Pemantapan Jaringan Pembinaan Perpustakaan Nasional Terhadap Perpustakaan Di Lingkungan Sekolah : Pembudayaan Literasi Informasi Di Kalangan Siswa

 

A. Pendahuluan

           Kata pendidikan sering dilekatkan dengan berbagai makna yang mengandung visi dan misi tertentu. Mulai dari pendidikan sebagai kunci kemajuan peradaban bangsa, pendidikan sebagai sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pendidikan sebagai proses sosialisasi nilai-nilai budaya. Demikian halnya dengan Indonesia, upaya mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi tidak bisa lepas dari proses pendidikan.

           Iklim dan situasi yang dihadapi oleh masyarakat kini memang sudah jauh berubah dan tidak bisa disamakan lagi dengan keadaan dahulu. Berbagai paradigma pendidikan mendapat tantangan yang serius ketika berhadapan dengan kondisi zaman yang bergerak maju. Pendidikan sebagai sarana belajar kian mendapat tantangan, ketika di zaman sekarang masyarakat telah mengubah dirinya menjadi masyarakat informasi.

         Pendidikan di Indonesia mendapat tantangan yang serius, dengan munculnya pelbagai krisis yang melanda nyaris semua tataran kehidupan berbangsa dan bernegara. Pendidikan di Indonesia dalam perjalanannya mengalami berbagai perubahan dalam proses pembelajarannya terhadap institusi pendidikan (Astuti, 2007: 1).

         Sekolah sebagai institusi  pendidikan diharapkan dapat mencetak manusia Indonesia yang cerdas pikir, cerdas raga, dan cerdas hati. Salah satu sarana yang dapat menunjang peran pendidikan tersebut dalam proses belajar mengajar di sekolah adalah perpustakaan. Perpustakaan sekolah dewasa ini bukan hanya merupakan unit kerja pelengkap yang menyediakan bacaan guna menambah pengetahuan dan wawasan bagi siswa, tetapi juga merupakan bagian integral pembelajaran.

         Tuntutan globalisasi dalam dunia pendidikan akhirnya tidak dapat dihindari. Dengan membanjirnya informasi dalam skala global, perpustakaan sekolah diharapkan tidak hanya menyediakan buku bacaan saja namun juga perlu menyediakan sumber informasi lainnya, seperti bahan audio-visual dan multimedia, serta akses informasi ke internet. Akses ke internet ini diperlukan untuk menambah dan melengkapi pengetahuan siswa dari sumber lain. Menyikapi hal ini pustakawan sekolah dan guru perlu mengajarkan kepada siswa untuk mengenali jenis informasi yang diperlukan dan menelusurinya melalui sumber informasi tersebut. Untuk itu diperlukan program pengetahuan tentang literasi informasi di sekolah. Dengan mengikuti program semacam ini siswa diarahkan memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah melalui informasi yang diperolehnya. Kemampuan ini juga kelak akan bermanfaat di kemudian hari dalam meniti perjalanan karirnya (PNRI, 2006: 3).

B. Konsepsi Dasar tentang Literasi Informasi dan Jaringan Pembinaan

          Secara sederhana, literasi berarti kemampuan membaca dan menulis atau melek aksara. Literasi sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat. Lebih jauh, seorang baru bisa dikatakan literat jika ia sudah bisa memahami sesuatu karena membaca dan melakukan sesuatu berdasarkan pemahaman bacaannya (Bukhori, 2005: 2).

         Istilah keberaksaraan informasi atau yang lebih dikenal sebagai literasi informasi berarti seperangkat keterampilan untuk mendapatkan jalan keluar dari suatu masalah yang ada. Keterampilan literasi  informasi mencakup keterampilan mengidentifikasi masalah, mencari informasi, menyortir, menyusun, memanfaatkan, mengkomunikasikan dan mengevaluasi hasil jawaban dari pertanyaan atau masalah yang dihadapi. Keterampilan literasi informasi sangat membantu peserta didik secara khusus dan komunitas sekolah pada umumnya menjadi seorang individu dewasa yang mampu menyelesaikan permasalahan yang dihadapinya secara mandiri (http://www.apisionline.blogspot.com/).

         Jaringan dapat didefinisikan sebagai sejumlah organisasi yang secara formal saling terhubung atau berpartisipasi satu sama lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dan memiliki suatu struktur organisasi. Berbagai aspek tentang sistem jaringan perpustakaan di mana sejumlah perpustakaan saling mengikat janji dan dengan suatu kerangka konseptual mengembangkan pelayanan yang efisien. Hasilnya adalah penghematan baik dalam hal waktu maupun biaya (Siregar, 2005: 13-14).

        Penggunaan teknologi informasi memiliki peran penting dalam pembentukan kerjasama dan sistem jaringan perpustakaan. Teknologi informasi yang meliputi teknologi  komputer dan komunikasi telah memperluas peran perpustakaan dalam menjalin hubungan dengan berbagai institusi, mengubah konsep perpustakaan tradisional dari kepemilikan koleksi ke akses dan penyediaan berbagai jenis pelayanan baru.

C. Perpustakaan Sekolah: Ideal dan Realita

        Perpustakaan sekolah merupakan sumber belajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan. Perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar dan merupakan bagian integral dari lembaga sekolah bersama-sama dengan sumber belajar lainnya bertujuan mendukung proses kegiatan belajar mengajar demi tercapainya tujuan pendidikan sekolah yang bersangkutan.

        Perpustakaan sekolah menyediakan informasi dan ide yang merupakan dasar keberhasilan fungsional dalam masyarakat masa kini yang berbasis pengetahuan dan informasi. Perpustakaan sekolah membekali siswa berupa keterampilan pembelajaran sepanjang hayat serta imajinasi, memungkinkan mereka hidup sebagai warga negara yang bertanggungjawab.

         Masalah yang dihadapi oleh sebagian besar perpustakaan sekolah di Indonesia yang jumlahnya sekitar 225.000 adalah kurang adanya tenaga perpustakaan sekolah yang memadai dari sisi jumlah maupun kompetensinya, kurangnya koleksi sarana dan prasarana, dan kurangnya teknologi informasi di sekolah. Untuk mengatasi hal itu, pemerintah berupaya dengan melakukan berbagai program, diantaranya memberikan pelatihan petugas perpustakaan, block grant dalam pengadaan ruangan perpustakaan, pembelian buku, penyusunan berbagai pedoman dan standar untuk perpustakaan sekolah, serta pengembangan sistem layanan terpadu perpustakaan sekolah (Rachamananta, 2006: 8-9) .

        Lebih jauh lagi, perpustakaan sekolah sering dianggap sebagai sebagai tempat tumpukan dan susunan buku saja. Persepsi ini terjadi karena masih banyak siswa yang belum menyadari pentingnya membaca bagi pengembangan wawasan keimuannya. Sering perpustakaan sepi dikunjungi siswa, karena siswa lebih senang datang ke kantin untuk mengisi perutnya pada saat jeda istirahat. Kalaupun tidak sedang dalam istirahat, saat pelajaran sering tidak dimanfaatkan keberadaan perpustakaan sebagai sumber pembelajaran. Sering terjadi perpustakaan saat jam belajar hanya menjadi tempat untuk memindahkan siswa dari kelas dengan alasan pada saat itu guru sedang tidak hadir. Di kalangan guru masih belum menganggap perpustakaan sebagai salah satu media dan strategi pembelajarannya.

          Kadang petugas perpustakaan sekolah sering tidak siap bila melihat buku-buku berserakan setelah dipakai oleh siswa untuk belajar. Kadang ketidakramahan petugas perpustakaan juga dapat membuat murid malas datang dan berhubungan dengan perpustakaan. Kondisi-kondisi tersebut merupakan realita yang terjadi di lapangan yang akan menyebabkan pembudayaan literasi informasi di kalangan siswa sulit untuk terwujud.

D. Perpustakaan Nasional dan Pembinaan Jaringan Perpustakaan Sekolah
Perpustakaan nasional memiliki peran penting dalam pembentukan infrastruktur kerjasama dan sistem jaringan perpustakaan terutama untuk melakukan koordinasi di antara perpustakaan. Peran yang dilakukan meliputi berbagai bidang seperti pelayanan bibliografis, pengiriman dokumen, dan pelayanan informasi yang memungkinkan perpustakaan dapat saling berbagi sumber daya.
Beberapa contoh kegiatan yang dapat dilakukan perpustakaan nasional untuk mengembangkan perpustakaan sekolah adalah:
1. Sosialisasi standar dan panduan nasional untuk perpustakaan sekolah perlu dilakukan dengan tepat sasaran karena standar dan panduan yang telah dibuat dengan baik masih banyak tidak dimiliki dan dipahami oleh perpustakaan sekolah. Kondisi ini terjadi karena kesempatan untuk mengakses dan mendapatkan standar dan panduan tersebut belum dipahami oleh pengelola perpustakaan sekolah.
2. Perlu menunjuk perpustakaan sekolah model untuk setiap kecamatan, kabupaten, dan provinsi agar dapat dijadikan rujukan bagi perpustakaan sekolah yang lain dalam meningkatkan kualitas perpustakaannya. Penunjukan perpustakan sekolah model dapat dilakukan berjenjang dengan melakukan kerjasama dengan pemerintah daerah setempat.
3. Membentuk komite perpustakaan sekolah  sebagai salah satu badan yang diharapkan akan berkomitmen untuk mengembangkan perpustakaan sekolah dengan melibatkan berbagai pihak yang peduli akan perkembangan dunia informasi.
4. Menyusun kerangka kerja formal untuk kerjasama antara perpustakaan sekolah dan perpustakaan umum sebagai rujukan untuk memanfaatkan peluang-peluang kerjasama yang saling menguntungkan dan media pembelajaran khususnya bagi para pengelola perpustakaan.
5. Memberikan kesempatan sebesar-besarnya bagi pustakawan lewat program pelatihan pustakawan sekolah profesional.  Program pengembangan profesi pustakawan benar-benar tersusun dan tersosialisasi dengan baik agar pustakawan dapat mengagendakan program tersebut dalam penyusunan rencana kerja dan rancangan anggaran perpustakaan sekolah.
6. Memperjelas dan menyusun prosedur penganggaran pengelolaan perpustakaan sekolah serta memberikan peluang-peluang pendanaan lewat anggaran pendidikan yang diberikan untuk sekolah.
7. Memberikan kesempatan bagi masyarakat umum yang berminat untuk melakukan penelitian dan penulisan untuk pengembangan perpustakaan sekolah dengan menyediakan sejumlah dana untuk membantu program penelitian dan penulisan tentang perpustakaan tersebut (PNRI, 2006: 18).

           Perpustakaan nasional memiliki peran strategis sekaligus tumpuan harapan pengelola perpustakaan yang berada di bawahnya termasuk di dalamnya perpustakaan sekolah. Perpustakaan nasional dianggap sebagai referensi utama dalam melakukan proses pengelolaan sebuah perpustakaan.

          Tanggung jawab tersebut membuat perpustakaan nasional harus mampu memperkuat proses pembinaan jaringan pengelolaan perpustakaan. Perpustakaan sekolah sebagai salah satu bagian dari proses pembinan itu harus dibina secara berkesinambungan agar program literasi informasi dapat diterima dan menjadi budaya bagi warga sekolah. Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain:

1. Melakukan pemetaan terhadap sekolah-sekolah yang telah memiliki akses internet dengan sekolah yang belum memiliki fasilitas internet. Tujuannya agar ada penajaman pembinaan jaringan dalam operasionalisasi pembinaannya. Sebagai contoh sekolah yang telah memiliki jaringan internet dilakukan pembinaan dengan melakukan komunikasi secara khusus dan berkala melalui email antara pustakawan sekolah dan pustakawan perpustakaan nasional. Materi pembinaan dapat meliputi rubrik tanya jawab, informasi buku dan referensi terbaru, informasi kegiatan yang berhubungan dunia perpustakaan dan pengembangan literasi informasi. Sedangkan sekolah yang belum memiliki akses internet dapat dilakukan pembinaan dengan memanfaatkan fasilitas lain seperti pos, pengiriman paket kilat untuk komunikasi jarak jauh dengan materi pembinaan yang lebih kurang sama dengan sekolah yang telah memiliki akses internet.
2. Penajaman kembali terhadap program-program kegiatan yang dapat menyentuh langsung pengembangan literasi informasi di sekolah seperti program lomba-lomba yang dapat ditujukan untuk pustakawan sekolah, guru, dan siswa. Lomba tersebut mengingat pustakawan, guru, dan siswa merupakan tiga komponen utama yang akan mendukung keberhasilan program literasi informasi masuk sekolah.
3. Perpustakaan nasional dapat melakukan koordinasi dengan perpustakaan wilayah/daerah agar mengefektifkan stafnya untuk melakukan sosialisasi langsung ke sekolah dengan mata program Perpustakaan Masuk Sekolah. Materi kegiatannya dapat melakukan pembinaan atas kondisi perpustakaan sekolah yang ada di wilayah pembinaannya.
4. Media-media komunikasi berupa majalah/buletin yang selama ini telah dimiliki perpustakaan nasional ditinjau kembali agar tepat sasaran dan bernilai guna. Maksudnya media yang telah disebarkan ke perpustakaan sekolah dilakukan umpan balik dengan cara memberikan apresiasi bagi karya-karya yang dimuat dan menyediakan kolom khusus tentang profil perpustakaan sekolah terbaik bulanan.
5. Menjalin kerjasama dengan pihak-pihak yang relevan untuk mengembangkan literasi informasi di sekolah, misalnya kerjasama dengan pihak telekomunikasi untuk memasukkan jaringan internet ke sekolah-sekolah dengan biaya yang murah dan terjangkau.
6.Perpustakaan nasional perlu melakukan terobosan-terobosan dengan pihak swasta agar kondisi fisik perpustakaan sekolah menjadi layak. Gedung perpustakaan sekolah sudah saatnya bukan hanya sebuah ruangan pelengkap dengan kondisi yang dipaksakan. Pemantauan terhadap gedung dan fasilitas standar minimal nampaknya perlu terus dilakukan agar citra sebuah perpustakaan sekolah dapat menggeser paradigma bahwa perpustakaan adalah  tempat yang menyenangkan untuk belajar.

E. Pembudayaan Literasi Informasi di Lingkungan Pendidikan

           Sekarang ini, generasi literat mutlak dibutuhkan agar bangsa kita bisa bangkit dari keterpurukan bahkan bersaing dan hidup sejajar dengan bangsa lain. Menciptakan generasi yang literat membutuhkan proses dan sarana yang kondusif. Sistem pendidikan perlu direformasi agar mampu mengembangkan kemampuan literasi informasi siswa sejak dini. Pengajaran di sekolah harus lebih diarahkan pada pengembangan kreativitas dan daya kritis siswa. Mulai dari sekolah dasar, siswa harus dibiasakan dengan tugas membaca dan membuat jurnal atau laporan bacaan.

          Pemberlakuan kurikulum yang berbasis literasi informasi oleh pemerintah seyogyanya mampu mendukung gerakan membaca. Untuk tingkat pendidikan TK dan SD, kurikulum berbasis literasi informasi harus mampu menanamkan keasyikan membaca dalam diri siswa, sedangkan untuk tingkat pendidikan SLTP dan SMA diarahkan untuk memahami pentingnya informasi dalam mempermudah proses kehidupan sehari-hari dan sarana menambah wawasan keilmuan siswa.

         Sarana pendukung kurikulum berbasis literasi di sekolah harus menjadi perhatian agar guru bisa melaksanakan kurikulum tersebut secara kreatif. Kreativitas guru bisa menumbuhkan perhatian dan minat membaca siswa. Di antara fasilitas yang bisa meningkatkan kegemaran membaca adalah perpustakaan sekolah. Meskipun kebanyakan sekolah di negara kita sudah memiliki perpustakaan, tidak semuanya memiliki koleksi buku yang memadai atau dikelola dan dimanfaatkan secara profesional. Di negara maju seperti Amerika, setiap sekolah memiliki perpustakaan dengan koleksi buku yang lengkap dan dikelola dengan baik oleh pustakawan yang profesional. Setiap kelas bahkan memiliki perpustakaan kelas masing-masing (Bukhori, 2005: 2-4).

           Penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tidak lagi menjadikan guru sebagai-satu-satunya sumber belajar siswa, melainkan siswa diarahkan untuk menjadi pembelajar yang dapat memecahkan permasalahannya sendiri dengan menggunaan sumber-sumber informasi yang ada. Dengan demikian, seiring dengan proses pembelajaran yang berorientasi pada sumber-sumber informasi tersebut, maka siswa diarahkan menjadi pembelajar seumur hidup, mandiri dalam memecahkan masalahnya serta nantinya menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

          Bagi guru sendiri yang saat ini memiliki kebebasan dalam mengembangkan silabus bidang studi yang diberikan kepada siswa juga akan sangat terbantu jika ketersediaan informasi yang mendukung ada di perpustakaan. Hal ini akan sangat membantu mereka untuk memperluas wawasan dan mengembangkan ide-ide yang kreatif dan menarik yang dapat mereka terapkan dalam proses belajar mengajar. Itulah sebabnya, peran perpustakaan sekolah sangatlah penting dalam suatu sekolah. Hendaknya hal ini juga disadari penuh oleh para kepala sekolah, karena baik tidaknya keberadaan suatu perpustakaan sekolah akan mempengaruhi kompetensinya sebagai kepala sekolah dalam tugasnya mengembangkan sarana dan prasarana sekolahnya (http://www.apisionline.blogspot.com/).

          Kerja sama antara pustakawan dan guru akan mampu mendukung keberhasilan membudayakan literasi informasi. Beberapa langkah yang dapat ditempuh untuk menjadikan literasi informasi sebagai bagian integral dari proses pendidikan adalah:

1. Mendukung dan memperluas sasaran pendidikan sebagaimana digariskan dalam misi dan kurikulum sekolah. Kurikulum pendidikan yang ada harus dikembangkan mengingat otonomi guru dalam pengembangan materi pelajaran merupakan sebuah peluang untuk mempermudah pencapaian kurikulum.

2. Mengembangkan dan mempertahankan kelanjutan anak dalam kebiasaan dan keceriaan membaca dan belajar, serta menggunakan perpustakaan sepanjang hayat mereka. Perpustakaan dapat dijadikan sarana untuk mewujudkan budaya cerdas dengan membaca lewat berbagai kreativitas pengelola perpustakaan dan guru menyusun mata program yang dapat mewujudkan budaya baca.

3. Memberikan kesempatan untuk memperoleh pengalaman dalam menciptakan dan menggunakan informasi untuk pengetahuan, pemahaman, daya pikir dan keceriaan. Menumbuhkan sikap akan pentingnya informasi sebagai kebutuhan dan alat untuk memecahkan berbagai persoalan hidup harus disusun dengan program yang jelas.

4. Mendukung semua siswa dalam pembelajaran dan praktek keterampilan mengevaluasi dan menggunakan informasi, tanpa memandang bentuk, format atau media, termasuk kepekaan modus berkomunikasi di komunitas. Siswa harus disadarkan lewat pemanfaatan secara maksimal media pembuka ilmu dan informasi dalam proses kehidupan sehari-hari.

5. Menyediakan akses ke sumber daya lokal, regional, nasional dan global dan kesempatan pembelajar menyingkap ide, pengalaman dan opini yang beraneka ragam. Mempercepat proses akses informasi lewat media teknologi pendidikan merupakan hal yang mendesak untuk menyalurkan kemampuan diri siswa.

6. Promosi membaca dan sumber daya serta jasa perpustakaan sekolah kepada seluruh komunitas sekolah dan masyarakat luas. Gerakan Membaca di kalangan siswa nampaknya sudah harus menjadi kewajiban dengan merancang target-target pencapaian keberhasilan Gerakan Membaca tersebut (PNRI, 2006: 33).

Untuk dapat melaksanakan program literasi informasi perlu ditunjang oleh:

1. Penyusunan kebijakan kepala sekolah dalam mengkaitkan perpustakaan sekolah dengan program kurikuler maupun ekstra kurikuler dapat dilakukan dengan memanfaatkan perpustakaan secara optimal dalam proses belajar mengajar melalui kegiatan kunjungan siswa ke perpustakaan dengan menghubungkannya pada materi tertentu pada setiap pelajaran. Misalnya siswa diminta untuk membuat resensi buku mata pelajaran. Untuk mengembangkan ke dalam kegiatan ekstra kurikuler perlu dibuatkan lomba-lomba yang berhubungan dengan buku dan informasi.

2. Peningkatan kompetensi pengelola perpustakaan sekolah. Dengan mengikutsertakan pustakawan dalam pelatihan atau upgrading tentang pengelolaan perpustakaan. Kejelian melihat pengembangan diri bagi terwujudnya perpustakaan yang ideal perlu dibina secara berkesinambungan.

3. Peningkatan koleksi perpustakaan yang memadai dilakukan dengan melibatkan partisipasi berbagai komponen sekolah untuk penambahan koleksi perpustakaan secara kualitas dan kuantitas.

4. Peningkatan sarana dan prasarana perpustakaan yang menunjang layanan perpustakaan sekolah termasuk sarana teknologi informasi harus dilakukan dengan kerja keras oleh seluruh komponen sekolah  untuk mencari peluang-peluang agar penampilan perpustakaan sekolah dapat dikatakan layak (Rachamananta, 2006: 7-8).

         Guru dan pustakawan dapat bekerja sama untuk mengaktifkan murid dalam proses pembelajaran  dan mengembangkan keterampilan belajar secara mandiri seperti mengembangkan program literasi informasi dengan mengembangkan semangat bertanya dan selalu ingin tahu dari siswa dan mendidik mereka menjadi pengguna informasi yang kreatif dan kritis.

Perpustakaan dapat dimanfaatkan secara informal sebagai lingkungan yang indah, berbudaya serta merangsang yang memiliki sumber daya berupa majalah, novel dan terbitan lain serta audio-visual. Kegiatan-kegiatan yang dapat diselenggarakan untuk menciptakan lingkungan yang merangsang tumbuhnya literasi informasi di kalangan siswa antara lain:

1. Kegiatan pameran buku, media massa, media audio dan media pembelajaran lain yang akan menjadikan perpustakaan dan sekolah menjadi lembaga ilmiah.

2. Diskusi dengan pengarang setempat sehingga akan muncul motivasi siswa untuk membaca, menulis, dan memanfaatkan informasi.

3. Lomba dongeng dan bedah buku yang disesuaikan dengan tingkatan pendidikan yang dapat menghadirkan seluruh komponen sekolah termasuk orang tua sehingga akan muncul motivasi kuat untuk belajar menyampaikan informasi dengan sistematis kepada masyarakat luas.

4. Memperluas gerakan membaca di lingkungan sekolah dengan memberikan apresiasi dan penghargaan bagi siswa yang berhasil dengan kriteria tertentu dalam menyukseskan program gerakan membaca.

5. Koleksi perpustakaan harus selalu di up date dengan memperhatikan trend bacaan populer di kalangan siswa (PNRI, 2006: 22).
      
F. Penutup

          Upaya-upaya untuk membudayakan literasi informasi dan berbagai programnya akan berhasil dengan pembinaan berkesinambungan dari perpustakaan nasional yang memiliki otoritas untuk mengembangkan perpustakaan sekolah. Pembinaan jaringan perpustakaan terhadap perpustakaan di bawahnya harus dilakukan dengan memperhatikan kondisi dan potensi perpustakaan tersebut, khusus untuk perpustakaan di lingkungan sekolah, proses pembinaannya dapat dilakukan dengan mengangkat potensi pustakawan dan memberikan peluang besar bagi siswa untuk memanfaatkan informasi lewat  berbagai ajang kegiatan menarik yang dapat merangsang siswa dalam hal pemanfaatan informasi. Dengan keseriusan dan kerjasama semua pihak yang berhubungan maka penulis memiliki keyakinan bahwa budaya literasi informasi di lingkungan sekolah dapat terwujud yang akhirnya lambat laun akan membawa perubahan besar dengan munculnya generasi-generasi yang akan selalu memanfaatkan informasi untuk melakukan perubahan.