Revitalisasi Peran Pustakawan Dalam Implementasi Knowledge Management

A. Pendahuluan
Alvin Toffler membagi sejarah peradaban manusia dalam tiga gelombang yaitu era pertanian, era industri dan era informasi. Dalam era pertanian faktor yang menonjol adalah muscle (otot) karena pada saat itu produktivitas ditentukan oleh otot. Pada era industri, faktor yang menonjol adalah machine (mesin), dan pada era informasi faktor yang menonjol adalah mind (pikiran, pengetahuan). Pengetahuan sebagai modal mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam menentukan kemajuan suatu organisasi. Dalam lingkungan yang sangat cepat berubah, pengetahuan akan mengalami keusangan oleh sebab itu perlu terus menerus diperbarui melalui proses belajar.
Belajar dalam era pengetahuan seperti sekarang ini sangat berbeda dengan belajar di masa lalu. Saat ini dituntut untuk belajar baik sendiri maupun bersama dengan cepat, mudah dan gembira, tanpa memandang waktu dan tempat. Hal ini mendorong berkembangnya konsep organisasi belajar (learning organization) yang menyatukan antara proses belajar dan bekerja. Pada sisi lain pengetahuan yang melekat pada anggota suatu organisasi juga perlu diuji, dimutahirkan, ditransfer, dan diakumulasikan, agar tetap memiliki nilai. Hal ini menyebabkan para pakar manajemen mencari pendekatan untuk mengelola pengetahuan yang sekarang dikenal dengan manajemen-pengetahuan atau knowledge management (KM).
Suatu organisasi agar dapat mencapai visi dan misinya harus mengelola pengetahuan yang dimilikinya dengan baik agar dapat bersaing dengan organisasi yang lain. Salah satu cara tersebut adalah dengan menerapkan manajemen-pengetahuan atau KM. Tidak terkecuali perpustakaan sebagai institusi, untuk menghadapi persaingan dan tuntutan yang semakin tinggi memerlukan penerapan manajemen pengetahuan agar selalu dapat menjawab setiap tuntutan tugas pelayanan.

B. Pengertian KM
Sebelum memahami konsep manajemen pengetahuan ini ada beberapa istilah yang harus dipahami yaitu : data, informasi, pengetahuan, jenis pengetahuan, dan manajemen pengetahuan itu sendiri. Di samping itu perlu pula memahami proses pembentukan pengetahuan dari data, informasi, kemudian menjadi pengetahuan.
1. Data adalah kumpulan angka atau fakta objektif mengenai sebuah kejadian (bahan mentah informasi)
2. Informasi adalah data yang diorganisasir/diolah sehingga mempunyai arti. Informasi dapat berbentuk dokumen, laporan ataupun multimedia.
3. Pengetahuan (knowledge) adalah kebiasaan, keahlian/kepakaran, keterampilan, pemahaman, atau pengertian yang diperoleh dari pengalaman, latihan atau melalui proses belajar. Istilah ini sering kali rancu dengan Ilmu Pengetahuan (science). Ilmu Pengetahuan adalah ilmu yang teratur (sistematik) yang dapat diuji atau dibuktikan kebenarannya; sedangkan pengetahuan belum tentu dapat diterapkan, karena pengetahuan sebuah organisasi sangat terkait dengan nilai, budaya, dan kondisi dari organisasi tersebut.
4. Jenis Pengetahuan. Ada dua jenis pengetahuan, yaitu pengetahuan eksplisit dan pengetahuan tacit. Pengetahuan eksplisit dapat diungkapkan dengan kata-kata dan angka, disebarkan dalam bentuk data, spesifikasi, dan buku petunjuk, sedangkan pengetahuan tacit sifatnya sangat personal yang sulit diformulasikan sehingga sulit dikomunikasikan kepada orang lain.
a. Explicit Knowledge.
   Bentuk pengetahuan yang sudah terdokumentasi/terformalisasi, mudah disimpan, diperbanyak, disebarluaskan dan dipelajari. Contoh: manual, buku, laporan, dokumen, surat dan sebagainya.
b. Tacit Knowledge.
   Bentuk pengetahuan yang masih tersimpan dalam pikiran manusia. Misalnya gagasan, persepsi, cara berpikir, wawasan, keahlian/kemahiran, dan sebagainya.
5. Manajemen pengetahuan (KM) Definisi mengenai KM tergantung dari cara organisasi menggunakan dan memanfaatkan pengetahuan. Salah satu definisi KM adalah proses sistematis untuk menemukan, memilih, mengorganisasikan, menyarikan dan menyajikan informasi dengan cara tertentu yang dapat meningkatkan penguasaan pengetahuan dalam suatu bidang kajian yang spesifik. Atau secara umum KM adalah teknik untuk mengelola pengetahuan dalam organisasi untuk menciptakan nilai dan meningkatkan keunggulan kompetitif.

C. Manajemen Pengetahuan dan Teknologi Informasi (TI)
Sebenarnya konsep pengelolaan pengetahuan merupakan konsep lama, perbedaannya KM memungkinkan kita untuk tidak perlu memulai segalanya dari nol lagi. (We don’t have to always reinventing the wheel ). Konsep KM ini menjadi populer karena kompetisi yang kian tajam dalam memperoleh keunggulan. Ketatnya kompetisi menyadarkan orang bahwa hanya penguasaan pengetahuanlah yang akan menentukan keunggulan suatu organisasi. Keunggulan pada saat ini dirumuskan dalam formula: faster, cheaper and better. Kalau saja kita hanya melakukan sesuatu untuk organisasi agar lebih baik dan lebih efisien maka kita akan tertinggal. Bill Gates menyatakan "If the 1980’s were about quality and the 1990’s were about re-engineering, then the 2000’s will be about velocity". Jadi kalau kita berbicara mengenai keunggulan dalam era 2000 an kita berbicara kecepatan (velocity). Untuk dapat mencapai kecepatan maka penggunaan teknologi informasi merupakan suatu keharusan.
KM terdiri dari 3 komponen utama yaitu people, place, dan content. KM membutuhkan orang yang kompeten sebagai sumber pengetahuan, tempat untuk melakukan diskusi, dan isi dari diskusi itu sendiri. Dari ketiga komponen tersebut peran teknologi informasi adalah mampu menghilangkan kendala mengenai tempat melakukan diskusi. TI memungkinkan terjadinya diskusi tanpa kehadiran kita secara fisik. Dengan demikian kapitalisasi pengetahuan dapat terus diadakan walaupun tidak bertatap muka. Dalam konteks secara umum, pelaksanaan KM menghadapi masalah utama yaitu masalah perilaku. Pertama, berkaitan dengan ketidakmauan orang untuk berbagi. Kedua berkaitan dengan ketidakdisiplinan untuk selalu menuliskan apa yang kita dapatkan. Ini merupakan suatu kendala karena budaya kita lebih cenderung pada budaya lisan. Kita belum bisa mendisiplinkan diri untuk selalu menuliskan pengetahuan dan pengalaman yang kita alami dalam suatu sistem sebagai suatu aset organisasi.
Dalam pelajaran manajemen, aset organisasi dirumuskan dengan 5M (man, money, method, machine, dan market). Apabila dipandang dari sisi KM maka manusialah yang merupakan aset yang paling berharga. Tetapi, benarkah semua orang dalam organisasi merupakan aset organisasi? Thomas A. Stewart dalam bukunya Intelectual Capital, secara tegas mengatakan "tidak". Menurut Stewart, yang benar-benar aset hanyalah orang-orang tertentu, yang pekerjaannya berkaitan dengan penambahan pengetahuan dalam organisasi, yaitu The Stars. (Stewart membagi karyawan dalam empat kelompok yaitu: pekerja biasa; pekerja terampil tetapi bukan faktor penentu; pekerja yang melakukan hal yang dihargai oleh pelanggan tetapi dapat di outsource; dan the Stars, yaitu orang-orang dengan peran yang tidak tergantikan sebagai individu). Sebagai contoh kelompok the Stars, salah satunya adalah peneliti. Mereka yang termasuk kelompok keempatlah yang benar-benar merupakan aset bagi organisasi. Organisasi perlu memberikan perhatian penuh pada kelompok ini, karena di tangan merekalah masa depan organisasi. Persoalannya, bagaimana memanfaatkan pengetahuan yang mereka miliki, sehingga dapat terakumulasi dan akhirnya menjadi aset organisasi.
Karena masih dalam tahap embrio dan baru akan dikembangkan maka perlu mempertimbangkan beberapa hal / langkah untuk implementasinya agar dapat berhasil dengan baik. Langkah-langkah tersebut meliputi :
a. Identifikasi pengetahuan yang ada (baik tacit maupun eksplisit) sehingga dapat diketahui peta pengetahuan dalam organisasi dan proses-proses atau kebiasaan yang terkait dengan pengelolaan pengetahuan.
b. Identifikasi infrastruktur yang ada, kita perlu melihat infrastruktur apa yang telah ada, misalnya koleksi hanjar, perpustakaan, intranet, media komunikasi internal, email, forum diskusi, digital library dan lain-lain.
Setelah diperoleh gambaran mengenai proses pengelolaan pengetahuan yang ada dan infrastrukturnya maka kita dapat memulai untuk membangun KM. Apabila KM akan diimplementasikan maka perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Penerapan teknologi.
Pada tahap awal perlu menggunakan teknologi yang tepat, sederhana yang telah ada dan baru kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut. Sebagai misal untuk komputerisasi bahan ajaran dapat menggunakan teknologi sederhana yang biayanya relatif murah seperti menggunakan bentuk portable document format (PDF). Kebetulan software ini (Adobe Acrobat Reader) merupakan software yang dapat di download dengan gratis. Sementara front end nya menggunakan bentuk html yang dapat ditampilkan melalui internet explorer sebagai bagian dari Windows 98 ataupun Windows ME yang dibeli bersamaan dengan komputer baru (preloaded). Dengan demikian maka hal-hal yang berkaitan dengan masalah hak kekayaan intelektual (HAKI) tidak menjadi masalah pada saat awal penerapan KM ini. Setelah KM ini dapat berjalan dan diterima oleh pengguna maka baru kemudian dikembangkan menggunakan teknologi yang lebih baik dan memerlukan biaya yang relatif mahal tetapi sangat menolong bagi perkembangan organisasi.
b. Perubahan Budaya.
Dapat dilakukan dengan membuat kebijakan dan anjuran. Ini merupakan hal yang penting karena budaya di TNI AD masih sangat bersifat paternalistik. Sehingga peran pimpinan akan sangat menonjol di dalam pemasyarakatan KM ini. Ini merupakan langkah yang menentukan karena keberhasilan KM merupakan penentu maju mundurnya organisasi.
c. Pembangunan fasilitas untuk berbagi pengetahuan (knowledge exchange).
Perlunya dibentuk suatu tempat untuk memungkinkan tumbuh suburnya diskusi. Hal ini merupakan sarana bagaimana pengetahuan itu dapat dibagikan. Fasilitas tersebut sangat penting sebagai tempat dari aktifitas-aktifitas yang penting bagi proses penciptaan pengetahuan dan inovasi yang meliputi knowledge exchange, knowledge capture, knowledge reuse, dan knowledge internalization. Hal ini juga penting karena dapat digunakan sebagai sarana untuk menangkap pengetahuan yang sifatnya tacit.
d. Sosialisasi KM untuk dapat dimanfaatkan oleh seluruh personel. Hal ini merupakan suatu kunci keberhasilan dalam penerapan KM karena apabila KM ini dikenal oleh seluruh personel maka proses untuk menangkap pengetahuan ini akan dapat dilaksanakan dengan lebih baik.
e. Evaluasi keberhasilan penerapan KM.
Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan pengukuran kinerja dengan membandingkan kondisi sebelum dan sesudah dilaksanakannya KM.

D. Turbulensi Informasi
Ledakan informasi karena kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah terjadi dan kedepan percepatan baik kualitas maupun kuantitasnya akan semakin meningkat tajam. Dampak yang diakibatkan TIK hampir pada semua sektor kehidupan dan lapisan masyarakat, tidak terkecuali institusi perpustakaan. Perubahan dalam institusi perpustakaan yang ditimbulkan oleh kehadiran TIK bukan saja terbatas pada perubahan struktur, misi maupun definisinya, tetapi bahkan menyangkut paradigma.
Sejarah perkembangan perpustakaan mencatat ada tiga momentum yang mempunyai dampak yang sangat signifikan dalam operasional dan eksistensi perpustakaan. Peristiwa besar tersebut (1) penemuan huruf/aksara (2) penemuan mesin cetak oleh Johan Gutenberg dan (3) akselerasi perkembangan TIK.
Ledakan informasi karena kemajuan TIK berakibat pada jumlah informasi yang berlebihan (overload), jika kemajuan TIK yang menghasilkan begitu banyak informasi tersebut tidak dikelola dengan baik, maka disamping mubazir, juga akan menghambat proses kerja. Orang-orang yang sibuk dengan pekerjaannya atau organisasi yang mati-matian bersaing dengan competitor sangat membutuhkan informasi yang sifatnya cepat, akurat, mudah dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.
Adanya pengetahuan baru dibidang pengelolaan pengetahuan yang akrab di sebut knowledge management (KM) sangat diapresiasi oleh dunia bisnis. KM diyakini akan membantu daya saing perusahaan. Perusahaan di masa depan akan tetap eksis dan mampu  unggul bila menguasai informasi. Kesadaran ini sesungguhnya sudah tumbuh cukup lama, tetapi ledakan TIK semakin menyadarkan pentingnya pengelolaan informasi dan pengetahuan.

E. Peran Knowledge Management (KM) di Perpustakaan
Penerapan KM pada awalnya digunakan di dunia bisnis. Faktor yang mendorong cepatnya penerapan KM di dunia bisnis menurut penulis dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: (1) informasi yang disajikan tidak menuntut kedalam tetapi harus fokus  (2) sifat informasi yang disediakan terutama yang sesuai dengan bidang usaha perusahaan (3) pemakai lebih homogen, jika dilihat dari kepentingannya terhadap informasi (4) sumber daya (manusia, dana, sarana dan yang lain) jauh lebih memungkinkan daripada institusi resmi pemerintah. Melihat kecenderungan yang terjadi saat ini dan membandingkan kemajuan di sektor swasta, besar kemungkinan penerapan KM masuk di sektor birokrasi pemerintahan.
Definisi mengenai KM memang banyak dan menurut penulis hal ini masih akan berproses dan berinteraksi secara ilmiah untuk lebih membakukannya. Satu diantara definisi tersebut membatasi KM sebagai kegiatan merencanakan, mengumpulkan dan mengorganisir, memimpin dan mengendalikan  data dan informasi yang telah digabung dengan berbagai bentuk pemikiran dan analisa dari pelbagai macam sumber yang kompeten. KM bisa jadi merupakan solusi atas informasi yang overload melalui internet.
KM bagi perpustakaan sebenarnya bukan hal yang baru. Aktivitas KM merupakan aktifitas keseharian di perpustakaan. Dengan kemajuan TIK maka kemasan yang membungkusnya menjadi agak berbeda. Bahan mentah perpustakaan umum maupun perguruan tinggi sampai saat ini masih didominasi bahan pustaka tercetak, sedangkan pada KM hampir 90% terdiri dari bahan non-cetak terutama bersumber dari internet (virtual library).
Semua aktifitas KM identik dengan kegiatan rutin di perpustakaan. Pada KM dikenal istilah seperti penciptaan pengetahuan (creation knowledge), kegiatan ini dalam perpustakaan seperti pemilihan bahan pustaka yang akan dikoleksi. Survey kebutuhan pemakai dilakukan untuk memahami informasi yang diharapkan pemakai. Pada proses ini pustakawan mencoba mengumpulkan informasi-informasi yang relevan dengan akhir kegiatan berupa akuisisi bahan pustaka. Juga kegiatan-kegiatan lain di KM seperti penyimpanan pengetahuan (retention knowledge), pemindahan knowledge (transfer knowledge) sampai pada penggunaan pengetahuan (utilization knowledge). Dengan terminology dan modifikasi pada penekanan jenis kegiatan, semua kegiatan di KM sama  atau identik dengan kegiatan rutin perpustakaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel I di bawah.

Uraian Jenis Kegiatan

Istilah

Library

KM

Memasukkan informasi yang relevan dengan kebutuhan pemakai. Petugas mencoba memahami kebutuhan pemakai agar koleksi (sumber informasi) relevan dengan pemakai.

Survey/Seleksi/Akuisisi

Penciptaan

Penyimpanan pengetahuan agar mudah diakses dan selalu terjaga keawetannya. Setelah selesai kegiatan prosesing di perpustakaan, maka bahan pustaka didisplay di rak dan siap digunakan oleh pemakai. Sementara di KM penyimpanan pada satu sistem otomasi terprogram.

Pengerakan

Retention/ Penyimpanan

Proses pemindahan, secara sederhana bahan pustaka akan berguna bila digunakan oleh pemakai, dan penggunaan tersebut melalui proses sirkulasi berupa peminjaman  dan pengembalian. Di KM proses ini dimaknai dengan berpindahnya pengetahuan dari pengelola KM kepada pihak yang mengakses.

Sirkulasi

Transfer

Penggunaan pengetahuan. Pada perpustakaan bahan pustaka yang dipinjam oleh pemakai diasumsikan pasti memberi manfaat kepada peminjamnya baik itu untuk keperluan studi, social kemasyarkatan mauoun bisnis. Pada KM, karena scope-nya lebih terbatas, kemanfaatannya diukur bagaimana tindaklanjut setelah memperoleh pengetahuan.

Memper-oleh Pengeta-huan

Utilization

Tabel I Beberapa persamaan aktifitas perpustakaan dan KM (isi table dari pelbagai sumber dengan  disusun dan dimodifikasi sesuai kebutuhan)

Di perpustakaan banyak pula dilakukan kegiatan-kegiatan yang lebih ilmiah dan analitis yang tujuannya untuk memudahkan pemakai menggunakan bahan pustaka. Bahan pustaka ini yang mentransfer pengetahuan kepada pembacanya. Pustakawan sendiri merupakan knowledge workers, di mana knowledge workers memegang peran sentral dalam KM. Beberapa kegiatan tersebut diantaranya penyusunan bibliografi, dari yang ringkas sampai dengan yang cukup lengkap. Pustakawan terutama di bagian referensi dituntut untuk memahami pelbagai bidang ilmu sehingga bila ada pemakai yang membutuhkan informasi dapat dirujuk secara detail.

F. KM : Fenomena dan Paradigma Baru di Perpustakaan
Secara garis besar perkembangan perpustakaan telah melalui enam kelompok konsep tentang perpustakaan. Enam kelompok konsep tersebut adalah:
(1) Gudang pengetahuan purba
(2) Akuisisi naskah pada masa klasik
(3) Pelestarian literature klasik (pada abad pertengahan)
(4) Lembaga sosial yang melayani kebutuhan budaya masyarakat (Abad ke-18 dan Abad ke-19)
(5) Penerapan teknologi canggih untuk aspek fisik pustaka (paruh pertama abad ke-20), dan
(6) Manajemen pengetahuan (akhir Abad ke-20 dan awal abad ke-21)

Pendekatan KM di perpustakaan sudah merupakan keniscayaan. Tinggal bagaimana pustakawan mensikapi dan mengantisipasinya. Taruhan yang diberikan memang cukup ekstrim, ¿berperan aktif dan fokus pada KM atau memudar atau bahkan hilangnya eksistensi perpustakaan¿.
Jika aktifitas KM sudah melekat pada profesi pustakawan, menjadi pertanyaan besar mengapa KM dipersepsikan sebagai mahluk yang baru bagi khalayak umum terlebih lagi bagi pustakawan. Akan lebih bermakna jika lebih memfokuskan untuk mengetahui faktor penghambat mengapa perpustakaan yang di dalamnya melekat KM menjadi tertinggal dalam berbagai aspek, sementara KM yang menurut hemat penulis merupakan bagian dari perpustakaan mendapat apresiasi yang begitu positif. Faktor tersebut antara lain:

(a) Budaya
Budaya yang dimaksud di sini berkaitan apresiasi masyarakat terhadap perpustakaan dan fungsi-fungsi yang melekat padanya. Budaya baca, terutama pada bahan bacaan yang tebal dan serius, mulai ditinggalkan oleh masyarakat. Minat baca masyarakat masih perlu ditingkatkan. Perpustakaan di Indonesia bukan merupakan kebanggaan atau wujud tingginya peradaban dan budaya masyrakat, sehingga pengelolaannya hanya memperoleh prioritas yang terakhir. Di luar negeri apresiasi terhadap perpustakaan sangat tinggi dan kebanggaan memiliki perpustakaan betul-betul tertanam.

(b) Faktor Struktural
Faktor struktural yang menghambat eksistensi perpustakaan masih selalu mengemuka karena struktur birokrasi pemerintahan tidak menganggap penting keberadaan perpustakaan. Di era otonomi daerah banyak perpustakaan umum harus turun jenjang/eselon. Penghargaan pemerintah kepada profesi pustakawan juga sangat rendah. Jika dalam UU Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 dalam beberapa pasalnya secara eksplisit dinyatakan bahwa pustakawan merupakan salah satu tenaga kependidikan dalam satu satuan pendidikan (sekolah) tetapi penghargaan yang diberikan masih sangat jauh dibandingkan guru. Keberadaan perpustakaan sekolah dan pustakawannya masih sangat memprihatinkan. Demikian pula yang berlaku untuk perpustakaan umum maupun daerah yang dikelola pemerintah Dati I maupun Dati II.

(c) Sumber Daya Manusia
Kemampuan pustakawan agar mampu menjalankan profesinya selalu di tingkatkan. Sehingga di masa depan adanya standadisasi  kemampauan dengan memberi sertifikasi profesi patut menjadi pertimbangan. Di samping memiliki kemampuan pokok di bidang kepustakawanan, pengetahuan mengenai TIK juga merupakan keunggulan kompetitif bagi seorang pustakawan. Saat ini pustakawan masih sibuk pada urusan teknikal yang mungkin sepuluh tahun lagi sudah tidak lagi digunakan. Penghargaan terhadap profesi pustakawan juga merupakan faktor yang penting. Karena rendahnya pengakuan terhadap profesi pustakawan, maka minat orang untuk menekuninya juga sangat terbatas. Padahal tuntutan untuk menjadi pustakawan yang professional sangat tinggi, memerlukan kemampuan intelektual dan integritas yang tinggi.

(d) Infrastruktur
Perpustakaan yang menerapkan KM mengharuskan memiliki infrastuktur di bidang TIK yang cukup canggih. Meskipun secara ekonomis biaya infrastuktur di bidang TIK selalu menurun dan akan semakin terjangkau, tetapi melihat kondisi ekonomi Bangsa Indonesia banyak pihak menganggap pengadaan TIK merupakan barang mewah. Pihak-pihak yang tidak setuju pada perbaikan infrastruktur bidang TIK selalu menkontraskan dengan kondisi sosial ekonomi di masyarakat. Sudah cukup banyak bukti karena penyediaan sector infrasutuktur TIK diabaikan oleh pemerintah, maka kesempatan ini diambil oleh swasta. Sangat nyata setelah sector TIK dipegang oleh swasta justru menjadi sangat efektif dan efisien dengan profitabilitas para pelaku di bidang TIK yang cukup tinggi.

Empat faktor di atas hanya merupakan faktor-faktor dominan saja yang melingkupi permasalaham penerapan KM di perpustakaan. Masih ada faktor yang lain, tetapi bila keempat faktor di atas dapat terpecahkan, hampir 85% masalah sudah terpecahkan.

G. Beberapa Catatan untuk Pelaksanaan KM di Perpustakaan
Yang paling utama perlu ditekankan bahwa KM sejatinya merupakan tugas rutin seorang pustakawan. Sejak awal kepada pustakawan baru, apalagi lulusan sarjana ilmu perpustakaan sudah harus ditekankan bahwa eksistensinya perpustakaan ke depan bergantung bagaimana menjadikan KM yang andal. Bila dahulu terdapat jargon ¿ publish or perish ¿ maka kondisi yang sama akan dihadapi pustakawan dalam menerapkan KM.
Re-definisi perpustakaan sebagai penyedia jasa informasi cuma-cuma perlu menjadi bahan kajian bersama. Apabila dunia bisnis begitu menghargai jasa informasi, sementara informasi yang diberikan dari perpustakaan melalui KM mampu setara dengan informasi yang dikemas oleh pusat data swasta (misalnya PDBI) mengapa tidak dibolehkan ¿komersialisasi¿ dari informasi yang diberikan.
Kaisa menekankan pentingnya budaya lingkungan apabila membangun sistem KM, bahkan menyatakan kunci sukses KM bukan pada perangkat teknologinya, tetapi pada pendekatan kemanusiaan dan integritas yang tinggi. Pentingnya 3 C yaitu Culture, Co-operation dan Commitment dalam suatu organisasi, karena KM memerlukan kemauan yang tinggi untuk berbagi (share) demi kepentingan bersama. Hasil penelitian yang dilakukan Riset Delphi Group menunjukkan knowledge dalam organisasi tersimpan dengan struktur 42% di pikiran (otak karyawan); 26% di dokumen kertas; 20% di dokumen elektronika dan 12% knowledge-base elektronik. Kemampuan dan ketelatenan pustakawan untuk mendokumentasikan pengetahuan dari tacit knowledge menjadi terdokumentasi masih sangat rendah.
Perlunya subjek spesialis di perpustakaan bila menerapkan KM. Sehingga idealnya pustakawan berasal dari berbagai disiplin ilmu. Semakin spesialis seorang pustakawan (tentunya dengan sertifikasi profesi pustakawan) maka layanan yang diberikan melalui KM akan terasa kedalamannya. Seorang pustakawan yang berlatar belakang filsafat akan mampu membuat kategorisasi/klasifikasi ilmu filsafat dengan baik. Maka layanan yang diberikan kepada pemakai akan sesuai, tepat dan akurat.