Pendekatan Antropologi-Budaya dan Kepraktisan Dalam Penentuan Kata Utama Nama Pengarang Indonesia

I. PENDAHULUAN

Pada tahun 2004, tepatnya tanggal 25 Februari, telah diselenggarakan seminar mengenai beberapa persoalan dan gagasan perubahan penentuan kata utama dan penggunaan ejaan untuk tajuk nama pengarang Indonesia. Seminar tersebut bisa dianggap sebuah diskusi lanjutan dari acara serupa yang diadakan pada tanggal 19 Juni 2003, yang juga diselenggarakan di Perpustakaan Nasional RI.

Dua peristiwa tersebut merupakan puncak dari usaha penyampaian aspirasi dan permasalahan yang ingin disampaikan oleh pustakawan, penulis dan pengguna jasa perpustakaan selama lebih dari 10 tahun terakhir. Seminar kedua dihadiri oleh Irma Utari Aditirto, sebagai nara sumber dari kalangan akademisi, dan Dady P. Rachmananta, selaku kepala Perpustakaan Nasional. Minanuddin, seorang pustakawan dari Perpustakaan Nasional, yang mengajukan gagasan mengenai perubahan peraturan mengenai kata utama dan ejaan tajuk nama pengarang Indonesia menjadikan ide tersebut menjadi sesuatu yang berharga bagi perubahan paradigma dalam penentuan kata utama untuk nama pengarang Indonesia.

Di sini penulis mencoba menguraikan beberapa alasan lain yang bersumber dari pengamatan di masyarakat dan pendekatan yang sifatnya Antropologi-Budaya untuk ikut memperkuat alasan mengapa ketentuan  kata utama nama pengarang Indonesia harus pada bagian nama pertama, karena menjadi sangat menarik ketika Perpustakaan Nasional pada tahun 2005 akhirnya mengeluarkan SK Kepala Perpustakaan Nasional RI Nomor 20 Tahun 2005 untuk menetapkan ketentuan baru tentang kata utama pada nama pengarang Indonesia yang jatuh pada nama pertama, bagi penulis hal itu sudah dirasa tepat, karena memenuhi azas kepraktisan dan juga sesuai dengan kebiasaan masyarakat Indonesia

Tulisan ini dimaksudkan juga untuk berbagi pengetahuan kepada rekan pustakawan atau pemerhati masalah penulisan tajuk nama pengarang Indonesia, sekaligus sebagai pendekatan lain yang diambil dari luar ranah Ilmu Perpustakaan.

A. Latar Belakang
Yang menjadi latar belakang pemikiran penulis mengangkat topik ini adalah :
1. Peraturan atau persoalan berkenaan dengan penentuan kata utama (entry word) menjadi penting karena menyangkut bagian dari nama seorang pengarang yang digunakan sebagai dasar dalam penyusunan atau penjajaran tajuk nama pengarang.

2. Penulis ingin memberikan pertimbangan lain untuk mendukung keputusan yang dikeluarkan Perpustakaan Nasional menyangkut kata utama nama pengarang Indonesia sebagai sebuah hasil dari proses diskusi yang panjang (10 tahun).

3. Mencoba memberikan pandangan dari sisi Antropologi-budaya menyangkut penentuan kata utama nama pengarang Indonesia pada kata (nama) pertama disebut.

B. Permasalahan
1. Ketentuan yang selama ini ada mengenai penentuan kata utama nama pengarang Indonesia sudah tidak relevan jika dihubungkan dengan trend/kecenderungan penamaan dewasa ini.
2. Pertimbangan atau alasan yang menggunakan pendekatan bersifat Antropologi-Budaya dan kebiasaan yang ada di masyarakat bahwa bagian nama pertama adalah nama yang diharapkan menjadi nama :
a. yang ingin lebih dikenal
b. yang dijadikan nama diri (proper name),
c. yang selalu diingat orang lain/dijadikan :
i. nama panggilan akrab
ii. nama penghormatan
iii. nama yang dijadikan rujukan/referensi dalam pencarian
3. Pendekatan kaidah struktur kebahasaan.

II. PEMBAHASAN

A. TINJAUAN LITERATUR
1. Pengertian Nama
Nama merupakan properti yang pertama kali diberikan oleh orang tua saat manusia pertama kali dilahirkan di muka bumi ini. Dan semenjak manusia sadar eksistensinya di dunia, sejak itu pulalah ia mulai berpikir akan tujuan hidup, kebenaran, kebaikan, dan Tuhannya. Juga, ketika manusia mulai berinteraksi dengan alam, dengan sesamanya, dan menjadi bagian dari sesamanya, mulailah ia sadar juga akan identitas dan kepentingannya sendiri, orang lain dan alam semesta .

Nama memang bukan topeng. Ia adalah tanda yang mewakili semesta persoalan yang kompleks. Nama akan senantiasa melekat terus pada setiap individu. Contoh konkret adalah nama dipakai untuk identitas diri, baik KTP, KK. Sertifikat, SIM, Paspor dan semua bukti identitas diri lainnya. Praktek pemberian nama (naming) merupakan manifestasi kondisi psikologis masyarakat pada tatanan makro, yakni : bagimana mencitrakan dirinya (inner world) dan bagaimana memunculkan citranya ke dunia luar, yang selanjutnya merefleksikan struktur berfikir dari warganya. (Dede Kosasih, 2010).

Nama merupakan istilah  rujukan (reference term) yang sangat penting dan umum dipakai dalam komunikasi sehari-hari, baik disertai unsur lain seperti gelar ataupun tanpa embel-embel apapun (lihat Ervin-Tripp 1972; Murphy 1988; Lukmana 2002). Nama itu adalah simbol bagi individualitas (Pei , 1974). Dalam konteks ini, nama dapat digunakan untuk merujuk pada diri sendiri (penutur), orang kedua (yang diajak bicara), maupun orang ketiga (yang dibicarakan). Menurut Pei (1974) secara gamblang, pemberian nama merupakan hasil pemikiran beradab (Dede Kosasih, 2010).

Nama bisa bermakna sosial budaya (sosio cultural) termasuk agama masyarakatnya (Dede Kosasih, 2010). Menurut Suparlan (1980), simbol-simbol yang ada itu cenderung untuk dibuat atau dimengerti oleh warganya berdasarkan atas konsep-konsep yang mempunyai arti yang tetap dalam suatu jangka waktu tertentu. Pada dasarnya konsep pemberian nama dapat merujuk pada apa saja, bisa manusia, binatang atau benda. Oleh karena itu, proses penamaan sering dianggap manasuka atau arbitrer (Lyon, 1995). Namun demikian, untuk beberapa kasus, seperti yang akan dijelaskan berikut ini :

– Pertama, penamaan justeru  ini adalah bersifat sistematis. Salah satu bukti kesistematisan ini adalah hubungan antara nama dan jenis kelamin; hampir semua nama dalam bahasa mengandung implikasi jenis kelamin (Allan, 1995).

– Kedua, dalam sejumlah bahasa, “kosakata” untuk nama tampaknya sudah terbatas, seperti nama-nama dalam bahasa Inggris yang relatif sudah tersusun ketat, bahkan sudah dikamuskan (Hornby, 1974)

– Ketiga, sistem penamaan dalam masyarakat tertentu sudah begitu terikat oleh aturan yang relatif kaku, dimana seseorang menyandang nama tertentu berdasarkan misalnya urutan kelahiran, seperti yang terjadi pada masyarakat Buang (Hooley, 1972) atau Bali (Geertz, 1973).

Pemberian nama dalam berbagai budaya tampak sangat diwarnai oleh kondisi sosial budaya yang dianut oleh masyarakatnya. Misalnya nama-nama yang diberikan (given names) kepada anak-anak keturunan anglo-saxon sangat diwarnai oleh nuansa Kristianitas (Hornby, 1974); nama-nama etnik melayu diwarnai oleh nama-nama Arab. Menurut Sahid Teguh Widodo (2005) dalam Dede Kosasih (2010), ada tiga sudut pandang dalam kosmologi sistem nama diri suatu masyarakat, yaitu :

1. Static view, yaitu sudut pandang yang mengamati nama sebagai objek atau bentuk ujaran (verbal) yang statis, sehingga dapat diklasifikasi, diuraikan dan diamati bagian-bagiannya secara mendetail dan menyeluruh dengan ilmu dan teori-teori bahasa.

2. Dynamic view, yaitu suatu pandangan yang melihat nama dalam keadaan bergerak dari waktu ke waktu, mengalami perubahan, perkembangan, dan pergeseran bentuk dan tata nilai yang melatarbelakanginya.

3. Strategic view, yaitu aspek strategis dari akumulasi fenomena, termasuk segala bentuk perubahan dan perkembangannya, dan lebih jauh mengenai hubungan kebudayaan dengan bahasa, khususnya dalam nama diri. (Dede Kosasih, 2010)

2. Nama dalam Ranah Ilmu Perpustakaan

Pengaturan nama orang dalam ranah Ilmu Perpustakaan merupakan bagian dari kegiatan pengolahan nama pengarang/penulis sebuah karya atau bahan perpustakaan, yang tercakup dalam kegiatan pengindeks-an.

Dalam pengindeksan atau lebih tepatnya pengatalogan deskriptif dicakup kegiatan penentuan tajuk entri (utama) nama pengarang. Bagi pustakawan di Indonesia, umumnya digunakan dua buah pedoman untuk mengatur pekerjaan tersebut, yaitu Anglo American Cataloguing Rules edisi ke-dua (AACR 2nd ed.) tahun 1998 pada rule 22.26 dan Peraturan Katalogisasi Indonesia edisi ke-4 tahun 1996 pada peraturan 25.4.

Kedua peraturan tersebut tersebut bertujuan untuk memberikan pedoman umum dan arahan teknis dalam menentukan kata utama (main entry) nama pengarang Indonesia.

3. Penentuan Kata Utama
Penentuan kata utama pada bagian atau unsur terakhir (seperti selama ini dilakukan) tidak jelas dasarnya. Diduga (menurut Irma Utari Aditirto) akibat pengaruh nama Barat dan pertimbangan kepraktisan.  Dugaan ini sangat mungkin benar. Sementara masyarakat luas juga kurang memahami tentang fungsi tajuk, dan upaya pembakuan nama sebagai entri tajuk. Mereka mengenalnya dengan  istilah “perubahan nama”. Oleh karena itu sebetulnya masih banyak yang perlu dibahas sampai tuntas.

Pemecahan masalah pola nama pengarang Indonesia  yang kompleksnya bisa membawa kekhawatiran dalam menetapkan peraturan akan timbul sikap kompromistis, atau sikap cari jalan keluar yang gampang dan praktis. Peraturan yang yang ditetapkan berdasarkan prinsip-prinsip yang sesuai dengan tujuan authority control dan tuntutan bibliografis lain, dan sekaligus sesuai dengan keanekaragaman budaya Indonesia. Peraturan tersebut mungkin akan sulit dipraktekan di lapangan, dan mengundang resistensi bagi yang menerapkannya. (Irma Utari Aditirto, 2003)

Irma Utari Aditirto menegaskan akan perlunya daftar kendali, “Peraturan AACR2 Revisi 1998 menetapkan bahwa apabila nama seseorang terdiri atas beberapa bagian, maka yang dipilih sebagai kata utama (pertama) ialah bagian dari nama yang lazimnya akan menjadi bagian pertama dalam daftar-daftar alfabetis yang berotoritas dalam bahasa atau negara tempat tinggal orang bersangkutan”.

Peraturan ini (Peraturan 22.4A dalam AACR2 1998) menentukan bahwa apabila diketahui bahwa seorang lebih menyukai kata utama lain (lain dari yang ditentukan oleh peraturan), maka preferensi orang tsb. diikuti. Masalahnya tentu saja, bagaimana pengkatalog dapat mengetahui preferensi ini, atau bagaimana seseorang dapat menyatakan pilihannya?

Di dalam menjelaskan fungsi tajuk, Irma U. Aditirto menjelaskan bahwa salah satu unsur yang sangat penting dalam proses temu kembali dokumen (informasi) adalah “predictability” yang tercipta berkat keteraturan dan keseragaman. Apabila penelusur sudah menenal dan terbiasa dengan pola-pola tertentu maka ia bisa predict (meramalkan) pada bagian mana suatu nama terdaftar, dan di mana ia harus mencari.

Bisa saja dikatakan demikian pada kasus yang bernama marga, akan tetapi tetap sulit untuk nama orang yang tidak memiliki ciri nama kolektif (nama keluarga, marga). Prinsip predictability tersebut bisa saja muncul sebagai akibat yang dihasilkan oleh ketentuan yang lama. Predictability bisa dibangun kembali dengan cara men”sinkronisasikan” kembali dengan kebiasaan penulisan/pengenalan nama di masyarakat Indonesian yang sudah terpasung selama kurang lebih 50 tahun oleh ketentuan lama.

Semasa Orde Baru keluar Instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudajaan no, 17485 tgl 18 Juli 1961 yang antara lain berbunyi:  Mengenai nama panggilan, chusus dimintakan perhatian agar membuang kebiasaan mempergunakan bentuk diminutif (kata panggilan)  ke-Belanda2-an atau ke-Barat2-an sebagai misal Fransje, Mieke, Mientje, Wiesje, Wimpie dsb dan panggilan terhadap Ibu Bapak dengan Mammie, Papie atau Mummy and Daddy. Panggilan2  tsb. mungkin terdengar manis bagi orang Belanda/Inggeris tetapi tidak akan meresap djiwa Indonesia (Sulistyo Basuki, 2003).

Penulis ingin mengomentari bahwa pemerintah sebenarnya sudah menyampaikan kemauannya untuk meninggalkan sistem penamaan dari Barat, seharusnya oleh perumus peraturan kata utama hal ini dicermati untuk kemudian dijadikan bahan dalam menentukan kata utama, sehinga tidak selalu mengacu kepada nama Barat.

Sulistyo Basuki (2003) menyatakan bahwa “Penelitian nama dapat dilakukan dari berbagai sudut disiplin ilmu misalnya disiplin Antroplogi, Geografi, Sejarah maupun Ilmu Perpustakaan.” Penulis mengambil pendekatan yang lebih bersifat Antropologi-budaya dalam menilai dan menentukan kata utama nama pengarang Indonesia yang secara umum jatuh pada nama yang disebut pertama.

Peraturan yang menyatakan kata utama menurut bagian nama terakhir memilik kelemahan diantaranya adalah “…Ada pendapat yang mengatakan bahwa panggilan pada nama terakhir bukan merupakan kebiasaan yang ada di Indonesia (Sulistyo Basuki, 2003)
Selanjutnya Sulistyo Basuki menyebutkan “Kalau memperhatikan entri pada berbagai buku rujukan seperti direktori, biografi, buku telepon maka kita dapat mengetahui bahwa tidak ada penyusunan nama yang baik, bahkan buku telepon cenderung menggunakan bagian pertama”. Hal tersebut mungkin terjadi karena pelanggan diminta untuk menentukan nama yang akan disusun dalam buku direktori.

Di dalam makalah kertas kerjanya, Minanuddin menuturkan bahwa “di Indonesia, nama ganda pengarang memiliki berbagai variasi yang dilatarbelakangi oleh budaya atau isu budaya dari berbagai etnis di Indonesia. Beberapa contoh nama ganda Indonesia dikemukakan dibawah ini :

– nama diri sesorang, contoh B. Mustafa
– nama diri + nama orang tua, contoh Abdurrahman Wahid
– nama diri + nama suami, contoh Meutia F. Swasono
– nama diri + suami + nama orang tua, contoh nani suwodo-Surasno
– nama diri + nama keluarga/surname, contoh Gerson Poyk
– nama diri + nama marga/clan name, contoh Rinto Harahap
– nama yang mencirikan senioritas + nama diri, contoh Putu Wijaya
– nama yang mencirikan kelompok kasta dan senioritas + nama diri, contoh I Gusti Ketut Djelantik.

Pembagian variasi nama orang Indonesia, menurutnya, merupakan pengelompokan yang cukup representatif.

Selain unsur di atas, pada sebagian nama seseorang sering juga terdapat unsur nama baptis, serta tambahan gelar, termasuk gelar keagamaan, kebangsawanan, gelar adat, dan gelar administratif. sejumlah unsur yang terdapat pada nama ganda tersebut sebenarnya dapat dipilah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama adalah nama ganda dengan ciri pengenal kolektif, yaitu nama yang memiliki ciri pengenal tertentu yang berlaku secara umum dalam suatu kelompok masyarakat, seperti nama yang mengandung :
– nama keluarga, tedapat pada nama orang Minahasa, Sangihe Talaud, Nusa Tenggara Timur, Ambon,dll.
– nama arga, tedapat pada nama orang Batak.
– nama yang mencirikan kelopok kasta dan seioritas, terdapat pada nama orang Bali.

Kelompok kedua, adalah nama ganda dengan ciri engenal terbatas, yaitu nama yang hanya merupakan nama diri seseorang atau nama diri ditambah nama suami dan atau nama orang tua, seperti biasa terdapat pada nama orang Jawa (Minanuddin)

Dalam AACR, peraturan tersebut tetap berlaku meskipun kata utama (nama keluarga, marga, dsb.) dari nama pengarang merupakan singkatan (AACR, 22.5A1). Sebagai contoh, tajuk untuk nama pengarang Michael G. adalah G., Michael (Minanuddin). Pada nama Barat memang berat untuk melepaskan nama keluarga, walaupun hanya inisialnya (singkatannya), akan tetapi untuk orang Indonesia yang tidak mengandung nama kolektif, bahkan tidak menjadikan masalah, karena nama dirinya (proper name) memang dimulai pada nama pertama.

Peraturan Penentuan kata utama Tajuk nama pengarang Indonesia yang lama

Dalam AACR Peraturan 22.26 dan Pedoman Katalogisasi Indonesia 25.10.3, ditentukan bahwa kata utama untuk tajuk nama pengarang Indonesia yang terdiri dari 2 bagian atau lebih (nama ganda), ditentukan pada bagian nama terakhir (Minanuddin).

Ketentuan yang sama juga dapat ditemukan pada peraturan lainnya yang pernah dibuat di Indonesia, yaitu Standar Penentuan Tajuk Entri dan Katalogisasi nama-nama Indonesia : nama peorangan dan nama badan korporasi. Dalam ketentuan tersebut, tidak menjadi pertimbangan apakah bagian nama yang terakhir tersebut merupakan nama diri pengarang itu sendiri, ataukah merupakan nama keluarga (termasuk nama marga dan yang sejenis), nama ayah, nama suami, atau nama gelar tradisional (Minanuddin)

Gagasan Penentuan kata utama pada bagian nama yang disebut pertama

Dalam kertas kerjanya, dijelaskan bahwa di dalam peraturan umum mengenai kata utama nama pengarang, daftar alfabetis terkendali merupakan sumber acuan untuk diikuti dalam penentuan kata utama tajuk nama penarang. oleh karena itu, daftar alfabetis terbitan Indonesia perlu menjadi acuan dalam pembahasan menyangkut penentuan kata utama nama pengarang Indonesia. Di dalam beberapa terbitan seperti Ensiklopedi Indonesia, Ensiklopedi Islam Indonesia dan Ensiklopedia Sunda menunjukan pola yang cenderung menempatkan kata utama pada bagian nama yang disebut pertama kali. Sementara pada terbitan Apa dan siapa : sejumlah orang Indonesia 1983-1984, kata utama umumnya pada nama terakhir, dan pada terbitan Siapa dia? : perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat, kata utama bervariasi pada nama depan, nama tengah dan nama belakang, sehingga tampak tidak memiliki pola umum yang konsisten.

Selanjutnya Minanuddin, menguraikan alasannya yang didasarkan pada persoalan keselarasan dalam peraturan, bahwa di peraturan umum menyebutkan adanya “penghargaan terhadap pilihan pengarang dan daftar alfabetis terkendali dari lingkungan bahasa, negara dan aktivitas pengarang”, sedangkan peraturan khusus untuk penetapan kata utama tajuk nama pengarang Indonesia menentukan kata utama untuk nama pengarang yang terdiri dari dua unsur atau lebih ditetapkan pada bagian nama terakhir. Di  sini terlihat :
– adanya ketidakselarasan antara peraturan umum dan peraturan khusus.
– kesan pengabaian pilihan pengarang dan daftar berabjad terkendali di Indonesia, sehingga susunan tajuk untuk nama seorang pengarang berbeda dengan keinginan atau pilihan pengarang yang memiliki nama itu sendiri, atau berbeda susunannya dengan susunan nama yang terdapat pada daftar berabjad terkendali terbitan Indonesia.

Terakhir, Minanuddin menyimpulkan bahwa untuk pengarang yang namanya tidak memiliki nama keluarga/marga, ketentuan tersebut menimbulkan persoalan karena menyebabkan kata utama untuk tajuk namanya bukan pada nama diri pengarang itu sendiri atau bukan pada bagian nama yang diinginkan oleh si pengarang, tetapi pada bagian nama lain seperti pada nama ayah atau nama suami, ketentuan ini agaknya tidak diinginkan oleh sebagian pengarang.

Dalam pangkalan data elektronik milik sebuah perpustakaan pernah ditemukan sejumlah nama untuk seorang pengarang, yakni An Fauzia Rozani; An Fauzia R.; A.F. Rozani; dan A. Fauzia. Dapat dibayangkan kerumitan yang terjadi ketika nama tersebut dibalik mengikuti Anglo-American Cataloguing Rules 2nd Ed. (AACR2) atau aturan-aturan lainnya (Ardoni).

Pemakai yang pada umumnya orang Indonesia lebih terbiasa dengan nama pengarang seperti yang tertulis pada buku atau dokumen tulisan pengarang tersebut, yakni nama yang belum “dikenai” peraturan yang diberlakukan di perpustakaan. Barangkali perlu dipertimbangkan untuk membuat aturan seperti yang diterapkan untuk nama-nama orang Malaysia. Bukankah tidak ada keharusan bagi pustakawan untuk mengikuti aturan pembalikan nama seperti nama pengarang di Barat? Apalagi bila diingat dalam Statement of Principles yang diterima pada International Conference of Cataloguing Principles di Paris tahun 1961 (Irma Utari Aditirto, 2003) dinyatakan bahwa “When the name of a personal author consists of several words, the choice of entry word is determined so far as possible by agreed usage in the country of which the author is a citizen, of, if this is not possible, by agreed usage in the language which he generally uses” [Bila nama pengarang perorangan terdiri dari beberapa kata, pemilihan kata utama ditentukan sedapat mungkin sesuai dengan kesepakatan yang berlaku di negara si pengarang, dan jika tidak memungkinkan, maka pemilihan disesuaikan dengan penggunaan yang disepakati dalam bahasa yang digunakan oleh si pengarang].

Dengan memilih kata utama persis seperti tertulis di dokumen ada beberapa hal yang menjadi lebih mudah. Pustakawan tidak “disibukkan” dengan aturan-aturan, melainkan cukup menyalin nama pengarang dari dokumen. Pemakai dapat mencari bahan pustaka melalui kata utama sesuai dengan kebiasaan yang terdapat di Indonesia dan tidak “dipusingkan” dengan nama yang dibolak-balik. Tentunya masih ada pengecualian untuk nama yang ditulis seperti M. Arif yang perlu dibalik menjadi Arif, M. karena pertimbangan tiga huruf pertama pengarang yang terdapat dalam call number (notasi pengenal) (Ardoni).

B. PEMBAHASAN MASALAH
1. Uji Dua Pendekatan  
Berikut dapat diperhatikan uraian kelemahan dan kelebihan dari dua pendekatan paling dominan yang diuraikan oleh Sulistyo Basuki (2003) dengan sedikit suntingan pada bagian yang signifikan menurut penulis.

* Pendekatan  pada bagian nama pertama atau secara langsung (straight order)

kelebihan :
– lebih praktis
– nama diri terakomodir

kelemahan :
– bagian nama pertama disingkat
– sulit diterapkan pada nama yang mengandung nama keluarga/marga
– nama yang masih ada hubungan keluarga menjadi terpisah (Sulistyo Basuki, 2003)

* Pendekatan menurut bagian nama terakhir

kelebihan :
– memperhatikan keberadaan nama keluarga/marga
– luwes karena sistem ini sudah berjalan 50 tahun

kelemahan :
– tidak semua nama terakhir adalah nama keluarga
– ada pendapat yang mengatakan bahwa panggilan nama terakhir bukan merupakan kebiasaan yang ada di Indonesia
– penyusunan di buku telpon tidak mengikuti kaidah ini
– tidak dapat diterapkan pada nama yang diakhiri dengan inisial
– tidak dapat diterapkan pada nama yang menggunakan nama keluarga majemuk seperti Magdalena Pinajungan-Mahdi
– tidak dapat diterapkan pada nama yang menggunakan tanda sambung seperti Luki-Wijayanti
– tidak dapat diterapkan pada nama-nama Cina
– tidak dapat diterapkan pada nama yang diikuti gelar adat (nama Minangkabau, Tapanuli) (Sulistyo Basuki, 2003).

Nampak jelas dari uraian di atas bahwa penentuan kata utama berdasarkan pendekatan pada bagian nama terakhir memiliki banyak kelemahan.

Selanjutnya, pada keputusan atau ketentuan baru yang dikeluarkan Perpustakaan Nasional khususnya yang menyangkut penentuan kata utama nama pengarang Indonesia, jika dihubungkan dengan trend/kecenderungan penamaan dewasa ini dan juga pertimbangan yang sifatnya budaya atau kebiasaan yang ada di masyarakat, dapat diuraikan bahwa nama yang pertama disebut adalah nama yang diharapkan menjadi nama :

a. yang ingin lebih dikenal
Di masyarakat kita, umumnya orang ingin dikenal melalui bagian nama pertamanya. Misalnya pada proses perkenalan, seseorang mengatakan “nama saya Agus, Agus Firmansyah”, tidak pernah orang Indonesia memperkenalkan dengan menyebut bagian nama belakang atau nama terakhir terlebih dahulu. Hal ini juga terjadi pada masyarakat yang menyandang nama keluarga atau marga. Misalnya “perkenalkan nama saya John, John Situmorang…….”. Berbeda dengan masyarakat Barat, orang Barat memperkenalkan dirinya dengan terlebih dahulu menyebut bagian nama belakang/terakhir atau nama keluarganya, misalnya…”hallo, I am Smith, John Smith”.

b. yang dijadikan nama diri (proper name),
Pada kasus pencantuman pada surat nikah, misalnya Abdul Aziz bin Suud Abdullah, Abdul Aziz adalah nama orang yang menikah sedangkan Suud Abdullah adalah nama Ayahnya, nama belakang ke-dua orang tersebut tidak sama, atau sama sekali tidak terlihat menunjukan hubungan keluarga, padahal jelas hubungan mereka adalah anak dan ayah.

Menurut Dede Kosasih (2010) dijelaskan bahwa terdapat makna kosmologis pada nama, salah satunya adalah makna: strategic view, dapat dikatakan bahwa nama akhirnya menjadi bentuk tak kentara dari strategi hidup manusia secara berkelanjutan, dalam membina kehidupan berkeluarga, orang tua memiliki keinginan, cita-cita, doa, misi hidup, dll. Dan semua itu diejawantahkan ke dalam pemberian nama. Nama Abdul Aziz, secara eksplisit tidak terlihat hubungannya dengan nama ayahnya, Suud Abdullah, namun secara implisit, nama itu menyimpan harapan orang tuanya agar kelak anaknya mungkin menjadi orang besar seperti Raja Arab Saudi.

c. yang selalu diingat orang lain atau dijadikan :
– Nama panggilan akrab
Nama depan, umumnya merupakan nama panggilan (akrab), atau sebagian orang menyebutnya dengan istilah “nama kecil”. Ada hal yang menarik, di masyarakat Batak, menurut T.O. Ihromi (1999) : “Di Medan orang Batak dewasa antara mereka biasanya menggunakan bahasanya sendiri dan nama kecil sama sekali tidak digunakan dalam sapa-menyapa.

Bila berhubungan dengan orang yang bukan Batak, mereka menggunakan bahasa Indonesia, saling menyapa dengan kata sandang bahasa Indonesia, dan saling menyebut nama kecil.” Hasil penelitian tersebut sangat jelas menggambarkan bahwa penyebutan nama kecil lebih dominan dari pada nama marga sekalipun. Masyarakat Batak bahkan menggunakan nama kecil (mengesampingkan nama marganya) saat berhubungan dengan suku yang lain.

– nama penghormatan
Pada sebagian besar masyarakat Indonesia, seseorang biasanya memberi penghormatan sebelum menyebutkan nama seseorang, contoh Tuan Syarief Hidayat (misalnya tulisan pada resep dokter :  Kepada Tuan Syarif  Hidayat), atau Pak Hamzah Achmady, nama diri tertulis lengkap. Tidak pernah atau jarang orang Indonesian mengatakan Tuan Hidayat atau Pak Achmady (dengan tidak menyebut nama depannya).

– nama yang dijadikan rujukan/referensi dalam pencarian
Misalnya pada kasus banyak orang bernama depan Deden, misalnya Deden Sumirat, Deden Mudiana, Deden Girmansyah. Orang Indonesia tetap akan menggunakan nama Deden saat mencarinya (termasuk pada kasus pencarian nama pengarang buku).

Setelah memperoleh sekian nama Deden, baru kemudian dilihat nama belakangnya, apakah orang tersebut yang dimaksud atau bukan. Begitupun pada kasus menentukan jati diri seseorang, umumnya digunakan nama depan sebagai referensi pertama, misalnya si Joko, yang anak pak Husin, bukan anak pak Darminto), padahal Joko mungkin saja memiliki nama belakang, umpamanya Joko Sutrisno, atau Joko Lelono.

Dalam mengingat nama, orang Indonesia melakukannya dengan nama yang paling dikenal yang umumnya adalah bagian nama pertama. “Kebiasaan ini bahkan bisa mendukung konsep yang dikenal dengan azas predictability.

2. Pendekatan kaidah kebahasaan (Kaidah Bahasa Indonesia)

Penulis ingin sedikit mengulas pembentukan nama diri orang Indonesia dari sudut kaidah struktur bahasa Indonesia. Struktur bahasa Indonesia berpola DM (Diterangkan / Menerangkan), bila dikaitkan dengan pola penamaan di Indonesia, bisa dijelaskan bahwa bagian nama pertama adalah sesuatu yang “diterangkan”, dan bagian nama kedua, ketiga, dst. adalah bagian nama yang “menerangkan” (nama pertama). Sehingga muncul pola penamaan seperti Iwan Setiawan (Iwan, orang yang setia) , Agus Darmawan (Agus, orang yang penderma), Arief Budiman (Arief, orang yang berbudi/berakhlak baik), dsb.

Sesuai dengan falsafahnya, yang menjadi nama diri adalah bagian nama pertama, yaitu Iwan, Agus dan Arief yang merupakan entitas (maujud) yang diterangkan, sedangkan nama kedua, ketiga, dst. (seperti Setiawan, Darmawan, dan Budiman) adalah bagian nama yang menerangkan entitas tadi dan berisi keterangan.

3. Pertimbangan teknis
Maksud pertimbangan teknis di sini adalah bahwa ketentuan pembalikan nama yang selama ini terjadi masih mengacu kepada paradigma lama, yang penerapannya lebih cenderung ke jenis bahan perpustakaan tecetak. Saat ini, pustakawan dan masyarakat pengguna perpustakaan terbiasa dengan bahan digital atau elektronik yang sudah mulai tidak mementingkan / mempermasalahkan susunan penulisan nama pengarang, apakah dibalik atau ditulis apa adanya (tidak dibalik). Susunan penulisan nama tetap lebih praktis kalau nama pengarang ditulis apa adanya, tidak dibalik.

4. Trend Penamaan saat ini
– Nama Indonesia jumlahnya cenderung lebih dari dua
Kecenderungan dewasa ini penamaan orang Indonesia cenderung unik (lebih dari dua kata) dan lebih menonjolkan/mementingkan pada nama pertama, misalnya Dewi Cahya Kumala, Septian Dwi cahyo. Paradigma ini memberi pengertian baru bahwa terdapat perubahan pola pemberian nama untuk nama-nama orang Indonesia. Sudut pandang dinamis melihat nama diri bergerak dari waktu ke waktu, mengalami perubahan, perkembangan, dan pergeseran bentuk seiring dengan tata nilai yang melatarbelakanginya (Dede Kosasih, 2010).

Tidak seperti dalam bahasa Inggris, dimana “kosakata” untuk nama tampaknya sudah terbatas, nama-nama tersebut relatif sudah tersusun ketat, bahkan sudah dikamuskan (Hornby, 1974), di masyarakat Indonesia, menurut pengamatan penulis, nama orang Indonesia, yang dahulu dikenal hanya tersusun dari satu kata saja, kemudian berkembang menjadi dua kata, dan saat ini, banyak orang Indonesia memberikan nama berjumlah tiga, empat atau bahkan lima kata.

Penyebab lain mungkin karena banyaknya perkawinan antar etnis/suku saat ini, mengakibatkan pola penamaan anak menjadi beragam dan terjadi kombinasi antar nama-nama etnis/suku tersebut, baik dari segi jumlah katanya atau dari etnis mana nama tersebut berasal, namun secara umum semua unsur nama tersebut mengacu kepada nama diri (proper name).

Pada kasus lain terjadi kesulitan untuk menentukan nama belakang seseorang, apakah yang bersangkutan berasal dari suku tertentu atau memang semata-mata sebuah nama diri, karena kecenderungan orang saat ini bebas memberikan nama anak-anaknya, kadang tanpa mengindahkan lagi rasa sungkan untuk mencampuradukan nama-nama dari daerah (suku) lain di Indonesia.

Misalnya pada nama Rahmat Lubis (diketahui oleh penulis bahwa penyandang nama tersebut bukan orang/berasal dari suku batak), hanya karena orang tuanya barangkali suka dengan nama “Lubis”, sehingga orang tuanya menggunakan nama tersebut pada bagian nama belakang anaknya. Berbeda jika dibandingkan dengan Muchtar Lubis (dikenal oleh umum sebagai seorang pengarang roman yang berasal dari suku Batak). Persoalannya, bagaimana pengkatalog mengetahui kasus seperti ini?

Contoh lain, misalnya pada nama-nama Indonesia yang berasal dari nama Arab, misalnya :
Amir Husein Achmad (tidak jelas apakah Achmad adalah nama ayah/keluarga atau bukan)
Abdurrahman Wahid (diketahui bahwa Wahid adalah Nama Ayah)
Sulit untuk menentukan apakah nama belakang dari nama yg diadopsi dari nama arab adalah nama keluarga/fam ?

Orang Indonesia sudah tidak merasa “tabu” untuk menyandang nama-nama, yang dulunya mungkin nama bangsawan atau nama keluarga “terpandang” untuk nama belakangnya. Sehingga bagian nama belakang atau terakhir tersebut menjadi tidak signifkan lagi kalau dijadikan sebagai kata utama.

Ada beberapa contoh bagaimana orang mengingat nama orang-orang terkenal berikut, seperti :

Adnan Buyung Nasution ? lebih dikenal dengan nama “Adnan Buyung”, tidak pada nama Nasution.
Bob Tutupoly? dikenal dengan Bob, jarang yang mengingat dengan nama “Tutupoly”
Glen Fredly,  nama keluarga tidak dicantumkan? Paling dikenal dengan nama Glen Fredly
O.C. Kaligis, bentuk nama depan yang disingkat, bahkan ada yang mengingatnya hanya dengan “O.C.”

Buku telepon adalah contoh penerapan peraturan baru tentang kata utama nama pengarang Indonesia. Daftar pada buku telepon menuliskan nama-nama Indonesia apa adanya (tidak dibalik). Dan terdapat kebiasaan kalau harus disingkatpun, orang Indonesia umumnya lebih senang kalau nama belakangnya yang disingkat dari pada nama depannya, misalnya Syaiful Jamil menjadi Syaiful J.

III. KESIMPULAN DAN SARAN

Penentuan kata utama untuk nama-nama pengarang Indonesia adalah persoalan yang cukup rumit, karena memang hal itu merupakan persoalan sosial-budaya di masyarakat manapun. Sebagai persoalan sosial, seperti gejala sosial lainnya, hal itu memang akan tetap mengalami perkembangan atau perubahan terus menuju ke arah kesempurnaan. Akan tetapi, keputusan yang diambil oleh Perpustakaan Nasional sudah merupakan keputusan yang tepat. Paling tidak untuk saat ini.

Bahwa Kata utama nama-nama pengarang Indonesia jatuh pada bagian nama pertama, kecuali nama yang mengandung nama marga/keluarga. Sehingga segala “keberatan” yang selama ini ditujukan kepada Perpustakaan Nasional selaku lembaga yang memiliki otoritas (Auhority control) untuk mengatur ketentuan tersebut sudah terpenuhi. Namun yang lebih penting, keputusan (SK Kepala Perpusnas RI, No. 20 Tahun 2005) sudah bisa menampung dan memenuhi kebiasaan penulisan nama sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.

Perubahan penulisan nama (umumnya pada tajuk/kata utama) yang berlaku sebelum SK Kepala Perpusnas No. 20 Tahun 2005 menentukan kata utama jatuh pada bagian nama terakhir, yang kemudian mengharuskan penulisan nama-nama Indonesia dibalik, sudah dilakukan masyarakat Indonesia selama kurang lebih lima puluh tahun.  Dengan diberlakukannya Keputusan baru tersebut, walaupun itu sudah diberlakukan sejak tahun 2005 lalu, memerlukan sosialisasi kembali kepada masyarakat umum.

Karena tidak mustahil, sampai saat ini masih ada beberapa lapisan masyarakat yang tidak mengetahui perubahan tersebut. Sekali lagi, menjadi tugas Perpustakaan Nasional, selaku pembina perpustakaan di Indonesia, dan asosiasi-asosiasi yang relevan, misalnya Asosiasi kepustakawan, pengarang, penerbit, dan komunitas akademisi untuk secara bersama-sama memasyarakatkan peraturan/ketentuan baru tersebut.
 
DAFTAR PUSTAKA

Allan, K. 1995. What names tell about the lexicon and the encyclopedia, dalam : lexicology, Vol.1/2, hal 280-325

Apa dan siapa : sejumlah orang Indonesia 1983-1984. Majalah berita mingguan Tempo. Pustaka Grafitipers, 1984

Ardoni. Penyeragaman tajuk entri utama nama pengarang dan aplikasi teknologi informasi. http://palimpsest.fisip.unair.ac.id/images/pdf/ardoni.pdf. akses 9 Juni 2010.

Dede Kosasih. Kosmologi sistem nama diri (antroponim) masyarakat Sunda: dalam konstelasi perubahan struktur sosial budaya. http://file.upi.edu/Direktori/C%20-%20FPBS/JUR.%20PEND.%20BAHASA%20DAERAH/196307261990011%20-%20DEDE%20KOSASIH/PDF/Makalah/Kosmologi%20Nama%20Diri.pdf. Akses 30 Juni 2010.

Ervin-Tripp, Susan. 1972. On sociolinguistic rules: alternation and co-occurance, dalam : John J. Gumperz dan Dell Hymes (Editor) Directions in sociolinguistics: the etnography of commmunication. New York: Holt, Rinehart, and Winston, Inc., Hal 213-250.

Geertz, Clifford. 1973. The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

Harsja W. Bachtiar, 1988. Siapa dia? : perwira tinggi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Djembatan.

Hooley, Bruce A. 1972. Shorter Communications: The Buang naming system, dalam The Journal of Polynesian Society, Vol. 81, hal 500-506.

Hornby, A.S. 1974. Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English. Edisi ke-3. Oxford: Oxford University Press.

Irma Utari Aditirto. 2003. Tajuk nama pengarang Indonesian: masalah dan solusinya. Makalah Seminar Tajuk entri utama nama-nama Indonesia, Jakarta, 19 Juni. http://digilib.pnri.go.id/collection/index.asp?panel_tengah=detail&collection_id=2005819102323&collection_type_code=k003 Akses 2 April 2010.

I. Lukmana. 2002. Reference to a third person in Sundanese. Disertasi Ph.D. pada Department of Linguistics, Monash University, Australia.

Lyons, J. 1995. Linguistic semantic: an introduction. Cambridge: Cambridge University Press.

M. Pei. 1974. Kisah daripada Bahasa (terjemahan). Jakarta: Bharata.

Minanuddin. (s.a.). Perubahan peraturan mengenai kata utama dan ejaan tajuk nama pengarang Indonesia: suatu gagasan. Makalah Seminar Tajuk entri utama nama-nama Indonesia, Jakarta, 19 Juni.
http://digilib.pnri.go.id/uploaded_files/k003/normal/Tajuk_Nama_Pengarang_Indonesia.pdf. akses 9 Juni 2010.

Murphy, G.L. 1988. Personal reference in English, dalam Language in Society, Vol.17, Hal 317-349

P. Suparlan. 1980. Manusia, kebudayaan dan lingkungannya Perspektif Antropologi Budaya, dalam : Yang Tersirat dan Tersurat. Fakultas Sastra Univesitas Indonesia 1940-1980.

Pei, Mario. 1974. Kisah Daripada Bahasa (terjemahan). Jakarta: Bharata. Pembaharuan tajuk nama pengarang Indonesia. Sumber : http://perpusdajateng.blogspot.com/2008/11/pembaharuan-tajuk-nama-pengarang.html

Perpustakaan Nasional. 2005. Surat Keputusan Kepala Perpustakaan Nasional R.I. Nomor 20 tahun 2005 tentang Kata Utama dan Eejaan untuk Tajuk Nama Pengarang Indonesia. http://kelembagaanfiles.pnri.go.id/pdf/about_us/official_archives/public/normal/2005412151746.pdf. akses 16 April 2010

Sulistyo Basuki. 2003. Penentuan tajuk entri nama-nama Indonesia berdasarkan pola nama Indonesia dan kebiasaan penulisan di bahan perpustakaan. Makalah Seminar Tajuk entri utama nama-nama Indonesia, Jakarta, 19 Juni.

Parsudi Suparlan, 1980. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungannya Perspektif Antropologi Budaya. Dalam: Yang Tersirat dan Tersurat. Fakultas Sastra Universitas Indonesia 1940-1980.

T.O. Ihromi. 1999. Pokok-pokok antropologi budaya. Yayasan Obor Indonesia. http://books.google.co.id

Udiati Widiastuti. Tanggapan terhadap penulisan tajuk nama pengarang Indonesia dari sudut Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Wikipedia (Ensiklopedia bebas bahasa Indonesia). 2010. Nama Indonesia.