Portal jaringan informasi bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora (JIBIS dan Humaniora)

1. Pendahuluan
Jaringan Informasi Bidang Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora (JIBIS dan Humaniora) merupakan  nama baru yang diberikan kepada  Jaringan Dokumentasi dan Informasi Bidang Ilmu Sosial dan Budaya, yang diresmikan pembentukannya dalam Lokakarya Jaringan Dokumentasi dan Informasi Indonesia pada tahun 1971 di Bandung. Dalam lokakarya itu dibentuk empat jaringan dokumentasi informasi yang merupakan bagian dari Jaringan Dokumentasi dan Informasi Indonesia, yaitu:
1.Jaringan Dokumentasi dan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan koordinator Pusat Dokumentasi Informasi Nasional-LIPI;
2.Jaringan Dokumentasi dan Informasi Pertanian dan Biologi dengan koordinator Perpustakaan Pusat Departemen Pertanian;
3.Jaringan Dokumentasi dan Informasi Kedokteran dan Kesehatan dengan koordinator Perpustakaan Pusat Departemen Kesehatan;
4.Jaringan Dokumentasi dan Informasi Ilmu Sosial dan Budaya dengan koordinator Perpustakaan Museum Nasional. Namun karena Perpustakaan Museum Nasional hanya berstatus seksi, maka perannya sebagai koordinator sulit dilaksanakan.

Pada tahun 1974, dibentuklah Proyek Jaringan Dokumentasi dan Informasi Ilmu-Ilmu Sosial yang dikelola oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Nasional-LIPI. Dengan berdirinya Perpustakaan Nasional yang secara struktural berada  di bawah Direktorat Jenderal Kebudayaan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1980, tanggung jawab pusat  jaringan berpindah kepada Perpustakaan Nasional. Pada tahun 1990 status Perpustakaan Nasional ditingkatkan menjadi lembaga pemerintah  non departemen (LPND)  dan namanya berubah menjadi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, maka lembaga inilah yang kemudian menjadi koordinator Jaringan Dokumentasi dan Informasi Ilmu Sosial dan Budaya dengan lingkup nasional.

Dalam perjalanan sejak pembentukannya, kerja sama  penyediaan informasi bagi pengguna yang diharapkan dapat berlangsung di antara anggota jaringan dapat dikatakan tidak pernah terwujud. Jangankan dalam tingkat nasional, untuk lingkup Jakarta saja jaringan tersebut dapat dikatakan tidak berfungsi. Berdasarkan asumsi bahwa penyebab ketidakberfungsian jaringan tersebut adalah karena kurangnya pembinaan secara berkesinambungan, maka pada tahun 2000 Perpustakaan Nasional RI melakukan beberapa langkah, di antaranya:
-Menetapkan nama baru, yaitu Jaringan Informasi Bidang Ilmu-ilmu Sosial dan Humaniora (JIBIS dan Humaniora), dengan visi: "Menjadikan JIBIS dan Humaniora sebagai media pertukaran informasi prima dan mutakhir di antara jaringan pusdokinfo di dunia."
-Berdasarkan visinya, ditetapkan misi jaringan sebagai berikut: 1) Meningkatkan daya guna semua informasi yang berkaitan dengan ilmu-ilmu sosial dan humaniora dalam memenuhi kebutuhan masyarakat pengguna serta dalam upaya pemerataan kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh informasi melalui sistem pelayanan jaringan secara cepat, tepat dan akurat; 2) Memanfaatkan sumber daya bersama (resource sharing), 3) Memanfaatkan prasaranan teknologi informasi atau media lain yang dimiliki untuk menyelesaikan jasa dan komunikasi, 4) Saling membina kemampuan sumber daya (manusia, koleksi) antar anggota jaringan.

2. Kegiatan
Untuk mewujudkan misinya, diselenggarakan pertemuan anggota jaringan secara berkala, 2 kali dalam setahun, dengan tujuan menggali potensi yang dimiliki oleh masing-masing perpustakaan anggota, bertukar pengalaman dan diskusi tentang masalah yang ada di perpustakaan masing-masing.  Pertemuan berkala ini diselenggarakan secara bergiliran di perpustakaan  anggota dengan fasilitator Perpustakaan Nasional. Jumlah perpustakaan yang terdaftar sebagai anggota JIBIS dan Humaniora adalah 29 perpustakaan, seluruhnya berada di Jakarta. Beberapa pertemuan yang pernah menjadi adalah di Perpustakaan Nasional,  di Perpustakaan Tempo yang membahas masalah komputerisasi majalah Tempo dan perpustakaannya,  di Perpustakaan Nasional kembali, dan yang selanjutnya di perpustakaan Sekretariat ASEAN.

3. Masalah
Langkah yang ditempuh Perpustakaan Nasional sebagai koordinator jaringan di atas ternyata masih belum mampu membuahkan hasil yang sesuai yang diinginkan. Misi yang ditetapkan belum pernah dapat dilaksanakan. Hasil yang dicapai dari pertemuan, di antaranya: tersusunnya direktori anggota JIBIS dan Humaniora dan konspektus kekuatan koleksi masing-masing perpustakaan. Akan tetapi, direktori dan konspektus ini juga tidak dapat menjadi pemacu terlaksananya misi jaringan.

Berdasarkan kenyataan tersebut, dalam pertemuan di Perpustakaan Nasional pada tahun 2002, dibahas perkembangan JIBIS dan Humaniora dan permasalahannya.  Dalam diskusi di antara para anggota dapat ditangkap beberapa hal yang menjadi kendala kerja sama antarperpustakaan anggota jaringan, di antaranya:
– Pertemuan yang diselenggarakan 2 kali setahun dirasakan  kurang efektif karena waktunya yang singkat sehingga tidak semua aspek kerja sama dapat dibahas hingga tuntas.
– Sebagian besar  kepala perpustakaan  mendelegasikan  kepada stafnya untuk menghadiri  pertemuan berkala tersebut sehingga  pembahasan masalah tidak pernah bisa sampai pada tingkat pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kebijakan di perpustakaan tempatnya bekerja. Staf yang ditugaskan juga tidak selalu sama dan memahami perkembangan jaringan, sehingga seringkali pembahasan harus dimulai dari permasalahan awal.
– Perbedaan karakter pemakai, pola pemakaian informasi dan kebijakan layanan di masing-masing perpustakaan menyulitkan untuk dilaksanakannya silang layan antarperpustakaan anggota;
– Belum adanya bentuk kerja sama yang tepat dan sesuai antaranggota perpustakaan dalam memanfaatkan informasi secara bersama (information sharing).

Kendala-kendala di atas menyebabkan JIBIS dan Humaniora mengalami stagnasi dalam perkembangannya. 

4.Hasil
Sebagai upaya  mencari solusi untuk kondisi seperti itu, Putu L. Pendit diminta untuk melakukan evaluasi dan menyampaikan saran mengenai model dan arah perkembangan JIBIS dan Humaniora dalam pertemuan di Perpustakaan ASEAN pada tanggal 21 Mei 2002. Saran tersebut ditulis dalam makalah berjudul "Jaringan sosial dan modal sosial."

Model jaringan semacam JIBIS dan Humaniora ini, menurut Pendit, sangat memerlukan modal sosial (social capital). Istilah social capital pertama kali muncul dalam kajian masyarakat (community studies) untuk membuktikan pentingnya jaringan hubungan pribadi yang kuat dan bersilangan, yang berkembang perlahan-lahan sebagai landasan bagi saling percaya, kerjasama, dan tindakan kolektif dari sebuah komunitas. Jaringan ini menentukan bertahan dan berfungsinya city neighbourhoods.

Modal Sosial mengandung aspek sebagai berikut :
1.Merupakan sebuah sumberdaya berupa hubungan sosial sehari-hari, sebagai bagian dari struktur sosial yang tertanam di dalam hubungan antar anggota, dan sebuah credential atau privilage  yang  dapat dimanfaatkan anggota jaringan
2.Dimiliki bersama, hal ini memungkinkan tindakan anggota secara individual di dalam struktur yang memungkinkan pencapaian suatu tujuan yang tidak bisa, atau sulit sekali, dicapai tanpa modal sosial tersebut.
Sebagian besar dari modal ini tertanam di dalam jaringan di mana anggotanya saling mengenal dan saling menghargai

Adapun dimensi modal sosial ini meliputi 3 aspek :
– Pertama, dimensi struktur berupa pola hubungan-hubungan antar anggota sebagai aktor sosial;
– Kedua, dimensi relasional berupa sifat hubungan antar anggota, misalnya rasa respek, persahatan dan kebersamaan;
– Ketiga, dimensi kognitif berupa berbagai simbol, representasi, interpretasi, dan sistem bahasa yang dipakai bersama oleh anggota-anggotanya

Dalam hubungan ini JIBIS dan Humaniora perlu melakukan evaluasi kinerjanya selama ini.
Agar jaringan ini tetap eksis harus mampu memanfatkan modal sosial sebagai berikut
1.Meningkatkan efisiensi tindakan dan difusi informasi;
2.Menghapuskan kemungkinan oportunisme;
3.Mengurangi kebutuhan monitoring;
4.Mengurangi biaya transaksi;
5.Membantu adaptasi;
6.Mengembangkan kreatifitas lewat pembelajaran bersama;
7.Mendorong perilaku kooperatif yang memfasilitasi organisasi yang inovatif

Agar kegiatan jaringan informasi ini dapat berjalan secara lebih implementatif perlu dibuat pedoman, protokol komunikasi,  standardisasi dan sebuah portal pada world wide web. Namun perlu dipahami bahwa jaringan  bukan merupakan persoalan teknologi. Dimensi dalam jaringan mengacu pada structural resources dan general spirit. Dua hal tersebut dapat hidup dan berkembang apabila jaringan memiliki roh berupa resource sharing dan protocol. Dengan demikian teknologi tidak akan memecahkan masalah dalam jaringan sebelum ada komitmen tentang resource sharing.

Mengacu pada persoalan JIBIS dan Humaniora, resource sharing dapat dikatakan baru dalam tingkat wacana. Pemakaian teknologi pada jaringan akan sangat membantu mengimplementasikan hal-hal yang semula masih bersifat wacana  tersebut. Namun hal ini perlu mempertimbangkan kesinambungannya, jenis teknologi yang dipakai, sikap yang sama antar anggota jaringan terhadap teknologi yang digunakan, dan adanya konsensus tentang pemakaian teknologi tersebut.

Sebagai pelengkap saran dan masukan di atas dan sebagai upaya untuk menetapkan langkah yang harus diambil untuk memecahkan permasalahan, dalam pertemuan anggota selanjutnya, pada tanggal 30 Desember 2003,  Perpustakaan Nasional sebagai koordinator jaringan meminta bantuan  Blasius Sudarsono untuk menjaring, mengevaluasi dan menyimpulkan keinginan anggota jaringan. Kesimpulan tersebut akan dijadikan dasar dalam mengambil langkah pemecahan yang konkret.  Dalam makalah  pengantar yang berjudul "Pembangunan Portal Jaringan Informasi Bidang Ilmu-ilmu Sosial dan Kemanusian." Blasius Sudarsono menyampaikan pembangunan portal JIBIS dan Humaniora sebagai solusi terhadap masalah yang dihadapi.

Usulan tersebut didasarkan pada hasil pertemuan di Perpustakaan Sekretariat ASEAN dan juga pada tulisan  Sulistyo Basuki, "Beberapa gagasan tentang rencana praktis jaringan dokumentasi dan informasi   bidang Ilmu Pengetahuan Sosial dan Ilmu Pengetahuan Budaya." yang dimuat/dipresentasikan dalam pertemuan rutin Jibis-Humaniora pada bulan Oktober  2002 di Perpustakaan Nasional RI.
Sebagai  penutup makalahnya, Sulistyo menulis:

"Walaupun sudah diserahkan selama lebih dari 10 tahun  kegiatan jaringan belum menunjukkan semangat, ciri, greget dan keragaan (kinerja) sebagaimana  layaknya sebuah jaringan dokumentasi dan informasi tingkat nasional. Maka perlu membuat langkah praktis yang dapat segera dilakukan tanpa biaya yang banyak untuk  selanjutnya dikembangkan  sebagai layaknya sebuah jaringan dokumentasi dan informasi bertaraf nasional."

Menurut Sudarsono,  ada  2  (dua)  hal penting sebagai titik awal pemikiran pembangunan portal, yaitu  konsep jaringan yang berubah dan cara membangun portal secara gotong royong. Memang dalam hal ini selalu diperlukan fasilitator yang sebelumnya disebut sebagai koordinator jaringan. Berpegang pada sejarah pembentukan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Ilmu Sosial dan Budaya,   Perpustakaan Nasional RI sharus bertindak sebagai fasilitator jaringan. Usulan pembangunan portal JIBIS dan Humaniora disetujui oleh sebagian besar anggota yang hadir. Pembangunan dan pembangunan portal diserahkan kepada Perpustakaan Nasional sebagai fasilitator, sedangkan hal-hal yang bersifat teknis dalam pembangunan portal akan dibahas secara rinci dalam forum yang lebih kecil.

Ada beberapa konsep dasar  pembangunan portal ini, yaitu:
– Portal JIBIS dan Humaniora dibangun sebagai sarana komunikasi dan interaksi yang dapat diakses secara online bagi penyedia, pengelola dan pemakai informasi bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora
– Perpustakaan Nasional berperan sebagai fasilitator, bukan pemilik. Portal jaringan kerja sama ini nantinya akan menjadi milik dan dikelola bersama oleh JIBIS dan Humaniora.
– Keanggotaan tidak dibatasi pada perpustakaan melainkan diperluas dengan keanggotaan individual.
– Sebagai pengelola harian isi (content) portal, Perpustakaan Nasional akan membentuk tim redaksi yang terdiri dari tenaga yang profesional.

Berdasar keputusan anggota di atas, Perpustakaan Nasional, dalam hal ini unit kerja  Bidang Kerjasama Perpustakaan dan Otomasi mulai membuat rancangan portal, membangun dan menyediakan akses melalui internet. 

5.Penutup
  Pengisian awal informasi yang dimuat dalam portal dilakukan oleh Perpustakaan Nasional. Konsultasi  antara  penasehat portal jaringan  dengan para pengelola sering dilakukan dalam rangka pembangunan  portal JIBIS dan Humaniora.  Tanggal  27 Januari 2005, rancangan awal portal tersebut kemudian di bahas bersama dalam pertemuan terbatas dengan pembahas utama Sulistyo Basuki. Berdasarkan masukan yang diterima dalam  pertemuan pembahasan tersebut, dilakukan penyempurnaan terhadap rancangan awal. Peluncuran Portal JIBIS dan Humaniora akan dilaksanakan tanggal 26 Mei 2005, dikaitkan dengan serangkaian acara perayaan 25 tahun Perpustakaan Nasional.