Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Program Doktoral Dalam Penyusunan Disertasi

Latar Belakang
Perpustakaan sebagai sebuah lembaga berfungsi sebagai media penyebaran informasi, ketersediaan bahan pustaka yang menjadi koleksinya menjadi salah satu medianya. Koleksi itu dimanfaatkan pemustaka untuk memenuhi kebutuhan informasinya sesuai dengan fungsi perpustakaan. Menurut Sulistyo Basuki (1991: 2) fungsi perpustakaan terbagi atas 5 bagian, yaitu sebagai sarana simpan karya manusia, fungsi informasi, fungsi rekreasi, fungsi pendidikan dan fungsi kultural. Berdasarkan fungsi-fungsi perpustakaan tersebut terdapat fungsi informasi, melalui fungsi ini perpustakaan harus memberikan informasi yang dibutuhkan pemustaka sebagai tujuan utamanya.

Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang tergabung dalam lingkungan lembaga pendidikan tinggi, baik yang berupa perpustakaan universitas, fakultas, institut, akademi, sekolah tinggi, maupun politeknik, ia berafiliasi dan tergabung menjadi sarana lembaga induknya. Ia harus melaksanakan fungsi dan peranannya dalam menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi dan sebagai satu rangkaian dalam sistem pendidikan yaitu untuk menunjang pelaksanaan program pendidikan, pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat (Perpustakaan Nasional RI, 2000).

Pada perguruan tinggi terdapat beragam lapisan civitas akademika, salah satunya adalah mahasiswa pascasarjana program doktor. Mahasiswa ini sangat berperan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada bidang dan keahliannya. Mereka adalah agen transfer ilmu pengetahuan yang dituntut untuk dapat menghasilkan penelitian yang berkualitas dan lebih baik di masa yang akan datang, oleh karena itu para kandidat doktor ini sangat memerlukan informasi yang dapat menunjang pengembangan ilmu di bidang keahliannya. Berdasarkan data pengunjung Perpustakaan x di Jakarta tahun 2005 hingga 2012, mahasiswa pascasarjana program doktor yang menggunakan jasa perpustakaan hanya sekitar 10% dari total keseluruhan, kenyataan jumlah mahasiswa yang mengunjungi dan menggunakan perpustakaan ini jauh berbeda dengan jumlah mahasiswa doktor yang terdaftar sebagai mahasiswa aktif di Universitas tersebut.

Pemilihan salah satu perpustakaan perguruan tinggi X menjadi minat dan perhatian peneliti, karena program doktor di Universitas ini merupakan salah satu program yang paling populer, banyak diminati serta memiliki kekhususan pada ranah bidang pendidikan, hal ini menjadikan fokus dan perhatian peneliti untuk melakukan penelitian di tempat ini. Sejauh ini belum diketahui secara jelas perilaku pencarian informasi mahasiswa pascasarjana program doktor yang menyusun disertasi di Universitas ini, oleh karena itu berdasarkan uraian di atas maka perlu diketahui bagaimana perilaku pencarian informasi mereka, apa kendala yang dihadapi dan bagaimana solusinya serta apa yang menjadikan motivasi mereka untuk bisa menyelesaikan disertasinya.

Fenomena di atas sesungguhnya telah dan akan terus berpengaruh serta berkembang pada dunia ilmu perpustakaan dan informasi, sejauh ini penelitian mengenai perilaku pencarian informasi telah banyak dilakukan di Asia, bahkan di Indonesia, namun yang diteliti adalah penelitian mengenai perilaku pencarian informasi secara keseluruhan. Perilaku pencarian informasi tertentu seperti mahasiswa doktor yang menyusun karya tulis ilmiah, penelitian maupun disertasi belum pernah dilakukan. Oleh karena itu penelitian ini menjadi penting, terutama untuk bisa mengetahui bagaimana perilaku pencarian informasi mahasiswa tersebut, apakah perilaku mereka sama dengan perilaku pencarian informasi yang ada pada umumnya? Hal ini juga melihat tahapan-tahapan kegiatan yang dilakukan oleh mahasiswa pascasarjana program doktor yang menyusun disertasi, kemudian faktor-faktor apa yang menjadi kendala yang dihadapi oleh mahasiswa pascasarjana program doktor tersebut ketika melakukan pencarian informasi.

Perilaku Pencarian Informasi
Perilaku adalah setiap tindakan yang digunakan sebagai alat atau cara agar dapat mencapai suatu tujuan, sehingga kebutuhan terpenuhi atau suatu kehendak terpuaskan, sedangkan perilaku pencarian informasi merupakan perilaku seseorang yang selalu terus bergerak berdasarkan lintas ruang dan waktu, mencari informasi untuk menjawab segala tantangan yang dihadapi, menentukan fakta, memecahkan masalah menjawab pertanyaan dan memahami suatu masalah.

Perilaku pencarian informasi sangat dipengaruhi oleh beragam faktor baik dari dalam diri si pencari informasi tersebut (faktor intern) seperti pengalaman masa lalu berupa pengetahuan dan pengalaman yang telah dimiliki, serta faktor lain yang juga berpengaruh dari luar dirinya (faktor ekstern), faktor ini muncul saat terjadi kontak dengan kondisi dan situasi di sekeliling si pencari informasi yang berkaitan dengan pencarian informasi termasuk pemanfaatan sarana dan prasarana perpustakaan atau unit informasi lainnya, dan juga terhadap rekan sejawat, atasan, dan petugas layanan informasi (Darmono, 1998:32).

Perilaku pencarian informasi berawal dari adanya kebutuhan seseorang terhadap informasi.Pada saat membutuhkan informasi untuk memenuhi kebutuhan tertentu peneliti dihadapkan pada situasi problematik. Situasi ini muncul akibat adanya kesenjangan (anomalous) antara keadaan pengetahuan yang ada di dalam dirinya dengan kenyataan kebutuhan informasi yang diperlukannya, kesenjangan ini akhirnya melahirkan perilaku tertentu dalam proses pencarian informasi yang oleh Belkin dinyatakan sebagai situasi problematik akibat adanya kondisi anomalous state of knowledge dari si pencari informasi (Kuhlthau, 2004:362).

Pada model umum komunikasi manusia, khususnya untuk fase pencarian informasi dalam sistem informasi ilmu pengetahuan, dapat dilihat hubungan antara kebutuhan informasi dengan pencarian dan pertukaran informasi serta pemanfaatan informasi pada gambar 1.

 

Perilaku pencarian informasi dapat dilihat dari siapa yang membutuhkan, jenis atau apa yang dibutuhkan, alasan mencari, bagaimana informasi itu ditemukan, evaluasi dari hasil yang didapatkan pemanfaatan informasi yang dicari, dan pemilihan sumber informasinya.

Model Pencarian Informasi – David Ellis
Model perilaku pencarian informasi dalam bentuk lain dikembangkan oleh Ellis (1987) kemudian dilanjutkan oleh Cox dan Hall (1991). Model ini merupakan tahapan pencarian informasi di kalangan ilmuwan bidang sosial yang kemudian dibandingkan dengan pola pencarian informasi ilmuwan fisika dan kimia. Hasil penelitian Ellis (1987) adalah pola pencarian yang terdiri dari enam tahap pencarian informasi, yaitu starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring dan extracting atau dikenal dengan Ellis’ Model yang merupakan tahapan pencarian informasi. Ellis menegaskan bahwa 6 (enam) elemen ini saling berkaitan untuk membentuk aneka pola pencarian informasi dan seringkali bukan merupakan tahapan-tahapan yang teratur.

Ellis mengadakan penelitian di kalangan para ilmuwan yang sedang melaksanakan kegiatan sehari-hari mereka, yaitu mencari bacaan, meneliti di lapangan atau di laboratorium, menulis makalah, mengajar, dan sebagainya. Hasil dari penelitian itu adalah sebuah teori untuk menjelaskan model perilaku informasi secara umum dalam bentuk serangkaian kegiatan yang ada pada gambar, yaitu :

 

1. Starting – terdiri dari aktivitas-aktivitas yang memulai terjadinya kegiatan
pencarian informasi.
2. Chaining – kegiatan mengikuti rangkaian sitasi, pengutipan atau bentuk-bentuk
perujukan antar dokumen yang satu dengan yang lainnya.
3. Browsing – merawak, mencari tetapi dengan agak terarah, di wilayah-wilayah yang
dianggap punya potensi terhadap informasi yang dibutuhkan.
4. Differentiating – pemilahan, menggunakan ciri-ciri di dalam sumber informasi
sebagai acuan dasar untuk memeriksa kualitas ataupun isi informasi.
5. Monitoring – memantau perkembangan dengan memfokuskan diri pada beberapa
sumber terpilih.
6. Extracting – secara sistematis menggali di satu sumber untuk mengambil informasi
yang dianggap penting.

Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan dalam penelitian ini karena dapat menggali lebih dalam kebutuhan dan perilaku pencarian informasi mahasiswa program doktor yang menyusun disertasi. Wawancara mendalam dilakukan secara personal untuk mengkaji kebutuhan dan perilaku mereka serta apa hambatan dan motivasi yang mereka lakukan dalam menyelesaikan disertasinya. Bawden (2006) menyatakan bahwa pendekatan kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati, pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara menyeluruh dan akan lebih baik lagi bila memberikan subyek kebebasan dalam mengekspresikan respons mereka secara mendalam dan sealamiah mungkin.

Penelitian ini berlangsung pada program doktor di salah satu perguruan tinggi di Jakarta. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, sedangkan tempat dilakukannya wawancara tergantung kepada masing-masing informan.Waktu pelaksanaan pengumpulan data dilakukan bulan April – Mei 2012. Peneliti memilih informan yang dianggap mampu memberikan jawaban atas permasalahan penelitian, karena sesuai dengan obyek penelitian ini yaitu mahasiswa pascasarjana program doktor di Universitas X dan yang menjadi subyek penelitian adalah perilaku pencarian informasi mahasiswa pascasarjana program doktor di Universitas X yang menyusun disertasi. Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, yang memilih informannya berdasarkan posisi yang dianggap memiliki informasi yang berkaitan dengan permasalahannya dan dapat dipercaya untuk menjadi sumber data, sesuai dengan sifat penelitian yang lentur dan terbuka. Pemilihan mahasiswa pascasarjana program doktor sebagai informan didasarkan pada pertimbangan :

Pertama, mahasiswa ini melalui program jalur reguler dan sudah menyelesaikan seluruh perkuliahan; Kedua, sudah menyusun disertasi karena sumber-sumber informasi lebih banyak digunakan dan dibutuhkan oleh mereka yang menyusun disertasi; Ketiga, mahasiswa tingkat akhir program doktor minimal semester 5 dan sudah menempuh ujian sidang tertutup sehingga memiliki waktu yang memadai untuk diteliti. Pada penelitian ini, peneliti memutuskan mengambil tiga dari lima orang informan karena diasumsikan sudah dapat merepresentasikan data yang akan diteliti, selain itu kesulitan peneliti dalam bertemu informan dan melakukan penelitian menjadi alasan jumlah informan yang akan diteliti dalam penelitian ini.

Penelitian ini mencoba menerjemahkan beragam perspektif dan pandangan-pandangan dasar interpretatif dan fenomenologis secara lebih mendalam. Peneliti melakukan studi kasus pada salah satu perguruan tinggi di Jakarta dengan kerangka analisis berdasarkan model tahapan perilaku pencarian informasi Willson yang mengkolaborasikan tahapan Ellisdengan Kulthau sebagai berikut:
a. Starting, terdiri dari aktivitas-aktivitas yang memicu kegiatan pencarian informasi.
b. Chaining, kegiatan mengikuti rangkaian sitasi, pengutipan atau bentuk-bentuk perujukan antar dokumen lainnya.
c. Extracting, mencari dan menelusur tetapi dengan agak terarah, di wilayah-wilayah yang dianggap mempunya potensi.
d. Verifying, pemilahan, menggunakan ciri-ciri di dalam sumber
informasi sebagai dasar untuk memeriksa kualitas isi atau informasi.
e. Ending, tahap akhir pencarian informasi dengan mengumpulkan informasi penting yang belum tercakup dalam penelitian.

Berdasarkan kerangka analisis ini, akan disusun pertanyaan-pertanyaan untuk memperoleh data yang diberikan kepada para mahasiswa pascasarjana program doktor di Universitas X yang menyusun disertasi, penggunaan ini dipilih karena sesuai dengan tujuan penelitian yang ingin dicapai, yaitu untuk melihat perilaku pencarian informasi mahasiswa pascasarjana program doktor di Universitas X.

Alasan Pemilihan Topik Penelitian
Pada umumnya mahasiswa doktor memilih topik penelitian disertasinya berdasarkan bidang yang mereka kuasai dan tekuni serta mereka telah memiliki pengetahuan dasar terhadap apa yang diteliti sebelumnya. Berdasarkan wawancara mendalam yang telah dilakukan, alasan mahasiswa memilih topik penelitian disertasi mereka sangatlah beragam, beberapa diantaranya karena melihat fenomena yang sangat menarik untuk diangkat menjadi sebuah penelitian dan juga karena adanya ketertarikan khusus untuk mendalami sebuah permasalahan.

Pada informan yang telah diwawancarai, beberapa diantara mereka telah mendapatkan topik ini diawal perkuliahan, tapi ada juga yang mendapatkan topik penelitian ketika perkuliahan berjalan, yaitu pada semester ketiga dan ada juga yang sudah beberapa kali mengganti topik penelitian sebelum memutuskan akan meneliti sebuah penelitian dan berhasil menyelesaikan penelitian tersebut. Bawden mengungkapkan bahwa salah satu alasan pemilihan topik penelitian bisa berdasarkan beragam faktor yang mempengaruhinya, seperti pengalaman yang sudah pernah dilakukannya, ketertarikan maupun minat ingin meneliti sesuatu lebih dalam (Bawden, 2006).

Model Tahapan Perilaku Pencarian Informasi
Pada proses pencarian informasi, mahasiswa program doktor yang menulis disertasi pada bidang bahasa memiliki ciri khusus yang berbeda dengan bidang lainnya, sehingga pencarian informasi lebih menekankan kepada jenis dokumen atau teks yang menjadi acuan dasar penelitian mereka untuk dianalisis.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Ellis yang dikolaborasikan oleh Wilson (2006), perilaku pencarian informasi pada suatu penelitian melalui lima tahapan, dalam hal ini dijabarkan dengan penelitian disertasi yang dilakukan oleh mahasiswa doktor di bidang pendidikan bahasa dengan cara sebagai berikut:

Starting
Starting, terdiri dari aktivitas-aktivitas yang memicu kegiatan pencarian informasi. Starting merupakan tahapan awal pencarían informasi yang dilakukan oleh mahasiswa untuk bisa mengenali kebutuhan serta menentukan arah penelitian yang akan dilakukan ketika memulai penelitian disertasinya.

Mahasiswa A baru mendapatkan dan memulai penelitiannya pada semester ketiga, sebelumnya ia telah merencanakan topik penelitian yang akan dilaksanakan, setelah itu ia mengganti topik sesuai dengan isu yang terhangat, lain halnya pada mahasiswa B yang menetapkan topik penelitiannya diawal perkuliahan, hal ini menjadi fokus awal penelitian yang akan ia lakukan dan dikerjakan hingga saat ini. Mahasiswa B pada awalnya sudah menyiapkan beberapa topik penelitian yang akan ia lakukan, setelah berkonsultasi dengan pembimbingnya akhirnya ia menetapkan satu topik penelitian yaitu analisis buku teks ajar di Indonesia. Mahasiswa C memulai penelitian ini pada semester ketiga, sebelum menetapkan judul penelitian yang akan ia teliti, ia sudah mencoba mencari beberapa judul yang tepat dengan berdiskusi kepada dosen pembimbingnya dan pada akhirnya ia mendapatkan sebuah topik penelitian yang cukup menarik yaitu humanisme dalam lirik lagu.

Pada tahap awal ini informan ketika memulai untuk merumuskan permasalahan penelitian disertasi, mereka merasakan ketidakpastian mengenai alternatif permasalahan yang akan mereka teliti. Tindakan yang mereka lakukan adalah merancang dan memulai serta mencari informasi yang relevan dengan bidang yang mereka minati dengan melakukan penelusuran awal. Seluruh informan melewati tahapan ini sebelum melakukan pencarian informasi atas kebutuhan informasi pada penelitian mereka. Mereka telah memiliki ide penelitian mengenai beberapa topik yang akan dipilih berdasarkan pengalaman dan pengetahuan mereka selama ini.

Chaining
Chaining, kegiatan mengikuti rangkaian sitasi, pengutipan atau bentuk-bentuk perujukan antar dokumen lainnya, maupun mencari rangkaian rujukan yang akan menjadi sumber informasinya (Ellis, 1993). Chaining terdiri dari backward chaining dan forward chaining yang merupakan tahapan selanjutnya dari starting.

Backward chaining dilakukan oleh mahasiswa B dalam menyusun disertasinya, kegiatan backward chaining ini menjadikan sebuah efek bola salju yang akan memberikan lebih banyak informasi yang dibutuhkan berdasarkan acuan pada sumber penelitian sebelumnya. Sumber penelitian sebelumnya atau sejenis dijadikan sebagai starter reference untuk menjadi acuan dasar dalam memahami sumber serta mendapatkan sumber lainnya.

Forward chaining dilakukan oleh Mahasiswa C, setelah menetapkan penelitiannya, ia mencari seluruh lirik yang akan ia teliti dari kaset, cd dan internet. Setelah itu ia langsung mencari referensi yang ia butuhkan termasuk kepada narasumber aslinya, forward chaining ini dianggap sebagai salah satu perilaku yang tepat dan bermanfaat karena informan sudah mengetahui apa saja yang ia butuhkan untuk bisa menambah acuan dasar penelitiannya, terutama jika informan tersebut sudah mengetahui pengarang maupun narasumber yang memiliki otoritas dan ahli di bidangnya.

Pada tahapan chaining, baik backward chaining maupun forward chaining, merupakan salah satu ciri khas yang ditemui oleh informan dalam melakukan sebuah penelitian serta tahapan dalam kegiatan pencarian informasi. Pada tahapan ini informan akan mendapatkan beragam masukan serta acuan dasar yang ia miliki, kemudian informasi yang ia punya akan semakin bertambah dengan mengikuti rangkaian yang berkaitan dengan judul penelitian yang ia telah tetapkan.

Pada tahapan ini, informan sudah bisa mendapatkan informasi apa yang mereka inginkan serta menentukan sumber informasi apa yang mereka pilih dan kembangkan. Salah satu kunci pada tahapan ini adalah kreatifitas, kepandaian dan kejelian informan dalam menentukan perujukan baik melalui dokumen maupun non dokumen. Hal ini menjadikan mereka bisa menentukan sumber informasi apa yang berpotensi dalam pemenuhan kebutuhan informasinya.

Extracting
Extracting, mencari dan menelusur tetapi dengan agak terarah, di wilayah-wilayah yang dianggap mempunya potensi.Pada tahapan ini, informan sudah mempunyai sumber acuan, sehingga mereka memeriksa, membaca dan memahami sumber yang sudah dipilih, kemudian mengutip informasi yang relevan dengan topik penelitian.

Mahasiswa A melihat jurnal, artikel serta e-resource yang berkaitan dengan penelitiannya, ia jadikan bagian ini sebagai sumber yang relevan dan juga sebagai sumber tambahan yang ia tidak temukan di sumber lainnya. Pada tahapan ini, mahasiswa A sebelum mendapatkan seluruh informasi yang ia butuhkan, terlebih dahulu ia akan memeriksa keabsahan sumber informasi tersebut, apakah cocok dan tepat dengan penelitian yang ia lakukan atau tidak. Mahasiswa Bmencoba melihat melalui judul, abstrak maupun isinya sekilas untuk bisa membuktikan apakah sumber ini tepat untuk digunakan sebagai referensi penelitiannya kemudian setelah itu ia jadikan sebagai sumber referensi dalam penelitiannya.

Mahasiswa C setelah mendapatkan beragam lirik yang ia butuhkan untuk proses analisis yang berasal dari beragam sumber, ia mencoba menemukan orang yang benar-benar bisa dijadikan sebagai kunci dalam memberikan referensi apakah lirik itu benar-benar dapat dipercaya, memang ada kebenarannya serta sudah beredar di masyarakat.

Pada tahapan ini penelusuran informasi pada sumber primer sudah memasuki pada tingkat pemahaman pada diri informan, tahapan ini informan sudah mulai menemukan kesulitan dan hambatan pada penelitian mereka, oleh karena itu mereka juga mulai mencari solusi dengan meminta bantuan orang lain baik pada pembimbing, teman maupun mahasiswa agar bisa membantu informan dalam proses pemahaman untuk memeriksa, mengoreksi dan menyeleksi sumber yang dipilih, kemudian mengutip informasi yang relevan dengan topik penelitian mereka. Seluruh informan melewati tahapan ini ketika melakukan pencarian informasi pada kegiatan penelitian mereka, sehingga mereka mendapatkan sumber yang relevan untuk penelitiannya.

Verifying
Verifying, pemilahan dengan menggunakan ciri-ciri di dalam sumber informasi sebagai dasar untuk memeriksa kualitas isi atau informasi. Pada tahapan perilaku pencarian informasi ini, informan terlebih dahulu mengetahui dan memeriksa keabsahan dokumen yang telah didapatkan itu, siapa pembuatnya, apa sumbernya, kapan tahun publikasinya dan apakah dapat dipertanggungjawabkan. Jika memang bisa diterima dan dipertanggungjawabkan keabsahannya, informasi tersebut akan menjadi informasi inti yang digunakan dalam menganalisis penelitiannya.

Mahasiswa A harus bisa memeriksa kualitas isi informasi yang akan ia teliti, karena informasi yang ditelitinya berhubungan dengan karya sastra lama, ia harus bisa menemukan dan menanyakan karya tersebut kepada sumber yang dapat dipercaya. Hampir seluruh data yang ia perlukan ada beberapa yang tersedia di perpustakaan dan ada juga yang tersedia di perpustakaan di luar kota Jakarta.

Hasil wawancara dengan informan menunjukkan bahwa beberapa mahasiswa tersebut menggunakan e-resource baik jurnal maupun sumber-sumber yang dapat dipercaya pada kegiatan extracting-nya. Pada tahapan ini informan telah menemukan apa yang mereka inginkan serta arah yang mereka tempuh, mereka sudah mulai mengembangkan informasi yang hadir berdasarkan permasalahan atau topik yang diteliti. Pada tahapan ini juga informan sudah memfokuskan diri serta mengurangi keadaan ketidakpastian yang hadir pada diri mereka karena ketika mereka memasuki tahapan ini mereka sudah mendapatkan beragam informasi pada tahapan sebelumnya dan sudah meningkatkan pengetahuan mereka di dukung oleh sumber informasi dan data yang mereka temukan.

Ending
Ending, tahap akhir pencarian informasi dengan mengumpulkan informasi penting yang belum tercakup dalam penelitian serta menyimpulkan penelitiannya. Hal ini menjadi tahapan akhir yang biasanya juga menjadi akhir dari penelitian yang dilakukan serta tercapainya tujuan penelitian.

Pada tahapan ini, mahasiswa A menyimpulkan hasil penelitiannya dan ia juga memutuskan untuk menyelesaikan perilaku pencariannya dengan kesimpulan penelitian yang telah ia kemukakan. Mahasiswa B juga menghentikan perilaku pencarian informasinya setelah menyimpulkan bahwa kemampuan yang dimiliki penulis Indonesia untuk buku teks ajar cukup baik. Mahasiswa B juga menyelesaikan pencarian informasinya setelah ia merasa bahwa informasi yang ia inginkan sudah terpenuhi.

Mahasiswa C juga menghentikan pencariannya setelah membuat kesimpulan atas penelitian yang telah ia lakukan, mahasiswa C mengaku bahwa ketika pada tahapan setelah ia mendapatkan seluruh lirik yang ia inginkan, dia mengalihkan pencarian informasi yang ia butuhkan kedalam teori-teori yang ia gunakan dalam menganalisis lirik tersebut. Mahasiswa C membuat kesimpulan pada penelitiannya bahwa lirik lagu memiliki kekuatan dan berpengaruh di masyarakat.

Pada tahapan akhir ini, informan sudah siap menyelesaikan dan mengakhiri penelitian mereka, dampak pada tahapan ini adalah perasaan puas dan tidak puas informan terhadap hasil yang mereka tempuh dalam perjalanan pencarian informasi mereka, pada tahapan ini informan sudah memutuskan untuk mengakhiri pencarian informasinya, selanjutnya mereka dapat menyimpulkan penelitian mereka berdasarkan informasi yang telah mereka miliki. Seluruh informan melewati tahapan ini, hanya saja perbedaan waktu penyelesaian serta waktu pemindahan dalam bentuk tulisan tidak terjadi pada waktu yang sama dikarenakan perbedaan penelitian yang mereka lakukan, pada mahasiswa A dan B perpustakaan berperan meskipun sedikit porsinya dalam pemenuhan kebutuhan informasinya baik pada tahap Chaining dan Verifying, secara keseluruhan .

Kesimpulan
Model perilaku pencarian informasi mahasiswa program doktor bidang pendidikan bahasa di Universitas Negeri Jakarta yang menyusun disertasi sesuai dengan model yang dikemukakan oleh Ellis yang terdiri dari lima tahap yaitu starting, chaining, extracting, verifying dan ending. Strategi pencarian informasi yang dilakukan mahasiswa program doktor yang sedang menulis disertasi yaitu dengan menggunakan perpustakaan, koleksi pribadi, bertemu dengan narasumber, pembimbing, teman maupun mahasiswa.Selain itu ada juga yang cenderung menelusur menggunakan e-resources untuk mendukung sumber primer mereka.

Subyek informasi yang dibutuhkan oleh mahasiswa program doktor pada penelitian mereka sangat erat kaitannya dengan topik penelitian mereka. Hal ini terlihat pada alasan mereka dalam pemilihan topik disertasinya berdasarkan bidang yang mereka kuasai dan tekuni serta mereka telah memiliki pengetahuan dasar terhadap apa yang diteliti sebelumnya. Sumber informasi yang paling populer dan sering digunakan oleh mahasiswa program doktor yang menyusun disertasi adalah buku tercetak, karena berisi informasi-informasi yang relevan dan penggunannya yang mudah serta memberikan informasi yang rinci dan mendasar. Hambatan yang ditemui ketika melakukan penelitian yaitu berkaitan dengan individu; pada keterampilan menggali informasi, pemahaman dan bahasa, antar individu dan faktor lingkungan. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, faktor lingkungan merupakan hambatan terbesar karena faktor fasilitas yang terbatas, ketersediaan koleksi dan juga gambaran mengenai sumber informasi yang tersedia di sekitar informan.

DAFTAR PUSTAKA

Bawden, David. (2006). Users, user studies and human information behaviour; A three-decade perspective on user studies and information needs” Journal of Documentation. Bradford: 2006. Vol. 62, Iss.6; pg. 671. [http://proquest.umi.com/pqdweb?did=1255208921&sid=3&Fmt=3&clientId=45625&RQT=309&VName=PQD. ]akses tanggal 20 Februari 2009.

Darmono, Ardoni. (1998). “Kajian pemakai dan sumbangannya kepada dunia Pusdokinfo”.Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi. 1(2): 21-34.

Ellis, David. (1993). Modeling The Information-Seeking Pattern of Academic Researchers : A Grounded Theory Approach.”Library Quarterly, vol.63, no.4, pp. 469-486.

Elis, David; Cox, Deborah; Hall, Kaherine. (1993). “A Comparison of the information seeking patterns of researchers in the physical and sosial sciences”,Journal of Documentation, 49(4): 356 – 359.

Irwan, Muhammad. (2005). “Majalah dan koran sebagai media informasi bagi pengguna perpustakaan perguruan tinggi”. Jurnal Kepustakawanan dan Masyarakat Membaca. 21 (2): 63 – 67.

Pendit, Putu Laxman. (1993). “Pendekatan berorientasi pemakai dalam kajian tentang perpustakaan dan sistem informasi”. Makalah disampaikan pada Temu ilmiah dua hari: Perpustakaan dan teknologi informasi, Perpustakaan Nasional RI, 8-9 Juni 1993: 1 – 11.

Perpustakaan Nasional RI. 2000. Pedoman Umum Pengelolaan Koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta : Bagian Proyek Pengembangan Sistem Nasional Perpustakaan.

Sulistyo – Basuki. (2006). “Metodologi kuantitatif dan kualitatif dalam penelitian ilmu perpustakaan dan informasi”.Visi Pustaka. 8 (1): 11-21.

Wijayanti, Luki. (2001). Kebutuhan dan Perilaku Pencarian Informasi Staf Pengajar Fakultas Sastra Univeristas Indonesia Dalam Rangka Mengerjakan Penelitian Tahun 2000.Tesis Magister di Universitas Indonesia, Program Pascasarjana, Program Studi Ilmu Perpustakaan, Depok. UI

Wilson, T.D. (1999) Models in Information behavior research.The Journal of Documentation, 55 (3): 249-270

Wilson, T.D. and Mary Dykstra Lynch (2006) The Impact of Doctoral Research in Information Science and Librarianship. [http://informationr.net/tdw/publ/ papers/1981SSIS.html] akses tanggal 3 Maret 2009.