Pola Penggunaan Sumber Informasi Di Perpustakaan Oleh Pemustaka

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

Salah satu sarana penunjang program tridarma perguruan tinggi adalah perpustakaan. Perpustakaan berkewajiban melaksanakan tugasnya dalam hal memilih, menghimpun, mengolah, merawat, serta melayankan sumber informasi kepada lembaga induk dan sivitas akademika di lingkungannya. Kebutuhan informasi dosen dan mahasiswa wajib dipenuhi oleh perpustakaan, dengan menyediakan bahan pustaka rujukan pada semua jenjang akademis, ruang belajar, jasa peminjaman serta penyediaan jasa informasi aktif bagi pengguna (Septiyantono, dkk., 2003).
Berhasil dan tidaknya perpustakaan dalam mendukung proses pembelajaran di lingkungannya ditentukan oleh ketersediaan sumber informasi yang dimiliki. Besar kecilnya potensi sumber informasi di perpustakaan dalam pemenuhan kebutuhan pemustaka mampu membangun persepsi pemustaka terhadap perpustakaan. Sumber informasi di perpustakaan yang berpotensi lebih tinggi dalam pemenuhan kebutuhan pemustaka, akan dipersepsikan baik oleh pengguna. Sebaliknya apabila sumber informasi hanya berpotensi rendah dalam pemenuhan kebutuhan pemustaka berakibat pada persepsi yang tidak baik terhadap perpustakaan (Munir, 2006). Dengan demikian penyediaan sumber informasi di perpustakaan yang berpotensi tinggi dalam mendukung kebutuhan pemustaka dapat dipergunakan sebagai indikator evaluasi sebuah perpustakaan.

Hampir seluruh pemustaka di perpustakaan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada adalah mahasiswa yang sedang menempuh program studi strata satu (berjenjang studi strata satu) dan program studi pascasarjana (berjenjang studi pascasarjana). Kebutuhan informasi mereka berbeda antara jenjang studi strata satu dengan jenjang studi pascasarjana. Mahasiswa berjenjang studi strata satu lebih banyak membutuhkan literatur yang bersifat dasar atau pengenalan, sedangkan mahasiswa berjenjang studi pascasarjana lebih membutuhkan literatur yang bersifat terapan, lengkap dan lebih spesifik pembahasannya. Konsekuensinya perpustakaan harus jeli dan teliti dalam menyediakan kebutuhan informasi yang berbeda pada masing-masing jenjang studi.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian di atas, permasalahan yang timbul adalah: sejauh mana penyediaan sumber informasi di perpustakaan Fakultas Psikologi UGM memenuhi kebutuhan pemustaka. Sehubungan dengan hal tersebut, pertanyaan yang diajukan dalam kajian ini adalah: Bagaimana pola pemanfaatan sumber informasi di Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM oleh pemustaka?
Secara rinci pertanyaan tersebut dirumuskan sebagai berikut: (1) Apakah tujuan pemustaka memanfaatkan sumber informasi di perpustakaan? (2) Jenis sumber informasi apa yang dibutuhkan oleh pemustaka? (3) Seberapa penting sumber informasi yang dipergunakan pemustaka? (4) Bagaimana relevansi dan kemutakhiran sumber informasi yang dipergunakan pemustaka? (5) Bagaimana frekuensi pemustaka menggunakan sumber informasi di perpustakaan? (6) Bagaimana tingkat kepuasan pemustaka terhadap sumber informasi yang dipergunakan?

C. Tujuan dan Manfaat
Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pola pemanfaatan sumber informasi dan tingkat kepuasan pemustaka terhadap sumber informasi yang tersedia di perpustakaan Fakultas Psikologi UGM. Hasil penelitian diharapkan bermanfaat sebagai bahan evaluasi perpustakaan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada terkait dengan pengadaan sumber informasi dengan mempertimbangkan kebutuhan pemustaka dalam hal ini mahasiswa berdasarkan jenjang studi.

TINJAUAN PUSTAKA

Pola penggunaan sumbe informasi telah banyak dilakukan oleh peneliti di luar negeri maupun di dalam negeri. Beberapa kajian terkait dengan pola penggunaan sumber informasi di luar negeri antara lain dilakukan oleh Devi dan kawan-kawan pada tahun 2012. Hasil menunjukkan bahwa buku merupakan jenis sumber informasi yang dipergunakan paling tinggi dibanding dengan jenis sumber informasi yang lain. Baer dan Lisha (2009), juga mengkaji tentang pola pemanfaatan perpustakaan dan informasi oleh mahasiswa sarjana, pascasarjana, serta dosen di Georgia Institute of Technology. Hasilnya menemukan bahwa frekuensi tertinggi penggunaan perpustakaan untuk keperluan belajar dilakukan oleh mahasiswa program sarjana. Penelitian yang lain dilakukan oleh Cool dan Hong (http://www.sois.uuwm.edu/Xie/ IrisArticles). Temuan yang menarik pada penelitian tersebut adanya multidimensi pola perilaku di lingkungan perpustakaan, dimana ada perbedaan antara aksesibilitas, frekuensi penggunaan, dan kepuasan, namun ketiga dimensi tersebut setara satu dengan yang lain. Doraswamy (2010) melakukan kajian pola penggunaan informasi pada mahasiswa pascasarjana di P.B Siddharta College of Arts and Sciences, India, menemukan bahwa lebih dari 60% responden menggunakan perpustakaan setiap hari untuk membaca dan meminjam koleksi. Di samping itu juga ditemukan bahwa hampir 93% responden merasa puas dengan semua layanan yang tersedia pada perpustakaan tersebut.
Kajian serupa juga pernah dilakukan di Indonesia, antara lain oleh Rahayu (http://lontar.ui.ac.id/opac/themes), mengenai pola penggunaan informasi dalam proses perencanaan pembangunan daerah di Kalimantan Timur. Nurdiyani (2011), kajian pemanfaatan UPT Perpustakaan Universitas Kahirun Ternate oleh mahasiswa pengguna, hasilnya menunjukkan bahwa koleksi perpustakaan sudah sesuai dengan kebutuhan, mereka menyatakan puas terhadap layanan yang diberikan oleh petugas, dan sarana prasana yang tersedia sudah terpenuhi. Penelitian Maksum (2010), mengenai pemanfaatan hasil penelitian oleh peneliti dan penyuluh, menunjukkan bahwa peneliti dan penyuluh pertanian memanfaatkan hasil penelitian untuk: acuan penelitian lanjutan, transfer ilmu pengetahuan, dan dalam menyusun karya tulis mereka. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa terdapat hubungan nyata antara aksesibilitas terhadap informasi dengan pemanfaatan hasil penelitian pertanian oleh penyuluh dan peneliti. Suryantini (2004) mengenai pemanfaatan informasi teknologi pertanian oleh penyuluh pertanian (sebuah kasus di Kabupaten Bogor Jawa Barat) Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa sumber informasi yang diperoleh responden lebih banyak dimanfaatkan untuk penyusunan bahan materi penyuluhan dan pengajaran pada kursus atau pendidikan dan pelatihan tani.
Sepengatahuan penulis kajian mengenai pola penggunaan sumber informasi di perpustakaan Fakultas Psikologi UGM oleh pemustaka belum pernah dilakukan. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis mencoba mengkaji tentang pola penggunaan sumber informasi di Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM oleh pemustaka dalam hal ini mahasiswa pada semua jenjang studi.

A. Evaluasi Sumber Informasi Perpustakaan
Dalam rangka pembinaan dan pengembangan koleksi perpustakaan, sebuah perpustakaan harus mampu mengenali masyarakat pengguna perpustakaan, mengusahakan ketersediaannya pada saat diperlukan, dan mendorong pemustaka untuk menggunakan fasilitas yang disediakan. Adapun pengembangan koleksi dimaksudkan untuk membina secara baik sesuai dengan kondisi perpustakaan dan masyarakat pengguna (Septiyantono dan Sidik, 2003).
Agar keberlangsungan pembinaan dan pengembangan koleksi sumber informasi perpustakaan dapat terjaga, perlu dilakukan evaluasi secara konsisten. Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris evaluation, yang diartikan sebagai ”proses penilaian” (http://id.www.wikipedia. org/wiki/Evaluasi). Evaluasi terhadap sumber informasi perpustakaan pada umumnya lebih difokuskan pada pemanfaatan sumber informasi oleh pengguna. Evaluasi ini dapat dipergunakan untuk mengetahui sejauh mana sumber informasi berpotensi memenuhi kebutuhan pengguna (Wedgeworth, dalam Zulaikha, 2003).
Menurut Reitz (2006), dalam http://lu.com/odlis/index.cfm, mendefinisikan bahwa evaluasi sumber informasi adalah penilaian yang dilakukan secara sistematis terhadap kualitas sumber informasi di perpustakaan untuk pengembangannya. Layanan perpustakaan yang berorientasi padapemustaka, akan selalu melibatkan pemustaka dalam proses evaluasi sumber informasi yang tersedia di perpustakaan.

B. Penggunaan Sumber informasi di Perpustakaan
Penggunaan sumber informasi di lingkungan perguruan tinggi tergantung pada kebutuhan dan motivasi tertentu dari mahasiswa. Kebutuhan dan motivasi tersebut akan menggerakkan individu untuk berbuat sesuatu agar kebutuhannya terpenuhi. Menurut Katz et.al. dalam Wardhani (1994), kebutuhan informasi termasuk dalam kelompok kebutuhan kognitif, yaitu kebutuhan yang didasari oleh dorongan untuk memahami dan menguasai lingkungan, memuaskan keingintahuannya, serta penjelajahan. Kebutuhan informasi dan motivasi pemustaka dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal berasal dari diri pengguna, antara lain: ingin tahu dan menambah wawasan, sedangkan faktor eksternal berasal dari luar diri pemustaka, misalnya menyelesaikan tugas-tugas belajar atau tugas-tugas yang lain.
Level pendidikan yang lebih tinggi serta beragamnya kebutuhan informasi mahasiswa, berakibat pada beragamnya jenis sumber informasi yang tersedia di perpustakaan. Jenis-jenis sumber informasi tersebut antara lain: buku teks, majalah ilmiah atau jurnal, karya-karya penelitian, prosiding, serta koleksi referensi yang lain. Menurut Lasa (2009) buku teks berisi ilmu pengetahuan bidang tertentu dan digunakan sebagai bahan pelajaran dan dapat dipelajari secara mandiri. Publikasi ini ditulis oleh satu orang atau lebih, dan terbitnya tidak berkala. Majalah ilmiah atau jurnal adalah publikasi yang menyajikan artikel-artikel hasil penelitian primer. Artikel yang dimuat harus memenuhi standar yang telah ditetapkan. Publikasi jurnal biasanya diterbitkan secara berkala. Karya-karya penelitian atau karya tulis ilmiah merupakan kajian, tinjauan, ulasan ilmiah atau hasil kegiatan ilmiah dengan menggunakan aturan dan format tertentu, serta mengikuti aturan dan etika penulisan ilmiah yang berlaku.
Pembinaan sumber informasi dalam rangka pemenuhan kebutuhan pemustaka perlu diperhatikan relevansi sumber informasi. Relevansi ini dapat dilihat dari beberapa sisi, antara lain: relevansi berdasarkan pemustaka, kegunaan, situasional, pertimbangan subjektif, dan relevansi secara psikologis (Lasa, 2009). Unsur lain yang perlu diperhatikan dalam pembinaan koleksi adalah kemutakhiran. Tingkat kemutakhiran sumber informasi mencerminkan tingkat kekinian sumber informasi. Batasan yang umum untuk sumber informasi baru adalah yang berusia 0-5 tahun (Hermanto, 2004).
Pembinaan dan pengembangan sumber informasi dengan memperhatikan relevansi dan kemutakhirannya, akan menarik pemustaka untuk selalu memanfaatkan sumber informasi di perpustakaan. Terpenuhinya kebutuhan pemustaka terhadap sumber informasi di perpustakaan, akan menimbulkan perasaan puas bagi pemustaka.

METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang menggunakan prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian berdasarkan fakta-fakta yang tampak seperti apa adanya (Nawawi, 2007). Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu. Dalam penelitian ini berusaha untuk menggambarkan situasi atau kejadian. Data yang dikumpulkan semata-mata bersifat deskriptif sehingga tidak bermaksud mencari penjelasan, menguji hipotesis, membuat prediksi maupun mempelajari implikasi (Azwar, 2005).

A. Subjek
Dikemukakan oleh Azwar (2005), bahwa populasi merupakan kelompok subjek yang hendak dikenai generalisasi hasil penelitian. Oleh karena itu subjek kajian harus memiliki ciri-ciri atau karakteristik-karakteristik bersama yang membedakannya dari kelompok subjek yang lain. Pada kajian ini subjeknya adalah pengguna perpustakaan dalam hal ini mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada berjenjang studi strata satu dan pascasarjana yang bersedia mengisi angket yang dibagikan ketika mereka menggunakan sumber informasi di perpustakaan.
Teknik pengambilan sampel dengan metode convenient, yaitu metode dimana angket diberikan kepada mahasiswa berjenjang studi strata satu maupun pascasarjana yang mengggunakan sumber informasi di perpustakaan Fakultas Psikologi UGM dan dengan senang hati bersedia mengisi angket tersebut (Kriyantoro, 2007).

B. Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data menggunakan angket. Angket mempunyai banyak kebaikan sebagai alat pengumpul data, apabila cara dan pembuatannya mengikuti persyaratan yang telah digariskan dalam penelitian. Meskipun demikian metode angket juga memiliki kelemhana, dan salah satunya adalah sulit kembali (Arikunto, 2010).
Angket dengan pertanyaan tertutup dimaksudkan bahwa jawaban sudah ditentukan terlebih dahulu dan responden tidak diberi kesempatan untuk memberi jawaban lain (Effendi, 2012). Dalam kajian ini disediakan 120 angket untuk dibagikan kepada mahasiswa sebagai pengguna perpustakaan. Namun dari jumlah tersebut hanya sekitar 110 angket yang dikembalikan. Sejumlah angket yang sudah dikembalikan kemudian diperiksa lagi untuk dicek kelengkapan pengisiannya. Setelah dilakukan pemeriksaan ditemukan 17 angket yang tidak dapat diikutsertakan untuk analisis selanjutnya. Penyebabnya adalah responden memilih lebih dari satu jawaban dan bahkan ada yang tidak memberi respon pada beberapa pertanyaan. Dengan demikian ada 93 angket yang dapat disertakan dalam analisis selanjutnya
Pada setiap angket terdiri dari dua bagian. Bagian pertama mengenai isian identitas responden, antara lain untuk mengetahui jenjang studi yang sedang ditempuh. Bagian kedua berisi butir-butir pertanyaan. Ada tujuh butir pertanyaan, dan setiap pertanyaan disertakan tiga atau empat alternatif pilihan jawaban. Ketujuh butir pertanyaan tersebut disesuaikan dengan ruang lingkup penelitian ini yaitu pola penggunaan sumber informasi oleh pengguna perpustakaan.
Adapun butir-butir pertanyaan tersebut meliputi: (1) Tujuan penggunaan sumber informasi, (2) Jenis sumber informasi yang dibutuhkan, (3) Tingkat kepentingan sumber informasi, (4) Relevansi, (5) Kemutakhiran, (6) Frekuensi pemanfaatan sumber informasi, serta (7) Tingkat kepuasan terhadap penggunaan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan Fakultas Psikologi UGM.

C. Analisis Data
Setelah data terkumpul, dilakukan rekapitulasi data kasar untuk selanjutnya dilakukan analisis. Analisis data dengan metode deskriptif kuantitatif menggunakan tabel frekuensi dan prosentase.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada bab sebelumnya sudah dikemukakan bahwa dari 120 angket yang disebarkan kepada pengguna perpustakaan Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, hanya 93 angket yang dapat ditindaklanjuti untuk dilakukan proses analisis. Hasil analisis selengkapnya disajikan pada uraian berikut ini.

1. Tujuan pemanfaatan sumber informasi.
Setelah dilakukan analisis data terhadap 93 angket yang memenuhi syarat untuk dianalisis, diketemukan bahwa 54,85% responden memanfaatkan sumber informasi untuk keperluan penyusunan tugas akhir (skripsi, tesis, atau disertasi). Sementara 35,48% menggunakan sumber informasi di Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM untuk keperluan penyusunan tugas mata kuliah, dan selebihnya untuk menambah wawasan dan lain-lain. Demikian pula secara terpisah antara mahasiswa berjenjang studi strata satu dengan pascasarjana, menunjukkan bahwa penggunaan sumber informasi tertinggi adalah untuk keperluan penyusunan tugas akhir. Rincian selengkapnya dapat dilihat pada tabel 1.

Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa penyediaan sumber informasi di perpustakaan Fakultas Psikologi UGM sangat mendukung penyusunan tugas akhir dan penyusunan tugas matakuliah bagi mahasiswa berjenjang studi strata satu maupun pascasarjana. Kondisi ini sesuai dengan ketentuan Depdiknas mengenai fungsi perpustakaan perguruan tinggi, yaitu fungsi edukasi yang menekankan pada penyediaan koleksi yang mendukung pencapaian tujuan pembelajaran, pengorganisasian bahan pembelajaran setiap program studi, koleksi rentang strategi belajar mengajar dan materi pendukung evaluasi pembelajaran (Depdiknas, 2005).

2. Jenis sumber informasi yang digunakan
Jenis sumber informasi yang tersedia di Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM meliputi buku teks, jurnal, karya-karya penelitian dosen maupun mahasiswa seperti skripsi, tesis, disertasi, serta laporan praktek kerja. Di samping itu tersedia pula koleksi berupa prosiding dan koleksi referensi seperti kamus, ensiklopedi, serta majalah populer. Pada penelitian ini, tiga jenis koleksi yang disebutkan terakhir dikelompokkan dalam jenis koleksi lain-lain.
Berdasarkan penghitungan data yang terkumpul, ditemukan bahwa pemustaka lebih banyak menggunakan sumber informasi berupa buku teks dan karya penelitian. Penggunaan buku teks sebesar 44,08% dan karya penelitian sebesar 43,01%. Secara terpisah, penggunaan jenis sumber informasi buku teks dan karya penelitian pada mahasiswa berjenjang studi strata satu maupun pascasarjana juga hampir sama prosentasenya. Hal ini menunjukkan bahwa kedua jenis sumber informasi tersebut lebih banyak dibutuhkan mahasiswa pada semua jenjang studi. Hasil selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 2.

3. Tingkat kepentingan sumber informasi
Ketika mahasiswa mencari sumber informasi di perpustakaan, tentunya tidak hanya satu sumber informasi yang mereka butuhkan. Ada banyak sumber yang mereka butuhkan, namun pemustaka akan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan tersebut berdasarkan kepentingannya. Seberapa penting sumber-sumber informasi yang telah pemustaka pergunakan untuk mendukung kebutuhannya, berdasarkan data yang diperoleh menunjukkan bahwa 84,96% responden menyatakan bahwa informasi yang dipergunakan “sangat penting”. Antara mahasiswa berjenjang studi strata satu dengan pascasarjana, masing-masing beranggapan bahwa sumber informasi yang pemustaka gunakan “sangat penting” dalam mendukung kebutuhannya. Pada mahasiswa berjenjang studi strata satu ditunjukkan dengan perolehan angka sebesar 43,03% dan mahasiswa berjenjang studi pascasarjana sebesar 41,93%. Rincian selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.

Kondisi di atas menunjukkan bahwa sumber informasi yang tersedia dan dipergunakan oleh mahasiswa berjenjang studi strata satu maupun pascasarjana berada pada taraf yang sangat penting dalam mendukung kebutuhan mereka.

4. Relevansi sumber informasi
Penggunaan sumber informasi dalam mendukung kebutuhan informasi mahasiswa berjenjang studi strata satu maupun pascasarjana, setidak-tidaknya memiliki relevensi dengan kebutuhannya. Berdasarkan tingkat relevansi antara sumber informasi yang digunakan dengan kebutuhan pemustaka, diperoleh hasil bahwa sumber informasi yang “sangat relevan” ditunjukkan dengan prosentase tertinggi yaitu 54,83%. Namun demikian pada mahasiswa berjenjang studi strata satu menunjukkan bahwa relevansi tertinggi diperoleh pada tingkat “relevan” sebesar 30,10%, sedangkan pada mahasiswa berjenjang studi pascasarjana prosentase pada tingkat “sangat relevan” sebesar 31,18% dan pada tingkat “relevan” sebesar 15,07%.
Hal ini menunjukkan bahwa sumber informasi di perpustakaan Fakultas Psikologi UGM telah memenuhi kriteria relevansi, yang perlu diperhatikan dalam pembinaan dan pengembangan koleksi perpustakaan (Lasa, 2009).

Kondisi di atas menunjukkan bahwa sumber informasi yang tersedia di perpustakaan Fakultas Psikologi UGM sudah relevan dalam memenuhi kebutuhan informasi mahasiswa pada semua jenjang studi.

5. Kemutakhiran sumber informasi
Unsur lain yang perlu diperhatikan dalam pembinaan koleksi atau sumber informasi perpustakaan yang adalah kemutakhiran. Berdasarkan penghitungan data yang terkumpul ditemukan bahwa sumber informasi yang digunakan berada pada tingkat “mutakhir” direspon oleh 76,33% responden, diikuti “sangat mutakhir” sebesar 16,15%. Demikian halnya dengan respon mahasiswa berjenjang studi strata satu maupun pascasarjana, respon tertinggi ada pada tingkat “mutakhir”, masing-masing sebesar 38,70% da 37,63%. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemutakhiran sumber informasi yang tersedia di perpustakaan Fakultas Psikologi UGM berada pada tingkat mutakhir. Rincian selengkapnya dapat dicermati pada Tabel 5.

6. Frekuensi penggunaan sumber informasi
Apabila sumber informasi yang mereka butuhkan tersedia di perpustakaan sesuai dengan kebutuhan, hal ini akan mendorong mereka untuk selalu memanfaatkan sumber informasi yang tersedia di Perpustakaan Fakultas Psikologi. Hasil selengkapnya mengenai kondisi tersebut dapat dilihat pada Tabel 6.

Pada tabel 6 terlihat bahwa mahasiswa strata satu dan pacasarjana secara keseluruhan menunjukkan Intensitas “sering” menggunakan sumber informasi yang tersedia mencapai 66,68%, dan pada peringkat di bawahnya frekuensi “selalu” menggunakan sumber informasi mencapai angka 25,80%.

Meskipun frekuensi “selalu” lebih rendah dari frekuensi “sering” hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan tetap eksis bagi pemustaka, karena penyediaan sumber informasi yang sesuai dengan kebutuhannya.

7. Tingkat kepuasan penggunaan sumber informasi
Apabila pemustaka terpenuhi kebutuhan informasinya tentunya akan memberikan kepuasan tersendiri. Hasil analisis data mengenai tingkat kepuasan pemustaka terhadap sumber informasi yang telah mereka peroleh di perpustakaan dapat dilihat pada Tabel 7 berikut ini.

Pada tabel tersebut menunjukkan bahwa tingkat kepuasan pengguna informasi mahasiswa berjenjang studi strata satu maupun pascasarjana secara keseluruhan ada pada tingkat “puas” yaitu sebesar 75,26%. Sementara pada tingkat “sangat puas” ada pada peringkat di bawahnya yaitu 15,17%. Meskipun demikian ada 9,57% merasakan “kurang puas” terhadap sumber informasi yang tersedia.

KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa: tujuan pemanfaatan sumber informasi di Perpustakaan Fakultas Psikologi UGM sebesar 54,85% untuk keperluan menyusunan tugas akhir, dan 35,48% untuk menyusun tugas mata kuliah. Jadi hampir 90% untuk penyusunan tugas akhir dan tugas mata kuliah. Jenis sumber informasi yang digunakan 44,08% berupa buku teks, dan 43,03% karya penelitian, atau 80% lebih jenis informasi berupa buku teks dan karya penelitian yang dipergunakan pemustaka.
Pentingnya sumber informasi yang mereka pergunakan dengan didukung relevansi dan kemutakhiran sumber informasi yang tersedia, menyebabkan mereka lebih sering menggunakan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan Fakultas Psikologi UGM. Kondisi ini membuat 75% lebih responden merasa puas, bahkan 15,17% merasa sangat puas.
Hasil penelitian ini dapat direkomendasikan sebagai bahan pertimbangan institusi dalam penyediaan koleksi perpustakaan dengan lebih memperhatikan kebutuhan pengguna. Berdasarkan simpulan di atas menunjukkan bahwa koleksi buku teks maupun karya-karya penelitian lebih banyak dipergunakan oleh pengguna. Hal ini mengindikasikan bahwa penyediaan koleksi buku teks dan karya penelitian yang selama ini sudah dilakukan perlu dipertahankan dan bila mungkin dapat ditingkatkan.

KEPUSTAKAAN

Arikunto, S. 2010. Prosedur penelitian, suatu pendekatan praktik. Rineka Cipta, Jakarta.

Azwar, S. 2005. Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Baer, W. and Lisha Li. 2009. Paper. Presented at The American Society for Engineering Education (ASEE) Annual Conference 2009, Austin, Texas.

Cool, C and Hong Xie. (http://www.sois.uwm.edu/Xie/IrisArticles Diunduh 30 Januari 2013.

Depdiknas Ditjen Dikti. 2005. Perpustakaan perguruan tinggi. Buku pedoman Edisi ketiga. Depdiknas RI Ditjen Dikti, Jakarta.

Devi, L.N.U., Sanjeevi, K., Suvarna, M.J. 2012. Information use of pattern by the Faculty members and students in Chembur Sarvankash Shikshanshastra Mahavidyalaya, Mumbai: A Study. Scholarly Journal of Scientific Research and Essay (SJSRE), Vol. 1, (1): 1-4.

Doraswamy, M. 2010. Information use patterns of post-graduate students: A case study of P.B. Siddharta College of Arts and Sciences, India. Chinese Librarianship: and International Electronic Journal, 30. URL: http://www.iclc.us/ cliej/ cl30doraswamy.pdf

Hermanto. 2004. Kajian kemutakhiran referensi artikel ilmiah pada beberapa jurnal ilmiah penelitian pertanian. Jurnal Perpustakaan Pertanian, Volume 13, (1): 1-6.

Kriyantoro, R. 2007. Teknik praktis riset komunikasi. Kencana, Jakarta.

Lasa Hs. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Pustaka Book Publisher, Yogyakarta.

Maksum, dkk. 2010. Pemanfaatan hasil penelitian pertanian Lembaga Pemerintah Nondepartemen oleh peneliti dan penyuluh. Jurnal Perpustakaan Pertanian, Volume 19 (1): 9-13

Munir, H.A.S. 2006. Manajemen pelayanan umum di Indonesia. Bumi Aksara, Bandung.

Nawawi, H. 2007. Metode penelitian bidang sosial. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Nurdiyani, Y. 2011. Pelayanan UPT Perpustakaan UNKHAIR dan minat mahasiswa dalam memanfaatkan UPT Perpustakaan Universitas Khairun Ternate (Studi survey pada mahasiswa pengguna UPT Perpustakaan Universitas Khairun Ternate Tahun 2009). Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi. Volume VIII, (2): 35-46

Rahayu, Tri Murti. (t.th). Pola penggunaan informasi dalam proses perencanaan pembangunan daerah di Kalimantan Timur. Tesis. Universitas Indonesia. (http://www.lontar.ui.ac.id/ opac/themes),

Menurut Reitz (2006). ”Online Dictionary in Library cience”. Dalam http://lu.com/odlis/index.cfm, tanggal 28 Agustus 2012.

Septiyantono, T. & Sidik, U. 2003. Dasar-dasar ilmu perpustakaan dan informasi. Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Fakultas Adab IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Suryantini, H. 2004. Pemanfaatan informasi teknologi pertanian oleh penyuluh pertanian. Kasus di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Jurnal Perpustakaan Pertanian. Volume 13 (1): 17-23.

Wardhani, A.C. 1994. Hubungan karakteristik demografis dan motivasi peternak dengan penggunaan sumber informasi tentang ayam buras di desa Cisontrol, Kabupaten Ciamis. Tesis, Program Pascasarjana, IPB, Bogor.

Zulaikha, S.R. dkk. 2003. Evaluasi pemanfaatan koleksi dengan menggunakan analisis sitasi (Studi analisis sitasi skripsi mahasiswa di Perpustakaan Pusat IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta). Berkala Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Volume 1, Nomer 1 (28-35).