Teori Library 2.0: Web 2.0 dan Dampaknya terhadap Perpustakaan

Pendahuluan
Meskipun saat ini "Web 2.0" didefinisikan dan diinterpretasikan secara luas, istilah ini pertama kali dicetuskan dan diperkenalkan oleh Tim O’Reilly dan Dale Dougherty dari O’Reilly Media pada tahun 2004 untuk menggambarkan model trend dan bisnis yang bertahan dari kehancuran pasar sektor teknologi pada tahun 1990an (O’Reilly, 2005). Perusahaan, jasa layanan dan teknologi yang bertahan berpendapat bahwa mereka memiliki karakteristik yang sama yaitu kerjasama, interaktif, dinamis, dan batas tidak tegas antara pembuatan dan pemakaian konten dalam lingkungan ini (pengguna menciptakan konten dalam situs ini sebanyak yang mereka butuhkan). Istilah ini telah banyak digunakan dan diinterpretasikan, namun Web 2.0 pada dasarnya bukanlah sebuah web penerbitan tekstual tetapi merupakan sebuah web komunikasi multi sensor. Web 2.0 adalah sebuak matriks dialog dan bukan sebuah kumpulan monolog. Sebuah Web yang terpusat pada pengguna dalam suatu cara yang belum pernah dilakukan selama ini.    
Karakterisasi dari bentuk Web terkini saat ini masih dalam perdebatan, dan meskipun penggambaran jelas antara Web pertama dan kedua diakui tidak berdasar, harus tetap disadari bahwa Web benar-benar sedang berubah menjadi lebih interaktif, ruang teknologi yang diarahkan multi-media dan pengertian terhadap istilah tersebut ini digunakan dalam artikel. Seperti yang diteliti oleh O’Reilly (2005) pada apa yang sering dikutip sebagai pekerjaan yang nantinya menjadi penting di Web 2.0, halaman web pribadi berkembang menjadi blog, ensiklopedia menjadi Wikipedia, teks-teks tutorial menjadi aplikasi media streaming, taksonomi menjadi "folksonomi", dan infrastruktur tanya-jawab/email untuk dukungan konsumen menjadi layanan instant messaging (IM).    
Dampak dari revolusi pada Web ini sangat besar. Pustakawan baru mulai mengetahui dan menulis tentang hal tersebut, terutama dalam "biblioblogsphere" (weblog yang dibuat oleh pustakawan). Jurnal dan tulisan tradisional lainnya belum mampu menjelaskan secara lengkap konsep tersebut namun aplikasi konsep serta teknologi Web 2.0 pada layanan dan koleksi perpustakaan telah dibuat dalam kerangka "Library 2.0" secara luas (Miller 2005a; 2005b; 2006a; 2006b; Notess, 2006). 
Sebagian besar penulis dalam Library 2.0 sependapat bahwa pada umumnya apa yang diadopsi oleh perpustakaan dalam revolusi web pertama tidak berkembang. Sebagai contoh, akses katalog online umum atau yang dikenal sebagai OPAC mengharuskan pemustaka untuk mencari informasi dan meskipun sudah banyak yang mulai menerapkan teknik-teknik Web 2.0 melalui cara pengumpulan data yang berhubungan dengan pemustaka (buku-buku yang keluar, pilihan pencarian, siaga pencarian), mereka belum mampu memenuhi harapan, seperti Amazon.com yang merupakan sebuah layanan Web 2.0 yang lebih dinamis. Dalam hal yang sama, generasi pertama instruksi perpustakaan online disajikan via tutorial berbasis teks yang statis dan tidak memenuhi kebutuhan pengguna dan tidak memberikan fasilitas interaksi antarpengguna. Namun demikian hal-hal tersebut sudah mulai berubah menjadi lebih interaktif, tutorial yang kaya media, penggunaan pemrograman animasi dan quiz-quiz basis data yang lebih canggih. Perpustakaan tengah berkembang menjadi Web 2.0 meski perkembangannya baru saja dimulai.      

Library 2.0
Menurut Miller (2005a), "Library 2.0" adalah suatu istilah yang dicetuskan oleh Michael Casey dalam blog LibraryCrunch miliknya. Meskipun tulisan-tulisannya dalam Library 2.0 adalah hal yang baru dan dalam beberapa hal dapat dipercaya, Casey (2006a) mendefinisikan istilah tersebut terlalu luas dengan alasan  dapat diterapkan di luar jangakauan inovasi dan layanan teknologi. Sebagai tambahan, pustakawan yang melakukan blogging lainnya sudah mulai mencari tahu secara konseptual apa arti Library 2.0. Karena perdebatan berbeda dengan ruang lingkup terlalu luas tersebut, muncul beberapa kontoversi mengenai definisi dan kegunaan istilah itu. Asal kontoversi yang sedang digali dan coba diperbaiki oleh Lawson (2006), Peek (2005) dan Tebutt (2006) serta Crawford (2006) yang memberikan sebuah deskripsi menyeluruh tentang ambiguitas dan kekeliruan yang mengelilingi istilah, secara parsial menunjukkan bahwa tidak ada yang baru secara mendasar mengenai hal tersebut.   
Artikel ini mencoba untuk memberi penyelesaian terhadap beberapa kontoversi tersebut dengan memberikan sebuah definisi dan teori untuk Library 2.0, dan juga memberikan contoh-contoh dari dampak pentingnya terhadap kepustakawanan.
Sebuah definisi dan teori Library 2.0 yang lebih tepat sangat penting untuk mengarahkan diskusi dan penelitian dalam komunitas, dan akan sangat berharga dalam penerapan layanan berbasis web baru dalam beberapa tahun mendatang (dalam hal ini penting untuk dicatat, seperti yang dilakukan Breeding (2006), bahwa masih banyak perpustakaan yang masih berjuang untuk mengadopsi layanan berbasis web yang sederhana dan statis; menariknya, ada beberapa layanan Web 2.0 seperti Public library Interface Kit atau "Plinkit" yang bias membantu dalam perkembangan ini).   
Artikel ini mendefinisikan "Library 2.0" sebagai "aplikasi teknologi berbasis web  yang interaktif, kolaboratif, dan multi media menjadi layanan dan koleksi perpustakaan berbasis web", dan menyarankan agar definisi ini dapat diadopsi oleh komunitas ilmu perpustakaan. Dengan membatasi definisi tersebut pada layanan berbasis web, dan bukan layanan perpustakaan secara umum, dapat menghindarkan potensi kekeliruan dan dengan tepat dapat memberikan kesempatan agar istilah itu dapat diteliti, diteorikan lebih lanjut, dan membuatnya menjadi lebih berguna dalam wacana profesional. Aplikasi teori Library 2.0 terhadap aspek-aspek kepustakawanan yang mencapai teknologi diluar Web 2.0 dapat diterima namun seharusnya dinamakan dengan sebuah kata yang berbeda. Casey (2006a0 memang menemukan kemunculan kembali ide-ide yang sama sepanjang sejarah perpustakaan, dan Hale (1991) membuka sebuah diskusi tonggak mengenai filosopi terpusat pengguna diluar layanan web. Sederhananya tidak perlu menggunakan istilah "Library 2.0" dalam ruang lingkup ini. Teori tersebut akan lebih berguna apabila terfokus pada layanan web seperti apa yang didefinisikan oleh Abrams (2005). Casey (2006a)  
Sebuah teori untuk Library 2.0 dapat diketahui memiliki 4 elemen penting berikut:
– Terpusat pada pengguna. Pengguna berpartisipasi dalam pembuatan konten dan layanan yang terlihat dalam tampilan web perpustakaan, OPAC, dll. Pemakaian dan pembuatan konten web yang dinamis sehingga peran pustakawan dan pengguna tidak selalu jelas. 
Menyediakan sebuah layanan multi media. Koleksi dan layanan Library 2.0 menyediakan komponen video dan audio. Walaupun hal ini jarang sekali dicetuskan sebagai fungsi Library 2.0 di sini disarankan agar seharusnya begitu. 
Kaya secara sosial. Tampilan web perpustakaan berisi tampilan pengguna. Ada dua cara yaitu sinkronisasi (contohnya IM) dan asinkronisasi (contohnya wiki) untuk komunikasi pengguna dengan pengguna lain dan dengan pustakawan. 
Inovatif secara bersama-sama. Mungkin hal ini adalah aspek tunggal utama dari Library 2.0 yaitu bertumpu pada asas perpustakaan sebagai layanan masyarakat, namun sadar bahwa ketika masyarakat berubah perpustakaan tidak saja ikut berubah tetapi juga membiarkan pemustaka untuk merubah nya. Perpustakaan siap untuk merubah pelayanannya, mencari cara baru untuk memberi kesempatan masyarakat, bukan saja perorangan, untuk mencari, menemukan, dan menggunakan informasi.    
Library 2.0 adalah sebuah komunitas virtual yang terpusat pada pemustaka dan merupakan ruang elektronis yang kaya sosial dan menjunjung persamaan. Saat Library 2.0 dapat bertindak sebagai sebuah fasilitator dan penyedia dukungan, pemustaka tidak perlu bertanggung jawab dalam pembuatan konten web. Pemustaka berinteraksi dan membuat sumber informasi dengan pemustaka lainnya dan pustakawan. Dalam beberapa hal, Library 2.0 adalah kenyataan virtual perpustakaan, sebuah manifestasi Web perpustakaan sebagai sebuah tempat. Sebuah tampilan perpustakaan di web pada Library 2.0 termasuk tampilan kontituensi perpustakaan serta menggunakan aplikasi dan teknologi yang sama seperti komunitasnya, sebuah konsep yang diketahui oleh Habib (2006) dalam sebuah model yang sangat berguna untuk Library 2.0 untuk menghormati perpustakaan universitas.       
Meskipun doktrin-doktrin konseptual Library 2.0 ini condong dapat diandalkan, pengharapan terhadap spesifikasi teknologi layanan perpustakaan elektronik generasi berikutnya di lain pihak dipenuhi oleh kesalahan yang tidak menguntungkan serta sama sekali tidak penting. Rincian bagaimana aplikasi tersebut sangat umum terhadap Web 2.0 akan terus berubah, dan bagaimana perpustakaan mungkin menggunakan dan mengungkit dukungan mereka, secara tidak terpisahkan tersembunyi-seluruhnya berupa inovasi. Tetapi penopang konseptual sebuah tampilan perpustakaan dan bagaimana harus berkembang menjadi sebuah tampilan multi media yang memungkinkan pengguna untuk tampil juga, baik bersama perpustakaan atau pustakawan dan dengan yang lainnya, sangat jelas butuh perkembangan. Maka ramalan-ramalan berikut ini lebih condong bersifat spekulatif daripada prediktif. Ramalan-ramalan itu dimaksudkan untuk secra konseptual menggali dan menyediakan ruang lingkup untuk hubungan antara Web dan perpustakaan yang sedang berkembang, seperti yang disebutkan di atas, sebagai alat untuk memfasilitasi inovasi dan percobaan dalam layanan elektronik perpustakaan. Daftar ini oleh karena itu tidak komprehensif sama sekali.   

Sinkronisasi Pesan
Teknologi ini telah digunakan cukup cepat oleh komunitas perpustakaan. Teknologi yang lebih dikenal sebagai instant messaging (IM) menyediakan fasilitas komunikasi teks cepat untuk pengguna. Perpustakaan telah menggunakannya untuk menyediakan layanan "chat reference", yaitu pengguna dapat berkomunikasi secara sinkron dengan pustakawan seperti pada saat mereka berkomunikasi tatap muka secara langsung. Mungkin ada banyak yang berpikir bahwa IM adalah sebuah teknologi dari Web 1.0 karena kemunculannya sebelum kehancuran pasar teknologi dan membutuhkan pengunduhan software. Sedangkan sebagian besar aplikasi 2.0 berbasis web. Di sini dianggap bahwa 2.0 konsisten terhadap prinsip Library 2.0: memungkinkan tampilan pengguna di dalam tampilan web perpustakaan; memungkinkan kolaborasi antara pengguna dan pustakawan; memungkinkan adanya pengalaman yang lebih dinamis daripada layanan 1.0 yang pada dasarnya statis dan dibuat baru kemudian digunakan. Selain itu, Web 2.0 juga dianggap sebagai aplikasi yang lebih berbasis web dan software yang digunakan dalam layanan chat reference pada umumnya lebih kuat daripada aplikasi sederhana IM yang sangat terkenal (biasanya menyediakan co-browsing, file-sharing (berbagi file), screen-capturing, serta berbagi dan penmabilan data transkrip sebelumnya).  
Masa depan teknologi ini dalam arena perpustakaan sangat menarik. Dengan menyediakan layanan Web interaktif ini, perpustakaan telah menempatkan posisinya untuk mengadopsi pendahulunya secara cepat dan ahli. Aplikasi IM berbasis teks telah berubah menjadi sesuatu yang lebih bersifat multi media, yaitu pesan suara dan video menjadi lebih umum. Meski mereka menyediakan pengalaman multi sensor, mereka akan tersebar di mana-mana, hadir di setiap tampilan web perpustakaan. Perpustakaan juga telah menyediakan sambungan ke layanan chat reference mereka dalam sumber koleksi mereka sendiri, contohnya pada tingkat artikel dalam data base langganan. Secara definisi, perpustakaan fisik hamper tidak pernah lepas dari pustakawan, chat reference yang lebih menyebar mampu menyediakan lingkungan yang serupa dalam dunia Web. Waktunya mungkin hanya sebentar lagi ketika chat reference masuk di dalam kerangka jaringan perpustakaan, menyediakan pengalaman tanpa batas.      
Lebih lanjut, sangat diyakini bahwa seorang pengguna harus menerima layanan seperti itu. Layanan-layanan chat reference ini dapat didorong saat tindakan mencari tertentu seorang pengguna terdeteksi. Sebagai contoh, saat seorang pengguna melakukan pencarian melalui beberapa sumber, mengulangi langkah dan bergerak secara berputar melalui sebuah skema klasifikasi atau rangkaian sumber, layanan sinkronisasi pesan dapat digunakan untuk menawarkan bantuan. Tandingan fisik terhadap hal ini tentu saja seorang pengguna yang bingung mencari buku di antara rak-rak serta seorang pustakawan yang mengetahuinya segera menawarkan bantuan. Library 2.0 akan tahu ketika pengguna tersesat dalam pencarian mereka, dan akan segera memberikan bantuan dengan cepat. 
Perpustakaan dapat bekerja baik dalam melanjutkan pengadopsian teknologi ini ketika sedang berubah seiring menyediakan layanan referensi dalam sebuah media online untuk mendekati layanan yang lebih tradisional dari perpustakaan fisik. Akan segera dating waktu ketika referensi Web hamper tidak dapat dibedakan dengan referensi langsung; pustakawan dan pemustaka akan melihat dan mendengarkan satu sama lain dan akan berbagi layar dan file. Sebagai tambahan, transkrip yang telah disediakan sesi ini akan menyediakan ilmu perpustakaan dalam suatu cara yang belum pernah dilakukan secara langsung tatap muka. Untuk pertama kalinya dalam sejarah perpustakaan, akan ada suatu koleksi transkrip berkelanjutan dari transaksi referensi, selalu menunggu evaluasi, analisa, kataloging, dan pencarian referensi masa depan.        

Media Streaming
Streaming video dan audio adalah aplikasi lain yang mungkin banyak dianggap sebagai Web 1.0 karena muncul sebelum adanya wacana Web 2.0 dan secara luas digunakan sebelum ditemukannya teknologi-teknologi berikut ini. Namun untuk alas an yang serupa dengan sinkronisasi pesan maka di sini dianggap sebagai 2.0. Secara pasti, bagi perpustakaan yang ingin mulai memaksimalkan kegunaan media streaming untuk para pemustaka, wacana 2.0 sangat penting. Seperti disebutkan sebelumnya, instruksi perpustakaan yang dilayangkan secara online sudah mulai bekerjasama secara lebih interaktif, aspek-aspek kaya media. Penjelasan berbasis teks yang statis digabungkan dengan sebuah selebaran untuk diunduh sedang digantikan oleh tutorial yang lebih berpengalaman. Asosiasi Seksi Instruksi Perpustakaan Kampus dan Penelitian menyediakan sebuah database tutorial, banyak di antaranya memiliki karakter Web 2.0 yang disebut Peer Reviewed Instructional Materials Online (PRIMO).  
Sebagian besar tutorial ini menggunakan program Flash, software screen-cast atau streaming audio dan video serta menyatukan tampilan media dengan quiz interaktif; pengguna merespon pertanyaan dan sistem merespon dengan cara yang sama. Tutorial ini mungkin yang pertama dari layanan perpustakaan yang berubah menjadi Web 2.0 yang lebih kaya. Sebagian besar, jika tidak seluruhnya, bagaimanapun juga, tidak sepenuhnya menyediakan suatu alat yang dapat digunakan pengguna untuk berinteraksi satu sama lain ataupun dengan pustakawan. Fakta ini menunjukkan sebuah potensi yang memungkinkan terjadinya perkembangan yang berkelanjutan dari tutorial ini. Hali ini dapat menngunakan bentuk chat room multi media atau wiki, dan pengguna akan berinteraksi dengan satu sama lain serta obyek pembelajaran dalam waktu bersamaan seperti yang biasa mereka lakukan di dalam sebuah kelas atau lab instruksi. 
Implikasi lainnya dari media streaming untuk perpustakaan adalah lebih mengacu pada pertambahan koleksi daripada layanan. Karena media diciptakan, perpustakaan tidak dapat disangkal akan menjadi institusi yang bertanggung jawab dalam mengarsipkan dan menyediakan akses ke sana. Tidak akan cukup dengan hanya membuat "hard-copy" dari obyek-obyek ini dan memberikan pengguna akses ke sana di dalam batas-batas ruang fisik perpustakaan. Media yang dibuat dalam Web oleh Web adalah milik Web dan perpustakaan sudah memulai untuk menyediakan aplikasi penyimpanan digital langsung dan teknologi manajemen aset digital. Namun aplikasi-aplikasi ini sepenuhnya terpisah dari catalog perpustakaan, dan celah ini perlu ditutup. Library 2.0 akan menunjukkan tidak adanya jarak antara format dan tujuan akses mereka.    

Blog dan Wiki
Blog dan wiki memiliki dasar 2.0 dan perkembangan globar mereka memiliki dampak besar terhadap perpustakaan. Blog dapat menjadi batu loncatan besar dalam sejarah penerbitan daripada halaman web. Mereka mendorong produksi dan konsumsi cepat terhadap penerbitan berbasis web. Dalam beberapa hal, pencetakan kembali bahan hasil cetak adalah halaman web seperti alat cetak adalah blog-nya. Blog adalah HTML untuk masyarakat.    
Dampak paling jelas dari blog untuk perpustakaan adalah bahwa mereka merupakan bentuk lain penerbitan dan perlu diperlakukan layaknya penerbitan. Mereka kekurangan pengawasan editorial dan keamanan yang tersedia, namun sebagian besar adalah hasil produksi integral dalam sebuah badan pengetahuan. Sehingga ketidak adaan mereka dalam koleksi perpustakaan dapat segera menjadi tidak terpikirkan. Hal ini tentu saja akan menyulitkan proses perkembangan koleksi, dan pustakawan akan membutuhkan pelatihan dalam keahlian dan ketegasan yang besar ketika menambahkan sebuah blog ke sebuah koleksi (atau mungkin sebuah sistem pengembangan koleksi blog otomasi). Atau mungkin konsep "dapat dipercaya" dan "kewenangan", sangat penting terhadap pengembangan koleksi, akan perlu dipikirkan kembali dalam kemunculan inovasi.  
Wiki pada dasarnya merupakan halaman web terbuka, yaitu orang yang terdaftar dalam wiki dapat mempublikasikan, memperbaiki dan merubahnya. Pada umumnya sebagai blog, mereka tidak sereliabel sumber tradisional, sebagaimana diskusi umum tentang wikipedia (sebuah ensiklopedia online tempat pengguna terdaftar dapat menulis, memperbaiki atau mengedit artikel) dalam dunia perpustakaan menulis dengan baik; namun hal ini tentu saja tidak mengurangi nilai mereka, namun mengubah kepustakawanan, mempersulit pengembangan koleksi dan instruksi kekayaan informasi. Kurangnya ulasan dan redaksi adalah sebuah tantangan untuk pustakawan, bukan dalam hal pengguna harus menghindari wiki, tapi hanya dalam hal mereka harus memahami dan bersikap kritis dalam bergantung pada mereka. Wiki sebagai sebuah item dalam koleksi dan instruksi terpadu pengguna dalam evaluasi terhadap mereka, hampir merupakan bagian dari perpustakaan masa depan.    
Sebagai tambahan, wiki perpustakaan sebagai sebuah layanan dapat mendorong interaksi sosial di antara pustakawan dan pemustaka, pada dasarnya menggerakkan kelompok belajar online. Ketika pengguna berbagi informasi dan bertanya, menjawab pertanyaan, dan pustakawan melakukan hal yang sama dalam wiki, catatan transkasi-transaksi ini diarsipkan untuk disimpan. Dan sebaliknya arsip-arsip ini akan menjadi sumber untuk perpustakaan untuk dijadikan sebagai referensi. Selanjutya, wiki dan blog akan hampir secara pasti berubah menjadi suatu lingkungan yang lebih bersifat multi media, yaitu adanya sinkronisasi dan asinkronisasi kolaborasi antara audio dan video. Blog adalah bentuk baru penerbitan dan wiki adalah bentuk baru kelompok belajar.   
Pada akhirnya, blog dan wiki secara relative merupakan solusi cepat untuk menggerakkan koleksi dan layanan perpustakaan menjadi Web 2.0. Permulaan Library 2.0 dapa membuat koleksi dan layanan lebih interaktif dan terpusat pada pengguna, mendorong konsumen informasi dalam menghubungi penyedia informasi dan menjadi produser pembantu. Ada kemungkinan juga bahwa Library 2.0 mengaburkan garis batas antara pustakawan dan pemustaka, pembuat dan konsumen, pihak berwenang dan pemula. Potensi terjadinya perubahan dramatis ini sangat nyata dan langsung, sebua fakta yang menempatkan sbuah jumlah besar kepentingan pada kekayaan informasi. Dalam dunia di mana tidak ada informasi yang berwenang dan valid secara tidak terpisahkan, kemampuan berpikir kritis terhadap kekayaan informasi merupakan hal terpenting dalam seluruh bentuk pembelajaran.  

Jejaring Sosial
Jejaring sosial mungkin merupakan teknologi yang paling menjanjikan dan merengkuh yang dibicarakan di sini. Teknologi ini menyediakan pengiriman pesan, pembuatan blog, media streaming, dan tagging, yang akan dibicarakan nanti. MySpace, FaceBook, Del.icio.us, Frappr, dan Flickr adalah jejaring yang telah menjadi terkenal dalam Web 2.0. MySpace dan FaceBook menyediakan media kepada pengguna untuk saling berbagi data diri (profil rinci dan kepribadian pengguna) sedangkan Del.icio.us menyediakan media untuk pengguna saling berbagi sumber Web dan Flickr menyediakan media berbagi gambar. Frappr merupakan sebuah bentuk jejaring yang tergabung menggunakan peta, chat room, dan gambar untuk menghubungkan para pengguna. 
Jejaring sosial lainnya juga cukup penting. LibraryThing menyediakan media untuk para pengguna meng-katalog-kan buku-buku mereka dan melihat apa yang dibagi oleh pengguna lain dengan buku tersebut. Dampak dari situs ini terhadap bagaimana pustakawan merekomendasikan buku untuk dibaca pengguna sangat jelas. LibraryThing memberikan kesempatan kepada pengguna, secra potensial dalam jumlah ribuan, untuk merekomendasikan buku kepada orang lain dengan cara memeperlihatkan koleksi pengguna lain. Situs ini juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk saling berkomunikasi secra asinkron, blog dan men-"tag" buku mereka.  
Situs ini tidak membutuhkan imajinasi yang banyak untuk mulai melihat perpustakaan sebagai sebuah jejaring sosial. Kenyataannya, sebagian besar peran perpustakaan sepanjang sejarah adalah sebagai tempat berkumpul sekelompok komunitas, yaitu yang berbagi identitas, komunikasi dan tindakan. Jejaring sosial dapat memberikan kesempatan kepada pustakawan dan pemustaka bukan hanya untuk berinteraksi namun juga untuk berbagi dan bertukar sumber secara dinamis dalam sebuah media elektronik. Pengguna dapat membuat akun pada jejaring perpustakaan, melihat apa yang dimiliki oleh pengguna lain yang sama dengan informasi yang mereka perlukan, merekomendasikan sumber kepada pengguna lain, dan jejaring merekomendasikan sumber ke pengguna, berdasarkan kesamaan profil, demografi, sumber yang baru saja diakses, dan sebagai wadah data yang disediakan pengguna. Dan tentu saja, jejaring-jejaring ini dapat memberikan kesempatan bagi pengguna untuk memilih apa yang umum apa yang tidak, sebuah gagasan yang dapat menolong menanggapi masalah-masalah yang dimunculkan oleh Library 2.0 dan yang akan disebutkan oleh Litwin.    
Dari seluruh aspek Web 2.0, dapat disimpulkan bahwa jejaring sosial dan para pendahulunya sangat berkaca pada perpustakaan tradisional. Jejaring sosial dalam beberapa hal, adalah Library 2.0. Wajah tampilan web perpustakaan di masa depan dapat terlihat seperti sebuah penghubung jejaring sosial.  

Tagging
Tagging
pada intinya memberikan kesempatan pada pengguna untuk membuat judul subyek untuk bahan yang dimiliki. Seperti yang digambarkan oleh Shanhi (2006), tagging merupakan Web 2.0 karena memberikan kesempatan kepada pengguna untuk menambah dan mengubah konten (data) serta konten yang menggambarkan konten (metadata). Dalam Flickr, pengguna men-tag gambar. Dalam LibraryThing mereka men-tag buku. Dalam library 2.0, pengguna dapat men-tag koleksi perpustakaan sehingga dapat berpartisipasi dalam proses peng-katalog-an. 
Tagging cukup hanya membuat pencarian lateral menjadi lebih mudah. Contoh yang sering diberikan adalah Tajuk Subyek yang terdapat pada Kongres Perpustakaan AS yaitu "cookery" (keahlian masak). Istilah ini tidak digunakan oleh pengguna bahasa Inggris untuk mencari "cookbooks" (buku masak). Contoh ini menggambarkan adanya masalah seputar klasifikasi standar. Tagging akan mengubah "cookery" yang kurang berguna menjadi "cookbooks" yang lebih berguna secara cepat sehinnga pencarian lateral dapat dibantu secara baik.
Tentu saja tag dan subyek standar tidaklah eksklusif. Catalog Library 2.0 dapat memberikan kesempatan pada pengguna untuk mengikuti keduanya; dengan memilih mana yang paling berguna untuk mereka. Sebaliknya mereka juga dapat menambag tag ke dalam sumber. Pengguna merespon kepada sistem, sistem ke pengguna. Katalog tag ini adalah sebuah catalog terbuka, disesuaikan dan terpusat pada pengguna serta merupakan ilmu perpustakaan dalam taraf terbaiknya. 

RSS Feeds
RSS feeds dan teknologi terkait lainnya menyediakan pengguna sebuah cara untuk mengumpulkan dan menerbitkan kembali konten pada Web. Pengguna menerbitkan kembali konten dari situs atau blog lain pada situs atau blognya sendiri, mengumpulkan konten pada situs lain dalam sebuah wadah tunggal dan menyaring Web untuk keperluannya sendiri. Pengumpulan konten seperti itu merupakan aplikasi lain dari web 2.0 yang telah berdampak pada perpustakaan dan dapat berlanjut terus dalam cara-cara yang mencolok.
Perpustakaan sudah membuat RSS feeds bagi pengguna untuk berlangganan serta pemutakhiran item baru dalam sebuah koleksi, layanan baru, dan konten baru pada database langganan. Mereka juga menerbitkan kembali konten pada situs mereka sendiri. Varnum (20060 menyediakan sebuah blog yang menyebutkan secara rinci bagaimana perpustakaan menggunakan RSS feeds untuk digunakan pemustakanya.   
Namun perpustakaan belum mencari cara menggunakan RSS dengan lebih mudah. Sebuah produk baru dari perusahaan bernama BlogBridge, BlogBridge Library (BBL), "adalah sebuah software yang dapat diinstal pada server anda di dalam firewall. Bukanlah merupakan konten perpustakaan (buku-buku) namun sebuah software yang mengatur perpustakaan (bangunan)." Walau potensi BBL terhadap perpustakaan belum dapat ditemukan karena kondisinya yang masih baru, dapat diperkirakan bahwa pengumpulan ini dapat menggantikan browsing dan pencarian konten lewat situs web perpustakaan. BBL dan aplikasi pengumpul RSS serupa, diinstal di dalam sistem perpustakaan dan disatukan dengan jejaring social perpustakaan, dapat memberikan kesempatan pengguna untuk memiliki sebuah halaman perpustakaan pribadi tunggal dan sesuai yang mengumpulkan seluruh konten perpustakaan yang sesuai dengan mereka serta penelitian mereka, menghilangkan informasi yang tidak relevan. Dan pengguna tentu saja mengendalikan halaman dan konten tersebut.     

Mashups
Mashup mungkin merupakan konsep tunggal yang menyokong semua teknologi yang dibicarakan dalam artikel ini. Mereka adalah aplikasi hibrida, yang terdiri dari dua atau lebih teknologi atau layanan yang dipersatukan menjadi sebuah layanan yang sepenuhnya baru. Retivr sebagai contoh menyatukan database gambar Flickr dengan sebuah algoritma arsitektur informasi eksperimental untuk memberikan kesempatan kepada pengguna untuk mencari gambar bukan dengan metadata tetapi dengan data itu sendiri. Pengguna mencari gambar dengan membuat sketsa gambar. Dalam beberapa hal, banyak teknologi yang dibicarakan sebelumnya memiliki sifat mashup. Contoh lainnya adalah WikiBios, sebuah situs tempat pengguna saling membuat biografi online. Pada dasarnya menggabungkan blog dengan jejaring sosial.
Library 2.0 adalah sebuah mashup yang merupakan sebuah hibrida blog, wiki, media streaming, pemngumpul konten, pesan instant, dan jejaring social. Library 2.0 mengingat seorang pengguna saat mereka log in. Library 2.0 memberikan kesempatan pengguna untuk meng-edit data dan metadata OPAC, menyimpan tag pengguna, percakapan IM dengan pustakawan, entri wiki dengan pengguna lain (semua katalog untuk digunakan pengguna), dan pengguna mampu membuat sebagian atau keseluruhan profil umum mereka; pengguna dapat melihat kesamaan item yang keluar, meminjam dam meminjamkan tag dan sebuah catalog besar yang dijalankan pengguna dibuat dan digabungkan dengan catalog tradisional.      
Library 2.0 benar-benar merupakan layanan yang terpusat dan dijalankan pengguna. Teknologi ini adalah penyatuan antara layanan perpustakaan tradisional dengan layanan inovatif Web 2.0. Library 2.0 adalah perpustakaan abad 21, kaya konten, interaktif dan aktivitas sosial.

Kesimpulan
Secara keseluruhan, penggunaan aplikasi dan teknologi Web 2.0 bersamaan dengan hal lain yang tidak disebutkan di sini dan belum ditemukan, akan membentuk sebuah perubahan yang berarti dan mendasar dalam sejarah perpustakaan. Koleksi perpustakaan akan berubah, menjadi lebih interaktif dan mudah diakses. Layanan perpustakaan akan berubah, lebih terfokus pada fasilitas transfer dan pengetahuan informasi dan bukan menyediakan akses terkendali ke sana. Artikel ini menyebutkan dua empat konsep yang menyokong Library 2.0: terpusat pada pengguna,; pengalaman multi media; kaya sosial; dan inovatif secara kelompok. Artikel ini juga mendukung satu definisi terfokus untuk istilah tersebut: Aplikasi teknologi berbasis web yang interkatif, kolaboratif, dan multi media kepada layanan dan koleksi perpustakaan berbasis web.  
Konsepsi Library 2.0 terbaik pada titik ini adalah sebuah tatap muka jejaring social yang dibangun para pengguna. Library 2.0 adalah OPAC yang dipersonalisasi yang mencakup IM, RSS feeds, blog, wiki, tag, serta profil umum dan swasta di dalam jejaring perpustakaan. Teknologi ini merupakan kenyataan virtual perpustakaan, suatu tempat seseorang dapat mencari buku dan jurnal serta berinteraksi dengan kelompok, pustakawan, dan berbagi pengetahuan serta pemahaman dengan mereka. Library 1.0 menjalankan koleksi dan layanan yang tersebar ke dalam lingkungan online, sedangkan Library 2.0 akan memindahkan keseluruhan layanan perpustakaan ke sebuah media elektronik. Perpustakaan telah memiliki tampilan web selama beberapa tahun dan dengan Library 2.0 para pemustakanya akan bergabung bersama.  
Meskipun Library 2.0 adalah sebuah perubahan, pada dasarnya tetap saja tidak lepas dari tradisi dan misi perpustakaan. Library 2.0 membuka akses menuju informasi kepada masyarakat, kesempatan berbagi informasi serta penggunaan informsi untik kemajuan masyarakat. Library 2.0 benar-benar merupakan sebuah gambaran contoh mutakhir dari sebuah institusi yang kekal dan teruji dalam sebuah masyarakat demokratis. Web 2.0 dan perpustakaan sangat cocok untuk disandingkan bersama, dan banyak pustakawan yang sependapat.
 Meskipun perubahan ini cocok sekali dengan sejarah dan misi perpustakaan, tetap saja hal ini merupakan perubahan paradigma besar bagi kepustakawanan untuk membuka bukan saja akses menuju catalog dan koleksi mereka namun juga kepada kendali mereka. Library 2.0 mensyaratkan agar perpustakaan mengurangi fokusnya terhadap system penyimpanan tertutup dan lebih memfokuskan pada system penemuan kolaboratif. Mungkin ada sebuah keselarasan besar antara kepustakawanan dan Web 2.0 namun dilihat secara keseluruhan, Library 2.0 akan merubah profesi tersebut. Pustakawan akan memberikan kesempatan kepada para pengguna untuk membuat diri mereka sendiri untuk mereka sendiri dan bukan sekedar membuat system dan layanan untuk para pemustaka. Suatu profesi yang berjuang dalam decade budaya kendali dan diramalkan akan butuh melanjutkan pergerakkan menuju fasilitasi dan ambiguitas. Perubahan ini berhubungan dengan perubahan serupa dalam sejarah perpustakaan, termasuk pembukaan rak buku dan masuknya buku fiksi dan buku bersampul tipis pada awal abad 20.        
Library 2.0 bukan tentang pencarian, namun penemuan; bukan tentang akses, tapi berbagi. Library 2.0 mengenali bahwa manusia tidak mencari dan menggunakan informasi sebagai  pribadi namun sebagai komunitas. Beberapa contoh perubahan dari Library 1.0 ke Library 2.0 adalah:
Referensi lewat email/halaman Q & A —> chat referenceEmail reference/Q&A pages —> Chat reference
– Tutorial berbasis teks –> Tutorial media streaming dengan basis data interaktif Text-based tutorials —> Streaming media tutorials with interactive databases
– Mailing list email, webmaster —> Blog, wiki, Rss feed Email mailing lists, webmasters —> Blogs, wikis, RSS feeds
– Skema klasifikasi terkendali —> Tagging disatukan dengan skema terkendali Controlled classification schemes —> Tagging coupled with controlled schemes
– OPAC —> Pertemuan jejaring sosial pribadi OPAC —> Personalized social network interface
– Katalog saham cetak dan elektronik yang awet —> Katalog saham, halaman web, blog, wiki, dll. Catalog of largely reliable print and electronic holdings —> Catalog of reliable and suspect holdings, web-pages, blogs, wikis, etc.
Pada akhirnya penting juga untuk mengetahui bahwa Web akan terus berubah dengan cepat dalam beberapa waktu. Web 2.0 adalah permulaan dari banyak hal. Perpustakaan harus beradaptasi dengannya, seperti yang dilakukan pada Web aslinya, dan harus terus beradaptasi untuk masa depan yang dekat. Dalam "beta abadi" ini (O’Reilly, 2005) kestabilan di luar ketidakstabilan yang dapat diterima tidaklah penting