Studi Komparatif Pentingnya Literasi Informasi Bagi Mahasiswa

Pendahuluan

Penguasaan literasi informasi dipandang sangat penting dalam proses pembelajaran sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari program pendidikan, mulai dari jenjang pendidikan dasar sampai dengan pendidikan tinggi. Terutama bagi institusi pendidikan tinggi yang sudah menerapkan KBK (kurikulum berbasis kompetensi), penguasaan literasi informasi menjadi kompetensi yang perlu dimiliki oleh setiap mahasiswa.

Penguasaan ini tidak hanya bertujuan untuk menjadikan mahasiswa sebagai individu yang melek informasi, yang mampu menyelesaikan tugas-tugas akademis dengan baik, melainkan juga untuk membekali mereka dengan pemahaman yang mendalam tentang literasi informasi yaitu meliputi keberaksaraan komputer, keberaksaraan teknologi dan keberaksaraan digital (Adler dalam Zulaikha, 2008). Pernyataan ini juga didukung oleh American Library Association (ALA, 2000) menyatakan bahwa literasi informasi merupakan hasil utama mahasiswa perguruan tinggi di Amerika Serikat.
Literasi informasi mengubah dan membangun seseorang menjadi individu pembelajar seumur hidup (lifelong learning). Breivik dan Gee dalam Naibaho (2007) mengemukakan bahwa dalam masyarakat informasi, pengukuran yang paling tepat dari lulusan pendidikan tinggi adalah apakah mahasiswa mampu mengarahkan diri menjadi pembelajar yang mandiri.

Sejak launching program literasi informasi oleh perpustakaan sampai saat ini baru 3 jurusan yang berperan aktif mengikutsertakan mahasiswa barunya untuk mengikuti program literasi informasi, yaitu Ilmu Keperawatan, Biologi dan Teacher College. Hal ini sejalan dengan pendapat Fitzgerald (2004) bahwa literasi informasi merupakan ketrampilan esensial bagi mahasiswa baru.

Keberhasilan program literasi bagi mahasiswa bukan hanya menjadi tanggung jawab perpustakaan melainkan juga pihak yang bersentuhan langsung dengan mahasiswa yaitu jurusan atau fakultas. Namun sejauh ini masih belum semua jurusan menyadari akan pentingnya penguasaan ketrampilan tersebut bagi peserta didiknya. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada jurusan/fakultas lain akan perlunya mahasiswa memiliki kemampuan literasi informasi. Penelitian dilakukan dengan studi komparatif yaitu dengan cara membandingkan antara mahasiswa yang mengikuti program ini dengan yang tidak mengikuti program literasi. Untuk sampel yang mengikuti program diwakili oleh jurusan Ilmu Keperawatan dan sampel pembandingnya diwakili oleh jurusan Ilmu Komunikasi.

Tinjauan Pustaka
Konsep Literasi Informasi
Literasi informasi sebagai kemampuan mencari, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif bukanlah merupakan ketrampilan baru yang muncul sebagai tuntutan di era informasi. Konsep literasi informasi sebenarnya telah diartikan dan dilakukan sejak lama, dengan menggunakan istilah seperti study skills, research skills, dan library skills yang cenderung dipakai dalam konteks pendidikan.

Zurkowski merupakan orang pertama yang menggunakan konsep literasi informasi menyatakan bahwa orang yang terlatih untuk menggunakan sumber-sumber informasi dalam menyelesaikan tugas mereka disebut orang yang melek informasi (information literate) (Behrens, 1994).

Konsep ini sejalan dengan Burchinal dalam Naibaho (2007) yang menyatakan bahwa untuk menjadi orang yang melek informasi, dibutuhkan serangkaian keahlian, antara lain bagaimana cara mencari dan menggunakan informasi yang diperlukan untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan secara efektif dan efisien.

Australian and New Zealand Information Framework (2004) menyatakan bahwa orang yang melek informasi adalah mereka yang dapat
• Recognize a need for information and determine the extend of information needed
• Fine needed information effectively and efficiently
• Critically evaluate information and the information seeking process
• Manages information collected or generated
• Applies prior and new information to construct new concepts or create new understandings
• Uses information with understanding and acknowledges cultural, ethical, economic, legal, and social issues serrounding the use of

Pandangan dan pemahaman terhadap konsep literasi informasi terus berkembang seiring dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Para peneliti, profesional, organisasi profesi maupun akademisi memandang literasi informasi dengan berbagai cara, baik dari hasil penelitian maupun pengalaman yang dialami. Berdasarkan pemahaman dari konsep tersebutlah muncul berbagai definisi mengenai literasi informasi meskipun deskripsi yang paling luas diterima adalah pandangan bahwa literasi informasi merupakan suatu kombinasi antara keahlian, sikap dan pengetahuan.

Hennelore B Rader dalam Azhar (2007) mendefinisikan literasi informasi sebagai kemampuan untuk mencari dan mengevaluasi informasi dengan efektif untuk pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Sedangkan Jan Olsen dan Coons memandang literasi informasi dengan cakupan yang luas, yaitu pemahaman peran dan kekuatan informasi, yakni memiliki kemampuan untuk menemukan, memanggil ulang informasi, mempergunakannya dalam pengambilan keputusan serta memiliki kemampuan untuk menghasilkan serta memanipulasi informasi dengan menggunakan proses elektronik.

Menurut Association of College and Reserach Libraries (ACRL, 2000) seperti yang direkomendasikan oleh American Library Association literasi informasi diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengidentifikasi informasi yang dibutuhkannya, mengakses dan menemukan informasi, mengevaluasi informasi, dan menggunakan informasi secara efektif dan etis.

Sedangkan menurut Chartered Institute of Library and Information Proefessional (CILIP, 2005) sebagai berikut information literacy knowing when and why you need information, where to find it, and how to evaluate, use and communicate it in an ethical manner (kemampuan seseorang untuk mengetahui kapan dan mengapa informasi dibutuhkan, dimana menemukan informasi tersebut, bagaimana mengevaluasi informasi yang didapat, menggunakannya serta mengkomunikasikannya secara etis).

Kompetensi Literasi Informasi Bagi Mahasiswa
Perkembangan ICT membuat informasi begitu melimpah dan mudah untuk diakses serta dimanfaatkan. Kelimpahruahan, kecepatan serta kemudahan memperoleh informasi hanya akan didapat jika pencari informasi memiliki kompetensi dalam literasi informasi. Bahkan American Library Association (ALA, 1989) telah mempertimbangkan bahwa literasi informasi merupakan hasil utama siswa di perguruan tinggi.

Candy, Crebert dan O’Leary dalam Salmubi (2007) mengatakan “Access to, and critical use of information and of information technology is absolutely vital to lifelong learning, and accordingly no graduate – can be judged educated unless he or she is information literate”. Dari pernyataan tersebut Candy, Crebert dan O’Leary mengungkapkan bahwa seorang tidak dapat dinyatakan lulus, bilamana ia belum menyandang status sebagai information literate person. Maksudnya, untuk melakukan hal yang demikian, lembaga pendidikan tinggi harus menetapkan literasi informasi sebagai sebuah standar kompetensi (sebagai syarat) yang wajib dimiliki oleh setiap peserta didik sebelum meninggalkan universitas.

Association of College and Reserach Libraries (ACRL, 2000) menyatakan bahwa mahasiswa dikatakan kompetensi information literate jika mampu (1) menentukan sifat dan cakupan informasi yang dibutuhkan, (2) mengakses informasi yang dibutuhkan secara efektif dan efisien, (3) mengevaluasi informasi dan sumber-sumbernya secara kritis, (4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan tujuan tertentu dan (5) memahami aspek ekonomi, hukum dan sosial yang berkaitan dengan penggunaan informasi.

Sedangkan menurut Chartered Institute of Library and Information professional (CILIP, 2002) dinyatakan ada 8 kriteria mahasiswa dikatakan memiliki kompetensi literasi informasi apabila ia tahu akan :
a need for information. Dalam tahap ini, seseorang tahu bahwa sebuah informasi diperlukan; kenapa informasikan tersebut diperlukan, apa yang diperlukan dari sebuah informasi (berapa banyak; seperti apa) dihubungkan dengan batasan-batasan yang ada (seperti waktu, bentuk, finansial, akses); mengenali bahwa informasi itu tersedia di suatu cakupan luas dari bentuk-bentuk dalam berbagai lokasi-lokasi maya dan geografis.
Informasi bisa tersedia secara tertulis (buku, acuan bekerja, jurnal-jurnal, surat kabar, surat kabar, dan lain-lain), secara digital (CD-ROMs, internet atau World Wide Web, DVDs, komputer, website pribadi, dan lain-lain), melalui media yang lain seperti siaran atau film, atau dari seorang rekan kerja atau teman.
the resources available. Dalam tahap ini, seseorang sudah dapat mengidentifikasi apakah sumber dari informasi tersebut dapat dieksploitasi/digunakan, mengetahui dimana informasi tersebut tersedia, mengetahui bagaimana cara mengaksesnya, mengetahui baik buruk individu yang menjadi nara sumbernya, kapan informasi tersebut sesuai digunakan, dan apa yang menjadi perbedaan diantaranya. Contoh : artikel jurnal ada yang tersedia dalam bentuk tercetak, elektronik, dan ataupun sebagai database saja.
how to find information. Dalam tahap ini, seseorang sudah memiliki keterampilan untuk dapat mencari informasi secara cepat dari berbagai sumber yang terkait dengan pencarian. Selain itu, dalam tahap ini seseorang sudah memiliki strategi kapan dia harus mulai dan mengakhiri pencarian informasi hanya dengan membaca sekilas sebuah sumber informasi. Intinya dalam tahap ini seseorang sudah memiliki keterampilan ”purposive searching”
the need to evaluate results. Dalam tahap ini, seseorang sudah mempunyai kesadaran untuk mengecek keakuratan, keaslian, ataupun apakah isi dari informasi tersebut dapat dipertanggungjawabkan (tidak menyesatkan).
how to work with or exploit results. Dalam tahap ini, seseorang sudah tahu bahwa untuk memahami sebuah informasi dia terlebih dahulu harus memaknai dan mengolah informasi yang didapatnya. Cara yang biasa digunakan adalah dengan membandingkan, mengkombinasikan, menambah catatan, dan menerapkan (penggunaan) informasi ditemukan. Selanjutnya, berakhir dengan keputusan apakah perlu mencari informasi tambahan atau tidak.
ethics and responsibility of use. Dalam tahap ini, seseorang sudah memiliki etika dan rasa tanggung jawab yang tinggi dalam setiap menggunakan informasi yang diperolehnya. Salah satu caranya, yaitu dengan mencantumkan sumber asal informasi tersebut diperoleh. Hal ini untuk menjauhkan plagiat dan ketidakadilan dalam menggunakan informasi.
how to communicate or share your findings. Dalam tahap ini, seseorang sudah mengetahui sekaligus memahami bagaimana caranya mengkomunikasi informasi yang dia dapatkan secara benar. Selain itu, seseorang dalam tahap ini sudah memiliki kemampuan mensintesa (lebih dari sekedar analisa) dan selanjutnya dapat menginformasikannya dalam format diseminasi yang sesuai.
how to manage your findings. Dalam tahap ini, seseorang sudah mengetahui sekaligus memahami bagaimana caranya menyimpan dan mengatur informasi yang sudah diperolehnya dengan menggunakan metoda-metoda yang paling efektif. Hasil temuannya tersebut dapat mencerminkan proses berpikir kritisnya dalam mengolah dan meramu kembali semua informasi yang telah diperolehnya.

Hipotesis
Hipotesis Mayor
Hipotesa mayor yang penulis ajukan dalam penelitian ini sebagai berikut
H0 = Tidak ada perbedaan kemampuan yang signifikan antara mahasiswa yang mengikuti dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi.
H1 = Ada perbedaan kemampuan yang signifikan antara mahasiswa yang mengikuti dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi.

Hipotesis Minor
Hipotesa minor yang penulis ajukan dalam penelitian ini sebagai berikut

Identifikasi Informasi
H0 = Tidak ada perbedaan kemampuan yang signifikan dalam mengidentifikasikan informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan yang tidak mengikuti program tersebut.
H1 = Ada perbedaan kemampuan yang signifikan dalam mengidentifikasikan informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan dengan yang tidak mengikuti program tersebut.
Akses Informasi
H0 = Tidak ada perbedaan kemampuan yang signifikan dalam mengakses informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan dengan yang tidak mengikuti program tersebut.
H1 = Ada perbedaan kemampuan yang signifikan dalam mengakses informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan dengan yang tidak mengikuti program tersebut.
Menemukan Informasi
H0 = Tidak ada perbedaan kemampuan yang signifikan dalam menemukan informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan dengan yang tidak mengikuti program tersebut.
H1 = Ada perbedaan kemampuan yang signifikan dalam menemukan informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan dengan yang tidak mengikuti program tersebut.
Evaluasi Informasi
H0 = Tidak ada perbedaan kemampuan yang signifikan dalam mengevaluasi informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan dengan yang tidak mengikuti program tersebut.
H1 = Ada perbedaan kemampuan yang signifikan dalam mengevaluasi informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan dengan yang tidak mengikuti program tersebut.
Menggunakan Informasi
H0 = Tidak ada perbedaan kemampuan yang signifikan dalam menggunakan informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan dengan yang tidak mengikuti program tersebut.
H1 = Ada perbedaan kemampuan yang signifikan dalam menggunakan informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan dengan yang tidak mengikuti program tersebut.

Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kuantitatif dengan studi komparatif yang bertujuan untuk mengetahui hubungan mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan mahasiswa yang tidak mengikuti program literasi serta membuktikan hubungan tersebut dalam kaitannya dengan identifikasi informasi, akses informasi, menemukan informasi, evaluasi informasi dan menggunakan informasi.

Populasi
Populasi pada dasarnya adalah kesatuan atau keseluruhan yang terdiri dari unit-unit. Penggunaan istilah unit ini untuk menyatakan bahwa selain berupa benda atau kejadian dapat juga berujud manusia (Pendit, 2003:215). Populasi dalam penelitian ini diperoleh dari 2 jurusan yang berbeda, yaitu jurusan Ilmu Komunikasi dan jurusan Ilmu Keperawatan. Pemilihan populasi lebih berdasarkan pada jurusan yang belum pernah mengikuti program literasi informasi (Ilmu Komunikasi) dengan jurusan yang secara kontinyu mengikutsertakan peserta didiknya untuk mengikuti proram literasi informasi (Ilmu Keperawatan).

Sampel
Menurut Pendit (2003:216), sampel merupakan bagian dari populasi yang terpilih untuk diteliti, baik berdasarkan kemungkinan yang terukur (probability) maupun tidak (non-probability). Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili). Jumlah sampel yang akan diteliti menggunakan rumus yang dikemukakan oleh Yamane dalam Rahkmat (1998:83) yaitu

keterangan
n = jumlah sampel yang diambil
N = populasi
d = presisi yang ditetapkan

Karena penelitian ini menggunakan 2 populasi yang berbeda maka penarikan sampel dilakukan secara sampling kuota, yaitu dengan menetapkan jumlah tertentu untuk setiap strata lalu meneliti siapa saja yang ada sampai jumlah itu terpenuhi (Rahkmat, 1998:82).
Untuk menguji valid tidaknya hubungan tersebut, menggunakan rumus korelasi product moment

Uji Korelasioner Antar Variabel
Pengertian korelasi adalah angka yang menunjukkan arah dan kuatnya hubungan antar dua variabel atau lebih. Untuk mencari kuatnya hubungan tersebut maka perlu dihitung terlebih dahulu koefisien korelasi antar variabel dalam sampel, selanjutnya koefisien korelasi yang didapat di uji signifikansinya. (Sugiyono, 2009:224).

Sejalan dengan penelitian ini, dimana penulis ingin mengetahui :
1. Hubungan mahasiswa yang mengikuti program literasi dengan mahasiswa yang tidak mengikuti program literasi.
2. Membuktikan hubungan tersebut dalam identifikasikan informasi, akses informasi, menemukan informasi, evaluasi informasi dan menggunakan informasi.
Atas dasar inilah maka penulis menggunakan rumus korelasi product moment, dengan rincian sebagai berikut

keterangan
rxy = koefisien korelasi
xi = sampel mahasiswa ilmu keperawatan
yi = sampel mahasiswa ilmu komunikasi
n = jumlah sampel

Nilai koefisien korelasi (rxy) yang didapat kemudian dibandingkan dengan koefisien korelasi tabel (r tabel). Dalam hal ini ada dua faktor yang perlu diperhatikan terhadap nilai koefisien korelasi yang didapat
1. Apabila nilai rxy hitung lebih kecil dari r tabel, dapat dinyatakan bahwa tidak ada perbedaan pada variabel yang diuji.
2. Apabila nilai rxy hitung lebih besar dari r tabel, dapat dinyatakan bahwa ada perbedaan pada variabel yang diuji.
sedangkan untuk menguji korelasi secara keseluruhan bagi mahasiswa yang ikut program literasi informasi dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi, menggunakan uji t-test

keterangan
s1 = simpangan baku mahasiswa ilmu keperawatan
s2 = simpangan baku mahasiswa ilmu komunikasi
x1 = sampel mahasiswa ilmu keperawatan
x2 = sampel mahasiswa ilmu komunikasi
s12 = varian mahasiswa ilmu keperawatan
s22 = varian mahasiswa ilmu komunikasi
r = korelasi antara dua sampel
n = jumlah sampel

Pembahasan
Pembahasan dilakukan dengan membandingkan dua sampel, yaitu pertama kelompok mahasiswa yang telah mengikuti program literasi informasi dan kedua, kelompok mahasiswa yang tidak ikut program literasi informasi. Dimana tiap-tiap kelompok secara bertahap dilakukan uji korelasi variabel literasi informasi yang terdiri atas identifikasi informasi, akses informasi, menemukan informasi, evaluasi informasi dan menggunakan informasi.

Uji Korelasioner Identifikasi Informasi
Merupakan uji untuk mengetahui hubungan mahasiswa dalam identifikasi informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi.

Hasil uji tersebut didapat bahwa nilai r hitung 0.377, lebih besar dari r tabel (r tabel 0,259), dengan demikian Ho ditolak dan H1 diterima karena terdapat perbedaan yang nyata sehingga dapat dikatakan bahwa ada perbedaan kemampuan dalam mengidentifikasikan informasi antara mahasiswa yang ikut program literasi informasi dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi. Hal ini sejalan dengan pernyataan Webber (2000) bahwa program literasi informasi memberikan kemampuan seseorang dalam mencari, memilih sumber informasi secara cerdas, menilai serta memilah-milah sumber informasi.

Uji Korelasioner Akses Informasi
Adalah uji untuk mengetahui hubungan mahasiswa dalam mengakses informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi. Point utama dari variabel ini adalah bagaimana mahasiswa dapat mengetahui dimana letak dan bagaimana cara menemukan sumber-sumber informasi tersebut.

Dari hasil r hitung didapat 0.465, sedangkan r tabel = 0.259, berarti r hitung lebih besar dari r tabel dan bisa diasumsikan bahwa terdapat perbedaan yang nyata antara dua kelompok mahasiswa dalam mengakses informasi.

Dengan melimpahnya informasi tentunya mahasiswa dihadapkan pada kecepatan dan keakuratan informasi yang relevan dengan tugas mereka. Kecepatan dan ketepatan ini tentunya akan sulit diperoleh pada mahasiswa yang tidak memiliki kompetensi literasi informasi. Hasil yang sama juga dipaparkan oleh Kinengyere (2007) dalam penelitiannya di Makerere University, Uganda, bahwa banyak mahasiswa tidak tahu bagaimana cara mengakses informasi sehingga mereka tidak aware dengan sumber-sumber informasi yang telah disediakan di perpustakaan.

Uji Korelasioner Menemukan Informasi
Point utama variabel ini adalah mendapatkan informasi yang relevan dengan kebutuhan informasi mahasiswa. Dari hasil r hitung didapat 0.407, ternyata lebih besar dibandingkan r tabel sebesar 0.259 sehingga bisa disimpulkan bahwa ada perbedaan yang nyata dalam kemampuan menemukan informasi.

Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh California State University tahun 2000 dipaparkan bahwa sebagian besar mahasiswa yang diterima di universitas tersebut menggunakan internet sebagai sumber informasi utama, namun kendalanya mereka tidak memiliki strategi penelusuran yang tepat hanya melalui keyword sehingga informasi yang di retrieve tidak relevan yang mereka butuhkan.

Uji Korelasioner Evaluasi Informasi
Merupakan uji untuk mengetahui hubungan mahasiswa dalam mengevaluasi informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi.
Dari r hitung didapat 0.403, lebih besar dari r tabel = 0.259, dengan demikian Ho ditolak dan H1 diterima yang berarti ada perbedaan kemampuan dalam mengevaluasi informasi antara mahasiswa yang ikut program literasi informasi dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi.

Hasil ini relevan dengan pengamatan penulis terhadap mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi bahwa mereka lebih kritis terhadap informasi sebelum mereka unduh dengan memperhatikan obyektifitas dan otoritas dari yang mempublikasikan informasi tersebut. Kedua faktor ini sepadan dengan yang dikemukakan oleh Kapoun (1998) seorang pustakawan dari Southwest State University yang mengatakan bahwa dalam mengevaluasi website ada 5 hal yang perlu diperhatikan yaitu keakurasian, otoritas, obyektifitas, keterkinian dan lingkupan.

Uji Korelasioner Menggunakan Informasi
Adalah uji untuk mengetahui hubungan mahasiswa dalam menggunakan informasi antara mahasiswa yang mengikuti program literasi dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi.

Didapat r hitung 0.578 lebih besar dari r tabel = 0.259, dengan demikian Ho ditolak dan H1 diterima sehingga disimpulkan terdapat perbedaan kemampuan dalam menggunakan informasi antara mahasiswa yang ikut program literasi informasi dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi.

Hasil rangkuman wawancara dengan mahasiswa yang mengikuti program literasi menyatakan bahwa pertama, sebagian besar dari mereka selalu melakukan diskusi dari hasil yang mereka peroleh kepada dosen dan kedua, tidak pernah lupa selalu mencantumkan sumber informasi tersebut kedalam karya mereka. Hasil sebaliknya dari mahasiswa yang tidak mengikuti program literasi, mereka umumnya lebih tertutup terhadap ide dan tidak selalu mencantumkan data bibliography dari sumber utamanya (ketakutan diplagiat oleh sesama teman).

 

Uji Korelasioner Mahasiswa yang Ikut Program Literasi Informasi dengan yang Tidak Mengikuti Program Tersebut

Dari uji korelasi dua sampel diatas terhadap variabel literasi informasi, didapati bahwa semua variabel berbeda nyata, dalam arti ada pengaruh yang signifikan dari mahasiswa yang telah mengikuti program tersebut. Tahap selanjutnya melakukan uji korelasi terhadap kedua sample secara keseluruhan.

Tabel 3. Hasil statistik variabel program literasi informasi

 

Untuk mengetahui berpengaruh-tidaknya mahasiswa mengikuti program tersebut, dilakukan uji statistik dengan menggunakan uji korelasi product moment sebagai berikut :

 

Diperoleh r hitung sebesar 0.720, sedangkan r tabel sebesar 0.259, berarti Ho ditolak dan H1 diterima. Dari hasil ini bisa dikatakan ada perbedaan nyata antara mahasiswa yang ikut program literasi informasi dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi. Setelah mengetahui adanya korelasi yang signifikan dari dua sampel tersebut selanjutnya dilakukan uji hipotesis komparatif  dengan menggunakan t-test.

Tabel 4. Hasil uji t-test program literasi informasi

 

Dari hasil perbandingan tersebut diperoleh t hitung sebesar 16.902 sedangkan t tabel sebesar 2.004 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Jadi memang terdapat perbedaan kemampuan secara signifikan, antara mahasiswa yang telah mengikuti program literasi informasi dengan yang tidak mengikuti program literasi informasi.

Dari penjabaran masing-masing variable diatas, penulis hendak memberikan pemaparan secara detail bahwa ada pengaruh yang nyata dari pemberian program literasi informasi pada mahasiswa.

Pengaruh tersebut dibuktikan dengan adanya perbedaan yang nyata pada semua variable yang diuji. Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Eskola [20..] pada mahasiswa di Abo Akademi University, Finlandia bahwa mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi lebih aktif dalam menggunakan dan menemukan sumber-sumber informasi yang relevan dengan kebutuhannya.

Demikian juga hasil yang sama diutarakan oleh Pinnick (2009) terhadap mahasiswa fakultas liberal arts di salah satu university di Indana, Amerika Serikat. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ada korelasi yang signifikan saat test yang diadakan pada mahasiswa sebelum dan sesudah mendapatkan program literasi informasi.

Hal ini setidaknya memberikan argumen yang kuat pada kita, ternyata mengikuti program literasi informasi memberikan pengaruh yang nyata terhadap mahasiswa dalam meng-explore informasi yang sangat melimpah. Hasil ini memperkuat pernyataan dari Association of College and Research Libraries (ACRL) yang menyatakan bahwa seseorang yang trampil dalam literasi informasi tidak hanya akan memiliki kemampuan untuk mengenal kapan ia membutuhkan informasi, tetapi ia juga memiliki kemampuan untuk menemukan informasi, dan mengevaluasinya, serta mampu mengeksploitasi informasi untuk mengambil berbagai keputusan yang tepat sasaran.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian antara mahasiswa yang mengikuti program literasi informasi dengan yang tidak mengikuti program tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa pemberian program literasi informasi pada mahasiswa menunjukkan perbedaan kemampuan yang sangat signifikan dalam :
1. Mengindentifikasikan informasi yang dibutuhkan.
2. Mengakses informasi yang dibutuhkan.
3. Menemukan informasi.
4. Mengevaluasi informasi yang didapat.
5. Menggunakan informasi.

Daftar Pustaka
American Library Association. 1989. “Presidential committee on information literacy: final report” diunduh dari http://www.ala.org/acrl/publications/whitepapers/presidential pada tanggal 12 Oktober 2009

Association of College and Reserach Libraries. 2000. “Information literacy competency standards for higher education” diunduh dari http://www.ala.org/acrl/standards/informationliteracycompetency pada tanggal 20 November 2009

Australian and New Zealand Institute for Information Literacy. 2004. “Australian and New Zealand information literacy framework : principles, standards and practices” diunduh dari http://archive.caul.edu.au/info-literacy/InfoLiteracyFramework.pdf pada tanggal 10 Desember 2009

Azhar, Nabila. 2007. Pengaruh program information literacy dalam penulisan esai: suatu studi kasus di sekolah internasional Stella Maris. Depok: Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia.

Behrens, Shirley. 1994. “A Conceptual analysis and historical overview of information literacy”. College & Research Libraries 56:309-322

California State University. 2001. “Information competence initiative [online]” diunduh dari http://www.calstate.edu/LS/infocomp.html pada tanggal 16 Desember 2009

CILIP. 2005. “Information literacy definitions” diunduh dari http://www.cilip.org.uk/professional guidance/informationliteracy/definition/ pada tanggal 21 September 2009

CILIP. 2002. “Information literacy: the skills” diunduh dari http://www.cilip.org.uk/get-involved/advocacy/information-literacy/Pages/skills.aspx pada tanggal 22 September 2009

Eskola, Eeva-Liisa. “Information literacy of medical students studying in the problem-based and traditional curriculum” diunduh dari http://informationr.net/ir/10-2/paper221.html pada tanggal 16 Desember 2009

Fitzgerald, M.A. 2004. Making the leap from high school to college: three new studies about information literacy skills of first-year college students. Knowledge Quest, 32(4). Hal.19-24

Kapoun, Jim. 1998. “Teaching undergrads web evaluation: a guide for library instruction”. C&RL News, July/August 1998, vol.59 no.7 diunduh dari http://www.ala.org/ala/mgrps/divs/acrl/publications/crlnews/backissues1998/julyaugust6/teachingundergrads.cfm pada tanggal 18 Desember 2009

Kinengyere, Alison Annet. 2007. “The effect of information literacy on the utilization of electronic information resources in selected academic and research institutions in Uganda”. The Electronic Library journal, vol.25 issue 3

Naibaho, Kalarensi. 2007. “Menciptakan generasi literat melalui perpustakaan”. Visi Pustaka, Vol.9 No.3, Desember diunduh dari http://digilib.pnri.go.id/in/dVisiPustaka.aspx pada tanggal 23 September 2009

Pendit, Putu Laxman. 2003. Penelitian ilmu perpustakaan dan informasi: sebuah pengantar epistemologi dan metodologi. Jakarta: JIP-FSUI. Hal.215-216

Pinnick, Denise. 2009. “The effect of an information literacy course on the information literacy skills of college students”. Journal for the liberal arts and sciences 13(2). Diunduh dari http://www.oak.edu/JLAS/Articles/JLAS_Sp09/SP_09_Pinnick.pdf pada tanggal 18 Desember 2009

Rahkmat, Jalaludin. 1998. Metode penelitian komunikasi: dilengkapi contoh analisis statistik. Bandung: Remaja Rosdakarya. Hal.81-83, 94

Salmubi. 2007. Peningkatan daya saing bangsa lewat program literasi informasi: sebuah peran perpustakaan nasional di era informasi. Visi Pustaka, vol.9, no.3, Desember 2007.

Sugiyono. 2009. Statistika untuk penelitian. Bandung: Alfabeta. Hal 117-121, 212

Webber dan Johnston, B. 2000. “Conception of information literacy: new perspective and implications”. Journal of information science, Vol.26 No.6

Zulaikha, Sri Rohyanti. 2008. “Penerapan informasi literasi di perguruan tinggi untuk mewujudkan belajar sepanjang hayat”. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga diunduh dari http://digilib.uin-suka.ac.id/gdl.php?mod=browse=read&id=digilib-uinsuka—srirohyant-1279 pada tanggal 25 September 2009