Periklanan (Advertising) sebagai Sarana Komunikasi Marketing dalam Dunia Informasi dan Perpustakaan

Pendahuluan
Perpustakaan adalah pusat sumber informasi. Perpustakaan menyediakan dan mengolah informasi Saat ini, perpustakaan dan lembaga informasi lainnya sebagai lembaga yang bergerak dalam bidang pelayanan informasi mau tidak mau harus menyesuaikan diri dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Bertambahnya jumlah informasi secara kuantitas menuntut adanya pengolahan, pengelolaan dan penyebarluasan informasi yang lebih berkualitas dan tentunya sesuai dengan kebutuhan informasi masyarakat.
 
Bagaimana perpustakaan bertahan di tengah persaingan dunia informasi saat ini? Jawabannya adalah marketing informasi dan perpustakaan. Perpustakaan dituntut untuk mampu memasarkan segala sumber informasi dan layanan yang dimilikinya sehingga pengguna (masyarakat) sadar, mengetahui dan bahkan memahami bahwa perpustakaan selalu tersedia untuk memenuhi segala kebutuhan informasi mereka.
 
Terkait dengan hal ini, perpustakaan sendiri harus memahami terlebih dahulu kebutuhan informasi penggunanya. Kemudian, beranjak dari sana, bergerak untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna tersebut.
Makalah ini akan membahas mengenai marketing informasi dan perpustakaan, khususnya terkait dengan periklanan sebagai salah satu media (tools) marketing.
 
1. Marketing secara Umum
Philip Kotler (1997:9) mendefinisikan pemasaran sebagai ?social and managerial process by which individual and groups obtain what they need and want through creating, offering, and exchanging products of value with others?. Definisi lain menurut Chartered Institute of  Marketing (London) pemasaran merupakan ?proses manajemen yang bertanggung jawab atas identifikasi, antisipasi, dan memenuhi kebutuhan pengguna secara efisien dan menguntungkan? (De Saez, 1993 : 1).
 
Berdasarkan definisi diatas, pemasaran tidak dapat dilepaskan dari kegiatan manajemen dan fokus utamanya yaitu pada pemakai/pengguna dengan mengidentifikasi, mengantisipasi dan pada akhirnya untuk memenuhi kebutuhan mereka.
 
Pemasaran sendiri merupakan suatu alat manajemen yang esensial dalam semua kegiatan usaha yang menghasilkan produk barang atau jasa. Istilah ini analogi dari kegiatan bisnis komersil, terutama perusahaan besar penghasil suatu produk barang (Mansjur, 2003).
Sedangkan Ninis Agustini Damayani (Damayani, 2008) mengartikan pemasaran sebagai cara untuk menjangkau audiens, client, customer melalui berbagai cara/media.
 
Dunia marketing sendiri saat ini telah berkembang dengan sangat pesat. Hal ini terutama seiring dengan perkembangan teknologi informasi. Ada banyak strategi dan cara  yang beragam dalam aplikasi marketing, mulai dari yang bersifat manual dan tradisional sampai yang bersifat modern dan melibatkan teknologi informasi dan media baru (internet).
 
2. Marketing Informasi dan Perpustakaan
Often marketing is about changing perceptions — ours and theirs! Everyone benefits when we find out what users really want, and when we let our community know everything that a library can do, in the library or on the Web (Ohio Library Council)
 
Pemasaran terkait dengan dunia informasi dan perpustakaan dapat diartikan sebagai suatu proses penganalisisan, perencanaan, penerapan dan pengawasan program agar terjadi pertukaran nilai dengan pasar yang ditargetkan demi tujuan perpustakaan. Pemasaran adalah pelayanan mengenalkan seluruh aktivitas yang ada di perpustakaan agar diketahui oleh khalayak umum.
 
Pemasaran perpustakaan pada dasarnya merupakan forum pertukaran informasi antara organisasi perpustakaan dan konsumen dengan tujuan utama memberikan informasi tentang produk atau jasa yang disediakan oleh perpustakaan sekaligus membujuk konsemen untuk berekreasi terhadap produk atau jasa yang ditawarkan. Hasil dari proses pemasaran ini adalah tumbuhnya kesadaran sampai tindakan untuk memanfaatkannya.
 
Satu hal yang penting juga adalah bahwa mind set semua kegiatan marketing informasi dan perpustakaan adalah user oriented. Semuanya difokuskan kepada kebutuhan, keinginan dan kepuasan pengguna.
 
Terkait pemasaran informasi dan perpustakaan, Ohio Library Council mengatakan bahwa ?the key in ?process?.? Salah satu bagian penting dari proses ini adalah perencanaan dan pengkajian (riset).
Proses marketing yang baik memerlukan riset yang berkualitas dengan tujuan untuk menentukan apa-apa yang harus diberikan oleh perpustakaan, apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan pengguna dan bagaimana memadukan keduanya dalam kegiatan yang baik, menarik sehingga tujuan pemasaran itu tercapai.
 
Proses marketing informasi dan perpustakaan menurut Ohio Library Council diantaranya menyangkut beberapa kegiatan sebagai berikut :
1. Know the library — Hal ini terkait dengan pemahaman mengenai visi dan misi perpustakaan itu sendiri.
 
2. Find out about your users — Siapa pengguna perpustakaan dan apa sebenarnya yang mereka inginkan dari perpustakaan.
 
3. Create product and services that users wants — Mencari cara dan strategi untuk menyediakan produk dan layanan yang dibutuhkan oleh pengguna.
 
4. Develop a plan of action with promotion strategies to market selected products to targeted users with appropriate methods — Menentukan rencana promosi (pemasaran) dengan metode yang tepat
 
5. Be sure library do the it right, establish measurable goals and evaluate how well you?ve done — tentukan tujuan yang riil dan dapat terukur serta selalu mengevaluasi apa-apa yang telah dilakukan.
 
6. Start over — setelah satu aksi dilaksanakan kemudian dievaluasi, maka langkah selanjutnya adalah melaksanakan aksi selanjutnya yang lebih baik dan lebih baik lagi.
 
3. Pra-Marketing Informasi dan Perpustakaan : Analisis Kebutuhan Informasi Pengguna
Bila dalam dunia pemasaran (berupa barang) dikenal pembeli adalah raja, maka dalam dunia pemasaran jasa  informasi dan perpustakaan dapat dikatakan bahwa pengguna adalah raja. Semua strategi layanan yang dilakukan oleh perpustakaan diberikan untuk pengguna. Bahkan dalam The Service Triangle (Erwina, 2008) digambarkan bahwa pengguna perpustakaan adalah center of services activity.
 
Oleh sebab itu, kajian pertama yang perlu dilakukan adalah mengetahui kebutuhan pengguna (user study).
Dari hasil pengkajian ini akan diketahui kebutuhan riil pengguna, sehingga perpustakaan dapat menentukan strategi layanan dengan tepat guna dan sasarannya. Kajian pengguna ini dimulai dengan mempelajari lingkungan di sekitar organisasi perpustakaan.
 
Dalam proses selanjutnya, mempelajari kebutuhan informasi pengguna merupakan dasar bagi perencanaan marketing jasa perpustakaan tersebut.
 
4. Periklanan sebagai Media Pemasaran Informasi dan Perpustakaan
Secara umum, ada banyak media (tools) dalam pemasaran, diantaranya adalah :
a. Sales promotion
b. Advertising (periklanan)
c. Direct Sales
d. Personal selling
e. Public relations
Makalah ini hanya akan membahas mengenai periklanan (advertising) sebagai salah satu media pemasaran, khususnya dalam bidang informasi dan perpustakaan.
 
4.1. Pengertian periklanan
Iklan adalah bagian dari bauran promosi (promotion mix; Frank Jefkins menyebutkan promotion mix mencakup personal selling, promosi penjualan dan publisitas) dan bauran promosi adalah bagian dari bauran marketing (marketing mix; Kotler menyebutkan bahwa bauran marketing terdiri atas 4P yakni product, place, price dan promotion). Hal ini perlu diketahui mengingat adanya perbedaan ruang lingkup antara pemasaran dan promosi. Promosi adalah bagian dari kegiatan pemasaran. Pemasaran mencakup seluruh proses mulai dari strategis perencanaan yang dimulai dari identifikasi kebutuhan konsumen  dan diakhiri dengan penjualan yang berhasil dari suatu produk/jasa yang ditawarkan. Sedangkan promosi bertujuan untuk menginformasikan, mempengaruhi, dan membujuk serta mengingatkan sasaran tentang perusahaan dan bauran pemasarannya. 
 
Dalam pelaksanaan manajemen professional, maka kedua kegiatan ini sangat menguatkan sebagai kesatuan. Berikut adalah bagan marketing mix dan promotion mix. (Kasali, 1995:10)
 
Iklan adalah bagian dari promosi. Secara sederhana Kasali (1995:9) mengartikan iklan sebagai pesan yang menawarkan suatu produk yang ditujukan kepada masyarakat lewat suatu media. Sedangkan pengertian periklanan sendiri adalah keseluruhan proses yang meliputi penyiapan, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan penyampaian iklan.
 
Sedangkan AMA (American Marketing Association) mendefinisikan iklan sebagai : ?Any paid form of non personal presentation and promotion of ideas, goods or services by an identified sponsor?.
 
Dikaitkan dengan dunia informasi dan perpustakaan, maka iklan merupakan salah satu proses penyampaian pesan mengenai perpustakaan serta layanan dan jasa yang ada didalamnya kepada masyarakat atau khalayak sasaran yang dilakukan melalui media.
 
4.2.  Periklanan Informasi dan Perpustakaan sebagai Proses Komunikasi
Strategi pemasaran banyak berkaitan dengan komunikasi. Periklanan merupakan salah satu bentuk khusus komunikasi untuk memenuhi fungsi pemasaran. Dalam prosesnya, untuk menjalankan fungsi pemasaran, maka kegiatan periklanan tidak sekedar memberikan informasi kepada khalayak, namun harus mampu membujuk khalayak  agar berperilaku sedemikian rupa sesuai tujuan dan misi organisasi.
 
Terkait dengan komunikasi dalam periklanan, David Berstein (dalam Jefkins:1997:16) menjelaskan perlunya penerapan prinsip VIPS, yang terdiri dari visibilitas, identitas, janji (promise), serta pikiran yang terarah (singlemindedness). Sebuah iklan haruslah visible, mudah dilihat dan mudah memikat perhatian.
 
Identitas pengiklan, produk barang dan jasanya harus dibuat sejelas mungkin dan tidak tertutup oleh hiasan yang berlebihan. Janji atau promise organisasi kepada konsumen harus dibuat sejelas mungkin.
Untuk mencapai semua itu, maka kegiatan periklanan harus berkonsentrasi sepenuhnya pada tujuan utama dan tidak tergoda untuk mengemukakan hal-hal yang sesungguhnya tidak perlu (terarah, singlemindedness).
Komunikasi yang efektif dalam sebuah iklan akan meminimalkan adanya kesalahfahaman. Interaksi antara gambar dan kata-kata sangat dianjurkan.
 
 
Gb. Interaksi antara kata dan gambar dalam penyampaian makna (Jefkins: 1997:21)
 
Dalam perencanaan periklanan dikaitkan dengan komunikasi, pendekatan DAGMAR ( Defining Advertising Goals for Measured Advertising Result, dikembangkan oleh Russel H. Colley dari Association of national Advertiser New York, 1961), diringkaskan dalam suatu pernyataan yang mendefinisikan tujuan periklanan sebagai berikut : (Kasali, 1995:51-52)
? an advertising goals is a specific communication task, to be accomplished among a defined audience, in a given period of time.?
 
Dalam pendekatan DAGMAR, dikembangkan suatu metode yang disebut proses komunikasi yang terdiri dari langkah-langkah yang harus dilalui oleh suatu produk untuk sampai pada tujuan yang dikehendaki, yaitu berupa tindakan yang diambil konsumen. Model proses komunikasi
(hierarchy of effects model) dapat digambarkan sebagai berikut :
 
Terkait dengan periklanan informasi dan perpustakaan, maka terdapat suatu proses komunikasi antara organisasi perpustakaan dengan khalayak penggunanya melalui iklan, mulai dari proses ketidaksadaran sampai tahap adanya sikap bahkan tindakan sesuai dengan misi dan tujuan perpustakaan.
 
4.3. Tujuan dan Manfaat iklan dalam Dunia Informasi dan Perpustakaan
Pada dasarnya tujuan iklan adalah tidak hanya menyampaikan informasi tetapi yang lebih penting adalah mengubah sikap dan perilaku pengguna sasaran.
Manfaat iklan yang terbesar adalah membawa pesan yang ingin disampaikan oleh produsen (dalam hal ini adalah perpustakaan) kepada khalayak ramai. Iklan menjangkau berbagai daerah yang sulit dijangkau secara fisik oleh produsen melalui siaran televisi atau radio. Sekalipun memerlukan biaya yang secara nominal besar sekali jumlahnya, bagi produser yang dapat memanfaatkan kreativitas dalam dunia iklan, strategi iklan yang tepat dapat menjadi  murah.
Iklan merupakan investasi yang menguntungkan. Mungkin tidak langsung berdampak pada laba, namun karena sifatnya yang harus diulang-ulang agar tidak terjadi ?putus hubungan? dengan pasar potensial, maka iklan lebih bersifat investasi, yakni investasi yang ditanamkan pada benak konsumen.
Minat baca adalah masalah klise yang sering dibicarakan dalam dunia pengembangan informasi dan perpustakaan.
Melalui iklan, organisasi perpustakaan dapat memberikan informasi bahkan diharapkan sampai mengubah perilaku masyarakat menjadi suka membaca dan merasa butuh untuk membaca.
 
4.4. Kreatifitas dan Perencanaan Media
Satu hal penting dalam dunia periklanan adalah kreativitas. Pengerjaan kreatif dalam sebuah iklan mencakup pelaksanaan dan pengembangan konsep atau ide yang dapat mengemukakan strategi dasar dalam bentuk komunikasi yang efektif. Termasuk pembuatan judul, perwajahan dan naskah baik untuk iklan media cetak, tulisan untuk iklan radio maupun storyboards untuk iklan televisi.
Kasali menyebutkan bahwa dalam pembuatan iklan, untuk menghasilkan iklan yang baik, selain harus memperhatikan struktur iklan (headline dan subheadline), juga menggunakan elemen AICDA yaitu :
Attention (perhatian)
Interest (minat)
Desire (kebutuhan)
Conviction (rasa percaya)
Action (tindakan)
Sebuah iklan harus meliputi semua unsur di atas untuk bisa mengkomunikasikan pesan dengan efektif.
Sebagai lembaga nonprofit yang mengembangkan jasa layanan yang secara kasat mata memang tak terlihat bentuk fisiknya, maka perpustakaan dituntut mampu menampilkan bentuk iklan yang menarik namun tidak keluar dari tujuan perpustakaan.
 
4.5. Media Periklanan
Media  periklanan meliputi segenap perangkat yang dapat memuat atau membawa pesan penjualan kepada khalayak sasaran.Ragam media tersebut sangat banyak dikelompokkan.
Di kalangan praktisi periklanan, dikenal istilah iklan lini atas (above-the-line) dan iklan lini bawah (below-the-line). Frank Jefkins menyebutkan adanya pembagian tersebut lebih dikarenakan pengakuan saja yang didasarkan dari daya penetrasi media tersebut.
Iklan above-the-line jauh lebih dominan. Iklan jenis ini dikuasai oleh lima media yang berhak mengatur pengakuan dan pembayaran komisi kepada biro-biro iklan, yakni : pers, radio, televisi, lembaga iklan jasa luar ruang dan bioskop.
Sedangkan media iklan below-the-line disebut sebagai media yang tidak member komisi dan pembayaran sepenuhnya berdasarkan biaya operasional plus sekian persen keuntungan, diantaranya adalah directmail, pameran, displays di tempat-tempat penjualan langsung, selebaran pengumuman. Kassali menambahkan jenis media ini dengan kalender dan merchandising schemes.
Bagaimanapun penggunaan bentuk media tertentu untuk publikasi suatu iklan, biasanya tergantung dari tujuan iklan itu sendiri. Dalam kenyataannya, tidak ada satu pun  media yang dapat efektif untuk semua jenis iklan. Misalnya televisi, kurang cocok untuk iklan yang ingin menampilkan rincian spesifikasi produk mobil.
 
Bagaimana memilih media yang tepat untuk beriklan adalah permasalahan tersendiri. Cara yang paling sering digunakan adalah melihat data kuantitatif hasil survey dari badan research dalam hal ini data Nielsen. Data media consumption habit adalah salah satunya, menggambarkan media mana yang paling banyak pengkonsumsinya, tetapi data ini terlalu umum dan selalu sama hasilnya. Hal lain yaitu melihat pola kompetisi, efisiensi, pendekatan kreatif, budget yang tersedia yang tentunya semua ini dihubungkan dengan tujuan beriklan.
 
Saat ini data kuantitatif harus dilengkapi oleh analisa yang lebih dalam mengenai pola hidup secara lebih detail tidak cukup data kuantitaif apalagi hanya data yang umum. Data-data detail tersebut adalah kondisi terkini dalam masyarakat dan bagaimana target audience mengkonsumsi media, kapan mereka mengkonsumsi media dan lain-lain. Analisa seperti ini dianggap sebagai analisa kualitatif karena masih belum tersedia survey lengkap yang dapat digambarkan melalui data kuantitatif. Perlunya data pendukung ini karena saat ini perubahan kehidupan masyarakat terjadi sangat cepat, mengikuti kecepatan teknologi yang sangat cepat berubah terutama bagi masyarakat di kota-kota besar yang merupakan early adaptors bagi teknologi ini.
Seorang media planner harus rajin meluangkan waktu melakukan pengamatan, mencari, bertanya kebiasaan apa yang terjadi di masyarakat terutama yang berhubungan dengan media. Ketika program Mama Mia booming, atau program lainnya, seorang media planner harus melakukan pengamatan di luar data Nielsen, seperti apa karakter target audience yang menyukai program tersebut, apakah mayoritas suka atau masih ada kontraversi atau bantahan. Media planner juga harus menelusuri kebiasaan target audience, ambil saja satu contoh target yang dianggap sempurna mewakili target audience dan telusuri karaketer serta konsumsi medianya dan data yang diperoleh digunakan sebagai justifikasi secara kualitatif.
 
Mengenai analisa kondisi terkini salah satunya adalah tingkat kemacetan yang semakin tinggi, apakah membawa dampak pada pola konsumsi media. Apakah pola konsumsi internet semakin tinggi, selain kita mengatakan bahwa internet kebanyakan digunakan di kantor untuk chatting, email atau update berita, coba cari fakta baru mengenai internet. Dalam kondisi saat ini kepada siapakah kita harus menggunakan TV dan kapan, media print sebaiknya untuk apa. Apakah Kompas masih mewakili koran nasional, bagaimana dengan koran lokal, bagaimana kondisi di daerah, begitupula media lainnya radio, outdoor dan lain-lain.
 
Hasil pengamatan ini jangan ragu-ragu disampaikan kepada klien karena bisa jadi menjadi informasi yang sangat berguna bagi klien dan tentunya bagi media planner sendiri untuk menentukan media yang akan digunakan. Salah satu media iklan yang terkenal dan mudah dijangkau masyarakat saat ini adalah televisi dan internet.
 
4.5.1. Media Periklanan di Dunia Informasi dan Perpustakaan

Terkait dunia perpustakaan dan informasi, maka jenis media iklan disesuaikan dengan khalayak sasaran, geografis dan daya jangkau perpustakaan itu sendiri. Berbagai bentuk media dan sarana promosi yang dapat digunakan dalam marketing informasi dan perpustakaan diantaranya adalah :
1. Brosur.
Brosur berisi informasi mengenai keberadaan perpustakaan, waktu dan hari kegiatan perpustakaan, termasuk koleksi serta semua informasi umum yang perlu diketahui oleh pengguna.
2. Pendidikan Pemakai
Pendidikan pemakai yang efektif mampu ?mendongkrak? nilai jual sebuah perpustakaan. Perpustakaan memberikan suatu penjelasan kepada pengguna mengenai penggunaan perpustakaan. Saat ini pendidikan pengguna telah berkembang dan semua terlingkup dalam satu konsep literasi informasi.
Secara bebas, literasi informasi diartikan sebagai adanya pengetahuan akan kesadaran dan kebutuhan informasi disertai kemampuan untuk mengidentifikasi, menemukan, mengevaluasi, mengorganisasi dan secara efektif menciptakan, menggunakan, mengkomunikasikan informasi untuk mencari solusi atas masalah yang dihadapi. Literasi juga merupakan bagian dari hak asasi manusia untuk pembelajaran seumur hidup. 
Terbentuknya masyarakat informasi dan masyarakat berbasis pengetahuan, tidak saja membutuhkan infrastruktur (hardware, software, aplikasi, dan konektivitas/akses) yang handal, dan regulasi (peraturan) yang mendukung, tetapi juga sumber daya manusia (SDM) atau brainware dengan tingkat literasi (melek) media yang memadai dan kemampuan mengeksplorasi konten (literasi informasi) untuk menciptakan kemakmuran. Bahkan beberapa sumber menghubungkan antara tingkat literasi dengan harapan hidup masyarakat. Ketika seseorang bermaksud meningkatkan taraf hidupnya, maka dia memerlukan sesuatu yang lebih dari dirinya yaitu perkembangan diri, baik ketrampilan, pendidikan atau kinerja yang lebih. Proses menjadi lebih adalah proses belajar. Kemampuan untuk dapat belajar secara mandiri akan membuat proses yang dilalui lebih mudah dengan kemampuan literasi. Ternyata ada korelasi yang positif antara keduanya, artinya semakin tinggi tingkat literasi sebuah masyarakat semakin tinggi pula harapan hidupnya.
3.Pameran
Pameran merupakan salah satu media beriklan yang efektif. Melalui pameran, perpustakaan dapat dilihat, dikenal sekaligus bisa digali semua aspeknya. Pameran juga memungkinkan terjadinya komunikasi antara perpustakaan dengan pengguna yang jaraknya jauh dari lokasi perpustakaan.
4. Pamflet
Pamflet berguna untuk memperkenalkan perpustakaan. Pamflet ditempel di tempat-tempat umum yang mudah dilihat masyarakat. Sehingga masyarakat bisa mengenal perpustakaan meskipun belum mengunjunginya secara fisik.
5. Bibliografi
Bibliografi adalah daftar buku atau cantuman koleksi yang dimiliki suatu perpustakaan. Bibliografi yang lengkap bisa menjadi modal yang sangat berharga  untuk pengembangan perpustakaan ke depannya.
 
4.6. Riset Iklan
Riset iklan di sini dimaksudkan untuk mengukur efektifitas suatu iklan, daya jangkau, efektifitas dan daya pengaruh pesan iklan, dan lain-lain. Riset perlu dilakukan untuk mengevaluasi iklan yang sudah dilakukan serta memperbaiki iklan yang akan dibuat di masa yang akan datang. Riset ini dilakukan sebelum, pada saat dan setelah proses perikanan.
Kasali menyebutkan beberapa riset dalam riset iklan yaitu riset konsumen, riset evaluative, uji perubahan sikap, uji psikologis, uji gambar, uji naskah dan lain-lain.
 
4.7. Iklan Informasi dan Perpustakaan sebagai ILM
Iklan bagi sector jasa yang tidak mengutamakan keuntungan secara sepihak seperti iklan yang dilakukan oleh lembaga pemerintah seperti diantaranya perpustakaan, sering disebut sebagai iklan layanan masyarakat. Iklan Layanan Masyarakat (ILM) ini diartikan oleh Crompton (dalam kassali, 1995:201) sebagai :
?an announcement for which no charge is made and which promotes programs, activities, or services of federal, state; or local government or the programs, activities; or services of nonprofit organizations and other announcements regarded as serving community interest , excluding tune signals, routine weather announcement, and promotional announcement.?
 
Sebuah ILM disumbangkan oleh media untuk kepentingan  masyarakat, artinya tanpa menuntut bayaran.
Menurut Ad Council, suatu dewan periklanan di Amerika Serikat yang memelopori ILM, kreiteria yang dipakai untuk menentukan kampanye pelayanan masyarakat adalah:
? Non-komersial
? Tidak bersifat keagamaan
? Non-politik
? Berwawasan nasional
? Diperuntukkan bagi semua lapisan masyarakat
? Diajukan oleh organisasi yang telah diakui atau diterima
? Dapat diiklankan
? Mempunyai dampak dan kepentingan tinggi sehingga patut memperoleh dukungan media lokal  maupun nasional.
 
4.8. Periklanan: Segi Positif dan Negatifnya
Ada beberapa manfaat iklan bagi pembangunan masyarakat dan ekonomi, yaitu : memperluas alternative bagi konsumen, iklan yang secara gagah tampil di hadapan masyarakat dengan ukuran besar dan logo yang cantik menimbulkan kepercayaan yang tinggi bahwa perusahaan yang membuatnya bonafid dan produknya bermutu, selain itu ilan juga membuat orang menjadi kenal, ingat dan percaya.
Namun di samping itu, ada pula sisi negatifnya dari iklan. Seorang manajer senior PT.Unilever menyebutkan beberapa kesan negatif dari iklan sebagai berikut : (Kasali:1995:16)
? Iklan membuat orang membeli sesuatu yang sebetulnya tidak ia inginkan atau butuhkan
? Iklan mengakibatkan barang-barang menjadi mahal.
? Iklan yang baik akan membuat produk yang sebenarnya berkualitas rendah dapat terjual.
Sebagai solusi, maka dalam kegiatan periklanan ini, produsen pengiklan tidak hanya memikirkan laba dan keuntungan, tetapi harus memperhatikan semua aspek seperti budaya, lingkungan masyarakat, daya beli, serta efek sosial dan lain-lain.
 
5. Aplikasi Teknologi Informasi dalam Beriklan
Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, periklanan pun berkembang. Saat ini dunia periklanan sudah merambah ke dunia media baru (internet) dengan berbagai bentuknya, misalnya melalui internet dan berbagai media online lainnya. Hal ini umumnya disebut sebagai new wave marketing.sebuah gelombang baru untuk marketing, yang mengubah marketing one to many atau one to one (contohnya direct selling seperti SPG, CRM) menjadi many to many.
Perpustakaan juga bisa menggunakan sarana blog sebagai media jejaring social. Pengguna tidak perlu beranjak dari tempat duduk untuk mencari informasi di perpustakaan, cukup duduk di depan meja komputer dengan secangkir kopi, kemudian ketik alamat perpustakaan yang dituju. Tidak lama kemudian, komputer menampilkan situs perpustakaan yang menyapa pengguna dengan ?Selamat Datang di Perpustakaan?. Selanjutnya, pengguna dapat berkomunikasi dengan pustakawan melalui sarana yang ada di situs perpustakaan tersebut.
 
Untuk memberikan layanan on-line, perpustakaan dapat menggunakan webblog atau blog yang tersedia di Internet. Blog merupakan situs web sederhana yang dapat dibuat oleh setiap orang untuk menyimpan dan mempublikasikan catatan atau tulisannya. Seorang pengunjung blog dapat memberikan komentar terhadap tulisan yang ada sehingga terjadi interaksi antara pemilik dengan pengunjung blog. Pustakawan yang kreatif dapat membuat blog untuk diri sendiri atau untuk perpustakaan. Selain itu, pembuatan blog tidak memerlukan biaya mahal karena banyak penyedia blog memberikan layanan secara gratis. Biaya yang diperlukan hanya untuk koneksi ke Internet.
 
6. Penutup
?Know your costumer? adalah kunci dalam dunia marketing informasi dan perpustakaan. Kajian pengguna (user study) merupakan kegiatan dasar dalam dunia marketing. Setelah diketahui kebutuhan pengguna yang sesungguhnya, barulah kegiatan marketing dimulai. Diharapkan, dengan adanya kajian kebutuhan pengguna, akan membuat kegiatan marketing lebih efektif.
Periklanan sebagai salah satu media promosi dalam dunia marketing bisa dilakukan melalui berbagai media, diantaranya media cetak, elektronik dan bahkan media baru internet).
Riset marketing perlu dilakukan untuk mengukur tingkat keberhasilan sebuah terpaan iklan. Riset ini dilakukan baik sebelum, pada saat ataupun setelah proses iklan berlangsung.
How your library talks, is up to you! ***
Daftar Pustaka
 
Gobe, Marck. 2005. Emotional Branding.: Paradigma Baru untuk Menghubungkan Merek dengan Pelanggan. Jakarta : Erlangga.
 
 
Jefkins, Frank. 1997. Periklanan. Jakarta : Erlangga.
 
Kasali, Rhenald. 1995. Manajemen Periklanan : Konsep dan Aplikasinya di Indonesia. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
 
Kotler, Philip. 1997. Marketing Management : Analysis, Planning, Implementation, and Control. 9 th ed. New Jersey : Prentice ? Hall.
 
Qalyubi, sihabbudin.2003.Dasar-dasar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Adab Iain Sunan Kalijaga.  
 
Rohman, Asep Saeful. 2006. Pemasaran Jasa Informasi Di Lembaga Informasi Atau Perpustakaan. Makalah ?Seminar Pengembangan Kajian Ilmu Informasi  Dan Perpustakaan? . Bandung :  JIP Fikom Unpad.
 
Saez, Eileen Elliott. 2002. Marketing Concepts for Libraries and Information Services. London:Facet Publishing.
 
Saleh, Abdul Rahman. 2000. Manajemen Perpustakaan. Bandung: UPI.
 
Shimp, Terence A. 2000. Periklanan Promosi: Aspek Tambahan. Jakarta: Erlangga.
 
Sulityo-Basuki.1993.Pengantar Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Jakarta: Gramedia.