Pertambahan Pesat Populasi Pribumi Digital Indonesia dan Implikasinya Terhadap Kepustakawanan Pendatang Digital

Pengantar
Mulanya,  adalah Marc Prensky  pada tahun 2001 yang memperkenalkan istilah “digital natives” dan “digital immigrants”. Menurutnya, “digital natives” atau “pribumi digital” adalah orang yang lahir ke dunia yang sudah sarat dengan teknologi digital dan — sebab itu– mereka sangat fasih menggunakan teknologi tersebut.  Sedangkan “digital immigrants” atau “pendatang digital” adalah orang yang lahir ke dunia yang masih analog tetapi kemudian tumbuh dalam  lingkungan yang digital. Ibarat imigran yang harus menyesuaikan diri dengan budaya berbeda di negara barunya, pendatang digital harus menyesuaikan diri dengan budaya berbeda para pribumi digital.

Akan tetapi imigran akan tetap imigran, menurut Prensky. Mereka mungkin bisa lancar berbahasa pribumi tetapi logat aslinya tetap melekat. Mereka mungkin bisa mengadaptasi budaya dan adat-istiadat pribumi  dalam kehidupan sosial, tetapi zona nyaman mereka tetaplah analog.  Mereka mungkin bisa bekerja sebaik pribumi, tetapi dengan pola pikir dan nilai-nilai bawaan dari dunia asal. Pendatang digital tidak akan bisa benar-benar seperti pribumi digital dan merasa nyaman dalam dunia digital. Mereka tidak akan bisa melepaskan semua  kebiasaan, nilai-nilai, dan pola pikir  bentukan dunia analog.  Para guru pendatang digital misalnya. Mereka membawa didaktika era analog ke dalam kelas bermurid pribumi digital. Zona nyaman para guru tersebut adalah zona analog. Zona nyaman para muridnya, zona digital. Sistem pengajaran yang dibangun berdasarkan paradigma-paradigma analog diterapkan pada murid-murid berparadigma digital. Perbedaan paradigma dalam kegiatan belajar-mengajar ini ditengarai menajadi penyebab menurunnya kualitas pendidikan di Amerika Serikat (Prensky, part 1).

Menurut Toledo,  pribumi digital adalah para pengguna teknologi digital berusia 30 tahun atau kurang. Sedangkan  pendatang digital adalah pengguna teknologi digital berusia 30 tahun atau lebih (Toledo, 2007). Cara ini didasari anggapan bahwa orang yang lahir 30 tahun lalu atau sesudahnya, lahir ke dunia di mana teknologi digital sudah merupakan bagian hidup masyarakat banyak. Sebaliknya, orang yang lahir lebih dari 30 tahun lalu lahir ke dunia di mana teknologi digital  belum merasuki sendi-sendi kehidupan masyarakat. Jika dihitung 30 tahun sebelum tahun 2005 ketika cara pembedaan di atas dipublikasikan, maka pendatang digital adalah mereka yang lahir sebelum 1975.  Sedangkan mereka yang lahir sesudahnya adalah pribumi digital.  Sedangkan  Palfrey & Gasser  menyebut 1980  sebagai tahun pemisah pribumi digital dari pendatang digital.

Namun harus diingat bahwa menetapkan suatu tahun sebagai awal kelahiran populasi pribumi digital seperti di atas tidak berlaku umum untuk semua negara. Penetrasi teknologi digital dalam masyarakat tidak terjadi pada tahun yang sama di semua bagian dunia. Umumnya, teknologi digital lebih dulu terjadi di negara-negara maju dari pada di negera-negara berkembang. Penetrasi teknologi digital lebih dulu terjadi di Amerika Serikat dari pada di Indonesia.  Selain itu, harus disadari bahwa seseorang tidak serta- merta menjadi pribumi digital hanya karena ia lahir di Amerika  sesudah tahun 1975. Sebaliknya, seseorang tidak serta-merta adalah pendatang digital hanya karena ia lahir tahun 1975 atau sebelumnya (Slyke).

Lebih lengkap dari Toledo,  Wikipedia menyebut  pribumi digital  adalah  orang yang (a) lahir pada masa teknologi digital diperkenalkan, atau sesudahnya;(b) sering berinteraksi dengan teknologi tersebut sejak usia dini; dan (sebab itu)  mempunyai pemahaman yang baik tentang  konsep-konsep teknologi digital. Sedangkan pendatang digital adalah orang yang lahir sebelum teknologi digital luas dipakai. Mereka mempelajari teknologi itu dan mengadopsinya hingga tingkat tertentu belakangan dalam kehidupan Mereka.
  
Dengan menggabungkan kedua pendefinisian di atas, kita membuat pendefinisian yang akan digunakan dalam pembahasan selanjutnya. Pribumi digital adalah anggota masyarakat yang  (a) lahir ketika teknologi digital sudah merupakan bagian dari kehidupan masyarakat tersebut; (b) sering menggunakan teknologi digital dalam banyak aspek  kehidupan mereka, dan karenanya (c) fasih-nyaman dalam menggunakan teknologi digital. 

Untuk menetapkan kapan populasi pertama pribumi digital lahir di Indonesia, kita perlu terlebih dulu membahas kapan teknologi digital mulai luas digunakan di negeri ini.

Teknologi digital
Yang dimaksud dengan teknologi digital adalah semua teknologi berbasis  binary digit. Yaitu teknologi yang menggunakan nilai digit nol dan satu untuk menghadirkan sinyal atau informasi seperti pada televisi digital misalnya.  Juga pada video game,  kamera video, pemutar musik, telepon seluler, dan komputer. Internet  jelas adalah teknologi digital. Secara umum, “digital” mengacu kepada teknologi yang melibatkan, atau berkaitan dengan, teknologi komputer. Prevalensi pemakaian teknologi-teknologi digital dalam suatu negeri menjadi salah satu pertimbangan  untuk menentukan tahun kelahiran populasi pribumi digital pertama negeri tersebut. Syarat lainnya adalah,  teknologi dimaksud  telah merasuki kehidupan khalayak banyak dan digunakan secara interaktif  antara pemakai yang satu dengan yang lain.

Prevalensi pemanfaatan teknologi digital yang interaktif ini menjadi prasyarat terbentuknya budaya baru yang menjadi penanda pribumi digital. Budaya adalah hasil interaksi antarmanusia. Pribumi digital sebagai suatu kelompok dengan budaya tersendiri adalah hasil interaksi antarpemakai teknologi digital. Dengan demikian,  “interaksi”  menjadi prasyarat penting bagi pembentukan pribumi digital. Gadget-gadget digital seperti kamera digital, pemutar musik digital, dan e-reader  secara independen tidak menciptakan budaya  baru yang menjadi pembeda pribumi digital dari yang bukan. Benda-benda itu hanya menjadi bagian dari pembentukan  pribumi digital sebagai suatu budaya karena ada interaksi antarpemakainya. Interaksi  tersebut  menggunakan wadah digital bernama Internet. Internet menjadi sarana  sentral dalam pembentukan populasi pribumi digital. Dengan demikian, prevalensi pemakaian Internet (Internet penetration) menjadi indikator utama dalam menetapkan tahun permulaan lahirnya populasi pribumi digital, di negaeri lain dan di Indonesia.

Internet di Indonesia
Pada tahun 1986-1987, beberapa anggota komunitas radio amatir di Indonesia berhasil mengkaitkan  jaringan amatir Bulletin Board System  (BBS)  yang merupakan jaringan “e-mail store and foreward”  agar hubungan e-mail antara server-server BBS amatir seluruh dunia  dapat berjalan lancar. (Purbo). Hal ini dapat dianggap sebagai permulaan penetrasi Internet di Indonesia, tetapi belum bisa dijadikan dasar untuk menetapkan tahun kelahiran populasi pribumi digital di negeri ini.  Karena penggunaan Internet kala itu sebagian besar adalah juga penggagasnya. Sebagian lagi adalah anggota komunitas penggagas. Jumlah pengguna Internet kala itu sangat kecil dan terbatas pada komunitas khusus. Fungsinya pun terbatas pada e-mail.  

Jumlah pemakai Internet di Indonesia mulai tumbuh setelah berdirinya Internet Service Provider (ISP) komersial pertama Indonesia, Indonet, pada tahun 1994. Indonet membuka peluang bagi masyarakat umum untuk tersambung ke Internet. Akses ke Internet  dengan demikian tidak lagi terbatas pada komunitas khusus.

Seperti tampak pada grafik, jumlah pengguna  Internet di Indonesia mulai tumbuh tahun 1995 (0,03% dari total penduduk) mengikuti kelahiran Indonet. Jumlah tersebut terus meningkat menjadi 0.05% pada 1996 mengikuti kelahiran Ipteknet pada tahun sebelumnya. .Pada tahun 2006, jumlah pengguna Internet di Indonesia sudah mencapai angka 4,6% dan berlipat hampir dua kali pada tahun 2009 menjadi 8.4%.

Pengguna Internet dalam persentase jumlah penduduk, Indonesia
Sumber: World Bank, World Bank Development Indicators
[http://www.google.co.id/publicdata/explore?ds=d5bncppjof8f9_&met_y=it_net_user_p2&idim=country:IDN&dl=en&hl=en&q=internet+users+indonesia]

Menurut Boston Consulting Group,  pada 2011 jumlah pengguna Internet di Indonesia secara keseluruhan adalah 12 % dari jumlah penduduk,  7 % di antaranya mengakses Internet menggunakan ponsel cerdas. Jumlah tersebut akan meningkat tiga kali lipat pada tahun 2015. Peningkatan ini tidak hanya ditopang oleh  peningkatan jumlah pemakai komputer yang tersambung ke Internet, tetapi terutama dipicu oleh peningkatan jumlah pemakai telepon seluler yang mengadopsi teknologi 3G.  Sedangkan menurut Antara.com mengutip sumber pemerintah,  pengguna Internet di Indonesia hingga akhir 2011 mencapai 48 juta orang dan diprediksi pada 2015 akan mencapai 100 juta orang.

Selain jumlah pengguna yang meningkat pesat,  fungsi Internet juga meluas melebihi sekedar fungsi surat elektronik. Situs web pribadi bermunculan mengikuti kemudahan hosting dan pembuatan home page. Menyusul kemudian blogs, Face Book, dan media sosial lain yang memungkinkan interaksi audi-visual antarpenggunnya. Skype memudahkan interaksi audio-visual mereka secara real time.  Semua itu menjadi sarana terbentuknya populasi pribumi digital dengan banyak julukan:“N-geners,” “Webheads,” “Keyboard Kids,” “CyberChildren,” dan “the MySpace Generation.” Atau barangkali remajadotcom, fesbukers, generasi warnet kalau di Indonesia. Mereka memimpin perjalanan memasuki teritori dunia maya yang tak berbatas, dengan penuh gairah merangkul Internet tetapi dan produk-produk digital dari video game hingga ponsel hingga Ipod (Montgomery). Mereka hidup dengan Internet dan gadget-gadget  digital.

Berdasarkan paparan di atas dapat dikatakan bahwa 1995 adalah tahun permulaan tumbuhnya jumlah pengguna Internet di Indonesia. Mereka menggunakan Internet untuk bermacam tujuan. Untuk berkirim surat elektronik, untuk belajar, untuk bekerja, untuk bersantai, untuk bermain game, untuk pertemanan, dan untuk tujuan-tujuan lain. Dalam diri mereka kemudian tumbuh kebiasaan bentukan teknologi digital. Kebiasaan-kebiasaan baru  yang berbeda dari kebiasaan-kebiasaan orang tua, paman dan tante mereka yang lahir dalam era analog. Mereka adalah pribumi digital Indonesia, secara teori lahir pada atau sebelum 1995 dan sangat fasih dan kerap memanfaatkan berbagai teknologi digital. Pendahulu mereka adalah populasi yang lahir  sebelum tahun 1995, yang sebagian di antaranya berupaya mengadopsi teknologi digital dan sebagian lagi tetap berada dalam alam analog. 
 
Pendatang Digital  Vs. Pribumi Digital
Tentu naif jika kita beranggapan semua manusia bisa dimasukkan ke dalam dua kelompok: kalau bukan pribumi digital, ya  pendatang digital. Pemilahan pribumi digital dan pendatang digital oleh Prenski sendiri mendapat banyak reaksi pro dan kontra.

Lebih jauh lagi, pemilahan manusia ke dalam kelompok  pendatang digital dan pribumi digital berdasarkan tahun kelahiran mereka bukanlah pemilahan yang sempurna. Bahkan bisa berbahaya (Bayne dan Ross).

Seseorang tidak serta-merta menjadi pribumi digital hanya karena ia lahir ke dalam dunia digital. Sebaliknya, seseorang yang lahir ke dunia yang analog tidak serta-merta menjadi pendatang digital (VanSlyke). Kemauan, kemampuan, dan ketersediaan teknologi digital  menjadi faktor pendukung seseorang menjadi pribumi digital atau tidak (digital devide).

Maka dari itu, pemakaian istilah “populasi” di sini lebih tepat daripada “generasi”.   “Generasi” lebih mengacu kepada kesamaan periode kelahiran (seperti “baby boomers”) sedangkan “populasi” mengandung makna  kuantitatif suatu kelompok dengan kesamaan karakteristik.

Prensky, seperti sudah disinggung, mengibaratkan pendatang digital sebagai imigran yang harus belajar menguasai bahasa negeri barunya. Mereka mungkin saja akan menjadi penutur lancar bahasa tersebut.

Tetapi sebagai pendatang mereka tidak akan bisa membebaskan diri dari logat bahasa ibu mereka. Mereka hanya akan menjadi penutur bahasa pribumi digital berlogat analog.

Dan ini menurut Prensky mengindikasikan  pendatang digital tidak akan bisa sama fasihnya dengan pribumi digital dalam menggunakan teknologi digital.

Analogi ini  kurang tepat. Kurang tepat karena efektifitas penuturan bahasa dalam komunikasi tidak secara signifikan tergantung pada logat. Lagi pula tidak sedikit penutur bahasa asing yang sefasih dan selogat menutur bahasa ibu (VanSlyke).

Lagi pula,  kalaupun pendatang digital berbahasa analog dan pribumi digital berbahasa digital, pendatang digital tidak harus mempunyai logat yang sama dengan logat pribumi digital supaya mereka menjadi bagian dari, dan menjalani kehidupan digital sesukses pribumi digital.

Terlepas dari pro-kontra tentang pembedaan pendatang digital dari pribumi digital pada tataran konsep dan teori, Prensky pada tataran praktis telah medatangkan kesadaran akan perlunya mengidentifikasi perubahan yang terjadi akibat sebaran luas teknologi digital dalam masayarakat.

Sebaran itu telah membentuk budaya atau kebiasaan baru  yang berbeda dari budaya ataupun kebiasaan pendatang digital. Bahkan fisiologi otak pribumi digitalpun berkembang menjadi berbeda dari fisiologi otak pendatang digital.

Riset terbaru dalam bidang neurobiologi menunjukkan bahwa struktur otak berkembang menurut jenis stimulan yang diterimanya. Perubahan itu berlangsung seumur hidup. 

Otak dapat, dan secara  terus-terusan berubah sesuai dengan input yang diterimanya—sebuah fenomena yang disebut neuroplasticity (Prensky, II). 

Tentang perbedaan antara pendatang digital dan pribumi digital Toledo mengkontraskan  kecenderungan-kecenderungan antara guru-guru  dan murid-murid mereka.

Para guru mewakili populasi pendatang digital sedangkan para murid mewakili populasi pribumi digital.

Kesimpulannya adalah, kebiasaan dan cara  mengajar guru-guru pendatang digital  tidak klop dengan kebiasaan dan cara belajar murid-murid  pribumi digital (Toledo).

Sifat atau kecenderungan yang kontradktif antara  pendatang digital (guru) dan priumi digital (murid) diduga kuat telah merosotkan mutu pendidikan.

Selain cara mengajar yang tidak klop, cara belajar para guru juga masih bercirikan pendatang digital. Meski tampaknya mereka mempelajari teknologi digital  dengan cara belajar pribumi digital,  pada hakekatnya mereka menerapkan pendekatan analog.

Hasil sebuah penelitian menunjukkan bahwa para guru pendatang digital berkecenderungan belajar sambil praktek dan bereksperimen dengan teknologi digital  dalam lingkungan sosial yang  kolaboratif dan interaktif. Bukan dalam isolasi individual.

Bedanya adalah, para guru itu belajar secara interaktif dan kolaboratif  dalam suasana kopi darat. Tidak melalui jaringan (Internet) sebagaimana para pribumi digital.  Lebih jauh penelitian tersebut menemukan bahwa pendatang digital (guru-guru tadi), seperti umumnya para imigran,  mempelajari teknologi digital demi kelangsungan hidup mereka di lingkungan yang baru. Lingkungan digital (Senjov-Makohon).

Pribumi digital terlahir digital. Mereka tumbuh dalam lingkungan digital. Dalam diri mereka tumbuh sifat-sifat dan kecenderungan yang kompatibel dengan teknologi digital, seperti misalnya multi-tasking. Mereka cenderung belajar kelompok dalam jejaring. Mereka cenderung memanfaatkan bermacam media audio video dan gambar selain teks sebagai sumber informasi mengenai hal yang sama. Cara membaca mereka cenderung tidak linear melainkan  meloncat-loncat hilir-mudik mengikuti hyper link pada basis bacaan. Mereka berkecenderungan belajar dalam kelompok, tersambung satu dengan yang lain melalui  Internet.

Perbedaan sifat antara para pribumi digital dan pendatang digital tidak sebatas peri-laku dalam pencarian dan pemanfaatan informasi seperti alinea di atas.

Kemudahan menyebarkan informasi secara cepat dan luas melalui Internet, digabung dengan rangsangan  kreativitas oleh jejaring tersebut, telah menjadikan para pribumi digital kurang perduli terhadap hak atas kekayaan intelektual.

Bagi mereka,  berbagi informasi adalah semata-mata kebajikan dan mengunduh lagu dari Internet adalah semata-mata keberuntungan yang tidak perlu memperdulikan aspek hak cipta. Pembajakan karya yang oleh pendatang digital dihindari, atau “terpaksa dilakukan” dengan sembunyi-sembunyi, bagi pribumi digital hanyalah  keniscayaan.

Sementara itu, kemudahan berkreasi dan menyebarkan hasilnya melalui Internet telah menumbuhkan sifat “menggampangkan” kreativitas itu sendiri. Kendali mutu melalui prosedur yang dianggap baku oleh pendatang digital dianggap hanya pemborosan waktu oleh pribumi digital (Palfrey & Gasser).

Bagi pendatang digital, waktu (tidak) kalah penting daripada mutu. Sebagai akibat lanjutannya,  mendapatkan informasi dengan segera tidak lebih buruk daripada mendapatkan informasi yang otoritatif  tidak dengan seketika.

Itulah sebagian karakteristik pribumi digital, yang merupakan kontradiksi karakteristik pendatang digital. Kontradiksi tersebut menunjukkan adanya ketidakcocokan antara pribumi digital dan pendatang digital dalam banyak hal, termasuk dalam hal kebiasan pencarian dan pemanfaatan informasi.

Petunjuk ini mengimplikasikan perlunya pustakawan pendatang digital menyesuaikan kepustakawanannya dengan  karakteristik pemustaka maupun pustakawan dari kalangan pribumi digital. 
 
Implikasi
Sebagian besar pustakawan Indonesia saat ini adalah pendatang digital, sebagian kecil pribumi digital. Sedangkan pemustaka Indonesia, sebagian sudah pribumi digital dan sebagian lagi masih pendatang digital. Fakta ini membawa dua implikasi.

Pertama, adanya kemungkinan kesenjangan paradigma  yang berpotensi konflik manajerial antara  pustakawan senior yang terbilang pendatang digital dengan pustakawan junior yang terbilang pribumi digital. 

Kedua,  adanya kesenjangan antara kepustakawanan berbasis analog dengan pemustaka  pribumi digital dengan segala kecenderungannya dalam hal pencarian dan penggunaan informasi.

Implikasi pertama, kesenjangan paradigma antara sesama pustakawani dari populasi yang berbeda (pendatang dan pribumi),  adalah internal sifatnya. Konflik yang mungkin timbul dari kesenjangan paradigma itu akan berakibat buruk terhadap unjuk-kerja perpustakaan yang mengalaminya.

Untuk mencegah hal itu tidak sampai terjadi, pustakawan dari populasi pendatang digital harus memahami sifat-sifat pustakawan dari populasi pribumi digital untuk kemudian menekan sifat-sifat yang berdampak negatif dan merangsang sifat-sifat yang berdampak positif terhadap kepustakawanan.

Dari sejumlah sifat-sifat pribumi digital uraian Palfrey & Gasser, sifat-sifat  yang paling berimplikasi terhadap kepustakawanan menurut saya adalah masalah penyamaran identitas (dalam dunia maya),  keamanan (informasi), masalah  privacy, plagiarism, sifat-sifat  innovator, agressor, dan  activist, selain masalah mutu dan pembajakan yang sudah disebutkan.

Sebaliknya, pustakawan dari populasi pribumi digital perlu memahami pustakawan dari populasi pendatang digital. Pribumi digital memiliki kecakapan digital sedangkan pendatang digital memiliki kebijaksanaan layanan informasi (information service wisdom) yang menghasilkan visi yang lebih luas, jauh, dan holistik tentang  pengembangan layanan perpustakaan.

Menggabungkan kecakapan digital dengan informataion service wisdom  akan menciptakan kepustakawanan transisional (transtitional librarianship) yang tepat arah. Yakni kepustakawanan yang tidak mendadak meninggalkan pemustaka dari populasi pendatang digital ketika mulai merangkul pemustaka dari populasi pribumi digital.

Hal ini merupakan beban tambahan bagi kepustakawanan dewasa ini. Pada satu sisi pustakawan masih harus memelihara dan menerapkan paradigma analog, dan pada lain sisi sudah mulai menerapkan paradigma digital.

Hanya melalui sinergi antara kepustakawan analog dan kepustakawanan digital beban tambahan tadi dapat diangkut, dengan menempatkan pustakawan pendatang digital sebagai  penunjuk arah dan tujuan pengembangan sedangkan pustakawan pribumi digital sebagai pendukung untuk mencapai tujuan.

Implikasi kedua menyangkut masalah kecocokan antara digitalisasi yang  dilakukan perpustakaan dengan digitalisasi yang sesuai dengan peri-laku pencarian dan penggunaan informasi oleh pribumi digital. Kepustakawanan pada umumnya belum merangkul pribumi digital. Belum secara mendalam mengadaptasi budaya pribumi digital.

Persepsi kita (pendatang digital) tentang perpustakaan yang baik, pengetahuan kita tentang manajemen perpustakaan dan manajemen pustakawan yang efektif dan efisien, sistem pelayanan pemustaka yang kita gunakan, serta standar unjuk-kerja (performance standard – lebih dari sekedar  job description) kita semua merupakan satu bangunan berpondasikan sumber-sumber informasi cetak (analog).

Penghuni bangunan itu adalah para pustakawan pendatang digital. Mereka bekerja dalam perpustakaan yang mungkin sudah  melakukan digitalisasi untuk melayani pemustaka pribumi digital. Tapi mereka melakukannya masih dengan pola-pikir bawaan dari masa analog.

Mereka memang berupaya beradaptasi dengan lingkungan yang berubah. Mereka belajar melakukan pekerjaan mereka dengan menggunakan teknologi digital terutama komputer dan Internet. Mereka melakukan pekerjaan lama  memakai perangkat  digital. Dan sebagai pendatang digital, mereka melakukan semua itu berdasarkan pengetahuan dan kecakapan model analog.

Sebagai penghuni bangunan yang dibangun pada masa pra-pribumi digital, “adat-istiadat” mereka masih kental analog. Petunjuk ke arah “adat-istiadat” analog ini sangat jelas tampak pada digitalisasi katalog maupun digitalisasi buku.

Katalog adalah fungsi perpustakaan terbanyak digunakan pemustaka dan karenanya akan terimplikasi paling utama. Meski katalog perpustakaan banyak yang sudah didigitalkan menjadi apa yang disebut On-line Public Access Catalog (OPAC),  digitalisasi itu masih sekedar konversi dari format analog ke format digital. Semangatnya, kaidahnya, peraturannya, dominan masih berparadigma analog.

Ditilik dari fungsinya sebagai alat  temu-kembali informasi,  katalog on-line (digital)  tidak beda dari katalog kartu (analog).  Penentuan titik aksesnya masih terbatas pada peraturan-peraturan berparadigma analog. Dengan kalimat lain, katalog digital dibuat tampilannya mirip, kalau tidak sama, dengan tampilan katalog kartu. Sama halnya dengan e-book. Selain tampilan, fungsi dan cara pakai versi digital hampir tak berbeda dari versi analog.

Belum ada terobosan yang berarti, apalagi terobosan radikal yang menembus peraturan-peraturan-peraturan yang ada, dalam digitalisasi katalog. (Untuk e-book, ada terobosan yang menjanjikan. Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) LIPI mengembangkan buku elektronik tiga dimensi  (3D e-book).

Terbitan hasil-hasil riset LIPI  tidak sekedar dikonversi dari analog ke digital menjadi e-book tetapi juga memuat animasi untuk memudahkan pemahaman konten (Kompas, Jumat 10 Februari 2012, hal. 14, kol. 5-7: “Buku tiga dimensi hasil riset”).  Akan tetapi, katalog masih membutuhkan perubahan radikal untuk bisa dikatakan baru.

Seperti halnya sistem pengajaran supaya efektif dan menarik harus dikembangkan dengan menggunakan kecenderungan cara belajar anak didik sebagai dasar, sistem perpustakaan supaya efektif dan menarik harus dikembangkan dengan mempertimbangkan  perilaku pencarian dan pemanfaatan informasi  pemustaka sebagai titik tolak. (UU No. 43 Tahun 2007  Tentang Perpustakaan. Bab V Pasal  14 ayat 1: “Layanan perpustakaan dilakukan secara prima dan berorientasi kepada kepentingan pemustaka” perlu ditafsirkan menggunakan paradigma pribumi digital).

Perilaku pencarian informasi pribumi digital yang cenderung untuk mendapatkan informasi  dengan cepat dan dari banyak sumber multimedia secara bersamaan sebagai misal, menjadi alasan kuat untuk merenovasi  bangunan sistem temu-kembali informasi bernama katalog digital.

Tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa fungsi katalog digital perlu  mulai serius dipikirkan pembaruannya. Sudah tiba waktunya  di mana katalog on-line (digital) tidak lagi sekedar unggul dari katalog kartu hanya dalam hal efisiensi. 

Katalog on-line masa depan perlu mengadopsi lebih banyak  teknologi digital dan sekaligus mengadaptasi budaya pribumi digital. Misalnya, ketika pemustaka menemukan  katalog bahan pustaka yang ia cari, ia juga dapat mengetahui daftar acuan buku tersebut melalui katalog yang sama.

Bahan pustaka acuan tersebut boleh saja buku cetak atau digital, artikel majalah, video, atau rekaman suara. Semua acuan tersebut dapat langsung diakses dengan mengklik hyperlink yang tercantum pada katalog tadi.

Juga perlu mempertimbangkan katalog digital yang tidak melulu read-only tetapi juga mempunyai field  yang membolehkan  pribumi digital  menyatakan tingkat kesukaan mereka  (rating) tentang bahan pustaka yang diwakili suatu katalog. Sangat mungkin juga menyediakan bidang khusus pada katalog untuk pemustaka menuliskan kata-kata kunci menurut bahasa mereka sendiri (tagging) sebagai pelengkap judul subjek yang sudah dicantumkan pustakawan pengkatalog berdasarkan pedoman baku.

Jika pustakawan pendatang digital sudah terkondisi berpikir  taxonomy a la Dewey,  para pemustaka pribumi digital cenderung berpikir tagonomy (yang oleh Palfrey dan Gasser disebut juga folksonomy). 

Radikalisasi katalog dengan membolehkan tagging dan rating ini sangat bermanfaat bagi pemustaka lain sesama pribumi digital untuk menemukan bahan pustaka yang mereka inginkan, sekaligus menjadi informasi kualitatif tentang bahan pustaka tersebut.

Tagging dan rating sudah merupakan bagian dari budaya pribumi digital. Katalog on-line seperti ini mengadaptasi budaya pribumi digital yang senang multi-tasking dan interaktif dengan sumber informasi, meninggalkan budaya pendatang digital yang cenderung single-tasking dan pasif.

Katalog buku, katalog video, katalog rekaman suara,  atau indeks majalah akan dipandang sebagai satu kesatuan yang saling tersambung dalam sistem temu-kembali informasi dalam perpustakaan dan interaktif dengan pemustaka pribumi digital.

Aspek-aspek lain dalam kepustakawanan pendatang digital juga akan terimplikasi hingga batas yang bervariasi. Landasan teoritis dan filsofisnya  boleh masih tetap sama, tetapi pada level praktisnya perlu mendapat pembaruan. Sebagai contoh, hal-hal yang diprasyaratkan bagi pustakawan untuk dapat mencapai layanan prima masih tetap meliputi:

a)  kemampuan melakukan komunikasi yang baik dengan pemustaka…;

b) kemampuan  berkomunikasi secara verbal dan non-verbal; 

c) kemampuan bekerja baik secara individu maupun kelompok; dan

d) kemampuan berkomunikasi dengan konsep 3A –(Attitude, Attention, Action (Daryono).

Akan tetapi,  “isi” dari prasyarat-prasyarat tadi perlu dibarukan atau paling tidak ditambahkan dan dilengkapkan untuk beradaptasi dengan budaya pribumi digital.

Permintaan rujukan (reference inquiry) sudah sejak lumayan lama dilakukan menggunakan e-mail. Tak sulit untuk membayangkan bahwa dalam waktu tidak terlalu lama lagi wawancara rujukan (reference interview) dilakukan menggunakan Skype.

Komunikasi tertulis dan lisan secara on-line membutuhkan norma-norma digital yang berbeda dari norma-norma analog. Maka norma-norma analog yang dianut pustakawan pendatang digital perlu penyesuaian. 

Penyesuaian  terhadap kenyataan bahwa bekerja dalam lingkungan Internet  adalah bekerja dalam “ruangan”  yang berubah sangat cepat  (volatile),  yang menawarkan cara-cara baru dalam berkomunikasi, dalam menyajikan  informasi/pengetahuan, dan dalam mewakili kehadiran fisik  pustakawan  (.Zimmerman dan Milligan). 

Cara-cara baru itu bisa terlihat radikal oleh mata pendatang digital tetapi sangat  normal, wajar, biasa-biasa saja  di mata pribumi digital. Untuk menemukan cara-cara baru dan radikal perlu daya imaginasi dan kreativitas yang menembus batas-batas paradigma kepustakawanan analog. Untuk yang terakhir ini, pustakawan pribumi digital  dapat diandalkan dengan pengarahan pustakawan pendatang digital.

Penutup
Populasi pribumi digital Indonesia sudah di depan mata dalam jumlah yang tumbuh cepat. Mereka menjadi pemustaka dalam kepustakawanan yang dibangun di atas paradigma-paradigma analog.

Mereka adalah sebagian dari pemustaka masa kini. Mereka butuh kepustakawanan masa kini yang dibangun di atas paradigma-paradigma digital, mengadopsi teknologi digital,  dan mengadaptasi kebiasaan pribumi digital. Perubahan radikal terhadap katalog yang dicontohkan di atas hanya salah satu aspek kepustakawanan yang perlu mendapat perhatian serius.

Bahwa kepustakawanan perlu mengadopsi paradigma baru sebenarnya sudah disadari sejak lama. Pustakawan perlu bukan hanya mengadopsi  teknologi baru, tetapi juga menciptakan “cara” baru  (Crawford dan Gorman, 1995)  menjalankan fungsi perpustakaan dengan menggunakan teknologi baru yang disesuaikan dengan kebiasaan populasi pribumi digital. 

Di satu sisi pustakawan perlu mempersiapkan perpustakaan masa depan yang berorientasi kepada pemustaka pribumi digital yang jumlahnya tumbuh pesat. Di sisi lain, mereka juga masih harus memelihara perpustakaan yang  berorientasi kepada  pemustaka pendatang digital karena jumlah mereka masih banyak. Inilah tantangan bagi pustakawan abad 21.

Menjaga keseimbangan antara konservatisme dan progresivisme dalam pengembangan perpustakaan di masa transisi menuju kepustakawanan pribumi digital (Montiel-Overall).

Pustakawan masa kini perlu menyediakan lingkungan informasi (= perpustakaan dengan nama apa saja) swa-layan yang memudahkan pemustaka pribumi digital menavigasi secara mandiri lautan informasi yang kompleks, atau dengan tuntunan minimum (Palfrey & Gasser). Termasuk untuk memudahkan pribumi digital mengevaluasi kualitas informasi dari dunia maya. 

Mengenai  keinformasian digital masa kini sedikit-banyak sudah ditulis para “peramal”  beberapa dekade lalu. Alvin Toffler (The Third Wave, 1982), John Naisbit (Mega Trends, 1990) sudah memberi  peringatan dini. Sirene itu  telah membangunkan pustakawan untuk menghadapi tantangan yang ada. Namun sirene itu terasa semakin keras dewasa ini. Dan membutuhkan respon radikal dari pustakawan pendatang digital.

Daftar bacaan
Antara. “Pengguna Internet di Indonesia 48 juta” AntaraNews.com, 14 Des. 2011.
http://www.antaranews.com/berita/288895/pengguna-internet-di-indonesia-48-juta

Bayne, Siân Bayne and Jen Ross.The ‘digital native’ and ‘digital immigrant’: a dangerous opposition. (This paper is presented at the Annual Conference of the Society for Research into Higher Education (SRHE), December 2007) [http://www.malts.ed.ac.uk/staff/sian/natives_final.pdf}

Boston Consulting Group. “Internet Users in Indonesia to Triple by 2015: Report.” Bloomberg & JG,  September 02, 2010. [http://www.thejakartaglobe.com/business]
Crawford, Walt dan Gorman, Michael.  Future libraries: dreams, madness, & reality. Chocago: American Library Associations, 1995. 1998 hal.

Daryono. “Kompetensi pustakawan dalam memberikan layanan prima di perpustakaan perguruan tinggi”, dalam  Journal kepustakawanan dan masyarakat membaca,  vol. 26 no. 2, (Juli-Desember 2010), hal. 1-12

Montgomery, Kathryn C. Generation digital: politics, commerce, and childhood in the age of the Internet. Cambridge, Mass: MIT Press, 2007.   p.

Montiel-Overall, Patricia.  The Effect of Service Learning on LIS Students’ Understanding of Diversity Issues Related to Equity of Access. JELIS 52(4), Fall 201.
[http://jelis.org/featured/the-effect-of-service-learning-on-lis-students-understanding-of-diversity-issues-related-to-equity-of-access-by-patricia-montiel-overall]

Palfrey, John and  Gasser, Urs. Born digital: understanding the first generation of digital natives. Basic Books, 2008. 384 p.

Prensky, Marc (I). “Digital natives, digital immigrants”. On the Horizon 9(5). , October 2001.  [http://www.marcprensky.com/writing/Prensky%20-%20 Digital%20Natives,%20Digital%20Immigrants%20-%20Part1.pdf]

Prensky, Marc (II).  “Digital Natives, Digital Immigrants, Part II:  Do They Really Think Differently?”,  On the Horizon, , Vol. 9 No. 6, December 2001). [http://www.marcprensky.com/writing/prensky%20-%20digital%20natives,%20digital%20immigrants%20-%20part2.pdf]

Purbo, Onno W. Awal Sejarah  Internet Indonesia . [http://www.carikampus.com/index.php?action=news.detail&id_news=134]

Senjov-Makohon, Natalie. How do Digital Immigrant Teachers (DITs) learn ICT for the Information Age?.  (A paper presented to the AARE  (Australian Association for Research in Education Conference. Melbourne,  28th November – 2nd December, 2004.)  [http://www.aare.edu.au/04pap/sen04834.pdf]

Toledo, Cheri A. “Digital Culture: Immigrants and Tourists Responding to the Natives’ Drumbeat” International Journal of Teaching and Learning in Higher Education 2007, Vol,19, Number 1, 84-92  [http://www.isetl.org/ijtlhe/ ISSN 1812-9129]

Zimmerman, Lynn  and Milligan, Anastasia Trekles. Perspectives on Communicating with the Net Generation.
[http://www.innovateonline.info/index.php?view=article&id=338]

Tentang Penulis
Melling Simanjuntak adalah pustakawan free-lance bersama SidiPrima Informatika berbadan hukum yang didirikannya. Sebelumnya beliau adalah direktur perpustakaan Kedutaan Besar A.S. di Jakarta sejak 1991 sampai mengundurkan diri tahun 2007.  Tamatan Graduate School of Librarianship and Information Management, University of Denver, Colorado, USA,  1983.