Optimalisasi Katalog Online

Pendahuluan

Istilah perpustakaan dijital, perpustakan hibrida dan katalog online meskipun telah didefinisikan dalam berbagai tulisan dari para ahli, tetap saja membuat sebagian pustakawan terutama yang tidak terlalu paham TIK sedikit kesulitan dalam menggunakan istilah yang tepat.

Pada beberapa definisi umum, perpustakaan dijital dinyatakan sebagai perpustakaan yang memiliki katalog online untuk koleksi pustaka fisik maupun dijital. Biasanya, bila ada katalog online, maka akan disediakan pula layanan peminjaman/pemesanan bahan pustaka secara online. Tersedianya sebagian ataupun keseluruhan layanan pustaka secara online sebagaimana secara fisik disebut sebagai perpustakaan hibrida.

Pada beberapa definisi “ekstrim”, perpustakaan dijital dinyatakan sebagai perpustakaan virtual yang “hanya” mengelola koleksi pustaka dalam bentuk dijital (file komputer) secara dijital. Dengan kemajuan teknologi yang semakin pesat, dimungkinkan untuk membangun sebuah perpustakaan digital yang divisualisasikan dengan animasi 3 dimensi terprogram untuk membangkitkan cita rasa mirip realita dalam dunia virtual(virtual reality). Tidak menutup kemungkinan animasi 3 dimensi terprogram juga diterapkan pada perpustakaan hibrida.

Virtual Reality (VR – Realita Virtual) merupakan suatu teknologi yang memungkinkan simulasi komputer terindra seperti kenyataan dengan bantuan perangkat tertentu. Perangkat tertentu inilah yang merupakan kunci interaksi input dan/ atau output antara manusia dengan komputer. Tentu keadaan standardnya adalah manusia dalam keadaan normal tanpa lamunan dan sejenisnya. Sebab setiap manusia telah dikaruniai Tuhan sebuah otak yang luar biasa yang bisa membawa kepada keadaan realita virtual tanpa bantuan perangkat apapun. Sehingga animasi 3 dimensi atau bahkan hanya gambar 2 dimensi pun bila disajikan sedemikian rupa sesungguhnya sudah lebihdari cukup untuk membantu manusia untuk bisa menghadirkan “realita virtual”.

Untuk mewujudkan animasi 3 dimensi terprogram apalagi realita virtual, bagi kebanyakan institusi perpustakaan mungkin masih belum memungkinkan. Hal ini terutama terkait keterbatasan sumber daya. Bahkan bila dibandingkan dengan manfaat yang didapatkan mungkin masih tidak  sebanding. Namun hal ini tidak berarti bahwa cita rasa realita tidak bisa dihadirkan dengan teknologi yang telah dimiliki oleh kebanyakan perpustakaan pada umumnya. Yaitu dengan cara menangkap proyeksi 2 dimensi dari bagian-bagian yang dibutuhkan dari realita untuk kemudian menempatkan pada katalog online sedemikian sehingga pengguna seperti berada di depan rak buku.

Untuk membangun sebuah katalog online 2 dimensi dengan cita rasa realita, maka perlu dilakukan proyeksi dari realita layanan pustaka menjadi informasi katalog 2 dimensi. Tulisan ini akan membahas pengumpulan unsur-unsur apa saja yang bisa ditambahkan baik dari proyeksi 3D tampilan bahan pustaka maupun dari text yang ada dalam hasil proyeksi. Untuk mengetahui seberapa penting unsur-unsur tambahan tersebut bagi pengguna, dalam hal ini digunakan metode survei sederhana yang dikenakan pada sampel populasi/ pengguna.

Realita Fisik
Para pengembang realita virtual, akan mengacu pada realita fisik untuk membuat realita virtual semirip mungkin dengan realita fisik. Observasi secara seksama perlu dilakukan untuk mengetahui bagian mana yang penting untuk disalin dan dibawa serta diterapkan pada realita virtual. Untuk mendapatkan cita rasa realita, maka bagian – bagian penting tersebut perlu dipetakkan menjadi 2 dimensi. Tentunya tidak semua bagian penting tersebut bisa dibawa ke bentuk 2 dimensi dari katalog online. Hanya proyeksi yang dianggap signifikan saja yang akan diambil. Namun untuk tahap awal perlu diketahui realita fisik apa saja yang dilalui pengguna bila membutuhkan bahan pustaka.

Dewasa ini setiap perpustakaan pasti memiliki katalog yang kebanyakan sudah online (OPAC). Pengguna bisa mengakses secara remote via web atau LAN atau langsung lewat komputer anjungan yang disediakan khusus untuk katalog online di suatu perpustakaan. Mengakses katalog, baik online maupun tradisional, adalah salah satu realita fisik.

Realita fisik berikutnya adalah mencari bahan pustaka pada rak sesuai nomor katalog. Pada saat mencari, pengguna pasti secara tidak sengaja melihat-lihat bahan pustaka lainnya yang berada di sekitar bahan pustaka yang dicari. Bisa jadi aktivitas spontan ini dilakukan tanpa memanfaatkan OPAC. Pada saat tersebut, biasanya pengguna melihat informasi tulisan dan gambar yang ada di bagian cover baik depan luar, belakang luar, samping, depan dalam dan belakang dalam. Bahkan tidak jarang, pengguna juga membuka secara acak halaman dalam dari bahan pustaka.

Bagi pengguna yang tidak tahu bahan pustaka apa yang dibutuhkan, pengguna akan melakukan penelusuran ke rak-rak bahan pustaka yang mungkin dia butuhkan. Proses fisik ini tentu cukup menyita waktu dan melelahkan. Tetapi hasilnya bisa sangat memuaskan bila mencari suatu bahan pustaka dan akhirnya menemukan.

Begitulah kurang lebih proses fisik yang harus dilalui oleh kebanyakan pengguna untuk mendapatkan bahan pustaka yang dibutuhkan. Tentu hal ini dikecualikan untuk layanan pemesanan. Sebab hanya satu proses “besar” yang harus dilalui oleh pengguna yang memilih layanan pemesanan. Yaitu menunggu sampai pengguna lain yang meminjam bahan pustaka tersebut mengembalikannya.

Dari realita fisik yang dialami pengguna di atas, diketahui bahwa penelusuran bahan pustaka di rak masih belum mendapat perhatian khusus pada sebagian besar sistem informasi perpustakaan (katalog online dll). Sebab sebagian besar hanya mencantumkan informasi huruf (metadata) dari suatu bahan pustaka hasil pencarian/penelusuran. Kalaupun ada, hanya cover depan luar yang ditampilkan. Itupun ditampilkan dalam bentuk preview/thumbnail (ukuran kecil). Bahkan sering cover depan diambil bukan dari koleksi yang dimiliki, melainkan dari hasil “harvesting” di internet untuk judul buku dan ISBN yang sama. Ini bisa dimaklumi karena katalog online memang berangkat dari katalog “tradisional”.

Untuk efisiensi, teknik harvesting memang bagus dari pada harus melakukan scanning cover dari ribuan bahan pustaka. Namun hasilnya perlu diverifikasi apakah sesuai dengan koleksi yang dimiliki. Mengapa demikian ? sebab buku dengan judul dan pengarang serta penerbit yang sama, bisa memiliki cover yang berbeda bila beda periode cetakan atau beda negara target pasar dan lain-lain. Belum lagi bila ada kesalahan teknis, baik dari pengelola web yang dituju maupun dari algoritma kode program harvesting yang digunakan.

Berdasarkan pengalaman fisik pengguna, maka kita harus memproyeksikan dengan benar cover bahan pustaka bagian depan-luar,  belakang-luar,  samping serta depan-dalam dan belakang-dalam, bila ada, ke dalam katalog online baik dalam bentuk gambar maupun teks. Bahkan, bila memungkinkan, juga beberapa halaman cuplikan isi bahan pustaka diikut sertakan. Informasi dalam bentuk gambar sangat berguna bagi pengalaman visual pengguna. Sedangkan informasi dalam bentuk teks sangat berguna bagi mesin pencari.

Proses proyeksi yang benar dapat dilihat berdasarkan hasil proyeksi. Apapun alat yang digunakan dalam proses proyeksi, baik itu scanner maupun kamera, penting untuk memperhatikan hasil proyeksi. Paling tidak, gambar harus terlihat jelas dan tulisan bisa terbaca. Sedikit distorsi asal tidak terlalu menggangu, bisa ditoleransi.

Berapa kira-kira tempat penyimpanan yang dibutuhkan ? Kalau yang diproyeksikan adalah 5 bagian cover dan 2 halaman isi, maka akan ada 7 gambar proyeksi untuk 1 bahan pustaka. Satu gambar proyeksi bila disimpan dalam format JPG akan berukuran sekitar 200 Kilobita. Untuk 7 gambar, dibutuhkan sekitar 1,4 Megabita untuk setiap bahan pustaka. Bila ada 100.000 buku, maka tempat penyimpanan yang dibutuhkan sekitar 140 Gigabita. Bila masing-masing gambar memiliki preview, biasanya sekitar 1/5 dari file asli, maka total tempat penyimpanan sekitar 168 Gigabita. Jumlah tersebut masih belum sampai separuh dari kapasitas harddisk dipasaran saat ini yang berukuran minimal 500 Gigabita. Bahkan komputer server kelas “low end “ sudah memiliki kapasitas harddisk minimal 1 Terabita (sekitar 1024 Gigabita).

Berikut ini adalah unsur-unsur tambahan baik yang berasal dari proyeksi 3D cover buku maupun yang berasal dari beberapa halaman isi buku:
a. cover depan-luar
b. cover belakang-luar
c. cover samping
d. cover depan-dalam
e. cover belakang-dalam
f. daftar isi
g. beberapa halaman isi buku
h. komentar dari orang terkenal
i. synopsis/ ringkasan/ abstraksi

Hasil Survei

Untuk mengetahui peringkat derajat kepentingan adanya unsur-unsur di atas bagi pengguna, diadakanlah sebuah survei sederhana. Survei ini terdiri dari beberapa pertanyaan pendukung dan 1 pertanyaan utama. Sebanyak 30 responden dipilih secara acak dari populasi pengguna. OPAC yang menjadi dasar dalam survei ini adalah OPAC milik Perpustakaan Universitas Kristen Petra.

Berdasarkan survei di atas didapatkan fakta-fakta berikut ini.

Pengguna  yang tidak pernah berkunjung ke perpustakaan mencapai 3 % responden. Pengguna yang pernah ke perpustakaan tapi jarang (sekali-sekali) mencapai 77 % responden. Pengunjung mingguan mencapai 7 % responden. Dan pengunjung bulanan mencapai 13 % responden.Total mencapai 97 % responden yang pernah berkunjung ke perpustakaan.

Pengguna OPAC mencapai 60 % dari responden anggota perpustakaan. Yang merasa tidak terbantu dengan adanya OPAC mencapai 10 % responden. Yang agak terbantu dan sangat terbantu berturut-turut mencapai 23 % dan 27 % responden, total 50 % responden.

Pengguna yang setia dengan OPAC dalam mencari bahan pustaka mencapai26,7 % responden. Pengguna yang sekali-kali dan sering mengabaikan OPAC dan langsung meluncur ke rak bahan pustaka berturut-turut mencapai 66,6 % dan 6,7 % responden, total 73,3 % responden.

Sebanyak 6,7 % responden menyatakan tidak pernah tertarik meminjam buku karena melihat informasi pada bagian cover buku. Sedangkan berturut-turut 86,6 % dan 6,7 % responden menyatakan pernah dan sering tertarik meminjam buku karena melihat informasi pada bagian cover buku. Artinya, bisa dikatakan bahwa 93,3 % responden  pernah tertarik pada sebuah bahan pustaka karena melihat covernya.

Sebanyak 13 % responden menyatakan tidak pernah tertarik melihat beberapa halaman isi buku secara acak dalam mencari bahan pustaka. Sedangkan berturut-turut 80 % dan 7 %  responden menyatakan pernah dan sering tertarik meminjam buku karena melihat informasi pada bagian halaman isi buku. Artinya, bisa dikatakan bahwa 87% responden pernah tertarik pada sebuah bahan pustaka karena melihat informasi pada beberapa bagian halaman isi buku.

Berikut peringkat derajat kepentingan masing-masing unsur yang didapatkan dengan menjumlahkan pemeringkatan yang diberikan oleh masing-masing responden :
a. cover depan-luar [ 1 ]
b. cover belakang-luar [ 2 ]
c. cover samping [ 7 ]
d. cover depan-dalam [ 5 ]
e. cover belakang-dalam [ 9 ]
f. daftar isi [ 8 ]
g. beberapa halaman isi buku [ 4 ]
h. komentar dari orang terkenal [ 6 ]
i. synopsis/ ringkasan/ abstraksi [ 3 ]

Bila pihak management dari suatu perpustakaan memutuskan hanya bisa menerapkan sebagian saja dari unsur-unsur tambahan tersebut di atas pada OPAC mereka, maka pemeringkatan ini bisa dijadikan dasar untuk memilih dan memilah unsur-unsur mana saja yang bisa dipakai.

Berikutnya,  sebanyak 67 % responden menyatakan mungkin akan terbantu dalam mencari bahan pustaka yang dibutuhkan bila informasi unsur-unsur tambahan  diterapkan dalam OPAC. Sedangkan 33 % responden meyakini, pasti terbantu dalam mencari bahan pustaka. Hal ini berarti peluang untuk bisa mencapai 100 % penggunaan OPAC oleh seluruh anggota perpustakaan adalah dengan menerapakan/menambahkan unsur-unsur tambahan tersebut pada OPAC.

Kesimpulan
Agar keberadaan sebuah perpustakaan hibrida dapat tersosialisasi dengan cukup baik dan dapat diakses secara luas maka diperlukan strategi pemasaran  yang tepat agar semua produk dan layanan yang ada di dalam perpustakaan hibrida dapat diketahui sebelum pengguna datang ke perpustakaan.

Terkait pemenuhan tujuan agar pengguna bisa mengetahui semua produk jasa dan layanan yang ada di dalam perpustakaan hibrida sebelum datang secara fisik ke perpustakaan,  maka perlu ditingkatkan lagi fungsi dan fasilitas dari OPAC sedemikian sehingga tujuan tersebut bisa terpenuhi. Penambahan unsur-unsur baru yang belum ada sebagaimana yang telah dibahas, bisa membantu tujuan ini.

Saran
Dari tulisan ini, selain bisa dikembangkan untuk membuat OPAC dengan fasilitas dan fungsi yang lebih baik dari sebelumnya, juga bisa dikembangkan lebih lanjut untuk membuat Rak Online serta Ruang/Spot Pamer Online.

Tulisan ini bila diimplementasikan, hasilnya sudah sangat dekat dengan Rak Online. Beberapa kode program gratis, seperti Jquery, bisa dimanfaatkan untuk menggerakkan gambar 2 dimensi yang akan menghasilkan efek 3 dimensi seperti sedang berada di depan rak buku.

Ruang Pamer mulai dilirik   untuk diadakan oleh beberapa perpustakaan. Dengan adanya ruang pamer, buku baru maupun buku lama (terutama yang jarang dipinjam) bisa disosialisasikan kepada pengguna. Bila katalog dan rak bisa di-online-kan, maka ruang pamer pun bisa dibuat versi onlinenya.

Daftar Pustaka
Arif Surachman (2007), Digital Library: suatu pemahaman dari sudut pandang perpustakaan, tersedia di : arifs.staff.ugm.ac.id/mypaper/DL_ArifS.doc diakses tanggal 3 Desember 2012.

Joseph R. Levy and Harley Bjelland (1995),Create Your Own Virtual Reality System, Windcrest/McGraw-Hill, Newyork.

Lisa Allen (2005),Hybrid Librarians in the 21st Century Library: A Collaborative Service-Staffing Model, ACRL Twelfth National Conference, Minneapolis.

Ray Prytherch (2005),Tenth ed. Harrod’s Librarian’s Glossary and reference book, Ashgate, Aldershot

Raymond McLeod and George Schell (2007), Management Information System 10/e, Prentice Hall.

Sudaryono – Asep Saefullah – Untung Rahardja (2012), Statistik Deskriptif for IT : Langkah mudah analisis data, Penerbit Andi, Yogyakarta.