Preservasi Majalah Terjilid pada Sub Bidang Teknis Penjilidan Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kebudayaan adalah jati diri sebuah bangsa. Jika tidak dilestarikan, maka kemungkinan akan hilanglah jati diri sebuah bangsa di masa depan. Melestarikan budaya dapat diartikan sebagai upaya untuk melindungi budaya bangsa agar dapat mempertahankan kelangsungan hidupnya dari segala ancaman dan gangguan baik secara langsung maupun tidak langsung. Upaya pelestarian ini menjadi tanggungjawab bersama seluruh elemen bangsa agar budaya tersebut tetap hidup dan bermanfaat bagi masyarakat baik sekarang maupun di masa yang akan datang.

Perpustakaan memiliki posisi yang strategis dalam menangani masalah ini. Dalam Undang-Undang No.43 Tahun 2007 disebutkan bahwa perpustakaan mempunyai tugas antara lain menyelenggarakan pelestarian khasanah budaya bangsa melalui pemantapan sistem pengelolaan yang terpadu. Tidak cukup hanya dilestarikan, perpustakaan juga harus menyelenggarakan pendayagunaan khasanah budaya bangsa sebagai wahana pendidikan dan pembelajaran sepanjang hayat secara merata dan demokratis.

Peran strategis ini akan dapat terlaksana dengan baik apabila semua perpustakaan ikut berpartisipasi dalam pelestarian budaya lokal di mana perpustakaan tersebut berada. Perpustakaan Nasional sebagai garda terdepan perpustakaan di Indonesia, tentunya mempunyai tanggung jawab yang besar pula dalam pelestarian kebudayaan di Indonesia. Salah satu fungsi dari perpustakaan Nasional RI adalah melestarikan bahan perpustakaan. Peran yang sesuai dengan undang-undang ini dijalankan oleh Pusat Preservasi Bahan Pustaka yang membawahi Bidang Konservasi, Bidang Reprografi, dan Bidang Transformasi Digital. Pada intinya kegiatan pelestarian koleksi di Perpusnas RI dilakukan dalam 3 tahapan yaitu:
1. Pelestarian yang mencakup semua usaha melestarikan kandungan informasi dan sekaligus fisik bahan pustaka.
2. Pengawetan yaitu kegiatan dan cara khusus dalam melindungi bahan pustaka untuk kelestarian koleksi tersebut dengan melaksanakan pelestarian fisik melalui pemeliharaan, perawatan, perbaikan (restorasi) dan penjilidan bahan pustaka
3. Perbaikan. Kegiatan ini adalah upaya dan cara yang digunakan untuk memperbaiki bahan pustaka yang rusak.

Dalam proses melestarikan bahan pustaka, Perpustakaan Nasional RI telah menggunakan teknologi dalam pengerjaannya seperti alih media dalam bentuk microfilm ataupun dalam bentuk compact disc (cd). Namun demikian, kegiatan pelestarian bahan pustaka masih ada juga yang prosesnya belum menggunakan teknologi seperti dalam pengerjaan penjilidan bahan pustaka. Dalam melakukan penjilidan bahan pustaka, Perpustakaan Nasional RI masih melakukan penjilidan secara manual, bisa berupa buku, majalah, koran dan lain-lain, dan proses akhir dari penjilidan itu adalah membuat hard cover (sampul keras) nya.

Karena masih menerapkan sistem manual terutama dalam pembuatan hard cover, seringkali dalam pengerjaannya kerap menyobek atau memotong sampul depan dan belakang buku atau majalah untuk dijadikan sampul depan atau  belakangnya. Hal ini yang kemudian menimbulkan masalah yaitu informasi yang terdapat di balik halaman sampul buku atau majalah menjadi tersembunyi ketika ditempelkan di cover depan dan belakang. Hal ini tentu menjadi kontradiktif mengingat fungsi dari konservasi bahan pustaka dalam hal ini penjilidan adalah untuk menyelamatkan informasi yang ada bukan malah sebaliknya yaitu menghilangkan informasi.
Hal inilah yang  akan menjadi perhatian penulis dalam penelitian ini, yaitu melakukan pengkajian apakah ada alternatif/ cara lain dalam pembuatan hardcover majalah terjilid di Perpusnas RI sehingga permasalahan yang timbul dapat diminimalisir.

1.2. Perumusan Masalah dan Ruang Lingkup
Dari latar belakang masalah di atas, maka perumusan masalahnya adalah sejauh mana pentingnya nilai informasi yang terdapat pada halaman belakang sampul depan dan belakang baik dari kebutuhan pengguna maupun dari nilai preservasi informasi

1.3. Tujuan Penelitian  

Tujuan yang ingin dicapai oleh penulis melalui penelitian ini adalah untuk :
1) Memperoleh gambaran yang jelas tentang kegiatan preservasi majalah pada sub bidang Teknis Penjilidan Bahan Pustaka Perpusnas RI
2) Mendapatkan masukan pengguna tentang kebutuhan penggunaan informasi yang
terdapat di balik cover majalah terjilid.
3) Mengetahui kendala-kendala yang ada dalam upaya perbaikan pembuatan hardcover
majalah terjilid.
4) Memberikan upaya alternatif dalam memberikan solusi cara penjilidan yang lebih
baik

1.4. Manfaat Penelitian
Penulis berharap bahwa hasil penelitian ini nantinya dapat bermanfaat untuk
1. Memberikan masukan kepada Pusat Preservasi Bahan Pustaka Perpusnas RI  tentang nilai kebutuhan informasi dari pengguna yang terdapat  pada halaman balik cover majalah terjilid.
2. Memberikan alternatif pilihan terhadap proses penjilidan majalah terjilid di Pusat Preservasi Bahan Pustaka Perpusnas RI

1.5. Teknik Pengumpulan Data
Dalam penulisan penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data sebagai berikut:
1. Observasi (Field Research)
Dalam observasi ini penulis melakukan pengamatan secara langsung terhadap proses kerja kegiatan pembuatan hard cover majalah terjilid di Perpusnas RI.
2. Wawancara (Interview)
Penulis melakukan wawancara langsung dengan kepala dan petugas atau karyawan pada bagian sub bidang teknis penjilidan Perpusnas RI.
3. Penyebaran Kuesioner
Dalam penyebaran kuesioner ini dilakukan di bagian layanan koleksi majalah terjilid Perpusnas RI untuk mengetahui pendapat tentang pentingnya nilai informasi yang terdapat di balik halaman majalah terjilid yang dimiliki oleh Perpusnas RI.

II. Preservasi Bahan Pustaka

2.1. Pengertian Preservasi Bahan Pustaka
Ada beberapa istilah yang digunakan dalam rangka pelestarian bahan pustaka, antara lain: preservasi, konservasi, restorasi. Di dalam buku ”Preservation in Libraries : Principles, Strategies and Practices for Libraries karya Roos Harvey, 1992 disebutkan bahwa,

Preservation includes all the managerial and financial considerations including storage and accomodation provisions, staffing levels, policies, techniques and methods involved in preserving library and archive materials and the information contained in them.
Conservation denotes those specific policies involved in protecting library and archive materials from deterioration, damage and decay, including the methods and techniques devised by technical staff.
Restoration Denotes those techniques and judgements used by technical staff engaged in the making good of library and archive materials damaged by time, use and other factors.

Sedangkan pengertian dari kata atau istilah tersebut diatas dimuat dalam berbagai sumber diantaranya adalah di dalam Buku the Principles for the Preservation and Conservation of Library Materials yang disusun oleh J.M. Dureau & D.W.G. Clements, preservasi mempunyai arti yang lebih luas, yaitu mencakup unsur-unsur pengelolaan, keuangan, cara penyimpanan, tenaga, teknik dan metode untuk melestarikan informsi dan bentuk fisik bahan pustaka. Sedangkan konservasi adalah teknik yang dipakai untuk melindungi bahan pustaka dari kerusakan dan kehancuran

Menurut prinsip-prinsip konservasi yang ditulis dalam buku “Introduction to Conservation” terbitan Unesco tahun 1979, ada beberapa tingkatan dalam kegiatan konservasi, yaitu : Prevention of deterioration, preservation, Consolidation, restoration dan reproduction yang masing-masing diterjemahkan sebagai berikut:
Prevention of deterioration  : tindakan preventif untuk melindungi bahan pustaka dengan mengendalikan kondisi lingkungan dan melindungi bahan pustaka dari kerusakan lainnya, termasuk cara penanganan.
Preservation : penanganan yang berhubungan langsung dengan bahan pustaka. Kerusakan oleh udara lembab, faktor kimiawi, serangga dan mikroorganisme harus dihentikan untuk menghindari kerusakan lebih lanjut.
Consolidation : memperkuat bahan yang sudah rapuh dengan memberi perekat (sizing) atau bahan penguat lainnya.
Restoration : memperbaiki koleksi yang telah rusak dengan jalan menambal, menyambung, memperbaiki jilidan dan mengganti bagian yang hilang agar bentuknya mendekati keadaan semula.
Reproduction : Membuat salinan (foto copy) dari bahan bahan asli, termasuk bentuk mikro dan foto reproduksi, replika, miniatur dan alih media ke media baru.

2.2.  Penjilidan Bahan Perpustakaan
Di dalam buku ”Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip” karya Muhamadin Rajak dkk, 1992 disebutkan bahwa, penjilidan adalah menghimpun atau menggabungkan lembaran-lembaran lepas menjadi satu, yang dilindungi dengan sampul. Oleh karena pada dasarnya buku terdiri :
isi buku atau blok buku, yang terdiri dari lembaran-lembaran atau kuras/ kateren yang dihimpun dan digabungkan dengan lem dan /atau jahitan menjadi blok buku.
lembar pelindung, yaitu lembaran bebas atau kosong yang direkatkan pada lembaran pertama dan lembaran terakhir isi buku atau blok buku.
sampul, merupakan kulit buku yang bisa berupa sampul lunak (softcover) atau bisa juga sampul keras (hardcover)

Banyak bahan pustaka khususnya buku oleh karena usia, pemakaian, salah urus, pengaruh lingkungan, dimakan serangga dan lain sebagainya memerlukan tindakan perbaikan seperti laminasi, fotografi, reproduksi, pelestarian dalam alih bentuk seperti mikrofilm, mikrofish dan lain-lainnya. Usaha-usaha tersebut tentunya memerlukan biaya dan bahan penunjang yang kadangkala sulit diperoleh, oleh karena itu perbaikan dengan cara penjilidan kembali merupakan salah satu alternatif dalam tindakan perbaikan bahan pustaka.

Bahan pustaka yang rusak seperti isi buku, lem atau jahitannya terlepas, lembar pelindung, sampul mengalami kerusakan umpamanya terlepas, sobek dan bentuk-bentuk kerusakan fisik lainnya yang diperkirakan masih bisa diatasi. Salah satu tindakan adalah dengan mereparasi atau memperbaiki atau menjilid kembali untuk dapat mempertahankan bentuk fisik buku tersebut, sekaligus mempertahankan kandungan ilmiah yang terkandung di dalamnya.

Fungsi lain daripada penjilidan di samping memperbaiki atau mereparasi kembali buku-buku yang rusak, juga dapat melaksanakan penjilidan atau pembundelan terhadap buku-buku atau penerbitan berseri, brosur, pamflet, atau lembaran-lembaran lepas lainnya yang akan dijilid, sehingga dirangkum dan digabungkan dalam satu buah bahan pustaka yang rapi, teratur dan enak dibaca. Untuk melaksanakan perbaikan penjilidan kembali, beberapa faktor penting yang perlu diperhitungkan, antara lain yaitu tujuan buku, kegunaan buku, bahan yang diperlukan, cara penjilidan dan biaya.

Setelah memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas, maka dapat ditentukan metode, bentuk dan sistem yang akan diterapkan. Beberapa jenis perbaikan dapat dilakukan dengan cara :
a. Menggunakan sampul lunak (softcover)
Penjilidan buku dengan sampul lunak, artinya isi buku terdiri dari satu kuras/ kateren yang sekaligus dapat dijahit bersama dengan sampul. Jahitan langsung kepada punggung buku, bisa juga disebut tusuk kaye.
b. Menggunakan sampul keras (hardcover)
Penjilidan buku dengan sampul keras artinya isi buku atau blok buku dengan sampul atau cover dibuat secara terpisah untuk kemudian baru digabungkan, yang biasanya dengan cara pengeleman. Kebanyakan diperuntukkan khususnya terhadap buku-buku edisi luks dan biasanya sampulnya cenderung mempunyai ukuran yang lebih besar daripada kertas buku, dengan perkataan lain mempunyai pias. Pada sistem ini bentuk punggung dapat dibentuk atau dibuat menjadi dua yaitu punggung persegi atau siku dan punggung bulat atau biasa disebut pilung. (Muhamadin Rajak, 57-59,1992)

Untuk mendapatkan jilidan yang sesuai harus dipikirkan maksud dan tujuan serta bentuk jilidannya. Penjilidan yang kurang baik sering diterapkan pada buku-buku perpustakaan tanpa mempertimbangkan keselamatan informasi yang ada di dalamnya. Pustakawan harus turut memikirkan apa yang dibutuhkan oleh buku dari jilidannya dan harus tahu tipe jilidan yang baik bagi bahan pustaka. Memotong bagian pinggir buku atau punggung buku tidak boleh dilakukan. Jilidan asli sedapat mungkin harus dipertahankan. Semua bahan yang digunakan harus bebas asam, kuat dan stabil dan buku dengan kertas yang sudah rapuh tidak boleh dijilid kembali ( ”Petunjuk Teknis Pelestarian Bahan Pustaka” Perpusnas RI, 1995 hal.33)

2.3. Pengertian Teknologi Digital Printing
Digital printing termasuk dalam ranah ilmu Teknologi Informasi karena digital printing merupakan teknologi yang digunakan untuk menciptakan, menyimpan, mengubah, dan menggandakan informasi dalam segala bentuknya. Ada beberapa istilah dan pengertian yang beragam tentang arti digital printing. Secara definisi, menurut Frank Romano ( Digital Printing expert dari GATF) adalah segala hasil cetak yang diselesaikan melalui digital file. Pendapat lain tentang digital printing adalah teknologi cetak tanpa melalui proses pembuatan form cetak, seperti pelat cetak atau silinder cetak (“Digital Printing Handbook”, Anne Dameria,2009)

Perkembangan teknologi digital printing dalam industri grafika yang sangat pesat menyebabkan aplikasi dan penggunaannya menjadi sangat bervariasi. Oleh karena itu pengertian digital printing dapat digolongkan berdasarkan beberapa aspek dan tinjauan yang berbeda-beda.
Dari segi aplikasi dan kebutuhannya untuk industri/ professional, kita dapat menggolongkan digital printing dalam beberapa kelompok, diantaranya :
1. Digital printing POD (Print On Demand)
2. Digital printing Large Format Printer/ Wide Format Printer untuk indoor dan outdoor)
3. Digital printing untuk DCP (Digital Color Proofing)
4. Digital printing untuk Digital Photography Digital Lab dan Digital Imaging

Dahulu, setiap kali kita akan menerbitkan buku, penerbit harus mencetak paling tidak 3000 eksemplar untuk menghemat ongkos cetak. Kini, dengan kemajuan teknologi Print On Demand (POD), ongkos cetak bisa dihemat dan jumlah eksemplar bisa dipenuhi sesuai permintaan. Percetakan pun banyak melirik PoD ini. Dengan teknologi konvensional, untuk mencetak buku dalam jumlah kecil ongkos catak akan tetap sangat mahal karena proses percetakan offset yang panjang menghabiskan biaya cukup besar.

Cetak PoD sangat membantu penerbit untuk mencetak ulang buku-buku yang lambat penjualannya, tetapi masih dicari orang sebagai contoh buku sastra yang penjualannya sedikit maka cukup dicetak ulang sebanyak yang dibutuhkan dan langsung dikirim ke toko buku. Keunggulan lain dengan PoD adalah penerbit dapat melakukan cetak jarak jauh untuk mempermudah pemasaran atau menghemat ongkos pengiriman dan mempercepat sampainya buku di lokasi pembeli. Teknologi Digital Printing on Demand sendiri sudah berkembang cukup lama dengan dimulainya teknologi pencetakan dari computer mainframe di tahun 1990-an. Pada waktu itu teknologi digital printing banyak digunakan untuk mencetak tagihan seperti tagihan kartu kredit, account statement dari Bank, ataupun tagihan lainnya seperti telepon rumah, dan sebagainya

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Data penelitian diperoleh dari penyebaran kuesioner yang berisi 14 butir pertanyaan kepada 51 responden pengunjung layanan Majalah Terjilid Perpustakaan Nasional RI yang bertujuan untuk mengetahui apakah isi kuesioner sudah dapat dimengerti oleh responden atau tidak. Penelitian dilakukan pada tanggal 4 sampai dengan 18 Nopember 2011. Selain itu didapatkan juga data dari wawancara dengan pegawai dan kepala Bidang Konservasi Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI.  Penelitian ini menggunakan batas waktu lebih kurang dua minggu. Metode yang digunakan adalah metode analisis kuantitatif dengan deskriptif.

Sesuai dengan namanya, deskriptif digunakan untuk mendeskripsikan atau menguraikan tentang sifat-sifat (karakteristik) suatu keadaan (Supranto, 2003). Deskriptif berkaitan dengan penyajian data sehingga memberikan informasi yang berguna. Penyajian data dapat dilakukan dalam bentuk gambar/ grafik, dan tabel. Sedangkan jenis pertanyaan kepada responden bersifat terbuka, semi terbuka, dan tertutup.

3.1. Aspek Data Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana pentingnya nilai informasi yang terdapat pada halaman belakang cover depan dan belakang baik dari kebutuhan pengguna maupun dari nilai kelestarian (preservasi) informasi. Untuk itu yang menjadi aspek data penelitian adalah
1. Kegiatan Pelestarian majalah di Sub Bidang Teknis Penjilidan Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI
2. Pentingnya nilai informasi yang terdapat pada halaman belakang dan depan cover majalah.
3. Kendala-kendala yang ada dalam upaya perbaikan cara penjilidan
4. Memberikan upaya alternatif dalam memberikan solusi cara penjilidan yang lebih baik

Setelah melakukan telaah pustaka guna memperkuat penetapan alat ukur yang akan digunakan maka langkah selanjutnya adalah melakukan penelitian. Selama kurun waktu penelitian yaitu lebih kurang dua minggu dihasilkan sampel sebanyak 51 orang, sampel ini di dapat dari rumus yang digunakan untuk menentukan ukuran sampel yaitu rumus yang dikemukakan oleh Slovin yaitu :

n  = Jumlah sampel
N = jumlah Populasi
e  = sampling error

Berdasarkan data jumlah pengunjung di layanan majalah terjilid Perpustakaan Nasional RI diketahui pengunjung berjumlah lebih kurang 1164 orang per tahun atau lebih kurang 100 orang perbulan, sehingga dengan rumus di atas dapat dihitung jumlah sampel yang dibutuhkan :

Ini berarti dengan menggunakan sampling error 0,05 minimum sampel yang dibutuhkan adalah 50. Dalam penelitian ini populasinya adalah pengunjung layanan majalah terjilid Perpustakaan Nasional RI.

Dari data kuesioner yang tersebar sebanyak 51 orang tersebut semuanya  kembali dengan lengkap. Hal ini disebabkan karena cara penyebaran kuesioner kepada anggota sampel dilakukan dengan tatap muka langsung dengan anggota sampel. Penyebaran kuesioner juga dilakukan dengan menunjukkan contoh majalah hasil jilidan Perpustakaan Nasional RI dan contoh majalah yang dijilid dengan teknik dan metode lain sebagai perbandingan.

Berdasarkan hasil data kuesioner yang terkumpul, penulis mengolahnya dengan bantuan program SPSS Version 18, SPSS (Stastitical Package for Social Science). Dari hasil olah data dengan menggunakan program tesebut maka didapat klasifikasi identitas anggota sampel yang dikenakan penelitian.

3.2. Karakteristik Responden
3.2.1. Klasifikasi Responden Berdasarkan Usia
Berdasarkan usianya, mayoritas responden berada di usia 21 s.d. 30 tahun yaitu sebesar 51%, diikuti usia 15 s.d. 20 tahun sebesar 43,1% dan terakhir usia 31 s.d. 50 tahun sebesar 5,9%.

3.2.2. Klasifikasi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Dari jenis kelamin, perbandingan antara responden pria dan wanita adalah 39,2% dan 60,7%.

3.2.3. Klasifikasi Responden Berdasarkan Pendidikan
Dilihat dari segi pendidikan, sebanyak 68,6% responden tamatan SMA dan masih berstatus mahasiswa, 11,7% tamatan S-1, 7,8% tamatan SMP, 5,8% tamatan S-2, 3,9% tamatan D-3, dan 1,9% tamatan D-1.

3.2.4. Jumlah Kunjungan Responden ke Bagian Layanan Majalah Terjilid
Dalam kuesioner didapatkan data mengenai seberapa sering responden mengunjungi bagian layanan majalah terjilid. Yaitu sebanyak 88,2% melakukan kunjungan sebanyak 1-5 kali dalam sebulan, 9.8% sebanyak lebih dari 10 kali dalam sebulan dan 2,0% sebanyak 5-10 kali dalam sebulan.

3.2.5. Kebutuhan Responden Terhadap Jenis Majalah yang Dicari
Di dalam kuesioner juga didapatkan data mengenai kebutuhan responden terhadap bahan bacaan dalam hal ini majalah yang mereka cari, yaitu sebanyak 39,2% mencari majalah ilmiah, 29,4% mencari majalah populer: politik, kesehatan dll, 21,6% mencari majalah sastra, 3,9% mencari majalah anak-anak, 5,9% mencari majalah agama.

3.3. Kegiatan Pelestarian Majalah di Sub Bidang Teknis Penjilidan Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI
Aspek pertama yang diteliti adalah mengenai kegiatan pelestarian majalah di Sub Bidang Teknis Penjilidan Bahan Pustaka Perpustakaan Nasional RI. Aspek ini untuk menjawab pertanyaan penelitian tentang seperti apa kegiatan pelestarian majalah pada sub bidang teknis penjilidan. Untuk mengetahui bagaimana proses pembuatan hardcover majalah terjilid, penulis melakukan wawancara dengan salah seorang pegawai di bagian Sub Bidang Penjilidan yaitu Bapak Joko Pramono pada tanggal 23 November 2011. Dalam menjilid majalah dilakukan berdasarkan prosedur yang berlaku di sub bidang penjilidan ( ada panduan yang tertulis ) selain itu juga didapat dari cara otodidak (belajar sendiri) dan dari ilmu yang didapat dari pegawai lama. Khusus dalam pembuatan hardcover majalah terjilid, memang beberapa kali mengalami perubahan tampilan. Tampilan yang paling awal yaitu dengan menggunakan kertas marbel (kertas kado) dengan tanpa merobek salah satu cover dari majalah, artinya hardcover tersebut tanpa ada judul. Kebijakan  ini ternyata menimbulkan permasalahan di bagian layanan majalah terjilid di mana para pegawai di bagian itu kesulitan dalam mengidentisifikasi majalah karena tanpa judul. Permasalahan ini mendapat tanggapan dari bagian penjilidan yang pada akhirnya  mengeluarkan kebijakan (tidak tertulis) yang telah disepakati yaitu dengan cara :
1. Memfotocopy cover depan dari majalah kemudian ditempel di hardcover majalah terjilid
2. Disablon bagian depan hardcover majalah terjilid
3. Merobek salah satu cover majalah untuk dijadikan judul hardcover.
Di antara tiga kesepakatan itu yang sudah berjalan sampai sekarang yaitu kebijakan merobek salah satu cover dari majalah.
Kebijakan ini lagi-lagi juga mendapat tanggapan dari pegawai yaitu jika ditempel salah satu cover maka hal itu menyalahi tujuan dari preservasi naskah dimana salah satu prinsipnya yaitu tidak boleh menghilangkan  informasi apapun di dalam mempreservasi naskah dan jika melihat dari fisiknya maka seolah-olah pembaca akan mengira bahwa majalah tersebut hanya berisi satu edisi saja padahal tidak demikian kenyataannya. Tanggapan tentang perobekan salah satu cover diperkuat dari hasil wawancara penulis dengan kepala Bidang Konservasi yaitu Ibu Ana Suraya, pada tanggal 25 November 2011. Beliau mengatakan keaslian majalah harus dilestarikan oleh karena itu tidak boleh ada informasi apapun yang terbuang atau hilang, dan seharusnya informasi di punggung hardcover majalah juga harus ada karena dapat memudahkan pembaca atau pegawai di bagian layanan mencari majalah yang mereka cari di rak.

Dari hasil wawancara dengan pegawai dan kepala Bidang Konservasi Perpusnas RI, penulis mengambil analisa bahwa memang terdapat beberapa masalah sejak diterapkannya penempelan cover majalah menjadi judul hardcover dan beberapa kekurangan antara lain :
1. Penempelan cover menyalahi prinsip/ aturan konservasi naskah dan hal ini disadari betul oleh pegawai dan kepala bidang konservasi.
2. Hardcover majalah terjilid tidak terdapat informasi di bagian punggung majalah. Hal ini turut mendapat perhatian dari kepala bidang Konservasi.
3. Jika melihat dari fisiknya maka seolah-olah pembaca akan mengira bahwa majalah tersebut hanya berisi satu edisi saja padahal tidak demikian kenyataannya.
4. Kurang kreatif

3.4. Pentingnya Nilai Informasi yang Terdapat Pada Halaman Belakang dan Depan Cover Majalah
Aspek kedua yang diteliti adalah mengenai seberapa penting nilai informasi yang terdapat pada halaman belakang dan depan cover majalah. Aspek ini untuk mengetahui masukan pengguna tentang kebutuhan penggunaan informasi yang terdapat di balik cover majalah terjilid.

Info di dalam majalah terjilid sangat dibutuhkan oleh responden. Hal ini terbukti dari jawaban responden yang mengatakan bahwa mereka mendapatkan kebutuhan informasi dari majalah terjilid. ( 45% mendapatkan, 54,9% kadang-kadang). Adapun bagian majalah yang merupakan sumber informasi, 52,9% responden mengatakan dari bagian isi majalah dan 23,5% responden mengatakan dari cover depan dan belakang majalah terjilid.

Informasi dapat ditemukan di seluruh bagian majalah mulai dari cover depan, daftar isi, bagian isi, dan cover belakang. Informasi-informasi yang ada itu harus dijaga agar tetap ada sehingga dapat dimanfaatkan oleh pengguna. Dari penelitian ini sebanyak 92,1% responden mengatakan bahwa informasi yang terdapat di bagian cover depan dan belakang penting.
Berikut ini adalah hasil dari penelitian tersebut:

3.5. Kendala-Kendala Dalam Upaya Perbaikan Penjilidan
Aspek ketiga yang diteliti adalah mengenai kendala-kendala yang ada dalam upaya perbaikan cara penjilidan. Aspek ini untuk mengetahui kendala apa saja yang ditemui oleh bagian sub bidang penjilidan dalam mereservasi majalah terutama dalam hal pembuatan hardcovernya.

Untuk mengetahui kendala-kendala tersebut terlebih dahulu diketahui pengamatan responden terhadap jilidan Perpusnas RI, Persepsi Responden Terhadap Penempelan Cover Majalah, Persepsi Responden terhadap Kualitas Hasil Jilidan Perpusnas RI. Berikut ini adalah hasil dari penelitian tersebut:

3.5.1. Persepsi Responden Terhadap Penempelan Cover Majalah
Dari data tentang persepsi responden terhadap penempelan cover majalah
didapat beragam jawaban dari responden, untuk pertanyaan ini dilakukan dengan sistem pertanyaan terbuka, dan berikut ini setelah disimpulkan jawaban dari responden adalah :
1. Merugikan pembaca/ Mengurangi nilai buku/ Sedikit mengganggu/ Mencari informasi jadi sulit.
Responden yang menjawab seperti jawaban di atas yaitu diketahui sebanyak 62,7% artinya responden tidak setuju apabila cover tersebut ditempel/ dijadikan judul.
2. Tidak menjadi masalah/ Tidak terlalu prinsip
Responden yang menjawab seperti jawaban di atas yaitu sebanyak 23,5% artinya responden setuju apabila cover tersebut ditempel/ dijadikan judul, dan menurut mereka hal tersebut bukanlah prinsip yang penting adalah isi di dalam majalah tersebut.
3. Tidak Tahu/ tidak menjawab
Responden yang tidak menjawab/ tidak tahu diketahui sebanyak 5,8%
4. Jawaban Lain-lain (boleh ditempel tapi dengan syarat tertentu)
Responden yang menjawab lain-lain di luar jawaban di atas diketahui sebanyak 7,8%.

3.5.2. Persepsi Responden Terhadap Kualitas Jilidan Perpusnas RI
Di dalam mengetahui persepsi responden terhadap kualitas hasil jilidan Perpusnas RI dilakukan dengan mengajukan pertanyaan secara terbuka, artinya pilihan jawaban diserahkan kepada responden.
Setelah disimpulkan diketahui jawaban responden yaitu :
1. Cukup Baik/ Bagus/ Lumayan Bagus/ Kreatif,unik/ Kuat
Responden yang menjawab seperti jawaban di atas yaitu sebanyak 70,5% artinya responden menyambut positif terhadap kualitas hasil jilidan Perpusnas RI. Ada juga yang menjawab cukup bagus tetapi dengan pengecualian (seperti; lembaran kertas terkadang ada yang lepas) yaitu sebanyak 13,7%.
2. Biasa saja/ Kurang menarik
Responden yang menjawab biasa saja/ kurang menarik diketahui sebanyak 11,7% artinya responden menyambut negatif terhadap kualitas hasil jilidan Perpusnas RI.
3. Tidak Tahu/ Tidak Menjawab
Responden yang tidak memberikan jawaban diketahui sebanyak 3,9%.

4.5. Alternatif Solusi Cara Penjilidan (Pembuatan Hardcover)
Aspek keempat yang diteliti adalah apa sajakah upaya alternatif dalam memberikan solusi cara penjilidan yang lebih baik terutama dalam pembuatan hardcovernya. Aspek ini untuk mengetahui masukan pengguna tentang metode/cara bagaimana membuat hardcover majalah dengan lebih baik. Berikut ini adalah hasil penelitian tersebut:

4.5.1. Persepsi Responden Terhadap Pemilihan Alternatif Pembuatan Hardcover Majalah Terjilid
Di dalam mengetahui persepsi responden terhadap pemilihan alternatif pembuatan hardcover, penulis mengajukan pertanyaan secara semi tertutup artinya penulis memperlihatkan contoh-contoh dari berbagai alternatif pembuatan hardcover. Berikut ini adalah jawaban dari responden :
1. Metode Teknologi Digital Printing
Responden yang menjawab dengan Teknik Digital Printing diketahui sebanyak 37,25% artinya responden menginginkan dengan digital printing karena hasilnya lebih bagus dan menarik.
2. Metode cetak/ sablon/ diberi plastik
Responden yang menjawab dengan teknik seperti di atas sebanyak 9,8%
3. Tidak tahu/ tidak menjawab
Responden yang tidak tahu/ tidak menjawab diketahui sebanyak 29,41%
4. Metode lain-lain
Responden yang mengajukan alternatif lain di dalam pembuatan hardcover majalah terjilid diketahui sebanyak 23,5% artinya ada alternatif lain yaitu di antaranya dengan sistem polimas, difotocopy covernya lalu ditempel, dan emboss.

IV.    PENUTUP
Dari hasil penelitian dan pembahasan diperoleh kesimpulan yaitu :
4.1. Simpulan
4.1.1. Pentingnya Nilai Informasi yang Terdapat Pada Halaman Belakang dan Depan Cover Majalah
1. Informasi yang terdapat di cover depan dan belakang majalah terjilid termasuk informasi yang dibutuhkan oleh responden. Sebanyak 23,5% responden mengatakan informasi didapatkan dari cover depan dan belakang majalah terjilid
2. Informasi yang terdapat di cover depan dan belakang majalah terjilid merupakan informasi yang bersifat penting sebanyak 45,1% responden menjawab penting, 39,2% menjawab cukup penting, dan 7,8% menjawab sangat penting.
3. Proses penjilidan dengan perobekan cover majalah merupakan kegiatan yang menghilangkan informasi. Hal ini bertentangan dengan tujuan preservasi itu sendiri, yaitu melestarikan informasi yang terdapat pada bahan pustaka
4. Metode digital printing merupakan metode yang dapat dijadikan alternatif penjilidan majalah terjilid karena hasilnya lebih bagus dan menarik.

4.2. Saran-Saran
Dalam laporan penelitian ini, penulis mengajukan saran-saran sebagai berikut :
1. Penempelan cover depan dan cover belakang dari suatu majalah untuk dijadikan judul seharusnya tidak perlu dilakukan karena perbuatan tersebut melanggar prinsip dan tujuan preservasi naskah.
2. Dalam hal mengatasi kekurangan dari pembuatan cover majalah terjilid, salah satu yang perlu dilakukan oleh sub bidang penjilidan adalah melakukan penerapan teknologi dalam membuatnya.
3. Diperlukan pendidikan dan pelatihan para pegawai khususnya Sub Bidang Teknis Penjilidan untuk membuka wawasan mereka terhadap perkembangan di bidang teknologi percetakan khususnya Digital Printing, agar bisa mengatasi kesulitan dan kendala yang ada di dalam membuat hardcover majalah terjilid.

DAFTAR PUSTAKA

Anne Dameria. 2009. Digital Printing Handbook, Jakarta: Link and Match Publishing

Carolyn Horton.1978. Conservation of Library Materials: Cleaning and Preserving Binding and Related Materials, Library Technology  Program, Chicago

Dureau & Clement. 1988. Principles for the Preservation and Conservation of Library Materials, The Haque : IFLA

Gardjito dkk.1996. Petun juk Teknis Penjili dan Bahan Pustaka, Jakarta: Perpustakaan Nasional RI

Kadarman, AM. et al.1996. Pengantar Ilmu Manajemen. Jakarta: Gramedia

M.Suyanto.2005.  Pengantar Teknologi Informasi Untuk Bisnis

Perpustakaan Nasional RI. Undang-undang Republik Indonesia No.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan. Jakarta: Perpustakaan Nasional RI

Razak, Muhamadin.1992. Petunjuk Teknis Pelestarian Bahan Pustaka dan Arsip , Perpustakaan Nasional RI

Razak, Muhammadin dkk.1995.  Petunjuk Teknis Pelestarian Bahan Pustaka, Perpustakaan Nasional RI

Razak, Muhammadin dkk.1995. Pedoman Fumigasi, Jakarta: Perpustakaan Nasional RI

Supranto,J. 2000. Teknik Sampling Untuk Survei dan Eksperimen. Jakarta: Rineka

Sutarno. 2003. Perpustakaan dan Masyarakat. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia

Sumber Web Site :  www.pnri.go.id
Wawancara :
Pegawai Teknis Penjilidan BP Perpusnas RI  23 Nopember 2011
Kepala Bidang Konservasi Perpusnas RI 25 Nopember 2011