Perpustakaan Di Era Keterbukaan Informasi: Sebuah Tantangan Yang Harus Dihadapi

A. PENDAHULUAN

Di abad milenium ini, perkembangan teknologi semakin pesat dan canggih. Hal ini berpengaruh pada budaya masyarakat indonesia. Kebutuhan akan informasi masyarakat kini semakan tinggi, dulu informasi hanya sebagai pelengkap atau bisa dikatakan  orang masih bisa hidup  tanpa adanya informasi. Di era kini informasi terus dicari, karena informasi kini telah menjadi kebutuhan masyarakat.

Informasi akhir-akhir ini mudah sekali diakses, kita tidak harus pergi ke perpustakaan. Dengan bermodal hand phone pintar, tablet, ataupun ipad kita bisa mengakses informasi di manapun kita berada. Perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi harus tanggap dengan budaya masyarakat yang seperti ini. Apalagi generasi muda saat ini, pola perilaku sedikit berbeda  dengan perilaku orang dulu. Mereka tergolog dalam NetGen, yang  menuntut pelayanan yang serba cepat dan tepat. Agar perpustakaan tidak jauh ditinggalkan oleh para penggunanya, perpustakaan harus mampu menyediakan layanan yang dibutuhkan penggunanya. Bagaimana strategi-strategi yang harus dipersiapkan perpustakaan untuk menghadapi masyarakat NetGen. Makalah ini berupa paparan atau gagasan tentang apa yang perlu dipersiapkan perpustakaan menghadapi masyarakat pengguna di era ini.

B. KEBUTUHAN INFORMASI (INFORMATION NEEEDS)

Perkembangan peradaban dewasa ini, membuat masyarakat tidak bisa lepas dengan kebutuhan informasi. Informasi yang dulunya sebagai pelengkap, kini menjadi sebuah kebutuhan. Informasi merupakan alat untuk mengambil keputusan baik yang besifat privat maupun publik. Tanpa adanya informasi yang pasti, kita tidak akan bisa membuat keputusan yang maksimal. Sebagai dosen/mahasiswa misalnya, memerlukan informasi yang pasti untuk menunjang proses pembelajaran, penelitian, membuat makalah ataupun tugas akhir. Petani misalnya, memerlukan informasi penting terkait dengan permasalahan dibidang pertanian yang dihadapinya serta pemasaran produknya. Begitu pula dengan para pembisnis membutuhkan informasi yang terkait dengan permasalahan bisnis serta customer yang dilayaninya. Hampir semua sektor membutuhkan informasi  dan informasi yang dibutuhkan sangat beragam.

Seiring dengan perkembangan teknologi  terutama internet, kita semakin dipermudah dalam memperoleh informasi. Hanya saja dibutuhkan kejelian dalam memilih informasi yang kita butuhkan, karena informasi yang kita dapat dari internet itu beragam dan banyak.  Perpustakaan sebagai salah satu lembaga penyedia dan pengelola informasi  harus bisa menyediakan informasi yang diperlukan oleh para penggunanya, baik yang tersedia diperpustakaan secara fisik maupun yang bisa diakses via internet.

C. KEBERAGAMAN PENGGUNA PERPUSTAKAAN

Tujuan dari perpustakaan yaitu menyediakan kebutuhan informasi bagi penggunanya. Semua tergantung dari lembaga induk yang membawahinya, misalnya perpustakaan perguruan tinggi berarti perpustakaan tersebut harus menyediakan kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh seluruh civitas akademika di perguruan tinggi tersebut.  Begitu pula dengan perpustakaan sekolah maupun perpustakaan umum, harus menyediakan informasi yang sesuai dengan kebutuhan para penggunanya.

Pengguna perpustakaan, dimana dalam UU No. 43 tahun 2007 disebut sebagai pemustaka, dalam suatu perpustakaan sangat beragam. Misalnya untuk perpustakaan perguruan tinggi, di sini yang dilayani bukan hanya mahasiswa saja, namun juga dosen, staff dan karyawan, dan pengunjung dari luar. Untuk itu pihak pustakawan harus memberikan pelayanan yang sesuai.

Seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi, maka berkembang pula sifat dan karakter para pemustaka. Ada yang menuntut pelayanan serba cepat, ada yang lebih suka koleksi digital/elektronik, ada pula yang masih tetap menyukai buku teks (teks books). Menurut Tapscott (2009), menjelaskan bahwa ada beberapa kategori  generasi  dan demografi akibat dari pengaruh teknologi informasi terutama di Amerika Serikat. Kategori tersebut yaitu:

1. Generasi Baby Boom (1946-1964; setelah perang dunia, jumlah bayi melonjak drastis; kehidupannya dipengaruhi tivi)

2. Generasi X (1965-1976; jumlah bayi agak menurun; setelah bayi dewasa sulit cari kerja karena hampir semua pekerjaan sudah diambil kakak-kakaknya; dipengaruhi tivi dan internet).

3. Generasi Net/ Generasi Z (1977-1997; waktu tumbuh dewasa, teknologi internet sudah  menjadi bagian hidupnya).

4. Generasi Kemudian/Next Generation (1998-sekarang), kita belum tahu karakternya setelah dewasa nanti.

Hal ini sedikit berbeda dengan perkembangan masyarakat di Indonesia. Perkembangan masyarakat di Indonesia tidak merata dan internet mulai masuk di Indonesia dan meluas tahun 1995an. Menurut Djunaedi (2013), perkembangan generasi di Indonesia sebagai berikut:

a. Generasi Baby Boom; ada, meskipin tidak merata yaitu tahun 1950-1975an.

b. Generasi X; ada juga, meskipun tidak merata yaitu tahun 1975-1993an.

c. Generasi Net/ Net Gen/Generasi Z; ada juga, meskipun tidak merata yaitu 1994-sekarang.

d. Generasi kemudian/next generation

Sebagai pustakawan kita harus paham tentang perbedaan antar generasi ini, karena setiap generasi punya karakter sendiri-sendiri terutama dalam hal pelayanan. Karakter generasi Baby boom tentu berbeda dengan generasi NetGen. Menurut Tapscott (2009:34-36 dan 73-96), ada delapan karakter NetGen, yaitu:

a) Mereka menginginkan kebebasan: bebas memilih sampai bebas berekspresi.

b) Mereka suka merubah yang sudah standar untuk disesuaikan dengan dirinya (customize, personalize)

c) Mereka suka mengkaji sesuatu dengan seksama, tidak mudah menerima begitu saja.

d) Mereka menekankan pada kejujuran dan keterbukaan dari perusahaan yang menawari mereka produk atau pekerjaan.

e) Mereka mencampur “rekreasi” sambil bekerja, atau sebaliknya bekerja sambil rekreasi, dimana saja, kapan saja.

f) Mereka generasi yang terbiasa berkolaborasi dan bersilaturahmi, berjejaring.

g) Mereka menginginkan kecepatan (tidak hanya di videogame).

h) Mereka adalah inovator (berdasar informasi dan pengetahuan yg melimpah di internet).

Generasi NetGen sering juga disebut generasi Z, di mana generasi ini lahir di saat teknologi informasi dan komunikasi berkembang dengan pesat. Mahasiswa sekarang ini banyak yang tergolong generasi ini, di mana teknologi telah menjadi bagian hidup mereka. Dapat dikatakan NetGen ini sangat bergantung dengan teknologi, karena mereka merupakan penduduk asli dunia digital/digital natives. Generasi ini juga menuntut semuanya serba cepat alias instan dalam berbagai hal.

Dengan melihat karakter pemustaka yang seperti ini perpustakaan harus tanggap, apalagi dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat. Pengguna perpustakaan perguruan tinggi rata-rata mahasiswa yang kebanyakan tergolong generasi NetGen, untuk itu perpustakaan harus berbenah diri. Perpustakaan dituntut harus mampu melayani semua kalangan yang membutuhkan informasi, namun untuk generasi NetGen perpustakaan harus meningkatkan pelayananya, dari yang semula manual kini harus berbasis teknologi. Dari yang semula internal akses kini harus eksternal akses, sehingga masyarakat mengguna semakin mudah dalam memperoleh informasi yang mereka butuhkan. Hal ini dilakukan juga untuk tetap mempertahankan eksistensi perpustakaan sendiri di tengah maraknya lembaga penyedia informasi lain, jika perpustakaan tidak mengikuti arus pengguna maka perpustakaan tersebut akan ditinggalkan oleh para penggunanya.

D. KONSEP PERPUSTAKAAN MASA KINI
Berdasarkan UU No. 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan menyebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Dari definisi di atas dapat dipahami bahwa perpustakaan merupakan salah satu lembaga penyedia informasi yang diperuntukan untuk para penggunanya, baik untuk keperluan pendidikan, penelitian, maupun yang lainnya.

Perkembangan perpustakaan di era ini sangat cepat, sesuai dengan cirinya “Library is the growing organism” (perpustakaan merupakan organisasi yang berkembang). Perkembangan ini tentunya tidak bisa lepas kaitanya dengan teknologi informasi. Munculnya teknologi Informasi di dunia perpustakaan menjadi langkah awal menuju reformasi dunia perpustakaan sendiri. Perpustakaan yang dulunya serba manual (segala kebutuhan pemustaka dilayani oleh pustakawan), di mana katalogisasi sebagai tulang pokok kualitas pelayanan perpustakaan. Kini  perpustakaan harus berganti arah yaitu pelayanan yang berbasis teknologi informasi.

Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang semakin canggih, perpustakaan dituntut untuk lebih aktif, dinamis, cepat, tepat dan akurat dalam segala hal baik dalam pelayanan maupun penelusuran sumber informasi. Hal ini dilakukan untuk menghadapi net generasi yang menuntut pelayanan yang serba cepat dan lebih aktif. Selain itu, penyesuaian ini dilakukan untuk mempertahankan eksistensi perpustakaan di tengah maraknya lembaga lain yang bidangnya menyerupai perpustakaan.

Dalam layanan informasi perpustakaan, semula pengguna hanya dapat menemukan informasi yang ada di perpustakaan tersebut secara manual, kemudian berkembang dengan memanfaatkan komputer dan intranet dapat ditelusur melalui OPAC, dan berkembang lagi dapat diakses melalui internet atau yang sekarang dikenal dengan istilah Library 1.0. Dengan cara ini pemakai sudah banyak yang terpuaskan karena dapat dengan cepat menemukan informasi yang mereka butuhkan.

Kemudian muncul yang namanya library 2.0 yang sebenarnya berawal dari web 2.0. Web 2.0 sendiri pada dasarnya merupakan istilah pemasaran yang diperkenalkan oleh penggiat internet (komersial dan nonkomersial) untuk menandai tren dan pola penyebaran informasi yang terjadi beberapa tahun belakangan ini. Inti dari library 2.0 adalah perubahan orientasi kepada pemakai. Yaitu suatu model yang menganjurkan perubahan yang beralasan dan terus menerus, dengan mengundang partisipasi pemakai dalam mengkreasikan layanan, baik secara fisik maupun maya sesuai dengan keinginan mereka, yang didukung oleh evaluasi layanan secara konsisten. Layanan tersebut juga berusaha untuk mendapatkan pengguna baru dan layanan yang lebih baik dan terbaru melalui penawaran pengembangan kepada pemakai. Setiap komponen berusaha sendiri untuk meningkatkan layanan yang lebih baik kepada pengguna.

Sejalan dengan perkembangan teknologi dan hadirnya jaringan internet di Indonesia, perpustakaan menghadapi tantangan yang semakin berat. Seakan internet menjadi pesaing dunia perpustakaan. Melalui internet kita bisa mengakses informasi dalam bentuk teks, gambar, audio maupun video, yang bisa diakses di manapun kita berada. Bahkan akhir-akhir ini banyak ebook yang secara gratis bisa di akses melalui internet. Kebanyakan orang bahkan lebih suka memanfaatkan internet dari rumah dari pada harus datang ke perpustakaan.  Melihat kondisi ini, perpustakaan harus mulai berbenah, agar tetap eksis. Konsep library 2.0 kini sudah mulai ditinggalkan. Kini munculah istilah baru yang dinamakan library 3.0. Konsep ini memang belum terlalu dikenal di Indonesia, namun sudah banyak diterapkan di dunia internasional. konsep library 3.0 merupakan tranformasi lanjutan setelah konsep library 2.0. Dengan tranformasi web yang akan berciri semantik serta ontologi maka web juga berkembang menjadi Web.3.0. Melalui web Semantic ini, berbagai perangkat lunak akan mampu mencari, membagi, dan mengintegrasi informasi dengan cara yang lebih mudah. Layanan opac di konsep one stop service. Virtual Reference Service untuk melayani pengguna yang jauh dari perpustakaan. GeoTagging ini membantu pengguna untuk menemukan informasi spesifik yang terletak di lokasi tertentu. Ontologies adalah teknik untuk memberikan hubungan semantik kaya antara istilah dan pikiran pengetahuan. Ubiquitous contents, konsep ini mengarah pada berbagai bentuk informasi dapat diakses dimana saja tanpa terbatas waktu dan dapat mengggunakan perangkat apa saja.  Menurut Ida dalam Keswara (2013), konsep perpustakaan 3.0 ini merupakan interaksi antara user dan perpustakaan secara online, termasuk dalam berjejaring dan terkoneksi antarperpustakaan sehingga semua informasi dapat diakses tanpa harus menunggu pustakawan dan perpustakaan sebagai pusat informasi juga wajib berkembang seiring perkembangan teknologi informasi (TI).

E. TANTANGAN YANG DIHADAPI PERPUSTAKAAN

Perkembangan teknologi informasi berpengaruh pada perilaku pengguna perpustakaan. Seiring dengan perubahan perilaku pengguna, perpustakaan sebisa mungkin harus bisa mengikuti arus dari pengguna, agar perpustakaan tidak ditinggalkan nantinya. Perpustakaan dikatakan berhasil, mana kala perpustakaan itu mampu memenuhi kebutuhan para penggunanya. Pengguna potensial perpustakaan, terutama perpustakaan perguruan tinggi adalah NetGen/generasi Z, yang dalam layanan selalu menuntut kecepatan, ketepatan, dan wujudnya kebanyakan digital. Melihat kondisi seperti ini, perpustakaan harus tanggap baik untuk peningkatan layanan, maupun fasilitas yang dibutuhkan pengguna.

Perkembangan komputer semakin canggih, bahkan akhir-akhir ini muncul yang namanya ipad, tablet, handpone cerdik, dan sejenisnya. Teknologi ini semakin memudahkan seseorang dalam mengakses informasi. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi setidaknya harus mampu mengimbangi teknologi seperti ini, agar kiprahnya tidak semakin tergeser. Penggunaan teknologi informasi di perpustakaan merupakan salah satu alternatif bagi pihak perpustakaan. Informasi yang disediakan perpustakaan harus mudah diakses, baik dari perpustakaan sendiri maupun dari manapun kita berada. Perpustakaan, terutama di Indonesia sebaiknya mulai mengarah ke library 3.0, sebuah konsep yang sudah berjalan di luar negeri. Dalam konsep ini terdapat web semantic, yang melalui web ini berbagai perangkat lunak akan mampu mencari, membagi, dan mengintegrasi informasi dengan cara yang lebih mudah. Hal ini di samping untuk memberikan pelayanan terhadap NetGen, juga sebagai bentuk perwujudan pemanfaatan teknologi di perpustakaan.

Peningkatan layanan perpustakaan, sudah menjadi kewajiban dari setiap perpustakaan. Untuk menghadapi NetGen selain menerapkan konsep library 3.0, ada beberapa strategi yang bisa diterapkan perpustakaan, yaitu:

1. Optimasi sistem automasi perpustakaan dan pengembangan perpustakaan digital.

2. Mulai memperhatikan pengadaan sumber elektronik atau koleksi digital

3. Peningkatan pengetahuan, keterampilan hard skills dan soft skills pustakawan

4. Peningkatan fasilitas bagi generasi digital seperti, colokan listrik, wifi/hotspot, kecepatan data internet, perabotan yang informal dan santai, fasilitas audio video.

5. Dalam mendesain penataan ruangan hendaknya memberikan ruang lebih bagi pemustaka agar dapat saling berinteraksi dan kolaborasi.

Menurut Wulansari (2011) strategi pelayanan perpustakaan juga harus dikembangkan, karena NetGen menuntut pelayanan yang cepat dan mudah, biasanya mereka menyukai sesuatu yang bisa diakses secara online. Beberapa strategi pelayanan yang bisa diterapkan, antara lain:

1. Net generation merupakan pengguna yang cerdas dan mandiri dalam menggunakan teknologi informasi.   Layanan perpustakaan harus mempertimbangkan hal ini.

2. Menyediakan layanan perpustakaan yang dapat diakses melalui mobile phone, misalnya pertanyaan sederhana tentang jam layanan perpustakaan, memesan project room, dll.

3. Layanan informasi dan referensi melalui chatting, bukan email saja.  Net generation merupakan pengguna yang multitasking, jadi mereka dapat bertanya dan menunggu jawaban dari pustakawan sambil mengerjakan aktifitas yang lain.

4. Mengembangkan program literasi informasi melalui tutorial, latihan, dan panduan yang mudah dipahami oleh pengguna dengan permainan yang interaktif dan menarik. Net generation merupakan pengguna yang cerdas dan terampil dalam menggunakan teknologi informasi.  Namun mereka tetap membutuhkan arahan dari pendidik (dalam hal ini dosen dan pustakawan) agar tidak tenggelam dalam hal-hal yang bersifat non-edukatif, tetapi juga dapat memanfaatkan teknologi informasi untuk keperluan akademisnya, dengan memanfaatkan sumber informasi yang berkualitas dapat dipertanggungjawabkan dan memanfaatkannya secara etis.

Dalam meningkatkan layanan perpustakaan, tentu tidak dapat lepas dengan peran pustakawan. Dalam hal pustakawan juga harus meningkatkan kinerjanya, agar mampu memberikan layanan yang maksimal. Dengan penerapan konsep library 3.0 Pustakawan dituntut harus proaktif terhadap penggunaan alat dan teknologi terbaru untuk menciptakan sistem perpustakaan virtual. Menurut Shapiro dan Hughes dalam Pendit (2007), ada beberapa kemampuan yang harus dimiliki pustakawan dalam era digitalisasi yaitu:

a. Tool literacy, yaitu kemampuan memahami dan menggunakan alat teknologi informasi, baik secara konseptual maupun praktikal, keteranpilan pmenggunakan perangkat lunak, perangkat keras, multimedia, dsbnya.

b. Resource literacy, yaitu kemampuan memahami bentuk, format, lokasi, dan cara mendapatkan informasi terutama dari jaringan informasi yang selalu berkembang.

c. Social-structural literacy, pemahaman yang benar bagaimana informasi dihasilkan oleh berbagai pihak dalam masyarakat.

d. Reserach literacy, kemampuan menggunakan peralatan berbasis teknologi informasi sebagai alat riset

e. Publishing literacy, kemampuan menerbitkan informasi dan ide ilmiah pada kalagan luas dengan memanfaatkan komputer dan internet

f. Emerging technology literacy, kemampuan terus menerus menyesuikan diri dengan perkembangan teknologi dan bersama komunitasnya menentukan arah pemanfaatan teknologi informasi untuk kepentingan pengembangan ilmu.

g. Critical literacy, kemamuan mengevaluasi sercara kritis terhadap untung ruginya menggunakan teknologi telematikan dalam kegiatan ilmiah.

Dengan kolaborasi yang bagus antara perpustakaan, pustakawan, sistem serta konsep sebuah perpustakaan, diharapkan perpustakaan akan lebih disegani oleh masyarakat pengguna sehingga perpustakaan nantinya diharapkan benar-benar menjadi pusat informasi dari segala penjuru.

F. SIMPULAN

Terkait dengan perkembangan teknologi informasi, berkembang pula pola perilaku masyarakat. Masyarakat di era ini lebih memandang informasi sebagai kebutuhan. Informasi tersebar dimana-mana baik melalui media internet, buku, televisi, maupun radio. Pengaksesan informasi sekarang ini lebih mudah, dengan bantuan hand phone pintar, ipad, tablet, maupu komputer kita sudah bisa mengakses informasi.

Perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi, harus paham mengenai masyarakat pengguna yang dilayaninya, terutama dengan kehadiran NetGen. Perpustakaan harus meningkatkan strategi pelayananya agar kiprah perpustakaan tidak tergantikan dengan lembaga penyedia informasi lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

Depdibud. 2008. “Undang-Undang Republik Indonesia No.43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan” dalam http://kelembagaanfiles.pnri.go.id/pdf/about_us/official_archives/public/normal/UU_43_2007_perpustakaan.pdf diakses Rabu, 23 Februari 2012 pukul 11.24 WIB.

Djunaedi, Achmad.2013. Memahami Perbedaan Karakteristik Antar Generasi. MIP: Bahan kuliah Isu-Isu Kontemporer.

Keswara, Ratih. 2013. “Perpustakaan 3.0 solusi kurangnya pustakawan”.  http://nasional.sindonews.com/read/2013/09/06/15/780186/perpustakaan-3-0-solusi-kurangnya-pustakawan.

Pendit, Putu laksman. 2007. Perpustakaan Digital: Perspektif Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta: Sagung Seto.

Prasetiawan, Imam Budi. 2011.Keberaksaraan Informasi (Information Literacy) bagi SDM Pengelola Perpustakaan di Era Keterbukaan Informasi. Jakarta: Pelatihan Penmgelola Perpustakaan di lingkungan Kementrian Perindustrian.

Pram .2012. “Era keterbukaan informasi dan plagiarisme Sebuah pandangan dari pustakawan”, di unduh dari http://pram-perpus.blogspot.com/2012/01/era-keterbukaan-informasi-dan.html diakses Jumat, 23 Mei 2014 pukul 12.35 WIB.

Priyatma, Johanes Eka. 2014. Perpustakaan 3.0 Perpustakaan Masa Depan dan Masa Depan Perpustakaan. Yogyakarta: Seminar Tantangan Perpustakaan di Era Digital (Digital Natives go to the Libraries: a Challenge) Universitas Sanata Dharma.

Sismalib. 2013. “Tantangan dan Strategi Perpustakaan Dalam Penyediaan Layanan Bagi Generasi Digital” di unduh dari  http://sismalib.wordpress.com/2013/06/23/tantangan-dan-strategi-perpustakaan-dalam-penyediaan-layanan-bagi-generasi-digital/ di akses Jumat, 23 Mei 2014 pukul 12.36 WIB.

Setiyaningsih, Heni. Library 3.0: Konsep Masa Kini, diunduh dari http://henisetiyaningsih.blogspot.com/2013/05/v-behaviorurldefaultvmlo.html diakses Senin 26 Mei 2014 Pukul 09.12 WIB

Suwanto, Sri Ati . “Layanan perpustakaan elektronik dengan konsep Library 2.0”. /repository.petra.ac.id/15260/1/net_generation1.pdf Jumat, 23 Mei 2014 pukul 12.45 WIB.

Tapscott, Don. 2009. Grown Up Digital, di unduh dari http://dontapscott.com/books/grown-up-digital/ di akses Senin, 26 Mei 2014.

Wulansari, Diah. 2011. “Mengembangan Perpustakaan Sejalan Dengan Kebutuhan Net Generation”  di unduh dari digilib. undip.ac.id/index.php/component/content/article/38-lain/artikel/55-mengembangan-perpustakaan-sejalan-dengan-kebutuhan-net-go diakses Jumat, 23 Mei 2014 pukul 12.350 WIB