Pemberdayaan Pedagang Angkringan untuk Membangun Perpustakaan Berbasis Kerakyatan

Perpustakaan adalah tempat seseorang dapat menyantap berbagai macam hidangan pengetahuan dalam bentuk buku. Buku sebagai the window of the world memungkinkan pembacanya menyusuri tempat-tempat yang belum pernah dikunjungi dan bahkan merasakan lezatnya ilmu pengetahuan. Perpustakaan layaknya sebuah bangunan meyimpan artefak-artefak sejarah masa silam yang bisa dijadikan bahan pelajaran bagi manusia yang hidup di zaman sekarang. Namun kita dapat melihat bahwa kenyataan di lapangan menunjukkan sepinya perpustakaan dari pengunjung. Berbagai fasilitas sudah disediakan oleh perpustakaan guna mempermudah layanan dan mempernyaman pengunjung. Hot-spot area, AC, sistem digitalisasi, dan aneka layanan lainnya mencoba untuk memberikan pelayanan maksimal bagi pengunjung. Namun, tetap saja pengunjung di perpustakaan dari hari ke hari tidak menunjukkan perubahan yang signifikan. Kalaupun terjadi peningkatan jumlah pengunjung perpustakaan, tetap saja pengunjung itu masih berkisar antara mahasiswa, pelajar serta kaum akademisi lainnya, baik itu dosen maupun peneliti. Jarang kita melihat adanya rakyat kecil seperti tukang becak, buruh gendong, sopir angkot, tukang parkir atau golongan rakyat kecil lainnya yang mendekati bangunan yang syarat ilmu pengetahuan tersebut.
 
Data yang bersumber dari Kompas  menunjukkan bahwa sekitar 50 persen pengunjung perpustakaan kota Yogyakarta per April 2010 adalah mahasiswa, 30 persen pelajar, dan sisanya masyarakat umum.  Ini menunjukkan penurunan jumlah pengunjung perpustakaan dari kalangan umum, di mana pada tahun 2010 jumlah pengunjung dati kalangan umum hanya mencapai 20 persen. Sedang di tahun sebelumnya, dari rata-rata pengunjung  yang berjumlah 1.630 orang per bulan (data Januari, Februari, Mei 2009), pengunjung umum atau non-pelajar menunjukkan angka 35.80 persen . Pada tataran ini, nampaklah fenomena yang meneguhkan bahwa perpustakaan masih sepi dari pengunjung umum yang notabene adalah rakyat biasa, bukan mahasiswa, pelajar atau kalangan intelektual lainnya.
 
Fenomena masih sepinya perpustakaan dari pengunjung yang berasal dari kalangan menengah ke bawah yang justru lebih membutuhkan asupan ilmu pengetahuan, membuat perpustakaan seperti sebuah gudang ilmu pengetahuan yang hanya diakses oleh kalangan terdidik saja. Fasilitas lengkap yang ditawarkan akhirnya hanya mendongkrak perhatian pengunjung dari kalangan terpelajar semata. Suasana perpustakaan yang cenderung angker dengan buku-buku mahaberat, fasilitas hot-spot bagi yang ber-laptop, suasana hening, serta cueknya antar pengunjung yang satu dengan yang lainnya, membuat perpustakaan lebih mirip seperti gedung mewah yang megah dan melambangkan individulistik yang wah. Yang menjadi pertanyaan di sini adalah, bagaimana cara menciptakan perpustakaan yang ideal bagi rakyat kecil, yang sekaligus mampu menciptakan suasana nyaman, akrab, inklusif dan egaliter antar pengunjung dan menjadikan ruh perpustakaan yang penuh dengan diskusi hangat dapat tercipta di Indonesia? Tulisan ini bertujuan untuk menawarkan solusi bagi terciptanya perpustakaan yang ideal bagi masyarakat bawah, menciptakan perpustakaan yang merakyat, serta menciptakan public sphere dan ruang diskusi yang sehat di perpustakaan.
 
Memberi arti perpustakaan ideal ala rakyat jelata
Menciptakan perpustakaan ideal memanglah tidak mudah, karena sejatinya bukan faktor eksternal atau fasilitas yang menentukan ideal dan ramainya sebuah perpustakaan, tetapi internal factor atau ruh perpustakaanlah yang membuat idealnya suatu perpustakaan dapat tercapai. Tidak dinafikkan bila factor kelengkapan buku, fasilitas AC, digitalisasi, hot spot dan aneka kenyamanan lainnya juga dibutuhkan dalam sebuah perpustakaan. Namun lebih dari itu, suasana nyaman, akrab, lumer, egaliter, serta diskusi hangat antar pengunjung yang terjadi setelah aktifitas membaca buku atau penulis sebut dengan internal factor lebih dibutuhkan guna membuat perpustakaan layaknya rumah sendiri yang membuat pengunjung merasa betah dan nyaman.
 
Perpustakaan ideal di sini adalah perpustakaan yang membuat rasa nyaman dan betah pengunjungnya menikmati santapan bacaan di ruang yang memungkinkan terjadinya diskusi yang penuh dengan keterbukaan, kesetaraan dan keinklusifan yang merakyat, dengan harapan munculnya suatu solusi dari diskusi yang terjadi. Perasaan nyaman dan betah di perpustakaan ini dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya suasana akrab, terbuka, penuh kejujuran, egaliter dan inklusif. Interaksi komunikasi juga dibutuhkan antara pengunjung yang satu dengan yang lainnya agar tercipta suasana yang nyaman dan terbuka ruang diskusi yang cukup lebar. Hal ini senada dengan teori tindakan komunikatif (communicative action) karya Jurgen Habermas dalam ilmu perpustakaan dan informasi.
 
Teori Habermas ini tentu saja sangat dipengaruhi pandangan Teori Kritis atau Sekolah Frankfurt yang menolak positivisme dan anti-kemapanan yang dibangun oleh ilmu-ilmu positivis. Pada intinya, teori tindakan komunikatif menyatakan adanya situasi ideal (ideal speech situation) yang memungkinkan manusia melakukan komunikasi secara terbuka dan setara sebagai basis bagi terciptanya kesungguhan (sincerity), kejujuran (truthfulness) dan interaksi yang intelektual (intelligibility) . Selain itu, perpustakaan yang baik adalah perpustakaan yang mampu memberikan ruang bagi terciptanya public sphere yang sehat.  Public Sphere atau ruang publik merupakan salah satu hak dasar individu maupun masyarakat untuk mengekpresikan kebutuhan dan kepentingannya menyangkut isu-isu politik, pembangunan, ekonomi, sosial, budaya dan lain-lain. Pelaksanaan ruang publik merupakan tanda telah terbentuknya masyarakat madani, di mana setiap masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk bicara, mengemukakan pendapat, serta menolak dominasi. Public sphere di sini haruslah terbebas dari pengaruh negara, pasar, ownership, maupun oleh hegemoni yang lainnya. Setiap orang dalam ruang publik mempunyai hak yang sama untuk bertukar informasi.
 
Konsep public sphere pada awalnya bermula dari sebuah esai Jurgen Habermas pada tahun 1962 berjudul The Structural Transformation of The Public Sphere. Dalam esai tersebut, Habermas melihat perkembangan wilayah sosial yang bebas dari sensor dan dominasi. Wilayah itu disebutnya sebagai ?Public Sphere?, yakni semua wilayah yang memungkinkan kehidupan sosial kita untuk membentuk opini publik yang relatif bebas. Public sphere yang merujuk pada Habermas, diartikan juga sebagai bagian dari kehidupan sosial kita, di mana opini publik atau sesuatu yang mendekati opini publik bisa terbentuk.
 
Ruang publik yang dimaksud Habermas bukanlah prinsip yang abstrak melainkan sebuah konsep yang praktis. Hal ini terlihat dari fenomena obrolan di coffe house (Inggris) abad 18, salon (Prancis) dan tichgesllschaften (Jerman) yang dianggap Habermas sebagai ruang publik. Disitulah forum yang ideal tempat berbagai gagasan didiskusikan secara terbuka. Komentar-komentar yang ada dalam berbagai pemberitaan diperdebatkan. Pada akhirnya, opini yang tercipta mampu mengubah berbagai bentuk hubungan dan struktur sosial kemasyarakatan baik di kalangan kaum aristrokrasi maupun lingkungan bisnis pada umumnya kala itu. Ruang publik seperti ini memungkinkan untuk terbebasnya diri dari pengaruh kekuasaan manapun.
 
Di Indonesia misalnya, kita mengenal komunitas angkringan yang ramai setiap malam di kota Yogyakarta.  Angkringan adalah warung tenda kecil dan sederhana yang banyak dijumpai di daerah Jogja dan sekitarnya. Sekarang angkringan pun telah merambah ke kota besar seperti Jakarta dan sekitarnya. Angkringan merupakan tempat nongkrong rakyat kecil yang menyuguhkan hidangan spesialnya yaitu sego kucing (nasi kucing) dan aneka makanan serta minuman khasnya. Penerangan lampu yang remang-remang pun juga menjadi bagian dari ciri khas angkringan. Angkringan merupakan tempat favorit masyakarakat utamanya wong cilik guna memuaskan hasrat lapar dengan harga terjangkau dan sebagai sarana sosialisasi dan diskusi yang cukup hangat bagi masyarakat. Angkringan di sini, menjadi salah satu tempat di mana public sphere terbentuk dengan baik. Sambil menikmati hidangan khas sego kucing dan wedang jahe, berbagai obrolan mulai dari politik, keamanan, ekonomi sampai isu-isu privat seseorang seperti kasus tetangga yang bercerai sekalipun, menjadi bahan obrolan yang mengalir di sini. Hal yang perlu digarisbawahi dalam konsep public sphere ala Habermas ini ialah orang-orang yang terlibat di dalam public sphere tersebut, seperti dalam komunitas angkringan, mereka memelihara suatu bentuk hubungan sosial yang jauh dari persyaratan kesamaan status, semua boleh terlibat tanpa membedakan status sosialnya.
 
Bertalian dengan teori tindakan komunikatif milik Habermas juga, yang menyatakan bahwa harus ada situasi ideal (ideal speech situation) yang memungkinkan manusia melakukan komunikasi secara terbuka dan setara sebagai basis bagi terciptanya kesungguhan (sincerity), kejujuran (truthfulness) dan interaksi yang intelektual (intelligibility), maka di tempat yang bernama angkringanlah situasi ideal itu terpenuhi. Di angkringan, komunikasi secara terbuka, setara dan cair dapat tercipta dengan mudahnya. Dari komunikasi yang terbuka dan setara inilah, maka muncul kejujuran antar pelaku komunikasi yang bersangkutan.
 
Merakyat juga menjadi kata kunci bagi idealnya sebuah perpustakaan. Perpustakaan yang ideal harus mampu berangkat dari kearifan lokal. Kearifan lokal berupa budaya nongkrong di angkringan sejatinya menyiratkan budaya kebersamaan, keterbukaan serta kesetaraan antar pengunjung. Dari sinilah angkringan berpotensi untuk dibentuk menjadi angkringan buku, yang selain menyediakan hidangan khas, obrolan khas, juga ditambah dengan buku-buku yang mampu menambah ilmu pengetahuan bagi pengunjung angkringan dan memungkinkan diskusi yang lebih sehat di komunitas angkringan tersebut.
Angkringan Buku: Sebuah Bentuk Metamorfosis Angkringan Reguler
Perpustakaan yang ada selama ini masih menunjukkan bentuk formal yang kaku dan belum familiar bagi sebagian orang awam atau golongan umum (selain pelajar, mahasiswa, dan kalangan terdidik lainnya). Suasana perpustakaan yang ditunjang dengan berbagai fasilitas yang lengkap, tidak serta merta membuat perpustakaan layaknya mall yang ramai dikunjungi masyarakat. Perpustakaan masih cenderung tergambar di benak masyarakat sebagai tempat yang belum sepenuhnya merakyat. Suasana individualis masih jelas tercium aromanya di ruangan yang bernama perpustakaan. Hanya kalangan intelektual saja, seperti pelajar, mahasiswa, dosen, guru, pegawai atau peneliti saja yang karena tuntutan pekerjaan membuat mereka berusaha berlama-lama membetahkan diri berada di ruangan perpustakaan. Kalaupun ada pengunjung dari kalangan umum yang benar-benar hobi dan murni membaca dan berniat sungguh-sungguh mengunjungi perpustakaaan guna mencari ilmu, jumlahnya tentu dapat dihitung dengan jari.
 
Kebanyakan masyarakat umum lebih memilih untuk bekerja atau nongkrong dan makan di tempat yang bernama angkringan. Angkringan sendiri berasal dari kata angkring atau nangkring yang artinya duduk santai . Angkringan merupakan sebuah warung makanan dan minuman dengan harga yang sangat terjangkau dan berbentuk gerobak yang ditutup dengan terpal atau tenda plastik. Angkringan dilengkapi dengan kursi panjang yang mampu memuat lima sampai delapan orang pembeli. Terkadang empunya warung angkringan menyediakan tikar bila ada pengunjung yang tidak kebagian tempat duduk.
 
Angkringan bagi sebagian besar rakyat kecil menjadi tempat favorit guna memuaskan hasrat perut yang lapar sekaligus guna mengobrol santai. Suasana akrab dan lumer, terasa khas di angkringan. Angkringan menjadi istimewa karena warga dan interaksi yang terjadi di dalamnya. Angkringan adalah sebuah sistem paling sederhana yang sebenarnya pantas menjadi model untuk hubungan sosial, meskipun tidak bisa mencakup semua aspek. Egaliter atau sederajat adalah ciri khas utama warga angkringan. Public sphere jelas bisa terbentuk dari komunitas angkringan ini. Semua pembeli maupun empunya angkringan tidak akan memperdulikan siapa yang datang ke angkringan. Apabila ada orang yang sudah datang ke angkringan, ia harus siap berbaur tanpa memakai jabatan doktor, insinyur, pengacara, haji, atau yang lainnya. Inilah yang membuat warga angkringan menjadi akrab. Belajar mendengar orang lain sekaligus belajar menyampaikan pendapat pun menjadi aktivitas biasa yang tak membosankan, ditemani hidangan khas angkringan tentunya.
 
Angkringan adalah tempat orang umum atau wong-wong cilik berkeluh kesah dan ngobrol keadaan negara. Diskusi seru biasanya berlangsung di tempat ini.  Namun satu hal yang menjadi khas dari obrolan mereka yaitu terbuka, apa adanya dan jujur dari hati nurani. Hal ini bertalian dengan teori tindakan komunikasi, di mana harus ada situasi ideal (ideal speech situation) yang memungkinkan manusia melakukan komunikasi secara terbuka dan setara sebagai basis bagi terciptanya kesungguhan (sincerity), kejujuran (truthfulness) dan interaksi yang intelektual (intelligibility). Maka, di tempat yang bernama angkringanlah situasi ideal itu terpenuhi. Di tempat yang bernama angkringan inilah, selain public sphere yang tercipta, suasana ideal juga terasa. Hal ini distimulus oleh komunitas warung angkringan yang tidak membeda-bedakan status dan kedudukan. Karena itulah, tidak heran bila dari komunikasi yang terbuka dan setara di angkringan, muncullah kejujuran antar pelaku komunikasi yang ada di angkringan.
 
Pada tataran ini, para pengunjung angkringan secara terbuka membicarakan isu-isu publik hingga privat. Mereka biasa curhat atau menyampaikan keluh kesahnya sampai jam 3 pagi sekalipun. Public sphere yang terbentuk di angkringan ini bersifat inklusif. Para peserta diskusi senantiasa mengaitkan dengan kepentingan masyarakat yang lebih luas dan obyek yang didiskusikan dapat diakses oleh siapa saja, dengan demikian fungsi publik (dalam hal ini sekelompok orang yang berdiskusi di angkringan) adalah pendidik. Pembicaraan mengenai banyak hal inilah yang kemudian membuka jarak sosial dan terkesan lebih merakyat.
 
Di sinilah letak public sphere yang terlihat kental dari warga masyarakat yang bergabung di angkringan. Tak ada jarak antara satu pembeli dengan pembeli yang lain, antara penjual angkringan dengan pembeli, semua berbaur menjadi satu. Suasana akrab dan menyenangkan menyeruak begitu bergabung dengan komunitas yang satu ini. Diskusi-diskusi yang hangat segera dimulai begitu pembeli memadati area angkringan yang tidak begitu luas dan dihiasi lampu yang remang-remang. Aneka diskusi mulai dari diskusi ringan hingga diskusi berat dilontarkan dan saling ditimpali oleh pembeli ataupun penjual di angkringan tersebut.
 
Melihat hal tersebut di atas, tentu ada peluang yang baik guna memasyarakatkan budaya membaca sekaligus guna menciptakan perpustakaan ideal bagi komunitas pengunjung angkringan. Angkringan buku dinilai mampu membuat suasana angkringan lebih ramai dan hangat. Diskusi yang berlangsung pun bisa lebih sehat, karena pengunjung bisa langsung membaca sumber dari buku sehingga tidak terjebak pada diskusi kusir yang hanya menuruti ego masing-masing tanpa dasar yang jelas.
 
Hidangan berupa sego kucing, wedang jahe, sate telur puyuh, tempe mendoan dan aneka sajian lainnya akan lebih terasa lengkap bila, ditambahi dengan hidangan koleksi buku-buku bermutu, surat kabar, majalah, buletin, atau pamflet. Hal ini penting guna melengkapi pengetahuan pengunjung angkringan. Sehingga sajian di angkringan tidak hanya melulu makanan dan minuman, namun juga ada sajian pengetahuan bagi pengunjung angkringan. Bila kemudian para pengunjung setelah membaca buku, surat kabar, majalah, buletin, atau pamflet yang memberitakan tentang tindak korupsi misalnya, kemudian menindaklanjutinya dengan diskusi hangat antar pengunjung, maka public sphere akan tercipta di komunitas angkringan tersebut.
 
Lebih dari itu diskusi yang terjadi tidak hanya diskusi kusir yang menuruti ego masing-masing person, tapi tetap berdasar pada buku atau surat kabar yang lebih menitikberatkan pada fakta. Akhirnya interaksi intelektual ala Habermas juga bisa dibuka dengan wawasan yang luas melalui buku atau surat kabar yang  disediakan di angkringan. Interaksi antar pengunjung bisa lebih berbobot karena berdasar pada buku bacaan yang ada. Suasana hangat, nyaman, egaliter, inklusif akhirnya juga menjadi daya tarik tersendiri bagi angkringan. Bila kemudian potensi ini dimaksimalkan dengan ditambah fasilitas penyedian buku, surat kabar, majalah, buletin, atau pamflet, maka tentu angkringan tidak hanya menjadi tempat berkeluh kesah tentang kondisi ekonomi atau kondisi negara.
 
Selain itu, inspirasi maupun solusi dari permasalahan bangsa tersebut bisa lahir dari komunitas agkringan ini, berkat aktifitas membaca buku dan diskusi yang terjadi. Dari sini, terbentuklah model baru perpustakaan yang merakyat yang menjelma dari sebuah angkringan reguler atau angkringan biasa menjadi angkringan yang dilengkapi dengan buku-buku bacaan yang bermanfaat, surat kabar, majalah, buletin, atau pamflet yang disebut dengan angkringan buku yang harapannya menjadi model perpustakaan rakyat yang ideal. Ideal karena mampu meghadirkan ruh perpustakaan, di mana suasana hangat, akrab, egaliter, dan inklusif serta diskusi sehat bersumber bacaan yang sehat dapat tercipta di lingkungan angkringan. Dalam hal ini diharapkan pemaksimalan peran angkringan dapat tercipta.
 
Butuh Kerjasama dengan Perpusda Setempat
Dalam hal menciptakan dan menumbuhkan angkringan buku ini, kerjasama antara berbagai pihak mutlak adanya. Perpustakaan daerah sebaiknya membuat kerjasama dengan para pedagang angkringan guna penyediaan buku-buku berkualitas di angkringan. Metode yang digunakan adalah metode Rolling, di mana buku-buku yang disediakan oleh Perpusda dipinjamkan kepada pedagang angkringan, kemudian diberi jatah waktu satu hingga dua bulan peminjaman.
 
Setelah jatah waktu habis, Perpusda akan menggantinya dengan koleksi buku yang lain lagi. Kemudian buku yang diambil oleh Perpusda tersebut, diputar kembali untuk dipinjamkan ke angkringan yang lain dengan metode yang sama. Buku-buku yang dipinjamkan ke pedagang-pedagang angkringan sebaiknya buku-buku yang aplikatif dan ringan, sehingga para pengunjung angkringan buku tidak segan membaca. Jangan sampai para pengunjung takut membaca gara-gara melihat ketebalan dan judul bukunya yang terkesan berat. Selain itu, untuk langkah awal tidak perlu buku yang banyak-banyak dipinjamkan ke angkringan buku, cukup sedikit saja tetapi continue, berkesinambungan dan berkelanjutan.
 
Di angkringan buku sendiri juga perlu dibuat peraturan, agar buku yang ada di angkringan dibaca di tempat. Namun bila ada pengunjung yang tertarik untuk meminjam, maka Perpusda di sini juga perlu memberikan layanan berupa satu buah buku peminjaman bagi pengunjung angkringan, agar buku yang dipinjam oleh pengunjung angkringan tersebut tercatat dengan rapi. Metode peminjaman di angkringan buku juga sebaiknya tidak dibuat rumit. Cukup dengan meninggalkan KTP atau SIM dan diadakan denda bagi yang terlambat mengembalikan. Diharapkan denda tersebut bisa di bagi dua, untuk Perpusda dan untuk pemasukan tambahan bagi para pedagang angkringan.
 
Selain itu guna menciptakan suasana yang kondusif perlu ditambahkan fasilitas berupa lampu tambahan yang tidak terlalu terang, agar suasana khas angkringan yang remang-remang tetap terjaga dan agar pengunjung yang ingin membaca buku tidak terganggu penglihatannya karena penerangan yang terlalu minim. Untuk dapat meningkatkan animo para pedagang angkringan agar bersedia memetamorfosiskan angkringan biasanya menjadi angkringan buku, maka bisa diadakan Angkringan Buku Award yang menyediakan hadiah yang besar bagi angkringan yang paling banyak meraup pengunjung yang membaca buku atau meminjam buku terbanyak. Kiranya hal tersebut bisa dilakukan guna pemaksimalan peran angkringan bagi kemajuan bangsa. Perpusda dalam hal ini, tentu tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar guna terealisasinya angkringan buku ini. Pada akhrinya, angkringan buku diharapkan mampu menjadi perpustakaan ideal yang merakyat sekaligus tanpa modal besar.
 
Kesimpulan
Menghadirkan ruh perpustakaan yang hangat, nyaman, akrab, setara, terbuka, merakyat, serta menimbulkan ruang public sphere yang dipenuhi diskusi hangat penuh solusi, menjadi sebuah keniscayaan bagi terciptanya perpustakaan yang ideal. Tidak hanya fasilitas yang dikejar, namun lebih kepada substansi adanya perpustakaan yaitu menambah ilmu pengetahuan pembaca sekaligus menghadirkan inspirasi solusi atas masalah yang ada. Angkringan buku sebagai bentuk perpustakaan ideal model baru yang merakyat, akhirnya menjadi kebutuhan kita bersama di tengah kondisi bangsa yang terpuruk akibat masalah yang tak henti-hentinya melanda. Angkringan yang berpotensi menyedot perhatian wong cilik dengan sajiannya yang khas, berpotensi untuk dimaksimalkan perannya menjadi angkringan buku yang dilengkapi sajian buku-buku yang bermanfaat guna menciptakan perpustakaan ideal yang murah meriah dan tanpa modal. Angkringan buku, harapannya menjadi medium pemuasan hasrat akan ilmu pengetahuan yang ditindaklanjuti dengan diskusi yang tidak berakhir pada diskusi kusir tapi diskusi sehat yang memunculkan solusi mujarab bagi permasalahan yang dihadapi.
 
Saran
1. Perpustakaan Daerah sebaiknya membuka kerjasama dan hubungan dengan para pedagang angkringan dengan menitipkan beberapa buku, surat kabar, majalah, buletin, atau pamflet guna dipinjamkan di angkringan buku ini.
2. Sebagai langkah awal tidak perlu buku yang banyak-banyak, cukup sedikit saja tetapi continue, berkesinambungan dan berkelanjutan.
3. Buku cukup dipinjamkan saja di tempat atau di area angkringan saja. Kalau kemudian pengunjung berkeinginan untuk meminjam, maka metode peminjamannhya dibuat yang sederhana dengan meninggalkan KTP pada penjual angkringan, guna menghindari resiko tidak dikembalikannya buku yang dipinjam. Bila terlambat mengembalikan maka denda bisa digunakan untuk menghindari resiko keterlambatan mengembalikan buku. Denda juga bisa dibagi dua, untuk Perpusda dan untuk pedagang itu sendiri sebagai tambahan pemasukan.
4. Perpustakaan bisa mengadakan Angkringan Buku Award, untuk dapat menarik animo penjual angkringan untuk menyediakan layanan buku. Angkringan mana yang berhasil meraup pengunjung yang membaca buku atau meminjam buku terbanyak, maka berhak mendapatkan hadiah.
5. Penambahan fasilitas berupa lampu, agar suasana di angkringan kondusif untuk membaca.
6. Buku-buku yang disediakan di angkringan sebaiknya buku yang bersifat ringan dan aplikatif.
 
Daftar Pustaka:

Buku:

Benoit, G. 2002. Toward A Critical Theoretic Perspective In Information Systems, dalam The Library Quarterly vol. 72 No. 4.
Boyd-Barret, Oliver.1995. Conceptualizing the Public Sphere, in Oliver Boyd Barret and Chris Newbold, Approach to Media A Reader, New York : Arnold.
Habermas, Jurgen.1993. The Structural Transformation of The Public Sphere An Inquiry into a Category of Bourgeois Society. Translated by Thomas Burger. Cambridge Massachusetts : MIT Press.
Morrow, R.A. dan Brown, D.D. 1994. Critical Theory and Methodology Thousand. Oaks : Sage Publications.
Purwantoro,A. Pembaruan Linguistik Jurgen Habermas dalam Tradisi Teori Kritis, dalam Majalah Filsafat Driyakarya, th.XXIII No. 1.
Supriyanto.2006. Aksentuasi Perpustakaan Dan Pustakawan. Editor: Kosam Rimbarawa dan Supriyanto. Jakarta: Ikatan Pustakawan Indonesia Pengurus Daerah DKI Jakarta.
Trosow, S.E. 2001.Standpoint epistemology as an alternative methodology for library and information science dalam Library Quarterly, vol. 71 no. 3.
Situs:
Budiman, Hikmat. 13 Maret 2004. Kampanye Massal, Ketidakhadiran (Ruang) Publik. Terarsin dalam http://m.infoanda.com/linksfollow.php?li=www.korantempo.com/news/2004/3/13/Opini/52.html. Diunduh pada tanggal 7 Desember 2008 pukul 17.00 WIB.
Chokichim. 03 Februari 2009. Angkringan TTS. Terarsip dalam http://chokichim.blogspot.com/2009/02/angkringan-tts.html. Diunduh pada tanggal 10 September 2009 pukul  22:25:28 GMT.
Gelanggang Muda, Tim. 27 Juli 2009. Tenggelamnya Minat Baca Pelajar. Terarsip dalam http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/07/27/15264136/tenggelamnya.minat.baca.pelajar. Diunduh pada tanggal 21 September 2009 pukul 12:22:39 GMT.
Ire. 24 April 2010. Pengunjung Perpustakaan Meningkat. Terarsip dalam http://cetak.kompas.com/read/2010/04/24/14271657/Pengunjung.Perpustakaan.Meningkat. Diunduh pada tanggal 31 Agustus 2010 pukul 13.05 WIB.
Wibirama, Sunu. 2 Maret 2009. Angkringan. Terarsip dalam http://wibirama.com/2009/03/02/sunu-wibirama-angkringan/. Diunduh pada tanggal 20 September 2009 pukul 03:53:09 GMT.