Perubahan Kebijakan Peminjaman Koleksi dan Dampaknya terhadap Kinerja Perpustakaan: Kasus Perpustakaan IPB

Pendahuluan
Perpustakaan akhir-akhir ini mendapatkan perhatian yang luar biasa, khususnya perhatian dari wakil rakyat. Pada bulan Januari 2011 yang lalu anggota DPR, pada kesempatan RDP (Rapat Dengar Pendapat) dengan Perpustakaan Nasional, mempertanyakan peran Perpustakaan Nasional dan jajarannya terhadap pengembangan minat baca, dimana dikatakan bahwa minat baca rakyat Indonesia berada pada urutan ke 57 dari 65 negara . Bahkan Komisi X DPR RI telah membentuk PANJA (Panitia Kerja) Perpustakaan untuk membahas masalah-masalah pengembangan minat baca bangsa Indonesia. Perhatian DPR ini sesungguhnya dimulai sejak penyusunan RUU yang kemudian menjadi Undang-undang Perpustakaan nomor 43 tahun 2007. Perhatian ini tentu saja membawa konsekuensi kepada kinerja perpustakaan, bukan hanya Perpustakaan Nasional, namun juga perpustakaan jenis lainnya termasuk perpustakaan perguruan tinggi. Kinerja perpustakaan yang selama ini nyaris tak terdengar kemudian menjadi sorotan publik, khususnya wakil rakyat dan tentu saja stake holder lainnya.

Pengertian kinerja atau prestasi kerja yang disarikan dari Wikipedia adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seseorang pegawai (atau suatu lembaga) dalam melaksanakan tugasnya sesuai dengan tanggung jawab yang diberikan kepadanya . Kinerja suatu perpustakaan biasanya diukur berdasarkan indikator kinerja dimana ISO 11620 menyebutkan ada 29 komponen yang biasa diukur (Purnomowati, 2008; FPPTI, 2002). Kinerja perpustakaan ini pada akhirnya membentuk sebuah citra bagi perpustakaan. Citra suatu perpustakaan merupakan suatu pandangan yang diberikan masyarakat tentang sebuah institusi perpustakaan. Adapun pencitraan perpustakaan dapat ditandai dengan 3 (tiga) pilar utama yaitu: (1) citra kelembagaan (building image); (2) citra pustakawan (librarian image); dan (3) citra pemanfataan teknologi informasi dan komunikasi atau information and communication technology (ICT based image). Citra kelembagaan meliputi status lembaga, koleksi, bangunan, fasilitas, penyelenggaraan, pelayanan. Citra pustakawan meliputi personal yang menyelenggarakan perpustakaan seperti keterampilan pustakawan, keluwesan atau keramahan pustakawan, kualitas atau pendidikan pustakawan.  Citra pemanfaatan ICT berkaitan dengan pemanfaatan ICT dalam operasionalisasi perpustakaan dimana pada masa sekarang ini ICT digunakan secara intensif di perpustakaan. Penyelenggara perpustakaan tentu berusaha mengikuti trend teknologi yang berkembang begitu pesat agar perpustakaan tidak mengalami ketinggalan (BPAD, 2008 dan Pujiono, 2008).

Maksud utama dari pencitraan dimaknai sebagai aksi operasional  oleh perpustakaan dalam logika proses manajemen. Sebagai indikator pencitraan dapat diukur  dari berbagai aktivitas yang telah didefinisikan, di mana sesuatu harus dihitung sehingga secara obyektif dapat ditemukan atau tidak. Pengumpulan data dibutuhkan untuk menentukan besaran indikator. Berkaitan standarisasi bahwa perpustakaan dapat memulai dengan statistik dan dihitung sebelum berkembang masuk ke penilaian (Renard, 2007).

Kemajuan besar sistem otomasi perpustakaan terutama sirkulasi dapat memudahkan dalam pengumpulan data. Aktivitas sirkulasi menunjukkan suatu kejadian pemustaka membawa keluar buku untuk dimanfaatkan di luar perpustakaan. Sirkulasi buku dapat dipergunakan sebagai salah satu indikator efektivitas layanan perpustakaan. Apabila pemanfaatan sirkulasi buku relatif tinggi mengindikasikan bahwa koleksi yang dimilik relatif  “bagus”, karena sirkulasi merupakan fakta kebutuhan pemustaka dalam memenuhi kebutuhan bacaannya. Hasil analisis sirkulasi oleh Subagyo (2009) bahwa: (1) Rata-rata pengunjung statis sebanyak 84,05 persen, dengan frekuensi berkunjung sekitar 13 kali selama satu tahun, (2) Sirkulasi buku terdiri atas peminjam dan buku dipinjam dengan rincian : (a) Peminjam statis sebanyak 43,65 persen dengan frekuensi pinjam buku delapan kali, (b) Total buku dipinjam mahasiswa sekitar 28 persen dengan frekuensi fisik buku dipinjam tertinggi sebanyak 112 kali (pinjaman semalam) dan sebanyak 50 kali (pinjaman seminggu), (c) Hampir setengah jumlah pengunjung statis (52,68%) meminjam buku, namun sebagai pengunjung dinamis bahwa setiap mahasiswa tidak selalu meminjam buku dan hanya sekitar 33,23 persen pinjam buku.

Pada tahun 2009 pelayanan perpustakaan telah membuat suatu kebijakan peminjaman buku. Kebijakan tersebut berupa perubahan jenis pinjaman semalam menjadi tiga hari. Hal ini disebabkan oleh permintaan mahasiswa, meskipun representasinya masih perlu dilakukan kajian lebih lanjut. Namun kebijakan telah diputuskan untuk operasional sirkulasi, dengan harapan atau tujuan terjadi peningkatan jumlah peminjaman meskipun dampaknya belum bisa diketahui pada waktu mendatang.

Ruang Lingkup Kajian
Kajian ini dilakukan terhadap Perpustakaan Pusat IPB dimana telah terjadi perubahan kebijakan  masa pinjaman buku “short loan collection” dari semalam menjadi tiga hari. Kebijakan tersebut telah ditetapkan pada bulan Februari 2009 dan berlaku mulai bulan Maret 2009, sehingga perhitungan selama satu tahun atau 12 bulan dimulai bulan Maret. Data tahun 2008 merupakan tahun sebelum kebijakan yang dimulai bulan Maret 2008 sampai Februari 2009, data tahun 2009 dimulai bulan Maret 2009 sampai Februari 2010 serta data tahun 2010 dimulai bulan Maret 2010 sampai Februari 2011.

Tujuan Kajian
• Mengetahui dampak perubahan kebijakan peminjaman buku terhadap kinerja perpustakaan, khususnya sirkulasi perkapita, kunjungan per kapita, dan turn over.
• Mengetahui efektivitas kebijakan perubahan peminjaman buku di Perpustakaan IPB.
• Mengetahui perubahan pola mahasiswa dalam meminjam buku di perpustakaan akibat perubahan kebijakan jangka waktu peminjaman.

Manfaat Kajian
Sebagai bahan evaluasi kebijakan dalam upaya meningkatkan kinerja perpustakaan melalui kelompok atau jenis masa pinjaman buku dari semalam menjadi tiga hari.

Metode Kajian
Kajian ini menggunakan studi kasus sirkulasi  buku di Perpustakaan Pusat IPB dengan metode kajian  analisis kerja dan aktivitas (job and activity analysis) yang merupakan kelompok  metode deskriptif  (Nazir, 1999).  Data diambil dari komputer server Perpustakaan IPB yang dikelola oleh Bidang Teknologi Informasi, Pembinaan Mutu dan Kerjasama Perpustakaan. Pengumpulan data dilakukan menggunakan perangkat lunak CDS/ISIS (Computerized Documentation Services / Integrated Set of Information System). Terhadap data tersebut kemudian dilakukan verifikasi isiian ruas. Dengan demikian data menjadi  valid dan reliabel untuk diproses lebih lanjut, terutama pemisahan data sebelum terjadi perubahan kebijakan pinjaman buku semalam menjadi tiga hari. Selain dideskripsikan dalam bentuk tabel, data tersebut diolah untuk mendapatkan angka sirkulasi perkapita, pengunjung perkapita dan turnover rate.

Analisis Data
Langkah awal penyusunan data menggunakan perangkat lunak CDS/ISIS (Winisis versi 1.5) untuk  pemisahan data sebelum dan sesudah terjadi perubahan kebijakan. Data tahun 2008 merupakan data yang belum terjadi perubahan kebijakan, sedangkan tahun 2009 dan 2010 adalah data setelah terjadi perubahan kebijakan masa pinjam buku. Pencetakan data menjadi berkas ASCII (American Standard Code International Interchange)  sebagai sarana konversi data dengan script tampilan tertentu sesuai kebutuhan penghitungan. Berkas cetak tersebut kemudian diolah dengan menggunakan program Microsoft office excel 2007 dan SPSS (Statistical Procedure for Social Science) versi 14. Sirkulasi perkapita diperoleh dengan membagi jumlah transaksi peminjaman selama satu tahun dibagi dengan total populasi, sedangkan turnover diperoleh dari total transaksi peminjaman selama satu tahun dibagi dengan total koleksi yang dipinjamkan. Sementara kunjungan perkapita diperoleh dari total kunjungan pemustaka dalam setahun dibagi dengan total populasi (Sri Purnomowati, 2008).

Hasil Dan Pembahasan
A. Buku dipinjam
Jumlah data hasil stock opname koleksi yang masih bisa dipinjam pada Oktober tahun 2010 bahwa ketersediaan koleksi yang boleh dipinjam tahun 2008 sebanyak 38.027 judul atau 58.325 eks., tahun 2009 sebanyak 39.023 judul atau 60.709 eks., dan tahun 2010 sebanyak 40.231 judul atau 64.154 eks. Hasil hitungan tersebut menurut waktu tanggal pemasukkan data yang dilakukan oleh staf perpustakaan.

Penghitungan jumlah buku dipinjam oleh pemustaka telah dikelompokkan menurut fakultas dan jenis masa pinjam. Jenis 1 merupakan jangka waktu pinjam semalam pada tahun 2008, dan jangka waktu tiga hari pada tahun 2009 dan tahun 2010. Jenis 2 merupakan jangka waktu pinjam satu minggu pada semua tahun. Adapun hasil penghitungan buku dipinjam tersebut dapat disajikan pada Tabel 1.

Berdasarkan Tabel 1, total buku dipinjam oleh pemustaka bervariasi yaitu cenderung turun baik jumlah judul (kualitas) maupun eksemplar (kuantitas) dari tahun 2008 yaitu 30.408 judul atau 138.617 eksemplar menuju tahun 2009 yaitu 21.544 judul atau 120.340 eksemplar. Kemudian jumlah buku dipinjam tersebut bertambah pada tahun 2010 yaitu 28.429 judul atau 123.624 eksemplar. Mahasiswa pascasarjana memiliki buku pinjaman paling banyak secara kualitas pada tahun 2008 dan tahun 2009, namun mahasiswa faperta memiliki buku pinjaman paling banyak secara kuantitas. Meskipun demikian mahasiswa fateta juga memiliki jumlah buku dipinjam secara kuantitas pada jenis pinjaman 1 pada tahun 2008. Mahasiswa pascasarjana mendominasi buku pinjaman baik secara kualitas maupun kuantitas pada tahun 2010.

Tabel 1. Jumlah Buku Dipinjam oleh Pemustaka Tahun 2008-2010

*) Kelompok  : FAPERTA : Fakultas Pertanian; FKH : Fakultas Kedokteran Hewan; FPIK : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan; Fapet : Fakultas Peternakan; DIPLOMA : Program Diploma; FEMA : Fakultas Ekologi Manusia; PASCA : Program Pascasarjana; PEGAWAI : Staf Administrasi; DOSEN : Staf Pengajar; TPB : Tingkat Persiapan Bersama (Mahasiswa Baru Strata Satu)

Apabila data Tabel 1 tersebut dicemati, maka tersirat data jumlah judul buku tidak tepat hasilnya pada kolom gabung 1 dan 2 atau terjadi selisih jumlah data. Hal ini dapat dijelaskan bahwa beberapa judul buku terdiri atas lebih dari satu eksemplar, sehingga perpustaka¬an biasanya memperlakukan buku eksemplar pertama sebagai buku dalam masa pinjam jenis 1 (pinjaman satu malam yang kemudian menjadi tiga hari) dan eksemplar lainnya sebagai jenis pinjam 2 (pinjaman satu minggu). Meskipun buku terdiri atas satu eksemplar, dan buku tersebut jarang dipinjam oleh pemustaka selanjutnya layanan perpustakaan menetap¬kan buku yang bersangkutan dalam kelompok pinjam jenis 2. Mahasiswa kelompok pascarjana paling banyak memanfaatkan buku dengan jenis pinjaman 1 dan 2 yaitu 528 judul (2008), 305 judul (2009), dan 574 judul (2010).

Tabel 2. Perbedaan Jumlah Buku Dipinjam Kelompok Pemustaka

Meskipun demikian kategori dosen tidak mengalami perbedaan (nol), berarti dosen meminjam buku sesuai spesialisasinya atau kemungkinan lain buku hanya terdiri atas satu eksemplar.  Sebagai penjelasan selisih jumlah judul tersebut dapat disajikan Tabel 2.

Apabila rincian kelompok pemustaka dalam meminjam buku diabaikan, maka data jumlah judul buku akan terjadi perbeda¬an pada setiap tahun. Perbedaan ini dapat dijelaskan sebagai jum¬lah judul buku dipinjam dari berba¬gai kelompok pemus¬taka dikurangi dengan tanpa kelompok pemustaka. Sebagai kejelasan perbedaan jumlah judul buku dipinjam dapat disajikan Tabel 3.

Tabel 3. Perbedaan Jumlah Buku Dipinjam Pemustaka

Perbedaan jumlah judul buku dipinjam oleh pemustaka mempunyai makna  bahwa banyak judul buku dimanfaatkan oleh berbagai kelompok dalam proses meminjam koleksi atau pemustaka dari berbagai kelompok tertarik untuk meminjam judul yang sama. Perbedaan jumlah buku dipinjam antar kelompok bervariasi, di mana buku paling banyak dipinjam antar kelompok pada tahun 2008 sebanyak 18.328 judul, dan menurun pada tahun 2009 sebesar 11.617 judul, kemudian meningkat lagi pada tahun 2010 sebesar 16.385 judul. Dapat dikatakan juga bahwa buku perpustakaan banyak bermanfaat pada beberapa pemustaka.

Berbagai perhitungan tersebut, di mana perpustakaan umumnya melakukan perhitungan data yang bersifat dinamis. Selanjutnya evaluasi ini akan menyajikan perhitungan data secara statis atau secara kualitas nyata terhadap judul dan fisik koleksi (eksemplar). Dengan demikian dapat diperoleh tingkat frekuensi pinjam. Untuk mengetahui hasil perhitungan dapat disajikan Tabel 4.

Tabel 4. Persentase Buku Dipinjam dan Frekuensi Buku Dipinjam

Berdasarkan tabel tersebut bahwa buku dipinjam oleh pemustaka berkisar 30 persen baik secara kualitas (judul) sebesar 29,05 persen maupun secara kuantitas (eksemplar) sebesar 30,96 persen, dengan tingkat frekuensi dipinjam dalam jumlah bentuk judul sebanyak 2 kali atau bentuk fisik buku (eksemplar) sebanyak 7 kali. Angka ini hanya menghitung buku yang dipinjam saja. Artinya, dari kelompok buku yang dipinjam, rata-rata setiap judul dipinjam sebanyak dua kali, sedangkan dari kelompok eksemplar buku yang dipinjam maka rata-rata buku dipinjam sebanyak 7 kali. Namun, jika dihitung rata-rata koleksi yang keluar (dipinjam) dari perpustakaan berdasarkan rumus ISO11620, maka angka ini menjadi berbeda. Tabel 5 menunjukkan rata-rata koleksi keluar dari perpustakaan dalam satu tahun (turn over rate), rata-rata frekuensi pemustaka meminjam koleksi (sirkulasi perkapita), dan rata-rata frekuensi pemustaka berkunjung ke perpustakaan (kunjungan perkapita).

Tabel 5. Angka kunjungan perkapita, sirkulasi perkapita dan turn over Perpustakaan IPB tahun 2008 – 2010

Kinerja layanan perpustakaan, khususnya yang berhubungan langsung dengan pemanfaatan koleksi setidaknya diukur dengan tiga indikator kinerja, yaitu sirkulasi perkapita, turnover dan kunjungan perkapita. Tabel 5 memperlihatkan bahwa jumlah transaksi sirkulasi (total buku dipinjam) dari tahun 2008 ke tahun 2009 terjadi penurunan yang cukup besar. namun kemudian naik kembali pada tahun 2010. Namun angka ini tidak mencerminkan kinerja sesungguhnya karena jumlah populasi pemustaka maupun jumlah koleksi juga terjadi kenaikan. Secara logika memang sudah semestinya yaitu semakin bertambah populasi pemustaka, maka semakin banyak pula pemustaka yang meminjam koleksi perpustakaan. Kinerja sesungguhnya dapat dilihat dari angka sirkulasi perkapita dan turnover. Dua indikator ini menunjukkan penurunan terus menerus baik dari tahun 2008 ke 2009 maupun dari 2009 ke 2010. Tahun 2008 dimana masih terdapat kelompok “short loan collection” yang dapat dipinjam satu malam angka sirkulasi perkapita menunjukkan sebesar 6,98. Artinya dalam setahun setiap pemustaka meminjam sebanyak 6,98 buku. Pada tahun 2009 setelah adanya kebijakan mengganti “short loan collection” menjadi pinjaman tiga hari maka angka sirkulasi perkapita menjadi hanya sebesar 4.87 yang berarti bahwa dalam setahun setiap pemustaka hanya meminjam buku sebanyak 4,87 buku. Kemudian pada tahun 2010 angka ini menurun kembali, walaupun penurunannya tidak terlalu besar, menjadi sebesar 4,52, yang berarti bahwa dalam setahun pemustaka meminjam buku sebanyak 4,52 buku.

Hal yang sama juga terjadi pada angka turnover. Pada tahun 2008 angka ini menunjukkan 2,38 yang berarti dalam setahun rata-rata setiap buku dipinjam keluar sebanyak 2,38 kali. Sedangkan pada tahun 2009 dan tahun 2010 angka ini menurun menjadi masing-masing 1,98 dan 1,93. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa frekuensi buku dipinjam keluar menjadi semakin jarang dari tahun 2008. Angka-angka ini juga berimplikasi kepada angka kunjungan perkapita. Hal ini logis karena ketika pemustaka akan melakukan transaksi peminjaman, maka pemustaka harus berkunjung ke perpustakaan. Dengan menurunnya transaksi peminjaman, maka secara otomatis angka kunjungan juga akan cenderung menurun. Dari tabel 5 di atas terlihat bahwa sebelum kebijakan menghapus pinjaman satu malam dan menggantinya dengan pinjaman tiga hari, angka kunjungan per kapita pada tahun 2008 sebesar 13,05. Artinya dalam setahun pemustaka berkunjung ke perpustakaan IPB sebanyak 13,05 kali atau dengan kata lain kurang dari sebulan sekali pemustaka berkunjung ke perpustakaan. Pada tahun 2009 angka kunjungan ini menurun menjadi hanya sebesar 9,67 yang berarti dalam setahun pemustaka hanya berkunjung sebanyak 9,67 kali, dan pada tahun 2010 angka ini kembali menurun menjadi sebesar 8,36. Penurunan angka kunjungan ini sangat besar dari yang tadinya yaitu pada tahun 2008 pemustaka berkunjung ke perpustakaan kurang dari sebulan sekali menjadi hanya setiap satu setengah bulan sekali pada tahun 2010. Dalam diskusi pernah disinggung bahwa penurunan ini tidak dipengaruhi hanya oleh kebijakan peminjaman, namun juga oleh perkembangan teknologi informasi. Ada yang berpendapat bahwa dengan teknologi informasi para pemustaka tidak perlu datang ke perpustakaan jika hanya untuk mengetahui keberadaan suatu koleksi karena para pemustaka tersebut sudah dapat mengetahui dari katalog online yang tersedia. Namun tidak demikian dengan peminjaman. Pemustaka yang akan melakukan transaksi peminjaman tetap harus datang ke perpustakaan, kecuali jika perpustakaan tersebut sudah menyediakan koleksi digital (e-book) yang proses sirkulasinnya bisa ditransaksikan secara online.

Dari pembahasan ini dapat ditarik suatu pemahaman bahwa semakin pendek masa pinjam koleksi perpustakaan, maka semakin besar jumlah pemustaka yang mempunyai peluang meminjam koleksi pustaka tersebut. Tentu saja jika pernyataan ini diikuti dengan aturan bahwa perpanjang pinjaman koleksi hanya boleh dilakukan jika tidak ada pemustaka lain yang memesan untuk meminjam (reserve) koleksi pustaka yang sedang dipinjam tersebut. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa masa pinjam yang pendek dapat meningkatkan pemerataan kesempatan kepada pemustakan untuk meminjam koleksi pustaka tersebut.

Tentu saja jangka waktu peminjaman yang pendek ini bukan satu-satunya yang berpengaruh terhadap kinerja sirkulasi koleksi buku perpustakaan. Masih ada hal lain seperti kesesuaian koleksi perpustakaan terhadap kebutuhan pemustaka (relevansi), gencarnya promosi perpustakaan, kualitas layanan yang menyangkut sikap dan kemauan melayani dari pustakawan dan lain-lain.

B. Peminjam
Peminjam merupakan pemustaka yang melakukan transaksi sirkulasi pada layanan perpustakaan secara otomasi. Dalam rentang waktu satu tahun seseorang hanya dihitung satu kali, meskipun mereka melakukan beberapa kali transaksi sirkulasi. Hal ini dinamakan sebagai peminjam statis (Subagyo, 2008). Nampak sekali kelompok mahasiswa pascasarjana paling banyak memanfaatkan koleksi perpustakaan dengan melalui peminjaman.  Sebagai kejelasan jumlah peminjam statis dengan pemisahan jenis 1 dan jenis 2 dapat disajikan pada Tabel 6.

Tabel 6. Peminjam koleksi perpustakaan Pusat IPB menurut Jenis Pinjaman

Seperti pada perhitungan jumlah judul buku dipinjam, bahwa peminjam ini juga mengalami perbedaan jumlah data gabung 1 dan 2. Hal ini disebabkan oleh posisi peminjam dapat menempati jumlah peminjam pada kolom jenis 1 dan jenis 2. Adapun perbedaan tersebut dapat disajikan pada Tabel 7.

Tabel 7. Perbedaan Peminjam Koleksi Perpustakaan tanpa Pemisahan Jenis Pinjaman

Dalam kaitan peminjam maka beberapa faktor berikut mempunyai peranan antara lain :
a) Motivasi. Dorongan dalam diri pemustaka untuk mencari informasi di perpustakaan. Setelah informasi ditemukan pemustaka bertindak untuk  melakukan tran¬saksi sirkulasi buku guna infor¬masi tersebut dibaca/ dipelajari di rumah atau tempat lain.
b) Waktu. Kesempatan yang dimiliki oleh pemustaka dalam mencari informasi di perpustakaan, selan¬jut¬nya pemustaka melakukan transaksi buku yang diinginkan.
c) Ketertarikan. Pemustaka dalam mencari sumber informasi di perpustakaan relatif banyak, sehingga informasi yang menarik akan dilakukan transaksi peminjaman guna dibaca di rumah atau tempat lain.

C. Efektivitas Kebijakan Perubahan Jenis Pinjaman
Evaluasi ini tentu mengarah pada jenis pinjaman satu yaitu pinjaman semalam menjadi pinjaman tiga hari. Sebenarnya harapan adanya kebijakan ini adalah peningkatan jumlah buku dipinjam. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa pemustaka akan malas meminjam koleksi jenis pinjaman satu malam, karena yang bersangkutan harus kembali ke perpustakaan pada hari berikutnya. Alasan bahwa pemustaka enggan kembali ke perpustakaan pada hari berikutnya untuk mengembalikan pinjamannya atau memperpanjang pinjamannya (renewal) disebabkan karena padatnya aktifitas pemustaka, seperti kuliah, praktikum, dan lain-lain. Namun asumsi ini tidak terbukti sebab menurut tabel 5, ternyata angka sirkulasi per-kapita maupun turn over rate, justru mengalami penurunan sesudah perubahan kebijakan jangka waktu peminjaman tersebut. Dari kenyataan ini dapat disimpulkan bahwa kepadatan aktifitas pemustaka tidak berpengaruh terhadap pola peminjaman koleksi oleh pemustaka. Jika pemustaka tersebut memerlukan koleksi perpustakaan, maka mereka akan tetap datang ke perpustakaan untuk melakukan transaksi peminjaman koleksi perpustakaan.

Berdasarkan kenyataan ini maka kebijakan memperpanjang masa pinjam dari satu malam menjadi tiga hari perlu ditinjau kembali. Ada keuntungan ganda bila perpustakaan menyelengga¬ra¬kan pinjaman jangka pendek (semalam) yaitu: (1) bagi perpustakaan tentu dapat meningkatkan kinerjanya, khususnya kinerja sirkulasi, sebab frekuensi peminjaman akan meningkat baik oleh jumlah orang yang meminjam, maupun oleh perpanjangan pinjaman oleh peminjam koleksi pustaka tersebut; (2) Dengan transaksi yang berulang tersebut, maka angka kunjungan juga dapat ikut meningkat, karena setiap transaksi pengembalian maupun perpanjangan harus dilakukan langsung oleh peminjam yang bersangkutan; (3) Bagi pemustaka berarti memperluas kesempatan meminjam sehingga lebih banyak pemustaka yang dapat memperoleh kesempatan meminjam koleksi pustaka yang sama. Hal ini berarti meningkatkan pemerataan kesempatan meminjam koleksi pustaka bagi pemustaka.

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
1. Total judul buku yang dipinjam oleh pemustaka pada tahun 2008, 2009 dan 2010 berturut-turut adalah 12.080, 9.927, dan 11.044 dengan rata-rata setiap tahun sebesar 11.350. Sedangkan total eksemplar buku yang dipinjam pada tahun 2008, 2009, dan 2010 masing-masing adalah 19.168, 16.355, dan 21.224 dengan rata-rata setiap tahun sebesar 18.916. Total transaksi peminjaman oleh pemustaka tahun 2008, 2009, dan 2010 berturut-turut adalah 138.617, 120.340, dan 123.524 transaksi.
2. Peminjam dari kelompok koleksi dengan lama pinjam satu malam (2008) dan tiga hari (2009 dan 2010) masing-masing adalah 6.409, 5.503, dan 5.862 pemustaka. Sedangkan untuk peminjam jenis 2 (pinjaman normal/ normal loan) pada tahun 2008, 2009, dan 2010 masing-masing adalah 7.974, 7.770, dan 8.309 pemustaka.
3. Terjadi penurunan transaksi peminjaman akibat perubahan kebijakan perpanjangan masa pinjam dari satu hari menjadi tiga hari, baik diukur dengan indikator kinerja sirkulasi perkapita maupun diukur dengan indikator turnover rate. Sirkulasi perkapita tahun 2008, 2009 dan 2010 masing-masing adalah 6,98; 4,87; dan 4,52. Sedangkan angka turn over rate tahun 2008, 2009 dan 2010 masing-masing adalah 2,38; 1,98; 1,93.
4. Sebagai konsekuensi penurunan angka transaksi peminjaman tersebut, maka angka kunjungan juga terjadi penurunan yaitu dari 13,03 kali perkapita pada tahun 2008 menjadi 9,67 kali perkapita pada tahun 2009 dan 8,36 kali perkapita.

B. Saran
1. Dengan fakta ini kiranya perlu dipertimbangkan ulang untuk menyelenggarakan kembali layanan “short loan collection” dengan lama pinjaman satu malam. Layanan ini selain menjadi daya dongkrak bagi kinerja perpustakaan, juga sebagai upaya meningkatkan pemerataan kesempatan meminjam koleksi perpustakaan, sebab dengan memperpendek masa pinjam, maka secara otomatis memperbanyak kesempatan bagi pemustaka untuk meminjam koleksi tersebut.
2. Untuk meningkatkan kinerja peminjaman maka perpustakaan perlu meningkatkan relevansi ketersediaan buku terhadap kebutuhan pemustaka.
3. Untuk meningkatkan kinerja perpustakaan maka promosi dan sosialisasi layanan kepada pemustaka juga perlu lebih gencar dilaksanakan.

Daftar Pustaka
BPAD Sumut. 2008. Membangun Citra Perpustakaan. http://www.pustakasumut.com/artikel_detail_template.php?id=59.   Diakses 24-01-2011
Forum Perpustakaan Perguruan Tingi Indonesia (FPPTI). 2002. Pedoman Pengukuran Kinerja Perpustakaan Perguruan Tinggi. Jakarta: FPPTI, 2002.
Nazir. M. 1999. Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia.
Pudjiono. 2008. Membangun Citra :   Perpustakaan Perguruan Tinggi di Indonesia Menuju Perpustakaan Bertaraf Internasional. http://www.lib.ui.ac.id/files/Pudjiono.pdf  diakses 24-01-2011
Purnomowati. S.  2008. Uji Coba Pengukuran Indikator Kinerja Perpustakaan PDII . Jakarta : PDII-LIPI . [diaskes 16-03-2009]
Renard. P. 2007. ISO 2789 and ISO 11620 : Short Presentation of Standards as ReferenceDocuments in an Assessment Process. LIBER QUARTERLY. Volume 17 Issue 3/4. http://liber.library.uu.nl/ [diaskes 16-03-2009]
Subagyo. 2009. Analisis pengunjung dan sirkulasi buku tercetak Studi kasus terhadap  Mahasiswa strata satu pada Perpustakaan Pusat  Institut Pertanian Bogor. VISI PUSTAKA. Vol. 11(1) April