Pengaruh Termal Dalam Ruangan Perpustakaan Terhadap Kondisi Buku dan Kenyamanan Pembaca (Studi Kasus Perpustakaan Universitas Musamus Merauke

PENDAHULUAN
Pelestarian yang meliputi pemeliharaann dan pengawetan merupakan kegiatan sehari-hari yang telah dikenal bangsa Indonesia sejak zaman dahulu kala. Penemuan benda-benda purbakala dan naskah-naskah kuno membuktikan bahwa kegiatan pemeliharaan dan pengawetan baik pada benda maupun pada hasil pikiran manusia telah dilaksanakan, hanya saja pada saat itu belum menjadi kegiatan yang terorganisasi.

Di  perpustakaan, kegiatan pelestarian bahan pustaka sama pentingnya dengan kegiatan penyebaran (sirkulasi) bahan pustaka atau informasi. Fungsi perpustakaan sebagai penyedia dan penyebar informasi tidak mungkin tercapai tanpa diiringi dengan ketersediaan bahan pustaka yang terkondisi baik dan siap pakai. Pelaksanaannya menjadi tanggumg jawab semua staf di jajaran perpustakaan, baik konservator, pustakawan maupun staf administrasi.

Hingga saat ini bahan pustaka kertas masih merupakan jenis bahan yang terbanyak dikoleksi perpustakaan. Untuk perpustakaan di Negara tropis seperti Indonesia, pelaksanaan pelestarian membutuhkan tanggung jawab dan keseriusan. Hal ini disebabkan karena iklim daerah tropis yang panas dan lembab, kualitas dan kuantitas debu yang relatif tinggi, serta bervariasinya jenis serangga dan jamur yang tumbuh, menyebabkan kerusakan bahan pustaka lebih bervariasi dan kompleks.

Kondisi termal dalam bangunan (suhu, kelembaban, kecepatan angin dan radiasi matahari) mempengaruhi kondisi koleksi perpustakaan, kondisi termal juga mempengaruhi kenyamanan pembaca yang ada didalam perpustakaan. Alahudin (2012) kondisi lingkungan di luar bangunan ditentukan oleh iklim setempat (iklim mikro) dan keadaan lingkungan disekitarnya (iklim makro), disamping itu perkerasan yang luas di sekitar akan memantulkan panas ke dalam bangunan/hunian, sehingga akan mempengaruhi kondisi termal, juga bangunan lain berpengaruh juga terhadap kondisi didalam bangunan ini dikarenakan aliran udara yang terhambat dan pantulan panas yang dihasilkan dari penutup atap bangunan sekitar.

PERUMUSAM MASALAH
Berdasarkan keterangan yang telah diuraikan pada Pendahuluan, permasalahan atau urgensi bangunan yang perlu diungkapkan adalah sebagai berikut :

– Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kondisi koleksi perpustakaan dan kenyamanan pembaca pada perpustakaan Universitas Musamus Merauke.

Tujuan dari penelitian ini adalah :

Berangkat dari permasalahan yang telah diungkapkan pada uraian latar belakang, maka yang menjadi tujuan dan sasaran penelitian ini adalah :

– Mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kondisi koleksi perpustakaan dan kenyamanan pembaca pada perpustakaan Universitas Musamus Merauke.

Manfaat yang diharapkan adalah mengetahui/mengerti kondisi termal (suhu, kelembaban, kecepatan angin dan radiasi matahari) dalam ruang perpustakaan kaitannya dengan kondisi koleksi perpustakaan (dapat melakukan pencegahan koleksi perpustakaan dari kerusakan akibat kondisi iklim mikro dalam ruang). Sebagai masukan kepada Universitas dan perpustakaan yang lain dalam pelestarian koleksi, sehingga koleksi perpustakaan dapat terjaga dengan baik.

LANDASAN TEORI
A. Perpustakaan
1. Pengertian Perpustakaan

Beberapa batasan atau definisi perpustakaan yang telah lama dirumuskan serta perkembangannya sebagai berikut:

a. Perpustakaan adalah suatu tempat, gedung atau ruangan untuk menyimpan dan memakai koleksi buku dan bahan bacaan lainnya;

b. Perpustakaan adalah kumpulan buku-buku dan bahan-bahan pustaka lainnya yang diorganisasikan dan diadministrasikan untuk bahan bacaan, konsultasi dan study.

c. Unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi adalah unit kerja yang memiliki sumber daya manusia, ruang khusus dan koleksi bahan pustaka sekurang-kurangnya terdiri dari 1.000 judul dari berbagai disiplin ilmu yang sesuai dengan jenis perpustakaan yang bersngkutan dan dikelola menurut system terntentu       (SK. Menpa nomor 132 / KEP / M.PAN /12/2002).

Sama halnya dengan unit kerja dan lembaga lainnya, sebuah perpustakaan berwujud sebagai satu kesatuan dan merupakan perpaduaan dari unsure/aspek:

a. Organisasi yang memuat keterangan tentang tugas, fungsi, kedudukan, wewenang dan tanggung jawab unit kerja perpustakaan tersebut;

b. Gedung/ruangan atau tempat dimana semua aktifitas dilakukan dan dimana semua sarana dan prasarana kerja disediakan;

c. Koleksi  bahan pustaka seperti: manuskrip, buku, majalah, Koran, brosur, film, microfilm, CD-ROM, kaset, video, dsb.

d. Tenaga pengelola perpustakaan atau pustakawan;

e. Sistem dan metode;

f. Perlengkapan dan perabot

g. Anggaran.

2. Jenis-jenis Perpustakaan

Adapun jenis-jenis perpustakaan antara lain:

1. Perpustakaan Nasional, perputakaan yang biasanya berkedudukan di Ibukota Negara yang berfungsi utama sebagai lembaga yang menyimpan dan melestarikan seluruh terbitan dari Negara yang bersangkutan baik berupan karya cetak maupun karya rekam.

2. Perpustakaan Umum, perpustakaan yang diselenggarakan di permukiman penduduk (kota dan desa) diperuntukkan bagi semua lapisan dan golongan masyarakat, untuk melayani kebutuhannya akan informasi dan bahan bacaan dalam rangka meningkatkan pengetahuan, seumber belajar, dan sebagai sarana rekreasi sehat (intelektual).

3. Perpustakaan Khusus, Perpustakaan instansi adalah perpustakaan yang berada dan diselenggarakan oleh instansi pemerintah maupun swasta untuk menunjang dan mempelancar tugas dan fungsi instansi yang bersangkutan/lembaga induknya.

4. Perpustakaan Perguruan Tinggi, perpustakaan yang berada dalam suatu lembaga pendidikan tinggi baik perpustakaan Universitas, Fakultas, Institut, Sekolah Tinggi maupun Politeknik dan menunjang proses pendidikan (belajar mengajar), penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

5. Perpustakaan Sekolah, perpustakaan yang berada pada lembaga pendidikan dasar dan menengah, yang merupakan bagian internal dari sekolah sebagai pusat sumber belaja mengajar untuk mendukung tercapainya tujuan pendidikan sekolah bersangkutan.

3. Tujuan dan Fungsi Perpustakaan

Tujuan dan fungsi perpustakaan sangat tergantung kepada jenis atau macam perpustakaan. Secara umum perpustakaan bertujuan untuk menyebarluaskan informasi kepada para pemakainya untuk berbagai keperlua, adapun fungsi perpustakaan antara lain:

1. Melalui perpustakaan pemakai dapat menimba ilmu pengetahuan, perpustakaan dapat juga dianggap sebagai lembaga pendidikan non formal.

2. Penelitian, melalui perpustakaan dapat dilaksanakan berbagai kegiatan penelitian dengan memanfaatkan koleksi yang ada, karena perpustakaan disamping mengkoleksi buku-buku, majalah, surat kabar, dan lain-lain. Juga menyimpan berbagai hasil-hasil penelitian.

3. Informasi, melalui perpustakaan dapat diperoleh informasi baik bersifat umum maupun khusus, diantaranya koleksi referensi.

4. Rekreasi, melalui perpustakaan pemakai dapat memanfaatkann koleksi yang bersifat rekreatif dan hiburan seperti buku-buku cerita, film, music dan lain-lain.

5. Budaya, pada hakekatnya perpustakaanlah lembaga yang melestarikan hasil karya manusia/hasil karya bangsa yang berupa literature baik tercetak maupun terekam.

6. Pengambilan Keputusan, melalui perpustakaan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam mengambil keputusan.

4. Aspek-aspek Perpustakaan

a. Organisasi Perpustakaan
Organisasi dan tata laksana perpustakaan menggambarkan kedudukan secara makro dan mikro dalam lembaga/instansi induknya dan mempunyai ciri:

– Secara umum organisasi perpustakaan merupakan suatu kelompok social yang dibentuk untuk mencapai tujuan perpustakaan dan mempunyai kekuatan hokum.

– Di dalam organisasi perpustakaan tersebut terdapat pembagian wewenang secara hirarkhis serta prosedur kerja untuk mengatur dan menilai kegiata-kegiatan yang dilakukan oleh staf perpustakaan.

– Pelaksanaan tugas staf perpustakaan dikoordinasikan melalui interaksi, komuniasi dan koordinasi yang terarah untuk mencapai tujuan perpustakaan.

– Organisasip perpustakaan dapat digambarkan dalam bentuk bagan yang disebut organigram yang menggambarkan struktur organisasi perpustakaan;

– Struktur organisasi menggambarkan kelompok-kelompok tugas yang harus dilakukan oleh perpustakaan dalam kaitanya dengan pengaturan sumber daya manusia (ketenagaan), sumber dana (keuangan), dan sumber material (perlengkapan dan peralatan) yang menjadi pendukung agar tugas dan fungsi perpustakaan dapat terlaksana dengan baik.

b. Gedung/ruang Perpustakaan

Gedung/ruangan perpustakaan harus dapat berfungsi sebagai tempat penyimpanan bahan pustaka, tempat aktivitas layanan perpustakaan dan tempat bekerja para petugas perpustakaan. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam permbuatan gedung/ruang perpustakaan antara lain adalah:

• Gedung/ruang perpustakaan diusahakan terletak dilokasi yang mudah dijangkau;

• Gedung/ruang perpustakaan disesuaikan dengan kebutuhan dan memudahkan kelancaran tugas-tugas perpustakaan.

• Penataan gedung/ruangan perpustakaan hendaknya memiliki nilai-nilai artistic.

• Diusahakan agar lintas udara di perpustakaan berjalan baik, yaitu adanya ventilasi udara;

• Cahaya langsung dari matahari kurang baik, hendaknya diusahakan agar cahaya dalam ruangan nyaman, dengan  penerangan yang merata keseluruh ruangan.

• Lantai ruangan agar diusahakan tidak menimbulkan bunyi, karena mengganggu ketenangan;

• Pengaturan jendela yang baik dapat membantu pertukaran udara;

• Gedung ruangan perpustakaan perlu memperhatikan kemanan dari kebajiran dan kebakaran.

• Ruangan atau tempat yang diperlukan :

– Ruangan penyimpanan koleksi, dipisahkan antara karya cetak, karya rekam, dan bahan pustaka bukan buku;

– Ruangan baca umum (dewasa, remaja dan anak-anak), ruang referensi, ruang alat pandang dengar (audio video);

– Ruangan layanan sirkulasi, ruangan untuk display buku baru;

– Ruangan pengolahan bahan pustaka;

– Ruangan serba guna.

c. Perabot dan Perlengkapan Perpustakaan

Dalam pengadaan perabot dan perlengkapan perpustakaan disamping azas manfaat, perlu diperhatikan nilai-nilai artistic, ketahanan dan memudahkan perawatan. Perabot dan perlengkapan perpustakaan mencakup barang-barang untuk keperluan umum/pengunjung dalam memberikan layanan jasa perpustakaan dan informasi serta keperluarn petugas perpustakaan seperti:
– Perabot untuk kebutuhan koleksi dan layanan, yaitu: meja srikulasi, rak penitipan/locker, rak buku, rak majalah, rak surat kabar, meja dan kursi baca, study carrel (meja sekat), katalig cabinet, rak atlas, papan pengumuman dan lain-lain.

– Mebeler, perlengkapan ruang pengolahan, petugas perpustakaan, rak untuk buku yang sedang diproses, meja kerja, almari, mesin tik, computer dan lain-lain.

5. Penyebab Kerusakan Bahan Pustaka
Ada tiga faktor penyebab kerusakan yang menjadi masalah dalam pelestarian bahan pustaka, yaitu:

1. Karakteristik bahan
Cepat atau lambatnya kerusakan bahan pustaka bervariasi. Mulai dari kertas yang tahan berates-ratus tahun sampai pada kertas yang rapuh hanya dalam waktu 10 tahun. Dari negatif foto yang terbuat dari lembaran kaca yang lapisan emulsinya cukup stabil tapi mudah pecah sampai pada negatif foto yang terbuat dari polyester yang lapisan emulsinya mudah buram, tapi sangat sukar pecah.

2. Faktor Lingkungan
Seperti bahan organic lainnya, kertas merupakan bahan yang sensitive terhadap pengaruh lingkungan, terutama jika kertas mengadung asam, lignin dan hemiselulosa.

a. Temperatur dan Kelembaban Udara
Kelembaban nisbi (relative humidity) dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara berat uap air yang terkandung dalam udara pada volume tertentu dengan kandungan uap air maksimum yang dapat diserap oleh udara pada volume dan temperature yang sama. Udara panas dapa menyerap lebih banyak uap air jika dibandingkan dengan udara dingin. Oleh sebab itu kelembaban udara akan naik jika temperature turun dan sebaliknya kelembaban udara akan turun jika temperature naik selama kandungan uap air tidak berubah.

Kelembaban udara yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan menimbulkan masalah. Kombinasi antara temperature yang tinggi dan kelembaban yang tinggi kan menyuburkan pertumbuhan jamur dan serangga. Pada keadaan kelembaban yang terlalu tinggi akan menyebabakan tinta yang larut dalam air akan menyebar dan kertas pada buku akan saling menempel, yang akan sulit dilepas pada saat kering. Sebaliknya jika kelembaban udara terlalu rendah, menyebabkan kertas menjadi kering dang etas serta sampul yang  terbuat dari kulit akan menjadi keriput.

Perubahan temperatur akan menyebabkan perubahan kelembaban. Fluktuasi yang sangat dratis akan besar pengaruhnya terhadap kerusakan kertas, karena kertas akan mengendor dan menegang. Jika hal ini terjadi berulang kali, akan memutuskan ikatan rantai kimia pada serat selulosa.

Temperatur dan kelembaban udara ideal bagi bahan pustaka Adela 20o-24oC dan 45%-60% RH. Satu-satunya cara untuk mendapat mendapatkan kondisi seperti ini adalah memasang AC 24 jam sehai selama 7 hari dalam seminggu.

b. Cahaya
Cahaya atau energy radiasi juga mempunyai efek pada bahan pustaka. Cahaya akan mempercepat pksidasi dari molekul selulosa sehingga rantai ikatan kimia pada molekul tersebut terputus. Cahaya mempunyai pengaruh mengelantang, menyebabkan kertas menjadi pucat dan tinta memudar. Karena pengaruh cahaya ini, lignin pada kertas akan bereaksi dengan komponen lain sehingga kertas berubah menjadi kecoklatan.

c. Pencemar Udara
Pencemar udara seprti gas sulfur dioksida, gas hydrogen sulfide dan gas oksida yang berasal dari hasil pembakaran minyak bumi dari pabrik dan kendaraan bermotor dapat merusak bahan pustaka. Sulfur dioksida dan nitrogen oksida

d. Faktor Biota
Mahluk hidup seperti jamur, serangga dan binatang pengerat dapat merusak bahan pustaka. Spora jamur selalu ada dalam udara. Spora ini akan tumbuh jika kondisi memungkinkan. Kondisi yang hangat dengan temperatur antara 32oC – 35oC dan kelembaban 70% RH, gelap dan sedikit sirkulasi udara, jamur akan tumbuh dengan subur, jamur ini akan melemahkan kertas dan menimbulkan noda permanen.

Serangga dan binatang pengerat memakan serat dan bahan organic lainnya pada bahan pustaka. Serangga yang biasa menyerang bahan pustakan adalah kecoa, silverfish, book lice, book worm dan rayap. Kerusakan yang ditimbulkan biasanya tidak dapat dikembalikan seperti semula, karena ada bagian-bagian yang hilang atau berlubang. Binatang pengerat merusak bahan pustaka karena dimakan dan dipakai untuk membuat sarang. Binatang ini biasanya meninggalkan kotoran yang menyebabkan bahan pustaka menjadi kotor.

e. Rak dan Lemari Buku yang tidak memenuhi Syarat
Rak dan lemari buku yang tidakmemenuhi syarat dapat merusak bahan pustaka, misalnya ukuran buku lebih besar dari rak atau rak dan lemari buku yang  terbuat dari material yang menimbulkan kerusakan pada bahan pustaka. Buku diletakkan pada rak yang lebih kecil dari ukuran buku dapat mengakibatkan kerusakan fisik, seperti cover buku menjadi patah dan melengkung sehingga balok buku yang sudah rapuh akan patah dan hancur.

f. Bencana
Bencana alam seperti kebanjiran, gempa bumi, kebakaran dan kerusuhan merupakan factor yang sulit dielakkan. Bencana ala mini dapat memusnahkan baan pustaka dalam waktu singkat. Kerusakan yang terjadi karena kebanjiran dan air hujan adalah timbulnya noda oleh jamur dan kotoran yang dibawa oleh air. Noda yang ditimbulkan oleh jamur sangat sukar dihilangkan karena jamur berakar di sela-sela serat kertas.

3. Faktor Manusia
Faktor penyebab yang besar bagi kerusakan bahan pustaka dimungkinkan karena keterlibatan manusia. Keterlibatan tersebut dapat dilakukan secara langsung (misalnya: pencurian, pengrusakan, penanganan yang kurang hati-hati) atau kerusakan secara tidak langsung, misalnya produksi kertas dengan kualitas rendah, mutu jilidan yang rendah dan tidak adanya penyuluhan kepda staf dan pengguna perpustakaan.

B. Konsep Kenyamanan
Mengaitkan penelitian Lippsmeier (menyatakan pada temperatur 26°C TE umumnya manusia sudah mulai berkeringat serta daya tahan dan kemampuan kerja manusia mulai menurun) dengan pembagian suhu nyaman orang Indonesia menurut Yayasan LPMB PU, maka suhu yang kita butuhkan agar dapat beraktifitas dengan baik adalah suhu nyaman optimal (22,8°C – 25,8°C dengan kelembaban 70%). Angka ini berada di bawah kondisi suhu udara di Indonesia yang dapat mencapai angka 35°C dengan kelembaban 80%.

Bagaimana usaha mengendalikan faktor-faktor iklim di atas untuk memperoleh kenyamanan termal di dalam bangunan. Cara yang paling mudah adalah dengan pendekatan mekanis yaitu menggunakan AC tetapi membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit. Pendekatan kedua adalah mengkondisikan lingkungan di dalam bangunan secara alami dengan pendekatan arsitektural.

Pengkondisian lingkungan di dalam bangunan secara arsitektural dapat dilakukan dengan mempertimbangkan perletakan bangunan (orientasi bangunan terhadap matahari dan angin), pemanfaatan elemen-elemen arsitektur dan lansekap serta pemakaian material/bahan bangunan yang sesuai dengan karakter iklim tropis panas lembab. Melalui ke 4 (empat) hal di atas, temperatur di dalam ruangan dapat diturunkan beberapa derajat tanpa bantuan peralatan mekanis.

a. Orientasi Bangunan

• Orientasi Terhadap Matahari
Orientasi bangunan terhadap matahari akan menentukan besarnya radiasi matahari yang diterima bangunan. Semakin luas bidang yang menerima radiasi matahari secara langsung, semakin besar juga panas yang diterima bangunan. Dengan demikian, bagian bidang bangunan yang terluas (mis: bangunan yang bentuknya memanjang) sebaiknya mempunyai orientasi ke arah Utara-Selatan sehingga sisi bangunan yang pendek, (menghadap Timur – Barat) yang menerima radiasi matahari langsung .

• Orientasi terhadap Angin (Ventilasi silang)
Kecepatan angin di daerah iklim tropis panas lembab umumnya rendah. Angin dibutuhkan untuk keperluan ventilasi (untuk kesehatan dan kenyamanan penghuni di dalam bangunan). Ventilasi adalah proses dimana udara ‘bersih’ (udara luar), masuk (dengan sengaja) ke dalam ruang dan sekaligus mendorong udara kotor di dalam ruang ke luar. Ventilasi dibutuhkan untuk keperluan oksigen bagi metabolisme tubuh, menghalau polusi udara sebagai hasil proses metabolisme tubuh (CO2 dan bau) dan kegiatan-kegiatan di dalam bangunan. Untuk kenyamanan, ventilasi berguna dalam proses pendinginan udara dan pencegahan peningkatan kelembaban udara (khususnya di daerah tropika basah), terutama untuk bangunan rumah tinggal.

b. Elemen Arsitektur

1. Pelindung Matahari
Apabila posisi bangunan pada arah Timur dan Barat tidak dapat dihindari, maka pandangan bebas melalui jendela pada sisi ini harus dihindari karena radiasi panas yang langsung masuk ke dalam bangunan (melalui bukaan/kaca) akan memanaskan ruang dan menaikkan suhu/temperatur udara dalam ruang. Di samping itu efek silau yang muncul pada saat sudut matahari rendah juga sangat mengganggu. Gambar di bawah adalah elemen arsitektur yang sering digunakan sebagai pelindung terhadap radiasi matahari (solar shading devices).

METODOLOGI PENELITIAN
• Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di Kabupaten Merauke, rencana perpustakaan yang diteliti berada di kecamatan Merauke kelurahan Rimba Jaya, fokus penelitian hanya 1(satu) perpustakaan, yaitu milik Universitas Musamus (UNMUS).

• Penentuan Daerah Pengukuran
Penentuan daerah pengukuran pada perpustakaan dibagi atas  dua titik ukur yaitu: ruang luar dan ruang dalam.
Ruang luar titik pengukuran yaitu pada teras perpustakaan dan juga ruang luar disekitar bangunan yang tersinari matahari kurang lebih 1-2 meter dari bangunan. Sedangkan pengukuran direncanakan dengan ketinggian yaitu pada permukaan lantai / 0 cm, 100 cm dari permukaan lantai, 175 cm dari permukaan lantai dan 200 cm dari permukaan lantai.
Pada ruang dalam, pengukuran dilakukan pada ruangan yaitu : ruang koleksi perpustakaan, ruang baca, dan ruang pengelolaan/staf perpustakaan. Untuk mempermudah dan mempercepat proses pengukuran di lapangan, maka perlu adanya penentuan titik ukur di daerah pengukuran setiap ruang sampel dan tabel pengukuran yang memuat: daerah titik ukur, waktu pengukuran, suhu, kelembaban, intensitas cahaya, kecepatan angin dan kebisingan yang terjadi. Di dalam ruang perpustakaan, pengukuran dilakukan dengan sepuluh titik ukur dan 4 titik ukur di rak buku. Pengukuran dengan ketinggian pada permukaan lantai / 0 cm, 100 cm dari permukaan lantai, 175 cm dari permukaan lantai dan 200 cm dari permukaan lantai.

• Analisis Data
1. Analisis Diskriptif
Analisa diskriptif digunakan untuk meninjau kondisi koleksi perpustakaan serta kondisi lingkungan bangunan perpustakaan.
2. Analisis Kualitatif
Analisis kualitatif digunakan untuk menganalisis koleksi dan lingkungan disekitar perpustakaan, elemen-elemen pembentuknya untuk mengetahui pengaruh terhadap kondisi termal dalam ruang.
3. Analisis Kuantitatif
Analisis kuantitatif dilakukan untuk menganalisis hasil observasi dilapangan yaitu untuk mendapatkan indeks kenyamanan di dalam ruangan. Data hasil pengukuran yang berupa data kuantitatif, baik pengukuran diluar maupun di dalam bangunan diperbandingkan dengan standart kenyamanan termal kemudian melakukan analisis kuantitatif. Diagram yang digunakan untuk menganalisis adalah sebagai berikut :
a. Untuk menentukan Wet Bulb Temperatur (WBT) digunakan Diagram Psikometric yang menunjukkan kombinasi antara temperatur kering yang diukur secara normal dan kadar kelembaban udara
b. Untuk menentukan Temperatur Efektif digunakan diagram Temperature Effective yang menunjukkan kombinasi temperatur udara, kelembaban dan kecepatan angin.
c. Untuk mengetahui kenyamanan termal juga digunakan standart kenyamanan dari hasil penelitian Talarosha (2005).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Data iklim dari hasil pengukuran pada yang dilakukan pada tanggal 23 Oktober  sampai dengan 2 November 2012, Hasilnya dicari rata-rata, nilai minimum dan nilai maksimum, disusun dalam bentuk tabel sebagai berikut :

 

Rangkuman Hasil Penelitian
Berdasarkan  hasil  penelitian untuk semua ketinggian pengukuran (lantai/0 cm – 200 cm dari lantai), suhu  rata-rata di dalam bangunan berkisar antara 29.28o – 32.93oC dengan rata-rata 30.95oC, sementara diluar bangunan 29.31o – 35oC dengan rata 31.66oC. dan untuk suhu dalam ruang koleksi (lemari buku) adalah 29.61o – 31.62oC dengan rata-rata 30.47oC. untuk kelembaban didalam bangunan 62.08 – 79.33 % dengan rata-rata 70.79%, sementara kelembaban diluar bangunan 61.61 – 75.83 dengan rata-rata 70.79%. untuk kelembaban didalam ruang koleksi (rak buku) 28.52 – 31.78% dengan rata-rata 30.41%. secara standar termal baik untuk penyimpanan koleksi perpustakaan masuk pada kategori kurang baik, karena suhu diatas standar yaitu 30.95oC (25,8oC Standar suhu, sumber …..), maupun kenyamanan penggunana perpustakaan kondisi suhu perpustakaan Universitas Musamus tidak masuk pada kondisi Nyaman Optimal.  Kondisi suhu pada rak buku adalah 30.47oC dengan kelembaban 79.08%
Dengan kondisi suhu dan kelembaban seperti ini kondisi koleksi buku akan berjamur, melemahkan kertas buku dan menimbulkan noda permanen pada buku yang disimpan.

a. Suhu di dalam bangunan juga dipengaruhi oleh udara yang mengalir di dalam bangunan. Akibat sirkulasi yang kurang lancar (Stagnancy) ke dalam Perpustakaan menyebabkan suhu di dalam bangunan meningkat.

b. Dengan memaksimalkan masuknya udara dari bukaan-bukaan yang ada, suhu di dalam ruangan dapat menurun sehingga menghasilkan kondisi yang nyaman di dalam ruangan.

Lingkungan sekitar Perpustakaan (topografi, vegetasi dan bangunan lain) mempengaruhi kondisi kenyamanan termal pada rumah  Perpustakaan. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa kondisi sekitar perpustakaan cukup baik akan tetapi pada posisi depan perpustakaan masih ada perkerasaan cukup luas, yang pada saat siang hari panasnya masuk ke dalam Perpustakaan, kondisi ini sangat mempengaruhi meningkatnya kondisi suhu dalam bangunan.

Berdasarkan analisis dari hasil pengukuran, pencatatan dan pengamatan, maka dapat disimpulkan bahwa keberadaan  Perpustakaan beserta lingkungan telah dapat merespon terhadap pengaruh variabel iklim tropis untuk mencapai kondisi termal dalam ruang bangunannya adalah sebagai berikut :

1. Pengaruh Temperatur Udara
Dari hasil analisis yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa rentang temperatur yang terjadi pada Perpustakaan rata-rata 29.31o – 35oC atau pada kondisi Nyaman Optimal sampai  Panas (untuk luar bangunan), sementara untuk yang didalam bangunan rata-rata 29.28o – 32.93oC pada kondisi Nyaman Optimal sampai Panas. Perbedaan antara suhu diluar bangunan dan didalam bangunan hanya 0.3oC. Suhu dalam ruang masuk kategori Temperatur kering tidak baik untuk menyimpan koleksi perpustakaan (yang seharusnya 20o-24oC) dan tidak nyaman bagi pengujung perpustakaan.

2. Pengaruh Kelembaban
Lokasi bangunan (Topografi) yang berada di kawasan waterfront/pesisir, dapat memberi sumbangan tingkat kelembaban di dalam bangunan/ruang. Rentang kelembaban berada pada 62.44 – 79.33 %.  Dengan kelembaban yang cukup tinggi didukung pula dengan suhu yang tinggi, biota (jamur, serangga dll) dapat tumbuh subur pada koleksi perpustakaan Unmus.

3. Pengaruh Pergerakan Udara  dan Kecepatan Angin
Kecepatan gerak udara sangat penting dalam usaha menciptakan suatu nilai kenyamanan. Bila dilihat bukaan yang ada pada perpustakaan kurang memenuhi, ini dikarenakan kaca yang digunakan adalah kaca mati yang tidak maksimal memasukkan angin.  Kecepatan udara yang didapat adalah 0.26 – 0.51 m/s (didalam bangunan), diluar perpustakaan berkisar antara 0.63 – 2.55 m/s.
Kecepatan Angin diluar bangunan sebenarnya cukup kecang tetapi tidak tertalu berpengaruh kedalam bangunan, dikarenakan bukaan-bukaan pada bangunan (khusunya jendela) tidak maksimal memasukkan udara.

4. Kebisingan
Kebisingan  mempengaruhi kenyamanan pengguna perpustakaan, kebisingan pada perpustakaan Unmus berkisar antara 51.72 – 70.82 dB (didalam bangunan), 52.26 – 74.25 dB (diluar bangunan). Kebisingan di perpustakaan dikarenakan perpustakaan dekat dengan parkir kendaaraan, akan tetapi dengan besar dB diatas tidak mengganggu kenyamanan pengguna perpustakaan.

5. Intensitas Cahaya
Perpustakaan merupakan salah satu tempat  yang sebagian besar kegiatan sangat mengandalkan mata, dan dipengaruhi oleh cahaya. Intensitas cahaya pada perpustakaan Unmus adalah 52 – 208.20 lux dengan rata-rata 114.84 x. dengan lux diatas 100 lux kondisi perpustakaan Unmus nyaman untuk melihat dan membaca.

KESIMPULAN DAN SARAN
a. Kondisi suhu dan kelembaban pada ruang dalam perpustakaan tidak baik bagi kondisi koleksi perpustakaan (buku-buku, majalan, CD dan lain-lain) dan tidak nyaman bagi pengguna perpustakaan (mahasiswa, staf/pegawai perpustakaan dan pengujung perpustakaan lainnya).
b. Sebagai tempat yang aktifitasnya berhubungan dengan mata, pencahayaan di dalam ruangan mencukupi kebutuhan untuk  mendukung aktifitas tersebut.
c. Kondisi rak buku sebagai tempat penyimpanan buku-buku serta arsip-arsip tidak sesuai dengan standar penyimpanan buku yang ada.
d. Bukaan-bukaan yang ada kurang memaksimalkan masuknya udara ke dalam bangunan, sehingga memengaruhi kondisi-kondisi bangunan yang dipengarui oleh iklim.

DAFTAR  PUSTAKA
Alahudin, M. 2012. Kenyamanan Termal  Pada  Bangunan  Hunian  Tradisional  Toraja (Jurnal Mustek Anim Ha Volume 1 No 3 Desember 2012, Unmus Merauke.

Alahudin, M. 2012. Kondisi Lingkungan Sekitar Terhadap Kenyamanan Termal Rumah Sewa (Studi Kasus Rumah Sewa Di Kel. Seringgu Jaya Merauke). Jurnal Mustek Anim Ha Volume 3 No 1 April 2014, Unmus Merauke.

Boutet, Terry S. 1987. Controlling Air Movement, Mc. Graw Hill Book Co, New York.

Brown, GZ. 1990. Matahari, Angin dan Cahaya, Penerbit Intermatra, Bandung.

Departemen Pekerjaan Umum (1993), Standar: Tata Cara  Perencanaan  Teknis  Konservasi Energi Pada Bangunan Gedung, Bandung: Yayasan LPMB.

Egan, David, M. 1999. Konsep-konsep Dalam Kenyamanan Thermal, alih bahasa. Rosalia, Kelompok Sains dan Teknologi Arsitektur, Jurusan Arsitektur Universitas Merdeka, Malang.

Galony S, Gideon. 1995. Ethic and Urban Design, Jhon Willey and Sons, New York. Givoni, B. 1967. Man, Climate and Architecture, Applied Science Publisher, London.

Koenigsberger, dkk. 1973. Manual of Tropical Housing and Building, Orient Longman India.

Lakitan B. 2002. Dasar-dasar Klimatologi. PT. RajaGrafindo Persada. Jakarta.

Lippsmeier, Georg. 1984. Bangunan Tropis, Erlangga, Jakarta.

Manguwijaya Y.B. 1994. Pengantar Fisika Bangunan. Penerbit Djambatan. Yogyakarta.

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2010). Bahan Ajar Diklat Teknik Pengolahan Perpustakaan

Szokolay, SV. 1980. Environment Science Handbook, Construction Press Longman, London.