Pengaruh Digital Publishing/E-Publishing dalam Penelusuran Sumber Informasi

PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi informasi-komputer saat ini sudah mencapai pada tahap di mana ukurannya semakin kecil, kecepatannya semakin tinggi, namun harganya semakin murah dibandingkan dengan kemampuan kerjanya. Kondisi ini mendorong masyarakat berlomba-lomba memanfaatkan komputer sebagai alat bantu pengolahan data dengan cara membangun system pengolahan data terkomputerisasi untuk penyajian informasi, baik untuk keperluan pribadi maupun organisasinya. Perpustakaan sebagai organisasi yang melakukan pengolahan data dan informasi untuk penggunanya telah melakukan langkah revolusioner dalam melakukan pelayanan melalui system online yang lebih efisien dalam pelayanan, diseminasi, penggunaan dan pelestarian data, informasi dan pengetahuan.

Sumber informasi Online saat ini dianggap sebagai  informasi dalam bentuk baru dari sumber informasi yang sudah ada. Sumber informasi Online adalah kumpulan informasi yang tertata sedemikian rupa, Sumber informasi Online  disimpan dalam format digital dan dapat diakses melalui jaringan komputer. Pada tahun terakhir ini telah terjadi peledakan pertumbuhan ketertarikan dalam perkembangan dan pemakaian Sumber informasi Online. Beberapa faktor penunjangnya adalah:

a) Telah tersedianya teknologi komputasi dan komunikasi yang memungkinkan dilakukannya penciptaan, pengumpulan dan manipulasi informasi.
b) Infrastruktur jaringan internasional untuk mendukung sambungan dan kemampuan pengoperasian bagi pengguna.
c) Informasi online mulai berkembang.
d) Kerangka akses internet umum telah muncul.

Berkembangnya sumber terbitan online merupakan dampak dari revolusi dunia penerbitan, dunia Penerbitan merupakan industri informasi paling tua di dunia, bahkan seumur dengan peradaban manusia. Perubahan zaman membuat industri penerbitan semakin variatif dalam menerbitkan terbitan dalam berbagai macam bentuk, seperti pada saat ini perkembangan teknologi informasi melahirkan varian baru dalam dunia terbitan yaitu digital publishing atau elektronik publishing. Digital publishing atau elektronik publishing merupakan metode baru dalam penyampaian informasi saat ini, tentunya hal ini berkaitan erat dengan perpustakaan sebagai pusat informasi, perpustakaan harus mampu mengadopsi metode atau cara yang digunakan digital publishing/e-publishing dalam segala aspek khususnya dalam penelusuran informasi digital agar informasi tersebut dapat ditemukan dan digunakan pemustaka. Hal ini tentu mempengaruhi cara bagaimana perpustakaan mengorganisasi dalam bentuk digital yang dimilikinya agar mudah ditelusur serta mempengaruhi pula bagaimana pemustaka menelusur informasi dalam bentuk digital publishing/e-publishing di perpustakaan.

DIGITAL PUBLISHING/E-PUBLISHING

Perkembangan digital publishing/e-publishing.
Digital Publising merupakan pengembangan dari desktop publishing yang berkembang pada era 80 dan 90-an digital publishing/e-publishing merupakan metode penerbitan dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, atau secara sederhana digital publishing itu bisa diartikan sebagai mencetak media dalam bentuk digital tidak mencetak ke bentuk kertas(koran,majalah,dll), atau dapat dikatakan edisi cetak yang dionline-kan secara digital.
Proses penerbitan elektronik mengikuti proses penerbitan tradisional tetapi berbeda dari penerbitan tradisional dalam dua cara: 1) tidak termasuk menggunakan cetak offset untuk mencetak produk akhir dan 2) menghindari distribusi produk fisik. Karena konten elektronik dapat didistribusikan melalui Internet dan melalui toko buku elektronik. Konsumen dapat membaca konten diterbitkan di situs web, aplikasi pada perangkat tablet, atau komputer. Dalam beberapa kasus pembaca dapat mencetak konten menggunakan printer atau melalui mencetak pada permintaan sistem.

Manfaat dari penerbitan elektronik yang menggunakan tiga atribut teknologi digital: Tag XML untuk menentukan konten, style sheet untuk menentukan tampilan konten, dan metadata untuk menggambarkan konten untuk mesin pencari. Dengan menggunakan tag, style sheet dan metadata, hal ini memungkinkan konten reflowable yang menyesuaikan dengan berbagai membaca perangkat atau metode penyampaian. Karena penerbitan elektronik sering memerlukan teks mark-up untuk mengembangkan metode online pengiriman, peran-peran tradisional typesetters dan desainer  telah berubah. Desainer harus tahu lebih banyak tentang mark-up bahasa, berbagai membaca perangkat tersedia, dan cara-cara di mana konsumen membaca terbitan tersebut. Namun, seiring perkembangan teknologi informasi saat ini sejumlah perangkat lunak desain yang muncul saat ini telah terintegrasi dengan bahasa pemprograman seperti HTML, XML danlain sebagainya sehingga desainer  dapat mempublikasikan konten sesuai standar  tanpa perlu tahu pemrograman, seperti Adobe Systems’ Digital penerbitan Suite dan Apple iBooks .Format file yang paling umum digunakan dalam digital publishing/e-publishing adalah .epub, format ini  digunakan dalam berbagai format e-book, yang adalah gratis dan terbuka standar yang tersedia di banyak program penerbitan. Format umum yang lain adalah .folio, yang digunakan oleh Adobe Suite penerbitan Digital untuk menciptakan konten untuk iPad Apple Tablet dan aplikasi.
digital publishing/e-publishing dalam dunia publikasi ilmiah juga mengalami perkembangan yang sangat pesat dahulu Setelah artikel diserahkan kepada jurnal untuk pertimbangan, ada penundaan yang mulai dari beberapa bulan bahkan kadang lebih dari dua tahun  sebelum diterbitkan dalam jurnal, render jurnal yang kurang format yang ideal untuk menyebarkan penelitian saat ini. Di beberapa bidang seperti astronomi dan beberapa bagian dari fisika, peran jurnal di menyebarkan penelitian terbaru telah sebagian besar digantikan oleh preprint repositori seperti arXiv.org. Namun, jurnal ilmiah masih memainkan peran penting dalam kontrol kualitas dan membangun kredit ilmiah. Dalam banyak kasus, bahan-bahan elektronik yang di-upload ke preprint repositori masih dimaksudkan untuk akhirnya diterbitkan dalam jurnal.

Jenis digital publishing

Seiring perkembangan teknologi Digital publishing/e-publishing dibagi menjadi dua jenis antara lain :
a. Digital publishing/e-publishing  versi tradisional media ; Digital publishing/e-publishing jenis ini merupakan media tredisional seperti buku, majalah, Koran dan lain sebagainya yang dikonversi ke dalam Digital publishing/e-publishing, seperti ;
• CD-ROM
• E-book
• Electronic journal
• Online magazine
• Online newspaper
• Portable Digital Format (.PDF)

b. Digital publishing/e-publishing New Media : Digital publishing/e-publishing jenis ini merupakan media baru yang sedang berkembang saat ini, yng termasuk Digital publishing/e-publishing jenis ini adalah :
• Blog
• Collaborative software
• Digital publication app
• File sharing
• Mobile apps
• Podcast

PENGARUH DIGITAL PUBLISHING PADA PENYEDIA SUMBER  INFORMASI

Perkembangan Digital publishing/e-publishing membawa banyak pengaruh terhadap penelusuran informasi khususnya bagi para penyedia informasi seperti perpustakaan, saat ini hampir semua perpustakaan menyediakan informasi dalam bentuk digital. Untuk itu perpustakaan perlu melakukan sejumlah inovasi dalam layanannya agar terbitan digitalnya dapat diakses oleh pemustaka. Dalam hal ini setidaknya ada tiga hal yang menjadi sangat penting bagi perpustakaan dalam mendesain portal terbitan digitalnya agar mudah ditelusur pemustaka, antara lain :

A. Aspek Arsitektur Informasi
Arsitektur Informasi (Information Architecture). Mereka yang melakukan praktek Arsitektur Informasi sering disebut Arsitek Informasi (Information Architect). Sebagian orang menggunakan istilah lain seperti: Findability Engineer dan Structural Designer. Istilah Information Architecture   muncul  sejak tahun 1996 yang dipopulerkan oleh Richard Saul Wurman dalam bukunya Information Architects. Hanya saja ia menemukan momentumnya ketika web semakin populer, dan mulai timbul masalah dalam temukembali informasi (information retrieval) di web. Ada 4 komponen utama arsitektur informasi:

• Organisasi Informasi (organizing information);
• Pelabelan Informasi (labelling Information);
• Sistem Navigasi (navigation systems);
• Sistem Pencarian (searching systems);

Organisasi Informasi dapat didefinisikan sebagai ilmu dan seni tentang bagaimana menyusun (structuring), mengklasifikasi (classifysing) informasi, pelabelan informasi (information labelling) merupakan pemberikan istilah yang dianggap representasi suatu atau sekelompok informasi/konsep. tahapan dalam arsitektur informasi agar orang mudah mengatur dan menemukannya. Menyusun termasuk didalamnya menentukan level kedalaman informasi (granularity) dan menentukan hubungan satu dengan lainnya dan mengatur informasi dalam kategori-kategori dan keterhubungannya (semantik). Sebagai sebuah disiplin ilmu, Arsitektur Informasi pun mempunyai beragam metode ilmiah (science), akan tetapi praktek Arsitektur Informasi terus berkembang dan terdapat banyak ambiguitas dan kompleksitas sehingga seorang Arsitek Informasi pun perlu mengandalkan pengalaman, intuisi, dan kreatifitas (art).

Sistem Navigasi membahas bagaimana membimbing pemakai web berpindah-pindah dari informasi yang satu ke yang lain tanpa kehilangan orientasi. Jenis sistem navigasi yang paling umum ada 3: navigasi global, navigasi lokal, dan navigasi kontekstual. Selain itu ada sistem navigasi tambahan lainnya, seperti: peta situs (sitemaps), Indeks situs (site indexes), daftar isi (table of contents) dan Panduan (guides, wizards). Dengan makin berkembangnya kebutuhan pengguna web, maka mulai muncul pendekatan baru dalam navigasi. Seperti: personalisasi, kustomisasi, visualisasi, dan navigasi sosial.
 
Sistem Pencarian membahas pencarian melalui mesin pencari. Yang dipelajari antara lain: antarmuka pencarian, query language, algoritma temu kembali (retrieval algorithms) Sistem Pencarian juga membicarakan masalah-masalah dalam temu kembali informasi (information retrieval) seperti: relevansi (relevansi dokumen yang ditemukan) dan presisi (ketepatan dokumen yang ditemukan), dan perangkingan hasil pencarian (ranking).

B. Integrasi Data
Perpustakaan sangat bergantung pada sistem pengolahan informasi untuk mendukung operasionalnya dan pada tahap tersebut perpustakaan melakukan sistem proses data dan / atau pengetahuan yang direpresentasikan dalam bentuk database, database adalah dasar dari transaksi berbasis sistem. Hal ini juga berlaku bagi terbitan digital publishing/e-publishing karena ia adalah objek pengelolaan informasi maka ia juga direpresentasikan dalam bentuk database, untuk itu diperlukan suatu sistem yang terintegrasi  antar database perpustakaan pengelola digital publishing/e-publishing agar
redundansi informasi dapat direduksi, tak ada lagi database yang terpisah dan terisolasi  sehingga pengumpulan informasi yang relevan tidak memakan waktu yang lama.

Alhawary (2011) integrasi database perpustakaan penting dilakukan  karena seringkali pemustaka memiliki keterbatasan waktu dalam pencarian informasi yang tersebar di berbagai perpustakaan  dalam bentuk digital publishing/e-publishing. Namun kendala yang sering terjadi adalah penyimpanan format metadata data yang sering tidak seragam dan tidak terstandardisasi menyulitkan dalam mengakses informasi dalam database tersebut. Untuk itu integrasi database perlu memikirkan suatu cara  sistem database terintegrasi yang memungkinkan pemustaka dapat mengakses informasi secara cepat  walaupun berbeda format metadata.

Menurut Ratanasawetwad dan Yu (2009) terdapat tiga hal penting yang harus dianalisa dalam melakukan integrasi database yang baik. Tahap pertama yaitu menganalisis berbagai teknik yang digunakan dalam penyimpanan database; format apa saja yang digunakan dalam berbagai database. Tahap kedua yaitu menganalisis kebutuhan software yang digunakan. Dalam penelitian tersebut terdapat tiga software yang dikembangkan yaitu Loadflow Analysis untuk keseimbangan sistem transmisi, Loadflow Analysis program untuk ketidakseimbangan sistem distribusi, dan Short Circuit Analysis Program. Teknik orientasi kepada objek diterapkan untuk software dan implementasi database. Tahap ketiga  yaitu implementasi interface yang akan digunakan oleh pengguna untuk mengakses database melalui software aplikasi. Ketiga tahapan tersebut digunakan untuk menganalisis kendala-kendala dalam integrasi database.

C. Human Computer Interaction (HCI)

Human Computer Interaction (HCI) merupakan studi tentang interaksi antara manusia, komputer kajian HCI adalah bagaimana manusia dan komputer secara interaktif melaksanakan dan menyelesaikan tugas/ task dan bagaimana sistem yang interaktif itu dibuat antara user dan  Tampilan antarmuka (interface) digital publishing/e-publishing. Semua interaksi pengguna dimulai dari interface dan teknik informasi seringkali mengembangkan dan merancang tampilan interfacenya tanpa memperhatikan kebutuhan pengguna. Akibatnya, seringkali perpustakaan digital tidak dapat memberikan manfaat lebih terhadap pengguna. Tampilan antarmuka merupakan gerbang awal dari sebuah digital publishing/e-publishing, untuk itu sebuah digital publishing/e-publishing harus mempertimbangkan  Aspek – aspek sebagai berikut:
1. Tampilan harus bagus dan menarik
2. Mudah dioperasikan
3. Mudah di pelajari
4. User Harus Nyaman menggunakannnya.

Untuk itu perpustakaan harus mengembangkan satu mekanisme pembuatan interface yang mampu memahami kebutuhan pengguna. Tampilan tersebut harus berorientasi pada manusia/pemustaka atau human friendly intellegent interface. Human friendly intellegent interface merupakan tampilan antarmuka yang memungkinkan peningkatan produktivitas intelek dalam bentuk fasilitas yang memungkinkan berbagai pengguna melakukan berbagai cara pencarian dan pengaitan dokumen.  Analisis desain human friendly intellegent interface yang sesuai dengan karakteristik pemustaka harus dilakukan, karena setiap pengguna perpustakaan digital memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Perilaku seseorang dalam mencari informasi dipengaruhi oleh gaya kognitif orang tersebut.
 
PENGARUH DIGITAL PUBLISHING PADA PENELUSUR SUMBER  INFORMASI

Pemustaka saat ini adalah pemustaka yang cerdas dan kritis mereka biasanya tidak ingin hanya satu artikel dari satu sumber,  mereka mencari literatur akan topik tertentu untuk menemukan literatur sejumlah alat yang digunakan, termasuk database  seperti jurnal,buku dan terbitan elektronik lainnya. Kuhlthau (1991) mengidentifikasi, menganalisis dan menggambarkan enam fase dalam penelusuran informasi yaitu  inisiasi, seleksi, eksplorasi, perumusan, pengumpulan dan presentasi. Yang pertama adalah proses inisiasi, ditandai dengan perasaan seperti ketidakpastian dan ketakutan, yang paling umum pikiran adalah mencari sesuatu yang samar dan umum. Dengan demikian,  pemustaka harus mengenali kebutuhan informasinya  untuk itu pemustaka harus berkomunikasi dengan  pemustaka lain  untuk mencari pengalaman serupa. Pada tahap kedua, proses seleksi, yaitu  mengidentifikasi topik umum dari suatu informasi, pada tahap ini perasaan seperti optimisme setelah proses ini selesai akan muncul. Setelah topik umum dipilih, pemustaka masuk ke tahap ketiga dari proses pencarian informasi adalah eksplorasi, dimana kebingungan dan keraguan tentang keakuratan informasi terjadi, karena pada proses ini pemustaka  menyelidiki tentang topik umum dan mencari informasi baru dan relevan. Tahap keempat adalah perumusan, pada proses ini pemustaka sudah mulai bisa merumuskan perspektif dan berfokus pada informasi yang dibutuhkan. Oleh karena itu, perasaan ketidakpastian dan keraguan berubah menjadi keyakinan dan kejelasan. Kuhlthau menganggap tahap ini sebagai titik kritis dari proses pencarian informasi. Pada tahap kelima, koleksi, sebuah arah baru mulai muncul, serta minat peneliti untuk subjek. Tindakan yang paling umum mencari informasi yang berhubungan atau terfokus dalam sumber-sumber yang lebih tepat, seperti perpustakaan. Tahap keenam yaitu  presentasi, adalah proses menyelesaikan pencarian dan produksi dan untuk menyajikan informasi.

Perkembangan teknologi informasi khususnya komputer telah membawa kemudahan tersendiri dalam proses penelusuran informasi. Pemustaka mempunyai kesempatan lebih untuk mendapatkan informasi baik berupa informasi tercetak maupun digital, adanya internet, pemustaka dimanjakan untuk meraih lebih besar lagi informasi yang dibutuhkan dari berbagai unit informasi/perpustakaan di seluruh dunia. Pada penelusuran online pemustaka pemustaka di ajak menembus batasan-batasan yang semula ada pada teknik penelusuran informasi secara manual/konvensional. Melalui OPAC, Search Engine, Database Online dan fasilitas lainnya pemustaka akan lebih mudah mendapatkan informasi yang dikehendaki, dengan jenis dan macam yang cakupannya lebih luas lagi karenanya diperlukan strategi khusus untuk mencari informasi.

Selain faktor di atas pemustaka saat ini harus mengenali konsep dasar Sistem Temu Balik Informasi (STBI), STBI adalah proses untuk mengidentifikasi kecocokan (match) di antara permintaan (query) dengan representasi atau indeks dokumen, kemudian mengambil (retrieve) dokumen dari suatu simpanan (file) sebagai jawaban atas pemintaan tersebut. STBI pada prinsipnya bekerja berdasarkan ukuran antara istilah query dengan istilah yang menjadi representasi dokumen. Pengertian lain menyatakan bahwa STBI adalah proses yang berhubungan dengan representasi, penyimpanan, pencarian, dan pemanggilan informasi yang relevan dengan kebutuhan informasi yang diinginkan pengguna. Pendapat ini menunjukkan bahwa pada STBI terkandung sejumlah kegiatan yang meliputi proses penyimpanan, penyediaan representasi, identifikasi, serta pencarian atau penelusuran dokumen yang relevan pada suatu database, dalam rangka memenuhi kebutuhan informasi dari pemustaka.

Pada prinsipnya penelusuran informasi pada digital publishing/e-publishing hampir sama dengan penelusuran informasi pada secara manual/konvensional hanya saja batasan sudah hampir tidak ada sehingga pemustaka harus bisa melakukan proses pengidentifikasian, pencarian, dan menganalisa informasi tersebut apakah sesuai kebutuhannya. Untuk itu pemustaka dituntut tahu banyak cara atau teknik untuk mencari informasi pada elektronik publishing, serta memahami  standar atau aturan baku dalam  penelusuran informasi melalui elektronik publishing. Keberhasilan sebuah penelusuran informasi pada elektronik publishing dalam oleh pemustaka ditentukan oleh beberapa hal:
1. Kejelasan dalam identifikasi kebutuhan informasi.
2. Ketepatan dalam menggunakan berbagai alat/sumber penelusuran.
3. Ketepatan dan kecermatan dalam melaksanakan dan menggunakan prosedur penelusuran online.
4. Ketekunan dalam menggunakan berbagai cara dan teknik penelusuran.
5. Pengetahuan pemustaka mengenai arsitektur sebuah sistem digital publishing/e-publishing

KESIMPULAN
Sudah tidak diragukan lagi bahwa penerbitan elektronik telah merubah penelusuran informasi. Saat ini, ada kecenderungan untuk pengembangan menjadikan digital publishing/e-publishing  media komunikasi utama dalam penyediaan dan penyebaran informasi. Hal ini karena digital publishing/e-publishing  mampu mengurangi hambatan ruang, waktu dan biaya bagi perpustakaan sebagai penyedia informasi dan pemustaka sebagai pengguna informasi dalam penelusuran informasi.
Namun timbul Pertanyaan apakah digital publishing/e-publishing  saat ini sudah sesuai dengan kebutuhan penyedia informasi dan penelusur informasi ?.  Masalah saat ini timbul karena perpustakaan sebagai penyedia informasi dan pemustaka sebagai penelusur informasi mempunyai pola fikir yang berbeda,  perpustakaan kadang membuat suatu sistem digital publishing/e-publishing  yang kurang memadai bagi pemustaka untuk penelusuran informasi, sementara pemustaka terkadang kurang memahami prosedur dalam pencarian informasi secara mendalam.
Sejumlah tantangan ke depan bagi pemustaka adalah pemustaka diharuskan mengerti benar mengenai tehnik-tehnik penelusuran mutakhir dalam penelusuran melalui digital publishing/e-publishing dengan tehnik boolean operator, sementara itu tantangan bagi perpustakaan adalah bagaimana menciptakan suatu sistem digital publishing/e-publishing yang terintegrasi dengan sejumlah database lain dan mampu melengkapi informasi  bagi pemustaka. Selain itu industri digital publishing/e-publishing melakukan inovasi produk dan isi dengan sistem penerbitan manajemen digital yang sempurna,menyediakan platform dukungan  produksi digital publishing/e-publishing  yang mendukung sistem yang dipakai pemustaka, seperti  teks HTML, PDF, multimedia.
 

DAFTAR PUSTAKA

Alhawary, Faleh A. 2011. Building a knowledge repository: Linking Jordanian Universities e-library in an integrated database system. International Journal of Business and Management, 2011, 6 (4): 129-135.

Barber, D. (April, 1 2001). Electronic Publishing: A Guide To Electronic Journal Archives. Online Journal of Issues in Nursing. Vol. 6 No.2. Available: www.nursingworld.org//MainMenuCategories/ANAMarketplace/ANAPeriodicals/OJIN/TableofContents/Volume62001/No2May01/ArticlePreviousTopic/GuideToArchives.aspx [akses tanggal 15 Mei 2012].

Hasugian, Jonner. (Juni 2006) Penelusuran Informasi Ilmiah Secara Online: Perlakuan terhadap Seorang Pencari Informasi sebagai Real User . Pustaha: Jurnal Studi Perpustakaan dan Informasi, Vol.2, No.1. http://www.ehow.com/about_5101062_definition-digital-publishing.html  [akses tanggal 15 Mei 2012]

Kaula, Rajeev. 2000. Integration of rule-based systems and database. The Journal of  Computer Information Systems Vol.40. No.3 P : 38-43.

Kuhlthau, C. 1991. Inside the search process: information seeking from the user’s perspective”. Journal of the American Society for Information Science, Vol. 42 No. 5, pp. 361-71.

Minnichsoffer, Tony. 1996. Print technologies of the future: Digital age printing technologies open new realms to publishing. Agriculture, Business And Economics–Marketing And Purchasing. Volume 34 Issue 9 Pages I22-I24.

Ratanasawetwad, Sompob; Yu, David C. 1999. An integrated power system tool for open database environment. ProQuest Dissertations & Theses: The Sciences and Engineering Collection. Available : http://search.proquest.com/docview/304537246/134A7468EE9308AF0C6/2  [17 Juni 2012]

Ferreira, Sueli Mara; Denise Nunes Pithan.2005.Usability of digital libraries: A study based on the areas of information science and human-computer-interaction. OCLC Systems and Services Vol.21 No. 4 P: 311-323.