Pengembangan Jaringan Heritage Digital Library Network (Headline) Sebagai Upaya Pelestarian Pusaka Budaya

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang 
      Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki kekayaan dan keragaman pusaka budaya yang tersebar dari wilayah Sabang sampai Merauke. Pusaka budaya merupakan karya, cipta rasa, karsa bangsa di Tanah Air Indonesia yang dilakukan baik secara sendiri-sendiri maupun hasil interaksi dengan budaya lain sepanjang sejarah keberadaanya. Pusaka budaya mencakup pusaka berwujud (tangible) seperti candi istana, bangunan, tarian, musik, kearifan, bahasa, manuskrip, dan pusaka tidak berwujud (intangible) seperti filosofi, kebiasaan, etika dan lain sebagainya.  
      Seiring dengan perkembangan jaman warisan  pusaka budaya Bangsa Indonesia dirasa kurang mendapat perhatian dan dukungan baik dari  pemerintah maupun para pewaris pusaka budaya itu sendiri sehingga tidak heran jika banyak benda pusaka budaya kondisinya tidak terawat dan tercerai berai di banyak tempat. Kurangnya pemahaman akan arti pusaka budaya serta tidak adanya dana untuk merawat  benda-benda pusaka budaya dijadikan alasan untuk melakukan penjualan benda-benda pusaka maka tak heran jika peninggalan leluhur itu tercecer di banyak negara. Khusus untuk naskah/manuskrip dengan bahan kertas, lontar, bambu dan kulit kayu yang banyak terdapat di tanah air, kondisi fisiknya sangat memprihatinkan dan cenderung bertambah parah jika tidak diselamatkan. Beberapa naskah yang sangat terkenal seperti Negara Kertagama, Sutasoma,  Babad Giyanti dan lain sebagainya memiliki nilai historis dalam pergerakan perjuangan bangsa yang perlu dilestarikan, dan dikaji isinya  sebagai bekal pembangunan dalam membentuk jatidiri bangsa agar kekuatannya tidak hilang dan dapat diwariskan kepada generasi penerus bangsa Selain masalah pemanfaatan pusaka budaya yang yang tidak maksimal, masalah lain yang muncul adalah keberadaannya yang sulit dilacak. Beberapa naskah asli Indonesia diketahui tersebar di negara-negara lain, seperti Malaysia,  Belanda dan lain sebagainya. Begitu banyak muatan lokal (local content) yang ditulis pada naskah-naskah tersebut baik berisi rekaman peristiwa, sejarah, maupun adat istiadat dari berbagai aspek kehidupan manusia di Indonesia. Hal ini diupayakan sebagai langkah penyelamatan aset budaya bangsa agar tidak kehilangan mata rantai perkembangan kebudayaan dari jaman dulu sampai dengan sekarang.  

1.2 Perpustakaan dan Fungsi Pelestarian 
      Kesalahan besar pemahaman masyarakat terhadap arti dan peran perpustakaan ketika menganggap perpustakaan hanya sebagai tempat menyimpan buku-buku dan arsip. Belum dirasa ada perpustakaan di Indonesia yang berperan sebagai pusat reservasi dan informasi pusaka budaya yang dapat diandalkan seperti yang dilakukan oleh perpustakaan-perpustakaan di luar negeri seperti Mesir, Inggris, Australia, New Zealand, Amerika dan lain sebagainya. Perpustakaan Nasional di negara-negara tersebut dijadikan tolok ukur kemajuan dan kualitas riset juga pengelolaan serta pelestarian pusaka kebudayaan. Padahal dalam kenyataan sehari-hari, banyak mahasiswa dan peneliti yang sangat membutuhkan kehadiran perpustakaan yang mampu menyediakan informasi yang diperlukannya. 
      Melalui misi perpustakaan dalam hal pelestarian pusaka budaya bangsa, informasi dalam pusaka budaya tersebut dapat dikemas ulang (repackage) untuk disebarluaskan bagi yang membutuhkannya. Manfaat pelestarian tidak saja berkonotasi pada upaya menyimpan fisik naskah atau bahan perpustakaan selama-lamanya tetapi juga berperan dalam mengalihmediakan informasi yang dikandungnya agar dapat dimanfaatkan secara lebih universal.

      Beruntung sekarang di Indonesia telah ada Undang-undang nomor 4 tahun 1990 yang mengatur tentang serah simpan karya cetak dan karya rekam. Undang-undang tersebut dijadikan dasar hukum yang kuat bagi Perpustakaan Nasional untuk membangun koleksi yang dapat mencerminkan rekaman budaya hasil cipta karya anak bangsa di seluruh Indonesia. Hal ini sangat selaras dengan peran perpustakaan sebagai kekuatan dalam pelestarian dan penyebaran informasi ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang berkembang seiring dengan menulis, mencetak, mendidik dan kebutuhan manusia akan informasi. Perpustakaan membagi rata informasi dengan cara mengidentifikasi, mengumpulkan, mengelola dan menyediakan untuk umum. Keberadan perpustakaan. Memang dibutuhkan.

1.3 Identifikasi Masalah

      Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), berbagai jenis aplikasi TIK telah dimanfaatkan di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lainya tidak terkecuali di bidang pelestarian kebudayaan. Namun demikian jika melihat di Indonesia maka belum banyak pihak yang melihat potensi TIK dimanfaatkan secara sungguh-sungguh dan optimal dalam upaya pelestarian kebudayaan. Padahal dengan beragam inovasi penggunaan TIK seharusnya mudah dilakukan dan dimanfaatkan untuk pelestarian budaya. Contoh keberhasilan pemanfaatan TIK dalam membantu usaha pelestarian warisan budaya adalah negara seperti Mesir, Inggris, Amerika, Australia, New Zealand dan lain sebagainya. 
      Sering dikatakan bahwa dalam era informasi dan komunikasi ini, negara berkembang sebenarnya memiliki keuntungan karena dapat melompati beberapa tahap pembangunan yang harus dilewati oleh negara yang lebih maju sebelumnya, dengan memanfaatkan secara optimal kemajuan teknologi yang telah dicapai. Melalui perkembangan TIK, pergerakan informasi, pengetahuan dan interaksi dapat difasilitasi secara lebih cepat dengan biaya minimal. 
      Pertanyaannya kemudian adalah bila upaya pemanfaatan TIK dapat berhasil dilakukan oleh negara-negara yang telah disebutkan diatas maka pelajaran  apa yang dapat ditarik dari pengalaman negara-negara tersebut. 

1.4 Kendala 
      Walaupun usaha pelestarian pusaka budaya adalah usaha mulia namun bukan tidak ada kendala dalam prakteknya. Kendala utama bukan terletak pada faktor teknis dan teknologi yang digunakan tetapi lebih kepada yang faktor non teknis seperti :

– kurangnya kemauan dari masyarakat maupun institusi kebudayaan untuk berbagi (sharing)   informasi  koleksi pusaka budaya 
– minimnya SDM di institusi kebudayaan yang memiliki kompetensi TIK 
– minimnya perhatian dan dana yang dialokasikan untuk program pelestarian budaya 
– kurangnya minat masyarakat dalam untuk memanfaatkan informasi ilmu pengetahuan yang terdapat dalam pusaka budaya.

2. Pengembangan Usaha 
      Dalam menyelenggarakan usaha pelestarian pusaka budaya dengan menggunakan TIK, diperlukan usaha inovatif dan mudah direalisasikan agar diterima oleh semua institusi pengelola kebudayaan  dan mampu membawa hasil yang nyata dan berkesinambungan seperti tujuan yang diharapkan. Berikut adalah usaha yang dikembangkan dalam pelestarian khasanah budaya bangsa.

2.1 Kerjasama Antar Institusi Kebudayaan 
      Pelestarian warisan pusaka budaya bangsa adalah usaha bersama dari institusi yang memiliki otoritas dalam pengelolaan kebudayaan seperti Perpustakaan, Museum, Arsip dan institusi lain yang berhubungan. Usaha pelestarian merupakan kewajiban sebagai langkah untuk menyambung rentang mata rantai perkembangan kebudayaan bangsa Indonesia dan bekal membangun peradaban bangsa.  
      Perpustakaan Nasional merupakan wahana pewarisan budaya sebagai wujud dari suatu proses budaya dituntut untuk lebih berperan dalam upaya pelestarian warisan pusaka budaya bangsa bagi kepentingan masyarakat. Perpustakaan Nasional diharapkan menjadi pionir dalam usaha ini dengan mengambil inisiatif dengan menyediakan suatu bentuk kesekretariatan bersama dengan institusi pengelola kebudayaan seperti Museum, Arsip, Keraton, Galeri Seni dan lainya untuk dapat merumuskan visi, misi dan  program kerja yang jelas. Melakukan penelitian, survei dan studi banding secara menyeluruh serta mengoptimalkan infrastruktur teknologi yang dimiliki akan menghindarkan dari kerugian dari usaha dan investasi besar yang sia-sia. 
      Perpustakaan, Arsip, Museum, Keraton dan Galeri Seni merupakan institusi yang memiliki otoritas dan tanggung jawab dalam hal pengumpulan, pengelolaan dan penyediaan warisan pusaka budaya. Masing-masing institusi tersebut memiliki jenis dan tujuan tersendiri dalam hal  pengelolaan koleksi yang dimilikinya. Perpustakaan menyediakan katalog perpustakaan yang menunjukan koleksi yang dimilikinya baik cetak, elektronik maupun manuskrip untuk tujuan sebagai bahan referensi maupun koleksi yang bisa dipinjamkan. Arsip menyediakan daftar koleksi dokumen (memori) kolektif bangsa sebagai gambaran perjalanan sejarah bangsa dari masa ke masa yang digunakan sebagai bahan referensi atau konsultasi. Museum dan Keraton merupakan institusi yang memiliki otoritas dalam hal mengumpulkan dan mengelola benda-benda pusaka budaya yang bisa digunakan sebagai bahan penelitian atau pameran sebagai benda bersejarah. Demikian juga galeri seni memiliki peran dalam pengumpulan dan penyediaan karya-karya seniman baik tingkat lokal maupun nasional.  
      Seiring dengan perkembangan teknologi digital multimedia dan sistem computer network yang demikian pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas, membuka peluang penggunaan teknologi tersebut dalam pengembangan  suatu repository bersama seperti halnya Perpustakaan Digital yang berakar dari bentuk kolaborasi dan kerjasama antar institusi kebudayaan.

2.2 Transformasi Multimedia  
      Pemanfaatan teknologi digital telah berkembang sebegitu pesatnya sehingga upaya mendokumentasikan berbagai benda-benda pusaka kebudayaan seperti manuskrip, kitab-kitab kuno dan lain sebagainya dalam bentuk digital dirasakan hal yang tidak sulit lagi. Seperti telah disinggung dalam bab sebelumnya proses yang dilakukan adalah dengan mentransformasikan dari benda-benda (artefak) pusaka budaya ke dalam bentuk digital multimedia (teks, gambar, animasi, audio, video, hyperlingking). 
      Dalam format  digital setiap benda (artefak) pusaka budaya di metadatakan dalam sebuah record (catalog) file yang mampu mendeskripsikan informasi secara lengkap tentang artefak pusaka budaya tersebut sesuai dengan visualisasi yang interaktif dan atraktif seperti bentuk aslinya. Record-record tersebut disimpan dalam media hardisk maupun dalam bentuk keping CD-ROM.

2.3 Pengembangan Heritage Digital Library Network (HeaDLiNe) 
      Perkembangan perpustakaan digital di Indonesia cukup menggembirakan hal ini dapat kita lihat dari bertambahnya jumlah perpustakaan maupun jumlah koleksi (contents) yang dikelola dari perpustakaan digital. Seperti jaringan perpustakaan digital yang beralamat di
www.indonesiadln.org yang melibatkan tak kurang dari  seratus institusi perpustakaan dan pusat informasi yang menjadi mitra dalam penyebaran ilmu pengetahuan. Upaya pengembangan perpustakaan digital tersebut tidak hanya sebatas pengembangan untuk lingkup pendidikan atau sekolah saja namun juga ditujukan pada pengelolaan informasi yang menjadi aset pusaka budaya bangsa Indonesia yaitu dengan mengembangkan jaringan perpustakaan digital untuk pelestarian dan penyebarluasan informasi pusaka budaya bangsa yaitu Heritage Digital Library Network (HeaDLiNe). 
      Keberadaan Perpustakaan Digital (HeaDLiNe) diharapkan dapat menghimpun ragam informasi pusaka budaya yang tersebar di berbagai institusi kebudayaan yang ada di Indonesia baik di tingkat pusat maupun daerah. Disamping dijadikan sebagai acuan informasi bagi para peneliti, mahasiswa, pelajar dan masyarakat umum kehadiran HeaDLiNe dijadikan sarana pengembangan kebudayaan itu sendiri. Dengan hadirnya HeaDLiNe akan memudahkan masyarakat dalam memperoleh informasi pusaka budaya Indonesia 
      Kelompok sasaran HeaDLiNe adalah institusi-institusi kebudayaan yang mempunyai informasi koleksi spesifik tentang pusaka budaya  seperti perpustakaan, arsip, museum, keraton, galeri seni.  Keberadaan HeaDLiNe ini nantinya tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sumber-sumber lain dan pelayanan informasinya terbuka bagi pengguna di seluruh dunia sehingga bisa dijadikan promosi budaya bangsa Indonesia. Koleksi dari perpustakaan digital ini tidak hanya menekankan bentuk tampilan atau visualisasi alih media dari benda-benda (artefak) asli budaya dalam bentuk digital saja tetapi juga pada makna atau informasi yang dikandungnya.  
      Melalui HeaDLiNe perpustakaan dapat menyediakan akses informasi yang lebih luas dan terbuka dalam hal jenis, bentuk dan jangkauan layanan serta hubungan yang lebih cepat antar jaringan institusi kebudayaan, jasa layanan sumber informasi dengan jaringan informasi global yang ada

 

 

2.4 Tujuan 
      Dengan adanya kerjasama antar pusat kebudayaan akan banyak manfaat yang diperoleh dalam usaha pengembangan Heritage Digital Libray Network yang mampu memotivasi pusat-pusat kebudayaan dalam melakukan usaha pelestarian pusaka budaya secara bersama-sama. Tujuan dari adanya perpustakan digital ini antara lain adalah: 

1. Membangun pola kerjasama antar pusat-pusat kebudayaan dengan menyamakan visi dan misi dalam usaha pelestarian khasanah budaya Indonesia.
2. Memberikan kemudahan akses informasi hasil kebudayaan Indonesia, yang belum terkoordinir dan tereksploitasi secara maksimal.
3. Mendekatkan informasi kebudayaan ke semua lapisan masyarakat, seperti para pengambil kebijakan, peneliti,  dosen, mahasiswa, pelajar dan asosiasi profesi serta masyarakat luas.
4. Menata dan mengemas ulang data dan informasi yang dimiliki berbagai pusat kebudayaan, dengan mengemas sebuah ilmu pengetahuan di bidang kebudayaan dalam bentuk multimedia yang lebih menarik dan interaktif.
5. Meningkatkan kerjasama kerja antar pusat-pusat kebudayaan dan mendorong terciptanya penggunaan infrastruktur dan ilmu pengetahuan dengan bersama-sama (knowledge-sharing), sehingga akan terbentuk komunitas yang memiliki kepentingan yang sama atau jenis pekerjaan yang sama, sehingga akan terhubung satu sama lain dalam sebuah pusat sarana penyimpanan.
6. Meningkatkan sumberdaya manusia (pengelola dan pengguna perpustakaan digital) khususnya dalam memahami teknologi informasi.
7. Meningkatkan dan memberdayakan secara maksimal, pusat-pusat kebudayaan di berbagai institusi negeri ataupun swasta ditingkat pusat maupun daerah. dan perguruan tinggi dalam upaya mendukung pembangunan daerah. 
8. Meningkatnya pemahaman dan apresiasi bangsa Indonesia mengenai setiap kebudayaan yang dimiliki oleh tiap-tiap daerah. 
9. Timbulnya identitas bangsa yang mengakibatkan munculnya semangat persatuan dan kesatuan sebagai bangsa Indonesia

2.5 Pengembangan 
      Untuk memperoleh manfaat yang lebih banyak lagi, maka perlu dipertimbangkan beberapa langkah pengembangan perpustakaan digital (HeaDLiNe) ini, diantaranya adalah: 

2.5.1 Konektivitas 
      Konektivitas ini ditujukan untuk beberapa hal yaitu konektivitas kepada repositori benda pusaka budaya yang terdapat di beberapa tempat serta konektivitas kepada masyarakat pengguna.  Hal ini dimaksudkan agar informasi kebudayaan tersebut dapat dengan mudah diakses oleh masyarakat tidak mengenal waktu dan dan tempat. Berdasarkan mekanisme perpustakaan pada umumnya, pengguna dari perpustakaan digital ini dimungkinkan untuk mengakses secara langsung dan utuh (full text) sejumlah artikel koleksi yang disimpan dalam repositori HeaDLiNe. 

2.5.2 Komunitas 
      Komunitas ini berhubungan erat dengan konektivitas tersebut diatas. Ini dimaksudkan sebagai langkah untuk memelihara eksistensi perpustakaan digital (HeaDLiNe) tersebut sehingga tetap kompeten dalam memberikan informasi yang tepat sehingga memberikan manfaat yang positif. Perpustakaan Digital yang baik dapat memberikan rasa ketergantungan dalam memperoleh informasi pada komunitasnya sehingga kehadiranya selalu diharapkan.  

2.5.3 Koleksi (Contents)
Muatan atau isi yang dimaksudkan adalah koleksi aset informasi intelektual di dalamnya.  Hal ini merupakan bagian yang paling penting untuk dipelihara.  Cakupan koleksi repositori harus lebih luas, besar serta selalu ter-update untuk melengkapi apa yang sudah ada dengan apa yang ditemukan kemudian. Untuk itu perlunya adanya keharmonisan kerjasama antar institusi yang memungkinkan adanya penambahan koleksi dari repositori perpustakaan digital tersebut..

2.6 Pengorganisasian 
      Karena usaha pelestarian khasanah budaya merupakan usaha bersama yang sebagai bentuk kolaborasi dan kerjasama maka faktor pengorganisasi sangat penting untuk diperhatikan karena menyangkut berbagai hal, yang meliputi:. 

2.6.1. Struktur Organisasi 
      Struktur organisasi menjadi sangat penting dalam menjaga kesinambungan bentuk kerjasama yang akan dibangun. Hubungan terpenting adalah mendefinisikan pekerjaan dari masing-masing institusi serta pihak-pihak terkait mana yang akan mendukung usaha tersebut. Perpustakaan Nasional dapat mengambil inisiatif untuk mengadakan pertemuan-pertemuan untuk mendiskusikan kebutuhan akan kerja sama antar institusi kebudayaan dan menetapkan suatu panitia kerja dengan menyiapkan proposal yang berhubungan dengan pembiayaan. 

2.6.2. Program Kerja 
      Apabila hal-hal yang menyangkut sistem pengelolaan informasi secara bersama tersebut sudah ada yang bertanggung jawab dengan mengacu pada struktur organisasi, maka langkah selanjutnya adalah memastikan program kerja dari organisasi tersebut. Harus diupayakan agar  kerjasama antar institusi kebudayaan memiliki program kerja kerja yang jelas hal ini dilakukan dalam rangka memberi panduan kerja dan keberlanjutan dari sasaran program kerja yang telah dirancang. Pengelola perpustakaan, arsip, museum, keraton, galeri seni harus saling bahu membahu dalam menciptakan suatu program kerja yang sudah disepakati bersama. 

2.6.3. Sumber Daya Manusia 
      Pengembangan perpustakaan digital pada dasarnya adalah pekerjaan yang menyangkut alih-media bahan pustaka, kemas ulang informasi dan ¿.?. Ada dua hal penting dalam tataran ini, yaitu bagaimana data-data terkumpul dan bagaimana data-data tersebut diolah menjadi sebuah informasi yang dapat dimanfaatkan dengan baik dan optimal. Sumber daya manusia terampil menjadi pilihan untuk menjawab tantangan ini, supaya kegiatan pengalihan media dan kemas ulang bahan pustaka dapat berlangsung dengan baik dan menghasilkan bentuk yang nyata dan bermanfaat. Harus ada kesiapan dan keinginan yang tinggi bagi para pustakawan, arsiparis, pranata / ahli komputer, kurator benda-benda seni untuk dapat bekerja sama dan berkolaborasi dalam kerangka kerja yang profesional

2.6.4. Sumber daya lain 
      Faktor yang tidak kalah pentingnya dalam menunjang kesinambungan pengelolaan pusaka budaya bersama  adalah pendanaan dan etos kerja. Pendanaan lebih diarahkan pada bergulirnya sistem yang telah dibangun termasuk didalamnya adalah insentif bagi para pengelola sistem tersebut, sedangkan etos kerja merujuk pada program kerja sebuah organisasi tersebut. 
      Dari ke empat faktor tersebut diatas, yang harus dilampaui sebelum memulai suatu kerjasama dalam usaha pelestarian pusaka budaya adalah pengeorganisasian penetapan sasaran program. Dari sisi sumber daya manusia, pelatihan menjadi salah satu alternatif untuk menunjang kinerja para pengelola sistem informasi sehingga dari sini diharapkan dapat memiliki sumber daya manusia yang terampil. Setelah semua proses diatas terlampaui barulah disain sebuah sistem kolaborasi dan kerjasama dapat digelar dan penunjang teknis mulai dipikirkan untuk sistem informasi yang akan dibangun.

3. Penutup

3.1 Kesimpulan 
      Kerjasama antar institusi kebudayaan dalam menyediakan akses pada warisan budaya pada umumnya merupakan sebuah konsep baru bagi Perpustakaan Nasional di Indonesia. Masalah utama dalam pelestarian pusaka budaya bangsa bukan dalam hal teknologi tetapi pada kemauan dari institusi-institusi pengelola kebudayaan serta untuk itu harus ada lebih banyak usaha untuk membangkitkan kesadaran dan kebiasaan dengan prinsip-prinsip dan praktek kerjasama yang meliputi kebutuhan untuk bekerjasama, prasyarat dan tantangan. Teknologi yang ada untuk jaringan perlu digali dan dioptimalkan untuk menyediakan akses data yang lebih luas dan komprehensif yang terdapat di perpustakaan, arsip, museum, galeri seni dan institusi budaya lainnya. Perpustakaan Nasional telah terbiasa bekerjasama dan menjalin jaringan dengan perpustakaan, institusi, dan komunitas lain dari hal ini dapat mengambil pengalaman ini sebagai pendekatan proaktif terhadap ide kerjasama dengan institusi-institusi  budaya di negara ini.

3.2 Saran 
      Perpustakaan Nasional lebih giat mengambil inisiatif untuk mengadakan pertemuan-pertemuan untuk mendiskusikan kebutuhan akan kerja sama dan kolaborasi antar institusi kebudayaan dan menetapkan suatu panitia kerja dengan menyiapkan proposal yang berhubungan dengan pembiayaan dan perencanaan kerja.