menulis terutama jika harus merujuk pada literatur yang berbahasa asing
 
Adapun rincian kegiatan pustakawan dari pengembangan profesi dalam membuat karya tulis/karya ilmiah di bidang perpusdokinfo tersebut, seperti terlihat pada Tabel I berikut:

Kondisi Publikasi Perpusdokinfo di Indonesia
Publikasi mengenai perpusdokinfo ada berbagai macam jenisnya, antara lain bisa berupa jurnal, majalah, buletin, maupun hanya sekedar lembar berita.

Menurut pengamatan penulis, sebenarnya saat ini berbagai publikasi mengenai bidang perpustakaan, dokumentasi, dan informasi yang terbit di Indonesia ternyata sudah cukup banyak. Namun demikian, ternyata dari sekian banyak publikasi yang telah diterbitkan, ternyata jumlah judul yang tidak terbit lagi dan tidak diketahui statusnya bagaimana juga banyak.

Kondisi di lapangan yang sering muncul dan menjadi akar permasalahan adalah sering tidak adanya atau kurangnya naskah tulisan dari para pustakawan yang masuk ke meja redaksi. Selain itu juga ada kendala lain yang muncul, yaitu terbatasnya alokasi anggaran dana untuk biaya pencetakan maupun publikasi ke perpustakaan lain. Oleh karena itu, adanya permasalahan tersebut menyebabkan lama kelamaan publikasi yang seharusnya menampung aspirasi para pustakawan terpaksa menjadi tidak bisa diterbitkan lagi.

Apabila memang permasalahannya ini seharusnya para pustakawan introspeksi. Mengapa publikasi di bidang perpusdokinfo yang kita geluti kok tidak ada tulisan kita sendiri, apakah harus menunggu dari profesi lain yang mengisi? Pustakawan harus yakin bahwa dengan banyaknya tulisan pustakawan yang berbobot dan layak terbit tentu akan mendorong serta membantu tumbuhnya penerbitan publikasi di bidang perpusdokinfo di Indonesia.

Sebagai tambahan informasi bagi para pustakawan, bahwa saat ini sebenarnya ada berbagai publikasi perpusdokinfo yang pernah terbit di Indonesia dan telah menampung aspirasi pustakawan dalam bentuk karya tulis/karya ilmiahnya. Selanjutnya mengenai nama judul publikasi dan alamat redaksi dari publikasi ilmiah di bidang perpusdokinfo tersebut, adalah seperti dalam Tabel II berikut:

Bagaimana Memulai Menulis
Membaca sebagai modal untuk menulis. Jendela untuk menambah wawasan adalah dengan membaca. Kemampuan menulis tidak bisa dipisahkan dengan kegiatan membaca. Sebelum pustakawan mampu menulis, maka pustakawan tersebut harus banyak membaca. Intinya bahwa membaca dan menulis bisa dipelajari dan sebenarnya dapat dilakukan oleh semua pustakawan.

Maka dari itu, marilah kita mulai dari sekarang untuk mencoba menulis. Penulisan mungkin bisa dimulai dari mengkonsep mengenai kegiatan apa yang kita lakukan sehari-hari di perpustakaan maupun mempromosikan apa saja yang berkaitan dengan perpustakaan kepada pengguna jasa. Untuk membangun jejaring (network) antar perpustakaan dan sharing informasi antar pustakawan, maka informasi yang terdapat di perpustakaan harus diinformasikan dan disebarluaskan kepada masyarakat luas dalam bentuk promosi perpustakaan. Selanjutnya bisa dikembangkan lagi yang lebih dalam tingkatan kajiannya, misalnya dengan pengkajian dan penelitian ilmiah di bidang perpusdokinfo.

Selanjutnya mengenai minat menulis ini, saya kira para pustakawan memiliki minat yang cukup besar untuk menulis. Hanya yang menjadi akar permasalahan adalah "Bagaimana memulainya ?"

Awalnya pasti terasa sulit dan tidak berbobot. Misalnya: dari judul yang tidak nyambung sama isi, ide/gagasan loncat-loncat, antar paragraf tidak nyambung, pilihan kata tidak tepat, tidak fokus masalah yang dikaji, persentase tulisan antara pendahuluan-isi-penutup tidak pas, terlalu abstrak bahasanya, penggunaan kata yang tidak konsisten, tidak baku, dan lain-lain. Kondisi demikian adalah hal biasa, namun jika terus-menerus kita mencoba dan banyak latihan pasti kita akan terbiasa dan akhirnya bisa menulis. Hal ini sesuai dengan pepatah yang mengatakan "Bisa karena biasa". Ibaratnya seperti pisau yang tidak tajam, tetapi karena diasah terus-menerus dengan baik akhirnya tajam juga.

Tulisan dikembalikan dengan banyak coretan, maupun tidak dimuat karena berbagai alasan dari  redaksi juga merupakan hal biasa. Pustakawan jangan merasa sakit hati hanya gara-gara tulisan kita dikembalikan dan dicorat-coret. Justru dari sinilah awal dari motivasi kita untuk terus memperbaiki dan menjadikan itu semua sebagai bahan kritikan/masukan untuk tulisan kita selanjutnya agar menjadi lebih baik. Ada beberapa tips bagi pustakawan bagaimana memulai menulis, antara lain:
1. Langkah awal adalah pokoknya ide/gagasan apa yang muncul di pikiran kita, segera tuangkan dalam bentuk tulisan, apapun jadinya tidak masalah

2. Langsung tulis dan jangan pikir aktivitas lainnya, karena kita punya ide/gagasan kalau tidak segera ditulis akan cepat hilang, lupa, dan akhirnya stag

3. Jika tiba-tiba terasa buntu, maka buatlah outline yang berfungsi sebagai pengarah jalan dan pembuka ide/gagasan dari apa yang akan kita tulis.

4. Konsentrasi baca dan baca kembali secara berulang-ulang, edit tulisan yang kurang tepat pilihan katanya

5. Menghapus kata yang dirasa lebih/tidak efektif penggunaan kalimatnya dan menambah yang dirasa kurang

6. Baca lagi, pahami, lalu edit dan edit lagi sampai tulisan kita tersebut enak dibaca dan mudah dimengerti oleh orang lain yang membaca

7. Agar tidak bingung di awal pada saat mau menulis, maka "stick with your guns", maksudnya ketika kita sudah memiliki topik yang kita yakini baik, kita sukai/senangi, dan kita mampu untuk mengembangkan topik tersebut, maka jangan peduli dengan pendapat siapapun. Langsung tulis, tulis, tulis dan tuliiiis saja ide/gagasan kita yang muncul.

8. Kembangkan budaya membaca, belajar menulis, menulis, menulis dan belajar menulis dan seterusnya. Akhirnya akan menulis, menulis, menuliiiis, mengalir, mengalir, mengaliiiirlah ide/gagasan kita.

9. Apabila kita sudah mencoba mengirim ke redaksi, maka kuncinya adalah jangan mengisolir diri dan jangan putus asa terhadap kritik. So HAVE FUN ….

10. Jangan menjadikan kegiatan menulis seolah-olah menjadi beban bagi kita dalam bekerja di perpustakaan

11. Tetapkan target waktu (dead line) untuk bisa menyelesaikan tulisan.

Penutup
Kemampuan yang dimiliki oleh seorang pustakawan untuk menulis tidak instan terjadi begitu saja. Disamping dari bakat sejak dilahirkan, namun juga dari latihan secara terus-menerus, berkelanjutan, dan berkesinambungan (continuous improvement). Oleh karena itu, meskipun pustakawan belum memiliki bakat apabila dengan latihan membiasakan diri untuk menulis dengan disertai kemauan, ketekunan, keuletan, perjuangan gigih, kerja keras tanpa mengenal lelah dan tidak putus asa pasti pustakawan bisa menulis.

Marilah kita sebagai pustakawan bersama-sama saling menjaga publikasi yang sebenarnya sudah ada atau pernah terbit di Indonesia agar jangan sampai tidak terbit lagi hanya karena alasan klasik yaitu tidak adanya pasokan karya tulis/karya ilmiah dari pustakawan yang masuk.
Saya mengingatkan kepada para pustakawan bahwa jangan hanya berkutat pada pekerjaan yang menjadi rutinitas sehari-hari saja. Namun kita sebagai pustakawan juga harus mengembangkan diri dengan melakukan kegiatan lainnya yang menunjang profesi kita, misalnya dengan menulis. Marilah kita renungkan kalimat ini "Menulis menguntungkan pustakawan". Benarkah demikian? Jawabannya kembali pada diri kita masing-masing sebagai pustakawan.