Peran Perpustakaan dan Penulis Dalam Peningkatan Minat Baca Masyarakat

Pendahuluan
Minat baca dalam masyarakat kita mulai merangkak meskipun belum mencapai tahapan yang signifikan. Minat ini perlu ditumbuhkembangkan terus menerus untuk mencapai masyarakat yang cerdas secara religi, intelektual, sosial, dan ekonomi. Sebab membaca merupakan pintu gerbang informasi dan ilmu pengetahuan dan pendukung kecerdasan bangsa.
Dengan membaca sejumlah literatur, diskusi, dan  mengikuti pertemuan ilmiah, sesorang mampu mengasah otak, memeroleh wawasan, dan meningkatkan ilmu pengetahuan. Bacaan besar pengaruhnya terhadap pembentukan pribadi dan kemajuan bangsa. Kiranya tidak ada sejarah yang mencatat kehebatan seseorang yang tidak dibarengi dengan gemar membaca dan melek informasi dalam arti luas.
 
Latar Belakang
Perlunya penumbuhan minat baca dan pengembangan melek informasi ini berdasarkan kondisi:
1. Kondisi Minat Baca Kurang Siginifikan
Kondisi minat baca bangsa kita masih jauh tertinggal dari minat baca bangsa lain. Dari beberapa survei dan penelitian menunjukkan kondisi tersebut. Hal ini antara lain dibuktikan dengan rasio surat kabar dibanding dengan jumlah penduduk. Untuk itu dapat dicermati rasio surat kabar dan penduduk di negara-negara Asean seperti Filipina 1 : 30, Sri Lanka 1 : 38 dan Indonesia 1: 45. Padahal rasio surat kabar dan jumlah penduduk di negara-negara maju telah mencapai rasio 1 : 10. Kondisi ini sangat mungkin bahwa kita bangsa Indonesia ini masih kuat tradisi kelisanannya ( Siahaan 2007: 168).
 
2. Pentingnya Membaca
Membaca merupakan salah satu cara penyerapan informasi dan ilmu pengetahuan yang memberdayakan beberapa indera secara bersama. Ketika kita membaca buku dengan suara sedikit keras dan mengeluarkan bunyi, maka indera pendengaran (telinga) akan mendengarkan dan akan mengoreksi bunyi yang keluar dari mulut itu. Pada saat itu pula indera penglihatan (mata) akan melihat apa yang tertera dalam bacaan itu.
Membaca merupakan proses penyerapan informasi yang lebih efektif dari pada mendengar. Hal ini akan berpengaruh positif terhadap kreativitas seseorang. . Dalam hal ini Marion Lawrence yang dikutip Wendyataka (2003) mengemukakan hasil penelitiannya bahwa anak hanya mampu mengingat 10 % dari yang didengarnya, 50 % dari yang dilihat/baca, 70 % dari yang dikatakannya, dan 90 % dari yang dilakukannya.
 
3. Membaca Merupakan Media Perubahan
Membaca sebenarnya merupakan bentuk kebudayaan. Oleh karena itu untuk mengubah masyarakat yang enggan membaca menjadi masyarakat baca/reading society diperlukan adanya perubahan budaya (Tilaar, 1999: 389).
Membaca merupakan usaha penyebaran gagasan dan upaya kreatif. Siklus membaca sebenarnya merupakan siklus mengalirnya ide pengarang ke dalam diri pembaca yang pada gilirannya akan mengalir ke seluruh penjuru dunia melalui tulisan (buku, artikel, makalah seminar, hasil penelitian) dan rekaman lain.
Kemampuan dan ketrampilan membaca memengaruhi pembentukan kepribadian seseorang. Sebab membaca itu merupakan proses psikologis dan fisiologis yang menentukan terbentuknya manusia yang mampu memengaruhi dunia melalui pikiran-pikiran mereka. Bagi mereka, membaca pada hakekatnya merupakan proses pendidikan nonformal yang hasilnya kadang-kadang lebih baik daripada pendidikan formal. Bung Karno, Mahatma Gandhi, Hamka, dan  John F. Kennedy konon merupakan tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan dan ketrampilan baca yang tinggi.
 
4. Sebagian Besar Masyarakat Kita Belum Optimal Dalam Pemanfaatan Perpustakaan
Tampaknya membaca (terutama membaca buku) belum dirasakan sebagai suatu kebutuhan sehari-hari. Budaya mendengarkan, berbicara, dan bertanya masih kental dalam masyarakat kita. Dady P. Rahmananta (Kepala Perpustakaan Nasional RI) menyatakan bahwa pengunjung Perpustakaan Nasional dan Perpustakaan Daerah (sekarang BPAD) di seluruh Indonesia relatif rendah dan hanya 10 ? 20 % dari jumlah pengunjung yang meminjam buku (Siahaan, 2007: 175).
 
Kurangnya kesadaran pemanfaatan perpustakaan oleh masyarakat umum masih bisa dipahami. Tetapi kalau tenaga pendidikan (guru, dosen, kiyai) tidak memanfaatklan perpustakaan, ini  berarti suatu keprihatinan tersendiri. Penelitian Loehoer Widjajanto dkk (2007)  di Surakarta, Cilacap, dan Grobogan menyatakan bahwa guru-guru di daerah itu hanya 4,6 % yang memanfaatkan fasilitas perpustakaan daerah (kabupaten, kecamatan, kalurahan, dll.) 36,9 % kadang-kadang, dan guru yang tak pernah memanfaatkan perpustakaan ada 58,5 %.
 
Membaca dan melek informasi memang belum menjadi prioritas utama masyarakat kita. Mereka lebih senang bertanya dan mendengarkan daripada membaca dan berpikir dalam menghadapi persoalan tertentu. Membaca seharusnya menjadi prasyarat utama untuk menuju masyarakat pembelajar/learning society. Hal ini merupakan ciri masyarakat modern dan merupakan tuntutan kemajuan jaman dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
 
5. Pengaruh Media Komunikasi Massa
Kemajuan teknologi informasi dapat membawa pengaruh positif dan negatif pada masyarakat. Demikian pula dengan perkembangan audio visual yang kadang-kadang berakibat buruh terhadap perilaku seseorang.
 
Televisi misalnya memang mempunyai peranan dalam perubahan sosial.  Terjadinya perubahan sosial pada masyarakat karena televisi menimbulkan dampak terhadap penjadwalan kembali, penyaluran perasaan, dan menimbulkan perasaan tertentu, sehingga khalayak menyesuaikan jadwal kegiatan sehari-hari dengan jadwal siaran televisi terutama siaran-siaran sinetron. Khalayak sering menonton televisi tanpa memperdulikan isi pesan, tetapi hanya untuk memuaskan kebutuhan psikologis, misalnya menghilangkan resah maupun rasa jenuh (Rakhmat, 2004).
 
Di satu sisi perlu disadari bahwa perubahan perilaku seseorang itu dapat dipengaruhi oleh perilaku orang lain, benda, dan peristiwa di sekitarnya. Perilaku bukan bawaan maupun keturunan, akan tetapi merupakan proses belajar yang mencakup kawasan-kawasan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Siaran televisi dapat menimbulkan dampak terhadap khalayak baik bersifat kognisi (berkaitan dengan pengetahuan dan opini) afeksi (berkaitan dengan sikap dan perasaan), tindakan, dan perubahan perilaku (Rakhmat, 2004).
 
Oleh karena itu kita perlu selektif dalam menonton televisi dan mengarahkan anak-anak dalam menonton siaran-siaran televisi. Sebab pada tahun 1994, UNESCO pernah membeberkan bahwa koran-koran di Singapura menyajikan hasil polling pendapat yang dilakukan pihak kepolisian kepada 50 pemuda yang terlibat tindak kekerasan. Hasil polling tersebut menyimpulkan bahwa kebanyakan dari mereka yang melakukan tindak kekerasan itu dari mereka yang suka menikmati film-film kekerasan di televisi (Nurfalah, 2007). Demikian pula adanya seorang siswa umur 16 tahun melakukan sodomi dengan anak umur 3 tahun lantaran sering menyaksikan DVD porno (Kedaulatan Rakyat, 23 April 2009).
 
Tujuan
Perlunya upaya peningkatan minat baca masyarakat dengan tujuan:
 
1. Meningkatkan Kualitas Hidup Masyarakat
Dengan membaca, masyarakat mampu menyerap informasi dan ilmu pengetahuan. Dengan pengetahuan itulah manusia akan berusaha meningkatkan kualitas hidup mereka. Sebab tingkat kemelekan huruf bangsa dapat digunakan untuk mengukur Indeks Pembangunan Masyarakat/IPM.. Sebab Indeks Pembangunan Masyarakat Indonesia pada tahun 2007 termasuk peringkat 107 dari 117 negara dan lebih rendah dari Vietnam (Kintamani, 2008: 421)
 
2. Mencerdaskan Kecerdasan Bangsa
Kecerdasan bangsa adalah suatu keadaan yang akan dicapai dari proses pendidikan. Bahkan dalam pembangunan jangka panjang pada tahun 2025 telah dicanangkan visi pembangunan yang lebih spesifikasi, yakni insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Yakni cerdas spiritual, emosional, sosial, intelektual, dan cerdas kinetiks.
 
3. Mendorong Terciptanya Masyarakat Literasi Informasi
Literasi informasi atau sering disebut melek informasi merupakan tuntutan masyarakat yang maju. Yakni adanya kesadaran akan kebutuhan informasi seseorang, mengidentifikasi, pengaksesan secara efektif efisien, mengevaluasi, dan menggabungkan informasi secara legal ke dalam pengetahuan dan mengkomunikasikan informasi itu. Dengan adanya kesadaran informasi ini akan mendukung perkembangan proses pembelajaran sepanjang hayat/long life education.
 
4. Mendorong Peningkatan Kualitas Pendidikan
Pendidikan di negara kita masih ada kecenderungan pengejaran status dan mementingkan kuantitas dan kurang memerhatikan kualitas. Target lulus 100 % setiap sekolah nampaknya menjadi tujuan utama, sampai-sampai pihak sekolah menempuh berbagai cara untuk mencapai target tersebut.
 
Demikian pula halnya di pihak perguruan tinggi akan merasa bangga kalau memiliki sekian doktor dan profesor tanpa memerhatikan sejauh mana produk keilmuan mereka dalam bentuk buku maupun artikel ilmiah yang bisa memberikan manfaat kepada masyarakat banyak.
 
Dengan kondisi seperti itu, maka indek pembangunan masyarakat kita masih rendah bila dibanding dengan bangsa lain. Oleh karena itu minat baca dan literasi informasi menjadi tuntutan tersendiri untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Orang pintar itu karena belajar dan bukan semata-mata masuk sekolah formal dan deretan gelar. 
 
Membaca dan Menulis
Membaca dan menulis merupakan dua elemen yang saling mendukung dan tak dapat dipisahkan. Menulis tanpa membaca ibarat orang buta berjalan. Artinya dalam proses penulisan memerlukan bahan berupa ide, pemikiran, pengalaman, penemuan, teori, dan hasil penelitian yang diperoleh melalui baca.
 
Menulis tanpa diawali membaca (dalam arti luas) kiranya akan kehabisan materi penulisan dan akan mengalami kebingungan bahkan kemandekan. Sebaliknya membaca tanpa penulis ibarat orang pincang berjalan. Artinya teori, ide, pemikiran, pengalaman, maupun wawasan yang dimiliki itu tak ada artinya apabila tidak disampaikan dan tidak dikembangkan lebih lanjut. Dengan demikian apa yang ada di benak seseorang tak akan banyak memberikan makna dalam kehidupan ini.
 
Membaca merupakan proses penyerapan infromasi dan akan berpengaruh positif terhadap kreativitas seseorang. Membaca pada hakekatnya adalah menyebarkan gagasan dan upaya yang kreatif. Siklus membaca sebenarnya merupakan siklus mengalirnya ide pengarang ke dalam diri pembaca yang pada gilirannya akan mengalir ke seluruh penjuru dunia melalui buku atau rekaman lainnya. Dalam hal ini Arthur Shopenhauer (1851) seorang penulis Jerman menyatakan bahwa membaca setara dengan berpikir dengan menggunakan pikiran orang lain, bukan pikiran sendiri (Hernowo, 2003: 35).
 
Membaca yang berkualitas bukan sekedar membaca deretan huruf, tetapi harus melibatkan aspek berpikir, aspek merasakan, dan aspek melaksanakan apa yang diuraikan dalam suatu bacaan. Apabila seseorang telah banyak membaca, kiranya kurang bermakna apabila ia tidak menyampaikan atau tidak mengembangkannya lebih jauh. Disinilah perlunya ketrampilan komuniksi lisan dan tulisan untuk mengembangkan ide, pemikiran, dan penemuan kepada masyarakat yang lebih luas dari generasi ke generasi.
 
Kalau membaca itu proses perekaman gagasan dan ide, maka menulis merupakan proses penuangan gagasan dan pemikiran dengan sistem tertentu dalam bentuk tulisan. Gagasan yang tidak ditulis atau tidak didokumentasikan akan hilang begitu saja. Dengan demikian persoalan penulisan menjadi penting karena masalah ini merupakan masalah pendokumentasian ide dan pengembangan ilmu pengetahuan.
 
Penulis terutama penulis buku hanya bicara sekali tetapi kesannya akan melekat terus dalam hati pembaca dan menjadi buah bibir sepanjang masa. Buku yang berisi pikiran-pikiran penulis itu akan mampu membentuk pendapat umum/public opinion. Yakni pandangan orang banyak yang tidak terorganisir dan menyebar ke mana-mana. Mereka memiliki kesamaan pandangan tentang sesuatu dan dalam keadaan tertentu bisa menjadi revolusi.
 
Membaca & manfaatnya
Membaca memiliki manfaat dan banyak makna. Dengan banyak membaca kita akan memeroleh pengalaman dan pelajaran dari orang lain. Bahkan dengan membaca buku, seseorang dapat terhindar dari kerusakan jaringan otak di masa tua. Suatu penelitian pernah menyatakan bahwa membaca buku dapat membantu seseorang untuk menumbuhkan syaraf baru (Hernowo; 2003: 33).
 
Beberapa manfaat membaca antara lain:
1. Merangsang Sel-sel Otak
Membaca merupakan proses berpikir positif karena menyerap ide dan pengalaman orang lain. Kegiatan ini akan merangsang sel-sel otak. Otak sebagai pengatur kegiatan manusia memiliki struktur dan sifat yang unik, misteri, dan penuh keajaiban.
Otak memegang peran penting dalam kehidupan intelektual karena seluruh saraf diatur oleh otak ini. Maka otak perlu dijaga vitalitasnya, dijaga kesegarannya, dan dicegah proses penuaannya. Penuaan dan penyusutan otak sebenarnya dapat dikurangi bahkan bisa dicegah.
 
Secara medis, kesegaran dan vitalitas otak dapat diatasi dengan cara mengatur pola makanan yang bergizi seimbang. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa konsumsi beragam makanan sayuran dan buah-buahan segar dapat mencegah penuaan dini dan memperbaiki kemampuan kognitif otak.
 
Secara psikologis, agar otak terjaga vitalitasnya, hendaknya digunakan untuk berpikir positif, rasional, obyektif, khusnudhon, dan rileks. Oleh karena itu perlu dijauhi pola pikir yang negatif, subyektif, dan emosional. Sebab pikiran-pikiran itu dapat menimbulkan distress dan merusak kesehatan. Orang yang mampu mengoptimalkan kerja intelektual otak dengan menghasilkan pemikiran yang positif (buku, artikel, kebjakan dll), inovatif,dan membawa kemaslahatan manusia adalah orang yang mampu memperpanjang usia otak secara fisik dan psikologis.  
 
2. Menumbuhkan Kreativitas
Dengan membaca kita memeroleh wawasan, pandangan, penemuan, dan pengalaman orang lain. Hasil bacaan ini kemudian kita renungkan dan pikirkan untuk dipraktikkan dan dikembangkan. Cara baca inilah sebenarnya merupakan cara baca yang berkualitas. Sebab dalam proses baca ini tidak saja terjadi proses penyerapan informasi, tetapi ada proses seleksi, pengolahan, dan usaha kreatif untuk dikembangkan. Maka dapat dipahami bahwa mereka yang kreativitasnya menonjol, rata-rata memiliki kemampuan baca yang tinggi. Hanya orang-orang yang kreatif dan beranilah yang mampu membawa perubahan.
 
3. Meningkatkan Perbendaharaan Kata
Banyaknya kata-kata yang diserap seseorang memengaruhi kelancaran komunikasi lisan maupun tertulis. Maka membaca sebagai upaya penyerapan kosakata, pengetahuan tatabahasa, dan pengenalan ungkapan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perbendaharaan kata.
Dengan membaca kita mengenal; persuasi, implikasi, sifat nada, dan unsur ekspresi lain. Unsur-unsur ini sangat penting bagi mereka yang bergerak di dunia kesenian, keilmuan, pendidikan, dan kemasyarakatan.
 
4. Membantu Mengekpresikan Pemikiran
Banyak orang yang lancar berbicara, ceramah, orasi, dan ngobrol dalam mengekspresikan pemikirannya. Tetapi begitu sedikitnya orang yang mampu menulis dengan baik. Hal ini sangat mungkin disebabkan kurangnya proses baca.
Ekspresi melalui tulisan berbeda dengan ekspresi melalui lisan. Kegiatan menulis memerlukan penguasaan materi, pemilihan kata, perenungan masalah, dan penyusunan kalimat. Semua kegiatan ini dilakukan dengan cermat, teliti, dan penuh pertimbangan. Maka kualitas dan kuantitas bacaan akan memengaruhi kualitas tulisan. Kata Peter Bolsiuss ?if you do not read, you do not write? (Nurudin, 2004: 81)
 
Kepenulisan
Masalah kepenulisan tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan intelektual dan kemasyarakatan. Sebab dalam pelaksanaan kegiatan itu diperlukan bentuk ekspresi ide, pemikiran, dan gagasan yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Melalui tulisan-tulisan itulah ide dan pemikiran seseorang dapat dipahami, diikuti, dan dikembangkan orang lain.
 
Dari sisi lain, menulis sebenarnya merupakan kegiatan keilmuan dan pendidikan. Betapa besar peran penulis dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan kemajuan seseorang. Seorang ilmuwan yang tidak berani dan takut menulis ibarat burung bersayap satu yang hanya mampu menggelepar dari ranting, dahan, atau pohon satu ke yang lain. Artinya ide dan pemikiran mereka terbatas pengembangannya di ruang kelas, ruang seminar, dan lainnya. Lain halnya ilmuwan yang memiliki kemampuan tulis, maka ide dan pemikiran mereka akan meluas ke seluruh penjuru dunia ibarat burung bersayap dua. Faktor penulisan inilah yang membedakan ilmuwan satu dengan ilmuwan lainnya. Maka dapat dikatakan all scientist are same until one of them writes books. Mereka yang memiliki kesadaran, kemampuan, dan keberanian menulis inilah yang akan memeroleh manfaat materi dan non materi. 
 
Mitos Kepenulisan
Perkembangan pendidikan kita kadang kurang diikuti pengembangan penulisan terutama penulisan buku. Hal ini tidak saja terjadi pada masyarakat awam, tetapi juga terjadi pada masyarakat berpendidikan bahkan berprofesi sebagai tenaga pendidik. Sekedar contoh bahwa di Indonesi terdapat 1,4 guru yang bertatus PNS. Umumnya guru-guru tersebut menduduki golongan pangkat III/a ? III/d yang jumlahnya 996.926 orang. Mereka yang menduduki golongan pangkat IV/a sebanyak 334.189 orang, golongan IV/b sebanyak 2.314 guru, dan golongan IV/c hanya 84 orang guru, dan hanya 15 guru menduduki golongan pangkat IV/d (Kedaulatan Rakyat, 27 Maret 2009). Menumpuknya guru di golongan III atau golongan pangkat IV/a lantaran kurang mampu menulis karya ilmiah. Sebab untuk naik ke golongan IV/b harus menulis karya ilmiah.
 
Rendahnya penulisan ilmiah ini dapat dibuktikan dengan sedikitnya peserta lomba penulisan buku tingkat nasional tahun 2004 misalnya. Dalam lomba tersebut hanya 273 orang guru dari 1,4 juta guru se Indonesia. Itupun sebagian besar peserta didominasi dari Jawa Barat, DKI, Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur.
 
Demikian pula halnya dengan produksi buku. Ternyata produksi buku tiap tahun rata-rata hanya 3.000 judul dan tiap judul paling banyak dicetak 5.000 eksemplar. Sedangkan produksi buku di negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand telah mencapai 8.000 judul/tahun, Jepang mampu menerbitkan 36.345 judul/tahun, dan Korea Selatan telah mampu menerbitkan 43.000 judul/tahun (http://www.sinarharapan, 27-4-2009) 
 
Kepenulisan merupakan dunia idealis, ilmu pengetahuan, nilai, budaya, dan informasi. Dari kepenulisan kadang muncul ide cemerlang yang terekam, menyebar, dan berkembang. Perkembangan ilmu pengetahuan lebih cepat karena didukung kepenulisan yang di sana terdapat kegiatan merekam, menyebarkan, dan mengembangkan. Nilai dan budaya bangsa dapat lestari turun temurun karena danya tradisi kepenulisan.
 
Dunia kepenulisan dan dunia perbukuan identik dengan perkembangan ilmu pengetahuan bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalau dunia perbukuan bagus, maka masyarakatnyapun akan berkualitas. Tanpa buku, sejarah diam, sastra bungkam, sains lumpuh, pemikiran macet. Taufiq Ismail (2005).
 
Buku dalam pengertian sehari-hari sulit digantikan perannya oleh media lain. Sebab, buku memiliki keunggulan komparatif yakni:
a. Harga buku terjangkau oleh masyarakat umum
b. Buku merupakan sarana demokratisasi dan pengembang ilmu pengetahuan, nilai, seni, dan peradaban manusia
c. Isi buku dapat diulang-ulang
d. Pemanfaatannya tidak tergantung media lain
 
Manfaat Menulis
Menulis memiliki banyak makna dan manfaat. Ide dan pemikiran seseorang akan lebih awet, menyebar luas, dan dapat dipelajari kembali jika dituangkan ke dalam bentuk tulisan. Hal ini tentu saja berbeda dengan media lisan. Melalui media lisan, kesan dan informasi yang disampaikan itu cepat hilang dan tidaa dapat diulang-ulang.
Seorang penulis dapat memeroleh popularitas dan namanya bisa mendunia. Buah pikiran mereka dapat menembus benua lain, mampu memengaruhi sikap, tindakan, dan perilaku orang lain. Bahkan pikiran-pikiran mereka hidup dan berkembang terus seolah-olah mereka masih hidup diantara kita. Maka dapat dikatakan bahwa mereka itu hidup (pikiran, ide) dalam kematian (jasad).
Para penulis profesional mengaku telah mendapatkan banyak manfaat dari kebiasaan menulis, baik manfaat materi maupun non materi antara lain:
1. Memperoleh Keberanian
Kebanyak orang takut menulis karena khawatir kalau-kalau tulisannya itu ditolak, dicemooh, disalahkan, dan kekhawatiran lainnya. Padahal apa yang mereka takutkan itu belum tentu terjadi. Ketakutan harus dilawan dengan keberanian dan berusaha untuk menaklukan ketakutan itu sendiri.
Sebagian besar penulis profesional pada awalnya juga memiliki pengalaman yang salah satunya adalah khawatir kalau tulisannya dianggap jelek. Dengan optimisme tinggi dan keberanian, mereka akhirnya berhasil mengatasi ketakutan itu sendiri. Kini menulis bagi mereka merupakan kegiatan yang memberikan kepuasan dan keuntungan materi dan non materi.
 
2. Menyehatkan Kulit Wajah
Fatima Mernisi, perempuan penulis Islam dari Maroko itu pernah menulis dalam salah satu bukunya dan berpesan ?Usahakan menulis setiap hari, niscaya kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungannya yang luar biasa. Dari saat anda bangun, menulis mampu meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantuk di mata anda akan segera hilang dan kulit wajah anda akan terasa segar kembali.
 
Kiranya sulit dipercaya pendapat penulis buku Beyond the Veil dan Women and Islam itu. Namun, pada tahun 1990 ada seorang psikolog yang melakukan penelitian selama 5 tahun tentang hubungan menulis dengan membuka diri terhadap kesehatan fisik. Hasil penelitian ini lalau diterbitkan menjadi buku berjudul Opening Up: The Healing Power of Expressing Emotions. Dalam buku ini diuraikan bahwa mengungkapkan pengalaman-pengalaman pahit dalam bentuk tulisan akan memengaruhi pemikiran, perasaan, dan kesehatan tubuh seseorang (Hernowo, 2003).
 
3. Mengatasi Trauma
Dalam sejarah perkembangan hidup, seseorang kadang pernah mengalami hal-hal yang traumatis. Kondisi ini tidak mudah dihilangkan begitu saja. Bisa juga hal ini menjadi penghambat pengembangan jiwa seseorang. Oleh karena itu menulis dapat dijadikan sebagai salah satu media untuk mengurangi hal-hal yang dianggap trauma oleh seeseorang.
Dave Pelzer mengisahkan kepedihan di kala kecil dalam bukunya berjudul A Child Called It. Dalam buku ini Pelzer menceritakan kisah hidupnya yang semasa kecil disiksa oleh ibu kandungnya sendiri. Hal ini merupakan pengalaman yang tidak bisa dilupakannya. Ternyata buku ini menjadi buku bestseller pada masanya.
Karl Mark menulis buku Das Capital ketika ia hidup miskin, menderita, dan golongan buruh dieksploitasi kaum borjuis. Tan Malaka menulis buku Madilog ketika ia dihimpit kemiskinan dan sakit parah. Shiyali Ramamrita Ranganathan, seorang pustakawan India yang menulis buku Lima Hukum Perpustakaan ketika ia sakit lumpuh. Demikian pula dengan Hamka yang mampu menyelesaikan Tafsir Al Azhar sebanyak 30 juz itu justru di dalam penjara semasa rezim Soekarno. 
 
4. Menjernihkan Pikiran
Menulis pada hakikatnya adalah usaha mengekspresikan pelbagai kesumpekan, ketidakadilan, kejengkelan, dan perasaan lain. Apabila diekspresikan melalui tulisan, maka kesumpekan itu dapat berkurang, hilang, dan ada kepuasan tersendiri.
 
Sekedar contoh adalah almarhum Kuntowijoyo yang pernah menderita sakita akibat serangan virus meningo enchapalitis sejak 14 tahun lalu dan pernah semua memorinya hilang. Di balik peristiwa ini, Allah memberikan kekuatan yang luar biasa. Dalam perjalanannya, beliau justru memiliki motivasi tinggi untuk berbuat sesuatu dan melahirkan pemikiran cemerlang, padahal bicara saja susah.  
 
Peran Penulis Dalam Peningkatan Minat Baca
Apabila ditinjau dari berbagai dimensi, penulis memiliki peran strategis untuk mengubah keadaan, mengembangkan pola pikir masyarakat, dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Penulis bisa berperan sebagi pencipta informasi, pengembang ilmu pengetahuan, orang yang kreatif, intelektual, pembaharu, dan pendidik.
 
1. Pencipta Informasi
Seorang penulis adalah seorang pemilik ide, kreativitas, dan keberanian menyampaikannya. Ide merupakan pikiran-pikiran yang timbul sewaktu-waktu dalam berbagai keadaan dan tempat.Ide muncul karena pengaruh internal dan eksternal. Dalam hal ini Maskum dari Lembaga Pers. Dr. Soetomo Jakarta dalam Asep Syamsuddin M. Romli (2003: 50) menyatakan bahwa sumber ide itu antara lain bacaan, pengamatan, perasan, keinginan, dan tontonan.
Ide cemerlang kiranya tak berarti apa-apa apabila tidak diekspresikan melalui lisan, tangan, kaki, maupun tulisan/rekaman. Oleh karena itu Ali ibn Abu Thalib mengingatkan agar mengikat ide/ilmu pengetahuan dengan tulisan.
Di sinilah perlunya seorang ilmuwan, agamawan, pustakawan, budayawan, dan lainnya memiliki kemampuan menulis. Dengan keberanian dan kemampuan menulis ini, maka  ide, pemikiran, penemuan, pengalaman, dan hasil penelitian mereka akan berkembang ke seluruh penjuru dunia.
Ide yang baik belum tentu menjadi tulisan yang baik. Sebaliknya ide sederhana kadang menjadi tulisan yang menggemparkan di tangan penulis yang pandai. Seorang penulis akan mempertimbangkan apakah ide itu akan ditulis dan dikembangkan berdasarkan pertimbangan:
a. aktualitas
b. kemanfaatan
c. kemampuan analisis
d. kemampuan pengembangan ide
e. perkembangan keadaan
Pemilikan ilmu pengetahuan bukan sekedar untuk menaikkan status, jabatan, kehormatan, dan kekayaan diri. Ilmu yang dimiliki itu hendaknya dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia.
Ilmuwan yang tidak meninggalkan tulisan terutama buku, maka jejak pemikirannya sulit dilacak dan susah dikembangkan. Pemikiran-pemikiran itu akan hilang bersamaan perjalanan waktu.
 
2. Pengembang ilmu pengetahuan
Ilmu yang dimiliki seseorang harus disampaikan dan dikembangkan kepada masyarakat dan bukan sekedar diceritakan. Pengembangan ini dapat dilakukan melalui lisan atau tulisan. Sabda Nabi Muhammad SAW :Jadilah kamu sekalian sebagai pendidik (pengembang ilmu) dan bukan sekedar tukar cerita ilmu?.
Peran sebagai pengembang ilmu dapat dilakukan oleh orang yang secara formal sebagai pendidik (guru, dosen, ustadz, dll.). Disamping itu seorang penulis juga mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dengan jangkauan yang lebih luas. Mereka melakukan kegiatan itu dengan kesadaran dan bukan sekedar tugas sebagaimana yang dilaksanakan oleh para pendidik formal tersebut.
 
3. Seorang yang kreatif dan berani
Menulis itu memerlukan kreativitas yang didasarkan pada fungsi berpikir, merasa, mengindera, dan intuisi. Unsur-unsur ini diperlukan agar orang tidak kehabisan tema yang akan ditulis. Kreativitas dalam hal ini bukan sekedar menciptakan tema-tema baru, tetapi juga diperlukan kemauan dan keberanian berpikir divergen. Yakni suatu pemikiran yang tidak seperti biasanya bahkan dalam keadaan tertentu harus berani melawan arus.
 
Kreativitas di sini berarti menghasilkan sesuatu yang baru dalam konsep, pengertian, penemuan, maupun karya (J.C.Soleman dan C.L. Hammen, 1974). Dengan kreativitas inilah seorang penulis mampu menghadirkan gagasan, pemikiran, dan pembahasan baru. Hasil kreativitas inilah yang menarik masyarakat untuk membaca dan menikmati karya tulis seseorang.
 
Apabila dilihat dari sisi lain, seorang penulis yang mampu berpikir kreatif perlu ditunjang dengan faktor-faktor:
a. Kemampun kognitif, yakni kemampuan pengembangan intelektual terus menerus. Oleh karena itu seorang penulis dituntut memiliki intelektual yang tinggi
b. Sikap terbuka, yakni sikap siap menerima rangsangan/stimulus internal dan eksternal. Sikap ini dapat dikembangkan lebih lanjut dengan cara memperluas minat dan wawasan.
c. Mandiri dan percaya diri. Seorang penulis adalah seorang yang mampu berpikir mandiri dalam menghadapi dan menciptakan ide, gagasan, tanggpan, dan pemikiran tertentu. Mereka dapat leluasa mencari bahan informasi, menanggapi, dan menilai suatu fenomena yang terjadi.
Disamping itu, penulis memiliki rasa percaya diri yang kuat terhadap berbagai tantangan. Mereka yang memiliki kreativitas tinggi sering melahirkan gagasan yang aneh-aneh, luar biasa, bahkan nyleneh. Ketidakbiasaan ini kadang dianggap ide gila yang selanjutnya dimusuhi.
 
4. Pembaharu
Menulis merupakan kegiatan yang memiliki nilai luar biasa dalam kehidupan manusia karena tulisan mampu mendokumentasikan dan menyebarkan ide, gagasan, dan pemikiran dalam berabad-abad lamanya. Kekuatan sebuah buku kadang melampaui umur manusia itu sendiri.
 
Tulisan dapat memengaruhi dan mengubah sikap masyarakat meskipun perlu waktu. Rasulullah SAW mampu merubah tatanan dunia dari kegelapan ke alam terang benderang/nur lantara ajaran-ajaran beliau yang tertulis dalam Al Quran dan Hadits. Karl Mark mampu merubah Rusia melalui bukunya yang berjudul Das Capital. Muhammad Rasyid Ridha mampu membuka mata hati Amat Islam terhadap kebekuan berpikir melalui tulisan-tulisannya yang dimuat dalam majalah Al Manar. Demikian pula J.K. Rowling mampu menyihir remaja dan ibu-ibu rumah tangga denga bukunya Harry Potter.
 
Kini citra masyarakat terhadap  novel mulai berubah dengan terbitnya beberapa novel yang berkualitas dan mampu menghidupkan dunia bioskop yang selama ini agak tergeser adanya sinetron. Judul-judul buku Ayat-Ayat Cinta, Laskar Pelangi dan lainnya telah mampu mewarnai dunia perbukuan negara kita.
 
5. Pendidik
Seorang penulis pada hakikatnya menyampaikan ide, ajaran, nilai, dan etika kepada masyarakat dengan kesadaran dan kewajiban moral. Setelah masyarakat membaca dan memelajari pemikiran penulis, maka pembaca diharapkan mengubah perilaku dan mengembangkan pola pikir mereka. Maka seorang penulis itu bertanggung jawab secara moral untuk melakukan pencerahan kepada masyarakat.
Berangkat dari pemikiran ini, maka bacaan (buku) yang baik bukan sekedar banyak pembacanya dan laris. Bacaan (buku) yang baik adalah tulisan yang memberikan pencerahan kepada masyarakat, abadi, dan tidak mudah dilupakan orang. Bahkan ketika kita kita membaca buku itu berulang kali, ada saja hal-hal baru yang kita temukan di sana. 
  
6. Intelektual
Kegiatan menulis hádala kegiatan intelektual dan kegiatan keilmuan. Dengan naluri yang kuat , seorang penulis mampu menangkap fenomena lingkungan masyarakat dan lingkungan alam yang selanjutnya dipikir, dianalisis, disikapi, dan berusaha untuk memberikan solusinya. Dengan demikian proses penulisan sebenarnya merupakan proses pergumulan yang intens dan total. Para penulis itu mengolah ide dengan segala kemampuan intelektualnya memilih kata, menyusun kalimat, dan mengekspresikan pemikiran. Disinilah letaknya kegiatan penulisan itu adalah  kegiatan intelektual yang memerlukan kecerdasan.
 
Dari produk para penulis itu diharapkan mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat dan mampu menciptakan kecerdasan spiritual, kecerdasan empsional, kecerdasan sosial, kecerdasan intelektual,  kecerdasan kinetis, dan kompetitif
a. Kecerdasan  Spiritual
Kecerdasan intelectual hádala kecerdasan yang dapat diaktualisasikan melalui hati untuk menumbuhkan dan memperkuat keimanan, ketaqwaan, dam akhlakul karimah
 
b. Kecerdasan  Emosional
Kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang dapat diaktualisasikan melalui rasa untuk meningkatkan sensitivitas dan apresiatif akan keindahan seni
 
c. Kecerdasan  Sosial
Kecerdasan sosial adalah kecerdasan yang dapat diaktualisasikan melalui interaksi sosial untuk membina dan memupuk hubungan timbal balik, simpatik, demokratis, dan lainnya
 
d. Kecerdasan Intelektual
Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang dapat diaktualisasikan melalui oleh pikir supaya menjadi manusia yang kreatif, berpengalaman, dan memiliki imajinasi tinggi.
 
e. Kecerdasan  Kinetis
Kecerdasan kinetis adalah kecerdasan yang dapat diaktualisasikan melalui olahraga untuk mewujudkan insan yang sehat, bugar, dan berdaya tahan.
 
f. Kompetitif
Kompetitif adalah kesiapan seseorang untuk berkembang dan berani bersaing dengan orang/bangsa lain. Oleh karena itu ide yang disampaikan penulis diharpkan menumbuhkan keberanian masyarakat untuk bersaing dengan orang/masayrakat lain secara sehat. Adapun ciri-ciri orang yang kompetitif antara lain:
1) Berkepribadian unggul
2) Bersemangat tinggi
3) Mandiri
4) Pantang menyerah
5) Membangun jejaring/network
6) Bersahabat dengan perubahan
7) Inivatif
8) Produktif dan menjaga kualitas
9) Berorientasi pada globalisasi
10) Pembelajaran sepanjang hayat/long life education
 
Peran Perpustakaan Dalam Peningkatan Minat Baca
Produk penulis dapat ditemukan di perpustakaan, toko buku, dan dapat diakses melalui internet. Dalam hal ini perpustakaan sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka (UU No. 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Bab I Pasal 1).
Dari sumber informasi ini, masyarakat dapat memanfaatkan koleksi dan fasilitas perpustakaan dalam upaya meningkatkan kualitas diri, baik perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah, maupun perpustakaan umum.
 
Kini perpustakaan seharusnya tidak saja memberikan layanan konvensional dan tertutup. Di era ini seharusnya tiap perpustakaan memberikan layanan berbasis teknologi informasi dan terbuka kepada semua orang yang memerlukan fasiltas dan jasa layanan perpustakaan.
 
Sesuai tuntutan masyarakat pemustaka, kini telah banyak perpustakaan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam memberikan layanan. Dalam hal ini perpustakaan perlu menjalin jaringan dengan perpustakaan, pusat informasi, dan lembaga terkait di seluruh dunia. Dengan demikian masyarakat pemustaka dapat memanfaatkan jaringan tersebut dalam akses informasi untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
Untuk mendorong peningkatan minat baca dan literasi informasi masyarakat, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah/BPAD, Perpustakaan Kota/Kabupaten, Perpustakaan Kecamatan, Perpustakaan Desa, dan perpustakaan masyarakat lainnya dapat melaksanakan kegiatan antara lain:
 
1. Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini
Membaca (dalam arti luas) memacu nalar dan melatih konsentrasi. Betapa banyak orang yang berhasil justru berasal dari keluarga yang doyan membaca. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa buku , media rekam dan media penyampai lain bisa mengubah nasib seseorang. Konon Thomas Edison dulunya seorang yang bodoh, drop out dari sekolah dasar dan sempat menjadi pedagang asongan. Berkat kegemarannya membaca dan melakukan berbagai penelitian dan diskusi, beliau menghasilkan lebih dari 3.000 penemuan atas nama dirinya dan berhasil menempatkan diri sebagai ilmuwan terkemuka tingkat dunia.
 
Memang diakui bahwa melihat, mendengar, dan membaca merupakan alat utama manusia untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangan satu dari yang lain. Dalam konteks sekarang melek huruf dapat dikembangkan dengan melek informasi, melek teknologi, melek politik, berpikir kritis, dan peka lingkungan sekitar. (Mujiran), 2008: 123).
 
2. Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Layanan Keliling
Jangkauan layanan perpustakaan keliling perlu diperluas. Sebab sebagian besar penduduk kita tinggal di pedesaan. Faktor geografis, pendidikan, dan ekonomi antara lain yang menyebabkan mereka memiliki keterbatasan dalam akses informasi.
Koleksi perpustakaan keliling perlu ditingkatkan kualitas dan kuantitasnya sesuai kebutuhan masyarakat yang dilayani. Sebab pemberian sesuatu yang pas akan menggembirakan dan diharapkan mampu memotivasi pihak yang diberi.
 
3. Menyelenggarakan Hari/jam Cerita/Story Telling
Di sekolah, perpustakaan umum, taman bacaan, atau dalam masyarakat perlu dikondisikan masyarakat untuk membaca/belajar pada hari/jam tertentu. Sebab suatu perubahan itu akan terjadi antara lain dengan menciptakan keadaan yang kondisional. 
 
4. Menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan Penulisan
Penumbuhan minat baca diharapkan akan berlanjut pada meningkatnya minat tulis. Orang akan membutuhkan bacaan apabila ada kebutuhan untuk melakukan kegiatan, menyampaikan pikiran lewat lisan (pidato, ceramah, sambutan dll.) atau kegiatan menulis (makalah, artikel, karya akademik dll.)
Minat tulis ini dapat ditumbuhkan antara lain melalui lomb akarya tulis atau penyelenggaraan pelatihan-pelatihan yang terpantau.
 
5. Menyelenggarakan Pemilihan Pemustaka Terbaik
Salah satu indikator minat baca dan minat ilmu yang tinggi antara lain dapat diukur dari tinggi rendahnya kunjungan ke perpustakaan dan pemanfaatan fasilitas perpustakaan. Untuk itu dapat juga dilakukan pemilihan pemustaka yang paling banyak pinjam buku, berkunjung, memanfaatkan internet dll. Pada periode waktu tertentu.
 
6. Meningkatkan Fasilitas Perpustakaan
Agar masyarakat tertarik dan betah di perpustakaan, kiranya perlu peningkatan sarana dan fasilitas perpustakaan seperti tata ruang yang baik, pencahayaan, penghawaan, penyediaan kafetaria, mushola, dan lainnya.
 
7. Menyelenggarakan Reading Corner di Lembaga Layanan Publik
Pemerintah Daerah maupun BPAD bisa menyelenggarakan tempat-tempat bacaan/reading corner di tempat-tempat yang banyak dikunjungi masyarakat seperti stasiun, bandara, bank, kantor pos, mall, pos ronda, dan lainnya. Tentunya bacaan yang dipasang disana dikelola dengan baik jangan sampai koleksi-koleksi itu hilang.
 
8. Menyelenggarakan Kegiatan Penunjang.
Perpustakaan umum (daerah, kabupaten, kecamatan, desa, dll.) dapat menuyelenggarakan serangkaian kegiatan yang mampu menarik perhatian masyarakat seperti kursus ketrampilan tertentu, pertunjukan, pameran, diskusi topik-topik menarik. Sebab masyarakat kita masih memerlukan rangsangan-rangsangan untuk meningkatkan minat baca mereka. 
 
Penutup
Disadari bahwa kondisi minat baca dan minat tulis masyarakat kita belum sejajar dengan bangsa lain. Kondisi ini akan menghambat tercapainya masyarakat pembelajar/learning society. Padahal terwujudnya masyarakat pembelajar merupakan syarat utama untuk menuju masyarakat yang maju.
Untuk itu, perpustakaan sebagai lembag ainformasi memiliki tugas untuk berperan serta aktif dalam upaya ?membacakan? masyarakat dan memasyarakatkan minag baca. Untuk itu perpustakaan perlu meningkatkan kuantitas dan kualiats layannya, meningkatkan sarana prasarana dan fasilitas, dan lainnya.
Penulis sebagai pencipta informasi memiliki keberanian dan kreativitas tinggi telah menciptakan informasi, melahirkan teori, dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Hasil karya mereka merupakan sumbangsih kepada masyarakat dan ini merupakan upaya meningkatkan minagt informasi dan minat ilmu pengetahuan masyarakat.
 
Daftar Pustaka
Hernowo, 2003. Quantum Reading. Bandung: Mizan Learning Center
Lasa Hs. 2006. Menulis Segampang Ngomong. Yogyakarta: Kanisius, 2006
Nurfalah, Farida. Penaruh Tayangan Sinetron Religius Terhadap Perilaku Beragama Ibu Rumah Tangga Muslimah. Jurnal Teknodik, XI (22) Desember 2007
Nurudin, 2004. Menulis Artikel Itu Gampang. Semarang; Elfihar
Rakhmat, Jalaluddin. 2004. Psikologi Komunikasi. Bandung :Rosda Karya.
Romli, Asep Syamsul M. 2003. Lincah Menulis Pandai Bicara. Bandung: Nuansa Cendekia
Siahaan, Sudirman. Strategi Meningkatkan Minat Baca. Jurnal Teknodik, XI (22) Desember 2007: 169
Subiyantoro. Pengembangan Perangkat Lunak Pengukuran Kecepatan Efektif Membaca/KEM Untuk Meningkatkan Kegemaran Membaca. Jurnal Teknodik, XI (22) Desember 2007
Supriyoko. Minat Baca dan Kualitas Bangsa. Pikiran Rakyat, 23 Maret 2003