Peranan Buku Dalam Perkembangan Anak

Pendahuluan

   Dalam kehidupan di dunia ini agama (Islam) telah mengisyaratkan agar anak mampu berdiri sendiri. Dengan pemberian keterampilan dan pengarahan, anak diharapakan mampu menentukan corak hidup yang mandiri. Orang tua memberikan pengarahan, maka anaklah yang menentukan. Perintah nabi Muhammad SAW untuk mengajari anak dengan berburu dan memanah terkandung isyarat akan pentingnya pembekalan pada anak dengan keterampilan agar nantinya hidup tanpa tergantung dengan orang lain.

   Perhatian dan kasih sayang orang tua perlu diarahkan kepada kemampuan anak untuk mengatasi persoalan dirinya.
Dalam proses pencarian jati diri itu mungkin mereka mendapatkan dari pergaulan, pengalaman dan melalui bacaan. Sering terjadi bahwa seseorang tiba-tiba saja memiliki jiwa kepahlawanan karena membaca bacaan filsafat hidup dan perjuangan para pahlawan. Sebaliknya  seseorang bisa menjadi sangat jahat karena bacaannya tentang kriminalitas dan kesadisan. Bacaan sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan pribadi anak.

Fungsi Keluarga

   Kehadiran seorang bayi ditengah-tengah keluarga selalu disambut dengan penuh kegembiraan. Masa bayi merupakan awal dari kehidupan. Semenjak bayi dilahirkan ia sudah mempunyai potensi yang lambat laun akan berkembang dan ia selalu dipengaruhi lingkungan sekitarnya. Lingkungan pertama yang mempengaruhi tentu saja lingkungan keluarga. Maka keluarga dalam hal ini mempunyai tiga fungsi dalam pertumbuhan seseorang.

   Pertama keluarga harus memberikan rasa aman kepada setiap anak. Artinya keluarga adalah tempat yang mampu memberikan pertolongan waktu si anak sakit, lelah, sepi, frustasi atau takut. Rasa aman dalam keluarga dapat terwujud bila ada kesadaran pribadi, kepercayaan pada diri sendiri dan rasa sosial. Akan tetapi rasa aman jangan diberikan terlalu berlebihan karena itu punmenjadi latar belakang yang buruk dalam kehidupan seorang anak di masa mendatang.

   Kedua, keluarga harus berfungsi sebagai tempat berlindung dan latihan bagi seorang anak. Artinya keluarga harus merupakan suatu tempat untuk melindungi kehidupan seorang anak dari berbagai bahaya atau gangguan, serta sebagai tempat latihan bagi seorang anak dalam mempelajari sesuatu yang sifatnya mendasar.

   Ketiga, keluarga harus merupakan bagian terkecil dari suatu masyarakat. Dunia seorang anak tidak hanya di dalam rumah saja, tetapi ia pun di dunia luar rumahnya.

   Dari gambaran di atas tampaklah bahwa kegiatan memang merupakan suatu lingkungan utama dalam kehidupan dalam kehidupan seorang anak.

Buku dan Anak

   Seperti telah diketahui bersama bahwa anak merupakan potensi yang terpendam yang menyimpan sejuta harapan yang kemudian hari akan mengisi setiap bidang. Potensi mereka akan menjadi cermin keberhasilan suatu bangsa dalam mensejahterkan rakyatnya, khususnya pendidikan baik di sekolah maupun di luar sekolah. Sehubungan dengan hal itu (mantan) Mendikbud Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro pernah menjelaskan dalam memberikan penghargaan dan hadiah kepada 11 penulis buku terbaik beberapa tahun yang lalu di jakarta menyatakan sebagai berikut, "di satu sisi pemerintah memang ingin meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) salah satunya melalui budaya membaca." (Kedaulatan Rakyat, 16 Januari 1995 : 6)

   Untuk itu perlu adanya kegiatan yang memberi pemahaman yang dimulai sejak dini mengenai salah satu sarana pendukung pendidikan yaitu perpustakaan. Artinya sejak awal pada pada mereka seharusnya sudah ditanamkan kebiasaan memanfaatkan "perangkat lunak" pendidikannya ini sehingga rasa cinta dan kebutuhan akan buku dan membaca semakin meningkat. Sikap ini penting dalam upaya memcerdaskan kehidupan bangsa.

   Secara umum masa anak-anak merupakan masa awal dari proses pencarian diri manusia. Oleh karena ini dunia anak-anak adalah dunia yang penuh petualangan, penuh dengan pertanyaan-pertanyaan dan keinginan-keinginan yang belum tentu dapat kita jawab dan kita penuhi seluruhnya.

   Ini menunjukkan kepada kita bahaw dunia itu ada "suatu kebutuhan mutlak" dari anak yaitu pengetahuan tentang dunia sekitar. Alat bantu utama untuk mencari pengetahuan ini adalah buku-buku. Dengan buku inilah anak-anak seperti layaknya manusia dewasa pada umumnya dibantu untuk memahami dunia sekitar  Alat bantu utama untuk mencari pengetahuan ini adalah buku-buku. Dengan buku inilah anak-anak seperti layaknya manusia dewasa pada umumnya dibantu untuk memahami dunia sekitar. Pengetahuan yang diperoleh dari proses membaca ini akan menjadi bekal mereka di masa yang akan datang. Tugas kita adalah mengajak, mengarahkan serta memberi contoh pada mereka untuk membaca dan membaca.

Peranan Buku

   Peranan keluarga sebagai lembaga pendidikan pertama dan terutama sangat dominan sekali dalam upaya meningkatkan minat baca dan mencintai buku bagi putera-puterinya. Hal ini disebabkan karena lingkungan si anak yang banyak mewarnai adalah lingkungan keluarga dan lingkungan sekitarnya. Si anak berada dalam lingkungan sekolah hanya beberapa jam. Oleh karena itu, keterlibatan keluarga dalam pembinaan minat baca anak-anak sangat besar sekali. Pihak orang tua harus punya keyakinan bahwa untuk memperbaiki taraf hidup perlu ditingkatkan taraf pendidikannya.

   Taraf pendidikan dapat ditingkatkan dengan pembinaan minat bacanya. Orang tua biasanya merupakan figur sentral yang menjadikan idola bagi putera-puterinya. Oleh karena itu orang tua harus berupaya memberikan contoh-contoh yang baik bnagi anak-anaknya, salah satunya adalah dengan memberikan buku bacaan yang baik. Yaitu buku bacaan yang memuat ajaran agama, nilai-nilai moral dan ajaran budi pekerti serta diramu dalam lakon sehari-hari, misal cerita kekeluargaan, persahabatan dan kemasyarakatan.
Maka dari itu jika kita semua sepakat ketiga fungsi keluarga tersebut di atas akan bertambah baik jika ditanamkan juga kebiasaan mencintai buku. Keluarga harus mempunyai anggapan bahwa untuk mengajak seorang agar terbiasa membaca dan mencintai buku, maka kelurag harus mempunyai beberapa anggapan. Pertama, buku harus berfungsi sebagai media/perantara, artinya buku merupakan pendorong untuk melakukan sesuatu. Kedua, buku harus berfungsi sebagi properti (harta milik), artinya buku merupakan gudang ilmu pengetahuan. Ketiga, buku harus berfungsi sebagi pencipta suasana, artinya buku harus mampu menciptakan suasana yang akrab sehingga mampu mempengaruhi perkembangan sebagai sumber untuk memperkaya (Dewi Yanti, 1990).

   Berbicara tentang kegunaan buku daftar bisa sangat panjang. Mengutip multiple intellegence dari Howard Gardner menyebutkan dalam diri manusia terdapat berbagai kecerdasan. Dianta berbagai kecerdasan itu adalah kecerdasan bahasa, logika/matematika, visual, musikal, kinestik, pengenalan diri, pengenalan hubungan dengan orang lain. Kecerdasan spiritual, kecerdasan emosional dan masih banyak lagi.

   Buku memberikan peluang dan ruang tak terbatas untuk mengembangkan kecerdasan tersebut. Dengan membaca buku, bukan cuma kosa kata anak bertambah, tetapi juga aspek intelektual lain dari anak. Isi cerita misalnya bisa mengembangkan nilai hidup anak. Tokoh-tokoh dalam buku akan membuat anak lebih mengenal dirinya sendiri selain juga mengenal keberadaan orang lain.

   Selain itu jalan cerita melatih logika anak. Dengan membaca buku cerita jiwa anak akan terbebaskan, mengawang ke alam imajinasinya sendiri. Disini akan terjadi pembebasan jiwa sebagi proses belajar menuju pembentukan jati dirinya yang utuh. Buku cerita merupakan gizi rohani dan suplemen penting bagi anak.

   Kita bisa mengambil contoh cerita anak-anak Jepang, Toto Chan Gading di Tepi Cendala Karya Kuroyanagi. Buku itu bercerita dalam perspektif gurunya di sekolah lama. Totto digambarkan tidak adaptatif dengan tata tertib sekolah, karena itu ia dikeluarkan dari sekolah itu. Ketika Totto dipindahkan ke sekolah Tamoe, ia menyimpan kesan mendalam tentang sikap guru barunya. Betapa tidak selama 4 jam Totto bercerita, gurunya sabar mendengarkan dengan penuh perhatian. Itulah kali pertama ada orang yang mau mendengarkan cerita begitu lama, tanpa sambil menguap memperlihatkan sikap bosan.

   Sebagai cerita sastra, kisah Totto sarat nuansa moralistik, mengambarkan proses pendidikan dan budi pekerti yang tersirat secara nyata. Pada akhirnya itu akan berpengaruh secara postif terhadap pertumbuhan jiwa anak (Intisari, Mei 2002).

   Sementara itu ilustrasi buku mengembangkan pengamatan anak dan kecerdasan visualnya, serta bagi anak untuk memupuk daya khayal guna meningkatkan daya kreasinya. Buku dengan ilustrasi jelas, menarik dan bernilai humor biasanya disenangi anak. Atau buku yang berisi hal yang membuat anak bisa mengidentifikasi dirinya. Bisa juga dipilih buku yang berisi nilai-nilia yang ingin disampaikan kepada anak lewat tokoh dalam buku itu. Segi bahasa perlu dijadikan dalam memilih bacaan. Bacaan dengan bahasa yang baik akan mengajarkan anak berkomunikasi dengan baik.

   Deretan kegunaan buku ini masih bisa diperpanjang dengan kemampuan berkomunikasi anak. Ketika anak lalu menciptakan dialognya sendiri berdasarkan imajinasinya sendiri. Cukup banyak anak-anak yang lalu membuat komiknya sendiri dengan tokoh-tokoh dan dialognya sendiri hasil imajinasi anak. Si anak akan bertanya dan menjawab berdasarkan cerita tersebut atau bahkan mengubah jalan cerita mengikuti perkembangan kreatifitas anak.

   Disamping itu pula penting dikembangkan buku cerita anak oleh orang Indonesia sendiri, karena buku itu akan berangkat dari keragaman latar belakang budaya yang berbeda. Sesuatu yang nyata ada di depan mata. Dengan buku-buku tersebut anak-anak akan belajar bahwa ada orang lain yang berbeda di luar dirinya dan anak-anak diajak memahami arti perbedaan itu dalam kenyataan hidup.

   Buku juga akan membawa anak berkelana ke alam yang dikehendaki. Batasan-batasan yang mengekang kreatifitas anakan berdasarkan ruang dan waktu dapat lenyap melalui buku (Kompas, 23 Oktober 2000 : 28)

Penutup

Akhirnya dengan pemilihan bacaan yang berbobot dan sesuai dengan perkembangan anak, kiranya akan dapat diciptakan anak yang senag membaca dan senang pada ilmu pengetahuan. Berkat buku-buku yang bermutu akan terbentuk pribadi anak yang mandiri dan memliki watak terpuji/berakhlak mulia. Sebuah upaya pembentukan pribadi anak sebagai penemu kehidupan di masa mendatang.