Peningkatan Kemampuan Information Literate Sebagai Basis Pengembangan Menyeluruh Perpustakaan Masa Depan dalam Globalisasi Informasi : Kebutuhan Informasi dalam menentukan Arah Pengembangan Perpustakaan

Pendahuluan
Peranan globalisasi informasi terhadap kebutuhan informasi
Dunia dewasa ini disibukkan dengan persaingan ketat memasuki era globalisasi, dimana  telah memberikan dampak pada segala aspek kemasyarakatan terutama pada perkembangan informasi. Era globalisasi juga disebut dengan era informasi saat ini lebih pada perang teknologi terutama teknologi informasi akan semakin keras, sehingga kemajuan dalam pencarian informasi akan terus diperbarui hingga kemudahan-kemudahan baru akan ditawarkan.

Pada masa globalisasi jelas akan terjadi masa explotion atau ledakan dimana menurut Collin Cherry banyaknya penemuan baru yang memudahkan komunikasi dan informasi dan menimbulkan perkembangan komunikasi yang sangat pesat. Kemudahan ini ditandai semakin dipersempitnya dimensi jarak dan waktu. Hal ini disebabkan karena, pertama, secara potensial teknologi komunikasi dapat menjangkau seluruh permukaan bumi hanya dalam tempo sekejap. Kedua, jumlah pesan dan arus lalu lintas informasi telah berlipat ganda. Untuk dua dekade belakangan ini saja, jumlah kontak komunikasi global yang ada diperkirakan sama banyak dengan komunikasi serupa selama beberapa abad lalu. Ketiga, kompleksitas teknologinya sendiri semakin canggih (sophisticated) baik piranti lunak maupun piranti kerasnya. (Marwah Daud Ibrahim,1994;72).  Pengaruh kuat globalisasi atau era informasi didasari oleh beberapa hal dan karakteristik atau ciri khas perubahan yang timbul akibat kemajuan ini yaitu:

1. Semakin tingginya peradaban yang ditopang oleh keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Masyarakat modern sebagaimana dihasilkan oleh industrialisasi dan teknologisasi merupakan masyarakat dengan struktur kehidupan yang dinamis, kreatif untuk melahirkan gagasan-gagasan demi kepentingan manusia dalam berbagai sektor kehidupan. Daya berpikir dan daya cipta semakin berkembang sedemikian rupa sehingga mampu memformulasikan makna kehidupan dalam konteks yang nyata, seterusnya akan berakibat pada bergesernya nilai-nilai budaya yang setiap saat dapat berlangsung walaupun lamban namun pasti. (AM. Saefuddin,1990:157) Pergeseran norma inilah yang harus diwaspadai.

Tidak satupun peradaban yang dapat disebut maju tanpa diikuti oleh pesatnya pertumbuhan ilmu dan teknologi. Munculnya industrialisasi adalah dampak dari kemajuan pola pikir dan daya kreasi manusia sehingga mampu memformulasikan makna kehidupan dalam bentuk sarana yang tersedia di alam raya.

Industrialisasi dengan demikian menyangkut proses perubahan sosial, yaitu perubahan susunan kemasyarakatan dari suatu sistem sosial, perubahan dari keadaan negara kurang maju (less developed country) menuju kepada negara maju (more developed country). Karena itu, penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan prasyarat untuk memenuhi kebutuhan hidup modern yang sudah memasuki seluruh wilayah kehidupan manusia dan masyarakat bangsa.

2. Penyerbuan komunikasi dan informasi yang menembus batas-batas budaya. Seluruh kemajuan yang dikembangkan oleh manusia tidak bisa dilepaskan dari peranan komunikasi. sehingga sebagian orang menyebut komunikasi sebagai “perekat” hidup bersama.

Hal ini dipahami karena istilah komunikasi itu sendiri mengandung makna bersama-sama (common, commoness: Inggris) berasal dari bahasa Latin communicatio yang berarti pemberitahuan, pemberian bagian (dalam sesuatu), pertukaran, di mana si pembicara mengharapkan pertimbangan atau jawaban dari pendengarnya; ikut mengambil bagian. (Anwar Arifin, 1995:19)

Di samping sebagai lem perekat hidup bersama, komunikasi juga sering dipandang seolah-olah memiliki kekuatan gaib. Menurut B. Aubrey Fisher, tidak ada persoalan sosial yang tidak melibatkan komunikasi. Oleh sebab itu setiap saat manusia selalu dihadapkan dengan masalah sosial, yang penyelesaiannya menyangkut komunikasi yang lebih banyak atau lebih baik. (B. Aubrey Fisher, 1986:7).

Setidak-tidaknya semua kesalahfahaman yang kemudian menimbulkan konflik antara manusia dalam bidang politik, sosial, ekonomi, budaya dan sebagainya dinyatakan sebagai akibat kesalahan komunikasi. Memang komunikasi sering dimunculkan sebagai “kambing hitam”, jika terjadi keruwetan dan ketidakharmonisan dalam hubungan antar manusia dan antara bangsa.

Komunikasi memang menyentuh semua aspek kehidupan bermasyarakat, atau sebaliknya semua aspek kehidupan masyarakat menyentuh komunikasi. Justru itu orang selalu melukiskan komunikasi sebagai ubiquitous atau serba hadir. Artinya komunikasi berada di manapun dan kapanpun. Komunikasi merupakan sesuatu yang memang serba ada. Sifat komunikasi yang serba hadir ini, selain memberikan keuntungan juga sekaligus menimbulkan banyak kesulitan karena fenomena komunikasi itu menjadi luas, ganda dan multi makna.

3. Tingginya laju transformasi sosial. Kemajuan teknologi komunikasi yang dialami umat manusia dewasa ini memberikan kemudahan dan kecepatan dalam berhubungan antara satu dengan lainnya. Jarak tidak lagi menjadi kendala untuk dapat berkomunikasi. Informasi dan peristiwa yang terjadi di belahan dunia secara cepat dapat diakses oleh manusia di benua lain. Di samping jarak yang semakin dekat, masyarakat juga semakin banyak mendapatkan pilihan sarana untuk menyerap informasi.

Dengan semakin cepatnya arus informasi dan beragamnya media komunikasi mengantarkan umat manusia kepada transformasi. Dengan munculnya masyarakat informasi, muncul pula ekonomi informasi. Industri pabrik berubah menjadi industri informasi. John Naisbitt mengidentifikasi beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai perubahan masyarakat industri ke masyarakat informasi sekaligus yang mencirikan masyarakat informasi adalah:

Pertama, masyarakat informasi merupakan suatu realitas ekonomi. Kedua, inovasi di bidang komunikasi dan teknologi komputer akan menambah langkah perubahan dalam penyebaran informasi dan percepatan arus informasi. Ketiga, teknologi informasi yang baru pertama kali diterapkan dalam tugas industri yang lama, kemudian secara perlahan akan melahirkan aktivitas dalam proses produksi yang baru. Keempat, di dalam masyarakat informasi, individu yang menginginkan kemampuan menulis dan kemampuan dasar membaca lebih bagus daripada masa yang lalu, bisa mendapatkan pada sistem pendidikan yang tidak begitu terinci. Kelima, keberhasilan atau kegagalan teknologi komunikasi ditentukan oleh prinsip teknologi tinggi dan sentuhan yang tinggi pula. (John Naisbitt:1984)

Alfin Toffler menggambarkan “karena tumbuhnya karakter global dari teknologi, masalah-masalah lingkungan, keuangan, telekomunikasi dan media, maka umpan balik kultural yang baru mulai beroperasi, sehingga kebijakan sebuah negara menjadi perhatian bagi negara lain”. (Alvin Toffler,1992:101) Selanjutnya ia menjelaskan, implikasi dari kebijakan ini ialah tidak ada negara yang dengan sendirinya memiliki hak untuk menyimpan fakta dan bahwa etika informasi yang tidak terucapkan mengatasi kepentingan nasional.

Pesatnya pertumbuhan informasi saat ini bukan lagi hanya menyangkut jumlah, tetapi juga jenis, kualitas, dan kompleksitas informasi yang berkembang di segala bidang, termasuk yang tidak atau belum tentu berguna, di samping banyaknya limbah informasi.

Begitu rupa perkembangannya, sehingga mulai menimbulkan gejala kecemasan informasi, pada sebagian masyarakat belakangan ini, dikarenakan laju pertumbuhan dan akumulasi pengetahuan serta informasi mengalami peningkatan yang sangat cepat secara eksponensial.

Gejala penyakit tersebut terlihat karena orang mengumpulkan informasi sebanyak mungkin, walaupun belum tentu mampu mengelola dengan baik agar informasi yang tepat dalam bentuk yang sesuai.

Arus informasi yang tersedia bagi berbagai lapisan masyarakat sangat banyak dan sukar dikendalikan atau diawasi. Dari satu segi, arus yang besar ini berguna untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) sekaligus memperkuat ketahanan nasional. Tetapi pada segi yang lain, arus informasi yang membanjir akan menenggelamkan SDM yang jumlahnya relatif masih sedikit.

Arus informasi sukar untuk dibendung, dan hanya dapat dikendalikan, sehingga dengan pengendalian arus informasi tersebut peradaban manusia akan dapat terus eksis.

4. Terjadinya perubahan gaya hidup (lifestyle). Teknologi komunikasi yang semakin canggih memberi kemudahan dan kebebasan kepada masyarakat untuk mengakses informasi apa saja yang ada. Implikasinya terjadilah perubahan sistem nilai karena perbenturan sistem nilai yang diadopsi oleh suatu masyarakat belum tentu atau tidak sesuai dengan latar belakang budaya, agama pada masyarakat sebelumnya.

Bahkan ada pameo yang mengatakan kebingungan manusia modern bukan disebabkan oleh kurangnya informasi yang diterima, namun karena terlalu banyaknya informasi yang sampai melalui berbagai media komunikasi (flood of information).

Terpaan media cukup penetratif dan persuasif, daya pengaruhnya sudah mampu menembus filterisasi kebudayaan tradisional yang sudah semakin jauh ditinggalkan oleh para generasi muda di sebuah negara.

Mereka pada umumnya sudah tercerabut dari akar-akar kebudayaan nasional, sementara kita belum lagi menemukan bentuk ideal kebudayaan baru yang nota bene diimpor dari luar. Pada saat itu peranan informasi sangat dominan dalam mempengaruhi sekaligus mengubah watak dan kepribadian seseorang. Di sinilah fungsi krusial informasi benar-benar berlaku sebagai sebuah kekuasaan (information is power).

Informasi memainkan peranan yang vital dalam sebuah masyarakat, dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas kehidupan sebuah komunitas. Sebaliknya, jika informasi dibatasi dan dikekang, ia bisa menjadi alat depostisme dan ketidakadilan sosial.

Menurut Ziauddin Sardar informasi merupakan kekuasaan, tanpa informasi seseorang tidak memiliki kekuasaan. Jika informasi dibolehkan mengalir secara bebas dalam masyarakat, maka ia akan memberikan jalan ke arah kekuasaan kepada masyarakat yang terbelakang, serta akan mencegah konsentrasi kekuasaan pada segelintir orang. (Ziauddin Sardar, 1989:132)

5. Semakin tajamnya gap antara negara industri dengan negara berkembang, dengan kata lain terjadinya dominasi informasi oleh negara-negara maju terhadap negara-negara terbelakang. Alat dominasi yang paling efektif adalah pengetahuan, sedangkan pengetahuan itu tidak lain berbasis informasi. Menurut F. Rachmadi, kemajuan teknologi informasi dan komunikasi pada satu sisi telah berhasil mengatasi dimensi ruang dan waktu, namun di sisi lain ternyata juga mempertajam ketidakseimbangan informasi antara negara-negara maju dengan negara-negara berkembang.

Secara kuantitatif arus informasi dunia dikuasai oleh negara-negara maju. Arus informasi dunia memperlihatkan ketidakseimbangan yang serius, bahkan sebagian besar negara-negara dunia ketiga tidak memiliki alat-alat dan struktur yang memadai bagi pemancaran dan penerimaan informasi. (Ainur Rofiq Sophiaan, 1993:74) Ketidakseimbangan ini mengakibatkan kepincangan dan ketergantungan negara-negara berkembang terhadap negara-negara maju.

Negara-negara maju memiliki pengaruh dan dominasi yang kuat terhadap negara yang belum memiliki teknologi maju. Jelas jika informasi sangat mudah dijangkau bagi siapapun tergantung kemauan orang tersebut. Namun perkembangan ini seakan menjadi filterisasi yang membuka jurang perbedaan besar pada masyarakat.

Pada kalangan yang dekat dengan kemudahan perkembangan informasi maka kalangan ini akan dapat bertahan dan maju sedangkan kalangan masyarakat yang jauh pada pusat informasi dan terletak pada pedalaman maka kalangan ini akan jauh tertinggal. Tentu ini akan membentuk sebuah perbedaan yang kental akan pembedaan strata sosial. Dan jika hal ini masih dibiarkan maka negara Indonesia tidak akan pernah maju karena kemajuan hanya dimiliki beberapa pihak saja.

Karena perbedaan kebutuhan akan informasi inilah yang harus disetarakan agar memiliki stabilitas dalam pemerataan intelektual bangsa. Selama ini kaum yang jauh akan perkembangan teknologi karena keterbatasan sarana akan identik dengan kaum buta aksara, padahal kebutuhan informasi akan menjadi kebutuhan pokok di masa mendatang. Terlebih minat baca pada kalangan ini sangat kurang dikarenakan kendala fasilitas.

Pemerataan yang kurang inilah yang harus dibenahi. Kemampuan information literality yang harus dirangsang pada kalangan ini. Jika kemampuan ini ditumbuhkan maka minat baca pada kalangan ini akan meningkat. Dengan begitu perpustakaan akan dapat berkembang di daerah manapun yang telah terangsang oleh minat information literal yang tinggi. Selama ini pemerintah memang telah menggalakkan taman baca untuk di daerah. Namun perkembangan perpustakaan ini terhambat karena minat baca masyarakat masih rendah. Dengan adanya gerakan literasi informasi maka masyarakat akan menjadikan minat ini sebagai kebutuhan.

Karena pada dasarnya Gerakan Literasi Informasi adalah suatu upaya mengenalkan informasi kepada masyarakat untuk memberantas buta huruf dengan berbagai kegiatan yang harus dikemas secara menarik dan dilengkapi fasilitas yang dapat menunjang semua kebutuhan akses informasi secara cepat, efisien dan akurat.

Dengan begitu penggunaan perpustakaan akan dapat dikembangkan secara tepat menyesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan dasar masyarakat. Selanjutnya jika tingkatan kemampuan information literality masyarakat mulai meninggi maka perpustakaan ini akan dapat dikembangkan lebih jauh dengan memberikan internet atau teknologi lainnya.

Sehingga perpustakaan masa depan dengan segala kecanggihan pengaksesan informasi akan terwujud bukan hanya untuk milik intelektual semata namun juga milik masyarakat lainnya bahkan yang notabenenya berasal dari kalangan buta aksara. Peningkatan kemampuan information literality dalam The Duo Movement dan pengaruhnya terhadap perkembangan perpustakaan

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa tantangan terbesar pada era globalisasi informasi dimana perkembangan masyarakat harus selaras dengan kemajuan teknologi yang diikuti secara menyeluruh. Namun setelah ditelaah masih banyak kalangan non intelektual yang kurang peduli akan perkembangan informasi. Sehingga perlu ada pergerakan literasi informasi yang meningkatkan kemampuan information literality pada kalangan ini sekaligus mempertahankan kualitas informasi literal kaum intelektual.

Dengan begitu akan terjadi kesinambungan antar kedua kalangan ini dan gap yang ada akan dapat dijembatani dengan gerakan ini. Pergerakan ini dinamakan The Duo Movement. Gerakan ini mewakili dua pendekatan yang berbeda akan kaum intelektual (kalangan anak sekolah) dan kaun non-intelektual (kalangan buta aksara).

The Duo Movement dilakukan dengan menerapkan metode: (1) PLUS Model dan (2) gerakan literasi masyarakat. PLUS model ditujukan untuk kaum intelektual dan gerakan literasi masyarakat untuk kaum non-intelektual. Pada perkembangan selanjutnya perpustakaan yang akan dibangun pada kedua pendekatan ini berbeda karena menyesuaikan visi dan misi pengadaan perpustakaan tersebut. Namun pada dasarnya perpustakaan yang dibangun akan menuju perpustakaan masa depan yang akan dijelaskan lebih lanjut berikutnya.
a) Pendekatan PLUS Model yang dicetuskan oleh James Hering merupakan sebuah tindakan pengarahan pada kalangan anak sekolah yang diterapkan pada perpustakaan sekolah dimana siswa dituntut untuk memiliki keahlian dalam pencarian informasi. Pada tahap ini siswa telah terbuka akan teknologi sehingga pengarahan akan perkembangan perpustakaan dapat dilakukan dengan mengikuti perkembangan teknologi.

Pencarian informasi dapat dilakukan dengan kemudahan mengakses informasi seluas-luasnya melewati dimensi jarak dan waktu yang tidak ditentukan namun tetap dalam batasan norma yang ada. Keahlian yang harus dimiliki siswa pada PLUS Model adalah sebagai berikut:

Purpose = dentifiying the purpose of an investigation or assignment. Purpose = tujuan, menetapakan tujuan penyidikan/penelitian atau tugas-tugas sekolah

Location = finding relevant information sources related to the purpose. Location = lokasi, menemukan sumber informasi yang cocok dengan tujuan yang sudah ditetapkan.

Use = selecting and rejecting information and ideas, reading for information, note-taking and presentation. Use = pemustakaan, memilih dan memilah informasi dan gagasan. Membaca untuk mendapatkan informasi, catatan, dan membuat presentasi.

Self-evaluation = how pupils evaluate their performance in applying information skills to the assignment and what they learn for the future. Self-evaluation = evaluasi diri, bagaimana peserta didik mengevaluasi tampilannya dalam menerapkan keahlian informasi untuk tugas sekolah dan apa yang dipelajari untuk kemudian hari.

Dengan memiliki beberapa keahlian ini melalui rangsangan tugas-tugas yang diberikan guru maka minat baca siswa akan meninggi. Peningkatan ini akan sejalan dengan penggunaan perpustakaan. Sehingga pengembangan perpustakaan yang nyaman dan memiliki kecanggihan teknologi dalam memudahkan mengakses informasi akan sangat dibutuhkan. Pada perpustakaan jenis ini teknologi yang dibutuhkan adalah jaringan internet yang baik, koleksi jurnal, daftar buku online.

b) Gerakan Literasi Masyarakat
Untuk melakukan pergerakan ini, sebelumnya perlu dilakukan analisis jumlah warga yang buta aksara. Jawa Timur menduduki peringkat I buta huruf di Indonesia, yaitu sejumlah 29% (kapanlagi.com,2006) dimana usia buta huruf adalah usia 45-55 tahun dan mayoritas diwilayah Tapal Kuda (Tempo Interaktif, 2009).  Jumlah penduduk Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur yang buta huruf sampai akhir 2005 mencapai 14.439 orang dari jumlah penduduk 858.778 jiwa atau sebesar 17%. Dari 38 Kota/Kabupaten di Jawa Timur Kabupaten Malang tingkat yang mencapai 12 ribu jiwa (kabarindonesia.com’2008).

Kabupaten Gresik, Jawa Timur, hingga akhir tahun 2008 penduduk yang buta huruf di wilayah itu mencapai 7.693 orang, perempuan (5.567 orang), sedangkan laki-laki mencapai 2.126, usianya berkisar 15–60 tahun. Sekitar 1.457 orang buta huruf berusia 45–60 tahun. Dari angka ini, jelas perlu dilakukan pergerakan agar jumlah ini tidak terus meningkat terlebih pada masyarakat yang kekurangan sarana. Sehingga pengarahannya adalah pengadaan taman baca yang menarik.

Sebelumnya dilakukan program pelatihan baca tulis di daerah pedalaman. Pada dasarnya gerakan literasi informasi di tingkat masyarakat adalah dengan perlakuan pembiasaan pada masyarakat agar menjadikan pencarian pengetahuan sebagai gaya hidup. Dalam mengubah gaya hidup ini adalah dengan memberikan sesuatu hal yang menarik pada perpustakaan dan pengadaan perlombaan yang merangsang minat baca masyarakat.

Selanjutnya pengadaan perpustakaan harus dikelola semenarik mungkin dengan bentuk yang berwarna. Teknologi informasi yang digunakan adalah komputer yang dilengkapi perangkat lunak pelajaran baca tulis. Jika gerakan awal ini memiliki pengaruh yang baik pada pemberantasan buta aksara. Maka pengarahan perpustakaan akan dapat diteruskan ke tahap penyetaraan teknologi pada perpustakaan kalangan intelektual.

Kesimpulan
Pengarahan perpustakaan masa depan dalam menjawab tantangan globalisasi informasi

Penggolongan perpustakaan dan pemenuhan kelengkapan teknologi perpustakaan ini memang disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat yang ada di sekitarnya. Percuma jika perpustakaan dipenuhi dengan kecanggihan teknologi dan kelengkapan informasi namun minat baca dan pemanfaatannya kurang.

Sehingga inilah peran dari peningkatan kemampuan information literality pada masyarakat. Karena jika kemampuan information literality yang dimiliki baik maka kecintaan masyarakat akan membaca akan tinggi. Sehingga peningkatan perpustakaan akan sejalan dengan kebutuhan masyarakat. Inilah esensi sesungguhnya dari perpustakaan masa depan.

Perpustakaan masa depan bukanlah peningkatan perpustakaan yang dilengkapi dengan perangkat yang sangat canggih tanpa adanya minat baca masyarakat sebagai pendukung utama. Namun perpustakaan masa depan adalah perpustakaan yang lengkap dengan segala kecanggihan teknologinya yang dapat memenuhi kebutuhan dan menarik minat baca masyarakat. Dengan begitu pengarahan perpustakaan yang sebenarnya adalah penyesuaian terhadap karakter dan kemampuan information literality masyarakat bukan terus menambah kecanggihan teknologi di dalamnya tanpa memperhatikan yang dimiliki masyarakat.

Pemusatan pergerakan ini pertama dilakukan pada kalangan buta aksara agar pada tahap berikutnya pemerataan perkembangan perpustakaan akan dapat dilakukan. Jika hal ini dapat dilakukan maka kemajuan bangsa akan terjadi karena perkembangan terjadi secara menyeluruh bukan hanya pada salah satu kalangan saja. Selanjutnya dapat dipastikan jika Indonesia memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu bersaing dalam pertarungan global. Hal ini terlahir dari penyesuaian perkembangan perpustakaan pada kemampuan information literality yang dimilki masyarakat.

Sumber referensi:

Anonim. 2010. Ciri-ciri Era Globalisasi Informasi. http://abdulsalamserbakomunikasi.blogspot.com/2010/03/ciri-ciri-era-globalisasi-informasi.html .diakses pada 26 Agustus 2010

Arifin, Anwar. Ilmu Komunikasi: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995.

Fisher, B. Aubrey. Teori-teori Komunikasi. Bandung: Remadja Karya, 1986.

Haryanti, Trini.2009. Membangun Gerakan Literasi Informasi. http://triniharyanti.blogspot.com/2009/05/membangun-gerakan-literacy-informasi.html diakses pada 27 Agustus 2010

Ibrahim, Marwah Daud. Teknologi Emansipasi dan Transendensi (Wacana Peradaban dengan Visi Islam). Bandung: Mizan, 1994.

Naisbitt, John. Megatrends, Ten New Directions Transforming our Lives. Warner Books: A Warner Communications Company, 1984.

Rachmadi, F. Informasi dan Komunikasi dalam Percaturan Internasional. Bandung: Alumni, 1988.

Saefuddin, AM. Desekularisasi Pemikiran Landasan Islamisasi. Bandung: Mizan, 1990.

Sardar, Ziauddin. Tantangan Dunia Islam Abad 21, diterjemahkan dari judul aslinya “Information and the Muslim Wold: A Strategy for the Twenty-first Century”, oleh A.E. Priyono dan Ilyas Hasan. Bandung: Mizan, 1989.

Sophiaan, Ainur Rofiq. Tantangan Media Informasi Islam, Antara Profesionalisme dan Dominasi Zionis. Surabaya: Risalah Gusti, 1993.

Sudarsono, Blasius. 2007. Literasi Informasi (Information Literacy): Pengantar untuk Perpustakaan Sekolah. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI.

Toffler, Alvin. Pergeseran Kekuasaan, Bagian II. Jakarta: Panca Simpati, 1992.