Perpustakaan sebagai Ruang Inkubasi bagi Inovasi : Praktek, Tren dan Seperangkat Kemampuan (Kompetensi)

1.Memahami ruang lingkup kerja perpustakaan
Selama berabad-abad, perpustakaan penelitian merupakan bagian integral dari proses pendidikan tinggi. OCLC Environment Scan tahun 2003 menyebutkan bahwa ?secara sederhana Perpustakaan dan Arsip sering diartikan sebagai sebuah  pusat tempat memperoleh materi (bahan) baik yang sulit didapat, langka, mahal maupun unik.Ketidak memadainya informasi inilah yang merupakan dasar perpustakaan modern Keinginan untuk memiliki bangunan tempat menyimpan semua informasi (termasuk  dengan segala elemennya) yang berdiri sendiri,  disuarakan lebih keras oleh sejumlah negara yang memiliki  persoalan akses informasi sama halnya dengan persoalan akses tenaga listrik atau air? (De Rosa et a.,2005)
 
Kehadiran internet telah mampu memberikan keleluasaan untuk menjelajah dunia informasi bagi penggunanya. Perkembangan ini secara signifikan telah mempengaruhi perilaku pemustaka dan mendorong perpustakaan untuk melakukan transformasi dari perannya yang  tradisional dan pasif menjadi kurator konten, penyelenggara, pengirim, dan menjadi lebih aktif dalam menunjang pembelajaran secara total.
 
Sederet layanan perpustakaan baru telah dikembangkan dan diujicobakan. Perlu diingat juga  adanya tuntutan akan peran perpustakaan baru yang sesuai dengan perkembangan era digital sekarang. Belum lama ini muncul tulisan di sebuah blog yang menyatakan : ?Hari ini segalanya berubah, yang awalnya merupakan model pembelian menjadi model berlangganan, contohnya adalah NetFlix dan library databases. Artinya, bukankah hal ini yang dilakukan oleh perpustakaan saat ini? ?Menyewakan buku, secara fisik maupun dalam format elektronik tetapi apakah gratis ?? (Rent-a-book, 2005). Ini merupakan sebuah contoh berlangsungnya proses pencarian spirit (jiwa) profesi perpustakaan.
 
Pembahasan  tentang misi dan peran perpustakaan saat ini baik umum maupun sedikit berbeda  telah banyak dimuat dalam literatur perpustakaan. Lougee (2002) , misalnya menyampaikan pandangannya yang  cukup menarik perhatian dengan  mengemukakan bahwa peran perpustakaan adalah campur aduk dan  tidak focus (diffuse library) di abad digital kini. Bennett (2005) dalam tulisannya mengatakan bahwa keberhasilan perpustakaan riset tidak  selalu berarti karena faktor kemudahan maupun seringnya menggunakan perpustakaan tetapi lebih didasarkan pada  pengetahuan yang diperoleh pada saat penggunaan materi tersebut.
 
Bila diperluas, maka pandangan ini dapat diartikan bahwa keberhasilan sebuah perpustakaan riset hanya dapat dicapai apabila perpustakaan tersebut mampu membentuk pembelajaran, mengakibatkan terjadinya transformasi pada si pembelajar  dan menyediakan landasan sosial untuk inovasi.
 
Disini penting untuk dikemukakan tentang inovasi, mengingat perpustakaan riset saat ini melayani pemustaka dari kalangan generasi yang lebih muda. Mereka adalah generasi yang lebih aktif, memiliki kemampuan mengerjakan beragam tugas dan memiliki penguasaan  teknologi lebih baik dibandingkan dengan generasi-generasi  sebelumnya. Kelompok ini menciptakan  dan menghasilkan gagasan serta  produk seperti blog dan karya audio visual, jauh lebih dini bila dibandingkan dengan kemampuan generasi sebelum mereka.
 
Survei tentang remaja dan orangtua yang dilaksanakan oleh Pew Internet and American Life Project ((Pew Internet & American Life Project, 2005) menggambarkan secara jelas bahwa ke depan tren ini akan terus berlanjut dan bahkan akan semakin meningkat dimasa yang akan datang.
 
Perpustakaan harus memfokuskan layanannya yang mampu mengembangkan  pembelajaran serta  memotivasi tumbuhnya inovasi. Untuk mewujudkannya, maka unit-unit kerja perpustakaan harus terbuka dan mereka bersedia untuk terus melakukan inovasi layanan yang diselenggarakannya.
 
Bila istilah penawaran dan permintaan (supply and demand) dikaitkan dengan perpustakaan riset, pastilah akan menimbulkan kehebohan. Akan tetapi, perpustakaan tidak mempunyai pilihan lain karena saat ini tampaknya  perpustakaan terancam dengan  meluasnya penggunaan internet dan yang terkait teknologi dijital yang mampu menawarkan kecepatan, demikian juga halnya dengan search engine. Artinya, yang menjadi pertanyaan mendasar adalah ?Apakah  masih perlu menyelenggarakan perpustakaan dan apakah perpustakaan mampu memberikan nilai tambah bagi kualitas hidup penggunanya? 
 
Inti dari pertanyaan tersebut adalah tentang kebutuhan pengguna (customer), apa saja yang dapat ditawarkan oleh perpustakaan dan seberapa jauh perpustakaan mampu memberikan kepuasan bagi penggunanya.
 
Dengan mengacu kepada konsep supply and demand, maka yang membedakan perpustakaan dari bisnis lainnya adalah produk dan layanannya. Kejelian untuk mengidentifikasi, mengikuti serta mampu membentuk pangsa pasar akan menentukan baik keberhasilan maupun kegagalan perpustakaan. Ilustrasi berikut  ini merupakan contoh pengalaman yang terjadi pada sebuah perpustakaan riset besar dengan menitikberatkan pada divisi layanan umum. Tujuannya adalah memberikan gambaran betapa kompleksnya proses transformasi dan inovasi yang mempengaruhi baik pengguna maupun divisi layanan umum.
 
2. Menciptakan ruang perpustakaan fungsional serta memiliki nilai tambah
Carlson?s (2005), dalam tulisannya mengindikasikan bahwa  generasi mahasiswa kini  lebih memiliki kecenderungan untuk  mengadopsi metode belajar secara berkelompok  dan berinteraksi sosial. Sejumlah  survey perpustakaan juga mengemukakan bahwa kepuasan pengguna juga ditentukan oleh kondisi fisik  perpustakaan.Bagi mereka yang terbiasa hidup di dunia yang serba cepat, sibuk dan hingar-bingar, maka perpustakaan  merupakan pilihan yang menawarkan keunikan tersendiri sebagai tempat ?persembunyian?  untuk berpikir, melakukan refleksi dan bersosialisasi. Pengalaman yang memberikan kesempatan seperti dikemukakan, sedemikian kental dan hidup sehingga tidak tidak mungkin diperoleh  atau dibandingkan dengan lingkungan yang berbasis online. Dengan memahami isu ini mendorong perpustakaan untuk melakukan renovasi ruang umum perpustakaan. Sejumlah contoh tentang disain ulang ruang perpustakaan dicatat oleh Freeman (2005).Misalnya disain ulang yang dikerjakan  di Dartmouth and Medical School telah menghasilkan  pandangan yang perlu diperhatikan terkait dengan daya upaya konsep dan perencanaan renovasi tersebut.
 
Perubahan fisik yang dilakukan di perpustakaan dapat dilihat dengan jelas oleh penggunanya dan memiliki kemampuan untuk mengubah pandangan mereka dari peran tradisional perpustakaan sebagai gudang buku.
 
Disain ulang ini secara menyeluruh  mencerminkan transformasi perpustakaan menjadi pusat sosial untuk belajar, berinovasi dan berjejaring. Akan tetapi perlu diingat bahwa bagi pemustaka, ruangan yang bagus dan nyaman saja belumlah  cukup untuk  menciptakan pengalaman serta pemahaman transformatif. Yang lebih penting lagi adalah terselenggaranya layanan yang dapat menjawab kebutuhan dan berkembang seiring dengan kebutuhan para pemustaka akan pengembangan dan perubahan.
 
Sejak diresmikan, kafe perpustakaan Online yang merupakan bagian dari Cornell telah menjadi tempat populer  bagi komunitas Cornell. Selain kafe ini, inovasi lainnya yang lebih baru lagi adalah Cornell Library Collaborative Learning Computer Laboratory, atau lebih dikenal sebagai CL. Kehadiran laboratorium ini merupakan hasil kerjasama para pemangku kepentingan terdiri dari  Perpustakaan, Fakultas  Teknologi Informasi, Departemen  Ilmu Komputer dan Cornell Information Technology.
 
Hwang dan Karnofsky (2005) mengatakan ?bahwa pembangunan laboratorium ini penting, mengingat bahwa Cornell merupakan salah satu lembaga akademik dunia yang mendirikan laboratorium dengan tujuan utamanya untuk membangun kolaborasi. Laboratorium ini dilengkapi dengan sarana penciptaan kreatif, perangkat keras multi-media dan  perangkat lunak, sementara ruangannya didisain agar fleksibel, dapat diubah sesuai kebutuhan dan dapat digunakan untuk pelbagai fungsi. Tempat ini telah dimanfaatkan untuk penyelenggaraan sejumlah pelatihan intensif dan proyek  atas dasar kolaborasi misalnya disain computer game  dan pengenalan program komputer.
 
Mahasiswa dari berbagai jurusan (keilmuan) melakukan kerjasama dalam menangani sebuah proyek, mereka juga memanfaatkan fasilitas yang tersedia dalam  menciptakan bahan dan presentasi multimedia. Cosgrave mengungkapkan bahwa akan diperlukan waktu yang lebih lama dan analisa yang lebih banyak untuk mengukur pengaruh  keberadaan laboratorium terhadap proses belajar serta inovasi mahasiswa. Data yang dikumpulkan dalam jangka delapan bulan pertama sejak didirikannya laboratorium tersebut mencatat bahwa laboratorium telah dimanfaatkan  oleh  8541 pengguna dan tentu saja angka ini merupakan hal yang menarik karena menguatkan pembuktian gagasan pemanfaatan  perpustakaan sebagai laboratorium.
 
Sedikit berbeda dengan transformasi peran kafe maupun laboratorium yang dapat dilihat secara kasat mata oleh penggunanya,  peranan fasilitas ruang penyimpan koleksi yang terletak diluar kampus ternyata juga  memberikan pengaruh  penting.  Pengembangan fasilitas ini merupakan salah satu karya perencanaan yang dikerjakan dibelakang layar untuk  memungkinkan terciptanya transformasi ruang layanan umum. Cornell mendirikan fasilitas diluar kampus (disebut Annex) untuk pertama kalinya pada tahun  1977 dan sejak awal dirancang sebagai gudang penyimpanan dengan layanan yang minimal. Perkembangan selanjutnya adalah didirikannya  bangunan baru pada tahun 1998 sebagai fasilitas tambahan. Gedung ini dilengkapi dengan ruang baca ditempat, akses internet nir kabel, komputer, printer, mesin fotokopi dan alat baca koleksi dalam bentuk mikro (microfilm, microfiche). Selain itu juga menyimpan 1,8 juta volume koleksi dan diperkirakan akan mencapai 2,8 juta dalam tahun 2007 dan dalam perjalanan waktu telah membuktikan perubahan peran,  yang awalnya sebagai gudang penyimpanan koleksi menjadi pusat layanan yang aktif.
 
Dari catatan diperoleh gambaran bahwa sejak 1998,  sebanyak 160,000 koleksi dipinjamkan dan sejak 2002  telah dilayankan 170,000 konten dalam bentuk PDF bagi komunitas penggunanya. Kesemua ini membuktikan semakin meningkatnya peran fasilitas  bagi sivitas akademisi Cornell dan lainnya. Pada tahun 2005, tiga bangunan penyimpanan ditambahkan agar dapat menampung koleksi tambahan yang diperkirakan berjumlah 4,8 juta. Ini membuka peluang bagi perpustakaan untuk meluncurkan  program kewirausahaan (unit kerja usaha) Langkah-langkah dilakukan oleh perpustakaan adalah mengirimkan koleksi yang tersimpan di kampus ke gedung penyimpanan ini sehingga makin tersedia banyak ruang untuk digunakan pemustaka di kampus pusat. Program selanjutnya adalah meluaskan layanan perpustakaan melampaui batasan perannya yaitu fungsi repositori lintas disiplin yang jelas akan menuntut kerjasama dalam mengembangkan, memiliki, saling berbagi dan melindung karya-karya penelitian.
 
Dengan demikian terjadilah perubahan yaitu konsolidasi bangunan koleksi, gudang penyimpanan, manajemen dan pengiriman yang  secara ekonomis akan lebih menguntungkan. Perkembangn ini mirip dengan konvergensi yang telah umum dipraktekkan di kalangan  pebisnis. Perubahan ini akan membantu perpustakaan-perpustakaan yang terlibat didalamnya agar melakukan penguatan berbagai unit  didalamnya untuk menyelenggarakan peningkatan layanan bagi kelompok penggunanya yang beragam yaitu tersedianya lebih banyak lagi konten penelitian, akses yang lebih cepat, lebih banyak ragam pilihan penyampaian (delivery) dan layanan yang inovatif kedepan.
 
Studi kasus di atas memperlihatkan terjadinya perubahan layanan umum dari peran tradisional menjadi peran yang jauh lebih penting, tidak sekedar sebagai unit penunjang tetapi memiliki kemampuan membentuk proses belajar.
 
3. Menyelaraskan Layanan dengan Kebutuhan
Tim penelitian pemasaran OCLC (OCLC, 2005) melaporkan bahwa ?mahasiswa menempati peringkat tertinggi dalam penggunaan perpustakaan dan mereka paling banyak menggunakan  beragam sumber perpustakaan baik dalam bentuk cetak maupun elektronik?. Carlson mengatakan bahwa pengguna yang merupakan generasi internet adalah ?mereka yang berharap dapat menentukan pilihannya sendiri tentang jenis pendidikan yang akan dibelinya, apa, dimana dan bagaimana mereka akan belajar?. Dalam kehidupannya, kelompok ini dibuat menjadi layanan komersial yang menawarkan kenyamanan seperti Netfix dan pilihan yang  memukau seperti Starbuck dan akibatnya adalah  mereka selalu menuntut harapan tinggi. Mereka ingin tersedianya pilihan. Mereka menginginkan  perpustakaan mampu menawarkan layanan yang memiliki nilai tambah bagi kehidupan mereka yang sibuk. Bagi mereka, layanan yang tidak nyaman, lambat dan suasana yang tidak menyenangkan di perpustakaan merupakan  hambatan yang tidak dapat ditolerir.
 
Untuk menjawab tuntutan ini maka perlu bagi perpustakaan untuk mendisain ulang paket layanan yang diselenggarakan selama ini. Berikut ini adalah contoh layanan yang dapat dipertimbangkan khususnya ditinjau dari aspek kenyamanan.
 
Selama lima tahun terakhir, selain menyediakan komputer desktop, perpustakaan Cornell juga melengkapi layanannya dengan penyediaan komputer jinjing bagi para peminjam  yang tentu saja akan memberikan lebih banyak kenyamanan. Dengan berjalannya waktu semakin banyak pengguna, mahasiswa dan dosen  memiliki  komputer jinjing pribadi.
 
Kondisi ini mendorong perpustakaan untuk menyediakan lemari penyimpan komputer laptop (lockers) dan soket untuk  mengisi daya ulang batere di ruang perpustakaan sehingga pada saat istirahat para pengguna dapat menyimpan dan mengisi ulang batere komputernya.
 
Sejak tahun 2004, perpustakaan Cornell telah menyelenggarakan layanan antar perpustakaan, mengirimkan  dari perpustakaan-ke-perpustakaan bagi pelanggannya. Artinya, perpustakaan memberikan kemudahan bagi pelanggannya  untuk mengambil koleksi yang akan dipinjamnya di lokasi tertentu dan juga mengembalikan di perpustakaan Cornell manapun  sesuai dengan pilihan mereka sendiri. Pada tahun 2005,  dilaksanakanlah program percontohan yang berlangsung selama 3 bulan yaitu pengiriman buku ke kantor fakultas. Pinjaman ini nantinya dapat dikembalikan di setiap perpustakaan sesuai dengan pilihan si peminjam. Baru-baru ini diluncurkan sebuah program baru lainnya yaitu ?peminjaman tanpa batas?, menawarkan  kemudahan bagi para dosen untuk meminjam tanpa batas waktu kecuali ada orang lain yang memerlukannya atau dosen tersebut berhenti dari univesitas secara permanen.
 
Contoh di atas ini menggambarkan bagaimana seharusnya perpustakaan mengantisipasi perubahan yang terjadi disekitranya. Tentu harus diingat bahwa layanan yang diselenggarakan memiliki siklus hidup, maksudnya layanan yang diselenggarakan ini mungkin dalam lima tahun mendatang sudah tidak lagi relevan, karena itu kita perlu selalu mengamati  dan menciptakan ulang bentuk layanan yang lebih tepat.  Fungsi ini penting dilakukan dan  inilah yang disebut   hubungan supply and demand.  Keberhasilan sebuah organisasi akan ditentukan oleh kemampuannya menyediakan secara konsisten kebutuhan pengguna sebagaimana telah ditargetkannya.
 
4. Pengalihan Anggaran Untuk Mendukung Perubahan Peran
Salah satu aspek yang biasanya menghantui perpustakaan adalah masalah keterbatasan dana  dalam rangka  menyeimbangkan antara pilihan untuk menyelenggarakan kebutuhan layanan baru sesuai dengan tuntutan kebutuhan pengguna dan pilihan untuk tetap menjalankan layanan tradisional  yang ternyata cukup banyak.
 
Bila  diamati dengan seksama ternyata muncul peningkatan anggaran yang signifikan dalam  pelaksanaan layanan umum. Salah satu diantaranya adalah layanan satelit (layanan satelit) Analog layanan satelit ini bila ditempatkan dalam konteks perusahaan adalah  fungsi pemasaran. Pemasaran melibatkan kegiatan-kegiatan  untuk  mencocokkan produk-produk yang sesuai dengan kebutuhan klien dan pada akhirnya akan menghasilkan pemasukan yang cukup besar.
 
Ditinjau dalam konteks perpustakaan penelitian, terselenggaranya layanan layanan satelit merupakan  salah satu usaha untuk memahami kebutuhan klien yang muncul (market) dengan tujuan untuk menambah atau mengubah layanan yang telah ada (supply) dengan tujuan memuaskan kebutuhan pengguna. Ukuran keberhasilan disini bukanlah berarti memperoleh keuntungan secara langsung, tetapi  salah satu aspek pengetahuan  pembelajaran yang bila diterjemahkan adalah tentang kemampuan institusi dimasa mendatang. Fokus daya upaya layanan  satelit adalah untuk mencapai kelompok pengguna, menciptakan pencitraan layanan, mengembangkan fondasi pengguna dan  menyelaraskan  atau meningkatkan layanan yang nantinya dapat memberikan pengaruh yang lebih kuat.
 
Dari data statistik yang terbatas diperoleh gambaran bahwa pada tahun 2005/6 dana yang dikeluarkan oleh Cornell Library Public Service Executive Committee untuk menunjang layanan satelit mencapai lebih dari dua kali lipat  dibandingkan dengan tahun  anggaran sebelumnya.
Jenis layanan satelit yang dimaksud ini adalah :
? Menyediakan kios informasi baik untuk mahasiswa baru mapun yang telah lulus
? Menyelenggarakan orientasi tentang perpustakaan untuk staf universitas
? Menjadi tuan rumah penerimaan mahasiswa dan dosen baru
? Menyelenggarakan kegiatan ceramah ilmiah di perpustakaan
? Menjadi tuan rumah penyelenggaraan diskusi dan forum umum lainnya termasuk pameran teknologi.
 
Semua kegiatan tersebut bukanlah sesuatu yang baru bahkan seharusnya lebih banyak lagi jenis kegiatan lain yang dapat dilakukan oleh perpustakaan.  Apabila perpustakaan terus melakukan peran-peran aktif terkait dengan penciptaan pengetahuan belajar, maka layanan satelitpun harus menyesuaikan diri untuk mengikuti perubahan.
 
Dalam praktik kegiatan layanan satelit secara tradisional, biasanya kita akan mengundang pelanggan (customer) datang ke perpustakaan. Pendekatan kini adalah menjadikan perpustakaan bertindak proaktif, mendatangi wilayah pelanggan baik secara fisik maupun elektronik, misalnya penambahan jam layanan di lokasi tertentu sesuai dengan keinginan pengguna, layanan ini menjangkau ruang publik dijital dimana para  pengguna  biasanya berinteraksi secara virtual. 
 
Bila awalnya perpustakaan biasanya menawarkan apa saja yang dapat mereka lakukan,  dengan diterapkannya layanan satelit maka akan beralih menjadi layanan yang memperhatikan bagaimana layanan tersebut akan berpengaruh sehingga si pengguna perpustakaan mampu melakukan  perubahan-perubahan bermanfaat bagi kehidupannya. 
 
Dengan semakin luasnya area yang harus dicakup, tentu saja anggaran penyelenggaraan layanan ini akan semakin membengkak. Pada saat yang bersamaan, layanan satelit mampu memainkan peranan yang lebih penting sebagai konsultan internal bagi perpustakaan. Artinya dapat mengambil peran mirip dengan peran  yang dijalankan  oleh unit intelejen perusahaan yang inovatif. Unit ini berhubungan langsung dengan para pelanggan dan memiliki posisi yang unik karena secara langsung dapat menghimpun informasi yang terkait pemasaran  dan diperoleh langsung dari lapangan.
Melalui hubungan interaksi yang dilakukan oleh layanan satelit, maka perpustakaan dapat memanfaatkan data tersebut untuk memvalidasi asumsi atau sebaliknya untuk mewujudkan pengembangan layanan.
 
Bila digabungkan dengan data mining dan analisis, maka layanan satelit akan memiliki fungsi yang paling berpengaruh dalam  pengambilan keputusan di perpustakaan.
 
Perubahan layanan perpustakaan lain yang dapat diamati adalah peningkatan signifikan pada anggaran perlengkapan di divisi layanan umum. Alasan utamanya peningkatan ini adalah sedemikian cepatnya   perubahan daftar perlengkapan  dan juga semakin pendeknya jangka keluarnya perlengkapan dengan versi baru. Tampaknya perpustakaan secara konstan meninjau ulang serta  melakukan investasi perlengkapan  dari generasi terbaru.
 
Walaupun data berikut tidak komprehensif, tetapi dari pengamatan penulis selama 12 bulan terakhir, dapat diketahui penggunaan  anggaran perpustakaan untuk perlengkapan berikut ini :
? Laptop (komputer jinjing) dilengkapi dengan perangkat lunak untuk disain
? Alat pemindai dengan kualitas grafis yang tersambung dalam jaringan
? Kamera dijital dengan resolusi tinggi
? Alat pemindai ukuran besar
? Color printer
? Plotter  untuk peta
? Proyektor resolusi tinggi
? Kamera dijital
? Kamera video dijital.
? Multi-region VCD/DVD player.
Semua peralatan tersebut dimanfaatkan untuk keperluan umum. masing-masing alat akan membantu proses pengajaran, belajar maupun penelitian  secara multi dimensi maupun multi media.Meskipun pendek, daftar ini mencerminkan jangkauan frekwensi layanan umum perpustakaan pada abad dijital dan memperlihatkan jalan panjang yang harus ditempuh oleh perpustakaan untuk bertransformasi.  Hal ini juga memperlihatkan adanya peluang bagi perpustakaan yang akan tetap dibutuhkan untuk menunjang belajar dan inovasi.
 
5. Pengembangan Sumber Daya ManusiaYang Berkualitas Untuk Masa Kini dan Mendatang 
Tantangan lain yang tidak kalah pentingnya bagi perpustakaan dalam proses transformasi adalah pengembangan kemampuan sumber daya manusianya  agar berhasil meraih kesuksesan. Tantangan ini tidak kalah pentingnya dengan sektor anggaran. Tuntutan untuk meningkatkan kemampuan di perpustakaan ini dapat dicapai melalui pelatihan dan rikrutmen. Daftar kemampuan berikut ini penting bagi divisi layanan umum. Walaupun bukan  berarti bahwa  staf perpustakaan belum memilikinya, akan tetapi kemampuan yang dimiliki saat ini harus ditingkatkan agar ke depannya perpustakaan dapat menempati posisi yang lebih baik. Kemampuan tersebut adalah :
 
Layanan satelit /  Pemasaran
Walaupun layanan umum perpustakaan telah banyak melakukan pekerjaan yang kreatif dan substantial dalam layanan satelit, tetapi masih perlu penguatan dalam kegiatan pemasarannya. Persepsi tentang perpustakaan dan layanannya dikemukakan komprehensif dalam laporan OCLC.
Layanan yang dimaksudkan disini umumnya adalah layanan yang diselenggarakan oleh divisi layanan umum. Mereka yang memiliki kemampuan marketing dapat memanfaatkan hasil temuan tersebut dan membandingkan serta menghubungkannya dengan data lokal. Mereka juga akan mampu mengerjakan promosi jasa perpustakaan secara selektif ditujukan bagi segmen pengguna sesuai dengan target yang telah ditentukan untuk mengubah persepsi tentang perpustakaan, membangun kepercayaan  dan pencitraan perpustakaan dengan efektif.  Layanan satelit merupakan salah satu sarana yang paling  berpengaruh untuk melakukan promosi   perpustakaan dan sekaligus  juga berfungsi sebagai sarana untuk mengetahui produk yang dihasilkan oleh entitas non perpustakaan. Informasi serupa ini sangat bermanfaat bagi perpustakaan untuk pengambilan keputusan dalam investasi.
 
Data mining and analysis
Biasanya divisi layanan umum berinteraksi  langsung dengan pengguna.
Dengan semakin meningkatnya penggunaan sistem berbasis komputer akan memudahkan pengumpulan data. Salah satu topik atau pekerjaan populer di kalangan perpustakaan  adalah melakukan evaluasi (kajian) dan kini makin banyak data yang harus diolah dan ketersediaan alat untuk mengumpulkan/mengolah data pun semakin banyak. Pustakawan dituntut untuk mengembangkan kemampuannya terkait dengan penanganan data mining and analysis untuk mengetahui  perubahan yang terjadi pada perilaku pencarian informasi, korelasi serta sebab dan akibatnya. 
Data mining and analysis merupakan salah satu fungsi yang amat penting bagi keberhasilan industri jasa di abad informasi ini dan tentu saja tidak terkecuali bagi perpustakaan.  Perpustakaan memerlukan keahlian yang tinggi dalam bidang tersebut, membentuk sebuah tim yang melakukan peran penelitian dan pengembangan, sejajar dengan organisasi yang paling inovatif. Tim ini akan mengikuti tren dan pola yang berkembang, menciptakan  indikator untuk mengukur impak dan mengarahkan pengembangan layanan perpustakaan.
 
Kewirausahaan
Dengan memiliki data pemasaran, langkah selanjutnya adalah mentransformasikan temuan-temuan tersebut menjadikan peluang. Bagi divisi layanan umum sebuah perpustakaan,  melakukan beberapa perubahan layanan atau menjalankan proyek baru secara bersamaan adalah hal yang biasa. Akan tetapi permasalahan yang dihadapi adalah dengan keterbatasan anggaran sementara tuntutan persaingan yang semakin meningkat. Dengan kondisi serupa ini,  perpustakaan akan memperoleh keuntungan apabila memiliki kemampuan atau kompetensi kewirausahaan (entrepreneurship). Kompetensi yang dimaksud disini termasuk  menciptakan model bisnis, melakukan analisa keuangan, perencanaan program serta melaksanakannya, melakukan negosiasi dan menetapkan keputusan yang mengandung risiko.
 
Perkembangan jasa layanan baru  yang dihadapi oleh perpustakaan demikian cepat dan seperti tiada akhirnya. Pembuatan  sebuah model bisnis yang ketat, akan membantu perpustakaan membaca potensi sebuah proyek dan juga menghitung risiko yang mungkin akan dihadapi, menentukan  prioritas dan anggaran kegiatan. Segala daya upaya ini akan membantu perpustakaan untuk mengembangkan exit strategies secara sistimatis untuk menyelamatkan sumberdayanya yang terbatas.
 
Teknologi
Staf perpustakaan yang bertugas di bagian layanan umum memiliki kemampuan baik tentang koleksi dan bahkan kadang-kadang mereka memahami konten kurikulum. Dengan demikian mereka adalah sumber daya yang amat istimewa untuk penelitian yang mendalam. Semua ini dapat lebih ditingkatkan atau diberdayakan dengan menempatkan staf yang memiliki kemampuan teknologi canggih. Dua alasan mengapa hal ini penting dilakukan . Pertama, bagi  para pengguna perpustakaan (customer) saat ini, cara/moda memperoleh informasi yang dibutuhkan sama pentingnya dengan kualitas konten itu sendiri. Para pengguna tersebut umumnya memiliki beragam perangkat elektronik pribadi dan bahkan mereka lebih sering mengurungkan keinginannya  untuk memperoleh konten yang berkualitas dan sebagi gantinya lebih memilih kenyamanan dalam cara mendapatkan konten tersebut.
 
Staf divisi layanan umum yang menguasai teknologi dapat memperoleh data langsung dari sumbernya untuk menjadikannya layanan berbasis teknologi. Disamping itu, teknologi juga memberikan penghematan yang cukup signifikan bagi sumber daya; misalnya penelitian rujukan yang bernilai dan dilakukan dengan segala daya upaya dan seringkali hanya bermanfaat bagi satu atau dua pelanggan bila dilakukan secara tatap muka, padahal, melalui teknologi baru seperti Wiki, akan mampu menjangkau jauh lebih banyak orang. Artinya hasil penelitian tadi akan lebih bermanfaat bagi kelompok pelanggan dalam jumlah yang lebih besar.
 
Logistik Pengawasan Operasional
Sebuah artikel yang cukup kontroversial ditulis oleh Esposito (2006) menggunakan Wal-mart sebagai metaphor untuk pengamatan sebuah  proses skala besar. Menurutnya,  ?Apabila Wal-Mart menjalankan atau mengelola sebuah perpustakaan maka jumlah perpustakaan akan lebih sedikit tetapi perpustakaan tersebut akan jauh lebih besar. Wal-Mart akan mempelajari  keseluruhan rantai pengadaan (supply) , mulai dari pengarang sampai jalur yang harus dilalui untuk sampai kepada pembaca atau pengguna perpustakaan untuk mengeluarkan ketidak-efisiensian.
 
Bila dimungkinkan, solusinya yang dipilih  adalah pemanfaatan  teknologi informasi dan bukan  dengan penggunaan  tenaga kerja dari negara maju  yang tentu tinggi biayanya. Ciri khas dari perpustakaan Wall-Mart adalah kemampuannya untuk melakukan penghematan yang diperoleh dengan langkah-langkah konfigurasi ulang rantai pengadaan bukan dengan menetapkan harga terendah, akan tetapi menciptakan suatu kondisi sedemikian rupa sehingga beban biaya  dialihkan kepada para pengguna perpustakaan dalam berbagai bentuk. Perdebatan tentang strategi bisnis Wall-marts berlangsung, perusahaan tersebut mengelola rantai pengadaan/logistic nyaris sempurna. Pelanggan saat ini lebih menghargai kenyamanan dan kecepatan artinya divisi layanan umum dapat memperoleh keuntungan cukup besar dari keahlian mengawasi logistik dan operasional. Keahlian ini akan membawa perpustakaan menjadi lebih baik dalam keputusan pengaturan alur kerja dan pengawasan berkualitas. Penghematan yang diperoleh melalui penghapusan ketidakefisienan serta duplikasi akan mendorong perpustakaan untuk menciptakan layanan baru.
 
Pemahaman tentang aspek hukum
Pada umumnya staf yang bertugas di layanan umum memahami masalah hak cipta. Dengan semakin meningkatnya aggregated konten  perpustakaan yang dilayankan dalam bentuk digital dan layanan yang berbasis teknologi, juga perubahan peran perpustakaan menjadi produser dan kolaborator  pendidikan dan inovasi artinya kemampuan staf  untuk menguasai lebih banyak lagi pengetahuan yang berkaitan dengan aspek hukum akan dibutuhkan untuk  penanganan manajemen hak cipta dan disain layanan.   Keambiguan peristilahan dalam bidang hukum dan potensi bercabangnya layanan yang ditawarkan memungkinkan dikelola dengan lebih baik  bila staf memiliki pemahaman dan pengetahuan dalam bidang hukum yang lebih  dalam.
 
Pelatihan  dan Perekrutan
Tentu tidak perlu diungkapkan bahwa kompetensi di atas hanya dapat diperoleh apabila lembaga perpustakaan memiliki unit sumberdaya manusia yang kuat. Pelatihan dan  perekrutan   membentuk staf yang memiliki kemampuan untuk mewujdjan cetak biru layanan perpustakaan menjadi kenyataan. Seiring dengan berkembangnya  perpustakaan  menjadi  sebuah lembaga yang multi faset dan  tenggelam dalam proses pendidikan, maka kebutuhan akan kompetensi  dari bidang non-tradisional yang selama ini  tidak diperhatikan oleh perpustakaan semakin bertambah. Strategi perekrutan staf dengan tuntutan  mereka memiliki kemampuan pemasaran jasa yang kuat merupakan  tambahan yang amat bernilai bagi perpustakaan.
 
6. Kesimpulan
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, kedepan perpustakaan akan melalukan transformasi ruang buku menjadi ruang manusia.Keberadaan teknologi akan mendorong akses dan diseminasi konten. Akan terus terjadi perubahan yang sedemikian banyaknya sama halnya dengan perubahan  yang telah terjadi dan ini akan berlangsung dengan cepat dan tanpa dapat diprediksi.
Di abad ini dimana informasi yang melimpah ruah, maka strategi paling tepat bagi perpustakaan adalah memahami usaha (ruang lingkup kerjanya), pangsa pasar dan kekuatan lembaganya. 
 
References
Bennett, S. (2005), ?Righting the balance?, Library as Place. Rethinking Roles, Rethinking Space, CLIR, Washington, DC.
 
Carlson, S. (2005), ?The net generation goes to college?, The Chronicle of Higher Education, 7 October, available at: http://chronicle.com/free/v52/i07/07a03401.htm
Cosgrave, T. (2005), ?Collaborative learning, multimedia development, flexibility?, available at http://labmanconference.org/presenters.html
De Rosa, C., Dempsey, L. and Wilson, A. (Eds) (2004), The 2003 OCLC Environmental Scan. Pattern Recognition, OCLC, Dublin, OH.
Esposito, J. (2006), ?What if Wal-mart ran a library??,Journal ofElectronic Publishing, Vol. 9 No.1, available at www.hti.umich.edu/cgi/t/text/text-idx?c=jep;view=text;rgn=main;idno= 3336451.0009.104
Freeman, G.T. (2005), ?The library as place: changes in learning patterns, collections, technology, and use?, Library as Place. Rethinking Roles, Rethinking Space, CLIR, Washington, DC.
Hwang, S. and Karnofsky, P. (2005), ?Defining, measuring, and improving collaboration through evaluating the Cornell Library collaborative learning computer laboratory? (unpublished Cornell class report).
Lougee, W.P. (2002), ?Diffuse libraries: emergent roles for the research library in the digital age?, available at www.clir.org/pubs/reports/pub108/contents.ht