Model Interoperabilitas Teknis pada Aplikasi Perpustakaan Digital LARAS Versi 1.0 : Studi Kasus di PDII-LIPI

1. Pendahuluan
Pada perkembangan perpustakaan digital, isu yang muncul adalah interoperabilitas. Interoperabilitas ini merupakan tantangan mendasar dalam semua aspek perpustakaan digital. Interoperabilitas dalah upaya pengembangan jasa atau layanan terpadu bagi pengguna perpustakaan digital sedemikian rupa sehingga mereka dapat memanfaatkan sumberdaya yang disediakan oleh beragam sistem serta berbagai institusi (Arms, 2000).
Isu interoperabilitas ini kemudian melahirkan aplikasi (software) perpustakaan digital yang sharable penggunaannya, salah satunya dibangun oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI), yaitu Library and Archive Analysis System (LARAS) Versi 1.0. LARAS V 1.0. adalah aplikasi perpustakaan digital berbasis open source yang dapat diunduh dan bebas digunakan oleh pihak manapun. PDII-LIPI resmi menggunakan LARAS Versi 1.0 untuk menggantikan WINISIS mulai Januari tahun 2011. Permasalah yang diajukan dalam penelitian ini yaitu, latarbelakang PDII-LIPI mengembangkan LARAS Versi 1.0 serta model interoperabilitas teknis yang diterapkan dan dikembangkan pada LARAS Versi 1.0 di PDII-LIPI. Sedangkan tujuan penelitian ini yaitu :
1) Mengetahui latar belakang pengembangan LARAS Versi 1.0 di PDII-LIPI.
2) Mengetahui model interoperabilitas teknis LARAS Versi 1.0yang diterapkan dan dikembangkan oleh PDII-LIPI.
Penelitian ini diharapakan mencapai dan berguna untuk dua hal yaitu manfaat praktis dan akademis, yaitu:
1) Manfaat akademis, memberikan informasi bahwa model interoperabilitas teknis adalah aspek yang tidak terpisahkan dari penerapan aplikasi perpustakaan digital.
2) Manfaat praktis, dapat menjadi salah satu dasar acuan dan pertimbangan bagi perpustakaan maupun lembaga informasi lainnya dalam menerapkan dan mengembangkan model interoperabilitas teknis pada aplikasi perpustakaan digital di masa yang akan datang.

2. Tinjauan Teoritis
2.1. Perpustakaan Digital
Digital Library Federation (DLF) (1998) mendefinisikan perpustakaan digital sebagai organisasi yang menyediakan sumber daya (resources), termasuk staf khusus, pemilihan struktur, menawarkan akses intelektual, menginterpretasikan, mendistribusikan, melestarikan keutuhan (integritas), dan memastikan persistensi dari waktu ke waktu dari koleksi digital bekerja sehingga tersedia untuk digunakan oleh komunitas atau masyarakat. Definisi di atas melibatkan tiga kunci komponen, yang merupakan kerangka teoritis perpustakaan digital yang mendasar, yaitu:
1. Orang atau manusia;
2. Sumber daya informasi, dan
3. Teknologi.
Arms (2000) memberikan definisi informal perpustakaan digital adalah kumpulan informasi yang dikelola dengan layanan terintegrasi dimana informasi disimpan dalam format digital dan dapat diakses melalui jaringan. Bagian penting dari definisi ini adalah bahwa informasi yang dikelola. Dengan merujuk pada dua definisi di atas maka dapat dilihat bahwa walaupun pada ranah perpustakaan digital, komputer dan jaringan sangat penting dan mendasar. Gambaran sebenarnya dari perpustakaan digital adalah interaksi antara orang, organisasi, dan teknologi.

2.2. Interoperabilitas
Bagi masyarakat pengguna, mengarah menuju ke interoperabilitas harus dilihat sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat. Interoperability Solutions for European Public Administration (2010:2) menyatakan :

“Interoperability is the ability of disparate and diverse organisations to interact towards mutually beneficial and agreed common goals, involving the sharing of information and knowledge between the organizations via the Business processes they support, by means of the exchange of data between their respective Information and Communications Technology (ICT) systems.”

Definisi tersebut membawa pemangku kebijakan (stakeholders) pada keinginan untuk berbagi data, informasi, maupun pengetahuan sehingga mereka membangun standar sistem interoperabilitas yang dapat digunakan oleh siapa pun, dimana pun dan kapan pun. Keterhubungan antara aplikasi perpustakaan digital dan layanan yang diterapkan oleh perpustakaan sebagai organisasi informasi mencerminkan model interoperabilitas yang diterapkan.
Miller (2000) menyatakan bahwa interoperabilitas teknis merupakan berbagai kesamaan dalam menggunakan prosedur dan mekanisme perangkat keras (hardware) dan aplikasi atau perangkat lunak (software), termasuk di dalamnya protokol komunikasi, pemindahan data, tata cara penyimpanan, pembuatan indeks, dan sebagainya. Interoperabilitas teknis tersebut mengarahkan akan guna pelayanan dan penggunaan data bersama atau kesepakatan bersama dalam beberapa hal standar yang harus dipahami oleh pengembang maupun organisasi pengguna interoperabilitas teknis tersebut.

2.3. Model Interoperabilitas Teknis
Terdapat jenis model interoperabilitas teknis menurut Tolk (2003) yang digunakan lebih lanjut sebagai teori dalam penelitian ini yaitu, Model Level of Information Systems Interoperability (LISI). Model LISI menyediakan framework untuk lingkup serta level yang diterapkan untuk hal konektivitas pada domain interoperabilitas teknis. Model LISI diciptakan oleh The U.S. DoD C4SIR Framework Architecture. Seperti dijabarkan pada tabel 1, model interoperabilitas LISI mengidentifikasi empat jenis atribut, berikut penjelasan mengenai atribut yang dimaksud :
1) Prosedur dan kebijakan: Atribut ini membahas tentang implementasi sistem atau standar yang dipilih secara menyeluruh selain petunjuk arsitektur sistem yang dibangun.
2) Aplikasi: meliputi tujuan pokok dan fungsi sistem yang dibangun. Aplikasi yang mendukung dan fungsi yang dicapai mewakili kemampuan sistem bagi pengguna.
3) Infrastruktur: merupakan atribut yang mendukung pembentukan dan penggunaan koneksi antara sistem atau aplikasi.
4) Data: atribut ini berfokus pada informasi yang diolah oleh sistem. Mencakup semua bentuk data yang mendukung operasional sistem.

 

2.4. Landasan dan Standar Teknologi Interoperabilitas Teknis
a. Metadata
Istilah metadata digunakan berbeda pada berbagai komunitas. Beberapa menggunakannya untuk merujuk kepada mesin yang mampu memahami akan informasi (machines understandable information), sementara sebagian menggunakannya hanya untuk cantuman atau rekod yang mendeskripsikan sumber daya elektronik (NISO, 2004:1). Metadata perlu disusun dalam satu set ruas standar dan menggunakan encoding dengan beberapa cara standar sehingga mampu diproses oleh komputer.

b. Protokol komunikasi
Protokol yang banyak digunakan pada lingkungan perpustakaan digital saat ini yaitu OAI-PMH (Open Archive Initiative-Protocol Metadata Harvesting). OAI-PMH merupakan sebuah inisiatif untuk mengembangkan dan mempromosikan standar interoperabilitas yang memfasilitasi penyebaran konten web yang diakses melalui repositori untuk penyebaran konten serta berbagi metadata secara efisien (http://www.openarchives.org).

c. Encoding
Encoding merupakan sarana manipulasi aplikasi perpustakaan digital bilamana cantuman bibliografis atau metadata aplikasi perpustakaan digital akan diletakkan pada pangkalan data terpasang (online database), supaya dapat dibaca, ditelusur, dicari, dan dipertukarkan oleh berbagai jenis aplikasi perpustakaan digital, sekaligus dapat dipahami oleh manusia. Dalam encoding digunakan bahasa mark-up untuk membuat halaman-halaman web dan memungkinkan aplikasi perpustakaan digital untuk dapat dimodifikasi oleh developer atau end user tentunya dengan disesuaikan pada kebutuhan dan perkembangan yang ada.

d. Pangkalan Data
Pangkalan data berfungsi sebagai sistem terkomputerisasi yang tujuan utamanya adalah memelihara informasi dan membuat informasi tersebut tersedia saat dibutuhkan (Kadir, 2003:9). Pangkalan data sebagai memeriksa serta memverifikasi jenis informasi yang tepat, mewakili nilai yang diperbolehkan dalam keadaan yang dapat diterima. Menurut Chowdhury (2010:17) pangkalan data dapat diklasifikasikan berdasarkan jenis rekod data serta cakupan subjek yang dimuat. Pembagian utama nya yaitu :

a. Pangkalan data rujukan (reference database), pangkalan data ini mengarahkan pengguna ke sumber informasi seperti dokumen, orang atau organisasi. Pangkalan data ini dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :
• Pangkalan data bibliografis, meliputi sitasi atau referensi bibliografis, dan abstrak dari literatur.
• Pangkalan data katalog, menunjukkan katalog perpustakaan tertentu atau sekelompok perpustakaan dalam sebuah atau berbagai jaringan.
• Pangkalan data referal, menawarkan referensi ke informasi seperti nama, alamat, spesialisasi perorangan, lembaga, sistem informasi, dan sebagainya.

b. Pangkalan data sumber (source database), pangkalan data ini berisi informasi dalam bentuk terbacakan mesin dan karena itu dapat dianggap sebagai semacam dokumen elektronik. Pangkalan data ini dapat dikelompokkan sesuai dengan cakupan konten, misalnya:
• Pangkalan data numerik, berisi berbagai jenis data numerik, termasuk statistik dan data survei.
• Pangkalan data full-text, berisi teks lengkap dari dokumen
• Pangkalan data teks-numerik, berisi kombinasi data tekstual dan numerik, seperti laporan tahunan perpustakaan atau data buku pegangan (handbook).
• Pangkalan data multimedia, berisi informasi yang mencakup teks, gambar, suara, dan video.

e. Indexing
Taylor (2004:40) menyatakan bahwa indexing mampu menjadi pengembang akses dalam menganalisis konten dari dokumen. Kegiatan menganalisis dan penerjemahan dokumen yang diindeks merupakan kegiatan intelektual dan kegiatan mekanikal lebih kepada kegiatan yang mencakup pengurutan abjad dan pembuatan entri indeks (Pendit, 2007:99). Khusus dengan komputerisasi Pendit (2007:100) menyatakan aplikasi indexing dapat pula berbentuk :
a. Derivative indexing, yaitu istilah untuk indeks diambil langsung dari teks dokumen, disebut juga synonym for keyword indexing dikarenakan indeks diambil langsung dari kata kunci dan tidak ada controlled vocabulary (daftar kosakata) sebagai acuan, hal demikian sering dikenal juga dengan free indexing.
b. Assignment indexing, yaitu istilah untuk indeks diberikan dari luar. Dalam hal ini pembuatan indeks diambil langsung dari kata kunci dan ada controlled vocabulary (daftar kosakata) sebagai acuan.
Setelah proses indexing telah selesai, dokumen dan catatan pengindeksan masuk ke beberapa bentuk penyimpan dokumen seperti pangkalan data, dimana hal tersebut diatur sedemikian rupa sehingga dengan mudah dapat dicari dalam menanggapi berbagai permintaan jenis subjek dan lainnya.

3. Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian studi kasus adalah strategi penelitian di mana peneliti menyelidiki secara cermat suatu program, peristiwa, aktivitas, proses atau sekelompok individu. Selain itu, penelitian studi kasus memusatkan diri pada satu unit tertentu dari berbagai fenomena (Bungin, 2007:68).
Penelitian dilakukan pada Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PDII-LIPI) yang belokasi di Jalan Jenderal Gatot Subroto Kav. 10, Jakarta Pusat dilaksanakan selama empat bulan mulai dari awal Februari hingga Akhir Mei tahun 2013. Informan dalam penelitian ini berjumlah sebelas orang, ditentukan secara purposive. Dalam melakukan proses pengumpulan data peneliti menggunakan dua metode, yaitu :
a. Analisis dokumen, dokumen yang digunakan meliputi sumber terpasang (online), buku-buku yang relevan seperti manual LARAS V 1.0, dan artikel ilmiah yang digunakan sebagai referensi dalam penelitian ini.
b. Wawancara, jenis metode wawancara yang digunakan adalah wawancara mendalam (in-depth interview) karena dari wawancara tersebut tersedia data utama tentang persepsi atau penilaian bersifat subjektif serta kualitatif. Pertanyaan diajukan menurut pedoman wawancara yang telah disusun sebelumnya.
Analisis data pada penelitian ini dilakukan dengan mengikuti analisis data kualitatif berdasarkan analisis Miles dan Huberman (1992:16-17), ada tiga langkah pokok, yaitu :
1. Reduksi data.
2. Penyajian data.
3. Penarikan simpulan/verifikasi.
Ketiga komponen analisis data di atas dapat dilakukan secara interaktif yaitu saling berhubungan selama dan sesudah pengumpulan data. Proses analisis data ini mengalir (flow), sehingga tidak menjadi kaku dari tahap awal hingga tahap akhir penelitian.

4. Hasil dan Pembahasan
4.1. Latar Belakang PDII-LIPI Mengembangkan LARAS Versi 1.0
PDII-LIPI memiliki beragam koleksi karya ilmiah yang berupa laporan penelitian para peneliti dari berbagai institusi selain dari LIPI sendiri, koleksi tersebut tentunya diperuntukkan bagi pengguna baik dari kalangan peneliti, akademisi, maupun praktisi. Proses desiminasi setiap karya ilmiah tersebut telah dilaksanakan secara komputerisasi melalui penggunaan aplikasi perpustakaan digital berbasis web yaitu LARAS V 1.0. Sebelum mulai menggunakan LARAS V 1.0 pada tahun 2011, sebelumnya PDII-LIPI menggunakan aplikasi WINISIS yang mulai digunakan pada tahun 1996.

Menurut pandangan pihak developer LARAS V 1.0, aplikasi WINISIS dirasa sudah semestinya digantikan, dengan beberapa alasan diantaranya yaitu karena pada WININIS terdapat banyak kendala aturan entri data dan tidak konsisten, pangkalan data yang bertumpuk, susah dalam pelaporan, serta yang terakhir yaitu konten pada pangkalan data WINISIS tidak ditemukan bila dicari dengan menggunakan mesin pencari di internet. Untuk mengatasi masalah tersebut, kepala PDII-LIPI 2008-2012 pada tahun 2010 mengeluarkan kebijakan untuk membangun LARAS V 1.0.
Menurut pihak developer LARAS V 1.0 dipilihnya program PHP, Apache, dan MySQL sebagai aplikasi pembngun LARAS V 1.0, dikarenakan ketiga program tersebut termasuk dalam flatform open source dan mudah dipahami oleh programmer, selain itu mendukung kemudahan untuk pengembangan tahap berikutnya. Menurut kepala PDII-LIPI 2008-2012 Aplikasi WINISIS yang kurang dalam hal aksebilitas diperburuk dengan kebijakan dalam desiminasi informasi terutama karya ilmiah seluas-luasnya belum ada. Selain itu disebabkan juga oleh apresiasi dan kebebasan bagi para pengelola konten informasi ilmiah untuk membuat format-format yang sesuai dengan kebutuhan institusi. Pada Akhirnya terbentuklah Tim Developer LARAS V 1.0, tim ini mendapat instruksi untuk mempelajari hampir semua aplikasi perpustakaan yang telah dan sedang berkembang pada saat itu seperti WINISIS, SLiMS, Lontar dan lainnya.
Pada awal LARAS V 1.0 mulai dikembangkan terjadi konflik antara pihak developer dan pihak pustakawan, hal demikian terjadi dikarenakan pola pemikiran dan kepentingan yang tidak sejalan. Selain karena tidak adanya komunikasi intensif antara pihak developer dan pihak pustakawan. Seiring waktu pengembangan LARAS V 1.0 terus berjalan walupun secara ala kadarnya, pihak developer menganggap apa yang dikerjakan adalah salah satu bentuk bagian dari kegiatan pengabdian masyarakat.
Menurut kepala PDII-LIPI saat ini, alasan lain mengapa LARAS V 1.0 tetap berjalan yaitu dikarenakan PDII-LIPI terus mengikuti perkembangan sistem informasi tanpa bergantung pada pengembang aplikasi dari luar PDII-LIPI, selain itu ditambah dengan adanya anggapan kebebasan berkreasi dikarenakan LARAS V 1.0 dibangun di bawah open source. Walaupun saat ini pihak penentu kebijakan dan ketua fungsional pustakawan sebenarnya menyadari bahwa awal penerapan LARAS V 1.0 di PDII-LIPI terlalu terburu-buru karena hanya dibangun dalam kurun waktu yang begitu singkat yaitu satu tahun. Terjadi ketidaksesuaian antara proses dan tujuan di bangunnya LARAS V 1.0 sebelum diluncurkan atau mulai diperkenalkan penggunaaannya secara luas di masyarakat, mengingat banyaknya beberapa kekurangan terutama dari segi kebutuhan untuk PDII-LIPI sendiri, di samping itu adanya tindakan peneyepelean dalam hal elaborasi akan kesiapan sebuah aplikasi karena dirancang sepihak oleh Tim Developer LARAS V 1.0.
Saat ini LARAS V 1.0 setidaknya telah mampu membantu proses dan usaha yang dikerjakan oleh PDII-LIPI dalam kegiatan desiminasi informasi secara lebih luas dalam hal cakupan dan lingkupnya, selain itu secara tidak langsung prestise dapat diperoleh melalui peningkatkan ranking dalam hal webometric bagi LIPI yang menjadi induk PDII sendiri secara kelembagaan. Adapun tujuan dan manfaat PDII-LIPI membangun LARAS V 1.0 yang peneliti temukan di antaranya :
a. Tujuan khusus : (1) yaitu semua karya ilmiah yang dikumpulkan oleh PDII-LIPI bisa dipublikasikan secara luas terutama melalui internet, (2) PDII-LIPI bisa memiliki dan mengembangkan aplikasi open source secara mandiri untuk menghindari ketergantungan aplikasi buatan dari luar (3) LARAS V 1.0 didaulat akan menjadi salah satu icon PDII-LIPI di masyarakat.
b. Tujuan umum : Supaya PDII-LIPI bisa menyimpan setiap karya ilmiah dan dapat terkelola secara baik, sustain, dan bisa dengan cepat serta mudah diakses oleh masyarakat pengguna.

4.2. Model Interoperabilitas Teknis yang diterapkan pada LARAS V 1.0 di PDII-LIPI
Model interoperabilitas teknis yang diterapkan pada LARAS V 1.0 termasuk dalam level gabungan, yaitu gabungan antara Level 1, 2, dan 3 dalam Model LISI, tentunya dalam penelitaian ini telah disesuaikan atau dicocokkan dengan melihat atribut-atribut yang ada pada Model LISI.

a. Prosedur dan kebijakan
Pada kasus membangun interoperabilitas teknis LARAS V 1.0 ditandai dengan prosedur dan kebijakan tingkat internal PDII-LIPI yang berasal dari tingkat teratas yaitu kepala PDII-LIPI. Hal tersebut termasuk mencakup penggunaan dan kesesuaian terhadap standar yang digunakan oleh pihak developer di lapangan walaupun masih terdapat konflik internal karena minimnya keterlibatan pustakawan dalam hal tersebut. Dalam hal kebijakan dan prosedur yang ada tersebut, salah satu yang ditekankan adalah keamanan aplikasi, hal tersebut sesuai dengan Level 1 poin a dan b Model LISI.
Mengingat bahwa dalam situasi di dalam dunia jaringan global tingkat keamanan sangat diperlukan, keberadaan hal tersebut adalah salah satu bentuk langkah pertama menuju tahap prosedural yang memungkinkan konektivitas langsung antara sistem yang dibangun PDII-LIPI. Sistem interoperabilitas teknis yang dibangun langsung behubungan dalam hal kemanan setidaknya telah ada prosedur dari aplikasi atau tools yang digunakan oleh PDII-LIPI, contoh disini adalah aplikasi standar yaitu encoding XML sebagai teknik keamanan, walaupun sistem kemanan yang digunakan tersebut kadang tidak terkait dengan kebijakan tertulis.
Gabungan aplikasi yang digunakan pun menyiratkan bahwa pilihan yang dibuat ketika menerapkan sistem mengikuti standar yang tepat, dimana standar tersebut ada dan dipelajari sebelumnya oleh Tim Developer LARAS V 1.0. Sebagai contoh, untuk menghubungkan LARAS V 1.0 dengan pangkalan data lainnya dengan bantuan OAI-PMH sebagai protokol komunikasi data. Karena semua opsi yang dipilih mematuhi standar tersebut, sistem ini dinilai memenuhi prosedur persyaratan dan hal ini termasuk bagian dari Level 1 poin c dan d pada Model LISI. Penerapan OAI-PMH cukup jelas dijabarkan baik dari segi pemanfaatan dan fungsinya pada Manual LARAS V 1.0 oleh pihak developer.

b. Aplikasi
Dalam hal penerapan interoperabilitas teknis PDII-LIPI membangun sebuah portal yang dinamakan Pusat Repository PDII-LIPI sejak tahun 2012. Portal ini merupakan kumpulan data dari berbagai macam metadata baik yang dimiliki oleh PDII-LIPI maupun institusi lain yang mengaplikasikan LARAS V 1.0 maupun aplikasi perpustakaan digital lainnya. Semua metadata dalam portal ini di kumpulkan dengan mengimplementasikan aplikasi OHS (Open Harvester System), aplikasi OHS adalah hasil ciptaan sebuah NGO (Non-Governmental Organization) dunia yang bergerak dalam bidang penelitian yang bernama PKP (Public Knowledge Project).
OHS-PKP merupakan aplikasi open source yang berfungsi sebagai pemanen (harvester) dan pengumpul atau pembaca (aggregator) metadata, aplikasi ini mendukung beberapa format metadata dan protokol, dirancang bersifat fleksibel karena lebih ditekankan pada kinerja dan kesederhanaan penggunaan untuk kepentingan publik dalam skala global. Aplikasi ini mendukung konsep interoperability open access dengan menggunakan standar protokol OAI-PMH dan HTTP, format standar metadata Dublin Core, encoding XML serta PHP. Pada saat ini jumlah pangkalan data milik satuan kerja di lingkunagn LIPI dan institusi luar yang tergabung dalam portal tersebut sebanyak 14 pangkalan data dan kini Portal Pusat Repository PDII-LIPI total memiliki 32847 rekod.

PDII-LIPI yang mengaplikasikan LARAS V 1.0 sendiri terindeks (menyumbang) sejumlah 18519 rekod, agar dapat melakukan komunikasi antar penyedia data, protokol komunikasi antarpangkalan data aplikasi perpustakaan digital yang tergabung disamakan. Data yang tersedia dapat diakses baik oleh kalangan internal maupun eksternal PDII-LIPI. Setiap aplikasi perpustakaan digital yang tergabung memiliki format standar metadata tersendiri untuk koleksi yang dimilikinya. Metadata ini dapat dipanen oleh penyedia layanan (service provider) yaitu OHS-PKP tersebut, kemudian diolah menjadi informasi atau tautan referensi (link references) melalui layananan yang disediakan. OAI-PMH adalah pendukung dasar proses memanen metadata. Pada model ini memungkinkan usaha PDII-LIPI dengan lembaga lainnya untuk berbagi metadata.
Metadata dari pangkalan data yang tergabung dalam portal tersebut dipanen secara berkala dan berkelanjutan oleh Staf Subbidang Sarana Komputer di PDII-LIPI. Namun di lain segi untuk waktu atau jadwal panen metadata tersebut belum secara spesifik didukung dengan kebijakan khusus dari pimpinan, yang terjadi di lapangan adalah kebanyakan berupa kesepakatan verbal antara pihak developer dan lembaga yang bergabung, hal ini juga diesebabkan karena infrastruktur di PDII-LIPI yang berupa server masih memiliki keterbatasan dalam hal penyimpanan data (data storage). Dari segi atribut aplikasi, PDII-LIPI telah memberikan kemampuan untuk berbagi data dengan aplikasi lainnya melalui bentuk repositori umum yang diperuntukkan bagi pengguna dengan didukung infrastruktur jaringan yang bersifat global, hal termasuk dalam Level 3 Model LISI Interoperabilitas Teknis poin a, b dan c.

c. Infrastruktur
Infrastruktur yang dibangun PDII-LIPI berhubungan dengan jaringan WAN (Wide Area Network). Oleh karena itu bisa dikatakan untuk atribut infrastruktur termasuk dalam Level 3 poin a, b, dan c pada Model Interoperabilitas Teknis LISI. Infrastruktur yang dibangun PDII-LIPI ini memiliki karakteristik bahwa setiap pangkalan data perpustakaan yang terhubung dalam jaringan dapat saling berkomunikasi satu sama lain. Setiap perpustakaan menyediakan layanan yang dapat diberikan kepada perpustakaan lain.

Arsitektur model interoperabilitas yang terlihat dalam gambar di atas menunjukkan bagaimana interkoneksi antara LARAS V 1.0 PDII-LIPI dan aplikasi perpustakaan lainnya yang merupakan penyedia data dengan Portal Repository PDII-LIPI yang merupakan penyedia layanan, usaha tersebut bisa berjalan karena didukung oleh infrastruktur jaringan WAN.

d. Data
Pada atribut data ini LARAS V 1.0 PDII-LIPI meliputi format data atau struktur file yang ditetapkan untuk digunakan oleh aplikasi. Format ini sering bersifat eksklusif terutama dalam hal penggunaan aplikasi. Sebagai contoh, data file dari sebuah karya ilmiah koleksi digital PDII-LIPI berbetuk Portable Document Format (PDF) yang sebenarnya bisa diunduh (download), adapun beberapa program yang dicakup dalam atribut data ini seperti PHP dan XML keduanya miliki andil pertukaran konten atau data masing-masing pada LARAS V 1.0. Model data atribut pada LARAS V 1.0 termasuk dalam jenis Level 2 poin a b, dan c dari Model Interoperabilitas Teknis LISI.
Pada saat ini terdapat sebuah kebijakan kepala PDII-LIPI 2012-sekarang yaitu untuk menutup fitur unduh file digital yang berformat PDF terutama karya-karya ilmiah yang dihasilkan oleh penulis atau pengarang dari lembaga di luar LIPI. Hal demikian dikarenakan alasan untuk menghormati hak cipta penulis atau pengarang yang bersangkutan. Mengingat kebijakan dan masalah komitmen knowledge transfer PDII-LIPI, terutama yang berkaitan dengan tugas menjalankan visi misi agak menjadi terhambat, dikarenakan pengguna yang ingin memeroleh karya ilmiah dalam format digital secara full-text harus datang ke PDII-LIPI langsung.

4.3. Model Interoperabilitas Teknis LARAS Versi 1.0 yang Dikembangkan oleh PDII-LIPI
Untuk mengetahui model interoperabilitas teknis LARAS Versi 1.0 yang dikembangkan oleh PDII-LIPI, peneliti melihat dari aspek landasan dan standar teknologi interoperabilitas teknis.

a. Metadata
Dengan melihat setiap bagian ruas metadata (metadata field) yang terdapat pada LARAS V 1.0. Peneliti menemukan metadata LARAS V 1.0 sendiri merupakan hasil penyesuaian (customise) dan adopsi beberapa ruas yang terdapat pada metadata aplikasi yang digunakan oleh PDII-LIPI sebelumnya yaitu WINISIS. WINISIS menggunakan standar metadata CCF (Common Comunication Format) yang dibuat oleh UNESCO dan format strukturnya sesuai dengan ISO 2709 (Chowdhury dan Chowdhury, 2007:66), yang artinya dalam hal ini LARAS V 1.0 tidak menggunakan standar baru.

Pihak developer LARAS V 1.0 telah membuat elemen metadata sendiri menurut interpretasi kebutuhan di PDII-LIPI sebelumnya, hal demikian yang menyebabkan metadata LARAS V 1.0 tidak menggunakan skema maupun berdasarkan standar, namun hanya bisa disebut sebagai penyesuaian atau modifikasi elemen metadata. Karena skema metadata sendiri merupakan sebuah konsep yang digunakan untuk membangun sebuah metadata, bila merupakan hasil dari sebuah konvensi, ditaati, dan diterapkan, maka skema tersebut bisa dikatakan menjadi sebuah standar (Pendit, 2008:171).
LARAS V 1.0 menggunakan bahasa Indonesia sebagai antarmuka (interface) karena alasan memberi kemudahan bagi penggunaannya. Pihak pustakawan di PDII-LIPI merasa enggan dalam menggunakan MARC (Machine Readble Catalouging) sebagai standar metadata LARAS V 1.0, walaupun seperti kita ketahui secara internasioanal MARC merupakan sebuah standar metadata yang telah lama dikenal di lingkungan perpustakaan. Standar metadata perpustakaan seperti MARC dianggap terlalu rumit dan rinci, sedangkan Dublin Core masih tidak memadai karena memiliki kterbatasan ruas dan lebih dikhususkan pada lingkungan web.
LARAS V 1.0 masih mengalami permasalah pelik pada aspek metadata. Masukan dari pihak pustakawan sebagai end user sangat relevan, karena mereka telah lama bekerja menggunakan WINISIS, pustakawan berharap metadata LARAS V1.0 akan terus disesuaikan seperti pada WINISIS, dengan beberapa ruas tidak perlu dan yang pasti beberapa ruas yang wajib harus ada walaupun di lain sisi dalam perkembangan ke arah interoperabilitas itu sendiri. Pihak developer menyambungkan LARAS V 1.0 ke Portal Pusat Repository PDII-LIPI dengan hanya mengambil beberapa ruas yang di sesuaikan dengan format Dublin Core. Konten informasi yang mengisi setiap ruas metadata yang ada terlihat seolah-olah dianggap hanya keterangan yang bersifat ringan.
Pihak developer terlihat seperti tidak sepenuhnya memikirkan secara matang mengenai imbas yang akan dihasilkan karena hal tersebut, pengguna yang mengakses informasi baik dari Portal Pusat Repository PDII-LIPI maupun langsung dari OPAC LARAS V 1.0 akan mengalami kebingungan dalam memeroleh informasi pada rekod, di lain sisi waktu pencarian pengguna pun menjadi terkuras karena membutuhkan sebuah analisis informasi yang didapatkan.
Upaya yang saat ini sedang dilakukan untuk membenahi LARAS V 1.0 yaitu Kepala PDII-LIPI menunjuk salah satu staf teknisi untuk membenahi sistem LARAS V 1.0. Dalam hal ini yang menjadi tugas pokok staf tersebut adalah membenahi konten pangkalan data termasuk aksesibilitas dan konten informasi yang pada setiap ruas metadata hasil dari migrasi pangkalan data sebelumnya yaitu WINISIS.

b. Protokol Komunikasi
OAI-PMH adalah pendukung vital LARAS V 1.0 PDII-LIPI dalam menjalankan interoperabilitas teknis yang selama ini sedang dikembangkan. Pada saat mulai menciptakan gabungan konten dari beberapa pangkalan data, OAI-PMH dipelajari bertahap dengan dibarengi usaha dalam melakukan modifikasi terlebih dahulu oleh Tim Developer LARAS V 1.0. Masalah teknis yang ditemukan di lapangan dan bagaimana solusi terkait menurut pihak developer salah satunya setelah menerapkan OAI-PMH di LARAS V 1.0, karena bersifat open source protokol tersebut memungkinkan untuk dikembangkan secara mandiri sesuai arah dan tujuan penggunaannya, metode pengelolaan sumber daya digital yang sudah ada pada OAI-PMH memudahkan pihak developer menyesuaikan spesifikasi antara metadata Dublin Core dan Metadata LARAS V 1.0 yang terhubung pada jaringan.

c. Encoding
PHP adalah encoding yang diterapkan oleh LARAS V 1.0 dan OHS-PKP pada Portal Pusat Repository PDII-LIPI sebagai manipulasi tampilan di web, sedangkan encoding XML berperan dalam hal representasi metadata. XML digabung dengan kinerja bahasa PHP. Dalam hal ini OHS-PKP berkomunikasi langsung dengan LARAS V 1.0. melalui OAI-PMH yang memuat encoding XML. XML tersebut menyatukan data yang diterima walaupun menggunakan tampilan antarmuka asli masing-masing yaitu dengan bantuan PHP.
Bila dilihat dari segi struktur bahasa dan data, encoding XML menyediakan kemudahan, netralitas, dan deskripsi mandiri yang terkait sintaks untuk struktur data yang sifatnya heterogen seperti LARAS V 1.0 yang menggunakan PHP. Seperti yang diungkapkan Chowdhury dan Chowdhury (2007:163) bahwa XML menggunakan tag hanya untuk membatasi bagian data dan meninggalkan interpretasi data sepenuhnya untuk aplikasi yang membacanya.
XML menyediakan secara mudah cantuman dan referensi metadata sebagai representasi dari deskripsi data dan semantik, contohnya pada LARAS V 1.0 yang menyebutkan judul dan OHS-PKP dengan standar Dublin Core menyebutkannya title. Hal tersebut bisa dimodifikasi dan disesuaikan dengan sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan ke depan. Elemen metadata yang heterogen antara LARAS V 1.0 dan Dublin Core pada OHS-PKP dimudahkan untuk dipetakan, karena terdapat mekanisme untuk mengekspresikan pemetaan antarelemen dengan bantuan OAI-PMH.

d. Pangkalan Data
Pangkalan data LARAS V 1.0 termasuk dalam pangkalan data rujukan dan pangkalan data sumber. Dalam klasifikasi pangkalan data rujukan, pangkalan data LARAS V 1.0 termasuk dalam kategori pangkalan data bibliografis. Pangkalan bibliografis tersebut menjadi wakil dari dokumen asli yang menunjukkan seperti apa informasi yang tercakup pada dokumen asli, serta bagaimana aturan dalam memasukkan informasi bibliografis dari dokumen asli sehingga tercipta informasi yang terstruktur dalam bentuk rekod. Pada Pada klasifikasi pangkalan data sumber, pangkalan data LARAS V 1.0 dapat dikelompokkan sebagai pangkalan data numerik karena sesuai dengan cakupan konten yang dimuat. Pangkalan data LARAS V 1.0 memberikan keterangan berupa angka-angka statistik dan grafik dalam hal akses dokumen oleh pengguna

e. Indexing
Indexing pada LARAS V 1.0 yaitu derivative indexing, karena mengambil istilah untuk indeks langsung dari teks dokumen berupa judul dokumen dan tidak menggunakan fitur kata kunci serta tidak ada daftar kosakata khusus sebagai acuan, dengan kata lain istilah kegiatan tersebut bisa disebut juga dengan free indexing. Pada LARAS V 1.0 masih terdapat masalah perbedaan pada jumlah total rekod yang termuat, yaitu rekod berdasarkan jenis kategori atau bidang ilmu total berjumlah 256.507 rekord dan rekod berdasarkan jenis koleksi total berjumlah 266.732 rekod. Selain itu, masih terdapat rekod yang belum ditentukan atau diverifikasi kategori bidang ilmu (unknown category) yaitu total 10383 rekod. Hal demikian menjadi perhatian serius dari pihak developer dan pustakawan sehingga perlu usaha validasi secara maksimal.
Dalam aplikasinya derivative indexing pada LARAS V 1.0 digunakan kategori bidang keilmuan. Total jumlah bidang ilmu yang ada di LARAS V 1.0 saat ini berjumlah 59 bidang, didominasi oleh ilmu alam dan ilmu sosial. Dalam menentukan kategori bidang keilmuan tersebut PDII-LIPI menggunakan klas-klas besar Dewey Decimal Classification (DDC) sebagai acuan. Dalam hal ini tidak semua klas DDC yang digunakan namun lebih didasarkan pada jumlah koleksi karya ilmiah terbanyak yang dimiliki atau disimpan oleh PDII-LIPI. Pada saat menentukan klas-klas DDC yang dipakai, Subbidang Pengolahan Literatur mengadakan rapat internal pada awal dan akhir bulan dengan melibatkan pustakawan senior, kepala bidang, dan kepala subbidang yang ada di internal PDII-LIPI. Hal demikian dianggap sebagai langkah efektif untuk menjelaskan tata kerja dan hasil yang ingin dicapai.
Bahasa yang digunakan untuk output kategori dan tipe koleksi adalah bahasa Indonesia, hal ini terjadi karena didasarkan pada kondisi pustakawan serta pengguna yang dalam usaha melakukan pencarian koleksi atau dokumen banyak menggunakan istilah-istilah bahasa Indonesia. Untuk lebih optimal dalam hal proses indexing dan temu balik informasi sebaiknya PDII-LIPI dalam menentukan kategori bidang keilmuan menggunakan bantuan aturan penentuan tajuk subjek seperti Library of Congress Subject Headings (LCSH) dan menerapkan bantuan fitur kata kunci dengan memanfaatkan petunjuk aturan dari tesaurus, DDC cukup hanya untuk nomor klasifikasi. LCSH yang menggabungkan kontrol sinonim serta mampu menunjukkan istilah-istilah yang lebih luas maupun sempit yang saling terkait akan subjek (Chan, 2007:16).

5. Kesimpulan
Kasus model interoperabilitas teknis Aplikasi Perpustakaan Digital LARAS Versi 1.0 di PDII-LIPI aspek manusia merupakan masalah yang cukup kompleks. Hal ini disebabkan kerjasama yang dilakukan oleh berbagai institusi dalam membangun, menerapkan, dan mengembangkan sebuah sistem dokumentasi dan informasi selalu akan menimbulkan berbagai konflik. Masing-masing pihak memiliki kepentingan serta cara pendekatan yang berbeda dalam menyelesaikan semua permasalahan dan kesalahpahaman yang timbul. Oleh sebab itu pengembangan LARAS Versi 1.0 sangat tergantung dari kesiapan sumber daya manuasia dan infrastruktur yang tersedia. Hasil analisis penelitian ini dapat disimpulkan bahwa :
1. LARAS V 1.0 dibangun karena dilatarbelakangi oleh kondisi PDII-LIPI yang ingin berpaling dari ketertinggalan teknologi aplikasi perpustakaan digital, walaupun dibalik semua usaha tersebut terdapat konflik di dalam organisasi PDII-LIPI. Konflik seperti ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Stoner (1982:37), bahwa konflik organisasi merupakan perbedaan pendapat antara dua atau lebih dari anggota atau kelompok organisasi, yang disebabkan karena mempunyai status, tujuan, penilaian atau pandangan yang berbeda. Pembangunan hingga peluncuran LARAS V 1.0 terkesan terburu-buru dan adanya motif ekonomi karena berbasis proyek semata yang diambil alih oleh sebagian pihak atau kelompok. Hal ini menyebabkan Aplikasi Perpustakaan Digital LARAS V 1.0 di atas masih belum sempurna serta berjalan dengan apa adanya.
2. Model interoperabilitas teknis yang diterapkan pada LARAS Versi 1.0 di PDII-LIPI termasuk level gabungan dari Model LISI yaitu level 1, 2, dan 3.
3. Model interoperabilitas teknis LARAS Versi 1.0 yang dikembangkan oleh PDII-LIPI sebenarnya saat ini adalah masih terkait bagaimana pengembangan serta penerapan LARAS V 1.0 itu sendiri secara maksimal, khususnya dari segi metadata, encoding, protokol komunikasi, pangkalan data, indexing.

6. Saran
PDII-LIPI masih sangat berpeluang dalam membangun interoperabilitas teknis yang lebih baik ke depan. Upaya tersebut bisa berjalan lancar dengan syarat adanya sinergi antara pemangku kebijakan, pustakawan, dan Tim Developer LARAS V 1.0. Pihak-pihak tersebut hendaknya secara bersama-sama memiliki kesepahaman tentang aspek model interoperabilitas teknis yang sebenarnya. Kepala PDII-LIPI setidaknya lebih mengaktifkan peran Tim Perencanaan Monitoring Evaluasi yang khusus bertugas memonitor kegiatan PDII-LIPI dalam setiap program, khususnya yang berhubungan dengan pengembangan LARAS V 1.0 dan interoperabilitasnya, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Dalam membangun dan menentukan model interoperabilitas teknis, hendaknya PDII-LIPI berdasarkan kebutuhan pengguna, pustakawan, dan kebijakan lembaga.
Dunia akademis juga memiliki potensi untuk membuka kesempatan kerjasama, baik dengan lembaga perguruan tinggi maupun perorangan dalam melakukan kajian-kajian interoperabilitas. Kajian di atas tidak hanya terbatas untuk bidang perpustakaan saja, lembaga-lembaga informasi lainnya yang sesuai dengan perkembangan serta kebutuhan pengguna perlu dilakukan pengkajian. Bagi dunia akademis yang menjadi pusat kajian dan pengembangan keilmuan khususnya ilmu perpustakaan dan informasi, perlu melakukan penelitian lebih lanjut tentang isu-isu interoperabilitas khususnya dan lingkungan perpustakaan pada digital umumnya. Sejumlah kajian tersebut akan memberi dampak dari praktik penerapan sejumlah standar, kerja sama, dan kebijakan dalam perencanaan strategis yang berhubungan dengan pertumbuhan teknologi serta perkembangan manusia terhadap perubahan teknologi informasi itu sendiri.

Daftar Pustaka

Arms, William Y. (2000). Digital Libraries. USA: MIT Press.

Bungin, M. Burhan. (2007). Penelitian Kualitatif: Komunikasi, Ekonomi, Kebijakan Publik, dan Ilmu Sosial Lainnya. Jakarta: Kencana.

Chan, Lois Mai. (2007). Cataloging and Classification: an Introduction 3th ed. USA: Scarecrow Press.

Chowdhury, G. G dan Sudatta Chowdhury. (2007). Organizing Information: From the Shelf to the Web. London: Facet Publishing.

. (2010). Introduction to Modern Information Retrieval 3th ed. London: Facet Publishing.

Digital Library Federation (DLF). (1998). A Working Definition of Digital Library. Mei 4, 2012. http://old.diglib.org/about/dldefinition.htm.

Interoperability Solutions for European Public Administration (ISA). (2010). European Interoperability Framework (EIF) for European Public Services. Bruxelles: European Commision.

Kadir, Abdul. (2003). Konsep dan Tuntutan Praktis Basis Data. Yogyakarta: ANDI.

Miles, Matthew B. dan A. Michael Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru. (Tjetjep Rohendi Rohidi Penerjemah). Jakarta: UI Press.

Miller, Paul. (2000). “Interoperability: What Is It and Why Should I Want It?” Dalam Ariadne Issue 24. Mei 22, 2012. http://www.ariadne.ac.uk/issue24/interoperability.

National Information Standard Organization (NISO). (2004). Understandaing Metadata. Bethesda: NISO Press.

Pendit, Putu Laxman. (2007). “Jika Dicari, Maka (Seharusnya) Ditemukan” dalam Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi, editor Putu Laxman Pendit. Jakarta: CV. Sagung Seto.

. (2008). Perpustakaan Digital dari A sampai Z. Jakarta: Cipta Karya Karsa Mandiri.

Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah-Lembaga Ilmu Penegetahuan Indonesia (PDII-LIPI). (2011). Library Archive Analysis System (LARAS). Mei 24, 2012. http://www.pdii.lipi.go.id/laras.

Stoner, James A. F. (1982). Manajemen. Jakarta: Erlangga.

Taylor, Arlene G. (2004). The Organization of Information 2nd ed. USA: Libraries Unlimited.

The Open Archives Initiative Organization. (2013). Standards for Web Content Interoperability. Maret 21, 2013 http://www.openarchives.org.

Tolk, Andreas. (2003). Beyond Technical Interoperability : Introducing a Reference Model for Measures of Merit for Coalition Interoperability. Paper dipresentasikan pada The 8th International Command and Control Research and Technology Symposium National Defense University, Washington, D.C., Juni 2003.