Perubahan Sosial Dalam Pemanfaatan di Perpustakaan Perguruan Tinggi

I. Latar Belakang

Perpustakaan merupakan salah satu pranata sosial yang diciptakan dan dipelihara oleh masyarakat. Dimana perpustakaan selalu identik dengan tujuan masyarakat, hal tersebut terjadi karena perpustakaan merupakan hasil ciptaan masyarakat. Perpustakaan merupakan pranata yang dapat menemukan kembali informasi yang baku serta ruang lingkupnya yang begitu luas. Peran perpustakaan juga memiliki efek sosial budaya, selain peran edukatif. Berkaitan dengan aspek sosial budaya, maka secara umum perpustakaan berperan dalam pengumpulan, pengolahan dan penyimpanan informasi yang dikumpulkan dalam bentuk tercetak maupun dalam tidak tercetak. Selain itu perpustakaan berperan dalam media untuk meneliti, mengkaji dan mengembangkan penelitian untuk digunakan sebagai landasan referensi penuntun dalam pengembangan keilmuan kedepannya. Serta Perpustakaan dengan segala karakteristiknya bisa menjadi agen perubah sosial.

Dalam peranannya, perpustakaan sangat berkaitan dengan perubahan sosial. Peranan yang dilakukannya menghubungkan antara sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalam koleksi dan fasilitas perpustakaan dengan para pemustakanya. Selain itu peran perpustakaan adalah sebagai lembaga pendidikan nonformal bagi pemustakanya. Mereka dapat belajar secara otodidak, melakukan penelitian, menggali dan memanfaatkan sumber informasi dan ilmu pengetahuan yang ada di perpustakaan.

Berkaitan dengan banyaknya sumber informasi dan pemustaka yang membutuhkan, serta kemudahan dalam mengaksesnya yang tidak mengenal ruang dan waktu. Pemustaka dengan mudah bisa mendapatkan informasi yang diinginkan. Berbagai bentuk dan media yang menyajikan informasi membuat pemustakanya semakin bertambah. Salah satu sumber informasi itu adalah perpustakaan. Dengan perubahan – perubahan perpustakaan yang ada diharapkan bisa membuat pemustaka lebih sering mengunjungi perpustakaan dibanding sumber informasi yang lain. Didalam perpustakaan banyak pemustaka yang datang memanfaatkan koleksi dan fasilitas sebagai bahan referensi atau rujukan dalam memenuhi kebutuhan informasi.

Dalam perkembangan informasi, dimana didukung dengan adanya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang telah memberikan banyak kemudahan bagi pemustaka untuk mengakses informasi yang dibutuhkannya. Terutama dengan adanya situs search engine di internet. Seolah-olah tidak ada lagi batasan geografis. Informasi dari berbagai penjuru dunia bisa didapatkan dengan mudah, begitu juga dengan ilmu pengetahuan dan pendidikan. Lalu bagaimanakah dengan keberadaan perpustakaan sendiri. Perpustakaan yang merupakan sebuah ruangan yang berisi koleksi-koleksi baik cetak maupun digital yang disusun dengan sistematika tertentu juga menyediakan informasi yang melimpah yang tak kalah dengan internet. Sehingga di zaman sekarang perpustakaan pun telah mengadaptasi teknologi informasi untuk menunjang operasional perpustakaan sehingga lebih dinamis dan sesuai perkembangan zaman yang menuntut perkembangan informasi dan perluasannya yang sangat cepat. Pergeseran fungsi perpustakaan juga tampak nyata dalam realisasinya, yang dahulu hanya sebagai penyimpan dokumen maupun informasi, namun sekarang telah berubah sebagai penyedia dan penyalur informasi yang terus berkembang pesat yaitu salah satunya adanya teknologi informasi.

Perkembangan informasi dan teknologi yang begitu pesat berdampak pada perpustakaan, khususnya perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi terdiri dari Perpustakaan Universitas, Akademik, Sekolah Tinggi, dan Institut. Pada awalnya perpustakaan hanya berisi koleksi buku-buku ataupun majalah yang tergolong ke dalam koleksi cetak, namun dengan perkembangan teknologi informasi, koleksi perpustakaan menjadi berkembang, dalam bentuk CD, file digital dll. Dengan kehadiran teknologi informasi di perpustakaan memudahkan bagi pustakawan untuk mengelola koleksi dan sumber informasi atau juga menyusahkan pustakawan dalam pengaplikasian maupun perawatannya.

Di dalam kegiatan operasionalnya, perpustakaan mempunyai aturan yang mengatur  semua  aspek. Mulai dari petugas sampai pemustaka jasa layanan perpustakaan. Dimana aturan tentang perpustakaan diatur  dalam Undang-undang  Nomor  43  tahun  2007  tentang Perpustakaan terdapat pada “pasal 6” tentang hak, kewajiban dan kewenangan anggota perpustakaan. Pemaknaan akan “pasal 6” ini menjelaskan bahwa setiap anggota masyarakat atau  pemustaka layanan perpustakaan harus menjaga perpustakaan, baik kelestarian koleksi  perpustakaan,  mematuhi aturan dan ketentuan perpustakaan dan keamanan,  ketertiban serta  kenyamanan lingkungan perpustakaan.

Pelanggaran yang terjadi di perpustakaan merupakan ketidaksesuaian  antara  aturan dan  kenyataan.  Ketidaksesuaian  antara  yang ideal  dan  kenyataan  tersebutlah  yang  disebut dengan penyimpangan. Menurut Becker (Horton.1999:191) ‘bahwa penyimpangan bukanlah kualitas dari sesuatu tindakan yang dilakukan  seseorang,  melainkan  konsekuensi  dari adanya  peraturan  dan  penerapan  sanksi  yang dilakukan  oleh  orang  lain  terhadap  pelaku tindakan tersebut’. Bisa dikatakan pelanggaran yang dilakukan anggota perpustakaan  tersebut sebagai penyimpangan dari konsekuensi aturan yang ada. Pelanggaran yang dilakukan setiap pemustaka di perpustakaan dikatakan menyimpang karena melanggar aturan yang ada di perpustakaan. Dikarenakan aturan – aturan yang ada di perpustakaan perguruan tinggi terlalu mengikat pribadi para pemustaka, sehingga membuat perilaku pemustaka sedikit menyimpang.

Perpustakaan  diklasifikasikan  sesuai dengan  kebutuhan  pemakai  atau  pemustakanya seperti perpustakaan umum, perpustakaan khusus, perpustakaan  sekolah,  perpustakaan  perguruan tinggi  dan  perpustakaan  nasional.  Perpustakaan yang  akan  dibahas  dalam  penulisan  ini  adalah perpustakaan perguruan tinggi. Dimana Hermawan (2006:34) mengemukakan  bahwa  secara  umum  tujuan perpustakaan  perguruan  tinggi  adalah menunjang  tri  dharma  Perguruan  Tinggi,  yaitu penyelenggaraan  pendidikan,  penelitian  dan pengabdian  kepada  masyarakat.  Secara  khusus adalah  untuk  membantu  para  dosen  dan mahasiswa,  serta  tenaga  kependidikan  di perguruan tinggi dalam proses pembelajaran.

I.2  Permasalahan
Berdasarkan uraian di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan bagaimana kesiapan perpustakaan sebagai penyedia informasi yang mengadaptasi teknologi informasi ke dalam perpustakaan, dalam kaitannya penyimpangan pemustaka informasi media dan perubahan sosial dalam pencarian informasi?

Penulisan ini mengungkapkan secara mendalam tentang  perilaku  manusia  dalam  suatu realitas. Tipe penulisan ini adalah studi kasus intrinsik karena penulis ingin  mendapatkan pemahaman yang lebih baik tentang pelanggaran yang dilakukan mahasiswa dalam pemanfaatan perpustakaan perguruan tinggi. Teknik pengumpulan  data  dalam penulisan ini adalah  observasi, wawancara dan dokumentasi.

II. Pembahasan
II.1  Perilaku Menyimpang

Perilaku menyimpang yang biasa dilakukan pemustaka di perpustakaan yaitu merobek koleksi perpustakaan, memotret karya ilmiah (skripsi) di perpustakaan, mengacak-acak, menyembunyikan koleksi perpustakaan kelokasi lain, serta di era teknologi penyabotase/ penyalahgunaan jaringan sistem perpustakaan, atau pencurian jaringan internet. Adapun  penyebab dari perilaku menyimpang pemustaka di perpustakaan sebagai berikut:

1. Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan yang ada di lingkungan masyarakat. Pemustaka yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna.

Selain itu Kuatnya norma yang mengatur pemustaka layanan perpustakaan menyebabkan pemustaka melakukan penyimpangan. Hirschi, menjelaskan pengendalian terhadap penyimpangan tidak hanya dari pengendalian bathin tapi juga pengendalian luar. Pengendalian luar terdiri atas orang-orang yang berpengaruh terhadap individu agar tidak menyimpang (Hirschi dalam Henslin  2007:154). Dilihat di  perpustakaan perguruan tinggi, petugas perpustakaan mempunyai kendali untuk mengatur pemustaka agar tidak menyimpang. Kenyataannya, aturan yang ada memaksa mahasiswa menyimpang karena mahasiswa merasa aturan tersebut terlalu berlebihan dan aturannya terlalu ketat terutama pada ruang layanan umum, ruang layanan skripsi/ tesis/ disertasi/ jurnal, serta ruang layanan baca elektronik. Sehingga mahasiswa  merobek koleksi atau memotret koleksi, serta berusaha mencuri atau membobol file yang ada di komputer.

2. Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial.

Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial dapat mengakibatkan terjadinya perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang. Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang.

Sosialisasi menurut Abdulsyani (2007:57) merupakan proses belajar yang dilakukan oleh seseorang (individu) untuk berbuat atau bertingkah laku berdasarkan patokan yang terdapat dan diakui dalam masyarakat. Sosialisasi merupakan usaha memasukkan nilai – nilai kebudayaan terhadap individu sehingga individu tersebut menjadi bagian masyarakat. Adanya kesadaran bahwa seseorang sedang disosialisasikan atau sengaja mensosialisasikan diri terhadap kebiasaan kelompok tertentu merupakan kunci kesempurnaan  sosialisasi dalam masyarakat.

Ketidaktahuan pemustaka layanan perpustakaan karena kurangnya perhatian terhadap aturan atau tata tertib yang ada di perpustakaan. Setiap aturan yang menyangkut aturan perpustakaan telah disosialisasikan saat layanan pendidikan pemakai pada setiap mahasiswa baru. Aturan perpustakaan tidak hanya disosialisasikan pada pendidikan layanan pemustaka, tapi sudah dicantumkan dalam buku pedoman UPT Perpustakaan perguruan tinggi yang telah dimiliki setiap mahasiswa yang mengikuti pendidikan layanan perpustakaan. Aturan tersebut juga ditempel pada pintu sebelum memasuki ruangan atau pada dinding dalam ruangan tersebut. Aturan tersebut tidak sepenuhnya  diperhatikan dan dijalankan oleh pemustaka.  Saat  mereka  ketahuan melanggar aturan, pemustaka selalu berwajah bingung. Pemustaka seperti tidak mengerti terhadap aturan yang ada. Sosialisasi aturan perpustakaan pada setiap mahasiswa baru bertujuan untuk menciptakan ketertiban dan kenyaman pemustakanya. Ketertiban merupakan cermin adanya patokan, pedoman dan petunjuk bagi  individu  di dalam pergaulan hidupnya (Dirjosisworo. 2008:133). Terciptanya ketertiban tidak lepas dari keterlibatan pengguna layanan perpustakaan sendiri.

Menurut Hirschi penyimpangan tidak akan terjadi jika ada pengendalian batin. Involvement (keterlibatan) menurutnya merupakan faktor pengendalian dari luar individu. Individu merasa terlibat ke dalam aktivitas di lingkungannya dan mempunyai tanggung jawab untuk menjaga  apa  yang telah disetujui bersama.

II.2  Perubahan Sosial Masyarakat
Pengertian perubahan sosial, menurut ”Gillin and Gillin” adalah suatu variasi dan cara-cara hidup yang telah diterima baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan, komposisi penduduk, ideologi maupun karena adanya difusi (penemuan-penemuan baru dalam masyarakat) Diambil dari (http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2345324-pengertian-contoh-perubahan-sosial-di/, pada tanggal 26-05-2014 pukul 00.51 wib).

Menurut ”Rogers”, perubahan sosial melewati beberapa tahap, diantaranya:

1. Invensi, yaitu suatu situasi atau kondisi seseorang untuk menciptakan ide. Ide tersebut bisa datang dari bahan pustaka, penelitian orang lain atau tulisan orang lain.

2. Adopsi, yaitu suatu proses yang menunjukkan bahwa informasi tersebut bisa diterima oleh individu maupun masyarakat

3. Konsekuensi, yaitu keadaan individu atau masyarakat untuk bisa menerima atau menolak terhadap perubahan tersebut.

II.2.1. Sifat Dan Proses Perubahan

Dalam proses perubahan akan menghasilkan penerapan diri konsep atau ide terbaru, Menurut Lancaster tahun 1982,  proses perubahan memiliki tiga sifat diantaranya perubahan bersifat berkembang , spontan dan di rencanakan.

1. Perubahan bersifat berkembang       

Sifat perubahan ini mengikuti dari proses perkembangan yang baik pada individu, kelompok atau masysrakat secara umum , proses perkembangan ini dimulai dari keadaan atau yang paling besar menuju keadaan yang optimal atau matang ,sebagai mana dalam perkembangan manusia sebagai mahluk individu yang memiliki sifat yang selalu berubah dalam tingkat perkembangan nya.

2. Perubahan bersifat spontan

Sifat perubahan ini dapat terjadi karena keadaan yang dapat memberikan respon tersendiri terhadap kejadian-kejadian yang bersifat alamiah yang  diluar kehendak manusia yang tidak diramalkan atau diprediksi hingga sulit untuk di antisipasi seperti perubahan keadaan alam, tanah longsor banjir dll. Semuanya akan menimbulkan terjadi perubahan baik dalam diri, kelompok atau masyarakat bahkan pada sistem yang mengaturnya.

3. Perubahan bersifat direncanakan

Perubahan bersifat direncanakan ini dilakukan bagi individu, kelompok atau masyarakat yang ingin mengadakan perubahan yang kearah yang lebih maju atau mencapai tingkat perkembangan yang lebih baik dari keadaan yang sebelumnya, sebagaimana perubahan dalam sistem pendidikan keperawatan di Indonesia yang selalu mengadakan perubahan sejalan dengan perkembangan ilmu kedokteran dan sistem pelayanan kesehatan pada umumnya.
Diambil dari (http://zharfashani.blogspot.com/2011/11/makalah-teori-perubahan-rogers.html, pada tanggal 26-05-2014 pukul 01.11 wib).

Proses perubahan masyarakat (social change) terjadi karena manusia adalah makhluk yang berfikir dan bekerja. Selain itu manusia juga selalu berusaha untuk memperbaiki nasibnya dan sekurang-kurangnya berusaha untuk mempertahankan hidupnya.

Dalam keadaan demikian, terjadilah sebab-sebab perubahan (menurut Robert L. Sutherland, dkk.) yaitu : Inovasi (penemuan baru/perubahan), Invensi (penemuan baru), Adaptasi (penyesuaian secara sosial dan budaya), Adopsi (penggunaan dan penemuan baru/teknologi). Telah dinyatakan, bahwa perubahan masyarakat dalam abad ini terutama disebabkan oleh kemajuan teknologi yang tidak lain merupakan hasil kemajuan ilmu pengetahuan (mental) manusia itu sendiri. Diambil dari (http://www.scribd.com/doc/6592742/Perubahan-Sosial#, pada tanggal 26-05-2014 pukul 01.17 wib).

Jadi, dalam proses perubahan sosial diharapkan pemustaka didalam pemanfaatan perpustakaan dan bahan pustaka harus mengikuti perubahan teknologi. Dikarenakan adanya perkembangan teknologi di era informasi sehingga tanpa mengarahkannya pada kemunduran tetapi lebih menjadikannya kepada suatu kemajuan untuk perkembangan suatu perpustakaan dan informasi. Kemudian, tidak semua penemuan baru/modernisasi mengalami penyebaran (diffusion) dan penggunaan (adoption), sehingga karenanya kemajuan teknologi kadang-kadang juga tidak mengakibatkan perubahan pada pemustaka. Salah satu dasar agar perubahan pemustaka dan kemajuan teknologi dapat dipergunakan untuk kemajuan sosial adalah, bahwa penggunaan sesuatu yang baru diadakan dalam pemustaka yang sudah disiapkan untuk mengadakan kemajuan pemustaka yang diinginkan.

II.3 Perubahan Perpustakaan

Perpustakaan adalah salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk digunakan oleh pemustaka sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan (Darmono, 2 : 2001).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan adalah suatu organisasi yang bertugas mengumpulkan informasi, mengolah, menyajikan dan melayani kebutuhan informasi bagi pemustaka perpustakaan. Dari pengertian tersebut terlihat bahwa perpustakaan adalah suatu organisasi, artinya perpustakaan merupakan suatu badan yang di dalamnya terdapat sekelompok orang yang bertanggung jawab mengatur dan mengendalikan perpustakaan.

Tugas utama perpustakaan adalah mengumpulkan informasi, mengolah, menyajikan dan melayani kebutuhan informasi bagi pemakai perpustakaan, jadi perpustakaan berkewajiban mengelola informasi yang dibutuhkan pemakai. Informasi tersebut berupa koleksi berwujud benda tercetak (Seperti buku dan majalah) atau juga terekam (seperti kaset, CD, film, dan sebagainya). Namun pada kenyataannya belum seluruhnya perpustakaan telah melaksanakan peran dan fungsinya masing-masing sebagaimana yang diharapkan.

Efektivitas pemakaian perpustakaan oleh pemustakanya sangat bergantung pada apa yang tersedia didalamnya. Salah satu yang paling dominan dan menonjol adalah sumber informasi yang tersedia. Dengan menyediakan sumber informasi yang berkualitas disesuaikan dengan situasi dan kondisi pemustaka merupakan satu elemen terpenting. Apabila kebutuhan informasi terpenuhi, tentu saja fungsi utama perpustakaan dapat dipastikan berjalan dengan baik. Dan ujung dari kesemuanya adalah kepuasan pemustaka.

Diambil dari (http://hanakristina.wordpress.com/2010/03/31/perubahan-perpustakaan-perilaku-pemustaka-dalam-mencari-infomasi/, pada tanggal 26-05-2014 pukul 02.38 wib).

II.3.1 Perpustakaan Konvensional menuju Perpustakaan Digital

Perpustakaan digital adalah sebuah sistem yang memiliki berbagai layanan dan obyek informasi yang mendukung akses obyek informasi tersebut melalui perangkat digital (Sismanto, 2008). Layanan ini diharapkan dapat mempermudah pencarian informasi di dalam koleksi obyek informasi seperti dokumen, gambar dan database dalam format digital dengan cepat, tepat dan akurat. Perpustakaan digital itu tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan sumber-sumber lain dan pelayanan informasinya terbuka bagi pengguna diseluruh dunia. Koleksi perpustakaan digital tidaklah terbatas pada dokumen elektronik pengganti bentuk cetak saja. Koleksi menekankan pada isi informasi, jenisnya dari dokumen konvensional sampai hasil penelusuran.

Perbedaan perpustakaan biasa dengan perpustakaan digital terlihat pada keberadaan koleksi. Koleksi digital tidak harus berada disebuah tempat fisik sedangkan koleksi biasa teletak pada sebuah tempat yang menetap yaitu perpustakaan. Perbedaan kedua terlihat dari konsepnya. Konsep perpustakaan digital identik dengan internet atau komputer, sedangkan konsep perpustakaan biasa adalah buku-buku yang terletak pada suatu tempat. Perbedaan ketiga, perpustakaan digital bisa dinikmati pemustaka dimana saja.

Ada beberapa hal yang mendasari pemikiran tentang perlu dilakukannya digitalisasi perpustakaan sebagai berikut :

1. Perkembangan teknologi informasi di komputer semakin membuka peluang-peluang baru bagi pengembangan teknologi informasi perpustakaan yang murah dan mudah di implementasikan oleh perpustakaan di perguruan tinggi. Oleh karena itu, saat ini teknologi informasi sudah menjadi keharusan bagi perpustakaan di perguruan tinggi, terlebih untuk menghadapi tuntutan kebutuhan proses belajar mengajar sebuah perguruan tinggi yang berbasis pengetahuan terhadap informasi di masa mendatang.

2. Perpustakaan sebagai lembaga edukatif, informative, perservatif dan rekreatif yang diterjemahkan sebagai bagian aktifitas ilmiah, tempat penelitian, tempat pencarian data/informasi yang otentik, tempat menyimpan, tempat menyelenggarakan seminar dan diskusi ilmiah, tempat rekreasi edukatif, dan komtemplatif. Maka perlu didukung dengan sistem teknologi informasi masa kini dan masa yang akan datang yang sesuai dengan kebutuhan untuk mengakomodir aktifitas tersebut, sehingga informasi dari seluruh koleksi yang ada dapat diakses oleh berbagai pihak yang membutuhkannya dari dalam maupun luar negeri.

3. Dengan fasilitas digitalisasi perpustakaan, maka koleksi-koleksi yang ada dapat dibaca/ dimanfaatkan oleh pemustaka luas baik di ruang lingkup internal perguruan tinggi, maupun pemustaka dari luar perguruan tinggi yang berbeda.

4. Volume pekerjaan perpustakaan yang akan mengelola puluhan ribu hingga ratusan ribu, bahkan bisa jutaan koleksi. Sehingga perlu didukung dengan sistem otomasi yang futuristic (punya jangkauan kedepan), sehingga selalu dapat mempertahankan layanan yang prima.

5. Saat ini sudah banyak perpustakaan, khususnya di perguruan tinggi dengan kemampuan dan inisiatifnya sendiri telah merintis pengembangan teknologi informasi dengan mendigitasi perpustakaan (digital library) dan libarary automation yang saat ini sudah mampu membuat sistem jaringan Perpustakaan Digital.

Beberapa keunggulan perpustakaan digital yang dibantu dengan teknologi informasi diantaranya adalah sebagai berikut. Pertama, long distance service, artinya dengan perpustakaan digital, pemustaka bisa menikmati layanan sepuasnya, kapanpun dan dimanapun. Kedua, akses yang mudah. Akses perpustakaan digital lebih mudah dibanding dengan perpustakaan konvensional, karena pemustaka tidak perlu dipusingkan dengan mencari di katalog dengan waktu yang lama. Ketiga, murah (soct effective). Perpustakaan digital tidak memerlukan banyak biaya. Mendigitalkan koleksi perpustakaan lebih murah dibandingkan dengan membeli buku. Keempat, mencegah duplikasi dan plagiat. Perpustakaan digital lebih aman, sehingga tidak akan mudah untuk plagiat. Bila penyimpanan koleksi perpustakaan menggunakan format PDF, koleksi perpustakaan hanya bisa dibaca oleh pemustaka, tanpa bisa mengeditnya. Kelima, pubikasi karya secara global. Dengan adanya perpustakaan digital karya-karya dapat dipublikasikan secara global ke seluruh dunia dengan bantuan internet. Selain keunggulan, perpustakaan digital juga memiliki kelemahan. Pertama, tidak semua pemustaka mengijinkan karyanya didigitallkan. Pastinya, pemustaka akan berpikir tentang keabsahan dari tulisannya bila karyanya didigitalkan. Kedua, masih banyak pemustaka yang belum mempunyai etika akan teknologi. Apabila perpustakaan digital ini dikembangkan dalam perpustakaan di perguruan tinggi. Ketiga, masih sedikit pustakawan yang belum mengerti tentang cara cara mendigitalkan koleksi perpustakaan. Itu artinya butuh sosialisasi dan penyuluhan tentang perpustakaan digital.

III. Kesimpulan Dan Saran

Dengan adanya perubahan sosial yang terjadi di kalangan pemustaka pada era ini disebakan oleh kemajuan teknologi yang semakin berkembang. Sehingga setidaknya pemustaka harus menyesuaikan diri dengan perkembangan yang ada. Begitu juga dengan perpustakaan. Perpustakaan juga semakin berubah dan berkembang dari perpustakaan konvensional ke perpustakaan digital. Dimana penerapan sistem perpustakaan digital dengan menerapkan teknologi informasi sebagai sarana untuk menyimpan, mendapatkan dan menyeberluaskan informasi ilmu pengetahuan dalam format digital.

Salah satu perubahan sosial pada perpustakaan dilihat dari sikap pemustaka saat ini adalah kenyataan di dalam mencari informasi melalui internet dengan menggunakan fasilitas web search engine. Banyak pemustaka pada umumnya akhirnya malas untuk mencari informasi di perpustakaan ataupun pusat informasi karena menurut pemustaka terlalu repot harus datang ke perpustakaan mencari yang di inginkan, belum lagi koleksi perpustakaan tersebut sangat terbatas, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan informasi yang diperlukan pemustaka. Tetapi adanya perubahan fasilitas yang ada pada perpustakaan diharapkan pemustaka bisa memanfaatkan layanan perpustakaan didalam menemukan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka tersebut.

Penyebab dari perilaku menyimpang pemustaka di perpustakaan Ketidaksanggupan menyerap norma-norma kebudayaan yang ada di lingkungan. Pemustaka yang tidak sanggup menyerap norma-norma kebudayaan ke dalam kepribadiannya, ia tidak dapat membedakan hal yang pantas dan tidak pantas. Keadaan itu terjadi akibat dari proses sosialisasi yang tidak sempurna. Kemudian penyebab yang lain penyebab dari perilaku menyimpang adalah Ketegangan antara kebudayaan dan struktur sosial. Terjadinya ketegangan antara kebudayaan dan struktursosial dapat mengakibatkan terjadinya perilaku yang menyimpang. Hal itu terjadi jika dalam upaya mencapai suatu tujuan seseorang tidak memperoleh peluang, sehingga ia mengupayakan peluang itu sendiri, maka terjadilah perilaku menyimpang. Ikatan sosial yang berlainan. Setiap orang umumnya berhubungan dengan beberapa kelompok. Jika pergaulan itu mempunyai pola-pola perilaku yang menyimpang, maka kemungkinan ia juga akan mencontoh pola-pola perilaku menyimpang.

Daftar Pustaka

Abdulsyani. 2007. Sosiologi Sistematika, Teori dan Terapan. Jakarta: Bumi Aksara.

Dirdjosisworo, Soedjono. 2008. Pengantar Ilmu Hukum. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Hermawan,  Rachman  dan  Zulfikar  Zen.  2006. Etika Kepustakawanan: Suatu Pengantar

Terhadap  Kode  Etik  Pustakawanan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.

Henslin,  James  M.  2007.  Sosiologi  dengan Pendekatan Membumi. Jakarta: Erlangga.

Horton,  Paul  B.  1999.  Sosiologi.  Jakarta: Erlangga.

Susanto, Astrid S. 1983. “Pengantar Sosiologi Dan Perubahan Sosial”. Jakarta: Bina Cipta

Sismanto. 2008. Manajemen Perpustakaan Digital.
(http://mkpd.wordpress.com/2008/09/08/kupas-buku-manajemen-perpustakaandigital/, pada tanggal 26-05-2014 pukul 02.51 wib).

UU Nomor 43 Perpustakaan tahun 2007

Diambil dari (http://id.shvoong.com/social-sciences/sociology/2345324-pengertian-contoh-perubahan-sosial-di/, pada tanggal 26-05-2014 pukul 00.51 wib).

Diambil dari (http://zharfashani.blogspot.com/2011/11/makalah-teori-perubahan-rogers.html, pada tanggal 26-05-2014 pukul 01.11 wib).

Diambil dari (http://www.scribd.com/doc/6592742/Perubahan-Sosial#, pada tanggal 26-05-2014 pukul 01.17 wib).

Diambil dari (http://hanakristina.wordpress.com/2010/03/31/perubahan-perpustakaan-perilaku-pemustaka-dalam-mencari-infomasi/, pada tanggal 26-05-2014 pukul 02.38 wib).